Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Margaretha Widyastuti Kritik dan Esai. 12.Mengungkapkan pikiran, pendapat, dan informasi dalam penulisan karangan berpola Standar Kompetensi Kompetensi.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Margaretha Widyastuti Kritik dan Esai. 12.Mengungkapkan pikiran, pendapat, dan informasi dalam penulisan karangan berpola Standar Kompetensi Kompetensi."— Transcript presentasi:

1 Margaretha Widyastuti Kritik dan Esai

2 12.Mengungkapkan pikiran, pendapat, dan informasi dalam penulisan karangan berpola Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Menulis esai berdasarkan topik tertentu dengan pola pengembangan pembuka, isi, dan penutup Indikator 1.Menentukan topik untuk menulis esai 2.Menyusun kerangka esai dengan memperhatikan pola pengembangan pembuka, isi, dan penutup 3.Menyusun paragraf pembukaan 4.Menuliskan isi ke dalam beberapa paragraf

3 (1)Sumber segala iseng adalah tip-ex. Tip-ex bisa digunakan untuk melempar ke orang. Tip-ex juga bisa untuk mencoret-coret meja. (2)Tip-ex untuk menghapus tulisan yang salah. Tip-ex digunakan untuk memperbaiki jawaban. (3) Kertas merupakan salah satu objek kreativitas. Dengan kertas, kita dapat membuat origami. Gambar-gambar juga dapat dituangkan di atas kertas. Untuk kreativitas dalam segi bisnis, kertas dapat digunakan untuk mengiklankan sebuah produk dalam bentuk brosur.

4 (4) Sumber segala keaslian adalah cermin. Cermin bisa mengungkap jatidiri kita. Cermin juga digunakan untuk bersolek menjadi cantik. Namun, cermin dapat mengingatkan kita pada siapa diri kita agar Selalu merendahkan hati. Cermin dapat menunjukkan kelebihan dan kelemahan kita di saat yang bersamaan. (5) Isi sebuah botol adalah cermin karakter seseorang. Apabila seseorang melihat isi setengah botol air mineral sebagai masih setengah botol, seseorang tersebut mempunyai rasa optimis. Apabila dia melihat sebagai tinggal setengah botol, seseorang tersebut adalah seorang pesimis. Seseorang yang melihat air di dalam botol akan memberikan komentar sesuai dengan sikap mereka.

5 (6) Sumber kelangsungan hidup adalah botol aqua. Botol aqua dapat digunakan untuk tempat minum. Para pengemis juga banyak yang menggunakan botol aqua sebagai alat musik. Para pemulung mencari botol aqua untuk mendapatkan uang. Banyak yang dapat dimanfaatkan dari botol aqua.

6 (8) Dalam era modern seperti sekarang ini, air siap minum lebih mudah didapatkan. Air siap minum dikemas dalam botol plastik, lalu didistribusikan ke banyak tempat. Bahkan hingga warung-warung kecil pun menyediakan air minum siap ini. Dengan kemudahan ini, seharusnya tidak ada lagi masyarakat yang kekurangan air bersih, terutama untuk minum. (9) Penggunaan botol plastik bekas kemasan dapat menyebabkan kanker. Remaja masa kini banyak menggunakan botol-botol plastik berulang kali. Menteri kesehatan perlu mengadakan penyuluhan mengenai bahaya penggunaan botol plastik bekas. Penyuluhan ini dilakukan agar masyarakat menyadari arti penting kesehatan dan mengantisipasi kanker.

