Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PEMBENTUKAN POSDAYA (Materi Pembekalan Kuliah Kerja Nyata Tematik Posdaya Universitas Jember). ANWAR Dosen FISIP Universitas Jember Mei 2014.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PEMBENTUKAN POSDAYA (Materi Pembekalan Kuliah Kerja Nyata Tematik Posdaya Universitas Jember). ANWAR Dosen FISIP Universitas Jember Mei 2014."— Transcript presentasi:

1 PEMBENTUKAN POSDAYA (Materi Pembekalan Kuliah Kerja Nyata Tematik Posdaya Universitas Jember). ANWAR Dosen FISIP Universitas Jember Mei 2014

2 IDENTITAS NASIONAL  Sebagai sebuah istilah identitas nasional dibentuk oleh dua kata yaitu identitas dan nasional. Identitas dapat diartikan sebagai ciri, tanda atau jati diri; sedangkan nasional dalam konteks pembicaraan ini berarti kebangsaan. Dengan demikian, identitas nasional dapat diartikan sebagai jati diri nasional. Identitas nasional Indonesia tercantum dalam konstitusi Indonesia yaitu Undang-Undang Dasar 1945 dalam pasal 35-36C.  Identitas nasional yang menunjukkan jati diri Indonesia diantaranya adalah sebagai berikut: (a) Bahasa Nasional atau Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia, (b) Bendera negara yaitu Sang Merah Putih, (c) Lagu Kebangsaan yaitu Indonesia Raya, (d) Lambang Negara yaitu Pancasila, (e) Semboyan Negara yaitu Bhinneka Tunggal Ika, (f) Dasar Falsafah negara yaitu Pancasila, (g) Konstitusi (Hukum Dasar) negara yaitu UUD 1945, (h) Bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat, (i) Konsepsi Wawasan Nusantara, (j) Kebudayaan daerah yang telah diterima sebagai Kebudayaan Nasional

3 PENERAPAN IDENTITAS NASIONAL  Implementasi atau penerapan tentang identitas nasional harus tercermin pada pola pikir, pola sikap, dan pola tindak yang senantiasa mendahulukan kepentingan bangsa dan negara daripada kepentingan pribadi atau kelompok. Dengan kata lain, identitas nasional menjadi pola yang mendasari cara berpikir, bersikap, dan bertindak dalam rangka menghadapi berbagai masalah menyangkut kehidupan bermayarakat, berbangsa dan bernegara.  Implementasi identitas nasional senantiasa berorientasi pada kepentingan rakyat dan wilayah tanah air secara utuh dan menyeluruh. Impementasi identitas nasional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang mencakup kehidupan politik, ekonomi, sosial budaya,dan pertahanan keamanan harus tercemin dalam pola pikir, pola sikap, dan pola tindak senantiasa mengutamakan kepentingan bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia diatas kepentingan pribadi dan golongan.

4 TIPOLOGI MASYARAKAT INDONESIA A B A: Koensidensi atribut deskrit dengan kontinyu yang membentuk masyarakat terfragmentasi B: Crosscutted atrubut deskrit dengan kontinyu yang membentu masyarakat homogen

5 KEPENTINGAN NASIONAL  Kepentingan Nasional (National Interest) adalah tujuan-tujuan yang ingin dicapai sehubungan dengan kebutuhan bangsa/negara atau sehubungan dengan hal yang dicita-citakan. Dalam hal ini kepentingan nasional yang relatif tetap dan sama diantara semua negara/bangsa adalah keamanan (mencakup kelangsungan hidup rakyatnya dan kebutuhan wilayah) serta kesejahteraan.  Kedua hal pokok ini yaitu keamanan (Security) dari kesejahteraan (Prosperity). Kepentingan nasional diidentikkan dengan dengan “tujuan nasional”. Contohnya kepentingan pembangunan ekonomi, kepentingan pengembangan dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).

6 KEPENTINGAN NASIONAL Kepentingan nasional sering dijadikan tolok ukur atau kriteria pokok bagi para pengambil keputusan (decision makers) masing-masing negara sebelum merumuskan dan menetapkan sikap atau tindakan. Bahkan setiap langkah kebijakan luar negeri (Foreign Policy) perlu dilandaskan kepada kepentingan nasional dan diarahkan untuk mencapai serta melindungi apa yang dikategorikan atau ditetapkan sebagai ”Kepentingan Nasional”. Menurut Morgenthau : ”Kepentingan nasional adalah kemampuan minimum negara untuk melindungi, dan mempertahankan identitas fisik, politik, dan kultur dari gangguan negara lain. Dari tinjauan ini para pemimpin negara menurunkan kebijakan spesifik terhadap negara lain yang sifatnya kerjasama atau konflik”.

7 KEPENTINGAN NASIONAL DALAM PUSARAN GLOBAL  Selain AS tengah berproses membangun sistem pertahanan rudal di Asia guna melawan manuver Korea Utara dan Cina tentunya, ia juga menyatakan memperluas militernya di Asia Tenggara dan Samudera Hindia, termasuk peningkatan kerja sama dengan Australia dan penempatan kapal-kapal perang di Singapura, Philipina dll. Dan sungguh mengejutkan ialah pergeseran 60% armada tempurnya ke Asia Pasifik;  Paman Sam mendukung pembentukan ASEAN Security Community pada 2015, dan terkait dengan isue Laut China Selatan, dan melalui Menhan Leon Panetta, menganjurkan agar ASEAN melakukan “tindakan seragam” sekaligus menyusun kerangka aksi yang memiliki kekuatan hukum;  Kompleksitas pertikaian wilayah di Laut China Selatan, disinyalir bukan sebatas klaim kepemilikan pulau-pulau, melainkan ada “persoalan lain”, artinya selain diantaranya hak berdaulat atas Landas Kontinen dan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE), penggunaan teknologi baru terkait exploitasi dan explorasi minyak dan gas bumi oleh negara tertentu, yang utama sejatinya faktor geostrategy possition dan potensi SDA pulau-pulau yang disengketakan  Ketegangan antara negara-negara di kawasan tersebut secara politis cenderung meningkat karena miskinnya win-win solution. Urgensi geografis Laut China Selatan yang cukup vital dalam pergeseran geopolitik global, memungkinkan terus terkendalanya upaya penyelesaian sengketa, bahkan diduga keras bahwa isu konflik teritorial itu akan menjadi trigger dalam benturan militer secara terbuka, dan lain-lain.

8 KEPENTINGAN NASIONAL DALAM PUSARAN GLOBAL  Teringat statement Henry Kissinger (1970), “Control oil and you control the nations, control food and you control the people” (Kontrolah minyak kamu akan mengontrol negara, kontrol pangan maka anda mengendalikan rakyat). Sekali lagi, retorika menggelitik pun timbul: “Apakah bangsa ini tidak sedang dilumpuhkan kedaulatan pangannya melalui skema jerat impor oleh asing?”. Tetapi yang lebih mengerikan lagi ialah isyarat Vandana Shiva, bahwa bila kolonialisasi lama hanya merampas tanah, sedangkan kolonialisasi baru merampas seluruh kehidupan!  Merujuk persoalan dan uraian di atas, mencermati konflik antara TNI versus Polri di Ogan Komering Ulu (OKU) dari perspektif politik global, sesungguhnya kasus tersebut hanyalah tema belaka. Lalu apa kelanjutan skema? Konflik antar aparat di OKU diprakirakan merupakan skema pelemahan bangsa via pencerai-beraian elemen dan pecah belah dari sisi internal. Ini yang mutlak diwaspadai bersama oleh segenap tumpah darah Indonesia dimanapun berada dan berkiprah.

