Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PENUNJANG DIAGNOSIS FISIOTERAPI Wismanto, SPd, S Ft, M Fis. PERTEMUAN 1 2.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PENUNJANG DIAGNOSIS FISIOTERAPI Wismanto, SPd, S Ft, M Fis. PERTEMUAN 1 2."— Transcript presentasi:

1 PENUNJANG DIAGNOSIS FISIOTERAPI Wismanto, SPd, S Ft, M Fis. PERTEMUAN 1 2

2

3 Penunjang Diagnosis  Pendahuluan  Data-data penunjang diagnosis hendaknya digunakan setelah FT’s melakukan tahapan asesmen fisioterapi dengan benar.  Data-data penunjang diagnosis tidak dapat memberikan informasi seperti gejala / symtoms yang terjadi pada pasien.

4  Misal :  Seorang penderita LBP melalui MRI dapat terlihat adanya tekanan pada sisi posterolateral, akan tetapi gejala nyeri yang dirasakan tidak mutlak hanya pada gerakan ke fleksi saja.  Informasi dari MRI tidak dapat menggantikan pemeriksaan Fisioterapi dimana informasi tentang gerakan profokasi nyeri, ekspresi, endfeel of movement, dll hanya di peroleh melalui asesmen fisioterapi.  Informasi tersebut menjadi pertimbangan penetapan program, dosis, bentuk intervensi, penetuan modalitas, dll.

5 Peran Data Penunjang Diagnosis  Sebagai verifikasi hasil temuan dari asesmen fisioterapi  Memberikan data-data dalam bentuk ukuran tertentu  Mempertegas Diagnosis yang dibangun  Menjadi pertimbangan dalam penetapan program  Menunjang differential diagnose  Data evaluasi program yang objektif

6 Latar Belakang  Peran Penunjang diagnosis Fisioterapi dalam pelayanan masih sangat rendah.  Kompetensi FT’s memanfaatkan data pendukung untuk menentukan diagnosis fisioterapi yang masih belum terpenuhi.  Perkembangan teknologi bidang pemeriksaan dan diagnostik yang semakin maju tidak diikuti dengan pemanfaatannya di Bidang Pelayanan Fisioterapi  Perlunya penyegaran INTRODUKSI MENEGEMENT PELAYANAN FISIOTERAPI

7 I. INTRODUKSI MENEGEMENT PELAYANAN FISIOTERAPI: Input, proses, output, outcome Himpunan yang terdiri dari beberapa komponen yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Dalam sistem setidaknya ada komponen input, proses, dan out put inputprosesoutput Sistem

8 Sistem Proses Fisioterapi Pasien PT is Peralatan Metode Kode etik SOP dll Assesment Diagnosis Planning Intervensi Evaluasi Pasien sembuh PT is Pandai Modi Peralatan Metode baru ? dll Kepuasan pasien PT is Manajemen Share Hoder

9 II. INTRODUKSI KONSEP PROSES FISIOTERAPI : Asesmen, diagnosis, planning, intervensi, evaluasi  Physical Therapy Process  Proses Fisioterapi adalah bentuk pelayanan yang dilakukan oleh atau dibawah pengarahan dan superfisi oleh Fisioterapis termasuk assesment, diagnosis, perencanaan, intervensi dan evaluasi.

10 KEPMENKES 1363 Pasal 12 Fisioterapis dalam melaksanakan praktik fisioterapi berwenang untuk melakukan ; a.Asesmen fisioterapi yang meliputi pemeriksaan dan evaluasi b.Diagnosa fisioterapi c.Perencanaan fisioterapi d.Intervensi fisioterapi e.Evaluasi/re-evaluasi/re-asesmen.

