Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

KETRAMPILAN DASAR KONSELING ADIKSI. 3.2 Keterampilan Konseling Dasar Mendengarkan reflektif Mengajukan pertanyaan terbuka Afirmasi Rangkuman Bergulir.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "KETRAMPILAN DASAR KONSELING ADIKSI. 3.2 Keterampilan Konseling Dasar Mendengarkan reflektif Mengajukan pertanyaan terbuka Afirmasi Rangkuman Bergulir."— Transcript presentasi:

1 KETRAMPILAN DASAR KONSELING ADIKSI

2 3.2 Keterampilan Konseling Dasar Mendengarkan reflektif Mengajukan pertanyaan terbuka Afirmasi Rangkuman Bergulir dengan resisten

3 3.3 Keterampilan “Utama” Merupakan keterampilan-keterampilan penting untuk segala tipe/model konseling:  Asesmen  Individual  Kelompok  Melibatkan keluarga  Bekerja bersama seseorang dengan gangguan penyerta

4 3.4 Modul 3 Objektif Pembelajaran Menjelaskan konsep-konsep dan tipe-tipe dari mendengarkan reflektif, dan mendemonstrasikan kemampuan awal dalam mendengar reflektif Menjelaskan dan mendemonstrasikan car mengajukan pertanyaan terbuka Menjelaskan dan mendemonstrasikan afirmasi Menjelaskan dan mendemonstrasikan teknik merangkum Menjelaskan dan mendemonstrasikan cara-cara melakukan bergulir dengan resistensi

5 3.5 “Mendengarkan, Mendengarkan, Mendengarkan” Dalam konteks konseling, mendengarkan sesungguhnya adalah keterampilan yang kompleks dan perlu untuk dilatih

6 3.6 Hambatan dalam Mendengarkan Ada beberapa hal yang dapat mengganggu proses mendengarkan

7 3.7 Hambatan dalam Mendengarkan (lanjutan) Ketidakpedulian emosional atau reaktivitas Berpikir tentang respon yang akan diberikan, selagi rekan bicaranya (klien) masih berbicara Perhatian terfokus pada hal lain di lingkungan sekitar Bertahan pada sikap berprasangka atau bias Berpikir tentang sesuatu hal pada diri sendiri Melamun Menghakimi pikiran dan tindakan dari rekan bicara

8 3.8 Mendengarkan Reflektif Sebuah bentuk aktif dari mendengarkan Membuat dugaan yang berasalan mengenai maksud dari klien Mengulang pernyataan klien untuk merefleksikan apa yang konselor pikir atau dengar

9 3.9 Mendengarkan Reflektif (lanjutan) Mengurangi kemungkinan terjadinya resistensi Mendorong klien untuk berbicara Mengkomunikasikan rasa hormat dan empati Mengkukuhkan hubungan membantu Memperkuat motivasi klien untuk melakukan perubahan

10 3.10 Mendengarkan reflektif mensyaratkan konselor untuk berpikir reflektif, untuk memahami bahwa:  Orang secara berkala membuat asumsi tentang orang lain ketika mereka berbicara  Proses ini tidak selalu disadari  Merefleksikan kembali kepada klien adalah cara mengkonfirmasi, bukannya mengasumsikan apa maksud dari klien Mendengarkan Reflektif (lanjutan)

11 3.11 Mendengarkan reflektif yang baik membutuhkan:  Memperhatikan respon verbal dan non-verbal klien dan makna yang mungkin terkandung  Memahami gaya komunikasi dari budaya klien  Membentuk refleksi sederhana yang mempunyai makna bagi klien  Mempertahankan fleksibilitas dalam memahami perilaku klien Mendengarkan Reflektif (lanjutan)

12 3.12 Tipe-Tipe Refleksi Double- sided (Dua-sisi) Amplified (Diperkuat; Dilebih- lebihkan)

13 3.13 Refleksi Sederhana (Parafrase) Melibatkan kegiatan mendengarkan isi pembicaraan dan mengamati pengaruh-pengaruh yang ada Merefleksikan kembali pernyataan klien dalam bentuk sederhana dan netral, namun tidak hanya dengan sekedar mengulangi perkataan klien saja Disampaikan sebagai pernyataan dibanding pertanyaan Sangat membantu dalam proses membangun/membina hubungan

14 3.14 Refleksi Sederhana: Contoh 1 Klien: Saya tidak berencana untuk berhenti dalam waktu dekat ini. Konselor: Anda tidak dapat melihat diri anda berhenti untuk saat ini. Klien: Dan seakan itu belum cukup, istri saya dan saya tidak akur sama sekali hari ini. Konselor: Anda juga mengalami beberapa masalah dalam kehidupan pernikahan anda.

