Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Pertumbuhan Ekonomi, Perubahan Struktur Ekonomi dan Krisis Ekonomi PERTEMUAN 4.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Pertumbuhan Ekonomi, Perubahan Struktur Ekonomi dan Krisis Ekonomi PERTEMUAN 4."— Transcript presentasi:

1 Pertumbuhan Ekonomi, Perubahan Struktur Ekonomi dan Krisis Ekonomi PERTEMUAN 4

2 Proyeksi Ekonomi Indonesia 2012 INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF) 2

3 Pertumbuhan Ekonomi 3 INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF) Sisi Jenis Penggunaan Pertumbuhan Ekonomi (yoy) Persen Struktur PDB Struktur PDB*Persen Q1Q2Q3Q1-Q3Q3 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga 4,54,64,84,654,2 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah 2,84,52,53,39,1 Pembentukan Modal Tetap bruto (PMTB) 7,39,27,17,931,8 Ekspor Barang dan Jasa 1217,418,516,226,5 Dikurangi Impor Barang dan Jasa 16 14,214,624,9 PDB 6,5 100 Sumber: Badan Pusat Statistik, 2011 * Struktur PDB atas dasar harga berlaku, tidak memperhitungkan perubahan inventori dan diskrepansi statistik Sampai dengan triwulan III 2011, penyumbang tersebesar pertumbuhan adalah pengeluaran konsumsi, sebesar 63,3%. PEREKONOMIAN INDONESIA 2011

4 Lapangan Usaha Pertumbuhan Ekonomi (yoy) Persen Q1Q2 Sem- 1 Q3 Q1- Q3 Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan 3,63,93,72,73,4 Pertambangan dan Penggalian 4,30,82,50,31,7 Industri pengolahan 56,15,66,65,9 Listrik, Gas, dan Air Bersih 4,33,94,15,24,5 Konstruksi 5,37,46,4 Perdagangan, Hotel, dan Restoran 7,99,68,710,19,3 Pengangkutan dan Komunikasi 1410,712,19,511,2 Keuangan, Real Estat dan Jasa perusahaan 7,36,97,177 Jasa-Jasa 75,76,37,86,8 PDB 6,5 4 Sumber: Badan Pusat Statistik, 2011 Dari sisi lapangan usaha, sektor non-tradeable mengalami pertumbuhan lebih tinggi dibanding sektor tradeable. Sektor non-tradeable, seperti sektor pengangkutan dan komunikasi selama Q1-Q3 2011, tumbuh sebesar 11,2% (yoy). Sektor non tradable relatif padat modal dengan penciptaan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja relatif rendah. INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)

5 Perdagangan 5 Sumber: BPS, 2011 Seiring dengan penurunan harga komoditi pertanian di pasar global, nilai Ekspor Indonesia bulan September turun 4,45 persen, bila penurunan ini berlanjut sampai akhir tahun, maka besar kemungkinan akan mengganggu target ekspor 2011 sebesar US$200 miliar. INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)

6 Kinerja Pasar Modal Secara umum IHSG memiliki tren yang meningkat sejak Januari 2011, walaupun sempat mengalami koreksi akibat berita buruk mengenai perlambatan ekonomi dunia pada 22 September Sumber: IDX Quarterly Statistics, 3 rd Quarter 2011 INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)

7 Neraca Perdagangan Indonesia (Juta US$) 7 NoURAIAN TREND (%) Jan- Sep 2010 Jan- Sep 2011*) PERUB. (%) IE K S P O R , , , , ,19, , ,237,49 - MIGAS21.209, , , , ,64, , ,265,50 - NON MIGAS79.589, , , , ,510, , ,031,66 III M P O R **)61.065, , , , ,320, , ,433,45 - MIGAS18.962, , , , ,76, , ,255,69 - NON MIGAS42.102, , , , ,625, , ,227,90 IIITOTAL , , , , ,414, , ,635,60 - MIGAS40.172, , , , ,35, , ,460,56 - NON MIGAS , , , , ,116, , ,329,93 IVNERACA39.733, ,57.823, , ,8-17, , ,966,59 - MIGAS2.246,6155, ,637,6626,90,00-316,41.383,0-537,15 - NON MIGAS37.486, ,79.249, , ,9-16, , ,852,79 Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah Kementerian Perdagangan INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)

