Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Rudy Badrudin, STIE YKPN Yogyakarta HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN MANAJEMEN STIE YKPN YOGYAKARTA SABTU, 12 JUNI 2010.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Rudy Badrudin, STIE YKPN Yogyakarta HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN MANAJEMEN STIE YKPN YOGYAKARTA SABTU, 12 JUNI 2010."— Transcript presentasi:

1 Rudy Badrudin, STIE YKPN Yogyakarta HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN MANAJEMEN STIE YKPN YOGYAKARTA SABTU, 12 JUNI 2010

2

3 3 PERKEMBANGAN FTA DI DUNIA DAN ASEAN

4 4 expanding to Eastern Europe expanding to Latin America MAIN REGIONAL FTAs (G1) Source : CIA Factbook (2007) NAFTA Population: 445 million GDP: US$ trillion EU Population: 491 million GDP: US$ trillion CHINA Population: billion GDP PPP: US$ trillion JAPAN Population: 127 million GDP PPP: US$ 4.29 trillion ASEAN Population: million GDP: US$ billion FTA Canada – Chile 1997 FTA : Chile – Mexico 1999 FTA : USA – Chile 2004 FTA : USA – Singapore 2004 FTA : USA – Australia 2005 FTA : Mexico – Japan 2005 FTA : Chile – Brunei – NZ – Singapore 2006 MERCOSUR Argentina, Brazil, Paraguay, Uruguay FTAA (by 2005) under negotiation NAFTA U.S.A., Canada, Mexico SAPTA Bangladesh, Bhutan, India, Maldives, Nepal, Pakistan, Sri Lanka China - ASEAN FTA ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP) Japan-Korea FTA (under negotiation) Japan-Mexico EPA (signed agreement) Japan’s Bilaterals: Japan-Singapore EPA Japan-Philippines EPA Japan-Thailand EPA Japan-Malaysia EPA Japan-Indonesia EPA AFTA Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand, Brunei, Vietnam, Laos, Myanmar, Cambodia India - ASEAN FTA EU-MEXICO FTA EU 25 countries ACP-EU Countries in Africa and the Caribbean (approx. 70 countries) Japan- Mexico EPA (signed agreement) Japan-Korea-China FTA (under negotiation) Australia-New Zealand-ASEAN FTA Korea - ASEAN FTA

5 5 ASEAN IN THE GLOBAL LANDSCAPE (G2)

6 6 FTA Dalam Kerangka Regional (ASEAN dan ASEAN Mitra) (T6) FTA’sPenanda-tanganan Entry into Force CoverageCakupan Tarif ASEAN Economic Community 20 November 2007AEC 2015Komprehensif ASEAN-CEPT: ± 98% dari pos tarif ASEAN – China29 November Juli 2005KomprehensifEarly Harvest Chapter Normal Track: 40% at 0-5% in 2005 Sensitive Track Sensitive List (SL) : Tahun 2012 = 20% Highly Sensitive List (HSL) tahun 2015=50% ASEAN – Korea24 Agustus Juli 2007KomprehensifKorea: Menghapuskan semua pos tarif Normal Track selambat-lambatnya 1 Jan ASEAN-6 Normal Track dihapuskan paling lambat 1 Jan 2011 (flexibilitas <5% pos tarif NT dihapuskan paling lambat 1 Jan 2012 Sensitive Track Batas maksimum jumlah pos tarif dalam Sensitive Track ASEAN 6 & Korea adalah 10% dari total pos tarif.

7 7 FTAsPenanda-tanganan Entry into Force CoverageCakupan Tarif ASEAN – Jepang 1 Maret Desember 2008KomprehensifNormal Track (NT) – ASEAN sebesar 90% dari total pos tarif dan Jepang sebesar 92% dari total pos tarif dan nilai dagang, terdiri atas eliminasi dalam tempo 10 tahun (88%) dan penghapus lebih lanjut (4%) (Indonesia EIF 1 Jan 2010, dalam tahap proses ratifikasi) Sensitive Track (ST) - 8% dari total pos tarif 6 digit dan nilai dagang. ASEAN – Australia – New Zealand 27 Februari 2009Direncanakan 1 Januari 2010 KomprehensifEntry Into Force 1 Januari 2010: 90% pos tarif NZ dan 91.77% pos tarif Australia akan dihapuskan tarifnya pada tahun % pos tarif Indonesia akan dihapuskan tarifnya pada tahun 2015 ASEAN – India13 Agustus 2009Direncanakan 1 Januari 2010 Perdagangan Barang (perundingan jasa dan investasi sedang dilakukan) Pada tahun 2016 (berakhirnya Normal Track): 42.56% pos tariff Indonesia akan dihapuskan tarifnya 79.35% pos tariff India akan dihapuskan tarifnya

