Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Sosiologi Pendidikan (SOS 223) Departemen Sosiologi FISIP – UNIVERSITAS AIRLANGGA.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Sosiologi Pendidikan (SOS 223) Departemen Sosiologi FISIP – UNIVERSITAS AIRLANGGA."— Transcript presentasi:

1 Sosiologi Pendidikan (SOS 223) Departemen Sosiologi FISIP – UNIVERSITAS AIRLANGGA

2 Persoalan yang dihadapi pendidikan: Apakah pendidikan melegitimasi atau melanggengkan sistem dan struktur sosial yang ada ? ataukah Pendidikan harus berperan kritis dalam melakukan perubahan sosial dan transformasi menuju dunia yang lebih adil ? Pertanyaan tersebut dapat dijawab berdasarkan paradigma atau ideologi yang mendasarinya (paham/keyakinan/jalan/cara yang ditempuh yang diyakini kebenarannya)  juga berimplikasi pada teori pendidikan yang digunakan maupun pilihan dalam teknik dan proses belajar-mengajar.

3 Pemikiran HENRY GIROUX dan ARNOWITZ tentang ideologi pendidikan: Ideologi pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi 3 aliran: KONSERVATISME LIBERALISME KRITIS

4 Ideologi Konservatif stratifikasi masyarakat merupakan hukum alam (ketentuan sejarah atau hukum Tuhan); perubahan sosial bukan merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan, karena perubahan akan membuat kesengsaraan; masyarakat tidak bisa merencanakan perubahan, hanya Tuhan lah yang mampu menentukan keadaan masyarakat;

5 Lanjutan (ideologi konservatif) masyarakat tidak memiliki kekuatan atau kekuasaan untuk merubah kondisi mereka; orang-orang miskin, buta huruf, tertindas adalah nasib yang mereka buat sendiri (karena salah mereka sendiri), karena masih banyak orang lain yang ternyata bisa bekerja keras dan sukses; Harmoni / keseimbangan penting dalam masyarakat untuk menghindari konflik.

6 Ideologi liberal Pandangan yang dianutnya : meyakini bahwa ada masalah (sosial, politik dan ekonomi) dalam kehidupan masyarakat, tetapi pendidikan tidak berkait dengan itu semua; pendidikan tidak memiliki tugas yang berkaitan dengan persoalan politik dan ekonomi;

7 Lanjutan (ideologi liberal) pendidikan justru menyesuaikan diri dengan keadaan ekonomi dan politik, dengan cara reformasi kosmetik. Contoh-contohnya : membangun kelas dengan fasilitas baru peralatan sekolah dibuat modern dan berbasis komputer (komputerisasi) menyehatkan (seimbang) rasio murid – guru investasi pendidikan melalui perbaikan-perbaikan metode pengajaran dan pelatihan, seperti: program CBSA, Experimental learning, dll.

8 TEORI YANG MEWAKILI IDEOLOGI LIBERAL : STRUKTURAL FUNGSIONAL: Salah satu proposisi teori struktural fungsional yang mendukung pemikiran liberal/konservatif : “pendidikan sebagai sarana untuk menstabilkan norma dan nilai-nilai masyarakat (maka perlu ada sosialisasi dan proses reproduksi nilai-nilai dasar masyarakat).” “pendidikan ditujukan untuk mengembangkan kemampuan individu, melindungi hak dan kebebasan individu.” “Perubahan sosial mungkin terjadi tetapi dengan tujuan untuk menjaga stabilitas jangka panjang.”

9  Paham LIBERALISME  INDIVIDUALISME  BANGKITNYA KELAS MENENGAH  KAPITALISME  PERSAMAAN IDEOLOGI KONSEVATIF DAN LIBERAL : pendidikan adalah a-politik “EXCELLENCE” harus menjadi target utama pendidikan  Pengaruh liberalisme dalam teori dan teknik pendidikan : mengutamakan prestasi melalui kompetisi /persaingan antar murid; merangking murid untuk menentukan yang terbaik model pendidikan masyarakat yang digunakan antara lain : Achievement Motivation Training (AMT), training management, relasi kewiraswastaan, pelatihan pengembangan masyarakat (community development), dll.

10 IDEOLOGI KRITIS Didasarkan atas pemikiran Paolo Freire, terutama tentang kesadaran manusia. Menurut Freire, kesadaran manusia terdiri atas tiga tahap: 1. KESADARAN MAGIS, cirinya : a. manusia tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya  pendidikan tidak memberikan kemampuan analisis yang mengaitkan antara sistem dan struktur dalam menangani permasalahan masyarakat. b. lebih melihat faktor di luar manusia sebagai penyebab ketidakberdayaan. c. pendidikan cenderung diterima secara dogmatis, tanpa ada mekanisme untuk memahami “makna” dari setiap konsep kehidupan masyarakat.

