Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN DISASTER MEDICINE DI INDONESIA Dr.H.Abdul Radjak, DSOG * President Of The 11th Asia Pacific Conference On Emergency And Disaster.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN DISASTER MEDICINE DI INDONESIA Dr.H.Abdul Radjak, DSOG * President Of The 11th Asia Pacific Conference On Emergency And Disaster."— Transcript presentasi:

1 PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN DISASTER MEDICINE DI INDONESIA Dr.H.Abdul Radjak, DSOG * President Of The 11th Asia Pacific Conference On Emergency And Disaster Medicine President & CEO Radjak Group Ketua Badan Pengurus Yayasan MH Thamrin

2 PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara yang paling rentan dan rawan bencana. Tectonic Map in The World and Indonesia

3 PENDAHULUAN Rumah Sakit Umum: Total: Rumah Sakit Swasta: Total: 676 Puskesmas : Total: 9500 Sektor Pelayanan Kesehatan Di Indonesia

4 Era 1990 International Decade on Natural Disaster (IDNDR): Yokohama Strategy yang me-link-kan antara tanggap darurat dan pembangunan Sejak 2000 International Strategy for Disaster Reduction (ISDR): Mengurangi risiko bencana Hyogo Framework for Action (HFA): Membangun ketangguhan bangsa dan masyarakat terhadap bencana Sumber: BNPB (2013 ) PENGURANGAN RISIKO BENCANA (PRB) TINGKAT GLOBAL PENDAHULUAN

5 Hyogo Framework for Actions (Kerangka Kerja Aksi Hyogo) meminta semua negara untuk mengambil lima (5) pilar tindakan untuk mengurangi risiko bencana di negara masing-masing dan untuk menjalin kerjasama baik tingkat regional maupun global 1. Memastikan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) merupakan prioritas nasional dan lokal dengan dasar kelembanganaan yang kuat 2. Mengidentifikasi, menjajaki dan memonitor risiko-risiko bencana dan peringatan dini 3. Menggunakan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk membangun sebuah budaya keselamatan dan ketahanan di semua tingkat 4. Mengurangi faktor-faktor risiko yang mendasar 5. Memperkuat kesiapsiagaan terhadap bencana untuk respon yang efektif di semua tingkat PENDAHULUAN

6 Sumber: BNPB (2013 )

7 Perwujudan Indonesia dalam menjalin kerjasama bilateral, regional dan global adalah dengan melaksanakan Kerangka Kerja Aksi Hyogo. Tidak ada negara yang dapat berdiri sendiri dalam menghadapi mega-bencana PENDAHULUAN

8 PRIORITY ACTION 3: MEMBANGUN SEBUAH BUDAYA KESELAMATAN DAN KETANGGUHAN * Indonesia telah sukses dalam mengembangkan dan memelihara data bencana dan informasi di tingkat nasional (BNPB) ) * Adanya peran media seperti televisi dalam pemberian informasi terkait bencana * Adanya partisipasi dari masyarakat sipil dengan banyaknya kelompok masyarakat mengambil bagian dalam menyebarkan informasi terkait bencana (media sosial, dll) PRIORITY ACTION 2: MENINGKATKAN INFORMASI RISIKO DAN PERINGATAN DINI * Multi-assesment risiko bahaya telah dilakukan di semua provinsi dan upaya serupa telah dimulai di tingkat kabupaten / kota. Analisis risiko ini telah diperkaya dengan kerentanan dan kapasitas informasi dari masyarakat (indeks potensi kerugian) namun masih terbatas. * Indonesia telah membentuk Sistem Peringatan Dini (EWS) untuk semua bahaya utama (banjir, tsunami, cuaca ekstrim dan gelombang, vulkanik letusan dan kebakaran hutan tetapi pemanfaatannya masih terbatas PRIORITY ACTION 1: PENGURANGAN RISIKO BENCANA *Penerapan secara desentralisasi terkait tata kelola risiko bencana oleh masing-masing tingkat pemerintahan yang bertanggungjawab. BNPB mendukung BPBD melalui penyediaan sarana dan prasana serta bantuan teknis di berbagai aspek serta mensosialisasikan Program Ketahan Bencana di tingkat desa. * Kurangnya akses informasi kepada masyarakat terkait pengurangan risiko bencana LAPORAN KEMAJUAN NASIONAL TENTANG PELAKSANAAN HYOGO FRAMEWORK OF ACTION DI INDONESIA (BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB))