15 3.15 Klien: Saya merasa lebih baik sekarang berada dalam program terapi, namun saya terus menduga-duga apakah atasan saya akan menerima saya kembali setelah saya menyelesaikan program. Konselor: Jadi, anda memiliki perasaan yang bercampur-aduk; secara fisik anda merasa lebih baik, namun khawatir mengenai status pekerjaan anda setelah anda menyelesaikan program. Refleksi Sederhana: Contoh 2

16 3.16 Klien (dengan marah): Saya tidak akan berada dalam situasi ini jika istri saya tidak dengan bodohnya memanggil atasan saya. Konselor: Kamu sangat marah pada istri kamu saat ini. Refleksi Sederhana: Contoh 2 (lanjutan)

17 3.17 Refleksi Sederhana: Manfaat Mengakui dan menghargai perkataan klien Agar klien mengetahui bahwa konselor memperhatikan dan memahami perkataannya Membantu klien untuk tetap fokus Mendukung elaborasi (penjabaran lebih lanjut)

18 3.18 Latihan Berpasangan: Refleksi Sederhana Peran: Tentukan pembicara dan pendengar Pembicara akan memulai menceritakan kepada pendengar mengenai proses bagaimana ia dapat datang ke pelatihan ini (pengaturan pekerjaan, perjalanan, dll.) Pendengar akan mempraktekkan memberikan refleksi sederhana Tukar peranan setelah 5 menit berlangsung

19 3.19 Latihan Refleksi: Proses Pembicara: Bagaimana rasanya menerima refleksi sederhana? Apakah membantu anda merasa didengarkan (diperhatikan)?  Apakah ada refleksi tertentu yang anda sukai? Pendengar: Bagaimana rasanya melakukan refleksi? Apakah mudah? Susahkah? Apakah membuat anda lebih merasa “terikat” dengan pembicara?  Bagaimana pasangan anda bereaksi terhadap refleksi yang anda berikan? Menyetujui? Menceritakan kembali topik tersebut? Tidak bereaksi?

20 3.20 Refleksi yang Diperkuat Menambahkan refleksi sederhana dengan merefleksikan pernyataan klien dengan memperluas (melebihkan), tapi berbentuk dan tidak sarkastik Dapat membantu klien memikirkan kembali perkataannya Dapat mendorong klien menuju perubahan positif daripada timbulnya resistensi Berhati-hati, jangan sampai membuat klien merasa tidak nyaman

21 3.21 Refleksi yang Diperkuat (lanjutan) Dapat membuka “pintu” bagi konselor untuk menggali lebih dalam lagi

22 3.22 Refleksi yang Diperkuat : Contoh Klien: Saya tahu saya telah berbuat salah, namun kegiatan-kegiatan ini yang membuat saya menjadi tidak masuk akal. Konselor: Kamu tidak setuju dengan setiap kemauan mereka yang kamu lakukan. Klien: Ya, saya tahu saya perlu melakukan sesuatu untuk membuat diri saya menjadi benar. Saya hanya merasa frustasi dengan segala sesi-sesi yang saya lakukan.

23 3.23 Klien: Kamu harus menyadari bahwa saya telah bersama dengan teman-teman saya ini selama lebih dari 10 tahun—Saya kenal mereka lebih lama dibandingkan dengan istri saya! Konselor: Jadi, kamu menilai pertemananmu lebih penting daripada keluargamu. Klien: Tidak, tidak, Maksud saya bukan itu; keluarga sangat penting buat saya. Refleksi yang Diperkuat : Contoh (lanjutan)

24 3.24 Refleksi Dua-Sisi Mengakui apa perkataan klien, namun tetap menyatakan hal yang bertolak belakang mengenai masa lalunya Mensyaratkan penggunaan informasi yang klien telah nyatakan sebelumnya Dapat bekerja efektif—atau setidaknya menjadi lebih mudah—nantinya dalam hubungan konseling

25 3.25 Refleksi Dua-Sisi: Contoh Klien: Mungkin sebaiknya aku benar-benar berhenti total, tapi saya tidak akan melakukan itu! Konselor: Di satu sisi kamu dapat melihat bahwa ada masalah serius saat ini, tapi berhenti menggunakan bukan hal yang ingin kamu lakukan. Di sisi lain, kamu khawatir mengenai efek dari penggunaanmu terhadap anakmu. Hal ini membuat kamu bingung.

