Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Disain dan Aplikasi Pendekatan Saintifik Dalam Pembelajaran Penjasorkes Adang Suherman FPOK UPI 2013.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Disain dan Aplikasi Pendekatan Saintifik Dalam Pembelajaran Penjasorkes Adang Suherman FPOK UPI 2013."— Transcript presentasi:

1 Disain dan Aplikasi Pendekatan Saintifik Dalam Pembelajaran Penjasorkes Adang Suherman FPOK UPI 2013

2 Pokok Bahasan Memahami (konseptual), menerapkan (prosedural), dan memodifikasi (kontekstual) konsep pendekatan pembelajaran saintifik sesuai dengan tuntutan konteksnya

3 Masalah Pembelajaran Saintifik Terbatasnya jumlah guru yang berkeyakinan bahwa siswa dapat berpikir produktif (medapatkan sesuatu yang tidak diketahui dan diingat sebelumnya), akibatnya para guru: – berlebihan dalam mengandalkan daya ingat siswa, – melupakan penciptaan lingkungan yg dapat membuat anak mencari tau, – lebih menekankan pada recall and reproduction, – mengabaikan problem solving, creative thinking, and decision making. Wacana integratif non latar belakang penjas bahkan penjas dihilangkan (kompas.com, rabu 11 des 2013) Pengenalan saintifik dalam kurikulum baru muncul dalam kurikulum 2013 sekarang, itupun baru sebatas dokumen belum pada kenyataan Kecenderungan saintifik diajarkan baru sebatas konseptual dan diajarkan secara direktif bukan sebagai sebuah cara berpikir “a way of thinking or discovery and inquiry”

4 Konseptual

5 Knowledge, Science, Scientific llmu pengetahuan (science): ilmu untuk mencari tahu; suatu sistem berbasis metodologi ilmiah untuk membangun pengetahuan (knowledge). membangun suatu pengetahuan harus didukung oleh rekam data, observasi dan analisa yang terukur dan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman manusia terhadap gejala-gejala alam dan sosial. Pengetahuan (knowledge): penguasaan teori dan keterampilan seseorang yang diperoleh melalui pengalaman atau pendidikan untuk keperluan tertentu. Scientific adalah kata sifat dari “Science” yang mengandung arti “ilmiah/bersifat ilmiah”

6 Inquiry Learning Sebagai Pendekatan Ilmiah (Permendikbud No. 65 th 2013 ttg Standar Proses) Seluruh isi materi (topik dan subtopik) mata pelajaran yang diturunkan dari keterampilan harus mendorong siswa untuk melakukan proses pengamatan hingga penciptaan. Untuk mendorong peserta didik menghasilkan karya kreatif dan kontekstual,..., disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning). Prinsip pembelajaran – diberi tahu menuju pesertadidik mencari tahu; – dari pendekatan tekstual menuju pendekatan ilmiah; Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific),... perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/ penelitian (discovery/inquiry learning).

7 Inquiry Learning Sebagai Pendekatan Ilmiah (Lanjutan) Prinsip pembelajaran – diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu; – dari pendekatan tekstual menuju pendekatan ilmiah; Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific),... perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik... maka sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis pemecahan masalah (project based learning).

8 Kerangka Pikir Inquiry Learning Masalah merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Mengajar sesungguhnya bertujuan untuk meningkatkan kapasitas belajar siswa, yaitu “kemampuan belajar efektif dan efisien” dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan Siswa mempelajari pengatahuan dengan cara yang sama seperti bagaimana pengatahuan itu sendiri didapatkan/ berkembang. Inquiry learning merujuk pada proses dan keterampilan yang digunakan oleh para scientis dalam mendapatkan pengetahuan. Startegi inquiry melibatkan pemahaman mengenai “bagaimana dan mengapa pengetahun berubah dalam merespon bukti2, analisis logis, dan berbagai penjelasan yang diperdebatkan dalam komunitasnya (NRC 2000, p. 21).

9 Konsep Inquiry Learning Inkuiri Learning merupakan campuran strategi penyelidikan dan pemecahan masalah yang dibingkai dalam bentuk pertanyaan kepada siswa agar “berpikir, lalu bergerak.” Inkuiri Teaching mengarahkan siswa untuk memecahkan masalah yang dibingkai dalam bentuk pertanyaan Tema: “Learner as Problem Solver” Pendekatan pembelajaran sebagai proses memecahkan masalah. Guru menyajikan permasalahan dalam bentuk pertanyaan, memberi kesempatan pada siswa untuk berekpresi kreatif mendemonstrasikan solusinya. Permasalahan harus dipecahkan melalui kognitif terlebih dahulu kemudian di formulasikan kedalam gerakan. Pemecahan masalah sebagai pusat dan pengaturan proses belajar mengajar (Tillotson, 1970)

