Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Uday Chandra and Byung T. Ro Journal of Accounting and Public Policy, 16, 311-333 (1997)

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Uday Chandra and Byung T. Ro Journal of Accounting and Public Policy, 16, 311-333 (1997)"— Transcript presentasi:

1 Uday Chandra and Byung T. Ro Journal of Accounting and Public Policy, 16, (1997)

2 Sifat dari deferred tax dan implikasi arus kasnya telah lama diperdebatkan dan beberapa badan pembuat standar juga memiliki pendapat yang berbeda2 mengenai deferred tax. Dimana pendapatnya antara lain, sebagai berikut : 1. FASB Statement No. 109; 1992 Deferred tax sebagai liabilitas yang akan membuat arus kas keluar dimasa akan datang, 2. APB in Opinion No 11; 1967 : Deferred tax sebagai deferred credit atau dikatakan tidak punya implikasi arus kas 3. FASB 1983, Para 27 and 49; FASB 1992, Para 72; Lasman dan Weil 1978 : Deferred tax sebagai permanent tax saving yang merupakan bentuk dari ekuitas, 4. Defliese 1991 : Deferred tax sebagai penyesuaian penilaian dari liabilities () 5. Beaver dan Dukes (1972) melaporkan earnings based on deffered method of interpriode tax allocation (APB Opinion No 11, 1967) berhubungan dengan abnormal stock return, dimana pada Beaver dan Dukes (1973) disebut sebagai anomaly.

3 5.Givoly dan Hayn (1992) menemukan hub (+) berkurangnya deferred tax disebabkan oleh the US Tax Reform act (1986) dengan abnormal security return pada perusahaan berhubungan dengan news disclosures. Ini konsisten dengan pandangan bahwa deferred tax sebagai liabilitas 6.Chaney dan Jeter (1994) menemukan hub (-) antara unexpected deferred tax dengan annual stock return. Kesimpulan ini konsisten dengan earnings management berhubungan dengan accruals namun inkonsisten dengan pandangan deferred tax sebagai liabilities. 7.Lukawitz et al (1990) menguji dampak Security risk kepada deferred tax. Dan menemukan hubungan (+) antara deferred tax dengan resiko pasar (beta) dari common stock. Ini konsisten dengan pandangan bahwa deferred tax sebagai liabilitas

4 Tujuan dari paper ini ialah 1.Menyediakan bukti tambahan implikasi terhadap resiko sekuritas efek dari deferred tax. Resiko dalam hal ini di ukur dengan systematic risk (beta pasar) dan total risk (standar deviasidari stock return) 2.Menguji dari diterbitkanya perubahan kebijakan pelaporan income tax dari deferred tax dibawah APB in Opinion No. 11 (1967) kepada liability method yang di mandatkan dalam FASB statement no 96 (1987) dan FASB statement no. 109 (1992)

5 American Institute of Accountants (AIA), accountant research bulletin (ARB) no 18 American Institute of Accountants (AIA), accountant research bulletin (ARB) no 23 American Institute of Accountants (AIA), accountant research bulletin (ARB) no 42 dan 43 Accounting Principle Board (APB) issue Opinion no 6 dan issue Opinion no 11 SFAS no 96 SFAS no 109

6 Teori investasi modern menyatakan bahwa dalam menilai asset, investor menilai ekspektasi arah dan resiko arus kas masa depan dihubungkan dengan asset dan meminta premium untuk resiko yang diterima (Fama dan Miller, 1972). Deferred tax muncul dari kejadian yang mempengaruhi arus kas masa depan dengan cara pembayaran seperti keputusan operasional, seperti akusisi asset terdepresiasi melalui pengeluaran modal dan penjualan produk dengan garansi. Yang berarti deferred tax berhubungan dengan resiko efek yang berhubungan dengan masa yang akan datang. Deferred tax merepresentasikan pengurangan pajak yang harus dibayar sekarang namun meningkatkan pembayaran pajak dimasa depan, sehingga dapat dilihat sebagai pinjaman tanpa bunga dari pemerintah, terlihat sebagai liabilitas. Dalam rangka ini, adanya deferred tax akan meningkatkan secara efektif financial leverage, juga beta. Sehingga dapat dilihat pada model Bowman (1979) dan Hamada (1972) :

7 Dimana βL (βU) adalah resiko sistematis saham untuk levered firm (unlevered), ι: tingat pajak pendapatan korporat D: hutang S: ekuitas saham D/S: debt to equity ratio Ketika pasar menganggap deferred tax adalah liabilities maka βL akan naik jika DT/S naik (dimana DT adalah deferred tax) sehingga hubungan deferred tax dan beta diekspetasi positif.