11 ASESSMENT DIAGNOSE PLANNING INTERVENTION REEVALUATION COORDINATION, COMMUNICATION, DOCUMENTATION PROSES FISIOTERAPI STANDAR PRAKTEK FISIOTERAPI

12 A. ASESMEN ( PENGKAJIAN ) Assessment includes both the examination of individuals or groups with actual or potential impairments, functional limitations, disabilities, or other conditions of health by history taking, screening and the use of specific tests and measures and evaluation of the results of the examination through analysis and synthesis within a process of clinical reasoning. (WCPT)

13 Asesmen termasuk pemeriksaan dan evaluasi pada perorangan atau kelompok, nyata atau yang berpotensi untuk terjadi kelemahan, keterbatasan fungsi, ketidakmampuan atau kondisi kesehatan lain dengan cara pengambilan perjalanan penyakit (history taking), skreening, test khusus, pengukuran dan evaluasi dari hasil pemeriksaan melalui analisis dan sintesa dalam sebuah proses pertimbangan klinis. A. ASESMEN ( PENGKAJIAN )

14 Asesmen termasuk pemeriksaan pada perorangan atau kelompok, nyata atau yang berpotensi untuk terjadi kelemahan, keterbatasan fungsi, ketidakmampuan atau kondisi kesehatan lain dengan cara pengambilan perjalanan penyakit (history taking), skreening, test khusus, pengukuran dan evaluasi dari hasil pemeriksaan melalui analisis dan sintesa dalam sebuah proses pertimbangan klinis.

15 PEMERIKSAAN examination of individuals or groups with actual or potential impairments, functional limitations, disabilities, or other conditions of health by  history taking,  screening and  the use of specific tests  and measures

16 EVALUASI evaluation of the results of the examination through analysis and synthesis within a process of clinical reasoning. Pengumpulan Data - data Pemeriksaan Analisis Sintesis Evaluasi Clinical reasoning

17 Pemeriksaan & evaluasi hasil pemeriksaan  Pemeriksaan :  history taking : Riwayat penyakit, anamnese  screening : Penyaringan : ada vs tidak ada  the use of specific tests : mis. mc murray  measurements : pengukuran - pengukuran  Evaluasi  analisa - mengurai,  sintesa - merangkai yang cocok

18 PEMERIKSAAN -History Taking - Screening -Specific test -Measurement EVALUASI DATA PENUNJANG -Pemeriksaan lab Kimia - Imaging (X-ray, MRI) - Ultrasonography - Electromyography - Electrocardiography - Spirometri, dll DIAGNOSIS FISIOTERAPI

19 ASSESMENT FISIOTERAPI MUSKULOSKELETAL  ANAMNESIS  INSPECTION TERPILIH  QUICK TEST TERPILIH  PEMERIKSAAN FUNGSI GERAK DASAR TERPILIH  Active  Passive  Isometric  PEMERIKSAAN KHUSUS TERPILIH  DATA medik/ profesi kesehatan lain  Penentuan akhir sbg diagnosis muskuloskeletal.

20 HISTORY TAKING Anamnesis Pengambilan data relevan Dibuat hipotesis awal Screening (Observasi = inspeksi) Screening (pemeriksaan fungsi fisik sesuai hipotesis awal) Quick test Tes Gerak aktif, gerak pasif, isometrik. PEMERIKSAAN (PENGAMBILAN DATA) Tes khusus sesuai hipotesis simpulan: Palpasi Joint play movement, tes provokasi, kinerja otot, Tes stabilisasi sendi. Muscle strength test, length test. Tes sensasi Balance test, coordination test. Strength Duration Curve dll Pengukuran selektif Pengukuran subyektif  obyektif: mis nyeri dgn VAS/VRS, Pengukuran Mobilitas sendi/ ROM, Manual Muscle Test Karakteristik antropometri Pengukuran postur Keseimbangan/Balance scale Aktifitas sehari-hari/IADL Index Barthel dll

21 FragmentASSESMENTDiagnose AnamnesisInspeksiPemeriksaanfungsi Tes khusus & P’ukuran Muskulo skeletal Kel utama, Riw sakit. Diagn dan riwy medik Stat fungsi dan tingkat aktifitas Dinamik,Statik Analisis total, kuadran, lokal. Pem. fungsi gerak dasar: Tes cepat, grk aktif, pasif dan isometrik Palpasi, JPM, Provokasi, pengukuran 2 JaringanPatologi Gg gerak Pengobatan status kes famili Pekerjaan- sosial PROSES EVALUASI ANALISIS SINTESIS

22 ASSESMENT FISIOTERAPI NEUROMUSKULAR  ANAMNESIS  INSPECTION TERPILIH  QUICK TEST TERPILIH  PEMERIKSAAN FUNGSI GERAK DASAR TERPILIH  Active  Passive  Isometric  PEMERIKSAAN KHUSUS TERPILIH  DATA medik/ profesi kesehatan lain  Penentuan akhir sbg diagnosis neuromuskular.