8 8 LATAR BELAKANG

9 9 Latar Belakang AFTA dan ASEAN-China FTA 1991ASEAN FTA disepakati (kemudian dipercepat ke 2001) 1996 RRC secara resmi menjadi dialog partner ASEAN 1997 (Desember)Joint Statement kepala negara untuk menjalankan ASEAN dan RRC adalah sahabat dan mitra yang saling percaya untuk menyongsong abad (Nopember)Pada KTT ASEAN – RRC, Kepala Negara menyepakati gagasan pembentukan CAFTA

10 (Maret)Dibentuk ASEAN – RRC Economic Expert Group 2002 (Nopember) Pada KTT ASEAN – RRC, Kepala Negara menandatangani Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation between ASEAN and the PRC 2003Perundingan CAFTA dimulai dan selesai Juni Bali Concord (Proposal Indonesia–ASEAN Community diterima):AFTA menjadi bagian dari ASEAN Economic Community 2004 (Nopember)Kesepakatan CAFTA – Barang ditanda- tangani ( ) 2007AEC diakselerasi dari 2020 ke Kesepakatan ASEAN Charter dan AEC Blue Print ditandatangani 2008 (Desember) ASEAN Charter berlaku

11 11 Tahap I: Early Harvest Program (EHP) Chapter 01 sampai dengan Chapter 08 yaitu: Binatang hidup, Ikan, Dairy product, Tumbuhan, Sayuran, dan buah-buahan. Kesepakatan Bilateral (produk spesifik) antara lain kopi, Minyak Kelapa/CPO, Coklat, barang dari karet, dan perabotan. - Tarif akan menjadi 0% pada tahun 2006 Tahap I: Early Harvest Program (EHP) Chapter 01 sampai dengan Chapter 08 yaitu: Binatang hidup, Ikan, Dairy product, Tumbuhan, Sayuran, dan buah-buahan. Kesepakatan Bilateral (produk spesifik) antara lain kopi, Minyak Kelapa/CPO, Coklat, barang dari karet, dan perabotan. - Tarif akan menjadi 0% pada tahun 2006 Tahap III: Sensitive / Highly Sensitive List - Sensitive List: (a) Tahun 2012 = max 20% ; (b) Tahun 2018 = Pengurangan menjadi 0-5% Dengan 304 Produk (HS 6 digit) antara lain Barang Jadi Kulit: tas, dompet; Alas kaki : Sepatu, Casual, Kulit; Kacamata; Alat Musik; Tiup, petik, gesek; Mainan: Boneka; Alat Olah Raga; Alat Tulis; Besi dan Baja; Spare part; Alat angkut; Glokasida dan Alkaloid Nabati; Senyawa Organik; Antibiotik; Kaca; Barang-barang Plastik. - Highly Sensitive List : Tahun 2015 tarifnya maksimum 50% Dengan 47 Produk (HS 6 digit), yang antara lain terdiri dari Produk Pertanian, seperti Beras, Gula, Jagung dan Kedelai; Produk Industri Tekstil dan produk Tekstil (ITPT);Produk Otomotif; Produk Ceramic Tableware. Tahap III: Sensitive / Highly Sensitive List - Sensitive List: (a) Tahun 2012 = max 20% ; (b) Tahun 2018 = Pengurangan menjadi 0-5% Dengan 304 Produk (HS 6 digit) antara lain Barang Jadi Kulit: tas, dompet; Alas kaki : Sepatu, Casual, Kulit; Kacamata; Alat Musik; Tiup, petik, gesek; Mainan: Boneka; Alat Olah Raga; Alat Tulis; Besi dan Baja; Spare part; Alat angkut; Glokasida dan Alkaloid Nabati; Senyawa Organik; Antibiotik; Kaca; Barang-barang Plastik. - Highly Sensitive List : Tahun 2015 tarifnya maksimum 50% Dengan 47 Produk (HS 6 digit), yang antara lain terdiri dari Produk Pertanian, seperti Beras, Gula, Jagung dan Kedelai; Produk Industri Tekstil dan produk Tekstil (ITPT);Produk Otomotif; Produk Ceramic Tableware. Tahap II: Normal Track I dan II - Normal Track I Tarif akan menjadi 0% pada tahun Normal Track II Tarif akan menjadi 0% pada tahun 2012 Tahap II: Normal Track I dan II - Normal Track I Tarif akan menjadi 0% pada tahun Normal Track II Tarif akan menjadi 0% pada tahun 2012 Tahapan Penghapusan Tarif Bea Masuk

