Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

VARIABEL, SEKALA, DAN PENGUKURANNYA DALAM ………. FOTO: smno.kampus.ub.febr2012.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "VARIABEL, SEKALA, DAN PENGUKURANNYA DALAM ………. FOTO: smno.kampus.ub.febr2012."— Transcript presentasi:

1

2 VARIABEL, SEKALA, DAN PENGUKURANNYA DALAM ………. FOTO: smno.kampus.ub.febr2012

3 SKALA LIKERT Diunduh dari: ………….. 23/8/2012 Skala Likert merupakan skala psikometrik yang lazim digunakan dalam kuesioner, dan merupakan skala yang paling banyak digunakan dalam survei. Nama skala ini diambil dari nama Rensis Likert, yang mempublikasikan suatu laporan yang menjelaskan penggunaan sekala ini. Pada saat menanggapi suatu pertanyaan dalam skala Likert, responden menentukan tingkat persetujuannya terhadap pernyataan tersebut dengan jalan memilih salah satu dari pilihan yang tersedia. Biasanya ada lima pilihan skala dengan format : 1.Sangat tidak setuju 2.Tidak setuju 3.Netral 4.Setuju 5.Sangat setuju Selain pilihan dengan lima skala seperti contoh di atas, kadangkala digunakan juga skala dengan tujuh atau sembilan tingkat. Suatu studi empiris menemukan bahwa beberapa karakteristik statistik hasil kuesioner dengan berbagai jumlah pilihan tersebut ternyata sangat mirip. Skala Likert merupakan metode skala bipolar yang mengukur baik tanggapan positif ataupun negatif terhadap suatu pernyataan. Empat skala pilihan juga kadang digunakan untuk kuesioner skala Likert yang memaksa orang memilih salah satu kutub karena pilihan "netral" tak tersedia.

4 PSIKOLOGI DAN PSIKOMETRIK Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya. Menurut asalnya katanya, psikologi berasal dari bahasa Yunani Kuno: "ψυχή" (Psychē yang berarti jiwa) dan "-λογία" (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa. Psikometrik merupakan bidang kajian yang berkaitan dengan teori dan teknik dalam pengukuran pendidikan dan psikologis, mencakup pengukuran pengetahuan, kemampuan, sikap, dan sifat kepribadian. Bidang ini terutama mempelajari perbedaan antar individu dan antar kelompok. Penelitiannya terutama pada: Pembuatan alat dan prosedur pengukuran, dan Pengembangan dan penyempurnaan pendekatan teoretis terhadap pengukuran. Kebanyakan dari kerja awal secara teoretis dan terapan dalam psikometrik dilakukan dalam upaya mengukur kecerdasan. Konsep kunci tradisional dalam teori tes klasikal adalah reliabilitas dan validitas. Alat ukur yang reliabel melakukan pengukuran dengan konsisten, sementara pengukuran yang valid adalah yang mengukur apa yang akan diukur. Diunduh dari: 23/8/2012

5 PSIKOLOGI DAN PSIKOMETRIK Apa itu Persepsi? Persepsi merupakan suatu proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi dan pengalaman-pengalaman yang ada dan kemudian menafsirkannya untuk menciptakan keseluruhan gambaran yang berarti. Menurut Mangkunegara, persepsi merupakan suatu proses pemberian arti atau makna terhadap lingkungan. Dalam hal ini persepsi mecakup penafsiran obyek, penerimaan stimulus (Input), pengorganisasian stimulus, dan penafsiran terhadap stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara mempengaruhi perilaku dan pembentukan sikap. Robbins (2003) mendeskripsikan persepsi dalam kaitannya dengan lingkungan, yaitu sebagai proses di mana individu-individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka. Proses persepsi melalui tiga tahap, yaitu: 1.Tahap penerimaan stimulus, baik stimulus fisik maupun stimulus sosial melalui alat indera manusia, yang dalam proses ini mencakup pula pengenalan dan pengumpulan informasi tentang stimulus yang ada. 2.Tahap pengolahan stimulus sosial melalui proses seleksi serta pengorganisasian informasi. 3.Tahap perubahan stimulus yang diterima individu dalam menanggapi lingkungan melalui proses kognisi yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, serta pengetahuan individu. Diunduh dari: 23/8/2012http://www.masbow.com/2009/08/apa-itu-persepsi.html