9 PRIORITY ACTION 5: MENGUATKAN KESIAPSIAGAAN UNTUK RESPON * Multi-assesment risiko bahaya telah dilakukan di semua provinsi dan upaya serupa telah dimulai di tingkat kabupaten / kota. Analisis risiko ini telah diperkaya dengan kerentanan dan kapasitas informasi dari masyarakat (indeks potensi kerugian) namun masih terbatas. * Indonesia telah membentuk Sistem Peringatan Dini (EWS) untuk semua bahaya utama (banjir, tsunami, cuaca ekstrim dan gelombang, vulkanik letusan dan kebakaran hutan tetapi pemanfaatannya masih terbatas PRIORITY ACTION 4: MENGURANGI RISIKO DI SEKTOR-SEKTOR KUNCI * Indonesia (2011) memprioritaskan pengurangan risiko bencana ke dalam pemulihan pasca bencana / rehabilitasi (BNPB) * Rencana Pengelolaan Bencana serta Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana mengandung program dan kegiatan untuk mengintegrasikan pengurangan risiko bencana ke pemulihan * Pemerintah dengan dukungan mitra internasional telah menerapkan "Membangun Kembali Lebih Baik" sebagai bentuk pendekatan di beberapa daerah pasca bencana (pasca Yogyakarta dan gempa bumi Jawa Tengah (2016), gempa Sumbar (2009) dan pasca Erupsi Merapi (2010) LAPORAN KEMAJUAN NASIONAL TENTANG PELAKSANAAN HYOGO FRAMEWORK OF ACTION DI INDONESIA (BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB))

10 Deklarasi bali “disaster medicine” Deklarasi pada tanggal 28 September 2012 di Bali saat APCEDM XI 1. Memperkuat sistem darurat medis pada bencana skala besar melalui langkah- langkah yang efektif 2. M eningkatkan kemampuan disaster medicine melalui pertukaran informasi terkait dengan penanggulangan bencana di antara negara-negara (khususnya negara-negara Asia Pasifik) 3. Menginformasikan kepada sektor lain di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang terkait dengan pencegahan bencana 4. M emahami pentingnya kerjasama regional dan internasional pada saat bencana, serta kerjasama dalam aspek pengembangan kurikulum disaster medicine di setiap program studi 5. Mengusulkan sedini mungkin terbentuknya pusat informasi, penelitian dan pelatihan terkait disaster medicine baik skala nasional maupun internasional

11 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB ) mengkoordinasikan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan penanganan bencana dan kedaruratan secara terpadu; serta melaksanakan penanganan bencana dan kedaruratan mulai dari sebelum, pada saat, dan setelah terjadi bencana yang meliputi pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan darurat, dan pemulihan Program Desa Siaga (Kementerian Kesehatan ) 2010 Program Kampung Siaga Bencana (Kement erian Sosial) 2011 Program Ketahanan Bencana Desa Pesisir (Kementerian dan Kelautan) 2012 Program Desa Tangguh Bencana (Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)) Program Pemerintah Indonesia PERKEMBANGAN DISASTER MEDICINE DI INDONESIA

12  Bencana mengancam keselamatan masyarakat. Pemerintah saat ini telah menerapkan kurikulum terkait dengan penanggulanagan bencana di berbagai bidang pendidikan.  Mahasiswa keperawatan Universitas MH Thamrin telah mendapatkan mata kuliah keperawatan bencana sehingga dengan pengetahuan dan keterampilan mereka diharapkan dapat ikut berpartisipasi dalam berbagai penanggulangan bencana di Indonesia  Profesi keperawatan tidak hanya terbatas pada pemberian asuhan di rumah sakit saja melainkan juga dituntut mampu bekerja dalam kondisi siaga tanggap bencana. Situasi penanganan antara keadaan siaga dan keadaan normal memang sangat berbeda, sehingga perawat harus mampu secara skill dan teknik dalam menghadapi kondisi seperti ini.  UU No. 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan Keperawatan: Kegiatan pemberian asuhan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Klien: Perseorangan, keluarga, kelompok, atau masyarakat yang menggunakan jasa pelayanan keperawatan PERKEMBANGAN DISASTER MEDICINE DI INDONESIA

