Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PENGUKURAN PRODUKTIVITAS BERDASARKAN LAPORAN KEUANGAN DISUSUN OLEH : IPHOV KUMALA SRIWANA Materi ke-12.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PENGUKURAN PRODUKTIVITAS BERDASARKAN LAPORAN KEUANGAN DISUSUN OLEH : IPHOV KUMALA SRIWANA Materi ke-12."— Transcript presentasi:

1 PENGUKURAN PRODUKTIVITAS BERDASARKAN LAPORAN KEUANGAN DISUSUN OLEH : IPHOV KUMALA SRIWANA Materi ke-12

2 2 Yaitu Ratio produktivitas dengan berdasarkan Laporan keuangan, seperti : Neraca, Laporan Rugi Laba dan Laporan Ongkos Produksi. PENGUKURAN PRODUKTIVITAS BERDASARKAN LAPORAN KEUANGAN

3 3 PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA

4 4 PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA Pendidikan dan pelatihan guna meningkatkan keterampilan pekerja. Perbaikan metode kerja. Penggajian yang disesuaikan dengan bobot dan prestasi kerja. Perbaikan lingkungan dan kondisi kerja. Peningkatan motivasi pekerja.

5 5 PRODUKTIVITAS PRODUKSI

6 6 PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PRODUKSI Perbaikan perencanaan dan pengendalian produksi. Perbaikan layout produksi. Lebih mengefektifkan pengendalian mutu. Meningkatkan pengendalian biaya. Analisis proses produksi. Meningkatkan pemeliharaan mesin & peralatan

7 7 PRODUKTIVITAS PENJUALAN

8 8 PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PENJUALAN Perbaikan pada analisis pasar. Penyempurnaan strategi produksi. Penyempurnaan strategi harga. Analisis distribusi dan pemasaran produk. Perbaikan dan reorganisasi pemasaran.

9 9 PRODUKTIVITAS MODAL

10 10 PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MODAL Penyempurnaan pengendalian persediaan. Perbaikan dalam pengelolaan keuangan. Analisis atas investasi yang dilakukan

11 11 PRODUKTIVITAS PRODUK

12 12 PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PRODUK Perbaikan desain produk. Analisis produk. Analisis nilai ( Value analysis). Analisis terhadap kebutuhan konsumen dan selera pasar.

13 13 PENILAIAN KINERJA KEUANGAN Menurut Kaplan & Norton (1996), penentuan tolak ukur keuangan diawali dengan penentuan posisi strategi perusahaan pada daur hidup bisnis yang terbagi dalam 3 tahapan, yaitu :  Growth  Sustain  Harvest

14 14 PENGUKURAN STRATEGIS DARI TEMA FINANSIAL TEMA STRATEGIS STRATEGI UNIT BISNIS Tahap-tahap Peningkatan PenerimaanPeningkatan Produktivitas Peningkatan Utilisasi Aset Awal (Early atau Growth) Tingkat peningkatan penjualan per segmen pasar, persentase penerimaan dari produk baru dan pelanggan Baru Tingkat penjualan per karyawan Persentase investasi terhadap penjualan, persentase R&D terhadap penjualan Berlangsung (Sustainable) Pangsa pasar dari target pelanggan, profitabilitas dari lini produk dan pelanggan, persentase penerimaan dari pelanggan baru Biaya produksi dibandingkan terhadap pesaing, tingkat reduksi biaya, pengeluaran/biaya tidak langsung dibandingkan terhadap penjualan Rasio modal kerja, tingkat kerja, tingkat pengembalian investasi (ROI), tingkat utilisasi aset Matang (Mature atau Harvest) Profitabilitas lini produk & pelanggan, persentase pelanggan yang tidak menguntungkan Biaya per unit produk, biaya per unit transaksi Tingkat pengembalian investasi (payback period)

15 15 GAMBAR 1. KETERKAITAN HUBUNGAN SEBAB- AKIBAT DALAM PERSPEKTIF FINANSIAL

16 16 Strategi peningkatan pangsa pasar (perluasan pasar) dan peningkatan nilai bagi pelanggan akan meningkatkan penerimaan melalui penjualan produk perusahaan. Strategi peningkatan efektivitas biaya (cost effectiveness improvement) dan pe­ningkatan utilisasi aset (tingkat perputaran aset—assets turnover), akan mengakibatkan peningkatan produktivitas perusahaan. Strategi peningkatan penerimaan (penjualan produk) dan peningkatan produktivitas perusahaan akan mengakibatkan peningkatan nilai bagi pemegang saham (profitabilitas, tingkat pengembalian investasi— ROI, dan lain-lain). KETERANGAN GAMBAR 1

17 17 PENILAIAN KINERJA KEUANGAN (Growth) Merupakan tahap awal siklus kehidupan perusahaan dimana perusahaan memiliki produk atau jasa yang secara signifikan memiliki potensi pertumbuhan terbaik. Dalam tahap pertumbuhan, perusahaan biasanya beroperasi dengan arus kas (cash flow) yang negatif dan return on asset yang rendah.