6 PSIKOLOGI DAN PSIKOMETRIK Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Thoha (1993) : persepsi pada umumnya terjadi karena dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dlam diri individu, misalnya sikap, kebiasaan, dan kemauan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu yang meliputi stimulus itu sendiri, baik sosial maupun fisik. Robbins (2003): meskipun individu-individu memandang pada satu benda yang sama, mereka dapat mempersepsikannya berbeda-beda. (Robbins, S.P Perilaku Organisasi. Jilid I. Jakarta: PT INDEKS Kelompok Garmedia). Ada sejumlah faktor yang bekerja untuk membentuk dan terkadang memutar-balikkan persepsi., yaitu : 1.Pelaku persepsi (perceiver) 2.Objek atau yang dipersepsikan 3.Konteks dari situasi dimana persepsi itu dilakukan. Diunduh dari: ………….. 23/8/2012

7 PSIKOLOGI DAN PSIKOMETRIK Aspek-aspek Persepsi “Sikap” merupakan suatu interelasi dari tiga komponen, yaitu: 1.Komponen kognitif, yaitu komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi yang dimiliki seseorang tentang obyek sikapnya. Dari pengetahuan ini kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tertentu tentang obyek sikap tersebut. 2.Komponen Afektif, afektif berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang. Jadi sifatnya evaluatif yang berhubungan erat dengan nilai-nilai kebudayaan atau sistem nilai yang dimilikinya. 3.Komponen Konatif, yaitu merupakan kesiapan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan obyek sikapnya. Byrne Myers (dalam Gerungan, 1996): “sikap” mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu: 1.Komponen kognitif (komponen perseptual), yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap. 2.Komponen afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif. 3.Komponen konatif (komponen perilaku, atau action component), yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap. (Gerungan, W. A Psikologi Sosial. (edisi kedua). Bandung : PT Refika Aditama.) Diunduh dari: 23/8/2012

8 PSIKOLOGI DAN PSIKOMETRIK Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atau peristiwa. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu. Komponen utama sikap Sikap mempunyai tiga komponen utama: kesadaran, perasaan, dan perilaku (Breckler, S. J."Empirical Validation of Affect, Behavior, and Cognition as Distinct Component of Attitude," Journal of Personality and Social Psychology, Mei 1984, hal ). Keyakinan bahwa "Diskriminasi itu salah" merupakan sebuah pernyataan evaluatif. Opini semacam ini adalah komponen kognitif dari sikap yang menentukan tingkatan untuk bagian yang lebih penting dari sebuah sikap -komponen afektifnya. [ [ Perasaan adalah segmen emosional atau perasaan dari sebuah sikap dan tercermin dalam pernyataan seperti "Saya tidak menyukai John karena ia mendiskriminasi orang- orang minoritas.““ Akhirnya, “perasaan” dapat menimbulkan hasil akhir dari perilaku. Komponen perilaku dari sebuah sikap merujuk pada suatu maksud untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap seseorang atau sesuatu. Diunduh dari: 23/8/2012

9 PSIKOLOGI DAN PSIKOMETRIK Perilaku manusia merupakan sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan/atau genetika. (Albarracín, Dolores, Blair T. Johnson, & Mark P. Zanna. The Handbook of Attitude. Routledge, Hlm ). Perilaku seseorang dikelompokkan ke dalam perilaku wajar, perilaku dapat diterima, perilaku aneh, dan perilaku menyimpang. Dalam sosiologi, ‘perilaku’ dianggap sebagai sesuatu yang tidak ditujukan kepada orang lain dan oleh karenanya merupakan suatu tindakan sosial manusia yang sangat mendasar. ‘Perilaku’ tidak boleh disalahartikan sebagai perilaku sosial, yang merupakan suatu tindakan dengan tingkat lebih tinggi, karena perilaku sosial adalah perilaku yang secara khusus ditujukan kepada orang lain. Penerimaan terhadap perilaku seseorang diukur relatif terhadap norma sosial dan diatur oleh berbagai kontrol sosial. Dalam kedokteran perilaku seseorang dan keluarganya dipelajari untuk mengidentifikasi faktor penyebab, pencetus atau yang memperberat timbulnya masalah kesehatan. Intervensi terhadap perilaku seringkali dilakukan dalam rangka penatalaksanaan yang holistik dan komprehensif. Diunduh dari: ………….. 23/8/2012