13 KERJASAMA INTERNASIONAL No country can stand alone in coping with mega-disasters JAPAN INTERNATIONAL COOPERATION AGENCY * Membantu pemerintah terkait bencana * Memfasilitasi proyek pembangunan dan peningkatan kapasitas negara baik dari aspek hardware, sistem (Rumah Sakit) dan sumber daya manusia melalui pelatihan, seminar dan workshop terkait dengan disaster medicine yang difasilitasi Indonesia dan Jepang dalam rangka pengurangan risiko bencana ASEAN COORDINATING CENTER FOR HUMANITARIAN ASSISTANCE ON DISASTER MANAGEMENT * Jakarta: Pusat pemantauan bencana dan pengkoordinasian bantuan kemanusiaan * Diluncurkan sebagai bagian dari upaya untuk melaksanakan Komunitas ASEAN 2015 serta upaya untuk meningkatkan kerja sama dan koordinasi antara negara-negara anggota ASEAN, mengelola informasi yang masuk dan keluar dari negara-negara di kawasan itu, serta menerima sumbangan /bantuan dari negara-negara non ASEAN lainnya * Antara Tahun , memberikan bantuan kemanusiaan saat bencana termasuk gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, konflik di Indonesia * Program di bidang kesehatan, gizi, perlindungan, pemulihan ekonomi dan sistem pasar, tempat tinggal, pertanian dan ketahanan pangan, koordinasi kemanusiaan, perkotaan pencarian dan penyelamatan, air, sanitasi, kebersihan (WASH), dukungan logistik serta penyediaan akomodasi bantuan AUSTRALIA AGENCY FOR INTERNATIONAL DEVELOPMENT Sebagai tetangga sebelah, Indonesia dan Australia telah membentuk kerjasama bilateral yang erat di berbagai bidang termasuk pengurangan risiko bencana

14 Kolaborasi UNIVERSITAS MH THAMRIN DAN NGO (HUMA) PENGEMBANGAN DISASTER MEDICINE DI INDONESIA HUMA (Humanitarian Medical Assistance) Bertujuan dalam rangka kegiatan kemanusiaan dengan memberikan bantuan medis terhadap bencana yang terjadi di dunia (Gempa bumi Jawa, Tsunami di Acehi, dll) 1. Bantuan medis bagi korban bencana 2. Tidak hanya bantuan medis, tetapi juga bantuan untuk pemulihan 3. Untuk setiap ras, jenis kelamin, kebangsaan, agama dan latar belakang politik 4. Pendidikan dan penelitian

15 TANTANGAN MASA DEPAN DISASTER MEDICINE DI INDONESIA  Indonesia rentan bencana: Kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari pulau serta kurangnya pendanaan yang tepat dan sifat geologi yang berada di bawah kekuasaan tiga lempeng tektonik Australia, Eurasia dan Pacific

