Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Yohanes Widodo, S.Sos, M.Sc Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UAJY.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Yohanes Widodo, S.Sos, M.Sc Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UAJY."— Transcript presentasi:

1 Yohanes Widodo, S.Sos, M.Sc Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UAJY

2 Perkenalan Saya  Yohanes Widodo, S.Sos, M.Sc  Nickname: Masboi    Blog:  FB: facebook.com/masboi  Ayah seorang puteri bernama Anjelie  S1: Ilmu Komunikasi UAJY  S2: Applied Communication Science, Wageningen University, NL  Pendiri SKM PASTI, Redaksi TEROPONG, Ketua SEMA FISIP  Bekerja di Radio Sonora Palembang  Pendiri Radio Internet  Dosen Jurnalisme, Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UAJY, mulai 4 Januari 2010

3 Ilmu Komunikasi dan Jurnalistik  Dalam Ilmu Komunikasi, jurnalistik masuk dalam domain kajian komunikasi massa. Komunikasi massa mempunyai beberapa karakteristik, yaitu: (1) termediasi (intermediate transmitter); (2) komunikator melembaga (institutionalized); (3) pesan bersifat public; (4) komunikannya publik dan anonim (anonimous); (5) feedbacknya bersifat tertunda (delayed); (6) proses penerimaan pesannya serempak; (7) cenderung bersifat satu arah; dan (8) memiliki proses gate keeping.

4 Jurnalistik  Cabang Ilmu Komunikasi yang mempelajari keterampilan mencari, mengumpulkan, menyeleksi, dan mengolah informasi (peristiwa) serta menyajikannya kepada khalayak melalui media massa (cetak dan elektronik).  Keahlian dan keterampilan seseorang dalam mencari, mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan berita, karangan, atau artikel kepada khalayak seluas-luasnya dan secepat- cepatnya (Adinegoro)  A whole process of gathering facts, writing, editing and publishing news (Richard Weiner ).  Pekerjaan mengumpulkan, menulis, mengedit, dan menerbitkan berita dalam surat kabar, dan sebagainya (KKBI).  Kegiatan jurnalistik selalu terkait dengan berita, sejak dari pengertian mengenai berita, cara pengumpulan berita, serta teknik penulisannya.

5 Jurnalisme  Jurnalisme adalah bentuk kegiatan dari jurnalistik.  Pelaku jurnalisme ialah jurnalis atau wartawan.  Wartawan melakukan tiga kegitan: mengumpulkan (reporting), menulis (writing), dan mengedit (editing).  Reportase (reporting): upaya pengumpulan informasi baru, penting, dan relevan yang menarik untuk diketahui masyarakat.

6 Sembilan Elemen Jurnalisme Jurnalisme harus:  memiliki kewajiban pertama pada kebenaran.  memiliki loyalitas pertama pada warga masyarakat.  memiliki kedisiplinan dalam melakukan verifikasi.  menjaga independensi dari sumber berita.  memfungsikan dirinya sebagai pemantau independen atas suatu kekuasaan tertentu.  menyediakan forum bagi kritik dan komentar publik.  mengupayakan hal yang penting menjadi menarik dan relevan.  menjaga agar setiap berita komprehensif dan proporsional.  membolehkan praktisinya untuk menggunakan nuraninya (Kovach dan Rosenstiel, 2004).

7 Apa itu Berita?  Any printable story which in the opinion of the editor will interest the readers of his paper or the audience of his broadcast (Thomas Elliot Barry )  Information which people urgently need (Turner Catledge).  A thorough and timely account of significant event (Thomas M.Pasqua).  Reports of anything timely which has importance, use, or interesting to a considerable number of persons in the publication’s audience (Edmund C.Arnold)  Laporan tentang fakta, peristiwa/pendapat dan yang dipublikasikan secara luas melalui media massa periodik (YB. Wahyudi).

8  Berita adalah informasi baru dan penting mengenai suatu peristiwa, keadaan, gagasan, atau manusia yang menarik untuk diketahui masyarakat.  Berita adalah peristiwa yang dilaporkan. Peristiwa adalah kejadian yang telah berlangsung. Secara teknis, berita baru muncul hanya setelah dilaporkan. Segala hal yang diperoleh di lapangan dan masih akan dilaporkan, belum merupakan berita, melainkan baru sekedar peristiwa.