10 PSIKOLOGI DAN PSIKOMETRIK Diunduh dari: ………….. 23/8/2012 Benjamin Bloom, membedakan adanya tiga bidang perilaku, yakni kognitif, afektif, dan psikomotor. Kemudian dalam perkembangannya, domain perilaku yang diklasifikasikan oleh Bloom dibagi menjadi tiga tingkat: Pengetahuan (knowledge) Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap obyek melalui indera yang dimilikinya. Sikap (attitude) Sikap merupakan respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan. Tindakan atau praktik (practice) Tindakan ini merujuk pada perilaku yang diekspresikan dalam bentuk tindakan, yang merupakan bentuk nyata dari pengetahuan dan sikap yang telah dimiliki.

11 Diunduh dari: ………….. 23/8/2012 PENGETAHUAN Pengetahuan adalah informasi yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang secara Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna. Dalam pengertian lain, “pengetahuan” adalah pelbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan akal. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut. masakan “Pengetahuan” adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindaki; yang lantas melekat di benak seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan. Hal ini lah yang disebut potensi untuk menindaki.data Pengetahuan empiris Pengetahuan yang lebih menekankan pengamatan dan pengalaman inderawi dikenal sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan aposteriori. Pengetahuan ini bisa diperoleh dengan melakukan pengamatan yang dilakukan secara empiris dan rasional. Pengetahuan empiris tersebut juga dapat berkembang menjadi pengetahuan deskriptif bila seseorang dapat melukiskan dan menggambarkan segala ciri, sifat, dan gejala yang ada pada objek empiris tersebut. Pengetahuan empiris juga bisa didapatkan melalui pengalaman pribadi manusia yang terjadi berulangkali. empiris Misalnya, seseorang yang sering dipilih untuk memimpin organisasi dengan sendirinya akan mendapatkan pengetahuan tentang manajemen organisasi.

12 SURVEI Survei adalah pemeriksaan atau penelitian secara komprehensif. Survei yang dilakukan dalam melakukan penelitian biasanya dilakukan dengan menyebarkan kuesioner atau wawancara, dengan tujuan untuk mengetahui: siapa mereka, apa yang mereka pikir, rasakan, atau kecenderungan suatu tindakan. Dalam penelitian kuantitatif, survei lebih merupakan pertanyaan tertutup, sementara dalam penelitian kualitatif berupa wawancara mendalam dengan pertanyaan terbuka. Survei (survey) atau lengkapnya self-administered survey adalah metode pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden individu. (Diunduh dari: Diunduh dari: cut:journal:4&nmid= ………….. 24/8/2012

13 SURVEI PEMBUATAN KUESIONER Tujuannya: untuk memperoleh informasi yang relevan untuk memperoleh tingkat keandalan (reliability) dan keabsahan (validity) setinggi mungkin Tahap awal dari pembuatan kuesioner yang harus dipersiapkan adalah informasi apa saja yang ingin didapatkan dari responden, setelah itu baru disusun responden, pertanyaan. Diunduh dari: cut:journal:4&nmid= ………….. 24/8/2012

14 METODE SURVEI DALAM METODE PENELITIAN KUANTITATIF Survei merupakan istilah yang digunakan dalam bidang sosiologi terutama sejak publikasi Pittsburg Survei pada tahun Survei ini banyak digunakan di Amerika Serikat dan Inggris, tetapi kurang begitu banyak digunakan di continental Eropa. Survei merupakan penelitian yang dilakukan untuk memperoleh fakta dan gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan secara faktual. Metode survei digunakan sebagai teknik penelitian yang melalui pengamatan langsung terhadap suatu gejala atau pengumpulan informasi melalui pedoman wawancara, kuisioner, kuisioner terkirim (mailed questionnaire) atau survei melalui telepon (telephone survey). Diunduh dari: ………….. 24/8/2012