8 Neraca Perdagangan Indonesia dengan China (Juta US) 8 URAIAN Jan-Apr 2010 Jan-Apr 2011 Perub (%). ‘10/’11 Total14.980, , ,75 - Migas4.011,83.612, ,75 - Non migas10.968, , ,66 Ekspor8.343,59.675, ,35 - Migas2.876,93.011, ,05 - Non migas5.466,66.664, ,38 Impor6.636,88.557, ,82 - Migas1.134,9600, ,36 - Non migas5.501,97.957, ,30 Neraca1.706,61.117, ,81 - Migas1.742,12.410, ,54 - Non migas-35, , ,25 INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)

9  Upaya Meningkatkan Realisasi Investasi Tidak Diikuti Dengan Perbaikan Iklim Investasi Masalah daya saing Indonesia masih berkutat pada masalah mikro seperti korupsi dan inefisiensi birokrasi pemerintah. Dalam level makro, Indonesia bermasalah dalam penyediaan infrastruktur sehingga mendorong terciptanya high cost economy. Masalah Daya Saing di Indonesia Sumber: World Economic Forum, 2011 INSTITUTE FOR DEVELOPMENT OF ECONOMICS AND FINANCE (INDEF)

10 Konsep Pendapatan Nasional (PN) Ada dua pengertian PN: Dalam arti sempit, PN adalah PN (Net Income) Dalam arti luas, PN dapat merujuk ke PDB (Produk Domestik Bruto) atau PNB (Produk Nasional Bruto), atau PNN (Produk Nasional Netto). Persamaan sederhana dalam perhitungan pendapatan nasional : PNB = PDB + F PNN = PNB – D PN = PNN – Ttl Dimana : F = pendapatan netto atas faktor luar negeri atau pendapatan yang diterima dari pendapatan yang dibayarkan ke luar negeri atas faktor produksi. Misal, gaji TKI yang bekerja di luar negeri dan dividen dari investasi asing atau gaji konsultan asing di Indonesia.

11 D = depresiasi atau penyusutan Ttl = pajak tidak langsung netto (selisih antara pajak tak langsung dan subsidi). Sehingga, PDB = PN + Ttl + D – F Atau, PN = PDB + F – D – Ttl Pendekatan Perhitungan PDB: 1. Pendekatan Produksi. Menurut pendekatan ini, PDB adalah jumlah nilai output (NO) dari semua sektor ekonomi atau lapangan usaha. Sektor perekonomian Indonesia berdasarkan klasifikasi BPS ada 9 sektor. Sehingga, PDB = Σ Noi dimana, i = 1,2,…9.

12 2.Pendekatan pendapatan, PDB adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi di masing-masing sektor. Pendapatan faktor produski berupa : upah/gaji untuk tenaga kerja, bunga hasil investasi untuk pemilik modal, hasil jual atau sewa tanah untuk pemilik tanah, dan keuntungan bisnis atau perusahan bagi pengusaha. Atau dalam pendekatan ini PDB merupakan penjumlahan dari nilai tambah bruto (NTB) dari sembilan sektor tersebut. PDB = NTB1 + NTB2 + …NTB9 3.Pendekatan pengeluaran, PDB adalah jumlah dari semua komponen dari permintaan akhir (C, I, G, dan X-M) Sehingga, PDB = C + I + G + (X - M)

13 1.Pertumbuhan sisi permintaan agregat (AD). Jika terjadi pertumbuhan, maka kurva AD bergeser ke kanan. Sisi AD terdiri dari : C, I, G dan ekspor netto (X - M). Atau Y = C + I + G + X-M, jika Y meningkat maka permintaan agregat akan semakin besar. 2.Pertumbuhan dari sisi penawaran agregat (AS). Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh peningkatan volume dari faktor-faktor produksi yang digunakan. Pertumbuhan juga didorong oleh peningkatan produktivitas dari faktor-faktor tersebut. Sumber-sumber Pertumbuhan Ekonomi

