Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

“COMPOUNDING AND DISPENSING” Prof. Dr. RA. Oetari, SU. Apt.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "“COMPOUNDING AND DISPENSING” Prof. Dr. RA. Oetari, SU. Apt."— Transcript presentasi:

1 “COMPOUNDING AND DISPENSING” Prof. Dr. RA. Oetari, SU. Apt.

2 “ PHARMACIST ARE UNIQUE PROFFESIONALS” Pharmacist roles ambulatory care, can include : Dispensing and compounding medications Counseling patients Minimizing medication errors Enhancing patient compliance Monitoring drug therapy Minimizing drug expenditures.

3 Compounding means : PreparationMixingAssemblingPackagingLabelling …..Of Drug or Device

4 Pharmacist is “LEGALLY” qualified to compound. a compounding pharmacist MUST : –Have access to the most recent information available. –Maintain an inventory for proper storage of drugs and flavoring agents and be capable of obtaining any chemically within a reasonable time.

5 Continue…… Be dedicated to pharmacy and willing to put forth the necessary financial and time investment. Have the appropiate physical facilities and equipment to do the job right ( the extent and type of compounding may be determined or limited by the facility ).

6 Continue………. Be committed to lifelong learning and continuing education, since a major advantage of compounded prescriptions is that they provide treatmens that are new, undeveloped, and often not commercially available. Have a willingness to tear down walls and build bridges to share experiences with others for the good of all.

7 Resep adalah permintaan tertulis dari dokter umum, dokter gigi, dokter hewan, dokter spesialis kepada apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat kepada pasien. Resep merupakan bagian hubungan yang profesional antara dokter, farmasis dan pasien. Farmasis tidak hanya sekedar meracik obat tetapi juga memberi informasi untuk meyakinkan pasien sehingga pasien akan patuh dalam minum obat.

8 FORM RESEP Resep biasanya ditulis dari form yang dicetak yang terdiri ruangan kosong untuk informasi. Biasanya dicetak nama, alamat, telepon, alamat RS/ Klinik pada sebelahnya. Blanko resep disediakan di apotek tanpa ditulis nama, alamat dokter, dapat disediakan kalau dokter telepon atau kalau dokter datang ke apotek untuk menulis resep

9 BAGIAN RESEP Inscriptio –Identitas dokter penulis resep, SIP, alamat, kota, tanggal dan R/ Praescriptio –Inti resep terdiri dari: Nama obat, bentuk sediaan obat, dosis, jumlah Signatura –Petunjuk pemakaian dan nama pasien Subscriptio –Tanda tangan atau paraf dokter

10 Contoh Form Resep (Goth,1978) : Nama Dokter Alamat Rumah Alamat Praktek SIP SIP Tanggal Kota,tanggal SuperscriptioR/ Inscriptio/Pr escriptio SubscriptioR.CardinaleR.Adjuvan Corrigen rasa, bau, warna Vehiculum Perintah pembuatan m f l a Dosis (mg,ml) Jumlah obat Signatura S.Aturan pemakaian obat Paraf/tanda tangan Nama pasien Alamat

11 APOGRAPH (salinan resep) Menurut Kepmenkes no.280 th 1981: Salinan resep adalah salinan yang dibuat apotek, selain memuat semua keterangan yang terdapat dalam resep asli harus memuat pula: nama dan alamat apotek, nama dan SIA, tanda tangan atau paraf APA, det/ detur untuk obat yang sudah diserahkan atau ne detur untuk obat yang belum diserahkan, nomor resep dan tanggal pembuatan.

12 Contoh Copi Resep/Apograph….. APOTEK FARMAGAMA Jl. Kolombo 345 jogjakarta Telp. (0274) Apoteker : Prof. Dr. Oetari SU.,Apt HP : No.SIK : 13560/Kanwil/FM- 1/XI/1991 A P O G R A P H No : Tgl. Tertulis tgl. : Dari dokter : Untuk : R/ R/ p.c.c p.c.c cap apotek Tanda tangan APA

13 Menurut Permenkes no. 922 th 1993 pasal 117 Salinan resep harus ditandatangani apoteker Resep atau salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep atau yang merawat penderita, penderita ybs, petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut peraturan perundangan yang berlaku

14 BAGIAN RESEP Nama dan alamat dokter, SIP Tanggal Informasi tentang pasien R/ =simbol = ambillah = superscription Obat yang ditulis = inscription Perintah pembuatan = subscription Aturan pakai = signatura Tandatangan Informasi pasien –Nama, alama, jenis kelamin –SpA: usia, berat badan,