15 METODE SURVEI DALAM METODE PENELITIAN KUANTITATIF Diunduh dari: ………….. 24/8/2012 Beberapa kelemahan metode survei: 1.Kuisioner yang digunakan dapat menggunakan kuisioner terkirim, dapat juga melalui telepon. Sehingga tidak ada interaksi langsung dari kedua pihak, peneliti pun tidak dapat mengetahui ekspresi dari responden. 2.Kuisioner yang dikirim melalui pos kadang kala tidak dikembalikan ataupun tidak diisi oleh responden (tidak valid) 3.Secara sosiologis, metode survey melihat masyarakat sebagai kumpulan individu. Pendekatan ini dipandang sebagai pendekatan atomistic, dan tidak dipandang sebagai satu kesatuan sosial yang holostik. 4.Survey bersifat kaku. Dimana tidak memungkinkan peneliti untuk meneliti hal-hal diluar rancangan. 5.Tidak dapat menyajikan gambaran khas mengenai kelompok atau komunitas tertentu dalam populasi. 6.Hanya dilakukan pada titik waktu tertentu saja, sehingga tidak mengetahu proses atau sejarah perkembangan masyarakat.

16 METODE SURVEI DALAM METODE PENELITIAN KUANTITATIF Diunduh dari: ………….. 24/8/2012 Beberapa kelemahan metode survei: 1.Tidak cocok untuk masyarakat tradisional. 2.Sangat rentan adanya kesalahan, sehingga sangat ditentukan oleh besar kecilnya sampling. 3.Menuntut validitas dan reliabilitas instrument penelitian. 4.Dapat menghasilkan generalisasi empiris terhadap populasinya apabila menggunakan teknik sampling yang benar. 5.Survey dapat dilakukan serempak di berbagai lokasi penelitian. 6.Bermanfaat untuk menjawab masalah sosial dengan cepat sehingga kebijakan, program, dan intervensi sosial segera dapat dilakukan. 7.Dapat menghindari bias peneliti. Karena bersifat obyektif, tanpa memasukkan perasaan peneliti, dan bebas nilai, dan hasil survey tidak diragukan keabsahannya.

17 KELEBIHAN MENGGUNAKAN METODE SURVEI Diunduh dari: kaskusian.awardspace.biz/.../... ………….. 24/8/ Dapat dilakukan untuk menginvestigasi masalah yang terkait dengan kehidupan manusia tanpa harus melalui riset laboratorium atau melalui perancangan suatu kondisi tertentu. 2.Tidak membutuhkan biaya yang besar 3.Pengumpulan data yang luas dapat dilakukan dengan relatif mudah. 4.Tidak dibatasi oleh faktor geografi 5.Data yang telah ada di lapangan memberikan kemudahan survei Metode survei merupakan bagian dari paradigma positivisme. Ada beberapa kaidah yang perlu dipatuhi dalam menggunakan metode survei. 1.Pertama, peneliti harus membangun jarak dengan objek penelitiannya untuk menghindari bias. 2.Ke dua, kaidah yang menyangkut hasil penelitian. 3.Ke tiga, survei dicirikan oleh tahapan riset yang terstruktur. 4.Ke empat, kaidah yang terkait dengan pemaknaan terhadap kebenaran. 1.Kelebihan Metode Survei 2.Dalam Survei biasanya dilibatkan banyak orang (sampel) untuk mencapai generalisasi atau kesimpulan yang bersifat umum yang dapatdipertanggungjawabkan 3.Dapat digunakan berbagai teknik pengumpulan data seperti Angket, Wawancara atau Observasi sesuai kebutuhan. 4.Sering tampil masalah-masalah yang sebelumnya tidak diketahui atau diduga, sehingga sekaligus dapat bersifat eksploratif 5.Dengan survei, peneliti dapat membenarkan atau menolak teori tertentu.

18 SURVEI SOSIAL Diunduh dari: ………….. 24/8/2012 Survei sosial mempunyai prinsip-prinsip, diantaranya adalah sebagai berikut : 1.Menggunakan metode ilmiah dalam mnengatasi suatu masalah di suatu tempat tertentu dengan memberikan saran yang bermanfaat. 2.Merupakan proses pengumpulan fakta kuantitatif mengenai aspek sosial dari komposisi dan kegiatan masyarakat. 3.Digunakan untuk mempersiapkan suato program pembangunan melalui penelitian sosial untuk menghikangkan penyakit sosial. 4.Dimaksudkan untuk dasar bagi pene;itian sosial lebih lanjut guna menghasilkan hipotesis baru. 5.Merupakan kegiatan pengumpulan pendapat, sikap dan perilaku dari sebagian besar orang disuatu wilayah dan waktu tertentu. Tujuan survei sial adalah untuk menyediakan informasi mengenai suatu masalah. Informasi yang disajikan ini sangat dibutuhkan oleh orang atau pihak lain yang sedang menpelajari masalah sosial. Disebut dengan utilitarian, yaitu memberikan informasi yang berkaitan dengan masalah praktis. Survey sosial juga bertujuan untuk mendeskripsikan suatu gejala. Dalam hal ini peneliti melakukan penelitian secara langsung dengan datang ke lokasi dan berhubungan langsung dengan gejala yang sedang ia teliti. Disini peneliti bertujuan untuk mengumpulkan informasi, bukan membuktikan suatu gejala. Dengan informasi ini sehingga dapat menjadikan landasan dalam pembentukan hipotesis berikutnya. Survei sosial juga dapat dilakukan untuk menjelaskan suatu gejala sosial. Fungsinya lebih bersifat teoritis, yaitu menguji sejumlah hipotesis yang disarankan oleh teori sosiologi. Survei juga banyak digunakan untuk menerangkan hubungan antara dua variabel. Survei juga dapat bersifat umum maupun khusus, sifatnya dapat utilitarian maupun akademis.