9 Peristiwa  Berdasarkan timing (waktu terjadinya):  (1) Scheduled Event: peristiwa yang terencana atau terprediksikan hampir secara pasti.  (2) Non-Scheduled Event: peristiwa yang masih berhubungan dengan scheduled event tetapi yang diulas/diberitakan bukan scheduled event itu sendiri.  (3) Unscheduled Event: peristiwa yang sama sekali tidak terprediksikan terjadinya.

10 Fakta  Bahan mentah berita dan menjawab enam pertanyaan dasar (5W 1H).  What: apa yang terjadi,  When: bilamana itu terjadi,  Where: dimana itu terjadi,  Who: siapa yang terlibat,  How: bagaimana itu terjadi,  Why: mengapa itu terjadi

11  Wartawan yang menonton dan menyaksikan peristiwa belum tentu telah menemukan peristiwa.  Wartawan sudah menemukan peristiwa setelah ia memahami proses atau jalan cerita, yaitu tahu APA yang terjadi; SIAPA yang terlibat; kejadiannya BAGAIMANA, KAPAN, dan DI MANA itu terjadi (prinsip 5W+1H).  Keenam itu yang disebut unsur berita.

12  Metode penggalian fakta maupun penulisan kembali elemen-elemen fakta tersebut pada dasarnya sangatlah tergantung pada realitas yang menjadi obyeknya.  Secara umum, ada dua kategori realitas: 1. Realitas psikologis : berkaitan dengan realitas pewacanaan pendapat narasumber (opinion bukan event) 2. Realitas sosiologis : berkaitan dengan realitas berupa “peristiwa” (event bukan opinion).

13 Nilai Berita (News Value)  Tidak setiap kejadian bisa dijadikan berita. Ada parameter tertentu yang harus dipenuhi agar suatu kejadian dalam masyarakat dapat diberitakan pers.  Parameter ini disebut sebagai news worthiness (kelayakan berita) yang secara operasional dapat ditelusur dari news values (nilai berita) yang terkandung dalam realitas tersebut, meliputi: 1. Significance: kejadian yang berkemungkinan mempengaruhi kehidupan orang banyak/berakibat terhadap kehidupan pembaca. 2. Magnitude: kejadian yang menyangkut kuantitas yang berarti bagi kehidupan org banyak/ impikasinya dikuantifikasi menarik perhatian.

14 3. Timeliness: kejadian yang menyangkut kebaruan 4. Proximity: kejadian yang dekat secara emosional maupun lokalitas-geografis dengan kehidupan pembaca. 5. Prominence: menyangkut keterkenalan 6. Human Interest: kejadian yang menyentuh perasaan pembaca.

15 Pertimbangan lain  Nilai berita:  Magnitude  Relevance  Important  Interesting  Nilai tanggung jawab nasional  Simplification  Predictability  Unexpectedness  Continuity and follow up  Personalitas/tokoh  Negativity  Curiosity  Understandable  Actuality and balance  Communication needs

16 Kriteria Layak Tempo 1. Kehangatan, sedang dibicarakan di publik (bobot: 10); 2. Tokoh, menyangkut orang terkenal (bobot:10); 3. Magnitude, skala besarnya masalah (bobot:10); 4. Pertama kali terjadi (bobot:10); 5. Relevansi, berkaitan dengan dampak berita terhadap public (bobot:9); 6. Eksklusif, media satu-satunya yang mendapat bahan liputan tersebut (bobot: 8); 7. Dramatis (bobot: 8); 8. Misi, menyebarluaskan demokratisasi, pluralisme (bobot: 8); 9. Prestisius, misalnya wawancara dengan tokoh yang susah ditemui, penting atau fenomenal (bobot:8); 10. Human Interest, kisah-kisah menginspirasi dan menyangkut kemanusiaan (bobot: 8); 11. Tren, perkembangan yang terjadi di masyarakat menyangkut gaya hidup atau fenomena sosial (bobot:7); 12. Unik, sesuatu peristiwa yang tidak lazim terjadi (bobot: 7); 13. Angle lain, misalnya sebuah peristiwa yang sudah banyak dikupas ternyata ditemukan angle lain yang menarik (bobot: 7).

