Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

SISTEM OTOT (MUSCULAR) ELLYZAR I.M. ADIL DEPARTEMENEN BIOLOGI FMIPA UI GEDUNG E LANTAI 4 LAB. FISIOLOGI.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "SISTEM OTOT (MUSCULAR) ELLYZAR I.M. ADIL DEPARTEMENEN BIOLOGI FMIPA UI GEDUNG E LANTAI 4 LAB. FISIOLOGI."— Transcript presentasi:

1 SISTEM OTOT (MUSCULAR) ELLYZAR I.M. ADIL DEPARTEMENEN BIOLOGI FMIPA UI GEDUNG E LANTAI 4 LAB. FISIOLOGI

2 SISTEM OTOT MELIPUTI ALAT-2 TUBUH, DENGAN JALAN KONTRAKSI (MEMENDEK) DAN RELAKSASI (KEMBALI SEPERTI KEADAAN SEMULA) AKAN MENIMBULKAN PERGERAKAN TUBUH SECARA KESELURUHAN ATAU SEBAGIAN MELIPUTI ALAT-2 TUBUH, DENGAN JALAN KONTRAKSI (MEMENDEK) DAN RELAKSASI (KEMBALI SEPERTI KEADAAN SEMULA) AKAN MENIMBULKAN PERGERAKAN TUBUH SECARA KESELURUHAN ATAU SEBAGIAN

3 FUNGSI OTOT FUNGSI VOLUNTER  MRPKAN AKIBAT KERJA DR OTOT RANGKA FUNGSI VOLUNTER  MRPKAN AKIBAT KERJA DR OTOT RANGKA 1. MEMPERTAHANKAN SIKAP TUBUH  DUDUK, BERDIRI, TIDUR 1. MEMPERTAHANKAN SIKAP TUBUH  DUDUK, BERDIRI, TIDUR 2. MELAKSANAKAN BERMACAM-MACAM GERAKAN  2. MELAKSANAKAN BERMACAM-MACAM GERAKAN  ANGGOTA TUBUH : PERGERAKAN ANGGOTA TUBUH : PERGERAKAN JARI-JARI : UNTUK MEMEGANG JARI-JARI : UNTUK MEMEGANG DIAFRAGMA : RESPIRASI (PERNAFASAN) DIAFRAGMA : RESPIRASI (PERNAFASAN) PHARYNG : MENELAN MAKANAN PHARYNG : MENELAN MAKANAN LIDAH & BIBIR : MENGGERAKAN MAKANAN DAN VOKALISASI LIDAH & BIBIR : MENGGERAKAN MAKANAN DAN VOKALISASI

4 LANJUTAN FUNGSI OTOT FUNGSI INVOLUNTER (TDK DIPENGARUHI KEHENDAK)  AKIBAT KERJA OTOT POLOS & OTOT JANTUNG FUNGSI INVOLUNTER (TDK DIPENGARUHI KEHENDAK)  AKIBAT KERJA OTOT POLOS & OTOT JANTUNG 1. PROPULSI (DORONGAN) SUBSTANSI DLM BERMACAM-2 SALURAN, MISALNYA: MAKANAN YANG BERJALAN SEPANJANG SALURAN PENCERNAAN; DARAH YANG BERJALAN DI SEPANJANG PEMBULUH DARAH; SEL TELUR YANG BERJALAN DI SEPANJANG SALURAN TELUR (OVIDUCT); SPERMA YANG BERJALAN DI SPANJANG SALURAN MANI 1. PROPULSI (DORONGAN) SUBSTANSI DLM BERMACAM-2 SALURAN, MISALNYA: MAKANAN YANG BERJALAN SEPANJANG SALURAN PENCERNAAN; DARAH YANG BERJALAN DI SEPANJANG PEMBULUH DARAH; SEL TELUR YANG BERJALAN DI SEPANJANG SALURAN TELUR (OVIDUCT); SPERMA YANG BERJALAN DI SPANJANG SALURAN MANI 2. EKSPULSI (PENGELUARAN) SUBSTANSI YANG TERSIMPAN DALAM KANTUNG (VESICA)  EMPEDU, URINE, FESES 2. EKSPULSI (PENGELUARAN) SUBSTANSI YANG TERSIMPAN DALAM KANTUNG (VESICA)  EMPEDU, URINE, FESES 3. REGULASI (PENGATURAN) DIAMETER LUBANG  MENGATUR BESAR KECILNYA PUPIL MATA, PYLORUS LAMBUNG, REKTUM (ANUS) 3. REGULASI (PENGATURAN) DIAMETER LUBANG  MENGATUR BESAR KECILNYA PUPIL MATA, PYLORUS LAMBUNG, REKTUM (ANUS)