9 KEPENTINGAN NASIONAL DALAM PUSARAN GLOBAL  Tak dapat dipungkiri, TNI-Polri adalah organ-organ perekat bangsa. Bahkan di antara berbagai elemen-elemen bangsa lain, keduanya masih solid hingga kini, sebab keduanya merupakan anak kandung revolusi (kemerdekaan) dulu. Tak bisa tidak, TNI-Polri itu benteng terakhir dari sebuah sistem kedaulatan bangsa. Apabila retak kedua institusi niscaya bakal pecahlah bangsa dan negara. Ini harus disadari bersama oleh segenap komponen bangsa!  Jujur harus diakui, dinamika politik menjelang 2014 kendati terlihat glamour namun tidak bermakna apa-apa bagi kesejahteraan rakyat, apalagi untuk Kepentingan Nasional RI. Segenap elit dan partai politik dibuat sibuk, asyik dan porak-poranda oleh korupsi; organisasi massa dibentur-benturkan melalui pragmatisme; para pemuda dan mahasiswa diracuni narkoba serta disusupi dogma-dogma impor atas nama kebebasan dan demokrasi di tataran hilir, dll. Tampaknya media massa terutama media mainstream memiliki kontribusi luar biasa atas “keretakan” yang tengah terjadi pada bangsa ini, karena media massa cuma sekedar memberitakan secara gegap gempita tentang isu-isu, tema, kemudian ke isu lagi, lalu ke tema lagi, demikian seterusnya cuma mengejar gegap rating tanpa solusi jelas.

10 KEPENTINGAN NASIONAL DALAM PUSARAN GLOBAL  Hasil pertemuan G-20 mengkulminasi suntikan dana sebesar 1,1 triliun dolar AS ke lembaga multilateral dan IMF guna membantu memerangi krisis global. Kemudian keluarlah paket stimulus (utang) bagi negara berkembang. Terbaca nuansa bahwa G- 20 digunakan sebagai sarana untuk mempertahankan kepentingan dan hegemoni AS di dunia. Oleh karena arah penyelesaian krisis tidak berlandas filosofi bagaimana “membongkar” sistem kapitalisme sebagai penyebab, tetapi lebih berfokus pada pembiayaan dampak krisis dalam bentuk bailout (talangan) dan stimulus.  Berkali-kali diselenggarakan KTT, di Washington (15/11/2008), di London (2/4/2009), dan tanggal September 2009 di Pittsburgh, tetapi berkali-kali pula solusi dan ruh dari pertemuan G-20 bersifat klasik – mengarah pada pelestarian sistem kapitalisme, seperti mempertahankan langkah stimulus, meningkatkan kuantitas dan kualitas modal bank, pemangkasan gaji dan bonus para eksekutif di sektor perbankan, penghapusan tempat bebas pajak (tax heaven), dan kesepakatan menghapus subsidi bahan bakar fosil yang memperparah pemanasan global.  Dan agaknya, AS menggiring negara-negara di dunia untuk terlibat secara langsung pendanaan krisis melalui “dana segar” pengembalian utang dari negara-negara berkembang. Retorikanya: Bukankah uang yang dihutang adalah kertas-kertas bodong yang dicetak tanpa jaminan?

11 KEPENTINGAN NASIONAL DALAM PUSARAN GLOBAL  Memanasnya suhu politik antara Cina melawan AS dan sekutu, selain menggeser geopolitik global dari Heartland ke Asia, juga meniscayakan perubahan konstelasi di Asia Pasifik terutama Laut Cina Selatan dan perairan sekitarnya. Apalagi jika kelak benar-banar meletus konflik terbuka di perairan;  Inilah “perang skema” antara adidaya Barat dan Timur, dimana Paman Sam via Kekaisaran Militer —meminjam istilah Connie— asyik membangun pangkalan militer di berbagai belahan dunia, sedangkan Cina mengimbangi melalui String of Pearls di jalur-jalur utama serta alur alternatif perairan;  Kelak bila terjadi perang terbuka di perairan, bukannya akan langsung berhadapan antara Cina versus AS, tapi pagelaran cenderung menampilkan perang proxy (perpanjangan) antara Cina melawan kelompok negara common wealth di sekitarnya. Akan tetapi para negara satelit tersebut didukung sepenuhnya oleh armada laut AS;  Dari mapping prakiraan situasi tadi, semakin terlihat urgensi Selat Sunda dari sisi geopolitik. Artinya ketika Selat Malaka telah menjadi “jalur tidak aman” bagi pelayaran internasional akibat perang, maka rute alternatif tersingkat baik dari dan ke Lautan Hindia serta Lautan Pasifik dipastikan akan melintas di Selat Sunda dan selat lainnya.

12 KEPENTINGAN NASIONAL DALAM PUSARAN GLOBAL  Perlu dibidani produk-produk hukum terkait geopolitical leverage (pemanfaatan geopolitik), misalnya “penutupan sementara” selat-selat di Indonesia ketika dinamika pelayaran telah mengancam keamanan nasional dan Kepentingan Nasional RI. Hal ini mutlak segera dilangkahkan oleh segenap elit dan pengambil kebijakan di republik ini sebagai respon terhadap situasi yang berkembang sekaligus penyikapan peralihan geopolitik global;  Bila JSS memang merupakan program yang tidak boleh ditunda, maka rujukan pokok selain menekankan Kepentingan Nasioanal RI juga aspek geopolitik, baik dari sisi kedaulatan negara, kesejahteraan maupun kepentingan pendukung lain bersifat lintas fungsi dan departemen serta melibatkan berbagai tokoh dan masyarakat sekitar. Syukur-syukur ditunda hingga menunggu waktu yang tepat. Tapi paling minimal adalah tinjau ulang atas proposal JSS agar tidak semata-mata mengkedepankan aspek sosial ekonomi belaka;  Salah satu prioritas pembangunan RI kedepan mutlak harus menguatkan sistem pengawasan dan pengamanan selat-selat Indonesia (ALKI) yang ditopang oleh lembaga dan departemen terkait dengan TNI-Polri sebagai ujung tombak;  Kelak dengan sistem pengamanan dan pengawasan perairan yang canggih lagi handal, niscaya akan meningkatkan “daya tawar” Pemerintah Indonesia di forum global manapun, dan lebih jauh lagi adalah mengubah skema geopolitical leverage menjadi geopolitical weapon, atau senjata geopolitik bagi republik tercinta ini.

