Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

EVALUASI BIOLOGI DARI AMPAS BIJI TOMAT DAN PROTEIN KONSENTRAT Oleh: Khairani Ratnasari Siregar 10599061 BIOLOGICAL EVALUATION OF TOMATO WASTE SEED MEALS.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "EVALUASI BIOLOGI DARI AMPAS BIJI TOMAT DAN PROTEIN KONSENTRAT Oleh: Khairani Ratnasari Siregar 10599061 BIOLOGICAL EVALUATION OF TOMATO WASTE SEED MEALS."— Transcript presentasi:

1 EVALUASI BIOLOGI DARI AMPAS BIJI TOMAT DAN PROTEIN KONSENTRAT Oleh: Khairani Ratnasari Siregar BIOLOGICAL EVALUATION OF TOMATO WASTE SEED MEALS AND PROTEIN CONCENTRATE Food Chemistry, 89, p (2005) Sogi, D.S., Bhatia, R., Garg, S.K., Bawa, A.S.,

2 Anatomi tomat Buah tomat terdiri dari: Epidermis Septa Seed Placental tissue Columella Outer wall of pericarp Vascular bundle Locular cavity

3 Taksonomi tomat: Popular Name:TomatoClass:Asteridae Super Kingdom:EukaryotaSuper Order:lamiids Kingdom:ViridiplantaeOrder:Solanales Phylum:StreptophytaFamily:Solanaceae Sub Phylum:EmbryophytaSub Family:Solanum Division:TracheophytaTribe: Subdivision:SpermatophytaGenus:Lycopersicon Super Class:MagnoliophytaSpecies:esculentum

4 Komposisi zat kimia dari tomat Fosfor Kalsium Besi Belerang Protein Karbohidrat Lemak vitamin A, B1 dan C. Lycopene

5 Manfaat tanaman tomat Tomat sangat bermanfaat bagi tubuh karena mengandung vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan. Buah tomat juga mengandung karbohidrat, protein, lemak dan kalori. Buah tomat juga adalah komoditas yang multiguna berfungsi sebagai sayuran, bumbu masak, buah meja, penambah nafsu makan, minuman, bahan pewarna makanan, sampai kepada bahan kosmetik dan obat-obatan.

6 Manfaat tomat untuk kesehatan: Membantu menurunkan resiko gangguan jantung Menghilangkan kelelahan dan menambah nafsu makan. Menghambat pertumbuhan sel kanker pada prostat, leher rahim, payudara dan endometrium. Memperlambat penurunan fungsi mata karena pengaruh usia ( age-related macular degeneration). Mengurangi resiko radang usus buntu. Membantu menjaga kesehatan organ hati, ginjal, dan mencegah kesulitan buang air besar. Menghilangkan jerawat. Mengobati diare Meningkatkan jumlah sperma pada pria Memulihkan fungsi lever. Mengatasi kegemukan

7 Latar Belakang Ampas biji tomat masih memiliki jumlah protein yang bisa digunakan. Protein biji tomat memiliki kadar lisin yang tinggi, sehingga bisa meningkatkan kualitas protein pada produk makanan yang memiliki kadar lisis yang rendah seperti produk sereal.

8 Tujuan Penelitian Mengevaluasi kualitas protein dari biji tomat dalam sistem biologi

9 Metoda Penelitian Bahan yang digunakan: Biji Tomat Bahan makanan Tahap-tahap penelitian: Penyiapan makanan utuh, makanan deoiled, dan konsentrat protein Penyiapan aturan makanan Percobaan pemberian makanan Indikasi Nutrisi Analisis statistik

10 Bahan yang digunakan Biji Tomat Pomace dari unit pembuatan pasta tomat di Amatsar dikumpulkan, digunakan untuk pemisahan biji dengan teknik sedimentasi dan dikeringkan pada lemari pengering. Bahan makanan Kasein (M/S G.S Chemical Testing Lab and Allied Industries, New Delhi), minyak murni dari kacang tanah (M/S Amrit Banaspati Company, India) dan pati jagung diperoleh dari pasar lokal. Campuran mineral dan vitamin disiapkan dari AR grade chemicals.