5 LANJUTAN FUNGSI INVOLUNTER 4. REGULASI (PENGATURAN) DIAMETER SALURAN  MENGATUR BESAR KECILNYA PEMBULUH DARAH (SEL-SEL DARAH SANGAT FLEKSIBEL SEHINGGA SEL-SEL DARAH DAPAT MERUBAH BENTUK DENGAN SEGERA PADA SAAT SEL DARAH TERSEBUT MASUK KE DALAM PEMBULUH DARAH YANG BERBEDA (ARTERI, ARTERIOL, KAPILER, VENULA, VENA);  MENGATUR BESAR KECILNYA BRONKIOLUS PULMO 4. REGULASI (PENGATURAN) DIAMETER SALURAN  MENGATUR BESAR KECILNYA PEMBULUH DARAH (SEL-SEL DARAH SANGAT FLEKSIBEL SEHINGGA SEL-SEL DARAH DAPAT MERUBAH BENTUK DENGAN SEGERA PADA SAAT SEL DARAH TERSEBUT MASUK KE DALAM PEMBULUH DARAH YANG BERBEDA (ARTERI, ARTERIOL, KAPILER, VENULA, VENA);  MENGATUR BESAR KECILNYA BRONKIOLUS PULMO

6 JENIS-JENIS OTOT 1. OTOT POLOS 1. OTOT POLOS Bentuk: seperti gelendong, panjang, ramping, pipih dan langsing Bentuk: seperti gelendong, panjang, ramping, pipih dan langsing Setiap otot memiliki 1 inti (nukleus) di tengah (center) Setiap otot memiliki 1 inti (nukleus) di tengah (center) Sitoplasmanya tdd sarkoplasma yang mengandung miofibril (elemen yang mampu berkontraksi sehingga dpt bergerak) Sitoplasmanya tdd sarkoplasma yang mengandung miofibril (elemen yang mampu berkontraksi sehingga dpt bergerak) Panjang otot polos bervariasi antara mikron, ter- gantung lokasi: plg pendek pembuluh darah; plg pjg uterus (rahim wanita/betina) Panjang otot polos bervariasi antara mikron, ter- gantung lokasi: plg pendek pembuluh darah; plg pjg uterus (rahim wanita/betina)

7 LANJUTAN OTOT POLOS LOKASI: terdapat pada alat atau daerah organ yang berongga  saluran pencernaan makanan (batang kerongkongan, esophagus, lambung, usus halus, usus kasar); batang tenggorokan, bronkus, pulmo, uterus (rahim), kantung urine, kantung empedu, pembuluh darah LOKASI: terdapat pada alat atau daerah organ yang berongga  saluran pencernaan makanan (batang kerongkongan, esophagus, lambung, usus halus, usus kasar); batang tenggorokan, bronkus, pulmo, uterus (rahim), kantung urine, kantung empedu, pembuluh darah INNERVASI (PERSYARAFAN): sangat dipengaruhi oleh sistem syaraf otonom (bisa simpatis, bisa parasimpatis) INNERVASI (PERSYARAFAN): sangat dipengaruhi oleh sistem syaraf otonom (bisa simpatis, bisa parasimpatis) Untuk otot polos  peningkatan kerja otot polos seperti gerak peristaltik dilakukan oleh syaraf parasimpatis, sedangkan penghambatan kerja otot polos dilakukan oleh syaraf simpatis Untuk otot polos  peningkatan kerja otot polos seperti gerak peristaltik dilakukan oleh syaraf parasimpatis, sedangkan penghambatan kerja otot polos dilakukan oleh syaraf simpatis AKSI: kontraksi lambat, berlangsung lama, kadang-kadang ritmis AKSI: kontraksi lambat, berlangsung lama, kadang-kadang ritmis

