Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

A GRIBISNIS K ARET Yuliana Sabarina Lewar Elisabeth Ricca Jhon Basker Purba.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "A GRIBISNIS K ARET Yuliana Sabarina Lewar Elisabeth Ricca Jhon Basker Purba."— Transcript presentasi:

1 A GRIBISNIS K ARET Yuliana Sabarina Lewar Elisabeth Ricca Jhon Basker Purba

2 Pendahuluan Karet merupakan komoditi perkebunan yang sangat penting peranannya di Indonesia. 1.sebagai sumber lapangan kerja bagi sekitar 1,4 juta tenaga kerja, 2.sebagai salah satu sumber devisa non-migas, 3.Pemasok bahan baku karet 4. berperan penting dalam mendorong 5.pertumbuhan sentra-sentra ekonomi baru di wilayah- wilayah pengembangan karet. Sampai dengan tahun 1998 komoditi karet masih merupakan penghasil devisa terbesar dari subsektor perkebunan dengan nilai US$ juta, namun pada tahun 2003 turun menjadi nomor dua setelah kelapa sawit dengan nilai US$ juta (nilai ekspor minyak sawit mencapai US$ juta).

3 Lanjutan 6. Di samping itu perusahaan besar yang bergerak di bidang karet telah memberikan sumbangan pendapatan kepada negara dalam bentuk berbagai jenis pajak dan pungutan perusahaan. 7. Perkebunan karet di Indonesia juga telah diakui menjadi sumber keragaman hayati yang bermanfaat dalam pelestarian lingkungan, sumber penyerapan CO dan penghasil bagi wilayah di sekitarnya. 8. Selain itu tanaman karet ke depan akan merupakan sumber kayu potensial yang dapat mensubsitusi kebutuhan kayu yang selama ini mengandalkan hutan alam.

4 A GRIBISNIS P RIMER DAN H ULU A GRIBISNIS H ILIR K ONDISI A GRIBISNIS K ARET S AAT I NI

5 Agribisnis Primer dan Hulu Secara umum,pengusahaan perkebuna karet di Indonesia dibagi dalam beberapa kelompok yaitu sebagai berikut. Perkebunan Negara atau yang diusahakan oleh negara Perkebunan yang diusahakan oleh swasta Perkebunan yang diusahakan oleh rakyat

6 Tahun Luas ArealProduksi(ton) Perkebu nan Rakyat Perkebu nan Negara Perkebu nan Swasta Jumlah Perkebun an Rakyat Perkeb unan Negara Perkebu nan Swasta Jumlah Sumber: Buku Panduan Karet lengkap(2008),Penerbit Penebar Swadaya Hal.73

7 Dari tabel di atas,terlihat bahwaperkebunan karet rakyat memiliki luas areal yang terbesar,hampir 10 kali lipat luasan perkebunan negara.jadi perkebunan rakyat memiliki peranan yang sangat besar dalam dunia perkaretan di Indonesia.

8 rendahnya produktivitas karet rakyat (+ 600 kg/ha/th), antara lain karena sebagian besar tanaman masih menggunakan bahan tanam asal biji (seedling) tanpa pemeliharaan yang baik tingginya proporsi areal tanaman karet yang telah tua, rusak atau tidak produktif(+ 13% dari total areal). Pada saat ini sekitar 400 ribu ha areal karet berada dalam kondisi tua dan rusak dan sekitar 2-3% dari areal tanaman menghasilkan (TM) yang ada setiap tahun akan memerlukan peremajaan. Dengan kondisi demikian, sebagian besar kebun karet rakyat menyerupai hutan karet. Masalah usahatani karet yang dihadapi petani secara umum adalah keterbatasan modal baik untuk membeli bibit unggul maupun sarana produksi lain seperti herbisida dan pupuk. Selain itu ketersediaan sarana produksi pertanian tersebut di tingkat petani juga masih terbatas. Bahan tanam karet unggul yang terjamin mutunya hanya tersedia di Balai Penelitian atau para penangkar benih binaan Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet nasional