17 Format Pengemasan Berita Dikategorikan menjadi dua:  (1) News Bulletin: format pemberitaan yang sangat memperhitungkan actuality atau time concern. Dikemas secara singkat, tidak detail.  (2) News Magazine: format pemberitaan yang timeless. Dikemas dalam format panjang, detail featuris atau bahkan in-depth.

18 Kategorisasi News Bulletin (1) Berita Langsung (Straight/Hard/Spot News)  Menyampaikan kejadian-kejadian penting yang secepatnya perlu diketahui oleh pembaca.  Straight: unsur-unsur terpenting dari peristiwa tersebut harus sesegera mungkin disampaikan kepada pembaca.  Spot: wartawan berada/berhadapan langsung dengan peristiwa yang dilaporkan.  Hard: peristiwa yang dilaporkan adalah hal-hal yang sangat krusial, mengejutkan atau mendadak atau berdampak besar.  Aktualiatas: unsur penting dari berita langsung  tidak hanya menyangkut waktu tetapi juga sesuatu yang baru diketahui/ ditemukan (cara baru, ide baru, penemuan baru, dll)

19 (2) Berita Ringan (Soft News):  Tidak mengutamakan unsur ‘penting’ melainkan unsur ‘menariknya’.  Kejadian yang diangkat lebih dilihat pada unsur manusiawinya.  Bahan yang ditulis sebgai berita ringan adalah elemen-elemen kejadian di tingkat permukaannya, tidak perlu melacak latar belakangnya.  Unsur menarik dalam sebuah berita ringan ini lebih ditujukan untuk sekedar menyentuh emosi pembaca/pemirsa: keterharuan, kegembiraan, kasihan, kegeraman, kelucuan, kemarahan dan lain-lain lewat kejadian-kejadian konyol (komedi), dramatis, kontroversial, tragis/unik.

20 Dua varian berita ringan: (1) Berita ringan yang kejadiannya menjadi sampiran (side bar) dari peristiwa penting yang diberitakan lewat berita langsung. (2) Berita ringan yang kejadiannya berdiri sendiri sehingga tidak terkait dengan suatu peristiwa penting yang bisa dituliskan sebagai berita langsung.

21 Kategorisasi News Magazine (3) Berita Kisah (Feature):  Laporan kreatif yang ditujukan untuk menyentuh perasaan, menambah pengetahuan lewat penjelasan, rinci, lengkap serta mendalam (komprehensif).  Karangan faktual menarik dan juga menghibur mengenai peristiwa, persoalan, pikiran, proses, perkembangan, atau profil perseorangan yang aktual.  Disajikan dengan gaya menulis yang lincah dan ‘cerdas kata’ (word smart). Nilai feature terletak pada unsur manusiawi dan dapat menambah pengetahuan pembaca.  Bahasa yang digunakan biasanya cenderung prosaic. Feature tidak terikat oleh aktualitas.

22 Jenis Feature  Profil feature menceritakan perjalanan hidup seseorang, bisa pula menggambarkan sepak terjang orang tersebut dalam suatu kegiatan dan pada kurun waktu tertentu. Profil feature tidak hanya cerita sukses saja, tetapi juga cerita kegagalan seseorang. Tujuannya agar pembaca dapat bercermin lewat kehidupan orang lain.  How to do it feature adalah berita yang menjelaskan agar orang melakukan sesuatu. Informasi disampaikan berupa petunjuk yang dipandang penting bagi pembaca. Misalnya petunjuk berwisata ke Pulau Bali. Dalam tulisan itu disampaikan beberapa tips prakatis rute perjalanan (darat, laut, udara), lokasi wisata, rumah makan dan penginapan, perkiraan biaya, kualitas jalan, keamanan, dan lain-lain.