13 KEPENTINGAN NASIONAL DALAM PUSARAN GLOBAL  cinta ialah sesuatu berbentuk pengungkapan, perasaan, pengorbanan, pengertian dan program. Pertanyaan hipotesa adalah: (1) bagaimana dikatakan cinta, sedangkan kamu belum pernah mengungkapkan apa-apa; (2) bagaimana bisa mengatakan bahwa cintamu sungguh suci, sedangkan kamu tak punya perasaan apa-apa; (3) bagaimana disebut cinta, sementara kamu tidak pernah berkorban apa- apa; (4) bagaimana bisa menerima cintanya, sedangkan kamu tidak punya pengertian apa-apa; (5) bagaimana mungkin cintamu disebut tulus dan iklas, sedangkan dirimu tidak punya program apa-apa?  kebenaran adalah sesuatu berbentuk penyelidikan, permasalahan, pembahasan, penerapan dan petunjuk. Pertanyaan retorikanya: (1) bagamana mungkin sesuatu dianggap benar, sedangkan hal itu belum pernah diselidiki; (2) bagamana mungkin sesuatu dianggap benar, sedangkan hal itu belum pernah ada masalah sebelumnya; (3) bagaimana mungkin sesuatu dianggap benar, jika sebelumnya tidak pernah dilakukan pembahasan; (4) bagaimana dikatakan benar, sedangkan kamu belum pernah menerapkannya; (5) bagaimana tindakanmu dikatakan benar, sedangkan langkah yang kamu tempuh tidak sesuai petunjuk? M Arief Pranoto Penulis adalah Research Associate Global Future Institute (GFI)M Arief PranotoGlobal Future Institute (GFI)

14 RENUNGAN PENTING suatu negara atau pemerintahan hanya bisa bertahan dan tetap berdiri kokoh manakala para pemimpinnya memiliki pilar-pilar antara lain: (1) legitimasi yang kuat dari rakyatnya, (2) adanya akar dukungan nyata dari rakyat, dan (3) adanya ketahanan nasional/budaya (local wisdom) yang kuat sebagai entitas masyarakat maupun bangsa.

15 PERAN PENTING PENDIDIKAN TINGGI  Mengembangkan model pembangunan yang benar-benar berbasis pada keilmuan dan sumberdaya lokal.  Membangun basis-basis pengembangan keilmuan yang benar-benar relevan bagi kebutuhan masyarakat dalam rangka merespon perubahan global yang sangat dinamis.  Mengembangkan pusat-pusat pengembangan masyarakat, dengan memanfaatkan sumberdaya lokal yang ada.  Membantu pengembangan kebijakan strategis terhadap legislatif dan eksekutif serta mengontrol implementasi kebijakan-kebijakan tersebut.  Menghidupkan atau mendorong lembaga-lembaga independen diberbagai level daerah untuk mengimbangi inkorporasi negara yang selama ini masuk kedalam hampir semua sektor kehidupan masyarakat, baik di pusat maupun daerah.  Menyebarluaskan (dissemination) berbagai informasi yang masih menjadi masalah yang dihadapi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui berbagai cara (public education) agar kelompok-kelompok masyarakat mempunyai kemampuan adaptif menyongsong era otonomi daerah.

16 MAKNA PEMBERDAYAAN  Istilah pemberdayaan merupakan terjemahan dari “empowerment”, yang secara harfiyah bisa diartikan sebagai “pemberkuasaan”, sedang dalam arti luas pemberdayaan masyarakat adalah : suatu usaha pemberian atau peningkatan “kekuasaan” (power) kepada masyarakat yang lemah atau tidak beruntung (disadvantaged) melalui perubahan struktur sosial, dimana rakyat (masyarakat) mampu menguasai (berkuasa atas) kehidupannya, sehingga harkat dan martabat kehidupan masyarakat dapat berkembang kearah yang lebih baik.  Selain itu istilah pemberdayaan masyarakat hampir memiliki kesamaan tujuan dengan pembangunan (development). Dimana pembangunan (development) itu sendiri adalah proses sosial yang direncanakan atau di rekayasa untuk memajukan masyarakat, dimana pembangunan senantiasa berkembang seiring dengan tuntutan zaman dan kebutuhan masyarakat.  Namun dari dua istilah diatas terdapat perbedaan paradigma yang sangat mendasar, dimana pemberdayaan menempatkan masyarakat sebagai pemain (actor) utama dalam menentukan kehidupannya, sedangkan pembangunan menempatkan pemerintah sebagai sumber segala-galanya.

17 PEMBERDAYAAN  pemberdayaan adalah bagian dari /new social movement paradigm/ (Paradigma gerakan sosial baru). Dimana ada proses rakyat memperkuat dirinya dalam rangka perubahan dari dalam untuk mencapai kondisi yang lebih baik.  Orientasi dan acuan dasar pemberdayaan adalah bukan modernisasi tetapi kepada pengatualisasian nilai-nila lokal (indigenous value), pengetahuan dan ilmu lokal (indigenous knowledge) dan ketrampilan serta teknologi lokal (indigenous skill and technology). Sedangkan aspeknya ada lima yang menyatu dan tidak terpisahkan

18 PEMBERDAYAAN  Pertama, aspek basic need providing, dimana kebutuhan dasar adalah bagian yang harus dicukupi untuk semua orang di muka bumi ini. Kebutuhan dasar ini meliputi; (1) Kesehatan, (2) Pangan, (3) Sandang, (4) Perumahan, dan (5) Pendidikan. Lima kebutuhan dasar ini menggunakan indikator dan parameter lokal sebagai ukuran dasarnya. Sehingga tingkat pemenuhan kebutuhan dasar disetiap komunitas sangat relatif dan berbeda satu sama lain.  Kedua, Kesadaran dan pikiran kritis, dimana setiap manusia didodorng mempunyai kesadaran dan pikiran kritis untuk memahami realita sosial, ekonomi, dan politik secara tajam. Hal ini penting untuk melihat posisi dan out put kinerjanya apakah merupakan bagian penindasan struktural atau bagian proses pemandirian. Sehingga dapat mengkalkulasi semua fenomena sosial dalam perspektip siapa yang diuntungkan siapa yang dirugian, apakah ada proses pembodohan dan hegemony atau proses pemerdekaan diri?

19 PEMBERDAYAAN  Ketiga, akses kepada sumber sumber daya yang ada. Persoalan masyarakat pada umumnya adalah kurangnya akses kepada berbagai suberdaya yang dapat mensuport kepentingan kehidupannya. Oleh karena itu elemen pemberdayaan salah satunya adalah kemampuan mengakses berbagai sumberdaya yang mendukung hidupnya, seperti sumber daya pendidikan, sumber daya ekonomi, sumber daya keuangan (Bank) dan lain sebagainya.  Keempat, aktip berpartisipasi dalam organisasi rakyat. Hal ini menjadi elemen penting dalam pemberdayaan. Karena organisasi rakyat adalah merupakan elemen setrategis, yaitu : (1) Sebagai media belajar(public education. Dimana masyarakat akan terus menerus membelajari dirinya melalui sesama warga dalam merespon berbagai dinamika kehidupannya. (2) Sebagai media membagun relasi yang adil (equality relationship). Hal ini penting untuk melatih perilaku demokratis, non patron clean, non patriarchy dan non nepotism,dan tidak anarkhis. (3) untuk membela dirinya (advokasi) dalam memperthankan hak hak dasaranya sebagai manusia (HAM) dan hak hak politik, sosial, budaya sebagai warganegara.

20 PEMBERDAYAAN  Kelima, kemampuan social control and policy control. Salah satu gerakan pemberdayaan rakyat, elemennya adalah ada gerakan kontrol sosial untuk menjaga norma dan nialai kepada keberadaan entitas budaya setempat. Hal ini penting untuk proses pelestarian budaya. Namun juga ada kemampuan mengontrol kebijakan untuk membangun penegakan dan kepastian hukum formal. Hal ini sangat relevan dan penting mengingat penegakan dan kepastian hukum justru sering ditumbangkan oleh para pengambil keputusan dan pemegang kekuasaan. Oleh karena itu rakyat harus bergerak untuk menyelamatkan dan menegakan hukum itu sendiri secara konstitusional dan non kekerasan.