18 18 PENILAIAN KINERJA KEUANGAN (Growth) Sasaran keuangan pada tahap ini : 1. Menekankan pengukuran pada persentase tingkat pertumbuhan pendapatan (revenue). 2. Tingkat pertumbuhan penjualan (sales growth)

19 19 Pada tahap ini, perusahaan masih melakukan investasi dan reinvestasi dengan mengisyaratkan tingkat pengembalian terbaik. Dalam tahap ini, perusahaan mencoba mempertahankan pangsa pasar yang ada, bahkan mengembangkannya, jika mungkin. PENILAIAN KINERJA KEUANGAN (Sustain)

20 20 Pada tahap ini, perusahaan masih melakukan investasi dan Investasi yang dilakukan umumnya diarahkan untuk menghilangkan bottleneck, mengembangkan kapasitas, dan meningkatkan perbaikan operasional secara konsisten. Sasaran keuangan pada tahap ini diarahkan pada besarnya tingkat pengembalian atas investasi yang dilakukan. PENILAIAN KINERJA KEUANGAN (Sustain)

21 21 Sasaran keuangan pada tahap ini : Besarnya pendapatan operasional (operating income) Besarnya laba kotor (Gross Margin) Tingkat pengembalian investasi (ROI) Tingkat pengembalian Modal (Return on Capital Employed) Besarnya nilai tambah ekonomi (economic value added) PENILAIAN KINERJA KEUANGAN (Sustain)

22 22 RASIO PROFITABILITAS Rasio profitabilitas mengukur efektivitas manajemen yang ditunjukkan melalui keuntungan (laba) yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan.

23 23 RASIO PROFITABILITAS Rasio profitabilitas terdiri dari : Keuntungan Kotor (Gross Margin) Keuntungan Bersih (Net Profit Margin) Tingkat Pengembalian Aset (Return on Assets/ROA) Tingkat Pengembalian Modal Sendiri (Return on Equity/ROE)

24 24 KEUNTUNGAN KOTOR (GROSS MARGIN) Merupakan jumlah penjualan bersih (net sales) dikurangi biaya penjualan/harga pokok penjualan atau (cost of sales—cost of goods sold/cost of merchandise sold). Biaya penjualan sering disebut juga sebagai harga pokok penjualan, yang merupakan kategori biaya langsung (direct cost).

25 25 KEUNTUNGAN KOTOR (GROSS MARGIN)

26 26 CONTOHGROSS MARGIN Penjualan bersih dari perusahaan ABC selama tahun 2007 adalah Rp dengan keuntungan kotor sebesar Rp ,00. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa perusahaan ABC menghasilkan 30% laba kotor dari penjualannya, atau dari setiap rupiah penjualan, perusahaan ABC menghasilkan laba kotor sebesar 30 rupiah

27 27 KEUNTUNGAN KOTOR (GROSS MARGIN) Berdasarkan rencana bisnis untuk tahun 2008, penjualan bersih diproyeksikan sebesar Rp dengan keuntungan kotor Rp ,

28 28 KEUNTUNGAN KOTOR (GROSS MARGIN) Artinya : Realisasi rencana bisnis menunjukkan kinerja perusahaan semakin baik, karena keuntungan kotor penjualan bersih telah meningkat dari 30% menjadi 37,5%.

29 29 KEUNTUNGAN BERSIH (NET PROFIT MARGIN) Keuntungan bersih dapat dihitung melalui: (penjualan + pendapatan lain-lain) dikurangi dengan (semua biaya langsung & tidak langsung + bunga pinjaman & pajak). Nilai keuntungan bersih dapat dilihat pada garis paling bawah dari laporan rugi/laba (income state-ment). Rasio laba bersih terhadap penjualan adalah yang paling penting, karena mampu menggambarkan kesuksesan dari suatu operasi perusahaan Rasio ini biasa digunakan untuk memperkirakan atau memproyeksikan profitabilitas dalam suatu rencana bisnis.