11 Tahap-tahap penelitian: Penyiapan makanan utuh, makanan deoiled, dan konsentrat protein Ampas biji tomat yang dikeringkan digunakan mendapatkan makanan utuh. Minyak dari makanan utuh diekstrak dengan heksan agar didapat makanan deoiled. Makanan deoiled dilarutkan dengan larutan 1% NaOH, difilter, dilakukan presipitasi protein menggunakan larutan HCl, disentrifugasi, dinetralisasi pellet dan pengeringan pada suhu 50  C untuk penyiapan konsentrat protein (PC).

12 Penyiapan Aturan Pemberian Makanan Ketiga uji diet protein (makanan utuh, Makanan deoiled, dan konsentrat protein). Satu diet protein standar (kasein) dan satu diet non-protein disiapkan dengan mencampurkan sumber protein, minyak kacang tanah, campuran mineral, campuran vitamin, dan pati jagung. Standard diet protein diatur kadar protein 10%, sedangkan non-protein tidak mengandung protein.

13 Percobaan Pemberian Makanan Tikus jantan albino dengan rata-rata berat badan g dengan umur antara hari diseleksi dan ditempatkan pada sangkar masing-masing. Tikus ini diberi makan dengan diet standar (M/S Hind Lever Ltd, India) dan dikondisikan selama 5 hari dilingkungan laboratorium agar bisa beradaptasi. Tikus-tikus ini dibagi menjadi 5 kelompok, dengan 6 tikus pada masing-masing kelompoknya, dengan mean body weights yang hampir sama pada tiap kelompoknya, dinamakan tes protein grup (TPG), standar protein grup (SPG) dan non-protein grup (NPG). Diet dengan kelembaban tertentu dan diberikan sebagai makanan ini dilakukan terus-menerus pada kelompok tikus ini selama 21 hari. Observasi pada pemasukan makanan dan perubahan berat badan mingguan telah diketahui.

14 Indeks Nutrisi Sejumlah makanan diberikan pada basis berat kering diperhitungkan, berdasarkan kandungan moisture sedangkan penolakan bebas-moisture dihasilkan dengan dimalamkan pada suhu 100  C. Perbedaan antara diet diberikan, penolakan didapat dari pemasukan makanan. Pemasukan makanan, pemasukan protein dan penambahan berat badan digunakan untuk menghitung indeks nutrisi

15 Metoda Analisis Indeks Nutrisi Effisiensi makanan (FE) = Penambahan berat badan (g)/Pemasukan makanan (g) Utilisasi makanan (FU) = Pemasukan makanan (g)/Penambahan berat badan (g) Koreksi Rrasio effisiensi protein (C-PER) = PER dari kasein (2.5) x PER dari uji protein/ Exp. PER dari kasein Utilisasi protein (PU) = Pemasukan protein (g)/Penambahan berat badan (g) Net retensi protein (NPR) = [Penambahan berat badan dari TPG (g) + Pengurangan berat badan dari NPG (g)]/ Pemasukan protein dari TPG (g)

16 Analisis Statistik Data yang didapat dianalisa menggunakan analisis satu arah dari varian (ANOVA). Nilai least significant different (LSD) dihitung dan memberikan perbedaan yang signifikan. Perbandingan telah dilakukan dengan protein standar, begitu juga antara yang satu dengan yang lainnya.

17 Tabel.1 Indeks nurisi dari makanan utuh, makanan deoiled, dan konsentrat protein dari ampas biji tomat (n = 6) Mean  SD. Perbedaan subskrip dalam baris mengidentifikasikan perbedaan nilai signifikan (P<0.05). Huruf pertama memberikan perbandingan dengan kasein sedangkan huruf yang kedua memberikan perbandingan antara satu dengan yang lain ParameterKasein Makanan utuh Makanan deoiled Konsentrat protein Non-proteinLSD Pemasukan makanan (g)  aa  bb  9.15 ca  ca  db Pemasukan protein (g)  2.69 aa  2.40 bb  0.92 ac  1.98 ac 1.18  0.27 bd 2.22 Penambahan berat badan (g)  5.15 aa  5.13 bb  6.26 bc  4.89 bc  6.30 bd 6.64 Efisiensi makanan  aa  bb  0.24 bb  bc Utilisasi makanan 5.43  0.12 aa 7.32  0.48 bb 7.23  1.24 bb 6.32  0.50 bc Rasio efisiensi protein 1.83  0.12 aa 1.33  0.11 bb 1.41  0.23 bb 1.45  0.10 bb Koreksi rasio efisiensi protein 2.50  0.00 aa 1.82  0.14 bb 1.93  0.31 bb 1.99  0.12 bb Utilisasi protein 0.55  0.01 aa 0.76  0.07 bb 0.73  0.12 bb 0.69  0.05 bb Retensi protein net 2.91  0.12 aa 2.65  0.07 bb 2.52  0.19 bb 2.51  0.06 bb -0.15

