Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Belajar dari Kehidupan Para Imam. Belajar dari Biografi Para Imam Besar “...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Belajar dari Kehidupan Para Imam. Belajar dari Biografi Para Imam Besar “...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang."— Transcript presentasi:

1 Belajar dari Kehidupan Para Imam

2 Belajar dari Biografi Para Imam Besar “...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( Al-Mujadilah: 11)

3 Belajar dari Biografi Para Imam Besar Abu Hanifan An-Nu’man Mercusuar ilmu pengetahuan dan fakih ternama “….Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu…” (Al-Hujurat: 13)

4 Belajar dari Biografi Para Imam Besar Kelahiran dan Nasab Ia bernama Abu Hanifah an-Nu’man bin Tsabit bin An-Nu’man bin Al- Marziban, dilahirkan di kota Kufah-Iraq tahun 80 H. Hobi utamanya adalah memperbanyak membaca al-Qur’an, sehingga para perawi secara berlebihan menyebutkan bahwa ia terbiasa mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak enam puluh kali di bulan Ramadhan Berprofesi sebagai pedagang.

5 Belajar dari Biografi Para Imam Besar Belajar Selama 18 tahun penuh, Abu Hanifah menimba ilmu dari gurunya; Syaikh Hammad bin Abi Sulaiman (Bashrah), saat itu ia masih berusia 22 tahun. Ketika berumur 40 tahun,ia menduduki posisi gurunya Syaikh Hammad yang telah wafat. Para gurunya yang lain adalah: Imam Malik bin Anas, Zaid bin Ali bin Zainal bin Abidin, Ja’far As-Shadiq, serta para ulama lainnya

6 Belajar dari Biografi Para Imam Besar Konsep Fiqih Abu Hanifah Abu Hanifah bisa disebut sebagai ulama pertama penulis ilmu fiqih. Abu Hanifah menulis dan menyusun dalam bab-bab yang sistematis. Beliau memulai tulisannya dengan thaharah, shalat, zakat, puasa kemudian haji. Kemudian pindah ke pembahasan muamalat, hudud (pidana), dan ditutup dengan pembahasan warisan. sampai sekarang belum ditemukan satu buku yang langsung ditulis oleh Abu Hanifah, adapun buku yang dimaksud dengan buku-buku karangan beliau adalah apa yang ditulis oleh murid-muridnya lalu mereka membacakan dihadapan beliau.

7 Belajar dari Biografi Para Imam Besar Kecerdasan Abu Hanifah Muhammad bin Muqatil berkata; “ Seorang laki-laki tak dikenal datang menemui Abu Hanifah, untuk memnguji kekuatan pemahaman dan kecerdasannya, Laki-laki tersebut berkata; “Apa pendapatmu tentang seorang laki- laki yang tidak mengharapkan surga, tidak takut neraka, tidak takut Allah, memakan bangkai, shalat tanpa ruku’ dan sujud, ia menjadi saksi atas apa-apa yang tidak ia lihat, membenci kebenaran, senang terhadap fitnah, lari dari rahmah, serta mempercayai Yahudi dan Nasrani?”

8 Belajar dari Biografi Para Imam Besar Abu Hanifah berkata; ”Bahwa ia tidak mengharapkan surga, dan tidak takut pada neraka, itu karena ia mengharapkan pemilik surga serta takut kepada pemilik neraka. Adapun perkataanmu; bahwa ia tidak takut kepada Allah, itu karena ia tidak takut bahwa Allah akan berbuat tidak adil kepadanya, sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT, “…dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba- hambaNya…”(Fushshilat:46).

9 Belajar dari Biografi Para Imam Besar Adapun perkataanmu bahwa ia makan bangkai, itu karena ia makan ikan. Adapun perkataanmu bahwa ia shalat tanpa ruku’ dan sujud, itu artinya ia mengucapkan shalawat kepada Nabi Saw, atau sholat jenazah. Perkataanmu bahwa ia bersaksi terhadap apa yang yang ia tidak lihat, itu artinya ia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu hamba dan Rasul-Nya. Adapun perkataanmu bahwa ia membenci kebenaran itu artinya ia membenci kematian, karena kematian merupakan kebenaran, ia juga mencintai keabadian sehingga ia mentaati Allah Ta’ala, sebagaimana difirmankan “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya..”(Qaf: 19) Adapun perkataanmu bahwa ia menyukai fitnah, itu artinya ia mencintai harta dan anak, sebagaimana firman Allah’ “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah…”. (At-Taghaabun: 15)

10 Belajar dari Biografi Para Imam Besar Adapun perkataanmu bahwa ia lari dari rahmat, maksudnya adalah lari dari hujan. Adapun perkataanmu bahwa ia mempercayai yahudi dan nasrani, maksudnya adalah sebagaimana yang difirmankan, “Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan….” (Al-Baqarah: 113) Laki-laki itu kemudian berdiri, lalu menciumi kening Abu Hanifah.