8 Resiko sistematis adalah salah satu komponen dari total resiko, Rubinstein (1973) menunjukan bahwa resiko total saham pada levered firm adalah fungsi resiko operasi, dimana modelnya dapat ditulis dengan: SD(R) dan SD(R*) adalah standar deviasi return saham levered firm identik juga dengan unlevered firm. Fims subscripts dikeluarkan dari persamaan untuk kejelasan persamaan. Jika deferred tax dilihat sebagai liabilitas maka akan menaikan financial leverage, dan hubungan antara resiko total dengan deferred tax dieskpetsikan positif. Diskusi diatas diatas berdasarkan pandangan bahwa deferred tax dilihat sebagai liabilitas. Juga akan diuji hubungan antara deferred tax dan resiko efek.

9 1. Sampel selection Pada mulanya, semua firm yang melaporkan nonzero deferred tax diidentifikasi setidaknya selama selama setahun untuk periode dengan mengunakan versi COMPUSTAT annual industrial tahun dari 2476 firms memenuhi, dimana 1213 diantaranya adalah perusahaan NYSE/AMEX yang ada data returnnya di CRSP returns untuk menghitung betanya. Periode tahun dipilih agar pelaporannya berdasarkan APB 1967 tidak terpengaruh oleh FASB 1987 atau Tax Reform Act Meskipun gujarati dan hoskin (1992) menyatakan penyesuaian dari APB 1967 ke FASB 1987 tidak signifikan dan perbedaan antara deferred tax hasil APB 1967 dan FASB 1987 adalah relative kecil. Peper ini juga menghilangkan observasi (firm-year) dengan : 1. Nilai deferred tax yang hilang atau negative 2. Nilai buku ekuitas yang negative 3. Estimasi beta pasar yang kurang atau sama dengan nol 4. Sehingga total data (firm years) adalah 4813 dari 6065 (1213 firm x 5 tahun)

10 2. Models and variables Beta pasar untuk setiap sampel firm-year diestimasi dengan menerapkan metode Schools dan Williams (1977) untuk setiap (tidak kurang dari 50) return saham firm year tersebut. CRSP value weight daily return digunakan sebagai indeks pasar. Untuk menguji pandangan pasar bahwa deferred tax adalah liabiltis dengan menggunakan regresi OLS : Dimana : βmi (βai) : beta pasar (akuntansi) perusahaan D : nilai buku debt Smi(Sai) : nilai pasar (buku) ekuitas saham DT : deferred tax

11 Deferred tax dipisah dari debt untuk melihat hubungan dengan beta. Financial leverage dan beta akuntansi diketahui mempunyai hubungan dengan beta pasar (Beaver at al 1970, Hamada 1972, dan Bowman 1979, 1980a 1980b). jika pasar melihat deferred tax sebagai liabilitas, seharusnya koefisien b2 dan b5 harus diekspetasikan positif. Dalam paper ini dibagi kedalam 2 Group persamaan regresi dengan model (1) dan (2). Di group A, diasumsikan bahwa variable independen adalah tambahan dan terpisah dan hanya menggunakan 4 parameter pertama : Di grup B, diasumsikan bahwa interaksi debt/equity ratio dengan beta akuntansi adalah variable penjelas relevan, sehingga persamaannya :

12 Kegunaan dari persamaan (1B) dan (2B) adalah untuk semakin mendekatkan dengan theoretical model. dan berguna untuk menghalangi peningkatan korelasi diantara variable independen dan ini konsisten dengan Bownman (1980a dan 1980b). Mengikuti Bowman (1980a), beta akuntansi (βa) diestimasi dengan mengunakan first difference dalam income to total asset ratio. Angka income diambil dari earnings kuartal sebelum interest expanse, taxes, discontinued operation dan extraordinary item. First difference digunakan untuk mengurangi autokorelsi pada residual untuk setiap estimasi beta akuntansi (beaver dan Manegold, 1975) ; model yang digunakan Dimana ∆Xiq : perubahan rate of return accounting perusahaan (operating earnings/total asset untuk quarter q relative ke q-4 ∆Xmq : equally weighted average ∆Xiq untuk semua sampel βoi dan βai : parameter regresi € ; error