14 b). Agg Demand Y = C + I + G + ( X – M ) C = a + b y I = I a – i r G = G a X = X a M = Ma + my Y = PDB (GDP)

15 Agg S Agg D 1 Agg D 2 P Q P2 P1 Q1Q2 P Q Agg D Agg S 1 Agg S 2 P1 P2 Q1Q2 Agg Demand naik -> Q naikAgg Supply naik -> Q naik

16 Pertumbuhan dari sisi penawaran agregat (AS). Pertumbuhan ini dipengaruhi oleh peningkatan volume dari faktor-faktor produksi yang digunakan. Pertumbuhan juga didorong oleh peningkatan produktivitas dari faktor- faktor tersebut. Jadi, hubungan antara output dengan faktor produksi adalah : Q = f (X1, X2, X3, ….Xn) dimana, Q = volume output, dan X1, X2,…Xn = volume faktor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan output.

17 Faktor-faktor yang memengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia: Faktor internal: 1. Faktor internal: Faktor Internal ekonomi : kondisi fundamental ekonomi seperti perkembangan inflasi, jumlah cadangan devisa, kondisi sektor perbankan, realisasi RAPBN, kebijakan ekonomi pemerintah di bidang fiskal dan moneter serta perkembangan ekspor nasional. Faktor internal nonekonomi : kondisi politik dan sosial, keamanan, dan hukum (berkaitan dengan kepastian hukum di bidang kegiatan bisnis dan pelaksanaan otonomi daerah) Faktor eksternal : 2. Faktor eksternal : Prospek perekonomian dan perdagangan dunia Kondisi politik global Pertumbuhan Ekonomi

18 Perubahan Struktur Ekonomi

19 Pembangunan ekonomi jangka panjang dengan pertumbuhan PDB atau PN akan membawa suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi: ekonomi tradisional dengan pertanian sebagai sektor utama ke ekonomi modern yang didominasi oleh sektor-sektor nonprimer, khususnya industri manufaktur dengan increasing return to scale (relasi positif antara pertumbuhan output dan pertumbuhan produktivitas ) yang dinamis sebagai motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi (Weiss, 1988). Ada kecendrungan (dapat dilihat sebagai suatu hipotesis) bahwa semakin tinggi laju pertumbuhan ekonomi yang membuat semakin tinggi pendapatan masyarakat per kapita, semakin cepat perubahan struktur ekonomi dengan asumsi faktor-faktor penentu lain mendukung proses tersebut, seperti tenaga kerja, bahan baku, dan teknologi tersedia.

20 Menurut Kuznets, perubahan struktur ekonomi umumnya disebut transformasi struktural. Didefinisikan sebagai suatu rangkaian perubahan yang saling terkait satu dengan lainnya dalam komposisi Aggregate Demand (AD), perdagangan luar negeri (ekspor impor), Aggregate Supply (AS) atau produksi dan penggunaan faktor-faktor produksi yang diperlukan guna mendukung proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (Chenery, 1979).

21 Transformasi struktural dapat dilihat pada perubahan pangsa Nilai Output (NO) atau Nilai Tambah Bruto (NTB) dari setiap sektor di dalam pembentukan PDB atau PNB atau PN. Berdasarkan hasil studi Chenery dan Syrquin, perubahan pangsa dalam periode jangka panjang menunjukkan suatu pola dimana kontribusi sektor primer semakin turun dan sektor sekunder dan tersier semakin meningkat.

