Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Broadcast Programming RUBIYANTO, MM. Sinetron Kependekatan dari sinema elektronik, yakni sebuah film seri yang ditayangkan melalui media elektronik (televisi).

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Broadcast Programming RUBIYANTO, MM. Sinetron Kependekatan dari sinema elektronik, yakni sebuah film seri yang ditayangkan melalui media elektronik (televisi)."— Transcript presentasi:

1 Broadcast Programming RUBIYANTO, MM

2 Sinetron Kependekatan dari sinema elektronik, yakni sebuah film seri yang ditayangkan melalui media elektronik (televisi). Di Barat, sering dikenal dengan soap opera atau opera sabun, atau disebut juga telenovela (bahasa Spanyol). Sinetron umumnya bercerita tentang kehidupan manusia sehari- hari yang diwarnai konflik, misalnya kehidupan remaja dengan intrik-intrik cinta segitiga, kehidupan keluarga yang penuh penistaan, dan kehidupan alam gaib. RUBIYANTO, MM

3 Ciri khas sinetron Bentuk narasi dengan akhir cerita mengambang, berjangka waktu panjang, bisa saja menjadi tak terbatas dalam menceritakan kisahnya. Lokasi utamanya bertempat di suatu tempat yang mudah diidentifikasi, alias familiar, dan disitulah tokoh-tokoh tersebut sering melakukan perannya. Ketegangan antara konvensi realisme dan melodrama. Realisme mengacu kepada seperangkat konvensi yang menyatakan bahwa drama tersebut merupakan representasi dari apa yang terjadi di ‘dunia nyata’ dengan tokoh-tokoh yang akrab dan masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. RUBIYANTO, MM

4 Ciri khas sinetron Teknik narasi secara sengaja mengaburkan pandangan pemirsa bahwa tayangan tersebut hanyalah sebuah konstruksi di layar kaca. Musik-musik yang dramatis dan tayangan close up pun menjadi bumbu pelengkap yang sangat pas untuk membangun ketegangan dalam setiap episodenya, yang nantinya akan dipotong pada momen yang tepat, dan membuat penonton semakin penasaran. Tema yang berputar-putar dan menonjolkan hubungan interpersonal. Perkawinan, perceraian, hubungan, dan aksi balas dendam menjadi inti dari opera sabun, dan memberikan minat emosional pada cerita. Tema- tema tersebut berputar-putar di antara semua tokoh dalam cerita tersebut dan akhirnya terbentuk imaji bahwa anggota keluarga dalam cerita tersebut akan terus menerus dilanda pertengkaran. (Ilham Zoebazary, Kamus Istilah Televisi & Film) RUBIYANTO, MM

5 Drama (sandiwara tv) & Sinetron Program drama umumnya setting yang digunakan indoor (dalam studio), berbeda dengan sinetron kebanyakan lokasi shooting outdoor (di luar studio). Naskah drama televisi/teleplay dalam studio, sedikit mirip dengan naskah drama panggung. Hal ini bisa dipahami karena keterbatasan setting atau tempat adegan yang biasanya maksimal empat set dalam studio tv. Kalau sinetron tanpa batas atau tergantung tuntutan cerita. RUBIYANTO, MM

6 Bagi penulis naskah drama tv, penggunaan pemikiran verbal di dalam situasi ini, lebih banyak daripada pemikiran visual. Kebanyakan adegan atau konflik dipenuhi oleh kata-kata. Jarang sekali menyajikan kejadian pada drama tv. Kejadian yang mestinya berlangsung dan muncul di layar kaca, di dalam situasi dan kondisi pertelevisian pada waktu itu, biasanya diceritakan secara verbal oleh para tokoh dengan dialog-dialognya. Berbeda dengan sinetron bisa divisualkan. RUBIYANTO, MM

7 Film & Sinetron Sinetron (sinema elektrinik), mempunyai makna dari kata sinema, penggarapannya tidak jauh berbeda dengan penggarapan film layar putih. Dalam penulisan naskah juga disebut skenario, termasuk tahapan dalam penulisan dan format naskah. Yang membedakan pada layar lebar menggunakan kamera optik, bahan film seluloid dan medium sajiannya memakai proyektor dan layar putih dalam gedung bioskop. RUBIYANTO, MM

8 Sementara sinetron menggunakan kamera elektronik dengan video rekorder. Bahannya, pita di dalam kaset dan penyajiannya dipancarkan melalui stasiun televisi, diterima melalui layar kaca pesawat televisi di rumah. RUBIYANTO, MM

9 Sekilas sejarah Film Film berasal dari kata filmen, yang berarti lapisan tipis pada permukaan susu setelah dipanasi. Joseph Nicephore Niepce (prancis) menemukan fotografi pada tahun Thomas Alva Edison (1847 – 1931), penemu lampu listrik dan fonograf menciptakan kinestoscope pada tahun bentuk alat ini menyerupai kotak berlubang untuk mengintip pertunjukkan. 1894, di Broadway avenue, New York, pertunjukkan untuk umum dimulai. RUBIYANTO, MM