9 Permasalahan utama lainnya di perkebunan karet rakyat adalah bahwa bahan baku yang dihasilkan umumnya bermutu rendah, dan pada sebagian lokasi harga yang diterima di tingkat petani masih relatif rendah (60-75% dari harga FOB) karena belum efisiennya sistem pemasaran bahan olah karet rakyat. Pada sisi lain, kayu karet yang ada saat ini baru sebagian kecil dimanfaatkan untuk kayu olahan, papan partikel dan papan serat. Hal ini terjadi karena lokasi pabrik pengolah kayu jauh dari sumber bahan baku sehingga proporsi biaya transportasi menjadi tinggi (> 50% dari harga jual petani). Oleh karena itu, harga kayu karet di tingkat petani masih rendah dan tidak menarik bagi petani. Dengan penataan kelembagaan yang lebih baik, kayu karet rakyat merupakan potensi yang sangat besar dalam agribisnis karet.

10 Agribisnis Hilir Bahan olah karet berupa lateks dapat diolah menjadi berbagaijenis produk barang jadi lateks (latex goods) dan karet padat (RSS, SIR) dijadikan bahan baku untuk menghasilkan berbagai jenis barang karet. Barang jadi dari karet terdiri atas ribuan jenis dan dapat diklasifikasikan atas dasar penggunaan akhir (end use) atau menurut saluran pemasaran (market channel). Pengelompokan yang umum dilakukan adalah menurut penggunaan akhir yakni: (1)ban dan produk terkait serta ban dalam (2)barang jadi karet untuk industri, (3)kemiliteran, (4)alas kaki dan komponennya, (5)barang jadi karet untuk penggunaan umum (6)kesehatan dan farmasi.

11 Ragam produk karet yang dihasilkan dan diekspor oleh Indonesia masih terbatas, pada umumnya masih didominasi oleh produk primer (raw material) dan produk setengah jadi. Jika dibandingkan dengan negara-negara produsen utama karet alam lainnya, seperti Thailand dan Malaysia, ragam produk karet Indonesia tersebut lebih sedikit. Sebagian besar produk karet Indonesia diolah menjadi karet remah (crumb rubber) dengan kodifikasi “Standard Indonesian Rubber” (SIR), sedangkan lainnya diolah dalam bentuk RSS dan lateks pekat.

12 PROSPEK BISNIS PENGOLAHAN CRUMB RUBBER KE DEPAN DIPERKIRAKAN TETAP MENARIK, KARENA MARJIN KEUNTUNGAN YANG DIPEROLEH PABRIK RELATIF PASTI. MARJIN PEMASARAN, ANTARA TAHUN , SEBAGAIMANA DISAJIKAN PADA TABEL 2 BERKISAR ANTARA 3,7%-32,5% DARI HARGA FOB, TERGANTUNG PADA TINGKAT HARGA YANG BERLAKU

13 Permasalahan umum yang terjadi pada agribisnis hilir Pemanfaatan karet alam di luar industri ban kendaraan masih relatif kecil. Kendala utama adalah rendahnya daya saing produk-produk industri lateks Indonesia bila dibandingkan dengan produsen lain terutama Malaysia Industri kecil menengah barang jadi karet secara umum masih memerlukan pembinaan di dalam pengembangan usahanya. Seringkali industri kecil ini beroperasi dengan mengandalkan pesanan (captive market Industri kecil barang jadi karet pada umumnya dikelola dalam bentuk industri rumah tangga secara informal. Pengrajin barang jadi karet, dalam operasional usahanya berjalan secara soliter, dalam arti hampir tidak terjadi interaksi antar pengrajin. Pengrajin pada umumnya tidak berminat dan menganggap tidak ada manfaatnya tergabung dalam asosiasi atau koperasi. Pengrajin barang jadi karet menggunakan teknologi yang sangat sederhana, yakni tertumpu pada proses pencetakan dan vulkanisasi (pemasakan) pada kompon yang dibeli dari perusahaan pembuat kompon.