16 The Krakatoa Super Volcanic Eruption: 1883: ≥ orang meninggal sebuah pulau baru, Anak Krakatau muncul dari kaldera Beberapa ahli geologi memprediksi letusan akan terjadi antara tahun The Krakatoa Super Volcanic Eruption: 1883: ≥ orang meninggal sebuah pulau baru, Anak Krakatau muncul dari kaldera Beberapa ahli geologi memprediksi letusan akan terjadi antara tahun The Indian Ocean Tsunami: 2004: menewaskan lebih dari jiwa Para ilmuwan memprediksi bahwa yang terburuk belum datang The Indian Ocean Tsunami: 2004: menewaskan lebih dari jiwa Para ilmuwan memprediksi bahwa yang terburuk belum datang The Toba Super Volcanic Eruption: Terbesar di dunia yang aktif kaldera gunung berapi tahun yang lalu: Diketahui telah jauh letusan terbesar yang terakhir 2 juta tahun The Toba Super Volcanic Eruption: Terbesar di dunia yang aktif kaldera gunung berapi tahun yang lalu: Diketahui telah jauh letusan terbesar yang terakhir 2 juta tahun The Tambora Super Volcanic Eruption: 1815: ≥ orang meninggal Salah satu yang paling kejam dalam sejarah manusia Berpotensi menjadi Pompeii dari Timur The Tambora Super Volcanic Eruption: 1815: ≥ orang meninggal Salah satu yang paling kejam dalam sejarah manusia Berpotensi menjadi Pompeii dari Timur Indonesia memiliki lebih dari 130 gunung berapi aktif. Mega bencana berikutnya seperti: TANTANGAN MASA DEPAN DISASTER MEDICINE DI INDONESIA

17  Keragaman penduduk dalam aspek kualitas dan ekonomi  Sumber daya manusia di rumah sakit dan masyarakat (ketahanan individu dan masyarakat) masih terbatas dari aspek pengalaman / keterampilan  Keuangan/anggaran dalam rutinitas harian masih terbatas sementara Indonesia pada tahun 2014 memiliki total populasi serta jumlah desa sebanyak 75,410  Kurangnya infrastruktur yang memadai menyebabkan biaya logistik di Indonesia meningkat tajam, sehingga mengurangi daya saing negara dan daya tarik iklim investasi TANTANGAN MASA DEPAN DISASTER MEDICINE DI INDONESIA

18 * Konflik politik dan kekerasan etnis di beberapa daerah. * Disebabkan kebijakan transmigrasi, krisis ekonomi Asia, jatuhnya pemerintahan otoriter, dan reaksi terhadap pelanggaran sipil dan militer. * Konflik serius dan perpindahan penduduk terjadi di Maluku, Kalimantan dan Sulawesi. Timor-Leste dan Aceh juga muncul dari periode panjang konflik * Dampak kesehatan masyarakat melibatkan perpindahan nasional> 1,2 juta orang * Kekerasan telah memicu perpindahan penduduk terbesar (lima provinsi di Indonesia setiap saat pelabuhan> pengungsi internal) * Latar belakang: ketidakstabilan pemerintah (pemilihan presiden, dll), hiperinflasi, runtuhnya ekonomi makro, dan solusi politik sulit dipahami * Tapi sekarang, Indonesia telah mulai merangkul prinsip-prinsip demokrasi KEADAAN DARURAT KOMPLEKS (Krisis kemanusiaan di suatu negara, daerah atau masyarakat) TANTANGAN MASA DEPAN DISASTER MEDICINE DI INDONESIA

19 Complex Emergencies

20 Peran kepemimpinan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) perlu lebih ditingkatkan dalam upaya mengembangkan peraturan dan kebijakan serta lingkungan yang kondusif terkait Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Kurikulum keperawatan bencana telah dimulai di beberapa pendidikan Keperawatan di Indonesia Indonesia harus sudah mulai mempersiapkan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) terkait mega bencana yang akan datang terutama yang berasal dari wilayah negara Indonesia sendiri yang akan memberikan efek global seperti Tsunami Samudra Hindia, Letusan Gunung Berapi Toba, Tambora dan Krakatau. KESIMPULAN

21 Memperkuat kerjasama baik nasional maupun internasional seperti membentuk Foreign Medical Team yang terdiri dari JICA, Australia dan negara-negara yang sudah memenuhi standar WHO dan terakreditasi Melibatkan Indonesia dan ahli bencana Jepang dalam pengembangan HFA Bab Merekomendasikan Simposium Pengurangan Risiko Bencana (PRB) KESIMPULAN

22 “ Coming disaster is often not predictable, however anticipation of disaster management quite possible to do” Thank You


Download ppt "PERKEMBANGAN DAN TANTANGAN DISASTER MEDICINE DI INDONESIA Dr.H.Abdul Radjak, DSOG * President Of The 11th Asia Pacific Conference On Emergency And Disaster."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google