Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

KALIMAT Pengantar: Bahasa bersifat Hierarki Fonem/Grafem Silabe/Suku Kata Morfem Kata Klausa Wacana Paragraf Kalimat Bac k Bac k Next.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "KALIMAT Pengantar: Bahasa bersifat Hierarki Fonem/Grafem Silabe/Suku Kata Morfem Kata Klausa Wacana Paragraf Kalimat Bac k Bac k Next."— Transcript presentasi:

1

2 KALIMAT

3 Pengantar: Bahasa bersifat Hierarki Fonem/Grafem Silabe/Suku Kata Morfem Kata Klausa Wacana Paragraf Kalimat Bac k Bac k Next

4 Kategori Kata KataPengertian dan Contoh Verba (V)Kata Kerja. Contoh: mendekat, mencuri, dan lain-lain. Adjektiva ( Adj)Kata sifat yang memberikan keterangan lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat. Contoh: kecil, berat, merah, bundar, gaib dan ganda Nomina (N)Kata benda. Contoh: guru, kucing., meja, Adverbia (Adv)Kata keterangan yang menjelaskan verba, adjektiva atau abverbia lain. Contoh: sangat, selalu, hampir, hanya Preposisi (Prep)Kata depan. Contoh: di, ke, dari, akan, antara, bagi, buat, dari, untuk, dll Konjungtor (Konj)Kata sambung. Contoh: karena, sejak, sesudah, sebelum

5 KALIMAT Kalimat : satuan bahasa terkecil yang mengungkapkan pikiran secara utuh, baik dengan cara lisan maupun tulisan. Wujud lisan, kalimat diucapkan dengan suara naik turun dan keras lembut, disela jeda, dan diakhiri intonasi akhir yang diikuti oleh kesenyapan yang mencegah terjadinya perpaduan atau asimilasi bunyi ataupun proses fonologis lain. Wujud tulisan, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik (.), tanda tanya (?), atau tanda seru (!); dan di dalamnya dapat disertakan tanda baca seperti koma (,), titik dua (:), pisah (-), dan spasi. Tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru pada wujud tulisan sepadan dengan intonasi akhir pada wujud lisan, sedangkan spasi yang mengikutinya melambangkan kesenyapan. Tanda baca lain sepadan dengan jeda.

6 Unsur Kalimat: S – P – O – Pel - K Subjek (S) Predikat (P) Objek (O) Pelengkap (Pel) Keterangan (K)

7 Subjek (S) Subjek adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, sosok (benda), sesuatu hal, atau masalah yang menjadi pangkal/pokok pembicaraan. Ciri-ciri Subjek: a) berjenis kata benda/dibendakan; b) menjadi inti/pokok pikiran; c) dijelaskan oleh bagian lainnya; d) menjadi jawaban dari pertanyaan Siapa atau Apa; e) dalam kalimat pasif berposisi sebagai objek. Contoh: Adi membeli buku di Gramedia.

8 Predikat (P) Predikat adalah bagian kalimat yang memberitahu melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku) dan biasanya berupa kata kerja (verba) dan kata sifat (adjektiva). Selain menyatakan tindakan atau perbuatan subjek, sesuatu yang dinyatakan oleh P dapat pula mengenai sifat, situasi, status, ciri atau jati diri S. Merupakan jawaban dari pertanyaan mengapa dan bagaimana. Contoh: Adi membeli buku di Gramedia.

9 Objek (O) Objek adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat (P). Letak O selalu dibelakang P yang berupa verba transitif, yaitu verba yang menuntut wajib hadirnya O. Ciri-ciri Objek: a) berupa kata benda; b) letak setelah predikat; c) bila kalimat dipasifkan menjadi subjek; d) jawaban dari pertanyaan Apa. Contoh: Adi membeli buku di Gramedia.

10 Pelengkap (Pel) Pelengkap atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat yang berupa verba. Letak Pel tidak selalu persis dibelakang predikat jika di dalam kalimat terdapat objek, sehingga urutan penulisan bagian kalimat kalimat: S –P –O – Pel. Ciri-ciri Pel: a) dapat berupa kata benda, verba, klausa; b) langsung berada di belakang verba intransitif; c) tidak dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif. Contoh: Anak-anak itu berlatih tae kwon do.