22 Kontribusi output dari pertanian (sektor primer) terhadap pembentukan PDB mengecil, sedangkan pangsa PDB dari industri manufaktur dan jasa (sektor sekunder dan tersier) mengalami peningkatan seiring dengan peningkatan PDB atau PN per kapita. Pangsa output sektoral thd PDB Tersier Sekunder Primer Waktu Perubahan Struktur Ekonomi

23 Indikator lain yang digunakan dalam studi-studi empiris untuk mengukur pola perubahan struktur ekonomi adalah : distribusi kesempatan kerja menurut sektor. Pada tingkat pendapatan rendah (tahap awal pembangunan ekonomi), sektor-sektor primer merupakan kontributor terbesar dalam penyerapan tenaga kerja. Pada tingkat pendapatan per kapita yang tinggi (tahap akhir) sektor-sektor sekunder terutama industri menjadi sangat penting dalam penyediaan kesempatan kerja. Di dalam kelompok negara-negara sedang berkembang (Low Developing Countries (LDC’s), banyak negara yang juga mengalami transisi ekonomi yang pesat dalam 30 tahun terakhir, meskipun pola dan prosesnya berbeda antar negara.

24 Variasi tersebut disebabkan oleh : Kondisi dan struktur awal ekonomi dalam negeri (basis ekonomi). Jika suatu negara awalnya sudah memiliki basis industri dasar (mesin, baja) yang relatif kuat, maka akan mengalami proses indutrialisasi yang lebih pesat/cepat dibandingkan negara yang hanya memiliki industri ringan (tekstil, pakaian, alas kaki) Besarnya pangsa dalam negeri (kombinasi jumlah populasi dan tingkat pendapatan riil per kapita). Pola distribusi pendapatan. Jika pendapatan per kapita meningkat pesat namun tidak diiringi dengan distribusi yang relatif merata, maka kenaikan pendapatan tersebut tidak terlalu berarti bagi pertumbuhan industri-industri.

25 Karakteristik dari industrialisasi. Misalnya cara pelaksanaan atau strategi pengembangan industri yang diterapkan, jenis industri yang diunggulkan, pola pembangunan industri, dan insentif yang diberikan bagi pelaku di bidang industri. Keberadaan SDA. Ada kecenderungan bahwa negara yang kaya SDA justru mengalami pertumbuhan ekonomi lebih rendah atau terlambat melakukan industrlalisasi atau tidak berhasil melakukan diversifikasi ekonomi (perubahan struktur) dari pada negara miskin SDA. Kebijakan perdagangan luar negeri. Negara yang menerapkan kebijakan ekonomi tertutup (inward looking), memiliki pola dan hasil industrilaisasi yang berbeda dibandingkan negara yang menerapkan kebijakan terbuka (outward looking). Banyak negara berkembang seperti Indonesia yang menerapakn kebijakan protektif terhadap sektor industrinya (kebijakan industri substitusi impor/ISI).

26 Namun, hasilnya adalah sektor industrinya berkembang tidak efisien dan memiliki tingkat diversifikasi rendah, khususnya lemah dalam kelompok industri tengah (hollow midle industry). Sehingga lebih tepat dikatakan menerapkan sistem produksi assembling. Kasus Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia. Orde Baru hingga sekarang dapat dikatakan terjadi perubahan struktur ekonomi cukup pesat. Data BPS : 1970 : NTB sektor pertanian : 45% thd PDB, tahun 1990 tinggal 16 – 20% thd PDB. Ini menunjukkan penurunan pangsa pertanian dalam pembentukan PDB.

27 PDRB Indonesia Produk Domestik Bruto Per Kapita, Produk Nasional Bruto Per Kapita dan Pendapatan Nasional Per Kapita, (Rupiah) Deskripsi *2011** Atas Dasar Harga Berlaku Produk Domestik Bruto Per Kapita 12,557, ,892, ,360, ,424, ,913, ,084, ,812, Produk Nasional Bruto Per Kapita 11,946, ,257, ,646, ,663, ,076, ,322, ,934, Pendapatan Nasional Per Kapita 11,075, ,075, ,285, ,141, ,964, ,020, ,648, Atas Dasar Harga Konstan 2000 Produk Domestik Bruto Per Kapita 7,924, ,237, ,631, ,015, ,294, ,736, ,219, Produk Nasional Bruto Per Kapita 7,438, ,729, ,101, ,597, ,825, ,345, ,819, Pendapatan Nasional Per Kapita 6,885, ,070, ,422, ,950, ,005, ,516, ,130, Keterangan: *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara

