Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

C. Risiko-Risiko di Lingkungan Kerja Bahan Beracun di Lingkungan Kerja A. PARTIKEL Antara lain debu, uap Asam sulfat, partikel PbO dan ZnO, uap Hg B.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "C. Risiko-Risiko di Lingkungan Kerja Bahan Beracun di Lingkungan Kerja A. PARTIKEL Antara lain debu, uap Asam sulfat, partikel PbO dan ZnO, uap Hg B."— Transcript presentasi:

1

2 C. Risiko-Risiko di Lingkungan Kerja

3 Bahan Beracun di Lingkungan Kerja A. PARTIKEL Antara lain debu, uap Asam sulfat, partikel PbO dan ZnO, uap Hg B. BUKAN PARTIKEL gas CO, dioksin, gas NO2

4 Penilaian risiko dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Karakteristik dari penilaian kualitatif meliputi : tipe efek kesehatan, estimasi frekuensi pemajanan ( harian, mingguan, bulanan ), lokasi hazard dalam hubungannya dengan tempat kerja. Karakteristik penilaian kuantitatif meliputi data pengukuran pemajanan, konsentrasi zat, angka kesakitan/kematian, modeling analisis konsekuensi dari pemajanan terhadap hazard dan modeling frekuensi pajanan. D. TEKNIK PENILAIAN RISIKO

5 Tujuan penilaian risiko TUJUANSAFETY HEALTH Identifikasi Hazard Cheklist, what if, accident investigation Walk Through Survey, Bio-Mon, Physical Exam. Analisis Fault Tree Analysis, Event Tree, MORT Uji Lab, In dept analy. NAB. Evaluasi Kualitatif, Kuantitatif Pengendalian EngineeringPengobatan, Rehabilitasi

6 E. PENILAIAN RISIKO SECARA KUALITATIF 3/29/20155

7 Kualifikasi penilaian risiko secara kualitatif

8 Estimasi Tingkat Resiko H = High L = Low M = Medium

9 ALARA RISK CALCULATOR /29/20158 A B C D E Sumber: ALARA Risk Management National Safety Council Australia Keparahan FREKUENSI

10 TINGKAT KEPARAHAN NoKONDISI 1Kematian, Cacat permanen 2Luka Parah 3Hilang waktu kerja rata-rata > 3 hari 4Luka Ringan 5Perawatan Ringan ( Betadin) 3/29/20159

11 Tingkat Keseringan (Frekuensi) HurufFrekuensi ASering sekali BPernah terjadi CBisa Terjadi DKemungkinan Kecil terjadi ETidak mungkin terjadi 3/29/201510

12 TINGKAT RESIKO TINGGI NILAI SEDANG NILAI RENDAH /29/201511

13 Severity 0-50 ScoreKelas 3 A minor hazard within an acceptable level of risk. Remedial action only when it does not disrupt operations Frequency 0-25 Kelas 2 A moderate hazard requiring remedial action as soon as practicable Probability 0-25 Kelas 1 A serious hazard requiring immediate remedial action Total Kelas 3 Kelas 2 Kelas 1

14 ScoreSeverity 50 Fatal - Kebutaan Permanent disability, amputation, Mutilation Fracture, Dislocation Perlu perlakuan medis (more than First Aid), severe strain, sprains, bruises, burns Repeated first aid treatment, deep abrasions 1-9 Once only first aid, minor scratch, minor bruises, dust in eye, slight abrasion, small burn (level 1) 0 No injury

15 ScoreFrekuensi 25 Beberapa pekerja, beberapa kali a shift Satu or dua pekerja sekali per shift or 3 kali per minggu Sekali per bulan 5-9 Every few months/setiap beberapa bulan 1-4 Once or twice a year/sekali atau dua kali/thn 0 Never/tidak

16 ScoreFrekuensi 25 Certainty/pasti Significant chance/kesempatan signifikan Possible/kemungkinan 5-9 Possible but very unlike/kemungkinan tetapi tidak sama 1-4 Extremely unlike/sangat tidak sama Sumber : Pusat K3 Depnakertrans, 2007 Sumber : Pusat K3 Depnakertrans, 2007