15 Beberapa singkatan Bahasa Latin yang sering digunakan pada penulisan resep : SINGKATANKEPANJANGANARTI S.d.c.f. Signa da cum formula tandailah serahkan dengan formulanya S.b.d.,d.pulv.I. a.c. Signa bis de die pulverem unum ante coenam tandailah 2 X sehari 1 serbuk sebelum makan S.m. et v.gtt.l.o.d.s Signa mane et vespere guttam unam oculo dextro et sinistro tandailah tiap pagi dan sore 1 tetes pada mata kanan dan kiri. div. in part. eq. divide in partes equales bagi sama banyak gtt. auric Guttae auriculares Tetes hidung Gtt.nasal. Guttae nasales Tetes telinga S. collyr Signa collyrium Tandailah obat cuci mata S. b. d. d. C.1 Signa bis de die cochlear unum tandailah dua kali sehari satu sendok makan S. collut. or. Signa collutio oris tandailah obat cuci mulut S. o. m. caps.I Signa omni mane capsula unum tiap pagi satu kapsul S.haust.h.s. Signa haustus Nora somnitandailah minum sekaligus sebelum tidur tandailah minum sekaligus sebelum tidur s.u.c. Signa usus cognitus Tandailah,aturan pakai sudah tahu p.r.n pro renata Bila perlu S.i.m.m. Signa in manus medicus Tandailah serahkan pada dokter u.p. Usus propius Untuk pemakaian sendiri.

16 DASAR PERTIMBANGAN PENULISAN RESEP Agar tujuan pengobatan tercapai perlu diperhatikan: –Zat aktif dibuat bentuk sediaan yang cocok –Rute penggunaan yang cocok

17 PEMBERIAN OBAT PERLU DIPERTIMBANGKAN Efek apa yang dikehendaki Onzet yang bagaimana Durasi yang bagaimana Dilambung/ usus rusak tidak Rute relatif aman dan menyenangkan Harga murah

18 RUTE PENGGUNAAN OBAT Per oral ParenteralInhalasi Melalui selaput lendir –Selaput lendir mulut (sublingual,buccal) –Hipodermik (implantasi, vaginal) –Selaput mata (okulenta, guttae) –Selaput lendir hidung (gtt nassales, spray) –Selaput lendir telinga (gtt auriculares) –Selaput lendir anus (suppositoria) –Selaput lendir vagina (ovula)

19 Penggunaan topikal –Serbuk (bedak) –Sediaan basah: kompres, mandi –lotion/(suspensi) –Liniment –Semi padat: salep, krim, pasta, jelly –Aerosol: semprot

20 MONITOR OBAT DALAM TERAPI Efek obat yang dikehendaki –Meniadakan penyebab/ gejala –Mengganti/ menambah zat yang dibuat tubuh Efek obat yang tak diinginkan –Efek samping –Alergi –Efek toksik –Fotosensitasi –Efek teratogen –Idiosinkrasi –Efek pengulangan: Reaksi hipersensitif KumulasiToleransiTakhifilaksiHabituasiAdiksiresistensi

21 SK MENKES1027/MENKES/SK/IX/2004 PELAYANAN Pelayanan resep Promosi dan edukasi Pelayanan residensial (home care)

22 PELAYANAN RESEP Skrining resep Persyaratan administratif: nama, sip, alamat dokter, tanggal penulisan resep, tt/paraf dokter, nama alamat, umur, jenis kelamin, berat badan pasien, nama obat, potensi, dosis, jumlah yang diminta, cara pemakaian yang jelas, informasi laiinnya. Kesesuaian farmasetik: bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkomp, cara dan lama pemberian. Pertimbangan klinis: adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian (dosis, durasi, jumlah obat dll).

23 Continue…….. Penyiapan obat Peracikan: menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas, memberikan etiket pada wadah.Peracikan: menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas, memberikan etiket pada wadah. Etiket: jelas dan dapat dibaca.Etiket: jelas dan dapat dibaca. Kemasan obat yang diserahkan: rapi dalam kemasan yang cocok sehingga terjaga kualitasnya.Kemasan obat yang diserahkan: rapi dalam kemasan yang cocok sehingga terjaga kualitasnya. Penyerahan obat: sebelum diserahkan dilakukan pemeriksaan akhir. Penyerahan dilakukan apoteker disertai pemberian informasi dan konseling.Penyerahan obat: sebelum diserahkan dilakukan pemeriksaan akhir. Penyerahan dilakukan apoteker disertai pemberian informasi dan konseling.

24 Continue……. Informasi obat: Apoteker memberi informasi yang benar, jelas, mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis, bijaksana, dan terkini. Informasi meliputi: pemakaian obat, cara penyimpanan, jangka waktu pengobatan, aktivitas serta makanan minuman yang harus dihindari selama terapi. Konseling: tentang sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan sehingga memperbaiki kualitas hidup pasien. Monitoring penggunaan obat: terutama pasien DM, kardiovaskuler, TBC, asma, penyakit kronis lainnya.