10 Lumiere bersaudara (Auguste & Louis Lumiere) dari Prancis mengembangkan kinestoscope menjadi cinematographe, yang dipatenkan Maret Alat ini mengkombinasikan kamera, alat memproses film dan proyektor. 28 Desember 1895, di sebuah kafe di Paris, Lumiere Bersaudara memproyeksikan karya pertamanya. Penonton ditarik bayaran. Dengan demikian bioskop pertama di dunia telah lahir. Tahun 1905, gedung-gedung bioskop (dinamakan Nickelodeon) bermunculan di New York. RUBIYANTO, MM

11 Perkembangan Film Karya film di masa awal adalah hitam putih dan bisu. Akhir 1920-an, mulai dikenal film bersuara, dan yang menyusul film berwarna pada 1930-an. Semula film dianggap bukan karya seni dan sineas di masa awal, adalah : George Melies (Prancis), Edwin S. Porter dan D.W. Griffith (USA), R.W. Paul dan G.W Smith (Inggris). Barisan sineas muda pada masa selanjutnya antara lain : Akira Kurosawa (Jepang), Satyajit Ray (India), Frederico Fellini (Italia ), John Ford (Amaerika), Ingmar Bergman (Swedia) dan Usmar Ismail (Indonesia) RUBIYANTO, MM

12 Film cerita yang pertama kali diproduksi di Indonesia berjudul ‘Loetoeng Kasaroeng’ kisah legenda ini difilmkan oleh G.Kroeger, seorang Indo Jerman, dengan lokasi shooting di Bandung. Perintis film nasional adalah Usmar Ismail dan Jamaluddin Malik, tahun 1950-an. Mereka aktif memproduksi film melalui perusahaannya amsing- masing, yakni studio Perfini dan studio Persari. RUBIYANTO, MM

13 Screenplay / skenario Naskah lengkap yang menjadi bahan untuk melaksanakan produksi film. Skenario dapat dilihat dari dua sisi : 1.Sisi Fungsional; mengacu pada fungsi skenario sebagai petunjuk untuk membuat film. Skenario yang baik harus berupa blue print yang jelas sebagai rancangan untuk memproduksi film. RUBIYANTO, MM

14 2. Sisi Substansial; merujuk pada kekuatan sebuah skenario sebagai suatu karya tekstual yang mandiri, yang mampu menggerakkan emosi dan merangsang pikiran pembaca. Skenario film (screenplay/script) merupakan blue print bagi sutradara dalam membuat film. Skenario yang baik harus memiliki efektivitas sebagai petunjuk pembuatan sebuah film. Film adalah bahasa gambar, maka deskripsi visual harus diutamakan. RUBIYANTO, MM

15 Dialog hanya digunakan dalam film apabila sarana visual tidak mampu lagi menyampaikan gagasan. Secara kronologis, tahap penulisan skenario adalah : - penentuan gagasan/ide (basic story) - penulisan sinopsis - treatment, yakni pengembangan lebih jauh terhadap sinopsis cerita. - penulisan skenario(kemungkinan tidak langsung jadi, tetapi melalui beberapa tahap revisi, sebelum jadi skenario final). RUBIYANTO, MM

16 Istilah - istilah PLOT; alur cerita, perjalanan cerita atau kerangka cerita dari awal hingg akhir yang merupakan jalinan konflik antar tokoh yang berlawanan. Peristiwa-peristiwa yang membuat alur cerita menanjak selalu dipenuhi berbagai persoalan yang menimbulkan konflik. Konflik-konflik inilah yang akan membawa cerita sampai pada titik klimaks, yakni saat sang tokoh cerita berada pada titik penentuan atas nasib dirinya. Setelah titik klimaks, biasanya alur cerita akan menurun dan mencapai resolusi atau penyelesaian masalah. RUBIYANTO, MM

17 Pola alur cerita yang paling umum adalah : a.Perkenalan keadaan (exposition) b.Pertikaian/konflik mulai terjadi (rising action) c.Konflik berkembang menjadi semakin rumit (conflict) d.Klimaks (climax) e.Penyelesaian (resolution/denoument) RUBIYANTO, MM

18 CLAPPER BOARD; sepasang papan berengsel yang diketukkan saat syuting dialog, pada saat kamera dan alat perekam suara berputar dalam kecepatan yang sinkron. Frame pertama ketika papan bersentuhan kemudian disinkronkan dalam ruang pemotongan dengan bunyi “tar”, memantapkan sync antara alur suara dan alur gambar. Pada banyak tipe, sistem penanda elektronik dipasang disisi kamera. RUBIYANTO, MM

19 Papan ini berisi sejumlah informasi antara lain titel produksi, nomor adegan (scene), produser, dan tanggal pengambilan gambar. Informasi pada papan ini dicatat oleh pencatat adegan dan direkam oleh kamera video, yang kelak akan memudahkan pencarian gambar pada proses editing. RUBIYANTO, MM

20 CLAPPER BOARD RUBIYANTO, MM

21 SCENE; adegan tunggal yang terjadi di sebuah lokasi pada suatu waktu. Akhir scene biasanya ditandai dengan perubahan lokasi dan waktu. Sebuah scene terdiri atas satu atau lebih shot dan peristiwa. SEQUENCE; rangkaian adegan. Sequence shot merujuk pada shot panjang, biasanya dengan pergerakan kamera yang rumit. RUBIYANTO, MM

22


Download ppt "Broadcast Programming RUBIYANTO, MM. Sinetron Kependekatan dari sinema elektronik, yakni sebuah film seri yang ditayangkan melalui media elektronik (televisi)."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google