8 LANJUTAN JANIS-JENIS OTOT 2. OTOT JANTUNG 2. OTOT JANTUNG BENTUK: tdd beberapa serabut otot yg bercabang & bersatu dg serabut di sebelahnya  anastomosoma atau sinsitium; mempunyai garis gelap dan terang (tdk sejelas pd otot rangka); intinya di tengah (center); pd interval tertentu terdapat keping-keping interkalar (intercalar disc), pd intercalar disc terdapat jaringan Purkinye yang berfungsi mempercepat penghantaran impuls (kecepatan 4 m/detik) BENTUK: tdd beberapa serabut otot yg bercabang & bersatu dg serabut di sebelahnya  anastomosoma atau sinsitium; mempunyai garis gelap dan terang (tdk sejelas pd otot rangka); intinya di tengah (center); pd interval tertentu terdapat keping-keping interkalar (intercalar disc), pd intercalar disc terdapat jaringan Purkinye yang berfungsi mempercepat penghantaran impuls (kecepatan 4 m/detik) LOKASI: hanya ada di jantung LOKASI: hanya ada di jantung INNERVASI: sistem syaraf otonom INNERVASI: sistem syaraf otonom AKSI: kontraksi otomatis & ritmis AKSI: kontraksi otomatis & ritmis

9 LANJUTAN OTOT JANTUNG Otonom, bisa simpatis, bisa parasimpatis Otonom, bisa simpatis, bisa parasimpatis Untuk otot jantung: peningkatan denyut jatung sangat dipengaruhi oleh syaraf simpatis, sedangkan penguragan denyut jantung sangat dipengaruhi oleh syaraf parasimpatis Untuk otot jantung: peningkatan denyut jatung sangat dipengaruhi oleh syaraf simpatis, sedangkan penguragan denyut jantung sangat dipengaruhi oleh syaraf parasimpatis Kerja syaraf otonom, baik simpatis maupun parasimpatis kebalikan dari kerja otot polos Kerja syaraf otonom, baik simpatis maupun parasimpatis kebalikan dari kerja otot polos

10 LANJUTAN JENIS-JENIS OTOT 3. OTOT RANGKA = OTOT SADAR = OTOT LURIK = OTOT SERAN LINTANG 3. OTOT RANGKA = OTOT SADAR = OTOT LURIK = OTOT SERAN LINTANG BENTUK: tdd banyak serabut, intinya terletak di tepi (pinggir), terdapat garis gelap dan terang (sangat jelas), panjang otot rangka bervariasi antara 1-40 mm, sedangkan tebalnya antara mikron;setiap serabut otot rangka dilapisi oleh sarkolema (di dlm sarkolema terdapat miofibril = elemen yang dapat berkontraksi), serabut otot yang masing-masing dilapisi sarkolema berkelopok membentuk serabut otot dan dilapisi fasiculus. Masing-masing fasikulus dilapisi oleh jaringan ikat perimisium. Jaringan ikat yang meliputi serabut otot rangka disebut endomisium. Masing-masing endomisium dilapisi lagi oleh epimisium. Dalam otot rangka terdapat mioglobin  pigmen yang disebut mioglobin BENTUK: tdd banyak serabut, intinya terletak di tepi (pinggir), terdapat garis gelap dan terang (sangat jelas), panjang otot rangka bervariasi antara 1-40 mm, sedangkan tebalnya antara mikron;setiap serabut otot rangka dilapisi oleh sarkolema (di dlm sarkolema terdapat miofibril = elemen yang dapat berkontraksi), serabut otot yang masing-masing dilapisi sarkolema berkelopok membentuk serabut otot dan dilapisi fasiculus. Masing-masing fasikulus dilapisi oleh jaringan ikat perimisium. Jaringan ikat yang meliputi serabut otot rangka disebut endomisium. Masing-masing endomisium dilapisi lagi oleh epimisium. Dalam otot rangka terdapat mioglobin  pigmen yang disebut mioglobin