21 TIGA KAWASAN MASYARAKAT SECARA SOSIOLOGIS  Kawasan teknis yang berhubungan dengan sumberdaya manusia. Untuk memecahkan persoalan teknis menggunakan elemen pengembangan sumberdaya manusia untuk memenuhi kebutuhan dasarnya secara teknis dari berbagai dukungan dari aksesnya kepada sumber sumber daya yang dapat dijangkau.  Kawasan ideologis yang berhubungan dengan visi dan misi masa depan dirinya dan aktualisasi budayanya. Sedangkan untuk memecahkan persoalan idelogis adalah melalui elemen berpikir kritis. Hal ini merupakan bagian proses penggugatan dan pemerdekaan diri dari dominasi pemikiran yang membelenggu dan menindas dirinya.  Kawasan struktural yang ada hubungannya dengan sistem dan struktur yang mendominasi dirinya. Paradigma pemberdayaan ternyata medukung rakyat untuk menghadapi tiga kawasan persoalan diatas secara simultan dan berkelanjutan. Selanjutnya untuk mengatasi persoalan di kawasan struktural melalui elemen organisasi dan kontrol kebijakan sebagai media advokasi diri akan hak hak dasarnya.

22 METODE PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Metode pemberdayaan rakyat hampir berbanding terbalik dengan metode pembangunan masyarakat. Diamana proses tidak dimulai dari isu utama yang bersifat lokal atau bukan bersifat generik yang dapat menjadi acuan semua masyarakat, tetapi semua entitas komunitas akan menemukan isu lokal-nya sendiri. Prosesnya dimulai dengan:  penyadaran diri dan mengembangkan pikiran kritis untuk membongkar hegemoni pembangunan yang ada dirinya.  melakukan analisa kritis terhadap berbagai fenomena lingkungan kehidupannya. Menemukan berbagai persoalan strategis.  dari persoalan strategis ini masyarakat didorong untuk menemukan tindakan tindakan strategis.  Muncul satu gerakan untuk mengkaji dan mengkritisi berbagai ilmu ilmu rakyat asli.  Mengelaborasi atau mengurai ilmu rakyat dalam aspek ontologisnya, ephistimologiny dan methodologinya.  Mengaktualisasi dan mensosialisasi ilmu rakyat sebagai acuan untuk menyelesaikan persoalan yang ada.

23 MEDIA PEMBERDAYAAN Media pertanian organik. Media ini untuk menggali dan mengaktualisasi ilmu- ilmu pertanian rakyat. Media pengembangan perikanan rakyat Media pengadaan air bersih, media ini untuk menggali dan mengaktualisasi ilmu ilmu rakyat tentang ekosistem. Media kesehatan alami,media ini untuk menggali dan mengaktualisasi ilmu ilmu rakyat tentang kesehatan rakyat. Media ekonomi kerakyatan, media ini untuk menggali dan mengaktualisasi ilmu ilmu rakyat tentang ekonomi rakyat. Organisasi petani, sebagai media untuk pembelajaran dalam berorganisasi yang mengacu kepada perilaku demokratisasi, egaliter, transparan dan accountable. Pendidikan kader kritis, ini media untuk menumbuhkan para aktivis pemberdayaan rakyat.

24 PERSOALAN DALAM PEMBERDAYANAAN  Tataran pertama berada pada persoalan konseptual. Apakah pemberdayaan itu merupakan lanjutan developmentalisme atau bagian lain dari developentalisme itu sendiri? Untuk menjawab pertanyaan ini sesungguhnya mudah, lihat saja apa acuan dan orientasinya! Apakah acuan dan oreintasinya masih pada modernisasi ? atau tidak? Kalau orientasi dan acuan dasarnya masih mengacu kepada modernisasi, berarti jargon pemberdayaan masih merupakan kelanjutan developing dan bagian lain dari kawasan itu. Oleh karena itu harus jernih dalam menghadirkan orientasi dan acuannya.  Persoalannya ketika kita melihat acuan lokal non modernisasi sebagai acuannya, kita ada hambatan untuk mengelaborasi dan mengaktualisasi ilmu ilmu lokal dalam hal ontologi (inti keilmuan), epistemologi (landasan keilmuan) dan methodology (bagaimana penerapannya). Hambatan itu muncul akibat kurangnya keseriusan kita, nara sumber dan materi materi dasarnya.  Persoalan yang akan muncul di pemberdayaan adalah persoalan teknis relasi. Karena sebagian besar masyarakat telah terhegemoni oleh modernisasi sebagai acuan dan ukuran kualitas kehidupannya. Sehingga ketika kita ingin ada perubahan keluar dari hegemoni itu akan ada banyak pertentangan di masyarakat itu sendiri. Kongkritnya banyak masyarakat yang suadah tidak mempercayaai lagi ilmu ilmu aslinya sebagai acuan kehidupannya. Oleh karena itu banyak sekali para aktivis pemberdayaan di lapangan tumbang akibat persoalan teknis ini.

25 KEMITRAAN

26 PENYEBAB MENURUNNYA ETOS KERJA  Kita sering mendengar berbagai keluhan orang atau bahkan diri kita sendiri sering mengeluh dalam hal pekerjaan. Orang yang belum bekerja keluhannya adalah sulitnya mendapat pekerjaan.  Sedangkan orang yang sudah bekerja baik karyawan swasta, karyawan project sampai pegawai negri sipil justru mengeluhkan pekerjaanya. Keluhan orang yang sudah bekerja justru lebih banyak macamnya, mulai dari keluhan tentang jumlah honor yang diterima, sistem dan peraturan kerja, target kerja, membuat laporan kerja, mendapat supervisi, evaluasi atau audit sampai kepada rekan kerja yang menyebalkan. Berbagai keluahan itu terus tertanam, terakumulasi dan teraktualisasi di dalam dirinya sampai diungkapkan kepada rekan sekerjanya maupun kepada orang lain di luar lingkungannya baik secara sadar maupun tidak sadar.  Semua keluhan yang tertanam dalam dirinya akan didukung oleh “rasionalitas” dan “legitimasinya” yang ditemukan oleh pikirannya dan fakta fakta di luar dirinya yang mendukungnya. Keluhan keluhan seseorang tentang pekerjaanya akan saling bersambut dengan keluhan keluan dari rekan kerjanya. Keluhan tersebut bermula secara individual kemudian akan merebak menjadi keluan kolektip.

27 PENYEBAB MENURUNNYA ETOS KERJA Apabila keluhan itu sudah menjadi keluhan kolektip maka kosentrasi para pekerja akan bermuara pada munculnya berbagai masalah dan hambatan yang seolah olah bersumber dari faktor diluar dirinya. Mereka biasanya menuduh terhadap peraturan, system, kepemimpinan pada organisasi / lembaga tempat naungan pekerjaannya. Keluhan yang didukung oleh rasionalitas dari pikirannya akan menumpulkan kemampuan dalam menjelaskan dan meyakinkan kepada dirinya mengapa pekerjaan dan kekaryaanya tersebut menjadi pilihannya. Akibatnya orang tersebut kehilangan atas penghormatan, kebanggaan dan pengharapan terhadap pekerjaan dan kekaryaan yang telah menjadi pilihannya. Berkurangnya penghormatan dan kebanggaan tersebut lambat laun akan mengurangi atau bahkan menghilangkan etos yang ada pada dirinya. Padahal etos adalah merupakan sumber energy untuk berkarya, bekerja, dan daya mendorong untuk berkreasi dan berinovasi. Orang yang kehilangan sumber energy-nya biasanya akan kehilangan achievement motivation-nya, sehingga orang tersebut sering mengalami; kelesuan, keloyoan, kemalasan, mudah capai, kurang tekun, mudah putus asa, suka menunda nunda pekerjaan, suka melimpahkan pekerjaanya pada orang lain. Akibatnya orang tersebut sulit menghasilkan karya atau ciptaannya yang optimal.