12 12 Pengelompokan Barang Normal Track (target of tariff rate = 0%) (a) Early Harvest Program (2006) (b) NT1 (2010) (c) NT2 (2012) Sensitive list (a) Tahun 2012 tarif menjadi 20% (b) Tahun 2018 tarif menjadi 0-5% Highly Sensitive list Tahun 2015 tarif menjadi 50% (untuk produk yang pada tahun 2002 tingkat tarifnya >50%)

13 13 KINERJA PERDAGANGAN LUAR NEGERI INDONESIA TERKAIT CAFTA

14 14 Neraca Perdagangan Indonesia-China (G3) Sumber: BPS, 2010 Selama periode Indonesia mencatat surplus perdagangan dengan China. Namun demikian, tahun 2008 dan 2009 (Jan-Okt) mengalami defisit. Defisit neraca perdagangan tahun 2009 mengalami penurunan dibanding 2008.

15 Struktur Ekspor Non Migas Menurut Negara Tujuan (G4) Sumber: BPS, diolah. Peranan China dan India sebagai negara tujuan utama ekspor semakin meningkat. Sedangkan dominasi pangsa ekspor ke Uni Eropa, Amerika Serikat dan Jepang mulai berkurang. 8

16 16 Ekspor Indonesia ke China Menurut Sektor (G5) Selama periode pertumbuhan ekspor produk industri mencapai 17,7% per tahun dan pertambangan 72,3% per tahun. Sumber: BPS, 2010

17 17 Perkembangan Impor Menurut Negara Asal (G6) Peran impor dari China meningkat pesat, semen- tara impor dari ASEAN cende- rung stabil. Sumber: BPS (diolah).

18 18 Impor Indonesia dari China Menurut Golongan Penggunaan Barang (G7) Impor barang modal dan bahan baku penolong dari China meningkat pesat dengan pertumbuhan rata-rata tahunan masing-masing sebesar 49,8% dan 24,6%. Kedua kelompok barang tersebut digunakan oleh industri dalam negeri untuk pasar dalam negeri maupun ekspor. Sumber: BPS, 2010

19 19 Sepanjang tahun 2000 hingga 2008, neraca perdagangan tumbuh 10% yang mengindikasikan masih adanya pertumbuhan ekspor, terutama di sektor non-migas (G8) Sumber: BPS Keterangan: * ) Angka sementara

20 20 Skema Tarif Bea Masuk MFN 9.99,99,57,87,67,57,49 CEPT 3.42,8 2,01,9 0 CAFTA 9.99,69,56,4 3,82,9 AKFTA ,66,02,6 AANZ 9.99,99,57,87,67,5- IJEPA ,24,52,97 Perkembangan Skema Bea Masuk (T7) Sumber: Kemendag, 2009

21 21 JUMLAH DAN NILAI SKA PER JENIS SKA PERIODE 2007 S/D OKTOBER 2009 (T8) Sumber: Kemendag, 2009

22 22 Manfaat FTA dengan RRC: akses untuk produk Indonesia di pasar RRC peningkatan investasi dan Indonesia sebagai basis pro- duksi (impor bahan baku dan barang modal naik dari 83,7% dari seluruh impor pada tahun 2000 menjadi 91% pada tahun 2008) Masalah dan Solusi: Sejumlah sektor khawatir menghadapi dampak negatif FTA (3% dari total tariff line) sehingga pemerintah dan bisnis membentuk Tim Bersama untuk mengkoordinasikan lang- kah-langkah secara komprehensif meningkatkan daya saing dan membicarakan ulang pelaksanaan CAFTA untuk bebe- rapa sektor tersebut. PELUANG DAN TANTANGAN

23 23 Langkah-langkah dalam Rangka Pelaksanaan CAFTA

24 24 TIM PENINGKATAN DAYA SAING  Organisasi:  Membentuk Tim Koordinasi Penanganan Hambatan Industri dan Per- dagangan (SK.Menko Perekonomian No Kep-42/M.EKON/12/2009)  Pengarah: Menko Perekonomian dan para menteri terkait  Tim Pelaksana: para pejabat Eselon I dari KL terkait dan pelaku usaha (KADIN dan APINDO) dan 3 Tim Teknis yang fokus kepada: Penguatan Daya Saing Global Pengamanan Pasar Domestik Penguatan Ekspor  Tugas Tim  Identifikasi dan analisis masalah/hambatan  Koordinasi penyelesaian masalah/hambatan industri dan perda- gangan  Pemantauan dan evaluasi penyelesaian hambatan