30 30 NET PROFIT MARGIN (NPM) Rasio ini biasanya disebut sebagai marjin laba atas penjualan (profit margin on sales). Rasio ini dapat dipengaruhi oleh intensitas modal dalam industri tempat perusahaan bergerak (Weston & Copeland, 1995). Perusahaan-perusahaan dalam industri yang sangat padat modal seperti baja, mobil, dan kimia mungkin mempunyai perputaran penjualan terhadap aktiva yang lebih rendah. Untuk memperoleh pengambilan atas modal atau ekuitas yang sama, diperlukan hasil pengambilan atas penjualan yang lebih tinggi. Standar yang baik untuk rasio ini adalah 4 (Munawir, 1996).

31 31 NET PROFIT MARGIN (NPM)

32 32 CONTOH NPM Penjualan bersih dari perusahaan ABC selama tahun 2007 adalah Rp dengan keuntungan Rp Artinya : perusahaan ABC menghasilkan 20 persen laba bersih dari penjualannya, atau dari setiap rupiah penjualan, perusahaan ABC meng-hasilkan laba bersih sebesar 20 rupiah.

33 33 CONTOH NPM Selanjutnya, berdasarkan rencana bisnis untuk tahun 2008, penjualan bersih diproyeksikan Rp dengan keuntungan bersih sebesar Rp , Artinya : rencana bisnis yang direalisasikan akan menunjukkan kinerja perusahaan semakin baik, karena keuntungan bersih terhadap penjualan bersih telah meningkat dari 20% menjadi 25%.

34 34 Semakin tingginya nilai persentase keuntungan bersih dibandingkan penjualan bersih, menunjukkan bahwa kinerja perusahaan semakin baik

35 35 TINGKAT PENGEMBALIAN ASET (RETURN ON ASSETS /ROA) Rasio ini mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan seluruh sumber dayanya, yang kadang-kadang disebut sebagai tingkat pengembalian atas investasi (return on investment = ROI).

36 36 RETURN ON INVESTMENT (ROI) ROI merupakan rasio profitabilitas yang biasa disebut sebagai hasil pengambilan atas total aktiva atau laba operasi bersih terhadap total aktiva (Weston&Copeland 1995). Rasio ini mengukur efektivitas pemakaian total sumber daya oleh perusahaan dan bertujuan untuk melihat kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan netto (Riyanto 1991). ROI disebut juga sebagai hasil pengembalian atas investasi. Investasi dapat dipandang layak dari aspek finansial, jika memenuhi syarat ROI > 0, dan standar yang baik untuk rasio ini adalah 6 (Munawir 1996).

37 37 RETURN ON INVESTMENT (ROI)

38 38 CONTOH ROA ATAU ROI Misalnya, keuntungan bersih perusahaan ABC pada tahun 2007 adalah Rp dengan aset total sebesar Rp

39 39 CONTOH ROA ATAU ROI Selanjutnya berdasarkan rencana bisnis untuk tahun 2008, diproyeksikan bahwa keuntungan bersih akan sebesar Rp pada tingkat proyeksi aset total sebesar Rp ; Artinya : Nilai ROA yang semakin tinggi menunjukkan bahwa kinerja perusahaan semakin baik

40 40 TINGKAT PENGEMBALIAN MODAL SENDIRI (RETURN ON EQUITY/ROE) ROE sering disebut sebagai Return on Net Worth) ROE mengukur tingkat hasil pengembalian dari modal pemegang saham (modal sendiri) yang diinvestasikan ke dalam perusahaan.

41 41 CONTOH ROE Misalnya, keuntungan bersih perusahaan ABC pada tahun 2007 adalah Rp dengan modal sendiri dari pemegang saham sebesar Rp

42 42 CONTOH ROE Selanjutnya berdasarkan rencana bisnis untuk tahun 2008, diproyeksikan bahwa keuntungan bersih akan sebesar Rp pada tingkat proyeksi modal sendiri sebesar Rp ; Semakin tinggi nilai persentase ROE menunjukkan bahwa kinerja perusahaan semakin baik, karena berarti bisnis itu memberikan pengembalian hasil yang menguntungkan bagi pemilik modal yang menginvestasikan modal mereka ke dalam perusahaan.

43 43 PENILAIAN KINERJA KEUANGAN (Harvest) Pada tahap ini, perusahaan benar-benar menuai hasil investasi. Tidak ada lagi investasi besar, baik ekspansi maupun pembangunan kemampuan baru, kecuali pengeluaran untuk pemeliharaan dan perbaikan fasilitas. Sasaran keuangan utama dalam tahap ini adalah memaksimumkan arus kas masuk dan pengurangan modal kerja.