26 3.26 Refleksi Dua-Sisi: Contoh (lanjutan) Klien: Keluarga adalah segalanya bagiku! Konselor: Saya sedikit bingung disini; di satu sisi kamu mengatakan bahwa keluarga kamu sangat berarti untukmu, namun di sisi lainnya kamu tidak bersedia untuk menghindari hubungan pertemanan yang beresiko bagi pemulihanmu.

27 3.27 Latihan Kelompok-Kecil: 3 Tipe Refleksi 10 menit untuk membuat sebanyak mungkin contoh refleksi dari kelompokmu 3 bagian untuk masing-masing contoh:  Pernyataan klien  Refleksi konselor  Reaksi dari klien Tuliskan dan tentukan 2 anggota dari masing- masing kelompok yang akan mempresentasikan di depan peserta lain

28 3.28 Latihan Kelompok-Kecil: Bermain peran dalam gerak lambat Kelompok konselor belajar menrefleksikan perkataan klien Skenario

29 3.29 “Konselor” “Klien” Pengamat Tim konselor berunding dan bertindak sebagai satu bagian Pengamat memperhatikan dengan seksama interaksi yang terjadi “Konselor” Latihan Kelompok-Kecil: Bermain peran dalam gerak lambat (lanjutan)

30 Tipe Mendengarkan Reflektif Refleksi Sederhana: Merefleksikan pernyataan klien melalui parafrase Refleksi yang Dikuatkan: Menambahkan refleksi sederhana dengan merefleksikan pernyataan klien dengan memperluas (melebihkan), tapi berbentuk dan tidak sarkastik Refleksi Dua-Sisi: Mengakui apa perkataan klien, namun tetap menyatakan hal yang bertolak belakang mengenai masa lalunya

31 3.31 Memproses Bermain Peran “Konselor” and “klien” berbagi:  Apa pengalaman yang dialami oleh masing- masing peran?  Apa yang dapat “bekerja”?  Cara apa yang mungkin dapat bekerja lebih baik lagi? Pengamat berbagi:  Apa komentar dari pengamatan yang dilakukan?  Tipe-tipe mendengarkan reflektif yang pengamat dengar

32 3.32 Mendengarkan Reflektif Mendengarkan reflektif adalah keterampilan utama (inti) yang akan anda gunakan dalam setiap sesi dan dalam model terapi manapun Konselor harus terus memberi perhatian Membutuhkan kerja keras

33 3.33 Mengajukan Pertanyaan: Kekurangan Bertanya seringkali disalahartikan sebagai mendengarkan yang baik oleh konselor Pertanyaan yang intensif dapat:  Mengganggu alur komunikasi spontan  Mengalihkan komunikasi kepada arah tujuan atau minat konselor, dibandingkan pada klien

34 3.34 Pedoman Mengajukan Pertanyaan Pertanyaan berpusat pada kebutuhan klien Mengajukan satu pertanyaan dalam satu waktu Menghindari pertanyaan yang berorientasi pada sifat menyalahkan atau membuat malu; Sebelum mengajukan pertanyaan, menentukan apakah pertanyaan tersebut sesuai dan bersifat teraputik, dan bagaimana sebaiknya pertanyaan itu disampaikan untuk menyediakan hasil yang paling efektif

35 3.35 Pertanyaan Terbuka Tidak dapat dijawab “ya” atau “tidak” Tidak dapat dijawab dengan satu atau dua kata Membutuhkan penjelasan Memprovokasi pemikiran Bukan hal yang retorikal Kadangkala dirangkai tidak seperti sebuah pertanyaan

36 3.36 Pertanyaan Tertutup vs. Pertanyaan Terbuka Pertanyaan TertutupPertanyaan Terbuka Apakah menurut kamu, kamu menggunakan amfetamin terlalu sering? Dalam cara apa kamu peduli terhadap penggunaan amfetamin kamu? Berapa banyak ganja yang kamu hisap dalam sehari? Ceritakan mengenai penggunaan ganjamu selama seminggu ini. Jadi, kamu disini karena kamu khawatir terhadap penggunaan heroin kamu, apakah itu benar? Katakan, apa yang membuat kamu datang kesini hari ini?

37 3.37 Pertanyaan Terbuka… Membantu konselor memahami sudut pandang klien Membangkitkan perasan klien terhadap sebuah situasi atau topik yang diberikan Memfasilitasi dialog Menyediakan informasi tambahan dalam cara yang netral

38 3.38 Pertanyaan Terbuka (lanjutan) Mendorong klien untuk lebih banyak berbicara Membantu konselor untuk menghindari membuat praduga Mempertahankan komunikasi terus berkembang

39 3.39 Latihan Berpasangan: Pertanyaan Terbuka Cari pasangan dan lakukan percakapan menggunakan pertanyaan terbuka Setiap orang harus menggunakan mendengar reflektif dan pertanyaan terbuka Proses:  Apa rasanya menjadi orang yang bertanya? Apakah sulit atau justru mudah mengajukan pertanyaan terbuka?  Apa rasanya menjadi orang yang diajukan pertanyaan (ditanya)?