11 LANJUTAN OTOT RANGKA LOKASI : semua otot yang melekat pada tulang, otot lidah, langit-langi (palatinum), pharing, ujung esophagus LOKASI : semua otot yang melekat pada tulang, otot lidah, langit-langi (palatinum), pharing, ujung esophagus INNERVASI : sistem syaraf kraniospinal  bekerja menurut kehendak individu INNERVASI : sistem syaraf kraniospinal  bekerja menurut kehendak individu AKSI: kontraksi cepat, berlangsung sebentar AKSI: kontraksi cepat, berlangsung sebentar

12 SIFAT-SIFAT OTOT (global) 1. KONTRAKTILITAS  kemampuan otot untuk mengadakan respon (memendek) bila dirangsang (otot polos 1/6 kali; otot rangka 1/10 kali) 1. KONTRAKTILITAS  kemampuan otot untuk mengadakan respon (memendek) bila dirangsang (otot polos 1/6 kali; otot rangka 1/10 kali) 2. EKSTENSIBILITAS = DISTENSIBILITAS  kemampuan otot untuk memanjang bila otot ditarik atau ada gaya yang bekerja pada otot tersebut  bila otot rangka diberi beban; uterus berisi fetus 2. EKSTENSIBILITAS = DISTENSIBILITAS  kemampuan otot untuk memanjang bila otot ditarik atau ada gaya yang bekerja pada otot tersebut  bila otot rangka diberi beban; uterus berisi fetus 3. ELASTISITAS  kemampuan otot untuk kembali ke bentuk & ukuran semula setelah mengalami ekstensibilitas/distensibilitas (memanjang) atau kontraktilitas (memendek) 3. ELASTISITAS  kemampuan otot untuk kembali ke bentuk & ukuran semula setelah mengalami ekstensibilitas/distensibilitas (memanjang) atau kontraktilitas (memendek) 4. IRRITABILITAS = EKSITABILITAS  kemampuan otot untuk mengadakan respon bila di rangsang 4. IRRITABILITAS = EKSITABILITAS  kemampuan otot untuk mengadakan respon bila di rangsang

13 SIFAT-SIFAT OTOT JANTUNG 1. KONTRAKTILITAS  sistol (kontraksi), diastol (relaksasi) dan selalu ada platau (dataran yang menyebabkan fase diastol lbh panjang dari sistol = memberi kesempatan darah tertampung lebih banyak di jantung) 1. KONTRAKTILITAS  sistol (kontraksi), diastol (relaksasi) dan selalu ada platau (dataran yang menyebabkan fase diastol lbh panjang dari sistol = memberi kesempatan darah tertampung lebih banyak di jantung) 2. KONDUKTIVITAS  perambatan impuls 2. KONDUKTIVITAS  perambatan impuls sinoatrio nodus  sinoatrio nodus  atrium atrium atrioventrikular nodus atrioventrikular nodus ventrikel ventrikel berkas HIS berkas HIS jaringan Purkinye 4 m/detik jaringan Purkinye 4 m/detik 3. OTOMATIS & RITMIS  secara otomotis dan ritmis selalu berdenyut kecuali ada gangguan 3. OTOMATIS & RITMIS  secara otomotis dan ritmis selalu berdenyut kecuali ada gangguan

14 LANJUTAN SIFAT-SIFAT OTOT JANTUNG 4. IRRITABILITAS = EKSITABILITAS  mengadakan respons bila di rangsang 4. IRRITABILITAS = EKSITABILITAS  mengadakan respons bila di rangsang 5. PERIODE REFRAKTER YANG LAMA 5. PERIODE REFRAKTER YANG LAMA Absolut  pada saat sistol  tidak akan terjadi perubahan apa- apa (grafik tetap berjalan tanpa gangguan) Absolut  pada saat sistol  tidak akan terjadi perubahan apa- apa (grafik tetap berjalan tanpa gangguan) Relatif  pada saat diastol  akan terjadi perubahan tergantung rangsangan terjadi pada awal diastol, pertengahan diastol, atau hampir akhir diastol  sehingga akan menghasilkan ekstra sistol dan kompensasi menjadi istirahat cukup panjang) Relatif  pada saat diastol  akan terjadi perubahan tergantung rangsangan terjadi pada awal diastol, pertengahan diastol, atau hampir akhir diastol  sehingga akan menghasilkan ekstra sistol dan kompensasi menjadi istirahat cukup panjang) Catatan: refrakter, otot kehilangan sifat irritabilitas untuk sementara, sedangkan fatique, otot kehilangan sifat kontraktilitas dan irritabilitas Catatan: refrakter, otot kehilangan sifat irritabilitas untuk sementara, sedangkan fatique, otot kehilangan sifat kontraktilitas dan irritabilitas