28 INDIKATOR ETOS KERJA YANG LEMAH Orang yang kehilangan etos kerja pada dirinya bisa jadi adalah orang orang yang melupakan sulitnya bagaimana memperoleh pekerjaan. Mereka melupakan bagaimana susah payahnya ketika sedang memperoleh pekerjaan tersebut. Pada saat akan mendapatkan pekerjaan tersebut banyak orang rela untuk berdesak desakan antri mendaftarakan diri, berjuang untuk lolos dalam ujian seleksi bahkan banyak kasus orang melakukan tidakan yang tidak terpuji seperti “menyuap” dan lain sebagainya. Mereka lupa terhadap puluhan bahkan ribuan orang yang sedang memimpikan terhadap pekerjaan yang sedang dia sandang. Orang yang kehilangan etos kerja pada dirinya banyak yang tidak meninggalkan pekerjaanya. Karena mereka khawatir tidak dapat mendapatkan pekerjaan lagi. Orang yang berada posisi ini adalah orang yang dalam kondisi tidak “merdeka” atau “tertindas”. Ciri orang yang tertindas dalam pekerjaanya adalah; memandang pekerjaan adalah beban, target hasil kerja dianggap momok yang membayang bayangi kehidupannya, aturan kerja dianggap pemenjaraan dirinya untuk berkreasi dan berinovasi, pembuatan laporan dianggap sebagai hukuman, supervisi dan audit dianggap pemeriksaan terhadap dirinya yang menakutkan.

29 TARUHAN YANG MAHAL Orang yang kehilangan etos kerjanya pada umumnya menggantikan sumber energy dirinya dalam bekerja dan berkaryanya adalah karena adanya ketakutan atau mengejar hadiah/ganjaran. Hal yang sangat menakutkan bagi mereka adalah dikeluarkan dari pekerjaanya, diturunkan jabatannya, dikurangi honornya. Hal yang sangat didambakan adalah adanya kenaikan pangkat, kenaikan honor dan tambahnya fasilitas yang menambah kenikmatan hidupnya. Dorongan kerja dan karya yang seperti itu akan mebawa kerugian secara ganda, yaitu; (1) merugikan diri sendiri karena selamanya akan menjadi orang “tertindas” dan tidak mampu berinovasi dan berkrease. (2) merugikan institusi / organisasi karena hasil kinerjanya tidak pernah optimal namun high cost untuk pembelanjaan pegawainya. (3) Merugikan para pengguna atau pemanfaat secara luas karena tidak mampu memberi produk yang prima dan berkualitas namun harga mahal. Hilangnya etos kerja bagi orang orang yang bekerja pada sector pelayanan public akan sangat menciderai performance secara kelembagaan. Hubungan tingkat kepercayaan rakyat terhadap pemerintahannya berhubungan secara signifikan dengan etos kerja yang dimiliki oleh pegawai pemerintahannya. Lemabaga swasta baik yang non profit seperti lembaga swadaya masyarakat maupuan yang profit seperti perusahaan menaruhkan mati dan hidupnya lembaga pada etos kerja para aktivisnya.

30 ETOS KERJA KERJA DALAM PERSPEKTIP PEMBERDAYAAN Dalam perspektip pemberdayaan, etos kerja sesorang adalah merupakan tanggung jawab dirinya dalam memelihara dan membangkitkannya. Hanya dirinyalah yang mampu memelihara dan membangkitkan etos kerjanya. Faktor dari luar dirinya seperti peraturan kerja, sistem kerja, manajemen dan kepemimpinan adalah hanya sebagai faktor pendukung belaka. Keberdayaan diri seseorang bukan datang secara misterius, tiba tiba atau pembawaan dari lahir. Pemberdayaan merupakan proses alami dimana orang telah melewati berbagai kondisi yang secara langsung atau tidak langsung menempa dirinya untuk menjadi orang yang berdaya. Kesulitan bagi sesorang adalah merupakan tempaan diri untuk mendapatkan suatu kecerdasan. Orang yang sering mendapat kesulitan dan selalu berusaha untuk menyelesaikannya akan mendapat kecerdasan dan ketekunan pada dirinya. Sebaliknya orang yang tidak pernah berani mengatasi berbagai kesulitan, dia tidak akan pernah mendapatkan tambahan daya kecerdasan dalam dirinya. Orang yang sering mendapat tantangan dalam kehidupannya dan berusaha untuk menghadapinya akan mendapat ketaguhan dan ketegaran dalam dirinya. Sebaliknya orang yang tidak pernah berani menghadapi tantangan akan menjadi orang yang lemah dan mudah putus asa. Orang yang sering mendapat beban bila terus berusaha untuk menanggungnya akan mendapatkan tambahan daya kekuatan dirinya. Sebaliknya orang yang tidak pernah menanggung beban tidak akan pernah mendapat tambahan daya kekuatan didalam dirinya.

31 ETOS KERJA KERJA DALAM PERSPEKTIP PEMBERDAYAAN  Orang orang yang cerdas mengatasi kesulitan, tangguh dalam menghadapi tantangan dan kuat dalam menanggung beban adalah orang orang yang berdaya. Etos kerja dalam perspektip orang berdaya adalah selalu dilatih dan ditumbuh-kembangkan di dalam dirinya. Bagaimana cara orang berdaya menjaga dan menumbuh kembangkan etos kerjanya yaitu memandang kesulitan bagaikan charger untuk meningkatkan daya kecerdasannya.  Memandang tantangan dan hambatan sebagai charger untuk meningkatkan daya untuk ketangguhan dirinya, dan memandang beban sebagai charger untuk meningkatkan daya ketahannnya. Memandang ancaman sebagai charger untuk meningkatkan daya kesiapan dirinya.  Sebaliknya orang orang yang tidak pernah menghadapi ancaman akan menjadi orang tidak pernah siap dalam menghadapi berbagai resiko. Etos kerja bagaikan sebuat accu atau batre yang selalu membutuhkan charger, bila tidak pernah di cahrger, etos kerja akan redup dan kemudian mati dan menjadi sampah yang tidak pernah ada gunanya.

32 MERUBAH KELUHAN MENJADI MEDIA PENINGKATAN KAPASITAS DIRI Keluhan adalah merupakan ekpresi sepontan namun tidak penting untuk diteruskan dan ditanamkan dalam dirinya. Keluhan spontan terhadap kesulitan dalam pekerjaannya bisa dimaknai sebagai media pembelajaran untuk mendapatkan lesson learned tentang berbagai teknik dan strategi problem solving. Keluhan terhadap hambatan dan tantangan kerja adalah hal yang wajar dan tidak salah diungkapkan. Namun keluhan yang terus menerus diungkapkan dan ditanamkan didalam dirinya justru akan menemukan rasionalisasi terhadap keluhannya namun tidak pernah mendapatkan jalan keluar untuk menghadapi tantangan dan hambatan tersebut. Tantangan dan hambatan adalah merupakan media pemicu diri untuk menggali dan mengembangkan kemampuan diri dalam menghadapi tantangan dan hambatan. Keluhan terhadap target capaian kerja yang diamanatkan pada diri seseorang karena orang memandang bahhwa target kerja tersebut adalah merupakan beban berat bagi dirinya. Namun target capaian kerja yang diamanatkan pada dirinya sesungguhnya bisa dimaknai sebagai pengakuan dan penghormatan terhadap kapasitas dirinya. Sebaiknya orang yang mendapat mandat untuk mencapai target hasil kerja perlu mengingat bahwa tidak semua orang mendapatkan mandat tersebut. Oleh karena itu sudah sepantasnya bila orang yang mendapat mandate tersebut memandang bahwa target hasil pekerjaannya adalah merupakan media membuktikan akan kapasitas dirinya yang sudah mendapat kepercayaan dan penghormatan dari pihak pemberi mandat.