23 HISTORY TAKING Anamnesis Pengambilan data relevan Dibuat hipotesis awal Screening (Observasi = inspeksi) Screening (pemeriksaan fungsi fisik sesuai hipotesis awal) Quick test Tes provokasi PEMERIKSAAN (PENGAMBILAN DATA) Tes khusus sesuai hipotesis simpulan: Palpasi Test CRS Muscle strength test. Tes sensasi Balance test Coordination test. Pemeriksaan reflex dll Pengukuran selektif Pengukuran subyektif  obyektif: mis: Nyeri VAS, NRS dll Pengukuran Mobilitas sendi/ ROM, Manual Muscle Test Nyeri tekan Algometer Pengukuran postur Keseimbangan/Balance scale Aktifitas sehari-hari/IADL dll

24 FragmentASSESMENTDiagnose History Taking InspeksiPemeriksaanfungsi Tes khusus & P’ukuran Neuro muskuler Kel utama, Riw sakit. riwy medik fungsi dan tingkat aktifitas Dinamik,Statik Analisis total. Pem. fungsi gerak dasar -Gerak aktif -Gerak pasif -Isometric -Test orientasi -Quick test -Pemeriksaan reflex Palpasi, Test sensasi Pengukuran 2: - Nyeri - Nyeri tekan - ROM - Test CRS - Test provokasi - Test Koordinasi - Balance test JaringanPatologi Gg gerak Pengobatan status kes famili Pekerjaan- sosial PROSES EVALUASI ANALISIS SINTESIS

25 ASSESMENT FISIOTERAPI CARDIOVASKULOPULMONAL  ANAMNESIS  INSPECTION TERPILIH  QUICK TEST TERPILIH  PEMERIKSAAN FUNGSI  Pemerksaan fungsi faal paru  Pemeriksaan fungsi faal jantung  Pemeriksaan vital sign  PEMERIKSAAN KHUSUS TERPILIH  DATA medik/ profesi kesehatan lain  Penentuan akhir sbg diagnosis Cardiovaskulopulmonal

26 HISTORY TAKING Anamnesis Pengambilan data relevan Dibuat hipotesis awal Screening (Observasi = inspeksi) Screening (pemeriksaan fungsi fisik sesuai hipotesis awal) Tes vital sign PEMERIKSAAN (PENGAMBILAN DATA) Tes khusus sesuai hipotesis simpulan: Tes spirometri Test jalan 6 menit Treadmill dll Pengukuran selektif Pengukuran subyektif  obyektif: mis: Pemeriksaan Anthropometri Rongga dada. dll

27 FragmentASSESMENTDiagnose History Taking InspeksiPemeriksaanfungsi Tes khusus & P’ukuran Cardiovaskulopulmonal Kel utama, Riw sakit. riwy medik fungsi dan tingkat aktivitas Dinamik,Statik Analisis total. Pem. fungsi Faal paru Faal jantung Vital sign Tes spirometri Test jalan 6 mt Treadmill Pengukuran 2 Anthropometri Rongga dada JaringanPatologi Gg gerak Pengobatan status kes famili Pekerjaan- sosial PROSES EVALUASI ANALISIS SINTESIS

28 PENDUKUNG PROSES FISIOTERAPI  ASESMEN  DIAGNOSA & PROGNOSA  PERENCANAAN  INTERVENSI  EVALUASI

29 PENDUKUNG ASESMEN  Riwayat pasien/klien  Telaah sistem  Uji & pengukuran fisioterapi

30 PENDUKUNG ASESMEN  Telaah sistem : 1.Muskuloskeletal 2.Neuromuskuler 3.Kardiovaskuler-pulmoner 4.Integumen 5.Kemampuan komunikasi

31 PENDUKUNG ASESMEN  Telaah sistem : 1. Kardiovaskuler-pulmoner : ratio denyut jantung, pernafasan, tekanan darah, pembengkakan. 2. Muskuloskeletal : simetri, gerak sendi, kekuatan, tinggi, berat. 3. Neuromuskuler : koordinasi gerak (balance, lokomosi, transfer, transisi) 4. Integumen : integritas kulit, warna kulit, keadaan jaringan ikat. 5. Kemampuan komunikasi : afeksi, kognisi, bahasa, pembelajaran, kesadaran, orientasi (orang, tempat, waktu), respon emosi.