23  Science feature adalah tulisan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai oleh kedalaman pembahasan dan obyektivitas pandangan yang dikemukakan, menggunakan data dan informasi yang memadai. Feature ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dimuat di majalah teknik, komputer, pertanian, kesehatan, kedokteran, dan lain-lain. Bahkan surat kabar pun sekarang memilikirubrik Science Feature.  Human interest feature merupakan feature yang menonjolkan hal-hal yang menyentuh perasasaan sebagai hal yang menarik, termasuk di dalamnya adalah hobby dan kesenangan. Misalnya orang yang selamat dari kecelakaan pesawat terbang dan hidup di hutan selama dua minggu. Kakek berusia 85 tahun yang tetap mengabdi pada lingkungan walaupun hidup terpencil dan miskin.

24 (4) Laporan Mendalam (In-depth Reporting):  Digunakan untuk melaporkan sebuah permasalahan/kenyataan secara lebih lengkap dan berusaha mengungkap jawaban menyeluruh atas enam pertanyaan dasar: apa, dimana, bilamana, siapa, bagaimana, mengapa.  Reporter menekankan pengumpulan bahan untuk menjawab bagaimana, mengapa dan juga dampak suatu peristiwa atau keadaan. Satu ukuran berita berkedalaman sudah menyajikan jawaban menyeluruh ialah bilamana tak ada lagi pertanyaan muncul di benak pembaca.

25  Proses peliputan laporan mendalam biasanya dilakukan melalui model peliputan interpretive atau investigative. Model peliputan interpretif dipergunakan jika wartawan berhadapan dengan serangkaian peristiwa yang harus ditafsirkan keterkaitan logisnya.  Model peliputan investigatif digunakan ketika ada sejumlah pihak menutupi kejadian sebenarnya atau menyembunyikan sejumlah fakta mengenai topik yang menyangkut kepentingan umum, terutama bila ada indikasi perbuatan salah yang merugikan public dan ada upaya menutup-nutupi perbuatan tersebut.

26 Bahasa Jurnalistik  Bahasa jurnalistik adalah bahasa yang digunakan oleh jurnalis dalam menulis berita. Bahasa jurnalistik bersifat khas, yaitu singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar, dan jelas.  Terdapat empat prinsip retorika tekstual bahasa jurnalistik yaitu (1) prinsip prosesibilitas (mudah dipahami pembaca); (2) prinsip kejelasan (menghindari ambiguitas); (3) prinsip ekonomi (menggunakan teks yang singkat tanpa merusak dan mereduksi pesan); (4) prinsip ekspresivitas (teks dikonstruksi berdasarkan aspek-aspek pesan).

27 Panduan Penulisan Berita  Tulislah berita yang menarik dengan menerapkan gaya bahasa percakapan sederhana. Tulislah berita dengan lead yang bicara. Untuk menguji lead Anda ‘berbicara’ atau ‘bisu’, cobalah dengan membaca tulisan yang dihasilkan. Jika anda kehabisa nafas dan tersengal- sengal ketika membaca, maka lead Anda terlalu panjang.  Gunakan kata/kalimat sederhana. Kalimat sederhana terdiri dari satu pokok dan satu sebutan. Hindari menulis dengan kata keterangan dan anak kalimat. Ganti kata- kata yang sulit atau asing dengan kata-kata yang mudah. Bila perlu ubah susunan kalimat atau alinea agar didapat tulisan yang ‘mengalir’. Ingat KISS (keep it short and simple).

28  Hindari kata-kata berkabut. Kata-kata berkabut adalah adalah tulisan yang berbunga-bunga, menggunakan istilah teknis, ungkapan yang asing yang tidak perlu dan ungkapan umum yang kabur. Yang diperlukan ragam Bahasa Indonesia jurnalistik adalah kejernihan tulisan (clarity).  Libatkan pembaca. Melibatkan pembaca berarti menulis berita yang sesuai dengan kepentingan, rasa ingin tahu, kesulitan, cita-cita, mimpi dan angan-angan. Tapi ingat: jangan sampai terjebak menulis dengan gaya menggurui atau menganggap enteng pembaca. Melibatkan pembaca berarti mengubah soal-soal yang sulit menjadi tulisan yang mudah dimengerti pembaca. Melibatkan pembaca juga didapat dengan menulis sesuai rasa keadilan yang hidup di masyarakat.