28 Tabel 4.7 Kontribusi Sektoral dalam Penyerapan Tenaga Kerja, pada Tahun 1992 (Berdasarkan Data Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Bekerja) SektorJumlahPersentase Pertanian ,69 Pertambangan ,67 Industri Pengolahan ,51 Listrik, Gas, Air Minum ,21 Bangunan ,20 Transportasi dan Komunikasi ,28 Perdagangan ,96 Lain-lain ,48 Jumlah

29 Teori dan Model Pertumbuhan Teori Klasik. Teori Pertumbuhan David Ricardo. Teori Pertumbuhan Thomas Robert Malthus. Teori Marx. Teori Neo Keynes. Teori Neo Klasik. Model Pertumbuhan A. Lewis. Model Pertumbuhan Paul A. Baran. Teori Ketergantungan Neokolonial. Model Pertumbuhan WW. Rostow. Model Pertumbuhan Solow. Teori Modern.

30 Pertumbuhan PDB dan Pendapatan Perkapita Indonesia

31 Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia (% dari PDB)

32 Komposisi dari Ekspor Indonesia,

33 Pangsa Ekspor Manufaktur dari Total Ekspor di Indonesia dan Sejumlah NSB lainnya, (%).

34 TEORI PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI Proses pembangunan -> pertumbuhan ekonomi (yang cukup lama dan tinggi) mengakibatkan terjadinya perubahan struktur ekonomi. Perubahan struktur ekonomi sebagai akibat 1). Agg Demand 2). Agg Supply 3). Agg Demand dan Agg Supply pada waktu yang bersamaan Ad 1 Agg Demand Kenaikan pendapatan perkapita menyebabkan perubahan selera dan komposisi dan diversifikasi konsumsi -> meningkatkan efektif Demand –> perluasan pasar -> supply barang meningkat. Sektor industri berkembang. Ad 2 Agg Supply - Perkembangan teknologi - SDA dan Raw Material yang baru - Relokasi dana investasi

35 STRUKTUR EKONOMI INDONESIA Struktur Ekonomi suatu negara dapat dilihat dari berbagai sudut tinjauan. Ada 4 macam tinjauan : 1. Tinjauan makro-sektoral 2. Tinjauan keruangan 3. Tinjauan penyelenggaraan kenegaraan 4. Tinjauan birokrasi pengambilan keputusan Ad 1 Makro Sektoral Tergantung dari sektor mana yang menjadi tulang punggung (dominan) Berstruktur agraris Industrial Perdagangan dan lain-lain Ad 2 Tinjauan Keruangan (spasial) Berstruktur kedesaan / teknologi tradisional Berstruktur perkotaan / teknologi modern Ad 3 Tinjauan penyelenggaraan kenegaraan Berstruktur etatis, egaliter atau borjuis Tergantung pada siapa atau kalangan mana yang menjadi pemeran utama dalam perekonomian. Apakah pemerintah, rakyat atau kalangan modal dan usahawan (kapitalisan) Ad 4 Birokrasi Pengambilan Keputusan Berstruktur ekonomi yang sentralistis dan yang desentralistis

36 Tabel 4.6 PDB Indonesia Menurut Persentase Kontribusi Sektoral, pada Tahun Sektor Ekonomi Menurut Harga Berlaku Pertanian49,332,728,122,723,418,5 Pertambangan4,722,221,818,813,110,2 Industri Pengolahan9,28,310,314,618,422,3 Listrik, Gas, Air Minum0,5 0,40,60,9 Bangunan2,83,85,65,3 6,0 Transportasi dan Komunikasi2,84,14,45,65,56,9 Perdagangan30,728,429,314,917,016,5 Keuangan dan Perbankan3,43,95,0 Sewa Rumah2,92,5 Pemerintahan dan Pertahanan7,26,77,4 Jasa-jasa4,13,53,8 Produk Domestik Bruto100