18 Makanan /Pemasukan Protein 1. Pemasukan makanan sebanyak: g untuk kasein, g untuk makanan utuh, 218 g untuk makanan deoiled, g untuk PC dan g untuk diet makanan non-protein (table 1). 2. Telah diamati diet kasein dikonsumsi secara maksimal, kemudian diikuti dengan makanan deoiled, sedangkan konsumsi diet non-protein paling akhir.

19 Makanan /Pemasukan Protein 3. Analisis statistik memberikan hasil bahwa tidak terlihat perbedaan yang signifikan dalam pemasukan makanan deoiled dan diet PC dengan diet kasein sedangkan untuk makanan utuh dan diet non-protein nilainya lebih rendah dibandingkan dengan diet kasein (p<0.05). 4. Diantara uji protein, pemasukan makanan deoiled dan PC juga tidak memberikan perbedaan yang signifikan sedangkan makanan utuh secara signifikan nilainya lebih kecil. 5. Pemasukan protein kasein, makanan utuh, makanan deoiled dan diet non-protein secara berturut adalah 22.3 g, 18.5 g, 21.6 g, 22.9 g, dan 1.18 g. 6. Analisis statistik menunjukkan kecenderungan yang hampir sama pada pemasukan makanan

20 Penambahan Berat Rata-rata berat badan selama 21 hari untuk diet standar adalah g, g Untuk makanan utuh, g untuk makanan deoiled dan g untuk PC. Sedangkan rata-rata pengurangan berat badan adalah g dalam diet non-protein (tabel 1). Analisis statistik memberikan adanya penambahan berat badan untuk diet kasein secara signifikan lebih tinggi dibandingkan semua uji protein (p<0.05). Penambahan berat badan lebih rendah secara signifikan untuk makanan utuh namun lebih tinggi pada kasus makanan deoiled dan PC diantara uji protein (p<0.05). Diet non-protein menunjukkan penambahan secara signifikan berat badan lebih rendah dari standard uji diet.

21 Effisiensi Makanan  Effisiensi makanan adalah penambahan berat badan per unit pemasukan makanan.  Dari hasil perhitungan dihasilkan effisensi makanan sebesar: untuk makanan utuh untuk makanan deoiled untuk PC untuk kasein (Tabel 1)  Effesiensi maksimum makanan terdapat pada kasein, dan effisiensi minimum makanan pada diet makanan utuh.  Analisis statistik menunjukkan secara signifikan uji diet memiliki effisiensi makan lebih rendah dibandingkan diet kasein.  Bagaimanapun juga diantara uji diet, PC menunjukkan effisiensi makanan lebih rendah dibanding makanan utuh dan diet deoiled.

22 Utilisasi Makanan  Utilisasi makanan adalah rasio dari pemasukan makanan dengan penambahan berat badan.  Dihasilkan: 5.43 utilisasi makanan untuk kasein 7.23 makanan deoiled 6.32 untuk PC (Tabel 1)  Nilai maksimum utilisasi makanan ada pada makanan utuh, lalu makanan deoiled.  Analisis statistik menunjukkan kecenderungan yang sama dengan effisiensi makanan.