11 Lanjutan (ideologi kritis) 2. KESADARAN NAIF, cirinya : a. manusia adalah penentu segala kejadian dalam kehidupan b. sangat percaya pada etika (baik-buruk, rajin-malas, kaya-miskin, beruntung-sial, dll.), kreativitas, need for achievement, yang kesemuanya dianggap sebagai penentu perubahan sosial. c. lebih menekankan pada “man power development” sebagai kunci pemicu perubahan.

12 Lanjutan (ideologi kritis) 3.KESADARAN KRITIS, cirinya : a. Sistem dan struktur lah yang menjadi sumber masalah, bukan manusianya. b.Pendidikan difungsikan untuk dapat menciptakan ruang dan kesempatan agar peserta didik mampu melibatkan diri pada proses penciptaan struktur yang lebih baik. c. Melalui pendidikan diharapkan setiap anggota masyarakat memperoleh kesadaran kritisnya, dengan cara :

13 Lanjutan (ideologi kritis) 1. melatih murid untuk mengidentifikasi ketidakadilan dalam struktur yang ada; 2. mampu melakukan analisis tentang bekerjanya sistem dan struktur dan dapat melakukan transformasi terhadapnya. PENDIDIKAN KRITIS MEYAKINI BAHWA HAL-HAL BERIKUT INI ADALAH YANG DAPAT MEMBISUKAN MANUSIA : ketidakadilan kelas; diskriminasi gender; hegemoni kultural dan politik Dominasi (diskursus yang membius kesadaran masyarakat)

14 Lanjutan (ideologi kritis) PENDIDIKAN KRITIS MEMANFAATKAN PERSPEKTIF KELAS DALAM KEGIATAN ANALISISNYA  tujuannya adalah dapat memahami dan kemudian membongkar sistem ketidakadilan sosial secara luas. KONSEKUENSI DARI KESADARAN KRITIS TERHADAP PARADIGMA, PENDEKATAN DAN METODE PENDIDIKAN SERTA PENGAJARAN : pada polemik tentang perbedaan proses belajar-mengajar antara yang berpaham pedagogi dan androgogi. KNOWLES, memperkenalkan kedua perbedaan tersebut, terutama pada perbedaan “obyek” dan “seni mendidik obyek”

15 PEDAGOGIANDROGOGI Obyek pendidikannya dianggap sebagai anak-anak (meskipun usia secara fisik sudah dewasa); Pendekatan pendidikan “orang dewasa”  menempatkan peserta didik sebagai orang dewasa; Menempatkan murid sebagai pihak yang pasif (menerima apa saja yang diberikan oleh gurunya)  gaya bank Murid adalah subyek dari sistem pendidikan; Murid sepenuhnya menjadi obyek proses belajar, misalnya : guru menggurui, memilihkan apa yang harus dipelajari, mengevaluasi murid (guru sebagai inti terpenting) Murid memiliki kemampuan aktif untuk merencanakan pendidikannya, memilih bahan pelajaran yang dianggap bermanfaat; mampu mengambil manfaat pendidikan; Murid cenderung berperan sebagai: digurui, tunduk pada pilihan guru, dievaluasi (murid berada dipinggiran) Guru berfungsi sebagai fasilitator, bukan menggurui.  Relasi guru- murid bersifat multicommunication

16 Lanjutan… KRITIK PENDEKATAN KRITIS TERHADAP MODEL PENDIDIKAN PEDAGOGI : meletakkan murid sebagai obyek pendidikan adalah dehumanisasi. paradigma liberal menggunakan model pendidikan pedagogi, karena tidak memberi ruang bagi murid untuk mempertanyakan persoalan di seputarnya (spt. Struktur ekonomi dan politik yang timpang, ideologi yang menindas, ketimpangan gender, perusakan lingkungan, HAM).

17 Lanjutan… Pendidikan yang ada selama ini sekadar menciptakan keseimbangan sistem, atau agar sistem yang ada berjalan baik dan dapat melanggengkan kekuasaan. Pedagogi dianalogikakan sebagai model Banking Concept of Education  bersifat menjinakkan, dehumanisasi dan penindasan.

18 DUA ALIRAN DALAM PARADIGMA KRITIS ALIRAN REPRODUKSI Golongan ini sangat pesimis dengan fungsi pendidikan, karena : 1. Pendidikan dianggap kecil kemungkinannya untuk berperan dalam proses perubahan sosial menuju transformasi sosial, 2. Pendidikan difungsikan (oleh kapitalisme) untuk mereproduksi sistemnya sendiri, di mana pendidikan akan melahirkan peserta didik yang dapat memperkuat sistem yang telah mapan di masyarakat.