25 . Resep Administrasi Legalitas Inkompatibilitas ScreeningFarmasetisSuspensi PGA/PGS/CMC Maximal Dose KlinisSediaan Lazim SpesialiteSinonimAlergiInteraksiIndikasi Pemberian Harga Penimbangan PenyiapanPeracikan Pemberian Etiket Recek / cek ulangPenyerahanInformasi

26 PROMOSI DAN EDUKASI Pharmacist harus aktif dalam menyampaikan promosi dan edukasi. Penyebaran informasi bisa dengan menggunakan media, antara lain : melalui leaflet, brosur, poster, penyuluhan langsung, dll.

27 Pelayanan Residensial (home care) Melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan ke rumah, Melakukan pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan ke rumah, Terutama untuk lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Terutama untuk lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan (medication record). Apoteker harus membuat catatan berupa catatan pengobatan (medication record).

28 Format kartu stok obat….. A-B-C-D-E-F-G-H-I-J-K-L-M-N-O-P-Q-R-S-T-U Z Format kartu stok obat….. A-B-C-D-E-F-G-H-I-J-K-L-M-N-O-P-Q-R-S-T-U Z Apotek FARMAGAMANama barang :………………. Jl.Colombo 345 ………………………………….. Yogyakarta,Tlp… PENERIMAANPENGELUARANSISA Tangg al PBF & NF Banyaknya / BN E.D. Harg a Tangg al Kepad a Banyakn ya

29 DOSIS Dosis atau takaran obat adalah banyaknya suatu obat yang dapat dipergunakan atau diberikan kepada seorang penderita, baik untuk obat dalam atau obat luar. Kecuali dinyatakan lain, yang dimaksud dosis maksimum adalah dosis maksimum dewasa untuk pemakaian melalui mulut, injeksi subkutan dan rektal. Dosis lazim tercantum dalam FI untuk dewasa dan anak yang merupakan petunjuk yang tidak mengikat.

30 MACAM-MACAM DOSIS Dosis terapi:takaran obat yang diberikan dan dapat menyembuhkan penderita Dosis minimum; takaran obat terkecil yang masih dapat menyembuhkan dan tidak menimbulkan resistensi Dosis maksimum: takaran obat terbesar yang masih dapat menyembuhkan dan tidak menimbulkan keracunan penderita Dosis toksik: takaran obat yang dapat menyebabkan keracunan penderita Dosis letalis: takaran obat yang menyebabkan kematian pada penderita

31 PERHITUNGAN DOSIS Faktor penderita: meliputu umur, bobot badan, jenis kelamin, luas permukaan tubuh, toleransi, habituasi, adiksi, sensitivitas, serta kondisi penderita Faktor obat: sifat kimia fisika obat, sifat farmakokinetik (ADME) dan jenis obat Faktor penyakit: sifat dan jenis penyakit

32 Secara pendekatan keamanan obat dinyatakan: Indeks Terapi Obat (IT) – IT = DL50/DE50 –DL50 = median dosis letal –DE50 = median dosis yang efek khusus Margin Dosis Keamanan (MDK) –MDK = dosis yang menimbulkan efek samping/dosis yang memberi terapi efektif –MDK digunakan untuk mengevaluasi keamanan dalam penentuan dosis

33 PERHITUNGAN DOSIS Berdasarkan umur Berdasarkan bobot badan Berdasarkan luas permukaan tubuh Dengan pemakaian berdasarkan jam

34 PERHITUNGAN DOSIS BERDASARKAN UMUR Rumus Young (untuk anak < 8 th) –Dosis = n(tahun)/n(tahun) +12 X dosis dewasa Rumrs Fried –Dosis = n(bulan)/150 X dosis dewasa Rumus Dilling –Dosis = n(tahun)/20 X dosis dewasa Rumus Cowling –Dosis = n(tahun)/24 X dosis dewasa –N = umur dalam satuan tahun yang digenapkan keatas. Misal pasien 1 tahun 1 bulan dihitung 2 tahun.