33 Apa itu POSDAYA ? Forum Silaturahim, Komunikasi, Advokasi, Konsultasi, dengan azas Kebersamaan dan Gotong Royong Menuju Keluarga Mandiri dan Sejahtera Pos Pemberdayaan Keluarga Suatu Model Pemberdayaan Masyarakat yang Berazaskan Kebersamaan dan Gotong Royong Menuju Keluarga Mandiri dan Sejahtera

34 Apa Peran POSDAYA ? Sebagai MODEL Pemberdayaan Masyarakat Merubah Cara Berpikir Setiap Keluarga di Masyarakat Untuk Semangat dan Berjuang Keras Mencapai Kesejahteraan Secara Mandiri dg Azas Gotong Royong Konsep:

35 Target Posdaya Filosofi Posdaya Merubah Pola Pikir Keluarga Semangat u Sejahtera Mau Bekerja Keras Mau Bekerjasama Tdk Mengharap Bantuan Semata Dari, Oleh, Untuk Masyarakat

36 Target Posdaya: - Ekonomi Keluarga Lebih Mandiri - Keluarga Lebih Sehat - Status Pendidikan Lbih Tinggi - Lingkungan Lbh terpelihara

37 Strategi Pembentukan POSDAYA Oleh Mhs KKN Berbasis Orgnisasi Berbasis Wilayah - Wilayah Lingkungan - Wilayah Dusun - Wilayah RW - Posyandu - Masjid - Pondok Pesantren - Kelompok Pengajian

38 Siapa yg Boleh Membentuk POSDAYA ? Siapa Saja Boleh Darimana Biayanya ? DARI KELUARGA, OLEH KELUARGA, DAN UNTUK KELUARGA “Mhs KKN” = KKN Tematik Posdaya Apa Membutuhkan Biaya ? Tidak Selalu

39 Pengurus Posdaya - Ketua - Sekretaris - Bendahara - Sie Kesehatan & Lingkungan - Sie Pendidikan - Sie Ekonomi Keluarga Legalitas : Kepala Desa Sertifikasi : LPM Pembina

40 Bentuk Kegiatan POSDAYA mengacu kepada Tujuan: Untuk Meningkatkan Status Kesehatan Keluarga - Untuk Meningkatkan Status Pendidikan Keluarga - Untuk Memperbaiki Perekonomian Keluarga Oleh dan Untuk Masyarakat Menuju Keluarga Mandiri & Sejahtera “Azas Peduli (Kebersamaan & Gotong Royong)” Setiap Kegiatan di Rencanakan dan di Laksanakan Oleh Masyarakat dan Hasilnya di Nikmati Oleh Masyarakat Bentuk Kegiatan Posdaya

41 IMPLEMENTASI PROGRAM KK TEMATIK POSDAYA Merumuskan Permasalahan Ada Posdaya Menyusun Program KK Observasi Wilayah KK Tdk Ada Posdaya Bina Posdaya Bentuk Posdaya MHS KK

42 PARTICIPATORY ACTION RESEARCH APPRAISAL  Menurut Lewin ( Dilts,1999), hal-hal praktis jika diikuti dengan refleksi dan analisis, akan merupakan sumber yang tak bakal kering bagi bahan pengembangan teori ( yang dikembangkan dari lapangan). Karena dalam kenyataannya teori yang demikian jika digunakan sebagai alat analisis akan memberikan contoh praktis yang diterapkan para situasi riil.  Model kaji tindak yang diterapkan dilapangan, meliputi empat langkah, yaitu: aksi/mengalami, refleksi, integrasi, dan perencanaan. Sebagai proses kegiatan operasionalnya menekankan pragmatisme yang dimulai dari mengidentifikasi, memahami, dan memecahkan masalah riil, lalu merefleksikannya lagi.  Dalam perkembangannya, ada varian lain dari riset paradigma baru yaitu riset partisipatif. Ia memiliki banyak ciri yang sama dengan riset aksi antara lain, pentingnya refleksi, tujuan untuk adanya perubahan /perbaikan sosial atau dampak langsung terhadap sistim/struktur sosial, penghargaan yang tinggi terhadap potensi manusia, dan pemecahan masalah, serta penciptaan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Dalam riset partisipatif, menurut Dilt (1999) lebih komitment terhadap ideologis yaitu perubahan sosial dan keadilan sosial. Sementara riset aksi lebih menekankan adanya komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat (empowerment), partisipasi dan kontrol masyarakat dalam proses riset.

43 PARTICIPATORY ACTION RESEARCH APPRAISAL  Kaji tindak partisipatif merupakan kombinasi antara penelitian (research) dengan tindakan (action) yang dilakukan secara partisipatif guna meningkatkan aspek kehidupan masyarakat. Berkaitan dengan itu, integrasi dan partisipasi antara sesama peneliti, obyek yang diteliti, para pemangku kepentingan (stakeholders), dan elemen masyarakat lainnya merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan (Gonsalves et al., 2005).  Dalam kaji tindak partisipatif, kerja sama antara peneliti dengan “pemilik masalah” (problem owner) merupakan hal penting untuk diterapkan. Ketergantungan saling menguntungkan antara peneliti dan pemangku masalah terletak pada pemahaman bersama terhadap masalah yang harus dipecahkan, keterampilan, pengalaman, dan kompetensi; agar proses penelitian dan pengembangannya dapat mencapai dua tujuan utama berupa pengetahuan metode baru dalam pemecahan masalah secara praktis (Hult dan Lennung, 1980).  Dalam hal ini, peneliti mendapatkan kerangka intelektual dan pengetahuan baru dalam pemecahan masalah, sedangkan pemilik masalah mendapatkan metode yang lebih efisien dalam pemecahan masalah secara praktis di lapangan (Burns, 1994).

44 PARTICIPATORY ACTION RESEARCH APPRAISAL  Dalam kaji tindak partisipatif, peneliti berperan secara pro-aktif dan sengaja (purposive) melibatkan diri dalam pengembangan metode baru dalam pemecahan masalah secara praktis. Sementara itu, dalam penelitian konvensional, peneliti boleh dikatakan sebagai pelaku netral (Chalmers, 1982).  Dalam kaji tindak partisipatif, peneliti dipandang sebagai salah satu pelaku utama yang bekerja secara bersama-sama dengan pihak yang mempunyai kepentingan, atau sebagai pihak yang dipengaruhi, untuk menghasilkan perubahan atau kemajuan dalam pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari (Checkldan, 1991; Hult dan Lennung, 1980).