37 Tabel 4.7 Kontribusi Sektoral dalam Penyerapan Tenaga Kerja, pada Tahun 1992 (Berdasarkan Data Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas yang Bekerja) SektorJumlahPersentase Pertanian ,69 Pertambangan ,67 Industri Pengolahan ,51 Listrik, Gas, Air Minum ,21 Bangunan ,20 Transportasi dan Komunikasi ,28 Perdagangan ,96 Lain-lain ,48 Jumlah

38 Daya Saing Indonesia RPJMN

39 Aspek Daya Saing Daerah yang Terendah RPJMN

40 Kesenjangan Wilayah dalam RPJMN Intensitas kegiatan ekonomi yang masih terpusat di Jawa dan Bali Kontribusi provinsi-provinsi di Pulau Jawa dan Bali terhadap total perekonomian nasional (termasuk migas), adalah 64,78 persen, sedangkan wilayah Sumatera 20,44 persen, Sulawesi 6 persen, Kalimantan 6 persen, dan Papua, Kepulauan Maluku serta Kepulauan Nusa Tenggara masing-masing kurang dari 2 persen Kesenjangan ekonomi juga terjadi antarkabupaten/kota

41 Kesenjangan Wilayah dalam RPJMN Kesenjangan antarwilayah juga terlihat dari aspek sosial Dari nilai indeks pembangunan manusia (IPM), IPM tertinggi dijumpai di provinsi-provinsi di Pulau Jawa-Bali, yaitu tertinggi Provinsi DKI Jakarta yang mencapai 76.3, sedangkan terendah ditemukan di provinsi-provinsi di luar Pulau Jawa, yaitu di Provinsi Papua dengan IPM sebesar 62,8 masyarakat di luar Pulau Jawa, terutama wilayah Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Kalimantan masih menghadapi permasalahan dalam pemenuhan hak-hak dasar rakyat terutama pangan dan gizi, perbaikan layanan kesehatan dan pendidikan, engurangan pengangguran dan kemiskinan, pengurangan kasus pembalakan hutan dan pencurian ikan, serta pencegahan kerusakan lingkungan

42 Distribusi IPM Kabupaten Daerah Tertinggal 2008

43 Realisasi Penerimaan Negara (milyar rupiah), Sumber Penerimaan2007 1) ) ) ) ) ) Penerimaan Perpajakan 490,988658,701619,922723,307878,6851,019,333 Pajak Dalam Negeri 470,052622,359601,252694,392831,745976,900 Pajak Penghasilan 238,431327,498317,615357,045431,977512,835 Pajak Pertambahan Nilai 154,527209,647193,067230,605298,441350,343 Pajak Bumi dan Bangunan 23,72425,35424,27028,58129,05835,647 Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan 5,9535,5736,4658,026-- Cukai 44,67951,25256,71966,16668,07572,443 Pajak Lainnya 2,7383,0353,1163,9694,1945,632 Pajak Perdagangan Internasional 20,93636,34218,67028,91546,94042,433 Bea Masuk 16,69922,76418,10520,01721,50123,534 Pajak Ekspor 4,23713, ,89825,43918,899 Penerimaan Bukan Pajak 215,120320,604227,174268,942286,568272,720 Penerimaan Sumber Daya Alam 132,893224,463138,959168,825191,976172,871 Bagian laba BUMN 23,22329,08826,05030,09728,83625,590 Penerimaan Bukan Pajak Lainnya 56,87363,31953,79659,42950,34054,398 Pendapatan Badan Layanan Umum 2,1313,7348,36910,59115,41617,861 Jumlah 706,108979,305847,096992,2491,165,2531,292,053

44


Download ppt "Pertumbuhan Ekonomi, Perubahan Struktur Ekonomi dan Krisis Ekonomi PERTEMUAN 4."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google