35 Rumus Gaubius (pecahan X dosis dw –0-1th = 1/12 X dosis dws –1-2th = 1/8 X dosisi dws –2-3th = 1/6 dosis dws –3-4th = 1/4 X doisis dws –4-7th = 1/3 X dosis dws –7-14th = 1/2 X dosis dws –14-20 = 2/3 X doisis dws –21-60th = dosis dws Rumus Bastedo –Dosis = n(tahun)/30 X doisis dws

36 PERHITUNGAN BERDASAR BOBOT BADAN Rumus Clark (Amerika) –Dosis = bobot badan (pon)/150 X dosis dws Rumus Thremich-Fier (Jerman) –Dosis = bobot badan anak (kg)/70 X dosis dws Rumus Black (Belanda) –Dosis = bobot badan anak (kg)/62 X doisis dws Rumus Junkker & Glaubius (paduan umur dan bobot badan) –Dosis = % X doisi dws

37 PERHITUNGAN DOSIS BERDASARKAN LUAS PERMUKAAN TUBUH Farmakologi –Dosis = luas permukaan tubuh anak/1,75 X dosis dewasa Rumus Catzel –Dosis = luas permukaan tubuh anak/luas permukaan tubuh dewasa X 100 X dosis dewasa

38 PERHITUNGAN DOSIS DENGAN PEMAKAIAN BERDASARKAN JAM FI Satu hari dihitung 24 jam sehingga untuk pemakaian sehari dihitung: –Dosis = 24/n X –N = selang waktu pemberian –Tiap 3 jam = 24/3 X = 8 X sehari semalam: Menurut Va Duin: pemakaian sehari dihitung 16 jam, kecuali antibiotik sehari dihitung 24 jam –16/3 +1X = 5,3 + 1 = 6,3 dibulatkan 7 X

39 DOSIS MAKSIMUM GABUNGAN Dosis = doiss1Xpemakaian a/DM a sekali + dosis b sehari pemakaian/ DM b sehari Ekstrak belladon dan sulfas atropin Pulvis doveri dan pulvis opium Untuk dosis maksimum yang mengandung sirup > 16,6% atau 1/6 bagian, bobot jenis dihitung 1,3 –Volume = barat/BJ

40 Format surat pesanan (SP) apotek…….. Apotek FARMAGAMAKepada Yth : Jl.Colombo 345 PBF…………………………….. Yogyakarta,Tlp…di……………………………… SP No :…………. SURAT-PESANAN Mohon dikirim obat-obatan untuk keperluan apotek sbb : Yogyakarta,…………… Apoteker Pengelola Apotek Nama/SIK………….. No Nama Obat JumlahKet.

41 PERACIKAN SEDIAAN OBAT YANG BAIK ASPEK FISIS KHEMIS –Derajad halus Griseovulfin 1-5 mikron –Bentuk kristal zat aktif Amorf: kloramfenikol palm. Lebih baik diabsorpsi dp kristal Penisilin G kristal lebih stabil dp amorf –Keadaan kimia obat Hidrat lebih lambat diabsorpsi dp zat anhidrat Dibuat kompleks denga EDTA, Mannitol, Hormon bentuk ester tidak dirusak asam lambung Tolbutamid Na kecep. Dissolusi X tolbutamid Kulit betametazon 17-valerat Zat tambahan –Alat dan keadaan fis,dapat berpengaruh kecepatan terlarut zat aktif

42 Format surat pesanan (SP) Psikotropika Apotek… APOTEK FARMAGAMA Jl. Kolombo 345 jogjakarta Telp. (0274) SURAT PESANAN PSIKOTROPIKA No : Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Prof.Dr. RA.Oetari, SU, Apt Alamat: Barek Gg.Kinanti 4C Telp.(0274) Yogyakarta Jabatan: Apoteker Pengelola Apotek Mengajukan Permohonan kepada : Nama Perusahaan: Alamat: Jenis Psikotropika sebagai berikut : Untuk keperluan apotek : Nama Apotek: FARMAGAMA Alamat :Jl. Kolombo 345 jogjakarta.Telp. (0274) Yogyakarta, Penanggung Jawab Nama APA / No SIK

43 Format surat pesanan (SP) Narkotika Apotek… SURAT PESANAN NARKOTIKA Yang bertanda tangan dibawah ini : Nama: Jabatan: Alamat rumah: Mengajukan pesanan Narkotika kepada : Nama distributor: Alamat&No.Telpon: Sebagai berikut : Narkotika tersebut akan dipergunakan untuk keperluan : ApotekLembaga……………………………………20……….Pemesan,(…………………………………)No.SIK………………………

44 Format Kartu Stelling Apotek………… Nama Obat :……… Kemasan :………. Tgl.+-Ttd.

45 Medication Error SOME COMMON CAUSES OF MEDICATION ERRORS : Failed communication Poor drug distribution practices problems Dose miscaculations Drug and drug device-related problems Incorrect drug administration Lack of patient education

46 FAILED COMMUNICATION Handwriting –Terutama yang namanya mirip: longatin – largactil, epatin – enatin, difenilhidantoin - difenilhidramin Drugs with similar names –Losec - Lasix Zerroes and decimal points –Vincristin 2.0 mg – 20 mg Metric and apothecary systems –Supaya ada standar –1/200 grain (0,3 mg) nitroglycerin tablet menggunakan 2x1/100 grain (0,6 mg masing-masing, atau 1,2 dosis total).