45 PARTICIPATORY ACTION RESEARCH APPRAISAL  Kaji tindak partisipatif memiliki karakteristik lingkaran spiral (spiraling circle), yang dimulai dari refleksi, pertanyaan, tugas lapang, dan analisis yang dilakukan secara berulang (iterative). Dalam kaji tindak partisipatif, kompleksitas sistem saling berinteraksi antara satu dengan lainnya. Tiga subsistem yang menjadi acuan perhatian dalam sistem kaji tindak partisipatif adalah (1) Sub ekosistem. Sumberdaya alam dan lingkungan (natural resources and environmental capital) bersifat terbatas, dimana eksistensinya terkait dengan kompleksitas pola bio-fisik dan proses;  (2) Subsistem Sosial Ekonomi. Sumberdaya alam memiliki nilai guna dalam sistem kehidupan manusia, dan pemanfaatannya memerlukan hubungan interaktif dengan subsistem kultural sosial ekonomi (cultural socioeconomic capital);  (3) Subsistem Kebijakan dan Kelembagaan. Pemanfaatan sumberdaya alam secara publik merupakan refleksi dari sistem kekuasaan dan manajemen pengambilan keputusan yang di dalamnya melibatkan hubungan kerjasama, persaingan, dan konflik (baik di tingkat lokal maupun nasional dan bahkan internasional).

46 MAPPING  Perlunya upaya mapping Sub ekosistem, Subsistem Sosial Ekonomi, Subsistem Kebijakan dan Kelembagaan.  Perlunya diketahui sumber data dan informasi kunci bagi keperluan mapping yang dimaksud.  Pentingnya kesadaran etis mengenai cara, waktu, tempat dalam mendapatkan informasi data, dan masih diperlukan adanya crosscheck validitas data  Modal utama adalah komitmen dan membangun kepercayaan.

47 Apa Syarat Pembentukan Posdaya a. Adanya Kesepakatan Bersama Warga yg Bertekad ingin lebih Sejahtera dg Azas Gotong Royong b. Ada Pengurus, dan Sbg Anggota adalah Warga 1 RW c. Ada Tempat Untuk Berkumpul (Sekretariat): di Mushpla, di Gd PAUD/TPA, atau di Rumah Warga/RT/RW d. di bentuk Pra-Koperasi (u Simpan Pinjam) dg Swa-Dana masyarakat e. Musyawarah Menyusun Program Kerja Dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi Keluarga g. Berdasarkan Kesepakatan, Buat Jadwal Pertemuan Rutin h. Buat Aktivitas dan Metode Diskusi Yg Menarik Pada Setiap Pertemuan yang dapat memberi manfaat memberi solusi masalah secara nyata

48 Lakukan Observasi dan Buat Data tentang Demografi, Geografi, Potensi dan Permasalahan yang ada di Wilayah KK, dg Langkah sbb: 1. Observasi Wilayah KK LANGKAH IMPLEMENTASI PROGRAM KK TEMATK POSDAYA a. Mahasiswa melakukan Observasi sesuai RW bagian masing-2 b. Targetkan mahasiswa mendapatkan data Profiel RW secara real dengan cara mengumpulkan data: 1. Kondisi Geografi: Luas Wilayah, Luas Sawah, Tegal. dll 2, Penduduk: Jumlah KK, Jumlah Warga (pengelompkan berdasar Status ekonomi, jenis kelamin, umur, pekerjaan, pendidikan, dsb) 3. Kesehatan: Fasulitas dan jenis layanan Kesehatan, serta jumlah warga yang sedang sakit parah 4. Pendidikan: Fasilitas dan Jenis Layanan Pendidikan (PAUD,TPA, SD..) 5. Wirausaha: Pasar, Jmlh Pedagang apa saja 6. Fasilitas Umum: Masjid dll

49 2. Merumuskan Permasalahan Berdasarkan Data Hsl Observasi, Rumuskan Permasalahan yang di alami oleh Masyarakat di Wilayah KK, terkait dg: -Kesehatan (Bumil, Balita, Lansia, Penyakit menular, dan Lingkungan) -Perekonomian (jmlh Gakin & Kel. Kaya) -Pendidikan (Anak Putus Sekolah/pengangguran, Anak Yatim-Piatu, PAUD, Kondisi Sekolah, dll)

50 3. Menyusun Program KK a.Lakukan Pertemuan antar Mahasiswa di Tingkat Desa, tetapkan mana yg termasuk Program Kerja KK yang bisa di Lakanakan di Tingkat Posdaya, dan mana yg mungkn bisa dilaksanakan di tingkat Desa b. Selanjutnya Lakukan Pertemuan di Tingkat Kec. an untuk menetapkan Program mana yg mungkin dilaksanakan di Tingkat Kecamatan dan mana yang di Desa Berdasarkan Permasalahan yg telah di Rumuskan, Harus Menunmbuhkan Semangat Masyarakat untuk menyelesaikannya melalui Program Kerja KK dan dirumuskan Bersama antara Mahasiswa KK dg Kades, Ketua RW/Lingkungan/Kyai/dsb, dan Selanjutnya Lakukan Identifikasi Program Kerja, sbb

51 Contoh Program Berbasis Pemberdayaan Keluarga Berdasarkan data Kondisi Masyarakat di Tingkat Lingkungan/RW, Dapat di Susun Program: a. Bina Balita b. Bina Lansia c. Bina Remaja d. Bina Ibu-Ibu e. Bina Bpk-Bpk f. Bina Lingkungan g. Bina Wirausaha

52 Program Utama/Wajib 1)Setia Keluarga Wajib Membuat Kebun Gizi 2)Setiap Posdaya Wajib ada PAUD 3)Setiap Posdaya Wajib ada Papan Nama 4)Setiap Posdaya Wajib ada Pra-Koperasi

53 Membentuk Koperasi Pemula dengan Modal dari Masyarakat Bersama dan Menjalankan Kegiatan simpan Pinjam untuk meningkatkan Produktivitas keluarga Langkah-2 a. Mengumpulkan Simpanan Pokok & Wajib dari anggota (tidak boleh dikuasai Pribadi) b. Tabungkan ke Bank BPR Jatim, untuk jaminan Kredit c. Dana dari BPR di putar Simpan Pinjam dan Wirausaha Koperasi 4. Membentuk Pra -Koperasi

54 Membentuk Jejaring antar UKM di Wilayah Posdaya Tujuan: Meningkatkan Pendapatan Keluarga Menjalin dg Perbankan untuk Modal Usaha Langkah-2 a. Menabung ke Bank BPR Jatim, untuk jaminan Kredit b. Atau dg Agunan yang dimiliki c. Pendampingan Usaha Oleh Mhswa KKN didukung oleh para Dosen 5. Membangun Jejaring UKM

55 Tujuan: Meningkatkan Kualitas Kesehatan (Tumbuh Kembang, Gizi), dan Pendidikan (PAUD) bagi Balita Contoh Program: 1. Pendidikan a. Program Pendirian/Pembinaan PAUD b. Pelatihan Kreativitas Balita 2. Kesehatan c. Program Kadarsi Bagi Orang Tua Balita d. Pembuatan Karang Gizi Keluarga e. Program Pelatihan Membuat Makanan Bergizi Bagi Orang Tua Balita A. Bina Balita SASARAN & PROGRAM POSDAYA