19 Lanjutan… ALIRAN PRODUKSI Golongan ini memiliki keyakinan bahwa : (1) pendidikan mampu menciptakan ruang untuk menumbuhkan resistensi dan subversi terhadap sistem yang dominan; (2) pendidikan memiliki aspek pembebasan dan pemberdayaan jika dilakukan dalam kerangka membangkitkan kesadaran kritis.

20 BEBERAPA AHLI YANG MEMBERI DASAR PEMIKIRAN PADA PARADIGMA KRITIS : 1. Antonio Gramsci  konsepnya : hegemoni 2. Michael Foucault  konsepnya : power relation (relasi kuasa) 3. Gustavo Gutierez  konsepnya : teologi pembebasan yang berkaitan dengan konteks pemikiran “teori ketergantungan” 4. Erich Fromm  meletakkan dasar teori pembebasan dari perspektif psikologi kritis 5. Frantz Fanon  salah seorang pemikir psikologi bagi kaum tertindas 6. Paulo Freire  makna pembebasan lebih pada kebangkitan kesadaran kritis masyarakat (proses konsientasi dan humanisasi)

21 Pendidikan Kritis: Konsep-Konsep Dasar Merupakan mazhab pendidikan yang meyakini adanya muatan politik dalam semua aktifitas pendidikan.  disebut juga sebagai aliran kiri, karena orientasi politiknya berlawanan dengan mazhab liberal & konservatif. Disebut juga sebagai “the new sociology of education” atau “critical theory of education” Mazhab ini tidak merepresentasikan satu gagasan yang tunggal dan homogen  pendukung mazhab disatukan dengan satu tujuan yang sama: memberdayakan kaum tertindas dan mentransformasikan ketidakadilan sosial yang terjadi di masyarakat melalui media pendidikan. Mazhab ini berbasis pada keadilan dan kesetaraan.

22 Lanjutan… (pendidikan kritis) Visi pendidikan kritis: bahwa pendidikan tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial, kultural, ekonomi, dan politik yang lebih luas. Institusi pendidikan tidak netral, independen, dan bebas dari berbagai kepentingan, tetapi justru menjadi bagian dari institusi sosial lain yang menjadi ajang pertarungan kepentingan. Pendidikan harus dipahami dalam kerangka relasi- relasi antara pengetahuan, kekuasaan dan ideologi  berbagai kepentingan inilah yang membentuk wajah institusi pendidikan yang akan mempengaruhi subyektivitas manusia.

23 Lanjutan…  Oleh karena itu perlu membangun kesadaran kritis peserta didik agar mereka mampu mendemistifikasi kepentingan ideologis yang menyelimuti realitas.  Melalui kesadaran kritis, maka penindasan, dominasi, dan eksploitasi dapat dibongkar dan diperangi.  Usaha-usaha mengembangkan kesadaran kritis: Mengembangkan cara berfikir yang mampu menyingkap fenomena-fenomena yang tersembunyi atau melampau asumsi-asumsi yang hanya berdasarkan common sense. Tidak dapat disampaikan dengan cara didepositokan atau diimpose dari luar, tetapi harus dilahirkan melalui usaha kreatif dari dalam peserta didik sendiri  tidak dapat dicangkokkan tetapi dibangun melalui kesadaran diri dari para peserta didik  pendidikan partisipatoris

24 Lanjutan…. (Pendidikan kritis) Oleh karena berbasisi pada keadilan dan kesetaraan, pendidikan kritis tidak hanya berkutat pada pertanyaan seputar sekolah, kurikulum dan kebijakan pendidikan, tetapi juga keadilan sosial dan kesetaraan. Visi sosialnya: tidak hanya tertuang di dalam tulisan dan kata-kata, tetapi termanifestasi dalam praktek pendidikan sehari-hari. Kritik menjadi bahasa yang melekat dalam mazhab pendidikan kritis dan menjadi landasan berpijak untuk mengonstruksi bangunan epistemologi dan praksisinya.