7 (7) Tutup botol dan botolnya adalah lambang sebuah ikatan yang kuat. Saat sebuah botol ditutup dengan tutupnya maka air di dalamnya tidak akan keluar. Tetap terjaga di dalamnya, tidak rusak, dan botolnya pun menjadi kuat. Seperti itu juga hubungan pertemanan dan relasi yang baik. Selama satu orang dan yang lain memiliki ikatan yang kuat, maka rahasia di dalam mereka akan selalu tetap terjaga, aman, dan baik-baik saja. Namun, lain halnya jika botol dan tutupnya tidak terikat dengan kuat. Air di dalamnya akan dapat keluar membasahi berbagai macam hal dan botol itu pun akan rusak dengan sekali remas. Begitu pula dengan halnya kita, jika dalam pertemanan dan relasi ada celah dan ikatan yang tidak kuat

8 (8) Kunci merupakan suatu penerapan ilmu kimia. Kunci terbuat dari besi yang biasanya dilapisi perak dengan menggunakan konsep elektrolisis, yaitu penyepuhan. Kunci bersifat kuat karena menggunakan besi sebagai bahan dasarnya. Namun, besi memiliki kelemahan, yaitu dapat mengalami korosi yang membuatnya menjadi rapuh. Oleh karena itu, kunci dilapisi oleh perak yang berfungsi untuk melindungi logam besi dari proses oksidasi atau korosi. (9) Kunci adalah suatu benda yang amat menarik. Bila dilihat sekilas terlihat amat sederhana, tetapi memiliki kemampuan yang menakjubkan. Hanya dengan sebuah kunci yang kecil sebuah pintu yang besarpun dapat dibukanya. Kunci juga misterius. Tanpa petunjuk, dapatkah kita mengetahui kunci ini dapat membuka apa? Maka dari itu, kunci merupakan suatu hal yang tidak dapat ditebak.

9 (10) Dahulu kacamata hanya digunakan sebagai alat bantu melihat yang identik dengan orang-orang yang amat senang membaca atau yang disebut juga kutu buku. Namun, sekarang kacamata bukan hanya dipandang sebagai alat bantu melihat, tetapi juga untuk bergaya. Kacamata sudah mempunyai berbagai macam bentuk maupun warna, bahkan ada juga kacamata yang dibuat dengan kaca biasa bukan dengan lensa sebagai alat bantu melihat. Hal itu menjadikan pandangan terhadap pengguna kacamata berubah dari kutu buku atau seseorang yang biasa saja menjadi fashionable.

10 (11) Kacamata dapat digunakan untuk membantu mata yang buram untuk melihat. Kacamata melambangkan sosok pahlawan yang dapat melindungi mata dari matahari. Kacamata tidak dapat dipisahkan bagian kiri dan kanan layaknya ayah dan anak. (arahkan ke logika induktif ) (12) Kacamata adalah benda yang menghubungkan pertemanan. Jika orang lain merusak hubungan mereka akan menjauh dengan menyimpan perasaan tidak senang. (analogi kuarang tepat)

11 karangan berbentuk prosa yang menyajikan suatu persoalan yang dapat merangsang hati penulis.

12 Melalui novel 86, Apsanti menyimpulkan bahwa ketiadaan prinsip menyebabkan orang melakukan praktik korupsi. “Kita mudah sekali untuk mengikuti orang lain. Kita tidak berani untuk mengatakan tidak.” Novel 86 menggambarkan korupsi yang sudah berada dan menjajah ke seluruh ruang dalam kehidupan publik. Sastra dan kampanye antikorupsi adalah dua hal yang sejalan. “Kekuatan sastra terletak pada kemampuan menjembatani kepemilikan isu yang lebih luas. Melalui sastra, korupsi bisa menjadi isu bersama Menyimak kisah 86 dalam buku ini, kita akan dituntun untuk mengeja kembali makna keadilan dan mengevaluasi diri dan berubah secara saksama.