15 STIMULUS = RANGSANGAN 1. MEKANIS  memijit, memukul, menarik, menyubit, menyentuh 1. MEKANIS  memijit, memukul, menarik, menyubit, menyentuh 2. THERMIS  dingin (bantuan es), panas (bantuan air panas) 2. THERMIS  dingin (bantuan es), panas (bantuan air panas) 3. KHEMIS  bantuan bahan kimia, baik anorganik maupun organik (bisa asam, basa, garam) 3. KHEMIS  bantuan bahan kimia, baik anorganik maupun organik (bisa asam, basa, garam) 4. ELEKTRIS  dengan bantuan atus listrik (umumnya untuk penyembuhan 4. ELEKTRIS  dengan bantuan atus listrik (umumnya untuk penyembuhan Dari keempat stimulus mana yang terbaik ???? Dari keempat stimulus mana yang terbaik ???? Dari keempat macam stimulus, elektris yang terbaik, karena: Dari keempat macam stimulus, elektris yang terbaik, karena: Intensitas rangsang, frekuensi rangsang serta durasi rangsang dapat diatur dan dikontrol dengan suatu alat Intensitas rangsang, frekuensi rangsang serta durasi rangsang dapat diatur dan dikontrol dengan suatu alat

16 INTENSITAS (KUAT) RANGSANG 1. Sub minimal = sub liminal = sub threshold = di bawah ambang  rangsang terkecil yang belum mampu menimbulkan respons 1. Sub minimal = sub liminal = sub threshold = di bawah ambang  rangsang terkecil yang belum mampu menimbulkan respons 2. minimal = liminal = threshold = ambang  rangsang terkecil yang mampu menimbulkan respons 2. minimal = liminal = threshold = ambang  rangsang terkecil yang mampu menimbulkan respons 3. sub maksimal  rangsang dengan intensitas yang bervariasi dari minimal sampai maksimal 3. sub maksimal  rangsang dengan intensitas yang bervariasi dari minimal sampai maksimal 4. maksimal  rangsangan dengan intensitas terbesar (maksimal) dan hasil responsnya maksimal 4. maksimal  rangsangan dengan intensitas terbesar (maksimal) dan hasil responsnya maksimal 5. supra maksimal  rengsang dengan intensitas lebih besar dari maksimal, tetapi respons yang dihasilkan sama dengan maksimal 5. supra maksimal  rengsang dengan intensitas lebih besar dari maksimal, tetapi respons yang dihasilkan sama dengan maksimal maksimal

17 ALL OR NONE LAW ( HUKUM SEMUA ATAU TIDAK SAMA SEKALI) Hanya berlaku untuk otot polos dan otot jantung Hanya berlaku untuk otot polos dan otot jantung Untuk otot rangka tidak berlaku, karena otot rangka terdiri dari banyak serabut Untuk otot rangka tidak berlaku, karena otot rangka terdiri dari banyak serabut Contoh: misalnya dengan intensitas 1 mvolt, yang dapat berkontraksi hanya 1-2 serabut otot, kalau intensitas dinaikan 2 mvolt yang dapat berkontraksi 3-4 serabut otot, kalau intensitas dinaikan menjadi 5 mvolt yang dapat berkontraksi 9-10 serabut otot. Sedangkan bila intensitas dinaikan sampai 10 mvolt yang dapat berkontraksi serabut otot, dan jika intensitas dinaikan sampai maksimal, maka semua serabut otot sudah berkontraksi seluruhnya Contoh: misalnya dengan intensitas 1 mvolt, yang dapat berkontraksi hanya 1-2 serabut otot, kalau intensitas dinaikan 2 mvolt yang dapat berkontraksi 3-4 serabut otot, kalau intensitas dinaikan menjadi 5 mvolt yang dapat berkontraksi 9-10 serabut otot. Sedangkan bila intensitas dinaikan sampai 10 mvolt yang dapat berkontraksi serabut otot, dan jika intensitas dinaikan sampai maksimal, maka semua serabut otot sudah berkontraksi seluruhnya Untuk satu serabut otot berlaku hukum ini,tetapi untuk keseluruhan tidak berlaku hukum ini Untuk satu serabut otot berlaku hukum ini,tetapi untuk keseluruhan tidak berlaku hukum ini