25 25 STRATEGI I: PENGUATAN DAYA SAING GLOBAL Penanganan issue domestik, meliputi:  Penataan lahan dan kawasan industri  Pembenahan infrastruktur dan energi  Pemberian insentif (pajak maupun non pajak lainnya)  Membangun kawasan ekonomi khusus  Perluasan akses pembiayaan dan pengurangan biaya bunga (KUR, Kredit Ketahanan Pangan dan Energi, modal ventura, keuangan syariah, anjak piutang, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia)  Pembenahan sistem logistik  Perbaikan layanan publik  Penyederhanaan peraturan  Peningkatan kapasitas ketenagakerjaan

26 26 STRATEGI II: PENGAMANAN PASAR DOMESTIK  Pengawasan di Border  Meningkatkan pengawasan ketentuan impor dan ekspor dalam pelaksanaan FTA  Menerapkan Early Warning System untuk pemantauan dini terhadap kemungkinan terjadinya lonjakan impor  Pengetatan pengawasan penggunaan Surat Keterangan Asal barang (SKA) dari Negara Negara mitra FTA  Pengawasan awal terhadap kepatuhan SNI, Label, kadaluarsa, kesehatan, lingkungan, security  Penerapan instrumen perdagangan yang diperbolehkan WTO (safeguard measures) terhadap industry yang mengalami kerugian yang serius (seriously injury) akibat tekanan impor (import surges)  Penerapan instrumen anti dumping dan countervailing duties atas importasi yang unfair

27 27 STRATEGI II: PENGAMANAN PASAR DOMESTIK  Peredaran barang di pasar Lokal  Task Force pengawasan peredaran barang yang tidak sesuai dengan ketentuan perlindungan konsumen dan industri  Kewajiban penggunaan label dan manual berbahasa Indonesia  Promosi penggunaan produksi dalam negeri  Mengawasi efektifitas promosi penggunaan produksi dalam negeri (Inpres No 2 tahun 2009)  Mengalakkan program 100% Aku Cinta Indonesia (ACI) dan Industri Kreatif

28 28 STRATEGI III: PENGUATAN EKSPOR  Mengoptimalkan peluang pasar China dan ASEAN  Penguatan peran perwakilan luar negeri (ATDAG/TPC)  Promosi Pariwisata, Perdagangan, dan Investasi (TTI)  Penanggulangan masalah dan kasus ekspor  Pengawasan SKA Indonesia  Peningkatan peran LPEI dalam mendukung pembiayaan ekspor

29 29 PEMBICARAAN ULANG Pemerintah (Kementerian Perdagangan) telah menyampaikan surat kepada Sekjen ASEAN 31/12/09 mengenai:  Indonesia tetap melaksanakan komitmen sesuai jadwal  Menjelaskan bahwa beberapa sektor menyampaikan kekhawatiran atas pelaksanaan CAFTA dan akan bahas pada kesempatan pertama Sebagai tindak lanjut telah melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk membahas langkah- langkah yang dapat mengatasi kekhawatiran beberapa sektor dan mencari mekanisme yang tepat untuk mencari solusi win-win sesuai dengan kepentingan nasional.

30 Boro-boro masuk Cina, produk kita justru terancam ditinggal rakyatnya sendiri. Akibatnya, terjadilah deindustrialisasi dan meningkatkan pengangguran. Inilah dampak diterapkannya Pasar Bebas ASEAN–Cina per 1 Januari ASEAN–China Free Trade Agreement (CAFTA) alias Pasar Bebas Asia Tenggara– Cina, mulai berlaku per 1 Januari Tapi di pusat perdagangan tekstil dan garmen Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat serta Mangga Dua, Jakarta Utara, batik asal Cina sudah merajai pasar sejak hampir dua tahun lalu. Bahkan, di Pasar Johar Semarang, Pasar Klewer Solo, dan Pasar Turi Surabaya sebagai sentra batik di Pulau Jawa, juga sudah diserbu batik made in negeri Tirai Bambu ini ( (PERILAKU KONSUMEN)