44 44 RASIO AKTIVITAS (ACTIVITY RATIOS) Rasio aktivitas mengukur efektivitas manajemen perusahaan dengan menggunakan semua sumber daya yang berada di bawah pengendalian manajemen. Rasio aktivitas melibatkan perbandingan antara tingkat penjualan dan investasi pada berbagai jenis harta (aset). Rasio aktivitas menganggap bahwa sebaiknya terdapat suatu keseimbangan yang layak dari penjualan dengan berbagai sumber aset, seperti: inventori, piutang, aset tetap, dan aset lainnya.

45 45 RASIO AKTIVITAS (ACTIVITY RATIOS) Terdiri dari : Tingkat Perputaran Piutang Dagang (AR Turnover /Accounts Receivables Turnover). Periode Penagihan Rata-rata (Collection Days). Tingkat perputaran inventori (Inventory Turnover). Tingkat Perputaran Harta Total (Total Assets Turnover)

46 46 TINGKAT PERPUTARAN PIUTANG DAGANG (AR TURNOVER /ACCOUNTS RECEIVABLES TURNOVER) Merupakan rasio dari penjualan dalam bentuk kredit keseluruhan dibagi dengan saldo piutang dagang (accounts receivables balance). Rasio ini digunakan untuk mengukur bagaimana baiknya bisnis anda mengumpulkan piutang.

47 47 CONTOH ART Misalnya penjualan bersih dari perusahaan ABC selama tahun 2002 adalah Rp 3 milyar dengan komposisi penjualan tunai Rp. 1M dan penjualan kredit Rp. 2M pada tingkat saldo piutang Rp.0,4M.

48 48 CONTOH ART Selanjutnya berdasarkan rencana bisnis untuk tahun 2008, diproyeksikan bahwa penjualan bersih adalah: Rp. 4M dengan komposisi penjualan tunai sebesar Rp 1,5 M dan penjualan kredit sebesar Rp 2,5M pada posisi saldo piutang yang diproyeksikan sebesar Rp 0,2M. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja perusahaan dalam mengumpulkan piutang dagang semakin baik. Semakin tinggi nilai rasio ini, menunjukkan kinerja perusahaan dalam mengumpulkan piutang dagang semakin baik.

49 49 PERIODE PENAGIHAN RATA-RATA (COLLECTION DAYS) Merupakan jangka waktu rata-rata antara waktu faktur (invoice) dikirim dan waktu pembayaran dilakukan.

50 50 PERIODE PENAGIHAN RATA-RATA (COLLECTION DAYS) Proses perhitungan dilakukan dalam dua tahap:

51 51 PERIODE PENAGIHAN RATA-RATA (COLLECTION DAYS) Selanjutnya, periode penagihan rata-rata dihitung sbb: Hal ini dilakukan untuk memperoleh jumlah hari di mana penjualan terikat pada piutang. Jumlah hari tersebut merupakan periode penagihan rata- rata, yang menunjukkan lamanya waktu rata-rata bagi perusahaan harus menunggu menerima pembayaran setelah terjadi penjualan secara kredit (sales on credit)

52 52 CONTOH COLLECTION DAYS Misalnya, penjualan kredit dari perusahaan ABC pada tahun 2006 adalah sebesar Rp 2M pada tingkat piutang rata-rata tahunan Rp 0,4 M. Hal ini berarti bahwa : Mengingat bahwa periode penagihan rata-rata pada tahun 2006 masih cukup lama (di atas 60 hari dianggap lama/buruk), maka telah dibuat rencana bisnis untuk memproyeksikan penjualan kredit pada tahun 2007 sebesar Rp 2,5 milyar pada tingkat piutang rata- rata sebesar Rp 0,3 milyar.

53 53 CONTOH COLLECTION DAYS Misalnya, penjualan kredit dari perusahaan ABC pada tahun 2006 adalah Dengan demikian, apabila rencana bisnis tahun 2007 dapat direalisasikan, maka dapat diproyeksikan bahwa periode penagihan rata-rata adalah: 43 hari Selanjutnya, tentu saja harus diusahakan agar pada tahun 2008, periode penagihan rata-rata dapat diturunkan untuk menjadi di bawah 30 hari. Secara umum, angka yang yang dianggap baik adalah 30 hari, yang dianggap cukup adalah 60 hari, dan yang dianggap buruk/jelek adalah 90 hari.