18 PERIODE KONTRAKSI OTOT TERDIRI DARI: TERDIRI DARI: 1. Periode Latent (PL)  Periode pemberian rangsang sampai terjadinya respon 1. Periode Latent (PL)  Periode pemberian rangsang sampai terjadinya respon 2. Periode Kontraksi (PK)  Periode pemendekan otot atau kontraksi 2. Periode Kontraksi (PK)  Periode pemendekan otot atau kontraksi 3. Periode Relaksasi (PR)  Periode kembalinya otot pada keadaan semula setelah mengalami kontraksi 3. Periode Relaksasi (PR)  Periode kembalinya otot pada keadaan semula setelah mengalami kontraksi

19 PERANGSANGAN LEBIH DARI SATU KALI Perangsangan ke 2 diberikan pada periode kontraksi pas selesai  maka akan menimbulkan respons kontraksi tunggal yang berturut-turut Perangsangan ke 2 diberikan pada periode kontraksi pas selesai  maka akan menimbulkan respons kontraksi tunggal yang berturut-turut Perangsangan ke 2 diberikan pada periode relaksasi, bisa pada awal relaksasi, pertengahan relaksasi dan hampir akhir relaksasi  akan memberikan tambahan kontraksi yang lebih tinggi, sama tinggi atau lebih rendah dari awal Perangsangan ke 2 diberikan pada periode relaksasi, bisa pada awal relaksasi, pertengahan relaksasi dan hampir akhir relaksasi  akan memberikan tambahan kontraksi yang lebih tinggi, sama tinggi atau lebih rendah dari awal Perangsangan ke 2 diberikan segera pada saat periode latent  tidak akan memberikan respons apa-2  artinya grafik seperti biasa atauumum Perangsangan ke 2 diberikan segera pada saat periode latent  tidak akan memberikan respons apa-2  artinya grafik seperti biasa atauumum

20 PERANGSANGAN LEBIH DARI DUA KALI ATAU LEBIH Perangsangan ke 2 dan seterusnya masih menghasilkan pereriode relaksasi  tetanus incomplete (tetanus tidak sempurna)  tunggal Perangsangan ke 2 dan seterusnya masih menghasilkan pereriode relaksasi  tetanus incomplete (tetanus tidak sempurna)  tunggal Perangsangan ke 2 dan seterusnya (lebih dari 30 kali) masih terlihat adanya periode relaksasi  tetanus incomplete (tetanus tidak sempurna)  jamak Perangsangan ke 2 dan seterusnya (lebih dari 30 kali) masih terlihat adanya periode relaksasi  tetanus incomplete (tetanus tidak sempurna)  jamak Peransangan ke 2 dan seterusnya (lebih dari 50 kali) dan tidak terlihat lagi periode relaksasi  tetanus complete (tetanus sempurna)  jamak Peransangan ke 2 dan seterusnya (lebih dari 50 kali) dan tidak terlihat lagi periode relaksasi  tetanus complete (tetanus sempurna)  jamak

21 PERUBAHAN-PERUBAHAN SELAMA KONTRAKSI OTOT 1. PERUBAHAN BENTUK 1. PERUBAHAN BENTUK 2. PERUBAHAN KIMIA 2. PERUBAHAN KIMIA 3. PERUBAHAN PANAS 3. PERUBAHAN PANAS 4. PERUBAHAN LISTRIK 4. PERUBAHAN LISTRIK