17 F. PENILAIAN RISIKO SECARA KUANTITATIF 3/29/201516

18 RISK as health effect: RQ > 1 Intake ( I ) Environmental Concentration ( C g ) Anthropometry ( R i, W b ) Activity ( t E, f E, D t ) RfC NOAEL, LOAEL Toxicity Assessment UF, MF Risk Management: Scenarios for I = RfC by manipulating I C reduction t E, f E, D t minimization Anthropometric/ Behavioural Intervention Legal Intervention Environmental Quality Analysis Surveyed or default Animal test, epidemiology (human & molecular), structure-reactivity relationship Technology Intervention Abdur Rahman©2004

19 STUDI EPIDEMIOLOGI vs ANALISIS RISIKO Penyakit Berbasis Lingkungan Risk Agent, Media Lingkungan & PHBS Pajanan (inhalasi, ingesi, absorbsi) Dosis- Respons (NOAEL, LOAEL) Karakterisasi Risiko (RQ) Manajemen Risiko (I, C, t, f, D) Komunikasi Risiko (PHBS) STUDI EPIDEMIOLOGIANALISIS RISIKO Abdur Rahman©2004

20 PROSES ARKL Empat Langkah Utama : Hazard Identification (identifikasi bahaya) Dose-Response Assessment (analisis dosis- respons atau toxicity assessment: hubungan dosis pemajanan dengan efek) Exposure Assessment (analisis jalur pajanan atau penilaian kontak) Risk Characterization (karakterisasi risiko)

21 BAHAYA LINGKUNGAN ( Environmental Hazard ) Segala zat, organisme atau energi yang mempunyai kapasitas atau potensi menimbulkan cedera, sakit atau mati Cedera, sakit atau mati tidak akan terjadi karena bahaya lingkungan, kecuali kondisi- kondisi tertentu yang spesifik terpenuhi Bahaya adalah sumber risiko tetapi bukan risiko itu sendiri

22 RISIKO ( RISK ) – 1 Prakiraan probabilitas bahwa suatu dampak yang merugikan kesehatan mungkin terjadi sebagai akibat pajanan zat-zat kimia dalam jumlah dan dengan jalur pajanan tertentu Probabilitas untuk mendapat cedera, sakit atau mati oleh pajanan zat kimia karena aktivitas voluntary atau involuntary Voluntary risk berkaitan dengan aktivitas yang disengaja (misal, menyetir mobil) Involuntary risk berkaitan dengan aktivitas yang tidak disengaja (misal, disambar petir)

23 RISIKO ( RISK ) - 2 Risiko kualitatif: tinggi, sedang/biasa, rendah Risiko kuantitatif: 1>Risiko>0 - Risiko = 0  pasti tidak akan terjadi - Risiko = 1  pasti akan terjadi Risiko kuantitatif dinyatakan sebagai bilangan pecahan: E-5 = = risiko 1/ ,3E-3 = 1,3 x = risiko 1/770 1,2E-5 = 1,2 x = risiko 1/83.000

24 RISIKO ( RISK ) - 3 Contoh kemungkinan pernyataan risiko yang berbeda dari hasil karakterisasi risiko zat yang sama: 327 per orang akan meninggal karena terpajan zat A selama hidupnya (3,27E-4) Zat A karsinogenik terhadap mencit dan tikus. Aplikasi ekstrapolasi dosis rendah dan prakiraan pajanan manusia menyatakan bahwa risiko bagi manusia berkisar kematian per 1 juta orang yang terpajan Zat A karsinogenik terhadap mencit dan tikus dan harus dianggap karsinogenik juga bagi manusia

25 DUA EFEK ZAT TOKSIK NONKARSINOGENIK Berambang (threshold) Ada dosis di atas nol yang tidak berefek sampai dosis tertentu tercapai Risiko dinyatakan sebagai NONCANCER HAZARD berupa Hazard Qoutient & Hazard Index berdasarkan Intake dan Reference Dose KARSINOGENIK Tidak Berambang (nonthreshold) Selalu ada efek pada setiap dosis di atas nol Risiko dinyatakan sebagai CANCER RISK: 1.Slope Factor (risk per doses) 2.Unit Risk (risk per media concentrations) 3.Cancer Risk

26 IDENTIFIKASI BAHAYA 1.Tetapkan ‘Zat Kimia Indikator’ atas dasar Toksisitas (cancer slope factor, RfD) Konsentrasi dalam media vs background level Konsentrasi dalam media vs baku mutu/standar Frekuensi deteksi Fate & transport characteristics Completeness of pathways 2.Concentration-Toxicity Screening R =  (C i ×T i )