31 Ternyata, murahnya harga produk tekstil dan garmen asal Cina bukan semata-mata karena keunggulan industri mereka. Tapi juga karena praktik ilegal dalam mengimpor produk itu ke Indonesia. Ini ditegaskan oleh Ketua Asosiasi Pedagang Grosir DKI Jakarta Heris MM. Menurutnya, tekstil dan produk garmen selundupan menguasai sejumlah pusat grosir di Jakarta, di antaranya Tanah Abang dan Mangga Dua. “Ini berlangsung sejak tiga tahun terakhir tanpa penanganan yang jelas,” tandasnya. Heris mencontohkan, di Pasar Tanah Abang misalnya, saat ini memperdagangkan dari sekitar 75%- 80% tekstil dan garmen impor, sekitar 20%-30%-nya ditengarainya masuk secara ilegal. Demikian juga dengan pusat perdagangan Mangga Dua, diperkirakan sekitar 40% garmen dan 60% tekstil merupakan barang selundupan (http://www.sabili.co.id).http://www.sabili.co.id (PERILAKU PRODUSEN)

32 “Barang-barang ilegal ini masuk secara borongan melalui bandara dan pelabuhan,” ujar Ketua Asosiasi Pedagang Grosir DKI Jakarta Heris MM. Modus yang digunakan, lanjut Heris, produk impor itu biasanya masuk melalui bandara hanya membayar bea masuk (BM) Rp per kilogram, tanpa membayar PPN, PPh impor dan lain. Sedangkan produk yang masuk melalui pelabuhan, biasanya dibongkar di tengah laut kemudian dibawa dengan kapal-kapal kecil ke berbagai kota di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Dumai, Jambi, dan Pangkal Pinang. “Umumnya, tekstil dan garmen ilegal ini berasal dari Cina, Korea, India, dan Thailand,” katanya. (http://www.sabili.co.id)http://www.sabili.co.id (PERILAKU OKNUM PEMERINTAH)

33 Staf Ahli Menteri Keuangan Chatib Basri menilai implementasi China- ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA) tidak perlu ditakutkan. Itu karena yang terjadi hanyalah legalisasi barang selundupan asal China. "Kita khawatir untuk sesuatu yang sudah terjadi, barang-barang China sudah ada di sini lewat selundupan. Jadi, sekarang hanya dilegalisasi saja," kata Chatib seusai diskusi bertema "100 Hari SBY dan Arah Ekonomi Indonesia" di Jakarta, Selasa (2/2/2010) malam. Menurutnya, terjadinya selundupan barang asal China karena adanya perbedaan harga barang di China dan Indonesia yang disebabkan pengenaan tarif bea masuk. Oleh karena itu, dengan adanya penurunan tarif akibat implementasi CAFTA, harga barang-barang selundupan itu akan menjadi sama dengan harga di China. "Kalau sekarang tarifnya diturunkan, orang akan masuk ke impor yang legal. Dampaknya akan terlihat di data impor nanti," ujarnya. (http://metrotvnews.com). (PERILAKU STAF AHLI PEMERINTAH)

34 Indonesia siap menghadapi China-ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA). Hal itu disebabkan potensi ekspor Indonesia ke China lebih tinggi daripada ekspor China ke Indonesia. Apabila Indonesia tidak mengikuti CAFTA dengan China, pasar Indonesia justru terancam oleh ekspansi produk dari ASEAN yang mendapatkan keuntungan atas tersedianya bahan baku produk China yang lebih murah. “Potensi kenaikan ekspor Indonesia ke China masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan ekspor China ke Indonesia,” kata staf Deputi Bidang Pengembangan dan Rekstrukturisasi Usaha, Kementerian Koperasi dan UKM, Ahmad Djunaedi pada (http://fe.ugm.ac.id/id/berita)http://fe.ugm.ac.id/id/berita (PERILAKU STAF DEPUTI PEMERINTAH)