14 Perdagangan dan Harga Tabel 3. Volume ekspor karet alam indonesia berdasarkan tipe produk, tahun

15 Tabel 4. Volume dan nilai ekspor-impor karet alam indonesia, tahun Tahun EksporImpor Volume(Ton)Nilai(US Dollar)Volume(Ton)Nilai(US Dollar)

16 Sebagai salah satu komoditi ekspor, harga karet alam Indonesia sangat tergantung pada harga karet alam di pasar internasional yang sangat berfluktuasi. Volume impor karet alam ke Indonesia relatif sangat kecil, dan terbatas dalam bentuk lateks pekat yang dibutuhkan oleh industri barang jadi lateks dalam negeri. Rendahnya konsumsi karet alam domestik mencerminkan belum berkembangnya industri hilir yang berbasis karet alam. Hal ini mengakibatkan perolehan nilai tambah komoditi karet masih relatif rendah. Pada kenyataannya koordinasi vertikal dari hulu (on farm) ke hilir (pengolahan dan pemasaran) dalam sistem agribisnis karet di Indonesia belum optimal.

17

18 Potensi Pengembangan Agribisnis Karet Produksi lateks,Dari uraian di atas tergambar bahwa peluang untuk pengembangan usaha agribisnis karet cukup terbuka pada hampir semua subsistem, baik pada subsistem agribisnis hulu (on farm),maupun subsistem hilir. Produksi kayu,Potensi hasil agribisnis karet yang perlu segera dieksplorasi saat ini dan ke depan adalah kayu karet, untuk mengantisipasi permintaan kayu di tingkat domestik dan dunia yang terus meningkat. Inovasi teknologi,Sebagai salah satu komoditi pertanian, produksi karet sangat tergantung pada teknologi dan manajemen yang diterapkan dalam sistem dan proses produksinya. Produk industri perkebunan karet perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar yang senantiasa berubah. Status industri perkebunan Indonesia akan berubah dari pemasok bahan mentah menjadi pemasok barang jadi atau setengah jadi yang bernilai tambah lebih tinggi yang berarti kandungan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dari produk akan meningkat

19 Strategi 1. On-farm a. Penggunaan klon unggul penghasil lateks dan kayu yang mempunyai produktivitas lateks potensial, dan menghasilkan produktivitas kayu karet b. Percepatan peremajaan karet tua dan tidak produktif terutama pada perkebunan karet), yang terutama direalisasikan melalui gerakan peremajaan tanaman karet rakyat c. Diversifikasi usahatani karet melalui integrasi dengan tanaman pangan dan ternak untuk peningkatan pendapatan keluarga tani. d. Peningkatan efisiensi usaha pada setiap tahap proses produksi untuk menjamin marjin keuntungan dan daya saing yang tinggi.

20 2. Off-farm a. Peningkatan kualitas bahan olah karet (bokar) yang dihasilkan petani sesuai dengan SNI bokar yang disyaratkan oleh industri pengolahan. b. Peningkatan efisiensi pemasaran bokar dan penguatan kelembagaan petani untuk mencapai bagian harga yang diterima petani. c. Penyediaan Kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terkait dengan peremajaan karet dan pengembangan usaha bersama dalam kegiatan pengolahan dan pemasaran. d. Pengembangan infrastruktur yang menunjang pengembangan produksi dan pengolahan barang jadi karet. e.Peningkatan pendapatan petani melalui berbagai upaya peningkatan hasil usahatani(perbaikan sistem produksi,pengolahan dan pemasaran), dan penciptaan usaha industri kecil dan menengah pedesaan.

21


Download ppt "A GRIBISNIS K ARET Yuliana Sabarina Lewar Elisabeth Ricca Jhon Basker Purba."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google