54 54 CONTOH COLLECTION DAYS Setiap perusahaan dapat menetapkan kebijakan sendiri. Misalnya, apabila perusahaan telah menetapkan bahwa persyaratan penjualan kredit dengan jangka waktu pembayaran 20 hari, maka periode penagihan rata-rata 30 hari dapat dianggap bahwa pelanggan tidak membayar tagihan tepat pada waktunya, sehingga perlu diambil langkah-langkah guna memperlancar penagihan piutang. Periode penagihan rata-rata yang semakin pendek/cepat, menunjukkan bahwa kinerja perusahaan semakin baik, sekaligus menunjukkan efisiensi manajemen perusahaan melaksanakan kebijakan kreditnya. Rata-rata periode penagihan piutang dapat dibandingkan dari periode ke periode atau dibandingkan dengan standar industri lainnya.

55 55 TINGKAT PERPUTARAN INVENTORI (INVENTORY TURNOVER) Semakin tinggi nilai tingkat perputaran inventori, kinerja perusahaan semakin baik, karena akan memenuhi kebutuhan aliran kas dan modal kerja.

56 56 CONTOH INVENTORY TURNOVER Misalnya, perusahaan ABC pada tahun 2006 memiliki tingkat rata-rata Persediaan/inventori sebesar Rp 1,5 milyar dengan biaya penjualan/harga pokok penjualan sebesar Rp.2,1M. Hal ini berarti tingkat perputaran inventori sebesar:

57 57 Mengingat bahwa tingkat perputaran inventori yang lambat, maka dalam rencana bisnis 2007 telah diproyeksikan bahwa biaya penjualan/harga pokok penjualan sebesar Rp 2,5 milyar dengan tingkat rata- rata inventori sebesar Rp 0,7 milyar, sehingga proyeksi tingkat perputaran inventori menjadi: 3,57 kali. Tingkat perputaran inventori sebesar 3,57 kali, berarti pada tahun 2007 diharapkan rata-rata inventori akan tersimpan selama sekitar (12 bulan / 3,57) = 3,36 bulan atau sekitar 101 hari. Mengingat tingkat perputaran inventori harus tinggi/cepat, manajemen bisnis harus merencanakan agar tingkat perputaran inventori dapat ditingkatkan. TINGKAT PERPUTARAN INVENTORI (INVENTORY TURNOVER)

58 58 TINGKAT PERPUTARAN HARTA TOTAL (TOTAL ASSETS TURNOVER) Total Assets Turnover merupakan rasio pen­ jualan terhadap harta (aset) total, yang mengukur perputaran dari harta total yang dimiliki perusahaan. Rasio ini menunjukkan seberapa jauh perusahaan menggunakan harta total secara efisien. Semakin tinggi tingkat perputaran harta total, berarti per­usahaan semakin efisien mengelola harta totalnya

59 59 CONTOH TOTAL ASSETS TURNOVER Misalnya, pada tahun 2006, perusahaan ABC mencatat penjualan sebesar Rp 3M pada tingkat harta total sebesar Rp 5M, berarti tingkat perputaran harta total adalah: Rp 3 milyar / Rp 5 milyar = 0,6 kali. Mengingat tingkat perputaran harta total rendah, manajemen merencanakan untuk meningkatkan penjualan pada tahun 2007 sebesar Rp 4 milyar pada tingkat harta total sebesar Rp 5,2 milyar, sehingga tingkat perputaran harta total menjadi: 0,77 kali.

60 60 TOTAL ASSETS TURNOVER Mengingat tingkat perputaran harta total harus meningkat terus-menerus dari periode ke periode, maka dalam penetapan rencana bisnis, perusahaan perlu mengusahakan agar rasio tingkat perputaran harta total terus ditingkatkan melalui peningkatan penjualan dan/atau penjualan terhadap harta perusahaan yang tidak produktif. Perputaran harta total yang semakin tinggi menunjukkan bahwa kinerja perusahaan semakin meningkat

61 61 RASIO HUTANG (DEBT RATIOS) Rasio ini mengukur sampai sejauh mana perusahaan dibiayai oleh hutang. Rasio ini terdiri dari :  Hutang Terhadap Kekayaan Bersih (Debt to Net Worth).  Hutang Jangka Pendek Terhadap Total Hutang/Kewajiban (Short-term Debt to Liabilities)

62 62 DEBT TO NET WORTH Debt to Net Worth merupakan hutang atau kewajiban total (total liabilities) dibagi total kekayaan bersih (total net worth). Semakin kecil nilai rasio ini berarti kinerja perusahaan semakin meningkat.

