Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Prinsip Prinsip PS Pelatihan Pemetaan Swadaya PNPM – P2KP.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Prinsip Prinsip PS Pelatihan Pemetaan Swadaya PNPM – P2KP."— Transcript presentasi:

1 Prinsip Prinsip PS Pelatihan Pemetaan Swadaya PNPM – P2KP

2 Dasar pemikiran realitas dan pembalikan  Dalam pelaksanaannya teknik yang digunakan harus memenuhi dasar – dasar pemikiran PRA mengenai pelibatan secara aktif kepada kelompok yang terabaikan.  Pelibatan bukan hanya sekedar sebagai menjadi sasaran akan tetapi keterlibatan dalam pengambilan keputusan pada identifikasi kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan dan monitoring evaluasi program mereka sendiri.  Prinsip utama dalam pelaksanaannya mengacu kepada realitas dan pembalikan (reversal)  Reversal menyangkut pengetahuan, ketegori, nilai yang kita miliki kepada yang mereka miliki. Kita mulai dari realita yang mereka miliki bukan yang kita miliki  tiga kelompok reversal bersifat saling menguatkan : kebalikan model, kebalikan hubungan dan kebalikan tindakan. Semuanya itu tidak ada yang bersifat absolut, tetapi menunjukkan suatu pergantian dari arah normal ke arah kebalikannya.

3 Pembalikan Model Dari Tertutup ke Terbuka  Biasanya penelitian dilakukan dengan kuesioner yang tertutup  Dalam PRA wawancara dilakukan lebih terbuka melalui wawancara semi terstruktur. Teknik lain yang lebih umum dilakukan adalah pemetaan, pembuatan model secara partisipatif, matriks rangking, skoring dan lainnya yang memungkinkan masyarakat tidak hanya bebas untuk mengungkapkan pengetahuan serta nilai- nilainya, tetapi juga mereka didorong dan dimungkinkan untuk melakukannya.

4 Pembalikan Model Dari Individu ke Kelompok  Survei kuosioner mensyaratkan bahwa wawancara harus dengan individu atau rumah tangga. Di dalam PRA, wawancara semi terstruktur dapat dengan individu atau kelompok, namun diikuti dengan penekanan pada individu yang diwawancarai.  Dengan pendekatan kelompok masalah – masalah sensitif kadang – kadang lebih bebas dibicarakan. Kelompok dapat membentuk antusiasme kolektif dan kreatif sehingga tanpa sadar akan menggiring pada pengecekan dan saling berbagi. Kelompok – kelompok itu akan saling membantu, berbagi pengalaman yang mencakup bidang yang lebih luas dan pengecekan silang.

5 Dari Verbal ke Visual  Dengan wawancara dan kadang – kadang juga dengan percakapan, orang luar mengajukan pertanyaan dan menggalinya. Kontak mata adalah hal yang umum. Orang luar mempertahankan kontrol dan menentukan agenda serta kategorinya. Pihak yang diwawancara memberikan tanggapan, menyadari bahwa mereka sedang mengadakan interaksi dengan orang yang sedang mencari informasi. Transfer atau pertukaran informasinya bersifat verbal.  Melalui medium yang berbentuk visual dalam PRA seperti pembentukan diagram, pemetaan dan lainnya yang dilakukan secara partisipatif terjadi perubahan hubungan Topik dapat ditentukan, atau paling tidak disarankan oleh orang luar, tetapi perannya bukanlah untuk menggali melalui pertanyaan melainkan untuk memulai suatu proses presentasi dan analisis. Orang luar dapat berfungsi sebagai fasilitator, sedangkan orang dalam berfungsi sebagai aktor atau pelakunya. Orang luar mengalihkan kontrol atau kendali, sedangkan orang dalam menentukan agendanya,