19 DATA, SKALA, DAN VARIABEL Data dapat dimaknai sebagai sekumpulan informasi atau nilai yang diperoleh dari pengamatan (observasi) suatu obyek, data dapat berupa angka dan dapat pula merupakan lambang atau sifat. Beberapa macam data antara lain ; data populasi dan data sampel, data observasi, data primer, dan data sekunder. Data yang baik adalah data yang bisa dipercaya kebenarannya (reliable), tepat waktu dan mencakup ruang lingkup yang luas atau bisa memberikan gambaran tentang suatu masalah secara menyeluruh merupakan data relevan. Menurut sifatnya, yang selanjutnya dapat dibagi dua : 1.Data Kualitatif yaitu data yang tidak berbentuk angka, misalnya: Kuesioner Pertanyaan tentang suasana kerja, kualitas pelayanan sebuah restoran atau gaya kepemimpinan, dsb 2.Data Kuantitatif yaitu data yang berbentuk angka, misalnya: harga saham, besarnya pendapatan, dsb. Diunduh dari: %20Final%20Cetak_bab%201.pdf ………….. 24/8/2012

20 DATA, SKALA, DAN VARIABEL Penyusunan skala (perskalaan) adalah menetapkan proposisi atau mengatur secara seimbang, atau menurut perimbangan nilai pada dimensi variabel-variabel. Penyusunannya dapat dibedakan antara penyusunan indeks variabel dan penyusunan skala variabel. Scaling atau perskalaan hanya dapat dikenakan pada gejala kontinum yaitu menetapkan proporsi atau mengatur menurut pertimbangan (to set in proportion, to design or regulate to ratio ). Perskalaan pada gejala – gejala kontinum merupakan akibat logis dari pada adanya variabilitas tingkatan pada gejala–gejala kontinum itu. Skala Likert: skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Skala likert bisa 1,2,3, 4, 5, skala tergantung kebutuhan. Diunduh dari: %20Final%20Cetak_bab%201.pdf ………….. 24/8/2012

21 Diunduh dari: cut:journal:4&nmid= ………….. 24/8/2012 Petunjuk membuat pertanyaan 1.Gunakan kata-kata sederhana, jelas dan khusus 2.Pertanyaan berlaku bagi semua responden 3.Berkaitan dengan masalah dan sasaran penelitian 4.Tidak menggiring 5.Tidak membuat informasi yang tidak dimiliki responden 6.Tidak memuat hal yang bersifat pribadi atau peka 7.Tidak bersifat klise TEKNIK SKALA Bertujuan untuk mengetahui ciri-ciri atau karakteristik sesuatu hal berdasarkan suatu ukuran tertentu, sehingga dapat dibedakan Sifat Skala 1.Skala Nominal: Membedakan, tanpa tingkatan. Misalnya: Laras, Tata, Gagas, Kokom dll 2.Skala Ordinal: membedakan dengan suatu urutan, tanpa jarak. Misalnya: Mhs semester I kodenya 4, Mhs semester II Kodenya 6, mhs semester III kodenya 8. 3.Skala interval: membedakan dengan tingkatan, ada jarak. Misalnya: umur fiya 2 tahun, gagas 3 tahun, laras 5 tahun. 4.Skala Ratio: membedakan dengan tingkatan, ada jarak, ada nilai mutlak. Misalnya IP Tata 4 dan IP Siska 2, jadi prestasi Tata 2 kali prestasi Siska