32 PENDUKUNG ASESMEN  Uji & pengukuran fisioterapi: 1.Kapasitas erobik /daya tahan 2.Antropometri 3.Arousal, atensi dan kognisi 4.Alat bantu & adaptasi 5.Sirkulasi 6.Integritas sy kranial&perifer 7.Hambatan lingkungan 8.Ergonomi & bodi mekanik 9.Langkah, gerak& balance 10.Integritas integumen 11.Integritas &mobilitas sendi 12.Fungsi motorik 13.Kinerja otot

33 PENDUKUNG ASESMEN  Uji & pengukuran fisioterapi: 14.Perkembangan neromotorik & integrasi sensorik 15.Ortotik, prostetik & penopang 16.Nyeri 17.Sikap 18.Keperluan prostetik 19.Jarak gerak & kekuatan otot 20.Integritas refleks 21.Pemeliharaan diri & manajemen rumah 22.Integritas sensorik 23.Ventilasi & respirasi 24.Integrasi masy & kerja.

34 ASSESSMENT TO DIAGNOSE DIAGNOSIS Data Penunjang Pemeriks aan Evaluasi

35 B. DIAGNOSIS Diagnosis arises from the examination and evaluation and represents the outcome of the process of clinical reasoning. This may be expressed in terms of movement dysfunction or may encompass categories of impairments, functional limitations, abilities/disabilities or syndromes. (WCPT)

36 DIAGNOSIS FISIOTERAPI Diagnosa Fisioterapi dihasilkan dari : Pemeriksan dan evaluasi dan merupakan hasil dari alasan-alasan klinis yang dapat menunjukkan adanya disfungsi gerak dan dapat mencangkup: Gangguan/kelemahan (impairment), Limitasi Fungsi (functional limitations), Ketidakmampuan (disabilities ),/ Sindroma ( syndromes ).

37 o Diagnosis meliputi: Gangguan gerak & fungsi (goal of intervension). Pada struktur jaringan spesifik tertentu (tissue target). Disebabkan oleh patologi tertentu (Pathological target)

38 Isi diagnosis Fisioterapi Paling tidak berisikan : Pernyataan masalah pasien misalnya : Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM, gait, locomotion, balance, sensory integration, ventilasi, respirasi/gas exchange, aerobic capacity/indurance hubungan dengan sistem, terkait misalnya : connective tissue, inflamasi lokal, kerusakan spinal, fraktur, Arthroplasti sendi. Contoh Gangguan Mobilitas sendi, ROM, Gait akibat adanya Fracture Collum Femuris

39 Buatlah Diagnosis Fisioterapi  MUSKULO SKELETAL  Fracture  Cedera jaringan lunak.  NEUROMUSKULAR  Stroke  Lesi plexus brachialis  KARDIVASKULOPULMONAL  COPD  Asma bronchiale

40 C. PLANNING/ PERENCANAAN  Perencanaan dimulai dengan pertimbangan kebutuhan intervensi dan biasanya menuntun kepada pengembangan rencana intervensi, termasuk hasil sesuai dengan tujuan yang terukur yang disetujui pasien/klien, famili atau pelayan kesehatan lainnya.  Dapat menjadi pemikiran perencanaan alternatif untuk dirujuk kepada pihak lain bila dipandang kasusnya tidak tepat untuk fisioterapi.

41 DIAGNOSA FT RENCANA INTERVENSI 1.Rencana Tujuan 2.Harapan Outcome 3.Intervensi 4.Komunikasi, Informasi, Edukasi 5.Informed Consent 6.Dokumentasi 7.Discharge dan Discontinuation

42 Planning procedure for intervention Berdasarkan hasil assesment ( pemeriksaan dan evaluasi ), serta diagnosa. Prognosis yang berhubungan peningkatan kondisi. Rencana tindakan Fisioterapi, misalnya intensitas, frekwensi, durasi, urutan dll. Selain itu dipertimbangkan komplesitas dan berat- ringannya kondisi klinis mempertimbangkan kemampuan pasien/klien Harapan pasien/klien, famili