11 Keterangan (K) Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal tentang kalimat yang lainnya. Letak K bisa di awal, di tengah, atau di belakang. Keterangan dapat berfungsi menerangkan S, P, O dan Pel. Contoh: Adi membelikan Sari buku di Gramedia. Ibu memotong roti dengan pisau.

12 KETERANGAN (K) Didahului kata tugas sebagai berikut : Ket. Tempat : di, ke, dari Ket. Waktu : ketika, sebelum, pada, selama, dsb. Ket. Alat : dengan (gunting mobil, dsb). Ket. Tujuan : supaya, untuk, bagi, demi. Ket. Cara : secara, dengan (hati-hati, gigih, dsb). Ket. Penyerta : dengan (adiknya, dsb), bersama Ket. Pengandaian: seperti, bagaikan, laksana Ket. Kausatif : karena, sebab,

13 Berdasar ada / tidaknya objek Kalimat transitif : kalimat yang memiliki objek Contoh : Perampok itu memukul Tohir dengan balok. Nita menyapu halaman rumahnya. Kalimat intransitif : kalimat yang tidak mempunyai objek. Contoh : Paman berobat ke Jakarta Dia mengangguk-angguk saja.

14 1. Ayah Kresna menulis buku pelajaran. S P O 2. Kaosnya bergambarkan burung merpati. S P Pel 3. Kakak membelikan Anto buku pelajaran. S P O Pel Jika diperhatikan dalam kalimat di atas, fungsi objek (O) dan pelengkap (Pel) selalu di belakang predikat (P).

15

16 Contoh kalimat berobjek: 1.Paman mengecat dinding. 2.Alia sedang makan roti. 3.Anak itu sangat merindukan ibunya. Contoh kalimat berpelengkap: 1.Pejuang itu bersenjatakan bambu runcing. 2.Rossi menyerupai ibunya. 3.Ayah merupakan tulang punggung keluarga.

17 POLA KALIMAT DASAR Ayah pedagang. Ani mahasiswa. KB + KB Ahmad pergi. Adik belajar. KB + KK Temanku rajin. Sahabatku cantik. KB + KS Adikku dua orang. Kambingku lima ekor. KB + K Bil Ayah di rumah. Aris ke sekolah. KB + K Dep

18 Pola Dasar Kalimat S-P   Ayahku pedagang.   Dia sedang belajar S-P-O   Korban banjir menerima bantuan.   Ibu menasihati adik S-P-Pel   Ratna bermain piano   Kakiku tertusuk duri S-P-Ket   Kami tinggal di Lampung.   Saya kuliah di STBA Teknokrat.

19 Pola Dasar Kalimat S-P-O-Pel   Ibu mendendangkan adik sebuah lagu baru.   Rina membelikan kakek sepasang sepatu baru. 6. S-P-O-K   Dia mempelajari bahasa Cina selama dua tahun.   Ayah melukis pemandangan di atas kanvas. 7. S-P-O-Pel-K   Dewi mengirimi adiknya uang setiap bulan.   Saya memberi Andre sebuah buku tadi sore.

20 Kalimat Jumlah klausa tunggal majemuk setara bertingkat Kelengkapan unsur isi Susunan S + P Ada / tidak objek Berita / deklaratif Tanya / interogatif Perintah / imperatif Seru / eksklamatif mayor minor transitif taktransitif versi inversi

21 Berdasar jumlah Klausa : 1. Kalimat Tunggal   kalimat yang memiliki satu pola (klausa).   satu subjek, satu predikat, satu objek, dan keterangan. 2. Kalimat Majemuk   terdiri atas satu atau lebih kalimat tunggal (klausa) yang saling berhubungan baik koordinasi maupun subordinasi.

22 Perbedaan kalimat dan klausa Klausa : gabungan kata yang minimal memiliki unsur S + P dam merupakan bagian dari kalimat majemuk Contoh : Kalimat : Saya bekerja. Saya bekerja tetapi dia duduk-duduk saja. Klausa Bunga itu layu karena kamu tidak menyiramnya klausa klausa kalimat

23 KALIMAT MAJEMUK Kalimat majemuk adalah kalimat yangmempunyai dua atau lebih klausa. Terdiri dari: A. Majemuk Setara B. Majemuk Bertingkat.