22 VARIABEL Diunduh dari: %20Final%20Cetak_bab%201.pdf ………….. 24/8/2012 Variabel adalah sesuatu yang dapat membedakan atau mengubah variasi pada nilai. Nilai dapat berbeda pada waktu yang berbeda untuk obyek atau orang yang sama, atau nilai dapat berbeda dalam waktu yang sama untuk obyek atau orang yang berbeda. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat pada bab tiga mengenai proposisi. Secara konseptual variabel dapat kita bagi menjadi empat, yaitu: 1.Variabel dependent adalah variabel yang menjadi perhatian utama dalam sebuah pengamatan. Tujuan penelitian adalah memahami dan membuat variabel terikat, menjelaskan variabilitasnya atau memprediksinya. Variabel dependen sering juga disebut dengan variabel terikat atau variabel terpengaruh. 2.Variabel independent adalah variabel yang dapat mempengaruhi perubahan dalam variabel dependen dan mempunyai hubungan yang positif ataupun yang negatif bagi variabel dependen nantinya. Variasi dalam variabel dependen merupakan hasil dari variabel independen. Variabel independen sering juga disebut dengan variabel bebas atau variabel yang mempengaruhi. 3.Moderating Variable adalah variabel yang mempunyai dampak kontingensi (contingent effect) yang kuat pada hubungan variabel independen dan variabel dependen. 4.Intervening variable adalah faktor yang secara teori berpengaruh pada fenomena yang diamati tetapi tidak dapat dilihat, diukur, atau dimanipulasi, namun dampaknya dapat disimpulkan berdasarkan dampak variabel independen dan moderating terhadap fenomena yang diamati. Intervening variable ini dapat membantu kita dalam menjelaskan bagaimana mengkonsepsi hubungan anatar varibel independen dan variabel dependen.

23 VARIABEL Diunduh dari: %20Final%20Cetak_bab%201.pdf ………….. 24/8/2012 ANALISIS DATA Analisis data bertujuan untuk menyusun data dalam cara yang bermakna sehingga dapat dipahami. Para peneliti berpendapat bahwa tidak ada cara yang paling benar secara absolut untuk mengorganisasi, menganalisis, dan menginterpretasikan data Karena itu, maka prosedur analisis data dalam penelitian disesuaikan dengan tujuan penelitian. Untuk memudahkan dalam analisa data metode yang digunakan adalah metode statistik. Statistika adalah serangkaian metode yang dipakai untuk mengumpulkan, menganalisa, menyajikan dan memberi makna, data. Metode statistik mempermudah para pengambil keputusan memahami informasi mana yang harus dimanfaatkan, agar keputusan mereka tepat.

24 Variables Independent – Precedes, influences or predicts results Dependent – Affected by or predicted by the Independent Variable Extraneous – Affected by the D.V., but not controlled or measured. Causes error Diunduh dari: ………….. 23/8/2012 Confounding – An extraneous variable that varies systematically (has a relationship) with the I.V. Intervening – Unobservable trait that influences behavior (e.g., effect of new intervention on self- esteem may be affected by the motivation level of subjects) Control – Used to eliminate the effect of extraneous variables Organismic – Aka, measured, or assigned – Characteristics of the subjects that cannot be manipulated

25 Types of Variables Nominal Variable Sex, Ethnicity, Region, Religion, School, Team, Experimental Condition Name or Identity of particular characteristics Quantitative Variable Numbers to indicate the extent to which a person possesses a characteristic of interest. Perceived Attractiveness, Number of Siblings Self-Esteem Independence/Interdependence Diunduh dari: ………….. 23/8/2012 Dalam suatu penelitian sosial, menurut Sofian Effendi, proses pengukuran adalah rangkaian dari empat aktivitas, yakni : 1.Menentukan dimensi konsep penelitian 2.Rumusan ukuran untuk masing-masing dimensi (pertanyaan- pertanyaan yang relevan dengan dimensi) 3.Tentukan tingkat ukuran yang akan digunakan (Nominal, Ordinal, Interval, Rasio) 4.Tentukan tingkat kesahihan dan keajegan dari alat pengukur. Utuk melakukan pengukuran, maka peneliti perlu menentukan konsep/variabel yang akan diteliti, menentukan indikator-indikator dari variabel tersebut, menentukan item-item untuk pengukuran sesuai dengan indikator masing- masing, dan kemudian melakukan pengujian atas kesahihan (validitas) dan keajegan (reliabilitas) alat ukur tersebut (Instrumen Penelitian). DIUNDUH DARI: 25/8/2012