22 PERUBAHAN BENTUK Pada saat terjadi kontraksi, otot menjadi pendek dan gemuk, tetapi tidak mengalami perubahan volume Pada saat terjadi kontraksi, otot menjadi pendek dan gemuk, tetapi tidak mengalami perubahan volume Terjadi perubahan bentuk dari protein Terjadi perubahan bentuk dari protein Menurut Szent-Gyorgy  perubahan ini karena adanya protein dalam otot  aktomiosin  terurai menjadi aktin & miosin  aktin mengalami torsi (perputaran) Menurut Szent-Gyorgy  perubahan ini karena adanya protein dalam otot  aktomiosin  terurai menjadi aktin & miosin  aktin mengalami torsi (perputaran)

23 PERUBAHAN KIMIA Pada saat istirahat komposisi otot sebagai berikut: Pada saat istirahat komposisi otot sebagai berikut: Air 75 % Protein 20 % Glikogen 1 % Fosfokreatin (an) 0,3 % Asam laktat 0,5 % Heksosa phosfat (or) 0,05 % Air 75 % Protein 20 % Glikogen 1 % Fosfokreatin (an) 0,3 % Asam laktat 0,5 % Heksosa phosfat (or) 0,05 % Pada saat kontraksi: Fosfat an & asam laktat meningkat jumlahnya; fosfat or & glikogen menurun jumlahnya; oksigen banyak digunakan; H2O & CO2 banyak dihasilkan Pada saat kontraksi: Fosfat an & asam laktat meningkat jumlahnya; fosfat or & glikogen menurun jumlahnya; oksigen banyak digunakan; H2O & CO2 banyak dihasilkan Untuk proses di atas sangat dibutuhkan energi, maka untuk kontraksi otot ada 4 (empat) macam, yaitu: Untuk proses di atas sangat dibutuhkan energi, maka untuk kontraksi otot ada 4 (empat) macam, yaitu:

24 Lanjutan PERUBAHAN KIMIA 1. ATP (adenosin triphosfat)  ADP (adenosin diphosfat) energi yang dihasilkan untuk kontraksi 1. ATP (adenosin triphosfat)  ADP (adenosin diphosfat) energi yang dihasilkan untuk kontraksi 2. Fosfokreatin  asam phosfat + kreatin energi yang dihasilkan untuk resintesis ATP 2. Fosfokreatin  asam phosfat + kreatin energi yang dihasilkan untuk resintesis ATP 3. Glikogen  asam laktat energi yang dihasilkan untuk resintesis fosfokreatin 3. Glikogen  asam laktat energi yang dihasilkan untuk resintesis fosfokreatin 4. 1/5 (seperlima) asamlaktat +O2  H2O + CO2 energi yang dihasilkan untuk mengubah 4/5 { EMPAT PERLIMA) ASAM LAKTAT MENJADI GLIKOGEN 4. 1/5 (seperlima) asamlaktat +O2  H2O + CO2 energi yang dihasilkan untuk mengubah 4/5 { EMPAT PERLIMA) ASAM LAKTAT MENJADI GLIKOGEN

25 PERUBAHAN PANAS Dari seluruh energi yang digunakan untuk kontraksi hanya 20 %, untuk kerja dan selebihyahilang dalam bentuk panas. Dari seluruh energi yang digunakan untuk kontraksi hanya 20 %, untuk kerja dan selebihyahilang dalam bentuk panas. Panas yang timbul dapat digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh,sehingga pada suhu yang dingin  produksi panas dapat ditingkatkan melalui pergerakkan otot Panas yang timbul dapat digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh,sehingga pada suhu yang dingin  produksi panas dapat ditingkatkan melalui pergerakkan otot