29  Gantilah kata sifat dengan kata kerja. Baca kalimat ini: “Seorang perempuan yang kelelahan bekerja di sawahnya.” Bandingkan dengan: “Seorang perempuan tua membajak, kepalanya menunduk, nafasnya tersengal-sengal!”  Gunakan kosa kata yang tidak memihak. Baca kalimat ini: “Seorang ayah memerkosa anak gadisnya sendiri yang masih berusia 12 tahun.” Bandingkan dengan: “Perkosaan menimpa anaka gadis yang berusia 12 tahun”.  Hindari pemakaian eufemisme bahasa. Baca kalimat: “Selama musim kemarau terjadi rawan pangan di Gunung Kidul.” Bandingkan dengan: “Selama musim kemarau terjadi kelaparan di Gunung Kidul.”

30 Hal-Hal Penting  What’s the story (Berita apa?): Sebelum Anda menuliskan sebuah kata, Anda harus tahu apa beritanya dan dari sudut/angle mana anda akan menulisnya.  5-W: Who, what, when, where, why? Apakah anda telah menjawab pertanyaan semuanya tadi. Jika sudah berarti anda sudah dalam jalur yang betul.  Fakta: Harus selalu ingat tentang hal ini. Tulislah apa-apa yang anda ketahui, bukan yang anda perkirakan atau praduga. Gossip atau desas-desus lebih baik hanya beredar di warung-warung saja jangan dibawa-bawa ke dalam berita.

31  Attribution: Cara yang baik untuk menghindari desas- desus agar tidak muncul di berita, yaitu: pastikan bahwa Anda punya sumber yang bisa diandalkan dari informasi yang disiarkan. Jika tidak punya jangan dibaca.  Logical structure (memiliki susunan yang wajar): Selalu menyajikan urutan yang jelas. Diingat selalu untuk selalu menulis berita seakan Anda tengah mengatakannya kepada seorang teman.  Satu ide per-kalimat: Jangan terlalu banyak menjejalkan kedalam tiap kalimatnya.

32  Jargon: Para politikus dan pakar sering menggunakanya. Tugas kita untuk menerjemahkan kedalam istilah-istilah sederhana yang mudah dimengerti. Anda mungkin akan paham dengan istilah “saldo deficit pembayaran’, tetapi belum tentu pembaca Anda.  Bahasa: Gunakanlah bahasa yang sudah biasa anda pergunakan jika sedang berbicara. Ingat tujuan anda adalah untuk memberitahu pendengar tidak bertujuan untuk menunjukkan kepintaran anda.  Cliches (istilah klise): Harus dihindari penggunaan istilah- istilah klise. Menggambarkan apa yang hanya anda lihat dan sesuai fakta adalah lebih bagus daripada anda memakai ungkapan-ungkapan yang sudah dipakai.

33 Kriteria Berita yang Baik  Akurasi, kaidah-kaidah penulisan berita dalam pengertian modern, yaitu laporan harus bersifat factual, akurasi obyektif, dan berimbang. Sebagai penjabaran akurasi maka muncul formula 5W+1H (what, who, when, where, why, dan how).  Objektif, berita harus merupakan laporan faktual tentang suatu peristiwa seperti apa adanya tetapi tentu saja sejauh hal ini dimungkinkan, sebab wartawan pun memiliki keterbatasan. Untuk mengejar objektivitas ini kemudian muncul laporan komprehensif dan laporan investigatif.  Berimbang (balanced), berita adalah laporan yang objektif termasuk tidak memihak kepentingan kelompok tertentu. Sifat berimbang ini perlu dijaga agar berita tidak menyesatkan pembaca dan tidak digugat oleh pihak yang merasa dirinya dirugikan.

34 Komponen Tulisan Unsur-unsur sebuah berita secara struktural pada dasarnya dapat dibedakan menjadi: JUDUL/HEADLINE : judul (fungsinya untuk menolong pembaca agar segera tahu tentang peristiwa yang diberitakan, biasanya dikemas dalam font yang berbeda dari tubuh beritanya). Judul mengandung pengertian 2-5 kata yang disajikan secara ringkas serta mengasosiasikan dengan sesuatu yang diingat pembaca. Bersama sub judul, kicker, dan eyecacther – mencerminkan isi tulisan: sangat menarik/baru/penting/luar biasa BY LINE : nama jurnalis. DATE LINE : nama media, tanggal kejadian atau tempat kejadian.