27 NoPARAMETERUNITNABTWA 1COmg/m 3 ; (ppm) 29; (25) 8 jam kerja 2SO2mg/m 3 ; (ppm) 5,2; (2) 3NO2mg/m 3 ; (ppm) 5,6; (3) 4CO2mg/m 3 ; (ppm) 9000; (5000) 5H2Smg/m 3 ; (ppm) 14 ; (10) 6Debu Totalmg/m Debu Respirablemg/m 3 3 8Benzenemg/m 3 ; (ppm) 32: (10) 9Toluene mg/m 3 ; (ppm) 188; (50) 10Hg mg/m 3 0,025 11Pb mg/m 3 0,05

28 EVALUASI EFEK NONKANKER (EFEK SISTEMIK) - 1 Efek sistemik = semua endpoint zat toksik selain kanker dan mutasi gen Efek sistemik dievaluasi menggunakan RfD (reference dose) sebagai ukuran RfD (US-EPA) ≈ Acceptable Daily Intake (WHO): jumlah zat kimia yang memajani manusia setiap hari dalam waktu lama (umumnya lifetime) yang tidak menimbulkan efek merugikan ADI = NOAEL/SF atau LOAEL/SF RfD = NOAEL/(UF x MF) atau LOAEL/(UF x MF)

29 EVALUASI EFEK SISTEMIK - 2 RfD = human dose, NOAEL atau LOAEL = experimental dose No Observed Adverse Effect Level: dosis tertinggi toksisitas kronik yang secara statistik atau biologik tidak memperlihatkan efek merugikan Lowest Observed Adverse Effect Level: dosis terendah toksisitas kronik yang secara statistik atau biologik memperlihatkan efek merugikan Safety Factor atau Uncertainty Factor: kelipatan angka 10 untuk menyatakan ketidakpastian & kekurangan data

30 REFERENCE DOSE ( RfD ) - 1 RfD menyatakan risiko nonkarsinogenik dan efek-efek nonkarsinogenik zat karsinogen. RfD adalah estimasi pajanan harian (dengan rentang ketidakpastian satu orde) bagi populasi umum (termasuk subkelompok yang sensitif) yang tidak akan mengalami risiko efek-efek merugikan kesehatan sepanjang hayat.

31 Dosis Respon LOAEL NOAEL Kurva Teoretis Dosis-Respon Nonkarsinogenik

32 a b c Dosis Respon r d Ekstrapolasi linier (linearized model) Kurva Teoretis Dosis-Respon Karsinogenik

33 REFERENCE DOSE ( RfD ) - 2 RfD bukanlah direct estimator risiko, melainkan titik rujukan (referensi) untuk menduga efek- efek yang potensial (bukan hanya yang aktual). Semakin tinggi pajanan melebihi RfD-nya, semakin besar pula kemungkinan efek-efek merugikan akan terjadi Pajanan di atas RfD seumur hidup tidak berarti dengan sendirinya efek merugikan akan terjadi Pada dasarnya risiko selalu berada di antara pasti tidak terjadi dan pasti terjadi (0

34 REFERENCE DOSE ( RfD ) - 3 Uncertainty Factor (UF) Faktor-faktor kelipatan 10 untuk menurunkan RfD dari data eksperimen hewan uji atau studi epidemiologi Digunakan untuk menampung ketidakpastian (uncertainty): UF 1 = 10 untuk variasi sensitivitas manusia; UF 2 = 10 untuk ekstrapolasi hewan ke manusia UF 3 = 10 untuk NOAEL uji subkronik (bukan kronik) UF 4 = 10 bila digunakan LOAEL (bukan NOAEL )

35 REFERENCE DOSE ( RfD ) - 4 Modifying Factor (MF) Faktor yang digunakan untuk menurunkan RfD dari data eksperimen hewan uji atau studi epidemiologi, dengan nilai numerik 0

36 Dosis-Respon Beberapa Risk Agent

37 (Baku) Anjuran Kesehatan (Health Advisories) Arsen  Memakai RfD sebagai dosis harian aman  Air minum bukan satu-satu sumber, paling banyak 80% (EPA 1990)  Perhitungan: MCLG = 0,8  0,00715 mg/L = 0,0057 mg/L  0,006 mg/L

38 Hazard Identification – Toxicity Score ChemicalsRfD ( mg/kg-day) Soil (mg/kg) MeanC max Chlorobenzene2.00E E E+00 Chloroform1.00E E E+00 1,2-DichloroethaneNAND BEHP2.00E E E+02 ND – Not Detected; NA-Not Applicable Rank the non-carcinogenic chemicals for soil

39 Hazard Identification – Toxicity Score ChemicalsRfD ( mg/kg-day) Soil (mg/kg)TS = Cmax/RfD Rank MeanCmax Chlorobenzene2.00E E E Chloroform1.00E E E ,2-DichloroethaneNAND NA BEHP2.00E E E+0211,5001 ND – Not Detected; NA-Not Applicable BEHP poses the greatest risk for the given site followed by chloroform and Chlorobenzene.