23 Rasio Effisiensi Protein (PER)  Rasio effiensi protein adalah penambahan berat badan per unit pemasukan protein.  Nilai PER: 1.83 untuk kasein 1.33 makanan utuh 1.41 makanan deoiled 1.45 untuk PC (Tabel 1)  Diet makanan utuh dan makanan deoiled memberikan nilai PER lebih rendah dibanding diet kasein, yang mengindikasikan defisiensi asam amino essensial.  Analisis statistik menunjukkan nilai PER paling tinggi pada kasein dibandingkan uji protein, namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan diantara uji diet protein (P<0.05).

24 Koreksi Rasio Effisiensi Protein (C-PER) Koreksi rasio effisiensi protein didefinisikan sebagai rasio dari PER uji protein dengan mengkalikan standar protein dengan nilai referensi standar protein. Nilai standar protein kasein diambil 2.5 (Chapman & Mitchell, 1959). Koreksi PER adalah 1.80 untuk diet makanan utuh, 1.96 makanan deoiled, 2.34 untuk PC. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa makanan utuh, makanan deoiled, PC dan diet standar protein keseluruhannya termasuk pada kategori PER yang nilainya tinggi. Nilai C-PER dari makanan utuh dan makanan deoiled mengandung kualitas protein paling besar. Analisis statistik C-PER standar lebih tinggi dibandingkan uji proteinnya, walaupun uji protein tidak terlihat perbedaan antara satu dengan yang lain.

25 Utilisasi Protein (PU) Utilisasi protein adalah rasio pemasukan protein agar didapatkan penambahan berat badan. Nilai PU dari analisis statistik paling tinggi ada pada makanan utuh 0.76, makanan deoiled 0.73, PC 0.69, dan kasein sebesar Dari analisis ini nilai PU secara signifikan tidak terlihat perbedaan pada uji diet protein dibandingkan diet kasein.

26 Net retensi protein (NPR)  Retensi net protein didefinisikan sebagai jumlah dari penambahan berat badan dari TPG (Tes Protein Group) dan pengurangan berat badan dari NPG (Non-protein Group) dengan pemasukan protein pada uji grup protein.  Dari hasilnya diketahui NPR maksimum pada kasein (2.91), makanan utuh (2.65), makanan deoiled (2.52). dan nilai minimum pada PC (2.51).  Analisis statistik menunjukkan kecenderungan yang sama dengan PER

27 KESIMPULAN Penambahan berat badan (g): Kasein (40.74) > PC (33.45) > Makanan deoiled (30.62) > Makanan utuh (24.90) > Non-protein ( ). Nilai effisiensi makanan (FE): Kasein (0.184) > PC (0.159) > Makanan deoiled (0.142) > Makanan utuh (0.137). Nilai utilisasi makanan (FU): Makanan utuh (7.32) > Makanan deoiled (7.23) > PC (6.32) > Kasein (5.43). Nilai rasio effisiensi protein (PER): Kasein (1.83) > PC (1.45) > Makanan deoiled (1.41) > Makanan utuh (1.33). Nilai koreksi rasio effisiensi protein (C-PER): Kasein (2.50) > PC (1.99) > Makanan deoiled (1.93) > Makanan utuh (1.82). Nilai utilisasi protein (PU): Makanan utuh (0.76) > Makanan deoiled (0.73) > PC (0.69) > Kasein (0.55). Nilai net retensi protein (NPR): Kasein (2.91) > Makanan utuh (2.65) > Makanan deoiled (2.52) > PC (2.51). Kualitas protein pada biji tomat bisa dibandingkan dengan protein tanaman yang lain, namun nilainya lebih rendah dibandingkan protein hewani.

28

29 Protein tanaman bisa dikategorikan menjadi 3 (Hsu, Sutton, Banjo, Satterlee, & Kendrick, 1978) PER tinggi (benih kapas-2.3, nasi-1.7, red gram-1.7, kacang-1.6) PER medium (Gandum-1.5, Bubuk kedelai- 1.5, Jagung-1.4, Terigu-1.3, Biji wijen-1.2, Maize -1.0) PER rendah (Peas-0.7, Rapeseed meal-1.41)


Download ppt "EVALUASI BIOLOGI DARI AMPAS BIJI TOMAT DAN PROTEIN KONSENTRAT Oleh: Khairani Ratnasari Siregar 10599061 BIOLOGICAL EVALUATION OF TOMATO WASTE SEED MEALS."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google