43 o Intervensi di-implementasikan dan dimodifikasikan untuk : o Mencapai tujuan yang disepakati dan dapat termasuk penanganan secara manual: o Peningkatan gerakan; peralatan fisis, peralatan elektroterapuetis dan peralatan mekanis; pelatihan fungsional; penentuan bantuan dan peralatan bantu; instruksi dan konseling; o Dokumentasi o Koordinasi, o Komunikasi. D. INTERVENSI

44 Intervensi dapat juga ditujukan pada:  Pencegahan ketidak-normalan (kelemahan),  Keterbatasan fungsi,  ketidakmampuan dan cidera,  Peningkatan dan pemeliharaan kesehatan, kualitas hidup, kebugaran segala umur dan segala lapisan masyarakat.

45 INTERVENSI Coordination, Communication, Documentation Patient / client related intruction Prosedural intervention

46 Pemilihan intervensi  General definition of each category  Clinical consideration  Intervention, method, prosedur, tehnik  Anticipated goals and expected outcomes

47 Coordination Communication Documentation Patient/client related instruction Prosedural intervention Therapuetic Exercise, Functional traning, Manual terapy Devices and equipment, Airways clearance, Integument repair, Electro therapuetics modalities, Physical agent, mechanical modalities.

48 Coordination, Communication, Documentation Dokumentasi adalah sistem administrasi yang menjamin pasien/klien menerima kualitas pelayanan yang tepat, komprehensif, efisien dan efektif mulai dari kedatangan sampai selesai Dokumentasi adalah pencatatan yang dibuat selama pasien/klien menjalani proses Fisioterapi Koordinasi adalah kerja sama semua bagian yang tersangkut dengan pasien/klien Komunikasi adalah adanya pertukaran informasi baik dengan pasien/klien maupun sesama pemberi pelayanan

49 Patient / client related instruction  Proses pemberian informasi, pendidikan, atau pelatihan kepada pasien/klien/famili  Instruksi berkaitan dengan: kondisi saat ini, rencana asuhan, pentingnya asuhan, transisi perubahan, Faktor resiko, dll.  Fisioterapis bertanggung jawab atas instruksi-instruksi.

50 REEVALUASI KEHARUSAN UNTUK PEMERIKSAAN KEMBALI DENGAN TUJUAN EVALUASI HASIL E. REEVALUASI

51 Re-evaluasi  Efektif ?  Tingkat keberhasilan  Berhasil guna sesuai dengan rencana  Jangka waktu pencapaian target - goal  Efisien ?  Penggunaan peralatan  Biaya  Sumbar daya yang lain

52 Criteria for termination. Discharge proses pengakhiran pelayanan FT yang telah diberikan selama satu episode, bila tujuan telah tercapai. Bersasarkan analysis fisioterapis tujuan telah tercapai. Discontinue Proses pengakhiran pelayanan FT yang telah diberikan dalam suatu episode, oleh kehendak pasien/klien Pasien/klien tak dapat melanjutkan karena komplikasi, keuangan dll Pasien berpendapat bahwa FT sudah tak berguna lagi

53 Prognosis  Sekali diagnosis telah ditegakkan, fisioterapis menentukan prognosis dan mengembangkan rencana pelayanan.  Prognosis adalah penentuan perkiraan tingkat perbaikan optimal dalam fungsi dan jumlah waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat tersebut, dan juga  termasuk perkiraan tingkat perbaikan yang mungkin dicapai pada interval yang bervariasi selama terapi.

54 Secara mandiri atau bersama-sama dalam team, Fisioterapi memeriksa pasien, kemudian merencanakan dan memberikan pengobatan dan program pendidikan kepada pasien dan keluarganya. Fisioterapi terlibat dalam program-program skreening dan pencegahan, pendidikan kesehatan maupun penelitian. Fisioterapis dapat menjadi konsultan pada lembaga-lembaga pendidikan, kesehatan dan sosial yang berkenaan dengan perawatan kesehatan.