35 LEAD : disebut sebagai teras berita dan ditulis pada paragraf pertama. Lazimnya mengandung substansi yang sama dengan focus materi judul: sangat menarik/baru/penting/luar biasa. Lead adalah dua hingga tiga kalimat yang mengintisarikan berita atau artikel sehingga membaca lead, pembaca menarik untuk membacanya. BODY : terdiri dari detail peristiwa atau realitas yang diberitakan. Badan berita atau tubuh berita, adalah berisi saijan secara lengkap dari bahan yang akan ditulis. Runut, dengan mengikuti alur struktur tulisan—bagaikan spiral— yang lazim dalam karya jurnalistik.

36  EKOR (ending): berisi beberapa kalimat yang menyimpulkan dari berita atau artikel. Biasanya ending atau penutup pada artikel, selalu berisi saran, solusi maupun rekomendasi untuk pembaca. Menarik dan mengejutkan (bila tulisan berstruktur delayed-delayed drop). Bila tulisan berstruktur piramida terbalik, ini sekedar informasi pelengkap yang tidak begitu penting, tetapi mungkin masih perlu diketahui pembaca.

37 Struktur Berita  Piramida terbalik (inverted pyramid)  Delayed drop (kejutan peristiwa ‘ditunda’ sampai bagian tengah tubuh tulisan  Delayed-delayed drop (kejutan peristiwa ‘ditunda’ sampai ekor tulisan  Kronologi (dibangun dengan menampilkan urutan peristiwa yang seluruhnya dramatis sejak awal sampai akhir tulisan)

38 Model Piramida Terbalik  Semakin ke bawah elemen-elemen fakta ditempatkan maka semakin bersifat komplementer elemen-elemen tersebut. Informasi paling baru, atau paling penting, atau paling menarik ditempatkan pada alinea perta sebagai teras berita (lead, intro) agar dapat segera menarik perhatian khalayak.  Bagian penulisan terpenting adalah pada bagian awal yang dikenal sebagai lead. Lead yang baik harus mampu dengan cepat memberi gambaran pada pembaca apa yang terjadi. Makin ke bawah, tulisan itu menjadi makin ‘tidak penting’. Unsur-unsur kunci harus diletakkan di bagian awal.  Biasanya digunakan dalam sebuah berita keras (hard news-breaking news) yang mementingkan kecepatan.

39  Kepala Berita / Headline / Lead: berisi kesimpulan atau klimaks dari sebuah berita. Pada bagian ini, disampaikan apa yang menjadi inti dari berita yang akan disiarkan.  Setting Petistiwa: paparan berita, yang berisi apa kejadiannya, siapa pelaku utamanya, dimana terjadinya, pada kesempatan apa.  Detail Berita: berisi tentang data-data atau fakta- fakta pendukung  Background / Latar Belakang: berfungsi untuk melengkapi pemberitaan. Dalam bagian ini kita bisa bercerita lebih jelas bagaimana peristiwa itu bisa terjadi. Kita bisa menggunakan perbandingan, mengkontraskan dengan peristiwa lain, sehingga akan nampak perbedaan berita ini dari sekedar peristiwa biasa.  Rincian Lain: bisa dimanfaatkan untuk memberikan tekanan pada point-point penting dari berita, atau kita juga bisa mengulangi inti berita namun dengan tidak menggunakan kata- kata yang sama. Piramida terbalik sering digunakan media cetak (harian) dan elektronik, karena dengan bentuk itu, penulis menuliskan laporan dengan mengutamakan hal yang terpenting. Cara itu menguntungkan, sebab akan mempermudah tim editing dalam melakukan pemotongan kata atau kalimat apabila deadline waktu sangat dekat, sehingga bentuk piramida terbalik digunakan media cetak harian yang waktu dead linenya cukup singkat dan terbatas.