40 KARAKTERISASI RISIKO Risiko nonkarsinogenik yang bersifat sistemik dihitung dengan menggabungan exposure assessment dan dose-respons assessment, dinyatakan sebagai Hazard Index atau Risk Qoutient I = intake, jumlah asupan yang diterima individu per berat badan per hari

41 RfD = human dose, NOAEL atau LOAEL = experimental dose No Observed Adverse Effect Level: dosis tertinggi toksisitas kronik yang secara statistik atau biologik tidak memperlihatkan efek merugikan Lowest Observed Adverse Effect Level: dosis terendah toksisitas kronik yang secara statistik atau biologik memperlihatkan efek merugikan

42 ANALISIS PAJANAN Mengenali jalur-jalur pajanan risk agent (inhalasi, ingesi, absorbsi); Mengenali karakteristik antropometri dan pola aktivitas segmen-segmen populasi berisiko Menghitung asupan (intake) risk agent yang diterima setiap segmen populasi berisiko

43 PERHITUNGAN INTAKE I = intake (asupan), jumlah risk agent yang diterima individu per berat badan per hari (mg/kg  hari) C = konsentrasi risk agent, mg/M 3 (udara), mg/L (air minum), mg/kg (makanan) R =laju (rate) asupan, 20 M 3 /hari (udara), 2 L/hari (air minum?) t E = waktu pajanan harian, jam/hari f E = frekuensi pajanan tahunan, hari/tahun D t = durasi pajanan, real time atau 30 tahun proyeksi W b = berat badan, kg t avg = perioda waktu rata-rata, 30 tahun  365 hari/tahun (non karsinogen) atau 70 tahun  365 hari/tahun (karsinogen ) Persamaan Intake:

44 RISK as health effect Intake ( I ) Environment ( C ) Anthropometry ( R, W b ) Activity Pattern ( t E, f E, D t ) RfD NOAEL, LOAEL Toxicity Assessment UF, MF Scenarios for I = RfC by manipulating I C reduction t E, f E, D t minimization Anthropometric Intervention Legal/Adm Intervention EQA SURVEY Animal test, epid (human & molecular), SRR Data & informasi yang dibutuhkan untuk Analisis Risiko Technology Intervention Abdur Rahman©2004

45 VARIABEL PERHITUNGAN INTAKE JALUR PAJANANVARIABEL INTAKE Inhalasi (udara)C (mg/M 3 ), R (M 3 /jam), t E (jam/hari), f E (hari/tahun), D t (tahun), W b (kg) Inggesi (air/makanan)C (mg/L), f E (hari/tahun), D t (tahun), W b (kg) Absorbsi (kontak kulit)C (mg/L), t E (jam/hari), f E (hari/tahun), D t (tahun), W b (kg)

46 US-EPA Default Exposure Factor Land Use Exposure Pathway Daily Intake Exposure Frequency Exposure Duration Body Weight ResidensialAir Minum Tanah & debu Inhalasi kontaminan 2L (dewasa) 1 L (anak) 100 mg (dewasa) 200 mg (anak) 20 M 3 (dewasa) 12 M 3 (anak) 350 hari/tahun 30 tahun 6 tahun 24 tahun 30 tahun 70 kg (dewasa) 15 kg (anak) 70 kg (dewasa) Industri & Komersial Air minum Tanah & debu Inhalasi 1 L 50 mg 20 M 3 (hari kerja) 250 hari/tahun25 tahun70 kg (dewasa) PertanianKonsumsi tanaman 42 g (bebuahan) 80 g (sayuran) 350 hari/tahun30 tahun70 kg (dewasa) RekreasiKonsumsi ikan lokal 54 g350 hari/tahun30 tahun70 kg (dewasa) Abdur Rahman©2004

47 CONTOH TABEL ANTROPOMETRI No. Resp Lama Pajanan (t E ) jam Frek. Pajanan (f E ) hari/tahun Lama Mukim (D t ) tahun Berat Badan (W b ) kg dst Tabel 1. Antropometri Pedagang Kaki Lima (R = 0,83 M 3 /jam) di Terminal Terboyo, Semarang, 2003, untuk menghitung intake inhalasi SO 2 (35,6  g/M 3 ), NO 2 (49,7  g/M 3 ), TSP (322,6  g/M 3 ) dan Pb (0,04  g/M 3 ).