13 Paper ini juga menguji standar deviasi return saham sebagai ukuran alternative resiko dengan mengunakan model Rubinstein (1973) Dimana SD(R1) : standar deviasi return saham harian perusahaan I (didapat dari CRSP daily tapes) SD(OI/Sm) : standar deviasi dari ratio of operating income to market value of equity OI/Sm : digunakan sebagai proxy unlevered rate of stock return (R*) Jika pasar melihat deferred tax sebagai liabilities, seharusnya koefisien b2 dan b5 dalam model 3 dan 4 harus di ekspetasikan positif

14 Pada tabel 1 terlihat rata-rata beta pasar 0,89 berarti perusahaan sampel lebih kurang beresiko dibanding perusahaan sejenis. rata-rata beta akuntansi 1,4 lebih besar dari median 0,96 mengindikasikan distribusi right-skewed Mean (median) dari standar deviasi return saham harian 0,0213 (0,0194), rata-rata market equity adalah $ 1,18 biliun dolar. Dengan standar deviasi besar ($ 2,82 biliun) berarti sampel terdiri dari perusahaan yang bervariasi ukurannya. Rata-rata rasio leverage D1/Sa adalah 2,14 sedangkan D2/Sa adalah 0,99 Rata-rata (median) deferred tax $ 167 ($18) million, sekitar 11 % dari rata-rata liabilities dan 19 % dari rata-rata book equity. Angka terbesar deferred tax $ 17,81 billion dan terkecil $ 2000, deferred tax to market equity ratio (DT/Sm) mempunyai rata-rata 0,12 sehingga jika dilihat sebagai liabilitas akan meningkatkan variable leverage 12 %.

15

16 Tabel 2 berisi hasil estimasi beberapa versi persamaan (1), jika pasar berpandangan bahwa deferred tax adalah liabilities maka koefisien b2 & b5 seharusnya positif. Adjusted R² berkisar 15,2 % - 37,7 %. koefisien variable berisi deferred tax consisten negative yang berlawanan dengan prediksi dibawah pandangan liabilities, koefisien financial leverage signifikan positif dan koefisien beta akuntansi positif sesuai prediksi.

17

18 Pada tabel 3 berisi estimasi persamaan 2, regresi ini mempunyai kekuatan penjelas yang relative lebih rendah dari pada persamaan 1. Namun hasilnya tetap konsisten yaitu koefisien berisi deferred tax konsisten negative yang berlawanan dengan hipotesis.

19

20 Pada tabel 4 berisi estimasi persamaan 3. Adjusted R² lebih tinggi dari persamaan 1 dan 2 berkisar 55,6 % - 66,6 %. Koefisien b2 & b5 konsisten negative yang berarti tidak konsisten dengan pandangan liabilitas, financial leverage dan standar deviasi selalu signifikan. Persamaan 4 menghasilkan mirip dengan persamaan 3 sehingga tidak dicantumkan.

21

22 Pada tabel 5. Berisi hasil regresi dengan beberapa control tambahan yaitu dengan capital expenditure growth. sales growth dan firm size untuk memastikan hasilnya dengan menggunakan persamaan (1) dan (2). Pemilihan ini adalah ad hoc karena kurangnya teori untuk panduan, bedanya adalah portofolio dibedakan high and low subsample yang berisi 10 observasi. Pada panel A, koefisien DT/S selalu negative pada portofolio high and low capex growth baik sebagai individu maupun interaksi. Financial leverage siginifikan positif pada individu namun kehilangan kekuatan penjelas sebagai interaksi pada portofolio low, beta akuntansi juga kehilangan kekuatan penjelas pada portofolio low. Panel B dan C, koefisien b2 b5 konsisten negative, dan hubungan negative antara deferred tax dengan beta dilaporkan sebelumnya tidak diakibatkan atribut tertentu namun lebih karena variasi karakteristik.

