Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Feature Kebudayaan Indonesia Djony Herfan, M.I.Kom. Materi ini disampaikan pada “Workshop Pelatihan Jurnalistik Website Kebudayaan”, Direktorat Jenderal.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Feature Kebudayaan Indonesia Djony Herfan, M.I.Kom. Materi ini disampaikan pada “Workshop Pelatihan Jurnalistik Website Kebudayaan”, Direktorat Jenderal."— Transcript presentasi:

1 Feature Kebudayaan Indonesia Djony Herfan, M.I.Kom. Materi ini disampaikan pada “Workshop Pelatihan Jurnalistik Website Kebudayaan”, Direktorat Jenderal Kebudayaan Jakarta, 27 November 2014 Feature Kebudayaan Indonesia

2 Syn + ergon = magic (1 + 1 = lebih dari dua)  Sinergisme Pengantar

3 Nilai Berita Media online membuat pengakses semakin memerlukan data dengan fakta pendidikan dan kebudayaan berdaya tarik tinggi. Pendidikan dan kebudayaan di Tanah Air membuat pengakses semakin mencari data dengan fakta akurat, lengkap dan bernilai berita tinggi. Nilai berita tinggi bersumber dari media online tepercaya dan kompeten. Praisi

4 Media Online Tren konsumsi media online memengaruhi cara memproduksi konten berita; Melibatkan produsen informasi pengakses media; Interaktivitas meningkat antara media dan penulis sebagai produsen informasi; Memengaruhi struktur produksi informasi; Media online melahirkan “jurnalisme baru”; KebudayaanIndonesia.net merupakan cara memelihara esensi jurnalisme khas direktorat jenderal kebudayaan (in-house style journalism).

5 Fenomena Broadband Fenomena medium pita lebar (broadband) bersifat global; Publik mengakses informasi lebih cepat: A. Kapan saja dan di mana saja; B. Saluran komunikasi bervariasi kian personal. Nielsen mencatat orang Indonesia menghabiskan waktu di depan jam seminggu, sedangkan konsumsi jam seminggu.

6 Unsur Berita Klasik Jurnalistik klasik mengenal unsur-unsur berita melalui apa, siapa, di mana, kapan, mengapa dan bagaimana. Rudyard Kipling sebagai penemu model klasik pemberitaan yang lurus atau lempang (straight news) menyebut Model Kipling. Dalam perkembangan berita lempang memerlukan sendi kehidupan kemanusiaan yang disebut berita khas (feature). Isi

7 Metode Kipling 1. Who (siapa fokus peristiwa) 2. What (peristiwa apa) 3. Where (di mana peristiwa berlangsung) 4. When (waktu peristiwa) 5. Why (kenapa terjadi peristiwa) 6. How (cara atau proses kejadian) Jawaban atas enam pertanyaan kian menarik perhatian saat penulis berita menambah keterangan dari sisi kemanusiaan (human interest).

8 Penyedap Rasa Berita lempang saja belum cukup memadai sebagai bahan cerita. Apalagi cerita yang menarik perhatian. Penulis berita lempang harus kreatif. Menambah bumbu penyedap rasa: rasa kesal, marah, iri hati, dengki, sayang, baik hati, berbudi luhur-mulia sesuai budaya Indonesia. Bahan berita berbumbu aneka rasa berubah menjadi feature (karangan khas).

9 Pengalaman Penulisan berita khas atau karangan khas (feature) memerlukan peliput berpengalaman, pemilik data dengan fakta berjejaring luas, dan berkemauan tinggi untuk memengaruhi pengakses. Pengakses kebudayaan Indonesia memerlukan standar kedalaman mengungkap masalah dan memberi alternatif berakurasi tinggi, memiliki gaya tulisan memikat, bergagasan kuat bertujuan jelas disertai struktur penulisan konsisten dan runtut dengan aspek kemanusiaan.

10 Penghargaan Tertinggi Persaingan media online sejenis sangat pragmatis yang berorientasi pada target pengakses sebagai salah satu sebabnya. Dari segi akurasi, komposisi kerangka bahasa atau penulisan human interest memenuhi syarat sebagai karya tulis feature, yang merupakan penghargaan tertinggi bagi pengakses.

11 Feature Budaya Feature budaya sebaiknya mendalam, hindari lebih banyak mengutip pendapat narasumber. Lebih baik menggali lebih jauh informasi ke lapangan. Menghindari kesan secara umum bahwa feature instan proses kreatifnya. Penulis seharusnya mampu mendalami permasalahan dengan menggali dan menelusuri berbagai informasi dari banyak narasumber, sekaligus menguji kembali data dan fakta di lapangan, terutama menyangkut kepentingan umum.

12 Kepuasan Pengakses Bergantung kepada perancang web; Situs web, misalnya, mudah dinavigasi (informasi dalam sekali klik); Jangan terlalu banyak elemen yang tidak perlu; Informasi lengkap dan terkini; Kualitas dan kecepatan layanan. Response time harus cepat (cepat dalam membalas ).

13 Membidik Cukup memadai elemen kemanusiaannya. Membidik feature menyentuh sendi kehidupan budaya Indonesia sebagai manusia berperadaban tinggi. Elemen kemanusiaan menarik karena melibatkan emosi pembaca (engagement). Mempunyai nilai cerita.