47 Continue…….. Ambiguous or incomplete orders Cyclophosphamide dosis 4 g, 1 – 4 hari, maksudnya 4 gram untuk total 4 hari ( 1 gram per hari, tetapi diberikan 4 gram per hari Abbraviations D/C – discharge and discontinue: digoxin, propranolol, insulin Pasien pulang, obat masih diteruskan, dikira pulang obat discontinue HS – half strength,. Pasien menerima HS – hora somni, hora somni dan full strength

48 POOR DRUG DISTRIBUTION PRACTICES Distribusi dengan satu unit doses adalah untuk mengurangi kesalahan dalam pengobatan, disiapkan, masuk wadah, diberi etiket dan dicek oleh farmasis dan diberikan oleh perawat kepada pasien dengan pengecekan tambahan untuk kepastian. Sekarang persediaan multiple-dose terswedia di bangsal dimana perawat dapat lansung menggunakan maka dapat terjadi salah vial. Menggunakan label umum dengan komputer dapat salah dibanding resep asli. Pelaksana yang tidak dididik

49 DOSE MISCALCULATIONS Biasanya terjadi pada obat yang digunakan pediatri dan sediaan yang digunakan intravenus. Perhitungan dosis dapat mengakibatkan kesalahan 10 kali lipat atau lebih.

50 PROBLEM RELATED to DRUGS and DRUG DEVICES Profesi kesehatan memebaca label tiga kali yaitu waktu mengambil, menggunakan dan mengembalikan. Labeling dan packaging menyebabkan medication errors.

51 INCORRECT DRUG ADMINISTRATION Walaupun dalam persiapan dispensing sudah benar tetapi masih kemungkinan terjadi kesalahan pada penggunaan obat. Untuk memperoleh pengobatan tepat pasien dengan tepat route dan tepat waktu adalah esensial. Pasien kadang kurang perhatian. Misal tetes mata, tetes hidung, tetes diminum; obat topikal diminum (vaginal tablet, suppositoria), enteral feeding dengan gasric tube diberikan iv

52 LACK of PATIENT EDUCATION Farmasis mendidik pasien secara profesional merupakan hal yang penting dalam meyakinkan penggunaan obat. Pasien yang tahu penggunaan obat untuk apa, cara pemakaian, seperti apa obat tersebut, bagaimana obat bekerja sangat membantu meminimalkan tidak terjadinya medication errors Kondeling dan edukasi tentang pengobatan dan semua pengelolaan obat dan penyakit sangat penting Pasien diusahakan untuk bertanya dan mendapat jawaban yang memuaskan

53 Adalah Obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter di Apotek, dan penyerahannya harus dilakukan oleh Apoteker (APA). perlu ditunjang adanya sarana yang dapat meningkatkan pengobatan sendiri secara tepat, aman dan rasional Perlu peningkatana penyediaan obat yang dibutuhkan dan menjamin penggunaan obat secara tepat, aman dan rasional Peran APA dalam KIE perlu ditingkatkan Perlu ditetapkan OWA

54 PELAYANAN OWA Memenuhi ketentuan dan batasan tiap jenis obat Membuat catatan pasien serta yang telah diserahkan Memberikan informasi meliputi dosis dan aturan pakainya, kontraindikasi, efek samping dan lai-lain yang perlu diperhatikan oleh pasien

55 OBAT WAJIB APOTEK (OWA) DAFTAR OWA NO 1 –347/MENKES/SK/VII/1990 DAFTAR OWA NO 2 –924/MENKES/PER/X/1993 DAFTAR OWA NO 3 –1176/MENKES/SK/X/1999

56 DAFTAR OWA NO 1 DAFTAR OWA NO 1 Oral kontrasepsi Obat saluran cerna Obat mulut dan tenggorokan Obat saluran napas Obat yangmempengaruhi sistem neuromuskuler Antiparasit Obat kulit topikal

57 DAFTAR OWA NO 2 34 item tambahan obat-obat

58 DAFTAR OWA NO 3 Saluran pencernaan dan metabolisme Obat kulit Antiinfeksi umum Sistem muskuloskeletal Sistem saluran pernafasan Organ-organ sensorik

59 OWA 3 YANG DIKELUARKAN Obat saluran cerna + psiko -- dengan resep Obat mulut dan tenggorokan -- heksetidin--obt Obat saluran napas obat asma: aminofilin, sekretolitik/ mukolitik -- bromheksin Obat yang mempengaruhi neuromuskuler :analgetik antipiretik: glafenin, metampiron + klordiazepoksid/ diazepam Antiparasit: obat cacaing mebendazol Obat kulit topikal: antifungi tolfaftat