6 Verbal, (percakapan) Visual (diagram)  Peran orang luar  Investigator  Inisiator dan katalis  Mode orang luar  Menggali  Memudahkan  Intervensi orang luar  Terus menerus dan mempertahankan  Memulai dan menguranginya  Peran orang dalam  Responden  Penyaji dan analisis  Mode orang dalam  Reaktif  Kreatif  Kesadaran orang dalam terhadap orang luar  Tinggi  Rendah  Kontak mata  Tinggi  Rendah  Medium dan Materi  Orang Luar  Orang Dalam  Kaum miskin, permepuan dan yang lemah  Dapat terabaikan  Dapat dikuatkan

7 Dari Menghitung Ke Membandingkan  Suatu pelatihan profesional biasa, dimaksudkan untuk membuat pengukuran atau penilaian absolut  Untuk tujuan – tujuan praktis seringkali yang dibutuhkan adalah nilai – nilai relatif. Perbandingannya dapat lebih cepat. Perbandingan tapa pengukuran atu penilaian memiliki manfaat. Dengan menyertakan refleksi dan penilaian, mereka lebih mudah mengekspresikan.

8 Pembalikan Dominasi Dari Menyarikan ke Pemberdayaan  Dalam wawancara kuesioner, kekuatan serta inisiatifnya teletak pada pewawancara. Orang yang diwawancarai merupakan ‘responden’, yakni orang yang memberikan jawaban atau yang memberi reaksi. Dalam hal ini orang luar menjadi dominan untuk menentukan analisa dan penggunaan data yang dihasilkan  Dalam PRA terjadi pembalikan siapa yang dominan Suatu proses PRA, memungkinkan orang luar belajar, melalui sharing informasi untuk meningkatkan analisis dan pengetahuan masyarakat dan berusaha menjauhkan dari sikap memiliki untuk dirinya sendiri. Dalam prosesnya masyarakat dimungkinkan untuk menyatukan, mempresentasikan dan menganalisis informasi, membuatnya menjadi eksplisit dan menambahi pada apa yang telah mereka ketahui. Dalam hal ini PRA berupaya untuk meningkatkan kemampuan.

9 Dari Sikap Diam ke Hubungan Baik Dari Membosankan ke Menyenangkan  Pada umumnya masyarakat, awalnya bersikap pendiam terhadap orang luar, dan memberikan respon hati – hati dengan harapan memperoleh manfaat atau menghindari kerugian atau kehilangan.  Dalam PRA menekankan proses untuk membentuk hubungan yang baik. Pengalaman dalam PRA, bahwa ketika sikap dan tingkah laku orang luar itu benar, dan metode partisipatoris digunakan, maka hubungan yang baik biasanya akan cepat terbentuk. Hal ini dapat dilakukan dengan menunjukkan sikap hormat, dengan mejelaskan siapa anda, dengan menjawab pertanyaan, dengan bersikap jujur, menunjukkan sikap tertarik, dan meminta untuk diajari.

10 Prinsip – Prinsip PS (Diadopsi dari prinsip – prinsip PRA)  Mengutamakan yang terabaikan  Pemberdayaan masyarakat  Masyarakat sebagai pelaku, orang luar sebagai fasilitator  Saling belajar dan menghargai perbedaan  Santai dan informal  Triangulasi  Mengoptimalkan hasil  Orientasi praktis  Keberlanjutan dan selang waktu  Belajar dari kesalahan  Terbuka

11 Mengutamakan yang Terabaikan  Kaum miskin adalah lapisan masyarakat yang berada di pinggir arus pembangunan  Mengutamakan yang terpuinggirkan agar memperoleh kesempatan untuk memiliki peran dan manfaat dalam program pembangunan  Keberpihakan bukan berarti meninggalkan kaum elite tetapi dilakukan untuk mencapai keseimbangan perlakuan terhadap berbagai golongan

12 Pemberdayaan Masyarakat  Bermuatan peningkatan kemampuan masyarakat  Kemampuan itu ditingkatkan di dalam proses pengkajian keadaan, pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan  Masyarakat memiliki akses dan kontrol terhadap berbagai keadaan dalam kehidupannya  Bisa mengurangi ketergantungan terhadap bantuan orang luar