40 3.40 Afirmasi Apa artinya menjadi seseorang yang afirmatif?

41 3.41 Afirmasi (lanjutan) Membuat pernyataan mengenai seseorang secara tulus dan positif

42 3.42 Afirmasi (lanjutan) Afirmasi mendorong klien untuk tumbuhnya perasaan efikasi diri (self-efficacy)

43 3.43 Efikasi-Diri: Definisi Yakin dengan kemampuan diri untuk mencapai kesuksesan dalam suatu situasi tertentu

44 3.44 Efikasi-Diri dan Persuasi Sosial Seseorang dapat dibujuk (dipersuasi) untuk meyakini bahwa mereka memiliki kemampuan dan keterampilan untuk mencapai kesuksesan Mendapatkan dukungan verbal dan afirmasi dari orang lain, mengatasi keraguan diri dan meningkatkan efikasi-diri mereka Cherry, K. What is self-efficacy? Retrieved March 1, 2012, from

45 3.45 Afirmasi: Manfaat Mengakui/memahami kesulitan klien Membenarkan (memvalidasi) pengalaman dan perasaan mereka Mencegah terjadinya keputus-asaan

46 3.46 Saya menghargai bagaimana beratnya tantanganmu untuk dapat memutuskan datang kemari; kamu telah mengambil langkah besar Saya terkesan bahwa kamu mampu mengatakan “tidak” kepada kakakmu pekan ini Itu merupakan usul yang baik Afirmasi: Contoh

47 3.47 Latihan Kelompok: Afirmasi Berdiri membentuk lingkaran Ketika anda memegang bola, afirmasi (yakinkan) seseorang di dalam lingkaran atau membuat pernyataan afirmasi kepada seluruh kelompok Berikan bola itu ke teman lainnya

48 3.48 Rangkuman: Definisi Mengambil inti dari apa yang dinyatakan klien—atau hal yang terjadi di dalam sesi konseling—untuk kemudian mengkomunikasikannya kembali kepada klien

49 3.49 Rangkuman Rangkuman membantu klien untuk:  Menguatkan pada yang dikatakannya  Mendemonstrasikan bahwa konselor mendengarkan dengan penuh perhatian  Membantu mereka mempertimbangkan respon dan pengalamannya  Mempersiapkan mereka untuk melangkah maju

50 3.50 Rangkuman dapat menyelesaikan diskrepansi antara perilaku dan tujuan yang ingin dicapai Rangkuman (lanjutan)

51 3.51 Sebuah cara yang baik untuk mengulas sesi sebelumnya dan untuk mengakhiri sesi yang sedang berlangsung Berguna untuk digunakan dalam sesi individual maupun kelompok Menghubungkan sesi satu dengan lainnya (individual atau kelompok) Rangkuman (lanjutan)

52 3.52 Menegaskan perkembangan yang dibuat oleh klien atau kelompok Mengingatkan klien mengenai komitmen- komitmen yang pernah mereka buat Menguatkan klien untuk mengerjakan tugas rumah Rangkuman Mampu untuk...

53 3.53 Rangkuman Mendorong klien untuk mengkoreksi rangkuman yang anda buat!

54 3.54 Dapat menjadi strategis:  Konselor dapat memilih informasi yang layak dan tidak layak untuk disampaikan  Menguatkan hal yang positif dan meminimalisir hal yang negatif Rangkuman (lanjutan)

55 3.55 Pikirkan apa yang ingin Anda sampaikan dan buatlah beberapa catatan Rangkum kembali percakapan Anda sebelumnya Latihan Berpasangan: Rangkuman

56 3.56 Resistensi Merupakan indikator dari ambivalensi BERUBAH!TIDAK BERUBAH!