60 ALASAN DIKELUARKAN DARI OWA 1. Obat yang mengandung psikotropika, karena UU psikotropika menyebutkan bahwa psikotropika hanya dapat diberikan dengan resep dokter 2. OWA jadi lingkar biru atau hijau: –Efek samping ringan –Frekuensi penggunaan sering –Masyarakat sudah makin pandai/ tahu tentang obat

61 ADR & INTERAKSI OBAT

62 Faktor-faktor formulasi yang tidak dikehendaki ADR bahan tambahan ADR sediaan parenteral ADR transit bentuk sediaan oral Sifat fisis Interaksi obat Obat - obat Obat - makanan Obat - herbal

63 PENDAHULUAN Eksipien = bahan tambahan = ajuvan ZA + ajuvan --- memudahkan formulasi --- sediaan seragam, stabil, cocok, karakteristik fisika kimia, pelepasan dan enak dipakai Eksipien -- dulu bahan inert, inaktif, tidak toksik - - sekarang bukan bahan inaktif, merupakan bahan terbesar, kemungkinan terjadi interaksi, akan merubah bioavailabilitas ZA, penyebab ADR.

64 KASUS elixir sulfanilamid, 72% dietilenglikol yang toksik, 76 meninggal keracunan fenetoin di Autralia, pengisi CaSO4 --- laktosa --- bioavailabilitas meningkat rifampicin + PAS (granul + bentonit) -- absorpsi Rifampicin turun -- efek turun digoksin -- ukuran partikel -- bioavalibilitas naik, efek naik, pasien jantung -- over digitalisasi indometazin + osmosin -- tertimbun dalam intestin -- ulser/ lubang dalam usus.

65 1. ZAT WARNA: TARTRAZIN (FDC Yellow 5) Untuk makanan, kosmetika dan obat: kortikosteroid --- bintik- bintik merah Alergi (pruritus, urticaria, oedem pada bibir, lidah, anak lidah, asmatis), iritasi konjuctiva, sekresi nasofarengeal, headache, vomit, palpitasi, anafilaksi, hipersensitif pada anak. Dicantumlan pada label: oral, rektal, vaginal, nasal.

66 ZAT WARNA TERAPEUTIK AKTIF TIDAK TERMASUK KATEGORI BAHAN TAMBAHAN Indigo karmyn Merah kongo Metilen biru Gentian violet Brilian hijau flourescein

67 2. FLAVOUR Minyak kayu manis dan sinamil aldehid Menyebabkan alergi Dalam pasta gigi menyebabkan cholitis, stomatitis, belahan pada bibir Pada salep (ol cinnamomi) --- dihilangkan

68 3. GULA, PEMANIS BUATAN, FLAVOUR 1. Laktosa 2. Sukrosa dan glukosa 3. Pemanis buatan: Siklamat, sakarin, sorbitol, aspartam

69 LAKTOSA Laktosa sebagai pengisi/ pengencer -- tablet, kapsul, poeder -- merupakan bagian terbesar Kalau absorpsi kurang bagus dapat menyebabkan : kram perut, diare, flatulen, kembung, vomit Disebabkan efek osmotik dan fermentasi laktosa -- terbentuk asam laktat + CO2 Pengatasannya: sediaan bebas laktosa: susu LLM (Low Lactose Milk), Morinaga NL (Non Lactose)

70 SUKROSA DAN GLUKOSA Biasanya digunakan dalam sediaan cair -- 80% Tablet chewable Efek samping: penderita DM, karies (penyakit kronis: asma, epilepsi) > 6 bulan, plaque, inflamasi gingivale Pengobatan –sirup-- 44 anak karies, 15 dicabut –Tablet anak karies, tak ada dicabut

71 PEMANIS BUATAN: SIKLAMAT, SAKARIN, SORBITOL, ASPARTAM 1970, Amerika melarang untuk makanan, minuman, obat karena menyebabkan kanker kandung kemih Siklamat dan sakarin --- sel malignan kandung kemih pada percobaan pada tikus, mencit, hamster --- gagal menjelaskan karsinogenesis Sakarin --- dicurigai karsinogenesis, alergi (urticaria) Sorbitol: manisnya 1/2 sukrosa, untuk DM, efek samping flatulen, diare, kembung Aspartam: dari tanaman, paten: Diasweet, Equal

72 4. ZAT PENGAWET (PRESERVATIF) Paraben : bakteriostatik & fungisid –Krem, lotion, sabun, face powder, kosmetik, sirup, soft-drink, susu, bahan konveksi Klorasetamide : body lotion Klorokresol Asam sorbat Fenilmerkuri nitrat: tm, salep, vaksin –Glaukoma + pilokarpin --- keratopati -(iritasi, fotofobia, lakrimasi) -- EDTA (chelating agent Tiomersal : vaksin, tuberkulin Triklosan : kosmetik, sabun, deterjen