35 Mengapa Produk Cina Berharga Murah dan Semakin Bagus Kualitasnya ? Daniel Hadinata Saputra(http://swa.co.id) Sisi Technical: Pertama, Cina unggul di 12 faktor kompetisi bisnis. Kecuali faktor efisiensi pasar barang dan jasa, Cina menang telak di faktor sistem birokrasi yang cepat-tepat, infrastruktur, stabilitas ekonomi, inovasi bisnis, efisiensi tenaga kerja dan ukuran pasar (sehingga mampu mencapai economies of scale). Kedua, Cina menerapkan strategi Reverse Engineering atau imitasi, sehingga mengurangi biaya riset dan pengembangan, serta dapat memproduksi barang yang bervariasi dalam waktu singkat. Ketiga, adanya tax free policy selama tiga tahun pertama untuk perusahaan joint venture, subsidi 13,5% dari pemerintahan lokal dalam bentuk tax refund, pinjaman bank yang hanya 3% per tahun, serta banyaknya industri pendukung sehingga industri Cina tidak perlu mengimpor barang. Mata uang yuan yang dipatok terhadap US$ membuat harga ekspor barang Cina menjadi sangat murah. Keempat, sistem politik di Cina lebih terbuka dan tidak memberangus kritik lagi sehingga mendorong perbaikan bersinambungan. Contohnya, ada pertemuan tahunan yang disebut Chinese Economists Society.

36 Mengapa Produk Cina Berharga Murah dan Semakin Bagus Kualitasnya ? Daniel Hadinata Saputra(http://swa.co.id) Sisi Technical: Kelima, sebagai pusat industri di dunia, pemerintah China memilih untuk memprioritaskan penyediaan listrik murah. Listrik merupakan faktor penting untuk menciptakan daya saing dan menarik investasi. Karena itu dalam penyediaan listrik, China memilih memanfaatkan batu bara yang melimpah. Rendahnya daya tarik industri manufaktur di Indonesia antara lain akibat kegagalan PLN menjaga pasokan listrik dan tingkat harga. Tingginya biaya produksi terjadi karena PLN tidak mendapat dukungan pasokan energi murah baik batu bara maupuan gas dari pemerintah. Padahal Indonesia memiliki kekayaan energi alam yang tidak kalah jika dibandingkan dengan China. Tetapi Indonesia lebih memilih menjadikan batu bara dan gas sebagai komoditas ekspor, bukan modal untuk membangun Industri. Demikian juga pada pengolahan timah, China tidak menjadikan komoditas ekspor yang didasarkan pada visi dan strategi China untuk membangun struktur industri elektronik yang kompetitif. Sedangkan di Indonesia, timah dibiarkan untuk diolah negara lain.

37 Mengapa Produk Cina Berharga Murah dan Semakin Bagus Kualitasnya ? Daniel Hadinata Saputra(http://swa.co.id) Sisi Human Social: Pertama, adanya jejaring keluarga. Pebisnis Cina bisa menekan biaya pemasaran karena menggunakan jejaring ini untuk promosi (China’s Megatrends oleh John Naisbitt dan Doris Naisbitt, 2010). Kedua, ada trust antarpedagang, terutama kredit yang dilandasi guanxi (hubungan). Guanxi ini tidak hanya pada keluarga, tetapi juga kesamaan asal daerah, sekolah, dan persahabatan. Ketiga, investasi luar biasa di sektor pendidikan. Pada 1998, 3,4 juta pelajar masuk ke universitas. Empat tahun kemudian, pendaftaran universitas naik 165% dan siswa Cina yang ke luar negeri naik 152%. Setelah lulus mereka kembali dan membangun negerinya. Walau awalnya hanya menjadi pabrik alih daya, karena SDM-nya sudah menguasi teknologi, tak mengherankan perusahaan Cina seperti Lenovo bisa membeli IBM Thinkpad, Huawei mengancam Cisco dan Ericsson, serta Haier mengejar GE, Whirlpool, dan Maytag. Keempat, walau upah tenaga kerja hampir sama, buruh Cina bekerja lebih efisien (Cina di peringkat 32, Indonesia di 75 dari 133 negara). Produktivitas pekerja Cina naik 6% per tahun ( ).

38 Perilaku Produsen (kualitas produsen) Qsx = f (Px, Pfp, TP, Tax/Subs, etc) Perilaku Konsumen (awarness, involvement, committ- ment, participation) Qdx = f (Px, Ax, Ox, Dx, Py, Ay, Oy, Dy, Yc, Tc, Ec, Pn, Gp, Pn, etc.) Dependent strategic competitor consumer others Variable variable variable variable variable Pemerintah: 1. Kebijakan perlindungan konsumen dan produsen. 2. Kebijakan sektor riil dan sektor moneter (bersama dengan Bank Indonesia). 3. Koordinasi antarKementerian/Instansi. 4. Koordinasi antarPemerintah Kabupaten/Kota.


Download ppt "Rudy Badrudin, STIE YKPN Yogyakarta HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN MANAJEMEN STIE YKPN YOGYAKARTA SABTU, 12 JUNI 2010."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google