Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Seni dan Institusi. Dari artikel Dian Sulistyowati Topik yang dibahas: Strategi edukasi dan pemasaran Museum Sejarah Jakarta Cara: Kajian layanan untuk.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Seni dan Institusi. Dari artikel Dian Sulistyowati Topik yang dibahas: Strategi edukasi dan pemasaran Museum Sejarah Jakarta Cara: Kajian layanan untuk."— Transcript presentasi:

1 Seni dan Institusi

2 Dari artikel Dian Sulistyowati Topik yang dibahas: Strategi edukasi dan pemasaran Museum Sejarah Jakarta Cara: Kajian layanan untuk pengunjung Apa yang dimaksud dengan ‘pengalaman museum’? Museum sebagai tempat ‘preservasi’, ‘penelitian’, ‘komunikasi’ (2). Apa maksud kata-kata kunci ini?

3 Apa saja kebutuhan pengunjung museum? Strategi apa yang digunakan museum untuk memenuhi kebutuhan ini. Museum sebagai tempat pendidikan. Bagaimana museum melakukan hal ini? Strategi edukasi. – Apakah pelajar itu ‘botol kosong’ yang harus diisi? – Apakah pelajar itu subjek yang aktif? Beri contoh ‘active learning’ dan ‘edutainment’ (4).

4 Strategi Pemasaran Hull: “Pemasaran berhubungan dengan mendengarkan publik dan membantu mereka untuk mengerti siapa kami (museum), apa yang kami kerjakan dan bagaimana museum bisa menjadi penting untuk dan ada hubungannya dengan mereka.” (4) Kotler: “Strategi adalah upaya yang dilaukan museum untuk mencapai tujuannya.” (5)

5 Tiga langkah yang mempengaruhi pembuatan strategi pemasaran: – Segmentasi – Penentuan pasar sasaran (targeting) – Pemosisian produk dalam benak konsumen (positioning) – Pemasaran jasa (marketing service) – Bauran pemasaran (marketing mix); (tactical marketing) 4P (Product, place, price, promotion) 5P (Product, place, price, promotion, people)

6 Produk museum (6) Karakteristik pengunjung – pengelompokan demografi Strategi Edukasi MSJ dan pemasarannya – Pameran tetap – Program museum (9-12) 3 elemen lain dalam bauran pemasaran – Promosi (13-14) – Staf museum (15-16) – Fasilitas pendukung (16)

7 Kasus Ruangrupa Mirwan Andan: “Ruangrupa adalah sebuah initiative yang dibentuk di Jakarta oleh sekelompok seniman; sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan mendukung pengembangan ide tentang seni rupa dalam konteks urban dan lingkungan kebudayaan yang lebih luas lewat pameran, festival, laboratorium seni rupa, loka karya, penelitian, dan penerbitan jurnal.” ‘Dunia butuh seni, dan seni butuh dunia’. Seni yang seperti apa? Seni kontemporer dan multiplisitas – situs, praktek, wacana Inisiatif dan kebutuhan Pertanyaan penting: bukan ‘apa itu seni kontemporer?’, tapi ‘seni bisa menjadi apa?’

8 Aspek kontemporeneitas dan masa depan yang ‘lain’: – datangnya kejadian-kejadian tak terduga secara tiba-tiba yang membuahkan potensi konkrit untuk masa depan, diluar apa yang bisa dibayangkan tentang masa depan itu sendiri. Seni kontemporer: bukan sekadar pemosisian dalam peta dunia tapi bagaimana membuat ‘dunia-dunia’ dari seni, dan seni dari dunia. Pembuatan seni: pembaruan perspektif tentang praktek dan hubungannya dengan budaya, masyarakat, politik, keseharian.

9 ‘Siasat’ untuk menjelajah ruang kota dan publik berhubung dengan gejala perubahan sosial-politik- kultural ‘Kontemporer’ dan Gerakan Seni Rupa Baru Indonesia Jaringan institusi untuk memperlihatkan seni dalam skala internasional: biennales, lelang, pasar seni, program TV, websites dst. Bagaimana wacana seni menanggapi perkembangan dalam produksi, diseminasi dan resepsi seni, mencakup aktifitas inisiatif dan kolektif seniman.

10 Sejarah RuangRupa. Bukan hanya ‘mimbar’ untuk bentuk-bentuk seni yang baru tapi juga ‘infrastruktur’. RuangRupa dan ruang kota Jakarta. Dukungan awal: pameran nirlaba, workshop, jurnal tahunan Karbon. Jaringan dan kerjasama internasional: RAIN (Rijskacademie Artist Initiative Network) OK Video dan Jakarta 32°. Pendekatan kolaboratif dan fokus pada praktek kolektif yang menyertakan praktisi dan komunitas sosial

11 Kegiatan-kegiatan ruangrupa menandakan datangnya kejadian-kejadian tak terduga dan di luar prediksi, yang dapat dimengerti sebagai potensi konkrit untuk masa depan yang ‘lain’. Ade Darmawan: “mimbar yang dapat mentransformasi informasi dan pengalaman dari keseharian menjadi ilmu pengetahuan.”

12 Nicolas Bourriaud dan ‘Estetika Relasional’ – Seni sebagai “aktifitas yang terdiri dari pembentukan relasi dengan dunia, lewat bantuan tanda, bentuk, tindakan, dan benda.” – Praktek seni bukan hanya ruang independen dan privat. Melampaui ‘Estetika Relasional’ – Multiplisitas relasi kultural dan sosial dengan dunia.

13 Memperluas ruang dan publik lewat menghasilkan multiplisitas praktek kolaboratif yang menekankan relasi antara seni, budaya, masyarakat, politik dan sejarah, serta hidup sehari-hari sebuah komunitas. Estetika dan Etika. – Re-evaluasi dan penilaian ulang akan formasi artistik, kultural dan kehidupan masyarakat yang sudah ada, berbasis BUKAN pada kebenaran universal TAPI pada multiplisitas konteks dan situasi yang melahirkan formasi-formasi tersebut.

14 TUGAS Cari informasi tentang Museum Seni Rupa dan Keramik dan Ruangrupa, dan beri analisa berdasarkan: Visi dan misi > mereka menanggapi kekurangan apa dari kehidupan sosial yang sudah ada? Siasat – Program – Pembentukan jaringan – Infrastruktur – Pemasaran (kalau ada)


Download ppt "Seni dan Institusi. Dari artikel Dian Sulistyowati Topik yang dibahas: Strategi edukasi dan pemasaran Museum Sejarah Jakarta Cara: Kajian layanan untuk."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google