73 5. KOMPONEN DALAM SALEP, KRIM, FORMULASI TOPIKAL LAINNYA Basis –Lanolin –Petrolatum (vaselin) -- hiperpigmentasi & dermatitis kronis (Daryantulle, sofratulle) –Peg BM ) kasus alergi –Minyak sesami Surfaktan –Anionik -- Na laurilsulfat -- iritasi –Trietanolamin + asam lemak (stearat, oleat) -- sabun -- pengemulsi -- eksim –Nonionik: span 80, tween 40, 80, arlacel 83, gliseril monostearat --- iritasi hanya beberapa kasus

74 6. ALKOHOL Etanol : sebagai soven –Bahaya pada pasien alkoholisme –Alkohol -- asetaldehid naik dalam darah –ADR hipotensi, nausea, vomit, sweating, headche, tachicardi, facial flushing Benzil alkohol : sebagai preservatif –Paraglagia, neurotoksisiti –IV pada infant -- fatal poisoning Isopropil alkohol : sebagai antiseptik –Pasien DM menggunakan 70% isopropil alkohol terjadi alergi --- ganti etilalkohol 70%

75 DRUG INTERACTIONS Drug - drug interactions Drug - food interactions Drug - herb interactions

76 BEBERAPA DASAR MEKANISME INTERAKSI Apa itu interaksi obat? Apakah akibat dari interaksi obat? Seberapa serius inetraksi perlu diperhatikan dan ditangani? Mekanisme interaksi obat Kesimpulan

77 APA ITU INTERAKSI OBAT Interaksi adanya perubahan efek karena obat lain, makanan, minuman atauzat kimia lainnya Peningkatan toksisitas: terjadi pendarahan: –warfarin + azopropazon –Warfarin + fenilbutazon Efek berkurang: –warfarin + rimfapicin, –tetrasiklin + antasida/ susu Interaksi menguntungkan: –antihipertensi + diuretik –sulfamethoxazol + trimetoprim

78 APAKAH AKIBAT INTERAKSI OBAT? Makin banyak obat yang digunakan pasien akan semakin besar terjadi reaksi yang merugikan 7% yang mendapat macam obat, 40% yang mendapat obat, peningkatan tidak sebanding Insiden lebih tinggi pada pasien dewasa karena adanya faktor umur dimana fungsi ginjal dan hepar mulai menurun 77 potesial interaksi hanya 6,4% ADR

79 SEBERAPA SERIUS INTERAKSI PERLU DIPERHATIKAN/ DITANGANI Resiko mengobati pasien lebih dari 1 macam obat pada saat yang sama Perlu diketahui ada beberapa obat berinteraksi dengan beberapa pasien tapi tidak pada yang lainnya. 2 obat berpotensi berinteraksi: –solusi: diganti alternatif yang tidak berinteraksi, dimonitor dengan baik, dosis diatur, pengurangan dosis, efek juga akan berkurang Cimetidin menghambat metabolisme warfarin bila dosis dikurangi, kalau tdosis tinggi mungkin terjadi Isoniazid menaikkan kadar phenytoin sampai kadar toksik terutama untuk pasien yang asetilator lambat untuk isoniazid Pasien mempunyai variabel dalam memberikan reaksi, perlu daftar/ dokumen interaksi obat

80 MEKANISME INTERAKSI OBAT Banyak obat yang berinteraksi 1 macam interaksi tetapi dapat 2 atau lebih mekanisme inetraksi Interaksi farmakokinetik Interaksi farmakodinamik

81 Adiktif/ sinergis/ campuran Antagonis/ berlawanan Interaksi terhadap perubahan dalam mekanisme transport Interaksi yang menyebabkan gangguan keseimbangan elektrolit dan cairan

82 Interaksi farmakokinetik Absorpsi –Efek perubahan pH gastrointestinal –Adsorpsi, kelat, mekanisme komplek lai –Perubahan motilitas gastrointestinal –Malabsorpsi karena obat Interaksi perpindahan obat (ikatan protei Interaksi metabolisme obat (biotransformasi) –Induksi enzim –Inhibisi enzim –Perubahan aliran darah yang melewati hati Interaksi yang berkaitan dengan perubahan ekskresi –Perubahan pH urin –Perubahan ekskresi aktif tubuler ginjal –Perubahan aliran darah di ginjal –Ekskresi empedu dan siklus enterohepatik

83 …………….

84 Principles of prescribing drugs for infants and children Is drug terapy required. If drug terapy is required, which drug is appropriate. Which route of administration and preparation. Estimation of drug dosage. Duration of treatment. Compliance, medication instructions and education about disease.