63 63 DEBT TO NET WORTH Misalnya, perusahaan ABC pada tahun 2006 memiliki total hutang sebesar Rp.2,5M dengan total kekayaan bersih sebesar Rp 2,5M, yang berarti rasio hutang terhadap kekayaan bersih sebesar: Rp 2,5 milyar / Rp 2,5 milyar = 1 atau 100%.

64 64 DEBT TO NET WORTH Mengingat nilai rasio ini harus terus-menerus diturunkan, maka dalam rencana bisnis tahun 2007 manajemen perusahaan telah memproyeksikan untuk menurunkan total hutang menjadi Rp 2M dan meningkatkan total kekayaan bersih menjadi Rp 3,2M, sehingga rasio hutang terhadap kekayaan bersih pada tahun 2007 diproyeksikan sebesar: Rp.2M milyar / Rp 3,2 milyar = 0,625 atau 62,5%. Semakin rendah nilai rasio hutang terhadap kekayaan bersih, berarti kinerja perusahaan semakin meningkat.

65 65 SHORT-TERM DEBT TO LIABILITIES Merupakan ukuran dari kedalaman dan bentuk hutang, diukur sebagai hutang jangka pendek dibagi dengan total hutang/kewajiban (total liabilities). Semakin rendahnya hutang jangka pendek dibandingkan total hutang, menunjukkan bahwa kinerja manajemen perusahaan dalam mengelola hutang semakin baik.

66 66 SHORT-TERM DEBT TO LIABILITIES Misalnya, pada tahun 2006, perusahaan ABC memiliki total hutang sebesar Rp 2,5 milyar dengan hutang jangka pendek sebesar Rp 1 milyar, yang berarti rasio hutang jangka pendek terhadap total hutang adalah: Rp 1 milyar / Rp 2,5 milyar = 0,4 atau 40%. Mengingat prinsip bahwa rasio hutang jangka pendek terhadap total hutang harus terus-menerus diturunkan, maka dalam rencana bisnis 2007 telah diproyeksikan un­tuk menurunkan hutang jangka pendek menjadi Rp 0,5 milyar dengan hutang total berkurang menjadi Rp 2 milyar; dengan demikian rasio hutang jangka pendek terha­dap total hutang menjadi: Rp 0,5 milyar / Rp 2 milyar = 0,25 atau 25%. Semakin rendahnya nilai rasio hutang jangka pendek terhadap total hutang menunjukkan kinerja manajemen perusahaan dalam mengelola hutang yang semakin baik

67 67 DeskripsiFormula Target (Aktual)(Target)Manajemen Perusahaan Rasio Profitabilitas: Keuntungan KotorKeuntungan Kotor/Penjualan Bersih30%37,5%Meningkat Keuntungan BersihKeuntungan Bersih/Penjualan Bersih20%25%Meningkat Tingkat Pengembalian Aset (ROA)Keuntungan Bersih/Aset Total12%19,23%Meningkat (ROE)Keuntungan Bersih/ Modal Sendiri24%31,25%Meningkat Rasio Aktivitas: Tingkat PerputaranPenjualan Kredit/Saldo Piutang500%1250%Meningkat Piutang DagangDagang Periode PenagihanPiutang Rata-rata Tahunan/72 hari43 hariMenurun Rata-rata(Penjualan Kredit/360 hari) Tingkat PerputaranBiaya Langsung Penjualan1,4 kali3,57 kaliMeningkat Inventori(COGS)/Rata-rata Invenrori Tingkat Perputaran HartaPenjualan/Total Harta0,6 kali0,77 kaliMeningkat Rasio Hutang: Hutang terhadapTotal Hutang/Total Kekayaan100%62,5%Menurun Kekayaan BersihBersih Hutang Lancar thd total.hutangHutang Jangka Pendek/ total hutang40%25%Menurun

68 68

69 69 BulanUang Tunai Piutang (2) Invented/ Persediaan (3) Harta Lancar (4) = (1+2+3) Harta Jangka Panjang (5) Harta Total (6)=(4+5 Penjualan (7) Perputaran Harta (8)=(7:6) Target Perputaran Harta (Selalu Ditingkatkan) Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Total


Download ppt "PENGUKURAN PRODUKTIVITAS BERDASARKAN LAPORAN KEUANGAN DISUSUN OLEH : IPHOV KUMALA SRIWANA Materi ke-12."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google