23

24 Deferred tax dipandang sebagai ekuitas Hasil negative yang diperoleh antara deferred tax dengan resiko mengindikasikan bahwa pasar tidak melihat deferred tax sebagai liabilitas namun sebagai equity, deferred tax tidak akan dibayar sepanjang perusahaan terus berkembang setiap tahun. Dan pasar juga melihat deferred tax sebagai permanent tax saving atau transfer bagian pemerintah pada nilai perusahaan kepada pemegang saham sehingga meningkatkan ekuitas. Untuk alasan ini, deferred tax are often referred to as quasi-equity. (FASB 1983, FASB 1992, Lasman and Weil 1978)

25 Jika deferred tax dilihat sebagai ekuitas maka ada hubungan negative antara deferred tax dan resiko menunjukan yang benar (berarti), dengan factor yang lain cateris Paribus. Variable deferred tax (DT/S) pada model regresi 1-4 akan misspesifikasi jika pasar melihat bahwa deferred tax dipandang sebagai quasi- equity, mengikuti Lasman dan Weil (1978), persamaan regresi disesuikan dengan menambah deferred tax pada debt-equity rasio sehingga model persamaan regresei menjadi : Dimana CDE didefinisikan sebagai D/S – D/(S + DT) (penurunan rasio debt to equity karena deferred tax) Pada tabel 6 berisi estimasi persamaan 5, koefisien b2 b5 dalam CDE semua signifikan negative, sehingga terlihat beta pasar berhubugan terbalik dengan deferred tax sehingga konsisten dengan hipotesa deferred tax sebagai ekuitas.

26

27 Pada tabel 7 berisi estimasi persamaan 5 dengan menambah control capital expenditure growth. sales growth dan firm size. Tanda b2, b5 negatif untuk semua subsample.

28

29 Tabel 8 berisi persamaan 6 dan terlihat koefisien CDE b2 b5 konsisten negative, hal ini menyatakan bahwa resiko total yang diukur dengan standar deviasi berhubungan terbalik dengan deferred tax sehingga consisten dengan pendapat deferred tax sebagai ekuitas.

30

31 Studi ini menguji hubungan antara deferred tax dan resiko saham dengan menggunakan 2 ukuran resiko yaitu beta dan standar deviasi, untuk menjelaskan perbedaan pandangan anatar deferred tax sebagai liabilitas dan ekuitas. Hasilnya terlihat ketika rasio D/E disesuikan untuk deferred tax sebagai liablitas, muncul hubungan negative antara deferred tax dengan resiko. Ketika D/E disesuaikan untuk deferred tax sebagai ekuitas. Muncul hubungan negative antara deferred tax dengan resiko. Hasilnya inkosisten dengan pandangan deferred tax sebagai liabilitas. FASB No 96 (1987) dan FASB No 109 (1992).

32 Hasil studi ini menyatakan bahwa dalam memeriksa resiko saham, pasar melihat deferred tax bukan sebagai beban pajak namun indikasi arus kas masa depan yang menguntungkan, mungkin transfer permanen dari pemerintah ke pemegang saham pada nilai perusahaan. Pasar kelihatanya menghargai usaha perusahaan untuk menunda atau meminimalkan pajak dengan mengganggap perusahaan tersebut kurang beresiko, bukti dari studi ini menimbulkan keraguan bahwa pandangan deferred tax sebagai liabiltas adalah dasar yang tepat untuk membuat standar akuntansi deferred tax.

33 Tetap harus dipegang untuk interpretasi hasil ini, 1. pertama, deferred tax dan variable leverage diukur berdasarkan nilai buku bukan nilai kini. 2. kedua, sampel meungkin mengandung selection bias, ketiga pilihan variable control ad hoc. 3. Ketiga. deferred tax yang digunakan dalam studi ini berdasarkan metode deferred (APB, 1967) bukan metode liabilitas, hal ini bisa diperbaiki untuk penelitian berikutnya dan mungkin dapat menjelaskan mengapa hubungan negative muncul antara deferred tax dan resiko saham.


Download ppt "Uday Chandra and Byung T. Ro Journal of Accounting and Public Policy, 16, 311-333 (1997)"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google