10

11 Asumsi Mengajar Menurut Pandangan Inquiry Teaching Fungsi pedagogis utama guru adalah merangsang siswa berfikir yang kemudian dapat mengembangkan kemampuan psikomotor. Pertanyaan digunakan sebagai alat utama interaksi guru dengan siswa. Guru adalah fasilitator siswa untuk belajar, melalui pertanyaan yang akan merangsang siswa untuk berekpresi dan kreatif Pertanyaan guru harus sesuai dengan kemampuan intelektual siswa. Peran guru adalah mengkombinasikan instruksi langsung dan tidak langsung. – Direct instruction berlangsung pada saat menyuruh siswa terlibat dalam aktivitas fisik – Indirect teaching berlangsung pada saat siswa berpikir dan eksplorasi untuk memecahkan masalah gerak

12 Asumsi Belajar Menurut Pandangan Inquiry Teaching Proses belajar akan berlangsung dengan baik manakala aktivitas belajar didasarkan pada kesadaran dan pemahaman siswa Siswa mengikuti pembelajaran dengan berbekal pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya untuk membangun dan memahami pengetahuan baru. Belajar psikomotor didahului oleh belajar kognitif. Belajar pada dasarnya adalah proses pemecahan masalah. Siswa menggunakan pengetahuannya untuk mencari solusi lisan atau gerak. Pengembangan kognitif akan berlangsung dengan baik jika kompleksitas masalah sesuai dengan perkembangan kemampuan siswa.

13 Strategi Pembelajaran Inquiry (Pendalaman Metodologi) Pendekatan Eksplorasi (Barret, 1970) Pembelajaran melalui pertanyaan (Siedentop, 1991) Guided Discovery, Problem Soving (Mosston dan Ashworth, 1994) Pendekatan berpikir kritis (McBride, 1992), Indirect Teaching, Cognitive Approaches (Graham, 1994)

14 Prosedural

15 Scientific Method Identify the problem; Clarify the question& Hypotesis; Determine information needed and how to obtain it; Organize the information obtained; Interpret the results (Fraenkel)... the process of: sensing problems..., forming... hypotheses, testing... these hypotheses, and communicating the results (Toren). All conclusions are tentative and subject to change as new evidence is uncovered (don’t PROVE things)

16 16 Langkah-Langkah belajar Saintifik Observing (mengamati) Questioning (menanya) Associating (menalar) Experimen- ting (mencoba) Networking (membentuk Jejaring) Untuk Semua Mata Pelajaran

17 Langkah Pembelajaran dengan Inquiry learning 1.Identifikasi masalah. Guru mengetahui konsep yang akan diajarkan, keterampilan yang harus dikuasai, dan bagaimana menyuruh siswa melalui pertanyaan yang disusun secara sistematis, 2.Menyajikan masalah. Guru menyampaikan satu atau lebih masalah yang memerlukan jawaban dalam bentuk kognitif dan gerak. 3.Ekplorasi masalah terbimbing. Guru mengamati siswa pada saat siswa mencoba memecahkan masalah, menyediakan isyarat “cues”, umpan balik, dan pertanyaan fasilitatif. 4.Identifikasi dan memperbaiki solusi. Guru menggunakan isyarat-isyarat (poin 3), umpan balik, dan pertanyaan untuk memperbaiki atau memperbanyak pola pikir siswa dalam menemukan solusi. 5.Demontrasi untuk analisis, evaluasi dan diskusi. Setelah memperoleh solusi terbaik dalam memecahkan maslahnya, siswa mendemonstrasikan pemecahan yang dipilihnya kepada seluruh siswa 6.Demonstrasi diharapkan menjadi media bagi guru dan siswa untuk mengevaluasi (bukan mengkritisi) dan memberikan manfaat bagi siswa lainnya dalam menentukan solusi thdp permasalahan

18 DISAIN MENGAJAR INQUIRI TRAINING, termasuk CONCEPT ATTAINMENT, INDUCTIVE THINKING Model pembelajaran ini menekankan pada hasrat belajar tentang segala sesuatu secara lebih bermakna dengan cara mendapatkan dan mengorganisir data, memahami masalah dan solusinya, mengembangkan konsep yang bermakna untuk melakukannya. Setiap rancangan model memiliki penekanan yang berbeda-beda, (perolehan informasi dan konsep, pembuatan konsep dan uji hipotesis, kreativitas berpikir), garis besar rancangannya sbb.

19 Kontekstual

20 Adaptasi Implemensitasi Inquiry Teaching

21

22

23

24

25

26 Contoh Pembelajaran Inquiry Pada Materi Galloping

27 Contoh Pembelajaran Inquiry Pada Materi Galloping (lanjutan)

28 PEMBUAT PERUBAHAN

29

30 ANAK BELAJAR DARI LINGKUNGANNYA Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan perlakuan baik, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya. (Hukum Dorothy dalam Yudianto, 2011)

31 SEKIAN TERIMA KASIH

32 BEBERAPA PERTANYAAN UMUM DALAM PEMBELAJARAN INQUIRY

33 lanjutan


Download ppt "Disain dan Aplikasi Pendekatan Saintifik Dalam Pembelajaran Penjasorkes Adang Suherman FPOK UPI 2013."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google