13 Esai FormalEsai Informal

14 Esai Formal Tujuan Mengajar, meyakinkan NadaSerius PerkembanganTegas dan teratur

15 Korupsi Dalam Teks Fiksi Oleh: DAMHURI MUHAMMAD (Kompas, 29/5/2011) TERMINOLOGI “lapan-anam” (86) yang menjadi gairah utama novel karya Okky Madasari ini terpelanting ke dalam tafsir yang peyoratif. Salah satu kata sandi kepolisian─selain 10.2, 813, 871, dan lain-lain─yang digunakan dalam berbagai komunikasi kedinasan itu pada dasarnya berarti dimengerti, dimaklumi, tetapi di sekujur tubuh novel setebal 252 halaman ini, “lapan-anam” bergeser menjadi sinisme, sekaligus pemakluman terhadap berbagai modus jual-beli perkara di sebuah kantor pengadilan, lantaran sudah menyehari, dianggap lazim, dan sama-sama tahu. Maka, dunia “lapan- anam” adalah dunia yang tidak lagi tabu, tapi dunia yang serba tersingkap, serba dibenarkan. Dunia yang memelintir kejujuran dan kebersetiaan pada kebenaran menjadi cacat-historis. Sebaliknya, kebohongan dan hipokritas berubah menjadi keluhuran yang pantas dipuja-puji. Korupsi Dalam Teks Fiksi Oleh: DAMHURI MUHAMMAD (Kompas, 29/5/2011) TERMINOLOGI “lapan-anam” (86) yang menjadi gairah utama novel karya Okky Madasari ini terpelanting ke dalam tafsir yang peyoratif. Salah satu kata sandi kepolisian─selain 10.2, 813, 871, dan lain-lain─yang digunakan dalam berbagai komunikasi kedinasan itu pada dasarnya berarti dimengerti, dimaklumi, tetapi di sekujur tubuh novel setebal 252 halaman ini, “lapan-anam” bergeser menjadi sinisme, sekaligus pemakluman terhadap berbagai modus jual-beli perkara di sebuah kantor pengadilan, lantaran sudah menyehari, dianggap lazim, dan sama-sama tahu. Maka, dunia “lapan- anam” adalah dunia yang tidak lagi tabu, tapi dunia yang serba tersingkap, serba dibenarkan. Dunia yang memelintir kejujuran dan kebersetiaan pada kebenaran menjadi cacat-historis. Sebaliknya, kebohongan dan hipokritas berubah menjadi keluhuran yang pantas dipuja-puji.

16 Esai Informal

17 Pariwara yang kocak dari sebuah produsen rokok cepat mengingatkan kita pada istilah “86”. Terutama dalam adegan seseorang meminta bantuan jin untuk melenyapkan korupsi dari muka bumi, sang jin langsung berkata, “Bisa diatur…,” lalu tambahnya pada sang peminta, “Wani piro?” (Jawa: berani bayar berapa). Sentilan yang menggugah, renyah, dan mudah diingat. Terlebih karena korupsi memang terlanjur membudaya, dan harus ‘dibalas’ dengan budaya lain. Maka, lahirlah novel 86 dari Okky Madasari. Akhir kisah sendiri menjadi bagian dari keinginan Okky menolak segala bentuk penyimpangan sistem dan budaya yang menguasai masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, novel 86 ingin dimaknai sebagai dasar budaya untuk mengalahkan budaya penyimpangan tersebut.

18 Hampir tiga bulan aku bekerja, keadaan dapat dikatakan tenang. Baik persoalan Waskito maupun kesehatan anakku.Tiba-tiba keadaan berubah. Guru-guru sedang beristirahat di kantor, menunggu lonceng masuk kembali. Seorang muridku terengah-engah datang, langsung berseru, “Bu Suci! Waskito kambuh, Bu! Dia mengamuk! Dia mau membakar kelas!” Peristiwa itu menggoncangkan kepercayaan sekolah kepada Waskito. Terus terang banyak tekan guru yang mengusulkan agar murid itu dikeluarkan saja. Tingkat kenakalan sudah terlampaui. Sekarang sudah sampai pada taraf membahaya-kan. Kami rapat lama merundingkan dia. Hari itu kami tiba di kelas hanya melihat permainan gunting. Sedangkan menurut murid- murid lain, sebelum Kepala Sekolah dan aku datang, Waskito melempar-lemparkan korek api yang telah dinyalakan ke segala penjuru. Dengan susah payah aku mempertahankan muridku. Para rekan yang mengingikan pengeluaran Waskito ternyata lebih banyak dari yang mendukungku. Tetapi aku bersitahan. “Berilah saya waktu sebulan lagi,” itulah permintaanku dalam rapat. “Sebulan!” seru seorang guru, supaya jengkel. “Sementara itu, sebelum waktu satu bulan habis, barangkali besok atau tiga hari lagi dia membakar kelas Anda! Membakar sekolah kita!” Aku menambahkan pembelaan. “Pasti telah terjadi sesuatu di rumah, di antara keluarganya atau di kelas sehingga dia menjadi geram. Kemarahannya dilampiaskannya kepada siapa kalau tidak kepada kita, lingkungannya terdekat? Karena dia tidak memiliki orang tua yang dapat disebutnya sebagai lingkungan terdekatnya!”