11 Belajar dari Biografi Para Imam Besar Abu Hanifah sangat mencintai ibunya, ia selalu taat dan berbakti kepadanya, serta tidak pernah sedikitpun menolak perintahnya, walaupun yang diperintahkan itu sangat berat dan tidak mudah dikerjakan. Setiap kali mendapatkan ujian karena dakwah, dan disiksa karenanya. Ia selalu berkata; “Demi Allah bukan pukulan cambuk yang menyakitkanku, namun cucuran air mata ibundaku yang membuat hatiku terluka.” Bakti kepada ibunda

12 Belajar dari Biografi Para Imam Besar Abu Hanifah sangat baik dalam bertetangga, dalam hal ini ia selalu meneladani Rasulullah Saw dalam berinteraksi dengan tetangga- tetangga beliau, seperti memperlakukan mereka dengan baik dan selalu memaafkan yang berbuat jelek kepadanya. Teladan dalam bertetangga

13 Belajar dari Biografi Para Imam Besar Abu Hanifah sangat mencintai murid-muridnya, berlemah lembut, membantu mereka sejauh yang ia mampu, sampai-sampai dalam seminggu beliau menyediakan suatu hari khusus yaitu hari jum’at untuk mereka. Pada hari itu, beliau mengumpulkan mereka, memasak makanan untuk mereka, serta melayani mereka karena ingin mendapatkan ridha Allah Ta’ala semata. Kelembutan kepada murid

14 Belajar dari Biografi Para Imam Besar Dalam membagi waktu antara ilmu dan bisnis, ternyata Abu Hanifah melakukannya dengan sangat proposional. Walaupun ia mempunyai kolega dalam bisnis yang dikelola dengan Hafshah bin Abdu Ar=Rahman, namun demikian ia sering kali turun ke lapangan untuk mengontrol perkembangan bisnisnya. Teladan dalam bisnis Abu Hanifah telah memberikan teladan bagaimana seharusnya menjadi seorang pedagang, ia juga telah menjelaskan bahwa kejujuran merupakan barang dagangan para pedagang yang utama. Sekaligus menjadi sarana untuk mendapatkan yang halal, jauh dari sifat oportunistis, dan keuntungan yang haram.

15 Belajar dari Biografi Para Imam Besar Abu Hanifah memiliki murid bernama Yusuf bin Khalid As-Simani. Berikut ini wasiat emas sebagai pembekalan tersebut, para ulama menamakannya sebgai “wasiat emas” “Jika kamu salah dalam berinteraksi dengan masyarakat, mereka akan menjadi musuhmu, sekalipun mereka bapak dan ibumu, tapi jika kamu berinteraksi dengan baik sekalipun mereka bukan kerabatmu akan menjadi bapak dan ibumu.” Wasiat emas

16 Belajar dari Biografi Para Imam Besar Semenjak Abu Hanifah masih dalam tawanan rumah (masa khalifah Abu Ja’far Al-Mansur dari dinasti Abbasiah), kehidupannya tidak berlanjut lama, beliau sakit dan wafat pada usia telah menginjak 70 tahun. Berita kematiaannya menyebar, ketika Al-Manshur mendegar berita itu, dia berkata; “Siapa yang bisa memaafkanku darimu ketika hidup maupun mati”. Beliau dishalatkan oleh jumlah yang sagat banyak sekali lebih dari orang. Kepergian Al Imam

17 Belajar dari Biografi Para Imam Besar Bagaimana dengan kehidupan Para Imam Besar yang lainnya??? Mari terus belajar dan berjuang demi tegaknya Syariah dan Khilafah !!!

18 Belajar dari Biografi Para Imam Besar ALHAMDULILLAH Sumber rujukan: Khayatul al Ulama (Syaikh M. Hasan Al-Jamal, Kairo Mesir)


Download ppt "Belajar dari Kehidupan Para Imam. Belajar dari Biografi Para Imam Besar “...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google