57 3.57 Resistensi (lanjutan) Sebuah tanda bahwa konselor butuh untuk merubah arah pembicaraan yang sesuai atau mendengar lebih seksama terhadap klien

58 3.58 Berdebat Menginterupsi Menyangkal Mengacuhkan Miller, W. R., & Rollnick, S. (1991). Motivational interviewing: Preparing people to change addictive behavior. New York: Guilford Press. Resistensi: Tipe-Tipe

59 3.59 Latihan Kelompok-Kecil: Tipe-Tipe dari Resistensi Bacalah tugas mengenai resistensi yang diberikan untuk anda / kelompok Anda: Halaman Penjelasan 3.4 Pilih seseorang untuk bermain peran menjadi seorang konselor dan klien yang resisten Lakukan bermain-peran selama 2- 3 menit mengenai tipe resistensi dan konselor frustasi

60 3.60 Bergulir dengan Resistensi Mirip dengan cara dalam menghindari argumen, namun juga memberikan kesempatan untuk mengekspresikan empati, dengan cara:  Mempertahankan sikap menghargai dan tidak menghakimi  Mendorong klien untuk berbicara dan tetap terlibat dalam sesi

61 3.61 Strategi untuk Bergulir dengan Resistensi Mendengarkan reflektif (reflective listening) Mengubah fokus (shifting focus) Menyetujui dengan berputar (agreement with a twist) Merangkai kembali (reframing) Meningkatkan kontrol dan pilihan diri (emphasizing personal choice and control)

62 3.62 Mengubah energi klien dan perhatian klien jauh dari halangan dan rintangan Menghindari “titik berhenti” atau “stuck” klien dengan melakukan langkah lain yang sederhana Strategi untuk Bergulir dengan Resistensi: Mengubah Fokus

63 3.63 Menyetujui klien, namun dengan sedikit pembicaraan berputar yang halus atau mengubah arah pembicaraan yang mendorong terciptanya diskusi ke depan Mirip dengan refleksi yang diperkuat (amplified reflection) Strategi untuk Bergulir dengan Resistensi: Mengubah Fokus

64 3.64 Menawarkan interprestasi baru yang positif dari informasi negatif yang diberikan oleh klien Mengakui keabsahan dari persepsi klien, namun di sisi lain menawarkan sebuah makna baru dari sebuah pertimbangan Strategi untuk Bergulir dengan Resistensi: Merangkai Kembali

65 3.65 Membantu klien mengenali pilihan-pilihan yang mereka miliki dan yang mereka buat Mengakui fakta bahwa klien yang memiliki kontrol atas pilihan dirinya Membangun efikasi-diri Strategi untuk Bergulir dengan Resistensi: Meningkatkan Kontrol dan Pilihan Diri

66 3.66 Latihan Kelompok-Kecil: Bergulir dengan Resistensi—Bagian I Dalam waktu 10 menit, kembangkan dan tuliskan sebanyak-banyaknya contoh dari pernyataan klien dan respon dari konselor sesuai dengan strategi yang ditugaskan pada diri / kelompok Anda Gunakan pernyataan klien berdasarkan pada skenario yang anda ciptakan untuk latihan “Tipe-Tipe dari Resistensi” ATAU pilih salah satu skenario pada Halaman Penjelasan 3.2

67 3.67 Membuat skenario bermain peran selama 2-3 menit yang mendemonstrasikan penggunaan 2 atau lebih strategi bergulir dengan resistensi Gunakan skenario yang anda buat di dalam latihan “Tipe-Tipe Resistensi” Latihan Kelompok-Kecil: Bergulir dengan Resistensi—Bagian II

68 3.68 Latihan Berpasangan: Keterampilan Praktek Pilih pasangan untuk sesi latihan Tentukan keterampilan mana yang ingin anda praktekkan Lakukan secara bergantian Berikan umpan balik (feedback) untuk setiap masing-masing giliran Gunakan skenario klien

69 3.69 Intensionalitas: Definisi Memilih perilaku membantu dan strategi spesifik dengan tujuan yang jelas dan arah yang sesuai pemikiran

70 3.70 Intensionalitas Penelitian membuktikan adanya hubungan yang kuat antara intensionalitas dengan hasil akhir terapi yang positif Schmidt, J. J. (1994). Counselor intentionality and effective helping. ERIC Digest. Retrieved March 1, 2012, from

71 3.71 The Intentional Counselor “Singkatnya, konselor dengan intensionalitas adalah orang yang belajar berbagai macam strategi untuk membantu, secara terus-menerus mengakumulasi pengetahuan tentang pengembangan manusia dan isu-isu penting yang terkait, serta menawarkan klien sebuah hubungan di mana segala kemungkinan bisa dieksplorasi, diperiksa, dan dievaluasi.” Schmidt, J. J. (1994). Counselor intentionality and effective helping. ERIC Digest. Retrieved July 22, 2011, from


Download ppt "KETRAMPILAN DASAR KONSELING ADIKSI. 3.2 Keterampilan Konseling Dasar Mendengarkan reflektif Mengajukan pertanyaan terbuka Afirmasi Rangkuman Bergulir."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google