14 Kekuatan Emosi: kerinduan, suka–tidak suka Kejadian dramatis: konflik, tenggang rasa, tepo seliro, blusukan Latar belakang budaya Indonesia. Fakta biografis dan demografis. Penulisan feature sepenuhnya memanfaatkan pancaindra, bahkan indra keenam (intuitif).

15 Metode Kutipan (quote) Anekdote Bertanya: siapa yang terkena, siapa yang melakukan, apa akibatnya, bagaimana reaksi orang, mengapa begitu reaksinya.

16 Seni Menyingkirkan Mengumpulkan info mudah, lebih sulit memilih dan membuang. Less is more. Berlakukan untuk feature dan paragraf. Menjaga alur dan kontinuitas. Menyingkirkan yang tidak berkaitan dengan pokok pembahasan. Jangan sayang membuang. Kalau terganggu, singkirkan!

17 Praktis Menulis Setiap kali ganti alur pikiran, buat paragraf baru. Kalimat topik menolong diri, meski tidak mutlak. Isi paragraf sebaiknya sesuai kalimat topik.

18 Daya Tarik Feature menarik jika sesuai kebutuhan pengakses. jika penulis melihat, mendengar, mengerti. Perlu: Pahami inti permasalahan. Tempatkan diri sebagai pembaca. Arahkan diri menulis dengan menggunakan semua daya pikir dan rasa!

19 Kebahasaan Paradigma feature berafiks meng- (me-, mem-, men-, meny-, menge-) menulispenulispenulisantulisan mengubahpengubahpengubahanubahan melindungipelindungpelindunganlindungan mewariskanpewarispewarisanwarisan* mengebompengebompengeboman Paradigma feature pada bentuk ulang suku awal laki  lelaki, tangga  tetangga, jaring  jejaring, rata  rerata, tikus  tetikus * waris = ahli waris, yang menerima warisan

20 Ejaan Tanda koma untuk memisahkan kata, seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, deh, dong, ah. Tanda petik (“...”) untuk petikan langsung, judul feature, puisi, bab buku, kutipan, istilah dan kata tidak lazim, arti khusus. Tanda hubung (-) untuk kisah-kisah, gerak-gerik, terus-menerus, nge-blow. Tanda pisah (--) untuk membatasi keterangan lain di luar kalimat. --- Kekecualian bagi pengakses --- (tanda dash) sebagai keterangan sisipan kalimat. Tanda apostrof untuk menyingkat, seperti ‘kan, ‘98-an. Tanda koma untuk memisahkan kata, seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, deh, dong, ah. Tanda petik (“...”) untuk petikan langsung, judul feature, puisi, bab buku, kutipan, istilah dan kata tidak lazim, arti khusus. Tanda hubung (-) untuk kisah-kisah, gerak-gerik, terus-menerus, nge-blow. Tanda pisah (--) untuk membatasi keterangan lain di luar kalimat. --- Kekecualian bagi pengakses --- (tanda dash) sebagai keterangan sisipan kalimat. Tanda apostrof untuk menyingkat, seperti ‘kan, ‘98-an.

21 Pengalimatan Menulis paragraf antarkalimat saling berhubungan. Transisi antarparagraf lancar. Membaca berkali-kali dalam beberapa putaran dengan menekankan argumentasi dan nalar (logic). Kesalahan nalar mengakibatkan ketidaktepatan pembaca mengikuti tata cara pikiran penulis. Mencermati kalimat demi kalimat dalam susunan pilihan kata dan nada (tone).

22 Kata Asing Dalam feature perlu mempertahankan kata asing yang belum memiliki padanan kata. Tandai saja dengan kursif (italik, miring). Dalam feature tidak perlu memaksakan berbahasa Indonesia sebagaimana pelafalan, seperti miting untuk meeting. Padahal, artinya rapat, pertemuan. (Dalam bahasa Jawa miting berarti dikempit di ketek). Asosiasi yang tidak cocok.

23 Kelewahan Memakai kata seperti atau antara lain sebagai pengganti kata “dan sebagainya”, “dan lain- lain”, “dan seterusnya”.

24 Akreditasi Nilai penting pencantuman akreditasi nama (kontributor) sebagai pertanggungjawaban. Arti penting bukan pada akreditasi nama atau kontributor, melainkan juga pada kedekatan peletakkan kompetensi nama. Foto feature menyertai akreditasi nama. Pascaisi

25

26

27 Penutup

28 Diskusi Bahasa Sebagai bagian dari budaya, bahasa selalu berkembang, contoh bahasa gaul, bahasa pelesetan, bahasa betawi, bahasa asing. Penerapan dalam proses penulisan feature bergantung pada kemampuan penulis untuk mengerti perkembangan bahasa. Penulis dapat mempelajari perkembangan bahasa media melalui pengamatan pribadi atau bersama-sama dengan pemerhati bahasa dalam diskusi bahasa.

29 Selamat Berkreasi Selamat Berkreasi Terima Kasih Djony Herfan Surat-Menyurat Singkat (SMS) ; ; 2b862c66 facebook.com/johnherf, twitter.com/johnherf. BSD City, Jalan Pare IV D5/7 Sektor I.6 Griya Loka, Serpong, Tangerang Selatan 15310


Download ppt "Feature Kebudayaan Indonesia Djony Herfan, M.I.Kom. Materi ini disampaikan pada “Workshop Pelatihan Jurnalistik Website Kebudayaan”, Direktorat Jenderal."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google