24 A. Kalimat Majemuk Setara (KMS) Kalimat Majemuk Setara adalah : kalimat yang terdiri atas dua atau lebih klausa mandiri yang dihubungkan dengan kata penghubung setara ( dan; tetapi ; atau ; melainkan ) atau tanda koma. Contoh : Engkau tinggal di sini atau pergi dengan saya. SP K (S) PK

25 Kalimat Majemuk Setara Toko itu terbakar dan hanya sebagian kecil isinya S P S dapat diselamatkan P Aku duduk kembali dan pikiranku melayang SP S P ke kampung halamanku. K

26 B. Kalimat Majemuk Bertingkat Kalimat majemuk bertingkat adalah : kalimat yang terdiri dari atas sebuah klausa mandiri dan satu atau lebih klausa bawahan (anak kalimat) Beberapa kata penghubung kalimat majemuk bertingkat yang mengawali anak kalimat (Klausa bawahan) : Karena, sebab : menandai klausa keterangan yang menandai hubungan sebab. Ketika, manakala, sebelum, sesudah : klausa keterangan yang menandai hubungan waktu. Jika, kalau, bila : klausa keterangan yang menandai hubungan syarat. Supaya, agar : klausa keterangan yang menandai hubungan maksud. Meskipun, walaupun, biarpun : klausa keterangan yang menandai hubungan konsesif. Sehingga, maka : klausa keterangan yang menandai hubungan akibat. Bahwa: klausa benda yang mengisyaratkan hubungan sasaran (objektif).

27 Contoh kalimat majemuk bertingkat : Aku duduk di tanah setelah sampai di tepian danau. S P K (S) PK Struktur : S-P- Ket. Tempat – Keterangan Waktu (S) – P – K Dindingnya berlumut karena gardu itu tidak terawat. S P S P Struktur : S-P- Keterangan sebab S - P

28 Ketika ditanya, orang itu menjelaskan (S) PSP bahwa pesawat jatuh sekitar pukul satu siang. S P Ket. Waktu S P Ket. Waktu Struktur : Keterangan waktu - S-P- Objek (S) P SPK (S) P SPK

29 Kalimat Berdasarkan Isinya   Kalimat berita: menceritakan kejadian / keadaan Herman tidak ikut berdarmawisata karena tidak punya cukup uang.   Kalimat tanya : berisi pertanyaan Siapa yang terpilih menjadi ketua partai itu Mengapa kamu sampai terjerumus dalam pemakaian obat terlarang itu ?   Kalimat perintah: memberikan perintah untuk melakukan sesuatu Pergilah dari sini. (perintah langsung / kasar) Tolong, jangan ribut di ruangan ini ! (perintah halus) Biarkan dia bermain ! (pembiaran) Para peserta seminar dimohon memasuki ruangan ! (permohonan) Terimakasih untuk tidak merokok ! ( larangan halus) Ayolah kita belajar ! ( harapan)

30 Kalimat berdasarkan isinya   Kalimat seru : mengungkapkan perasaan/ emosi yang kuat Aduh, saya pusing memikirkan ulah anak saya ! Wah, kamu sungguh beruntung ! Bukan main pandainya kamu mempermainkan perasaan perempuan ! Hai, hari cerah begini masakan kamu tidur saja di rumah !

31 Berdasar kelengkapan unsurnya: Kalimat Mayor : kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur pusat (inti) Kalimat Minor : kalimat yang hanya mengandung satu unsur pusat (inti) Contoh kalimat mayor : o o Kakak membaca. o o Ia mengambil buku itu. Contoh Kalimat minor: o o Pulang ! o o Sangat mahal.