26 PERUBAHAN LISTRIK Bila otot berkontraksi terjadi perubahan listrik sehingga timbul arus aksi yang mengalir dari daerah positif ke daerah negatif Bila otot berkontraksi terjadi perubahan listrik sehingga timbul arus aksi yang mengalir dari daerah positif ke daerah negatif Daerah aktif relatif lebih negatif di bandingkan dengan daerah non aktif (positif) Daerah aktif relatif lebih negatif di bandingkan dengan daerah non aktif (positif) Bila mengalami istirahat maka tidak akan timbul arus aksi Bila mengalami istirahat maka tidak akan timbul arus aksi Istilah tersebut dapat dikatakan sebagai polarisasi, depolarisasi dan repolarisasi Istilah tersebut dapat dikatakan sebagai polarisasi, depolarisasi dan repolarisasi

27 POLARISASI, DEPOLARISASI, REPOLARISASI Polarisasi  dalam keadaan istirahat  artinya otot bagian luar bermuatan positif, bagian dalam bermuatan negatif Polarisasi  dalam keadaan istirahat  artinya otot bagian luar bermuatan positif, bagian dalam bermuatan negatif Bila salah satu bagian di rangsang, maka akan terjadi perubahan muatan dari yang positif menjadi negatif, dan muatan negatif menjadi positif  artnya bagian yang dirangsang, bagian luar bermuatan negatif, bagian dalam bermuatan positif Bila salah satu bagian di rangsang, maka akan terjadi perubahan muatan dari yang positif menjadi negatif, dan muatan negatif menjadi positif  artnya bagian yang dirangsang, bagian luar bermuatan negatif, bagian dalam bermuatan positif Antara bagian yang dirangsang (sudah terjadi perubahan muatan disebut depolarisasi) dgn bagian yang tidak dirangsang ada perbedaan muatan, perbedaan ini Antara bagian yang dirangsang (sudah terjadi perubahan muatan disebut depolarisasi) dgn bagian yang tidak dirangsang ada perbedaan muatan, perbedaan ini

28 LANJUTAN POLARISASI, DEPOLARISASI,REPOLARISASI Perbedaan tersebut akan mengalami arus listrik (setrum), yang akan menyebabkan depolarisasi pada daerah sebelahnya dan ini akan berlanjut sampai impuls selesai secara keseluruhan Perbedaan tersebut akan mengalami arus listrik (setrum), yang akan menyebabkan depolarisasi pada daerah sebelahnya dan ini akan berlanjut sampai impuls selesai secara keseluruhan Pada saat depolarisasi berjalan ke daerah sebelahnya, maka pada awal perangsangan akan kembali ke muatan semula, bagian luar bermuatan positif, bagian dalam bermuatan negatif Pada saat depolarisasi berjalan ke daerah sebelahnya, maka pada awal perangsangan akan kembali ke muatan semula, bagian luar bermuatan positif, bagian dalam bermuatan negatif Kalau seluruh rangkaian sudah seperti semula, maka disebut polarisasi Kalau seluruh rangkaian sudah seperti semula, maka disebut polarisasi

29 BEBERAPA ISTILAH Treppe  Rangsang yang berulang dengan intensitas (kuat) rangsang yang sama sehingga lambat laun kuat kontraksi meningkat Treppe  Rangsang yang berulang dengan intensitas (kuat) rangsang yang sama sehingga lambat laun kuat kontraksi meningkat Hipertropi  Bila otot melakukan kerja secara terus menerus maka otot akan membesar  setiap diameter serabut syaraf juga akan membesar, tetapi jumlah serabut serabut di dalamnya tetap atau tidak bertambah Hipertropi  Bila otot melakukan kerja secara terus menerus maka otot akan membesar  setiap diameter serabut syaraf juga akan membesar, tetapi jumlah serabut serabut di dalamnya tetap atau tidak bertambah Atropi  Bila otot tidak digunakan (misalnya sakit shg tidak berjalan karena sakit) maka otot akan mengecil Atropi  Bila otot tidak digunakan (misalnya sakit shg tidak berjalan karena sakit) maka otot akan mengecil Hiperplasia  Membesarnya otot, karena jumlah serabut yang bertambah Hiperplasia  Membesarnya otot, karena jumlah serabut yang bertambah


Download ppt "SISTEM OTOT (MUSCULAR) ELLYZAR I.M. ADIL DEPARTEMENEN BIOLOGI FMIPA UI GEDUNG E LANTAI 4 LAB. FISIOLOGI."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google