40 Bentuk Beraturan (Block)  Model ini menunjukkan bahwa semua bagian sama pentingnya. Artinya, seluruh materi berita—dari awal sampai akhir kejadian—terus menerus sangat menarik atau dramatis. Dalam model ini sering terdapat sub-judul dalam bagian body. Model ini cocok untuk menyajikan berita yang memuat kronologi sebuah peristiwa.  Bentuk ini digunakan penulis tanpa melihat hal terpenting namun, penulis cukup menulis sesuai apa yang dikehendakinya. Sehingga bentuk beraturan sangat tepat digunakan dalam menyusun artikel, karenanya bentuk itu lazim digunakan media cetak majalh dan tabloid yang memiliki dead line yang panjang (seminggu, dua minggu, sebulan maupun triwulan).

41 Delayed Drop  Informasi paling menarik ditempatkan pada alinea di bagian tengah konstruksi berita atau pada alinea hampir akhir. Tetapi, teras berita harus tetap dapat menarik perhatian khalayak. Delayed-delayed Drop  Informasi paling menarik ditempatkan pada alinea terakhir sebagai kejutan pada ekor berita (ending). Juga teras berita harus tetap dapat menarik perhatian khalayak. Untuk konstruksi berita delayed-delayted drop, bagian terakhir atau ekor (ending) berita dapat berisi materi informasi ‘paling menarik’ walaupun mungkin bukan yang paling penting atau bukan informasi baru. Piramida Tidak Terbalik  Materi berita apa pun tidak mungkin disusun dalam bentuk piramida tidak terbalik, karena tidak akan menarik perhatian pada awal membaca berita itu. Teras (intro/lead) berita pada umumnya mengandung informasi: paling baru, paling penting, atau paling menarik.

42 Angle (Sudut Pandang)  Sebuah fakta bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Angle adalah sudut tekanan berita. Bila topik berita merupakan masalah pokok, angle ialah rangkaian persoalan dalam cakupan masalah pokok tersebut.  Angle dapat dibagi dalam tiga kurun waktu: angle masa lalu, masa kini, dan masa depan. Angle menjadi penting agar tulisan terfokus; untuk memecah berita panjang menjadi berita-berita pendek yang saling berkait; untuk memilah penulisan berita mulai dari prioritas tertinggi hingga prioritas terendah.  Dalam menyusun berita, kita harus selalu memulai dari unsur yang terpenting (headline), diikuti data-data atau fakta-fakta lain yang tingkat kepentingannya ada dibawah headline, berturut-turut dari yang paling penting hingga yang kurang penting.

43 Lead Berita  Lead berita atau kalimat pembuka, adalah kata-kata yang membentuk tautan kalimat di awal berita kita. Semakin menarik pemilihan, penggunaan dan penyusunan kata-katanya, peluang berita kita untuk didengar oleh masyarakat akan menjadi semakin besar.  Lead harus ditulis dengan sederhana, tidak rumit, tidak membingungkan, apalagi sampai membuat pendengar kita enggan untuk menyimak. Jangan sekali-kali membuat lead dengan menjabarkan 5W 1H dalam sebuah kalimat awal. Plih salah satu dari elemen 5W yang paling menarik. Bisa saja dalam sebuah lead berita kita membahas soal Who-nya, What-nya, Why- nya, When-nya atau Where-nya.  Direct Lead adalah kalimat atau alinea pertama tulisan yang langsung mengangkat masalah pokok dengan mengungkapkan fakta penting dan baru. Berita biasa (straight news) umumnya memakai direct lead.  Delayed Lead adalah kalimat atau alinea pertama yang isinya tidak segera mengungkapkan masalah pokok tulisan tetapi disajikan dengan gaya kreatif untuk membangkitkan rasa ingin tahu pembaca. Feature dan news feature memakai delayed lead.

44 Tips Membuat Lead Berita  Jangan menjejalkan terlalu banyak informasi dalam lead berita. Seringkali lead panjangnya hanya satu kalimat maksimal 20 kata. Informasi, data ataupun fakta-fakta lain yang tidak terpilih sebagai lead, bisa kita tempatkan dalam isi berita.  Hindari membuat lead berita menggunakan kalimat tanya.  Jangan meletakkan informasi kunci pada dua atau tiga kata di awal lead berita, agar pendengar tetap tertahan untuk mengetahui pesan apa yang akan kita sampaikan. Namun demikian, jangan pula meletakkan informasi kunci terlalu jauh dibelakang kalimat.  Hindari menggunakan nama atau istilah asing yang tidak dikenal pendengar di awal lead. Sebaiknya kita mendahuluinya dengan penjelasan singkat.  Jangan menggunakan anak kalimat dalam membuat lead.  Jangan mengawali lead dengan menyebutkan lokasi. Hal ini akan mengurangi kemampuan pendengar berimajinasi, dan akan menimbulkan pengulangan pengulangan yang tidak perlu.