32 Kalimat Efektif Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar dan pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar dan pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis. Kalimat efektif dapat mengomunikasikan pikiran pembicara atau penulis kepada pendengar (pembaca) secara tepat dan jelas sehingga tidak akan terjadi keraguan, kesalahan komunikasi dan informasi, atau kesalahan pengertian. Kalimat efektif dapat mengomunikasikan pikiran pembicara atau penulis kepada pendengar (pembaca) secara tepat dan jelas sehingga tidak akan terjadi keraguan, kesalahan komunikasi dan informasi, atau kesalahan pengertian. Ciri-ciri Kalimat Efektif: 1) kesepadanan struktur; 2) keparalelan; 3) ketegasan; 4) kehematan; 5) kecermatan; 6) kepaduan; dan 7) kelogisan. Ciri-ciri Kalimat Efektif: 1) kesepadanan struktur; 2) keparalelan; 3) ketegasan; 4) kehematan; 5) kecermatan; 6) kepaduan; dan 7) kelogisan.

33 1) Kesatuan Pikiran   Setiap kalimat harus memperlihatkan kesatuan pikiran yang mengandung satu pikiran pokok.   Kesatuan kalimat ditandai oleh adanya kesepadanan struktur dan makna kalimat.   Kalimat secara gramatikal mungkin benar, tetapi maknanya salah.

34 Kesepadanan itu memiliki ciri-ciri antara lain: a) Kalimat itu mempunyai subjek dan predikat dengan jelas. Ketidakjelasan subjek atau predikat suatu kalimat, tentu saja membuat kalimat itu tidak efektif. Kejelasan subjek dan predikat suatu kalimat dapat dilakukan dengan menghindarkan pemakaian kata depan di, dalam, bagi, untuk, pada dan sebagainya di depan subjek. Contoh: Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Salah) Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah. (Benar)

35 b) Tidak terdapat subjek ganda. Contoh: Penyusunan laporan saya itu dibantu oleh para dosen. Soal itu saya kurang jelas. Kalimat-kalimat itu diperbaiki dengan cara: Dalam menyusun laporan itu, saya dibantu oleh para dosen. Soal itu bagi saya kurang jelas.

36 c) Kata penghubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal. Contoh: Kami datang agak terlambat. Sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. Perbaikan kalimat-kalimat ini dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan menjadikan kalimat itu kalimat majemuk dan kedua mengganti ungkapan penghubung intrakalimat menjadi ungkapan penghubung antarkalimat, sebagai berikut. Kami datang agak terlambat sehingga kami tidak dapat mengikuti acara pertama. atau Kami datang agak terlambat. Oleh karena itu, kami tidak dapat mengikuti acara pertama.

37 d) Predikat kalimat tidak didahului kata yang. Contoh: Bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu. Perbaikannya adalah: Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.

38 2) Kepaduan Yang dimaksud dengan kepaduan ialah kepaduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikan tidak terpecah-pecah. Kalimat yang padu tidak bertele-tele dan tidak mencerminkan cara berpikir yang tidak sistematis. Contoh: Surat itu saya sudah baca. Saran yang dikemukakannya kami akan pertimbangkan. Mereka akan membicarakan daripada kehendak rakyat. Makalah ini akan membahas tentang desain interior pada rumah-rumah adat. Perbaikannya adalah: Surat itu sudah saya baca. Saran yang dikemukakannya akan kami pertimbangkan. Mereka akan membicarakan kehendak rakyat. Makalah ini akan membahas desain interior pada rumah- rumah adat.

39 3) Kelogisan atau Penalaran Yang dimaksud kelogisan ialah ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan sesuai dengan ejaan yang berlaku. Contoh: Waktu dan tempat kami persilahkan. Untuk mempersingkat waktu, kita teruskan acara ini. Perbaikannya adalah: Bapak Menteri kami persilahkan. Untuk menghemat waktu, kita teruskan acara ini.

40 4) Kesejajaran Dua bentuk kata yang mewakili predikat terjadi dari bentuk yang berbeda, yaitu dibekukan Yang dimaksud dengan kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat itu. Artinya, kalau bentuk pertama menggunakan nomina, bentuk kedua dan seterusnya juga harus menggunakan nomina. Kalau bentuk kedua menggunakan verba, bentuk kedua juga menggunakan verba. Contoh: Harga minyak dibekukan atau kenaikan secara bertahap. Kalimat di atas tidak ada kesejajaran dibekukan dan kenaikan. Kalimat itu dapat diperbaiki dengan cara menyejajarjan kedua bentuk itu. Harga minyak dibekukan atau dinaikkan secara bertahap.