25 Lanjutan … Mazhab pendidikan kritis mengonstruksi satu bentuk pendidikan yang dapat menjadi medium bagi kritik sosial & sekaligus mampu menawarkan kemungkinan dikembangkannya democratic public spheres. Mazhab ini menekankan pentingnya self empowerment & self reflection  sebagai titik tolak melakukan transformasi sosial yang berpihak kepada yang lemah (powelesness). Salah satu kajian pendidikan kritis adalah pada kritiknya tentang kapitalisme (sangat besar pengaruhnya pada kehidupan masyarakat modern)

26 lanjutan… (mazhab pendidikan kritis) Anak (pemikiran/paradigma) dari kapitalisme: Culture of positivism Rasionalitas teknokrat/instrumental Melalui paradigma tersebut: ilmu pengetahuan yang disampaikan peserta didik diorientasikan untuk beradaptasi pada dunia & masyarakat industri. Proses pembelajarannya ditekankan pada upaya untuk mengakumulasi & memiliki ilmu pengetahuan yang ditujukan untuk mengejar profit. Pengetahuan cenderung dipisahkan dari proses pembentukannya  pengetahuan dianggap sebagai barang jadi yang siap ditelan murid tanpa melalui proses seleksi dan refleksi bersama.  akibatnya pembelajaran mengabaikan unsur-unsur penting yang perlu dikembangkan di dalam diri peserta didik, seperti : refleksi kritis, keingintahuan dan dialog

27 Lanjutan (pendidikan kritis) Penekanan pendidikan kritis dalam pembelajaran: Bagaimana memahami, mengkritik, memproduksi dan menggunakan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk memahami realitas hidup dan mengubahnya Metode yang digunakan dalam pendidikan kritis: Kodifikasi: Proses mempresentasikan fakta yang diambil dari kehidupan peserta didik dan kemudian memasalahkannya (problematizing) Dekodifikasi: Proses pembacaan atas fakta-fakta tersebut melalui dua metode: deskriptif dan analitis Deskriptif: untuk memahami “surface structure” Analiitis:: untuk memahami “deep structure” Dengan cara-cara tersebut, maka relasi-relasi antar kategori (ideologi, ras, gender, kelas, pendidikan) dalam membentuk realitas dapat dipahami.

28 Lanjutan (pendidikan kritis) Titik berangkat pendidikan kritis: Kecintaan dan penghargaan yang tinggi terhadap manusia. Sebagai manusia, peserta didik dipersepsi sebagai subyek yang meredeka dan punya potensi untuk menjadi active beings, bukan obyek yang hanya bisa beradaptasi dengan dunia.  akibatnya, pendidikan hanya menjadi arena penindasan karena murid mengalam proses domestikasi (penaklukan) dan penegasian kapasitas ‘self reflection’-nya Guru bukan pusat segalanya dan bukan satu-satunya sumber pemilik kebenaran, pengetahuan, atau pemilik tunggal kelas. Hubungan guru-murid tidak vertikal tetapi horisontal & egalitarian  keduanya sama-sama sebagai ‘pembelajar’ Isi/materi pelajaran tidak semata-mata hak prerogratif guru, dan pendekatan ‘bottom up” lebih dipilih dan mengkonstruksi isi pembelajaran dan kurikulum Anak didik dijadikan sebagai titik pijak (entry point)  agar pendidiakn bisa menjadi bermakna bagi murid

29 Lanjutan…(pendidikan kritis) Proses pembelajaran pendidikan kritis lebih menekankan pada: How to think bukan what to think Proses berpikir yang didasarkan atas: perdebatan, argumentasi, apresiasi pendapat orang lain  sehingga terjadi daya kritis anak didik, bersedia sharing idea, dan saling menghargai  sebagai wahana pembelajaran demokrasi di kelas, sehingga tercipta knowledge production. Metode yang dipakai adalah dialogis, bukan metode cerita  dialog adalah cara memanusiakan manusia (humanisasi) Melalui proses dialog  menghasilkan conscienitazation (konsientasi)  proses berkembangnya kesadaran dan memiliki critical awarness (kepekaan kritis) sehingga mampu melihat secara kritis kontradiksi sosial di sekelilingnya dan berusaha untuk mengubahnya.  melatih menggunakan kesdaran kritis (bukan magis atau naif) Melalui kesadaran kritis  masalah lebih dipandang sebagai persoalan struktural

30 Lanjutan (pendidikan kritis) Untuk mendukung peningkatan kesadaran kritis, ada tiga tahap dasar dalam pendidikan kritis yang diajarkan di kelas: 1. Naming  tahap menanyakan sesuatu: what is the problem  mempertanyakan sesuatu yang berkaitan dengan ‘teks’, realitas sosial atau struktur ekonomi-politik; 2. Reflecting  mengajukan pertanyaan mendasar untuk mencari akar persoalan : why is it happening?  mengajar murid untuk tidak berpikir sederhana tapi kritis dan reflektif. 3. Acting  proses pencarian alternatif untuk memecahkan persoalan: what can be done to change the situation?  merupakan tahap praksis/aksi/

31


Download ppt "Sosiologi Pendidikan (SOS 223) Departemen Sosiologi FISIP – UNIVERSITAS AIRLANGGA."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google