45  Hindari mencantumkan angka-angka rumit pada lead, karena angka-angka itu tidak akan berdampak bagi pendengar kita. Selain itu perlu diingat, bahwa setiap kali kita mencantumkan angka-angka harus selalu diikuti dengan penjelasan.  Hindari penggunaan kata “hari ini” pada lead berita. Pendengar sudah mengetahui jika apa yang kita sampaikan adalah kejadian hari ini. Gunakan variasi keterangan waktu misalnya: pagi tadi, nanti malam, satu jam yang lalu, dua jam lagi dan lainnya.  Jangan membuat pendengar menunggu terlalu lama untuk mengetahui dimana lokasi kejadian sebuah peristiwa.  Jika mencantumkan kutipan pernyataan narasumber, kita harus meletakkan si pembuat pernyataan (belum tentu nama) di depan lead. Pembuat pernyataan memiliki arti penting atas pernyataan yang dibuatnya dan mungkin masih bisa diperdebatkan.

46 Jurnalisme Investigasi  Jurnalisme investigasi adalah suatu bentuk peliputan berdasarkan inisiatif dan hasil kerja wartawan terhadap masalah-masalah penting yang dirahasiakan seseorang atau organisasi.  Laporan investigasi bukan laporan biasa. Ia bagaikan pisau tajam yang siap membedah keburukan siapa pun yang terlibat skandal. Ia juga bisa seperti mata dewa yang siap menembus pekatnya ruang gelap yang menyimpan banyak rahasia.  Tiga elemen dasar jurnalisme investasi: (1) Dilakukan oleh Wartawan itu sendiri. (2) Merupakan informasi rahasia yg disembunyikan dari perhatian publik. (3) Masalah yang diungkapkan memiliki arti penting di mata masyarakat/ pendengarnya.  Jurnalisme invesigasi dimulai dari suatu anggapan/ kecurigaan that someone has done something wrong! Berdasarkan ‘info’ atau pengamatan jeli si reporter sendiri yg mencium ketidakberesan mengenai suatu hal.

47 Langkah-Langkah Reportase Investigasi 1. Memunculkan ide: bisa dari saran seseorang, membaca, atau memanfaatkan potongan berita dan mengembangkan sudut pandang lain dari sebuah berita, kemudian melakukan observasi langsung. 2. Studi kelayakan untuk melihat berbagai halangan yang harus diatasi, atau hal-hal yang perlu disiapkan. Setelah itu merancang anggota tim dan melihat kemungkinan adanya tekanan terhadap media. Perlu menjaga kerahasiaan dari media lain. 3. Go-No-Go Decision: menghitung untung-rugi hasil investigasi. 4. Basebuilding: mencari dasar pijak dalam menganalisis kasus. 5. Planning: tahap pengumpulan dan penyusunan informasi serta pembagian tugas.

48 6. Original Research berupa penelusuran data tekstual (sumber sekunder dan data primer) dan wawancara dengan nara sumber. 7. Reevaluation: memutuskan dihentikan, ditunda, atau dilanjutkan. 8. Filling the Caps: melengkapi data dan informasi yang masih bolong (wawancara maupun dokumen tambahan). 9. Final Evaluation: tahap ini mengukur apakah hasil investigasi memang layak dipublikasikan. Juga menyangkut akurasi, hak privasi seseorang, keamanan nara sumber yang tidak mau disebutkan. 10. Writing and re-writing. 11. Publication dan Follow-Up Stories (Paul N Williams)

49  Journalism is not a career, it is an obligation for the society.


Download ppt "Yohanes Widodo, S.Sos, M.Sc Prodi Ilmu Komunikasi FISIP UAJY."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google