85 Paediatri Drug Delivery System Inactive Ingredients Excipients cause ADR : benzyl alcohol.Excipients cause ADR : benzyl alcohol. Dyes : tartrazine.Dyes : tartrazine. Sweeteners : sucrose, sorbitolSweeteners : sucrose, sorbitol Vehicle Selection EthanolEthanol<6—0,5% 6-12 < 5% >12 th-- 12 th--<10%

86 Continue…. Paediatri Drug Delivery System Administration Oral administration : <5 th, tidak bisa menelan - liquid – unstable, ED pendek.Oral administration : <5 th, tidak bisa menelan - liquid – unstable, ED pendek. Rectal administration : absorpsi variabel, dosis tidak flexibel untuk dosis tertentu.Rectal administration : absorpsi variabel, dosis tidak flexibel untuk dosis tertentu. Transdermal administration : absorpsi berlebihan – toksik.Transdermal administration : absorpsi berlebihan – toksik. Parenteral administration : otot kecil, perfusi tidak cukup pada im.Parenteral administration : otot kecil, perfusi tidak cukup pada im.

87 INACTIVE INGREDIENTS Inactive ingredients – excipients. Selecting excipients is complex. Hospitalized – oral & parenteral. Seriousevents : low birth, weight, neonatus, asthmatics, diabetics. Table of list the excipients that reported cause ADR in pediatri. Benzyl alcohol, propylen glycol, lactose, polysorbates are associated with dose-related toxic reactions.. 1,5% benzyl alcohol as preservative have caused metabolic acidosis, cardiovaskular, collaps. And death in low bieth. Weightpremature neonate and infant. (mmaturity of hepatic and renal function )

88 . Azo-dyes tartrazine (FDC yellow 5)~potential danger. FDC 5&6 ~ hypersensitivity reactions. Tartrazine ~ induced bronchocontriction commonly considered a cross-reaction to aspirin in sensitive asthmatic. Urticaria Azo dyes suggests caution when using a drug contining an azo dye in asthmatics. Non-azo dyes are considered to be weak sensitizers

89 SWEETENERS (increase & palatability) Sucrose –Chewable tablets 20-60%. –Liquid ~85% –107 antibiotic syrup ~4 free. –Long term therapy (asthma) ~significant problem : labile diabetes, dental caries formation.

90 Sweeteners Continue……… Sorbitol : polyhidric alcohol –129 oral liquid ~ 42% –Concentration 3,5-72% –Low cariogenic potential ~is not fermented by salivary bacteria. –Doesn’t require insulin for metabolism. –Intolerance : abdominal cramping, diarrhea (osmotic diarrhea)

91 Sweeteners Continue…….. Saccharine –300 X sucrose –Chewable tablet 7 of 9 –Liquid 74 of 150 –Bladder cancer ~<1 g/day

92 VEHICLE SELECTION Etanol –Solvent –Preservatif –Flavouring –Inhance the oral absorption of active ingredient. –Hepatic metabolism~nonlinier –Young Children~a limited ability to metabolize ~intoxication –<6 years < 0,5% –6-12 < 5% –>12 ~ 12 ~ < 10%.

93 BENTUK SEDIAAN UNTUK PEDIATRI PER ORAL PER RECTAL TRANSDERMALPARENTERAL MELALUI PARU-PARU

94 PER ORAL Per oral – sangat disenangi. < 5 tahun sulit menelan ~ cair- tidak stabil, ED pendek. > 3tahun ~ tablet kunyah Perlu diperhatikan : –Bau –Rasa –Tekstur –Rasa yang tinggal –warna

95 PER RECTAL Pemberian melalui jalur ini menimbulkan variasi kecepatan dan jumlah absorpsi obat pada anak- anak. Ketidak fleksibelan dosis menyebabkan rute pemberian ini sebaiknya tidak digunakan pada pasien pediatri.

96 TRANSDERMAL Stratum korneum sudah berkembang sangat sempurna pada saat kelahiran dan mempunyai permeabilitas yang sama dengan orang dewasa, kecuali umur <1 bulan. Pada neonatus dan inflant, barrier epidermis belum berkembang, sehingga terjadi absorpsi yang berlebihan dari zat yang berpotensi toksik jika digunakan pada kulit.

97 PARENTERAL Absorpsi obat lewat intra muskular sangat tidak menentu pada neonatus, karena, massa otot mereka yang kecil dan perfusi dalam intramuskular yang tidak cukup. Volume yang diinjeksikan menyebabkan rasa sakit dan tidak enak.

98

99

100

101

102

103

104 …………..


Download ppt "“COMPOUNDING AND DISPENSING” Prof. Dr. RA. Oetari, SU. Apt."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google