56 Tujuan: Meningkatkan Kualitas Pendidikan, Ketrampilan, an Kesehatan Remaja agar Tumbuh Menjadi Manusia Sehat, Berbudi Luhur, Beriman, Bertanggungjawab, Kreatif, Produktif dan Mandiri, serta Berdaya Saing Contoh Program: 1. Pendidikan: a. Pelatihan Kejar Paket B dan C b. Pendewasaan Usia Kawin 2. Kesehatan a. Penyuluhan Kesehatan Reproduksi b. Penyluhan Bahaya Narkoba c. Pelatihan Personal Hygiene 3. Wirausaha a. Pelatihan Menjahit Bagi remaja Putri b. Pelatihan Membuat Pupuk Organik Bagi Remaja Pengangguran B. Bina Remaja

57 Tujuan: Meningkatkan Kesehatan dan Produktivitas Lansia Contoh Program: 1. Kesehatan a. Pemeriksaan dan Pengobatan Gratis pada Lansia b. Senam Lansia 2. Produktivitas a. Pelatihan Membuat Tempe pada Lansia b. Pinjaman Modal membuat Peyek pada Lansia (Bekerjasama dg Koperasi) C. Bina Lansia

58 Tujuan: Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga Contoh Program: 1. Kesehatan a. Penyuluhan KB b. Penyuluhan Kesehatan Ibu Hamil & Bayi 2. Wirausaha a. Pelatihan Sanitasi & Manajemen Produksi Tempe b. Peningkatan Kemitraan Untuk Pemasaran Usaha Keluarga 3. Pendidikan a. Penyuluhan Rencana Pendidikan Anak D. Bina Keluarga

59 1. Menghimpun Data Dasar Keluarga tertinggal yg akan menjadi sasaran pemberdayaan Pemetaan klrg tertinggal di Desa / Dusun Gambaran persebaran dan karakteristik keluarga tertinggal di Desa. 1. MENGHIMPUN DATA DASAR

60 2. MENJAJAGI PENDAPAT TOKOH-TOKOH MASYARAKAT Mendatangi tokoh-tokoh kunci. Menjelaskan kondisi klrg yg ada di lingk. sekitar Meminta pendapat / dukungan tokoh Kesediaan menjadi pembina, penasehat, pengarah / pelindung

61 3.MENYELENGGARAKAN MINI LOKAKARYA Menyajikan hasil pendataan Menyajikan daftar/peta klrg yg perlu diberdayakan Menyajikan daftar/peta klrg atau tokoh yg mampu memberikan dukungan Kesepakatan membentuk Tim Pelaksana Posdaya

62 4.MEMBENTUK TIM POSDAYA Menetapkan Tim Formatur Memilih Tim Pengurus yg tdd: - Penasehat / Pengarah / Pembina - Ketua/Koordinator - Ketua Bid. Kesehatan, - Ketua Bid. Pendidikan - Ketua Bid. Wirausaha - Ketua Bid. Lingkungan

63 5. MENYUSUN PROGRAM KERJA Untuk penyelesaian masalah Berbasis data dan masalah yg ditemui Tentukan prioritas berdasarkan masalah pokok Sederhana dan dapat dilaksanakan Mulai dengan kegiatan yg relatif mudah dilaksanakan Perhitungkan biaya yg diperlukan Inventarisasi sumber2 yg dpt mendukung pembiayaan dan pelaksanaan Usahakan keterpaduan kegiatan Monitor pelaksanaan keg. secara teratur

64 POSDAYA: PEMENUHAN KEBUTUHAN DENGAN UPAYA NYATA  MEMOTONG RANTAI KEMISKINAN  MEWUJUDKAN IMPIAN DAN MEMENUHI KEBUTUHAN  EMPAT JALUR UTAMA POSDAYA:  KESEHATAN  PENDIDIKAN  WIRA USAHA  LINGKUNGAN  TIGA PRINSIP UTAMA:  PEMBERDAYAAN  GOTONG ROYONG  KEMANDIRIAN

65 INDIKATOR UMUM: KELUARGA SEJAHTERA POSDAYA ADALAH GERAKAN MASYARAKAT BESARAN PARTISIPASI KEBUTUHAN DASAR KEMANDIRIAN DELAPAN FUNGSI KELUARGA

66 INDIKATOR UMUM: KESERTAAN KOMITMEN JELAS TERBENTUK KONSENSUS MODUS/CARA TEPAT SASARAN JUMLAH PESERTA KETEKUNAN DAN DISIPLIN PESERTA

67 PENENTU KEBERHASILAN 1: NIAT (VISI) DAN MISI Impian yang realistik Komunal dan kumulatif Komunal dan kumulatif Mampu merencanakan upaya pencapaiannya Mampu merencanakan upaya pencapaiannya

68 PENENTU KEBERHASILAN 2: RENCANA KERJA ◦ Membumi ◦ Memenuhi kebutuhan khalayak ◦ Dilandasi keberadaan potensi ◦ Membawa perubahan ◦ Realistik dan terukur

69 PENENTU KEBERHASILAN 3: KOMITMEN (TEKAD) BERSAMA  untuk MAJU  untuk BERUBAH/MENINGKAT  untuk SEJAHTERA  kearah KESETARAAN DALAM ARUS PEMBANGUNAN

70 PENENTU KEBERHASILAN 4: GOTONG ROYONG KEBERSAMAAN dalam suka dan duka KESEPAKATAN dalam upaya bersama SOLIDARITAS SOSIAL saling memberi dan berbagi KERELAAN tidak dibayar, tidak digaji …

71 PENENTU KEBERHASILAN 5: KEMANDIRIAN Himpun donatur lokal Perencanaan dan penyusunan program kerja Menggali potensi lokal perubahan “mindset” Cegah ketergantungan

72 PENENTU KEBERHASILAN 6: SINERGI Koordinasi Saling Mengisi (Komplementer) Teguh Pada Komitmen Taat Kesepakatan Sejalan Dengan Peraturan & Perundangan

73 PENENTU KEBERHASILAN 7: KEBERLANJUTAN & KESINAMBUNGAN Keberadaan (Eksistensi) Dalam Percaturan Kemantapan Organisasi “Governance” /Penyelenggaraan Inkremental

74 UKURAN KEBERHASILAN: MEMBENTUK ‘TRUST’ Dari khalayak Dari Anggota dan Sasaran Dari Pemda Dari Penyandang Minat Dari Desa lain di sekeliling

75 PENENTU KUMULATIF: PERUBAHAN & KEMAJUAN “Mind Set” Dan Orientasi Mempedomani Kultur Setempat/Sendiri Menghormati Norma dan Istiadat Sadar Elemen Negatif Pembangunan

76 PENENTU KUMULATIF: PENCAPAIAN SASARAN MDGs KEMISKINAN BERKURANG TINGKAT PENDIDIKAN MENINGKAT KESETARAAN GENDER MEMBAIK KEMATIAN ANAK MENURUN KEMATIAN IBU BERKURANG PENYAKIT MENULAR BERKURANG LINGKUNGAN HIDUP MEMBAIK KEMITRAAN MENINGKAT

77 KKN UNEJ Setiap kelompok mahasiswa membentuk POSDAYA di desa di mana mereka ditempatkan Memberdayakan POSDAYA tersebut dengan memberikan pelatihan-pelatihan tentang kewirausahaan, pendidikan, kesehatan dan lingkungan.

78

79 SEKIAN TERIMA KASIH


Download ppt "PEMBENTUKAN POSDAYA (Materi Pembekalan Kuliah Kerja Nyata Tematik Posdaya Universitas Jember). ANWAR Dosen FISIP Universitas Jember Mei 2014."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google