19 Dengan susah payah aku mempertahankan muridku. Para rekan yang mengingikan pengeluaran Waskito ternyata lebih banyak dari yang mendukungku. Tetapi aku bersitahan. “Berilah saya waktu sebulan lagi,” itulah permintaanku dalam rapat. “Sebulan!” seru seorang guru, supaya jengkel. “Sementara itu, sebelum waktu satu bulan habis, barangkali besok atau tiga hari lagi dia membakar kelas Anda! Membakar sekolah kita!” Aku menambahkan pembelaan. “Pasti telah terjadi sesuatu di rumah, di antara keluarganya atau di kelas sehingga dia menjadi geram. Kemarahannya dilampiaskannya kepada siapa kalau tidak kepada kita, lingkungannya terdekat? Karena dia tidak memiliki orang tua yang dapat disebutnya sebagai lingkungan terdekatnya!” Pertemuan Dua Hati, N.H. Dini.

20 N.H. Dini menghadirkan tokoh seorang siswa SD yang sangat membenci dunianya. Dunia sekolah dan dunia rumahnya. Dengan demikian, ia tetap menjadi “biang keributan” di dalam dunia manapun. Melalui tokoh ini, pembaca disajikan sebuah curahan seorang anak yang mendambakan penyadaran akan eksistensi dirinya. Lingkungan masyarakat biasanya mengakui keberadaan seseorang ketika ia berprestasi. Sadarkah bahwa siapa pun harus diakui eksistensinya walaupun ia masih kanak-kanak?

21 Tulisan ini barangkali berguna bagi guru-guru di sekolah. Guru-guru seharusnya dapat mengerti keadaan murid. Murid juga manusia, ia masih bisa melakukan kesalahan. Ia juga bisa mengalami tekanan. Apabila murid melakukan sebuah kesalahan fatal, guru tidak bisa semena- mena menyalahkan murid tersebut. Guru-guru sebaiknya melihat permasalahan yang dialami murid tersebut. Guru seharusnya membantu menyelesaikan permasalahan tersebut seperti halnya di dalam pelajaran matematika. Guru akan membantu murid mencari jalan keluar untuk menyelesaikan soal. Maka begitu pula seharusnya yang dilakukan guru terhadap murid dalam kehidupan sosial.

22 Memang Waskito anak yang sangat aneh. Mungkin itu sebagian pendapat para guru yang tidak tahu apa yang sebenaranya terjadi pada Waskito. Mereka berpendapat bahwa Waskito harus dikeluarkan dari sekolah, tetapi saya tidak setuju. Saya memberi saran pada para guru untuk menyembuhkan “penyakitnya”. Seharusnya, guru-guru tidak mengambil keputusan secara sepihak. Mereka harus mengetahui asal-muasal Waskito berbuat demikian. Seperti layaknya mengobati penyakit, kita harus tahu sebab penyakit tersebut, lalu mencari obat yang tepat untuk menyembuhkannya, bukan dengan bersungut-sungut dan menyalahkan keadaan.

23 Lingkungan merupakan sesuatu yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan, terutama pada anak-anak. Lingkungan yang ada di sekitarnya akan menjadi pedoman baginya dalam berperilaku. Jika lingkungan di sekitarnya tidak mendukung, maka anak tersebut akan menjadi anak yang tidak baik.

24 Kadang kita merasa tidak sabar dalam nmenghadapi seseorang yang menurut kita melakukan hal yang menyimpang dari apa yang kita lakukan. Langsung saja kita merasa harus menghilangkan orang tersebut. Apakah harus seperti itu? Apakah dengan menyingkirkannya kita tidak akan terganggu lagi?