13 Masyarakat sebagai Pelaku Utama  Menempatkan masyarakat sebagai pusat dari kegiatan pembangunan  Orang luar sebagai fasilitator bukan sebagai guru atau penyuluh atau bahkan instruktur  Perlu sikap rendah hati untuk menempatkan masyarakat sebagai narasumber utama dalam memahami keadaan masyarakat  Peran orang luar yang pada awalnya besar, setahap demi setahap harus mulai dikurangi sampai masyarakat menjadi mandiri

14 Saling Belajar dan Menghargai Perbedaan  Adanya pengakuan terhadap pengalaman dan pengetahuan masyarakat  Bukan berarti bahwa masyarakat selamanya benar dan dibiarkan tidak berubah  Pengalaman dan pengetahuan masyarakat dan orang luar harus saling melengkapi dan sama bernilainya  PS merupakan ajang komunikasi antara kedua sistem pengetahuan tersebut untuk melahirkan sesuatu yang lebih baik

15 Santai dan Informal  Dilaksanakan dalam suasana yang bersifat luwes dan terbuka, tidak memaksa dan informal  Situasi yang santai akan menimbulkan hubungan akrab, karena orang luar akan berproses masuk sebagai anggota masyarakat.

16 Triangulasi  Untuk mendapatkan informasi yang bisa diandalkan, harus dilakukan triangulasi yang merupakan bentuk /pemeriksaan ulang (chek and re-check) informasi  Triangulasi dilakukan melalui keanekaragaman tim (disiplin ilmu dan pengetahuan), penganekaragaman sumber informasi (keragaman latar belakang golongan masyarakat, tempat, jenis kelamin), dan variasi teknik

17 Mengoptimalkan Hasil  Sering informasi yang terkumpul tidak diperlukan (banjir informasi)  Tim PS pada saat persiapan perlu merumuskan secara jelas jenis dan tingkat kedalaman informasi yang dibutuhkan.  Kebutuhan informasi tim pemandu semestinya menyerap juga pendapat masyarakat tentang informasi – informasi yang menurut masyarakat lebih penting

18 Orientasi Praktis  Informasi yang dibutuhkan adalah informasi yang sesuai dan memadai, agar program yang dikembangkan bisa memecahkan masalah dan meningkatkan kehidupan masyarakat  Penerapan metode/teknik tidak hanya sekedar untuk menggali informasi dari masyarakat, tetapi menindaklanjuti ke dalam kegiatan bersama

19 Keberlanjutan dan Selang Waktu  Kepentingan dan masalah masyarakat bukan sesuatu yang tetap akan tetapi selalu bergeser sesuai dengan perubahan dan perkembangan baru dalam masyarakat  Pemahaman masyarakat bukanlah sesuatu usaha yang sekali dilakukan kemudian selesai, namun merupakan kegiatan yang harus terus berlanjut  Kajian – kajian yang dilakukan melalui PS, bukan sesuatu yang selesai hanya pada saat tertentu saja akan tetapi harus terus menerus dilakukan oleh masyarakat

20 Belajar dari Kesalahan  Melakukan kesalahan dalam proses adalah sesuatu yang wajar  Akan tetapi kesalahan – kesalahan tersebut harus dipakai sebagai alat belajar untuk memperbaiki kegiatan – kegiatan selanjutnya agar menjadi lebih baik.  Penting untuk diingat bahwa kegiatan ini bukanlah kegiatan coba – coba yang tanpa perhitungan. Kita tetap harus meminimalkan dan mengurangi kesalahan

21 Terbuka  Teknik – teknik yang ada bukanlah sesuatu yang sudah sempurna  Diharapkan teknik – teknik tersebut bisa dikembangkan sesuai keadaan dan kebutuhan setempat.

22 Terima Kasih


Download ppt "Prinsip Prinsip PS Pelatihan Pemetaan Swadaya PNPM – P2KP."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google