55 III. INTRODUKSI DIAGNOSIS FISIOTERAPI  A. Muskuloskeletal,  B. Neuromuskular,  C. Kardiovaskulopulmonal.

56 Introduksi Diagnosis Muskuloskeletal. Serviced Function Cardiovascular system Respiratory system Digestive system Renal system Reproductive system Musculo-skeletal system Nervous system Endocrine system Immune system

57 DIAGNOSIS MUSKULOSKELETAL 1.Prediksi gangguan system muskulo skeletal 2.Gangguan Sikap 3.Gangguan performans otot 4.Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yg disebabkan oleh connective tissue. 5.Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yg disebabkan oleh inflamasi lokal. MS 1

58 DIAGNOSIS MUSKULOSKELETAL 6.Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yg disebabkan kerusakan spinal. 7.Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yg disebabkan fraktur. 8. Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yg disebabkan Arthroplasti sendi. 9.Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, dan ROM yg disebabkan bedah tulang atau jaringan lunak. 10. Gangguan mobilitas sendi, motor function, kinerja otot, ROM, gait, locomotion, balance yg disebabkan amputasi

59 Introduksi Diagnosa Neuromuskular. Service Functions Cardiovascular system Respiratory system Digestive system Renal system Reproductive system Musculo-skeletal system Nervous system Endocrine system Immune system

60 DIAGNOSIS NEUROMUSKULAR 1.Prediksi gangguan kinerja system neuromuskuler 2. Gangguan Perkembangan Neuromotor 3. Gangguan motor function dan sensory integration yg disebabkan Non progressive disorder CNS – congenital atau pada bayi dan masa anak. 4. Gangguan motor function dan sensory integration yg disebabkan Non progressive disorder CNS – pada usia dewasa 5. Gangguan motor function dan sensory integration yg disebabkan progressive disorder CNS

61 DIAGNOSIS NEUROMUSKULAR 5.Gangguan Peripheral nerve integrity dan motor function yg disebabkan Peripheral Nerve Injury. 6. Gangguan fungsi motorik dan sensory integration yg disebabkan Acute /Chronic Polyneuropathies. 8.Gangguan fungsi motorik dan Peripheral nerve integration yg disebabkan Non progressive disorder Spinal Cord. 9.Gangguan kesadaran, ROM, Motor Control yg disebabkan Coma, Near coma, atau status vegetative.

62 Introduksi Diagnosa Kardiovaskulopulmonal Service Functions Cardiovascular system Respiratory system Digestive system Renal system Reproductive system Musculo-skeletal system Nervous system Endocrine system Immune system

63 DIAGNOSIS CARDIOVASCULOPULMONAL 1. Prediksi gangguan kinerja system cardiovascular- pulmonary 2.Gangguan kapasitas aerobik/ketahanan yg disebabkan deconditioning syndrome 3. Ganguan ventilasi, respirasi/gas exchange, aerobic capacity/indurance yg disebabkan Airways clearance dysfunction. 4. Gangguan kapasitas aerobik/ketahanan yg disebabkan Cardiovascular Pump Dysfuntion or failure

64 DIAGNOSIS CARDIOVASCULOPULMONAL 5. Ganguan ventilasi, respirasi/gas exchange, aerobic capacity/indurance yg disebabkan Ventilatory Pump Dysfunction or Failure. 6. Ganguan ventilasi, respirasi/gas exchange, aerobic capacity/indurance yg disebabkan Respiratory Failure. 7.Ganguan ventilasi, respirasi/gas exchange, aerobic capacity/indurance yg disebabkan Respiratory Failure pada neonatus 8.Ganguan sirkulasi darah, anthropometric dimensions disebabkan Lymphatetic System disorders.

65

66 Memahami konsep konsep menejemen pelayanan Fisioterapi dan proses fisioterapi. Memahami konsep konsep dasar diagnosa Fisioterapi.  -  I. Introduksi Menejemen pelayanan fisioterapi: Input, proses, output outcome yan ft  II. Introduksi konsep proses fisioterapi ; Asesmen, diagnosis, planning, intervensi, evaluasi  III. Introduksi Diagnosa Muskuloskeletal, neuromuskular, kardiovaskulopulmonal. Materi/Pokok Bahasan (Pertemuan 1-2) Kemampuan akhir yang diharapkan pada pertemuan 1 - 2


Download ppt "PENUNJANG DIAGNOSIS FISIOTERAPI Wismanto, SPd, S Ft, M Fis. PERTEMUAN 1 2."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google