41 Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengawasan tata ruang. Kalimat di atas tidak memiliki kesjajaran karena kata yang menduduki predikat tidak sama bentuknya, yaitu kata pengecatan, memasang, pengujian, dan pengaturan. Kalimat itu akan baik kalau diubah menjadi predikat yang nominal. Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengawasan tata ruang.

42 5) Penekanan atau Ketegasan Penekanan atau ketegasan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Dalam sebuah kalimat ada ide yang perlu ditonjolkan. Ada berbagai cara untuk membentuk penekanan pada kalimat. a) Meletakkan kata yang ditonjolkan itu di depan kalimat (di awal kalimat). Contoh: Pembelian listrik swasta yang memberatkan PLN merupakan penyebab naiknya tarif dasar listrik di Indonesia. Penyebab naiknya tarif dasar listrik di Indonesia adalah pembelian listrik swasta yang memberatkan PLN.

43 b) Membuat urutan kata yang logis. Contoh: Bukan seribu, sejuta, atau seratus, tetapi berjuta-juta rupiah ia telah membantu anak-anak terlantar. Pencuri itu memasuki rumah sasaran, merusak pagar halaman, dan mencongkel jendela. Siapkan satu bungkus mi instan, rebus air hingga mendidih, masukkan mi ke dalam air mendidih, tuangkan bumbu ke mangkuk, tiriskan mi, dan masukkan ke mangkuk.

44 6) Kehematan Yang dimaksud dengan kehematan dalam kalimat efektif ialah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap perlu. Kehematan tidak berarti harus menghilangkan kata-kata yang dapat menambah kejelasan kalimat. Penghematan di sini mempunyai arti penghematan terhadap kata yang memang tidak diperlukan, sejauh tidak menyalahi kaidah tata bahasa.

45 Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan: 1) Penghematan dapat dilakukan dengan cara penghilangan subjek Contoh: Karena ia tidak diundang, dia tidak datang k tempat itu. Perbaikannya adalah: Karena tidak diundang, dia tidak datang k tempat itu. 2) Penghematan dapat dilakukan dengan cara menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponimi kata. Contoh: Ia memakai baju warna merah. Perbaikannya adalah: Ia memakai baju merah.

46 3) Penghematan dapat dilakukan dengan cara menggunakan bentuk singkat. Contoh: Anda yang tida berkepentingan tidak diperkenankan masuk. Presiden memberi teguran kepada peserta yang tertidur. Perbaikannya adalah: Anda yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Presiden menegur peserta yang tertidur. 4) Penghematan dapat dilakukan dengan cara tidak menjamakkan kata-kata yang berbentuk jamak. Contoh: Mereka mengambili buku-buku yang tercecer. Setelah fakta-fakta terkumpul dilakukan….. Perbaikannya adalah: Mereka mengambili buku yang tercecer. Setelah fakta terkumpul dilakukan…..

47 7) Kevariasian Untuk membuat kalimat yang tidak monoton dan menjemukan, diperlukan adanya variasi. Kevariasian dapat ditempuh dengan berbagai cara berikut. 1)Variasi penggunaan kata contoh: Pembicaraan itu membicarakan kenakalan mahasiswa. (monoton) Pembicaraan itu membahas kenakalan mahasiswa.(variatif)

48 2)Variasi dalam pembukaan kalimat a)Frasa keterangan tempat atau keterangan waktu diletakkan di awal kalimat. contoh: Dari desa yang terpencil ia merantau ke Bandung. b)Penggunaan frasa verbal : contoh: Merombak kendaraan tua adalah kegemarannya. c)Penempatan klausa anak kalimat : contoh: Ketika ujian berlangsung, mahasiswa itu jatuh sakit.


Download ppt "KALIMAT Pengantar: Bahasa bersifat Hierarki Fonem/Grafem Silabe/Suku Kata Morfem Kata Klausa Wacana Paragraf Kalimat Bac k Bac k Next."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google