48 Contoh 1: Perhitungan Intake NO 2 dan Indeks Bahaya (RQ) (data dari Tabel 1) NO 2 = 49,7  g/M 3 (arithmetic mean) RfC-NO 2 = 0,02 mg/kg/hari (US-EPA, 1990) Karena RQ<1, pajanan 49,7  g NO 2 /M 3 udara selama 14 tahun untuk orang dengan berat badan 45 kg aman bagi kesehatan, jika pola pajanannya 14 jam per hari selama 350 hari per tahun.

49 Contoh 2: Analisis & Manajemen Risiko Arsen di Desa Buyat, Sulawesi Utara  Konsentrasi As dalam air sumur 0,04-0,1 mg/L (BTKL Manado 2005)  Estimasi risiko dengan konsentrasi As maksimum (0,1 mg/L) (1) Perhitungan asupan:

50 (2) Perhitungan risiko: ECR = 1,49  10  3 mg/kg/hari  1,5 (mg/kg/hari) = 2,23E-3 Interpretasi: Air sumur yang mengandung As 0,1 mg/L sangat tidak aman (nonkarsinogenik & Karsinogenik) bila diminum 2 L/hari selama 350 hari/tahun dalam jangka 30 tahun oleh orang dengan berat badan 55 kg atau kurang.

51  Batas aman menurut durasi pajanan bisa menentukan kapan gejala gangguan As (maksimum) bisa ditemukan  Durasi dihitung dengan mengganti I dengan RfD Interpretasi: Efek toksik As diramal bisa ditemukan pada orang dewasa 55 kg yang telah mengonsumsi air minum mengandung As 0,1 mg/L selama  3 tahun dengan laju konsumsi 2 L/hari selama 350 hari/tahun.

52  Padahal, baku mutu As menurut KepMenKes 907/2002 adalah 0,01 mg/L sehingga nilai itu kurang cocok untuk orang Indonesia;  Jadi, berapa seharusnya baku mutu As untuk air minum orang Indonesia?

53  Padahal, baku mutu As menurut KepMenKes 907/2002 adalah 0,01 mg/L sehingga nilai itu kurang cocok untuk orang Indonesia;  Jadi, berapa seharusnya baku mutu As untuk air minum orang Indonesia?

54 Contoh 3 : Perhitungan Intake Arsen dalam Air Minum 1.Keadaan & Masalah  RfD (anorganik) 2,6  10-4 mg/kg  hari  SF 1,5 per (mg/kg  hari)  Baku mutu air minum 0,01 mg/L (Kepmenkes 907/2002) (a)Berapa Risk Quotient & Excess Cancer Risk bagi orang dengan BB 55 kg & konsumsi 2,5 L/hari, jika konsentrasi As dalam air minum 0,01 mg/L? (b)Apakah air minum tsb aman dikonsumsi (dari efek nonkarsinogenik dan karsinogenik)? (c)Berapa seharusnya baku mutu As untuk air minum untuk melindungi efek nonkarsinogenik dan karsinogenik?

55 2. Jawaban (a) Intake nonkarsinogen: Intake karsinogen

56 Jawaban (b) Karena RQ>1, air minum tsb tidak aman dari efek nonkarsinogenik (efek-efek selain kanker & mutasi gen seperti keratosis). Karena ECR menunjukkan ada 3 kasus tambahan kanker per penduduk, air minum tsb kurang aman untuk efek kanker (seperti kanker kulit).

57 Jawaban (c): Baku Mutu  MCLG

58 G. KESIMPULAN Kegiatan Risk Assessment merupakan kewajiban yang harus dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan agar menjamin keselamatan, kesehatan para tenaga kerja, kelancaran proses dan peningkatan produktifitas. Kegiatan Risk assessment perlu dilakukan secara KOMPREHENSIF agar memiliki makna signifikan bagi pencegahan dan pengendalian potensi bahan beracun di tempat kerja.


Download ppt "C. Risiko-Risiko di Lingkungan Kerja Bahan Beracun di Lingkungan Kerja A. PARTIKEL Antara lain debu, uap Asam sulfat, partikel PbO dan ZnO, uap Hg B."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google