25 N.H. Dini menceritakan tentang seorang pelajar yang duduk di bangku SD. Pelajar ini sering membuat masalah di lingkungan sekolahnya. Hal ini dikarenakan, ia merasa tidak mendapatkan perhatian orang tua dalam memberikan pendidikan dan kasih sayang kepadanya. Oleh karena itu, ia menjadi tertekan dan tidak dapat mengontrol dirinya dalam melakukan tindakan. N.H. Dini berusaha menyuarakan suara anak-anak yang selama ini tidak pernah dianggap lewat sebuah cerita yang mengisahkan seorang anak yang bernama Waskito yang selalu menjadi biang keributan. Waskito yang tidak memiliki orang tua ini mencoba perhatian dan kasih sayang melalui kenakalannya. (hilangkan) Hal ini menyadarkan kita bahwa banyak orang lain di luar sana, bukan hanya anak-anak yang memerlukan perhatian dan kasih sayang lebih, tetapi tidak tahu bagaimana caranya.

26 Peran keluarga dalam pertumbuhan dan perkem- bangan mental anak sangat penting. Salah satu bukti nyatanya adalah apa yang terjadi pada tokoh Waskito dalam novel karangan N.H. Dini, Pertemuan Dua Hati. Ketika mengalami peristiwa baru yang buruk, anak cenderung bersikap negatif. Padahal, sikapnya tersebut adalah tiruan dari apa yang telah dilihatnya, baik di kehidupan nyata maupun di media elektronik. Hanya dengan membiarkan anak tumbuh tanpa arahan dan pengawasan, dapat menjadikannya pribadi yang rusak.

27 Seorang anak dapat diibaratkan seperti sebuah pelajaran. Jika kita tidak memberi perhatian kepada pelajaran tersebut, baik di sekolah maupun di rumah, maka kita tidak akan mendapatkan hasil yang baik dan maksimal. Begitu pun dengan seorang anak, jika seorang anak, baik di sekolah maupun di rumah tidak mendapatkan perhatian ia tidak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan tidak bisa menghasilkan prestasi yang maksimal. Dengan demikian, seorang anak perlu mendapat perhatian, baik di sekolah maupun di rumah, agar bisa menjadi pribadi yang baik di masa depan.

28 Manusia merupakan makhluk sosial, mereka membutuhkan orang lain dalam hidupnya, termasuk perhatian dari orang lain. Anak kecil lebih membutuhkan perhatian dari orang lain dibanding dengan orang dewasa. Salah satu contohnya adalah kasus Waskito. Ia merupakan salah satu anak SD. Ia membutuhkan perhatian dari orang-orang sekitarnya, tetapi karena ia kurang mendapatkan perhatian dari orang lain, terutama orang tuanya. Oleh karena itu, ia mencari perhatian tersebut. Ia melakukan berbagai cara agar orang lain memperhatikannya. Ia juga melakukan berbagai kenakalan agar orang lain memperhatikannya. Oleh sebab itu, untuk mengatasi Waskito tidak dapat memperlakukannya dengan keras atau mengeluarkannya dari sekolah, tetapi seharusnya ia diberi perhatian yang lebih dari orang-orang terdekatnya.

29

30 Kritik sastra ilmiah Kritik sastra estetika Kritik sastra sosial Kritik Sastra Penilaian Tanpa ukuran dan aturan-aturan Kritik Sastra Induktif

31 1.Kita harus memahami masalah yang akan kita kritik. 2.Sampaikanlah kritik dengan bahasa yang efektif, baik, dan santun. 3.Isi kritik bersifat positif demi kemajuan dan kebaikan secara menyeluruh atau kebaikan bersama. 4.Kritik disertai alasan yang logis atau masuk akal. Hal-hal yang harus diperhatikan ketika hendak menyampaikan kritik, antara lain:


Download ppt "Margaretha Widyastuti Kritik dan Esai. 12.Mengungkapkan pikiran, pendapat, dan informasi dalam penulisan karangan berpola Standar Kompetensi Kompetensi."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google