26 PENGERTIAN PENGUKURAN Diunduh dari: ………….. 24/8/2012 “Pengukuran” merupakan proses yang dilakukan seorang peneliti untuk menguji hipotesis dan teori. Seorang peneliti menyimpulkan berdasarkan hipotesis bahwa kondisi tertentu harus ada dalam dunia nyata dan kemudian mereka melakukan pengukuran untuk konidisi-kondisi nyata tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis masih bersifat abstrak yang perlu diterjemahkan secara operasional dalam bentuk kondisi-kondisi yang dapat diukur di lapangan. Jika kondisi-kondisi nyata tersebut ditemukan berarti peneliti akan mendukung hipotesis tersebut, tetapi sebaliknya, jika kondisi-kondisi tersebut tidak ditemukan berarti hipotesisnya tidak berlaku. Pertanyaannya adalah apa yang harus diukur? Banyak definisi pengukuran yang telah disampaikan oleh beberapa ahli, diantaranya adalah sebagai berikut: Measurement is the assignment of numerals to represent the properties of material system other than number, in virtue of the laws governing the properties (Campbells) Measurement is the assignment of numerals into even or object based on certain rules (Steven) Pengukuran dapat diartikan sebagai suatu prosedur untuk mengklasifikasikan kasus (subyek riset, unit eksperimen, responden, atau secara umum obyek-obyek seperti orang, perusahaan, benda, dsb) ke dalam kategori-kategori dalam suatu variabel tertentu. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa variabel sangat erat kaitannya dengan pengertian pengukuran. Variebel adalah setiap karakteristik yang dapat diklasifikasikan ke dalam sekurang-kurang dua klasifikasi. Konsep yang digunakan dalam penelitian dapat diklasifikasikan sebagai objek atau sebagai properti (sifat, ciri, karakteristik). Objek selain meliputi suatu benda yang berwujud nyata, juga dapat berupa sesuatu yang abstrak, misalnya ketinggian suatu tempat. Sedangkan properti adalah karateristik dari objek, misalnya sifat fisik manusia bisa dinyatakan dengan berat atau tinggi badan; sifat psikologis seperti sikap atau kecerdasasan; serta sifat sosial yang mencakup kepemimpinan atau status. Karakteristik-karakteristik itulah yang merupakan objek pengukuran dalam penelitian. Setiap objek mempunyai ciri yang dapat membedakan objek suatu dengan objek lainnya. Dalam penelitian, ciri yang diteliti (diperiksa, diamati, diukur, atau dihitung) disebut “karakteristik”, sedangkan objek yang karakteritiknya diteliti disebut “satuan pengamatan”.

27 TINGKAT PENGUKURAN Diunduh dari: 24/8/2012 Seorang peneliti menggunakan beberapa bentuk skala dalam melakukan proses pengukuran. Setiap skala tersebut didasarkan sekumpulan asumsi (aturan-aturan) mengenai hubungan antara skala tersebut dengan observasi nyatanya. Konseptualisasi skala tersebut didasarkan pada tiga karakteristik sebagai berikut: 1.Urutan bilangan, yaitu sebuah bilangan lebih besar, lebih kecil, atau sama dengan bilangan lain, 2.Urutan perbedaan antara bilangan, yaitu perbedaan antara sepasang bilangan bisa lebih besar, lebih kecil atau sama besar dengan perbedaan sepasang bilangan lainnya, 3.Titik awal yang unik yang menunjukkan bilangan 0. Kombinasi ketiga karakteristik tersebut yang mencakup urutan, perbedaan, dan titik awal, membentuk 4 klasifikasi skala pengukuran sebagai berikut:

28 Types of Variable and Types of Measurement Number? NoYes Nominal Variable Quantitative Variable Ordinal Scale Interval Scale Ratio Scale Order? Distance Matters? True Zero? Yes No Yes No Diunduh dari: ………….. 23/8/2012

29 Nominal Scale BuddhistProtestantCatholicJewish BuddhistProtestantCatholicJewish Diunduh dari: ………….. 25/8/2012 Options for normalisation of indicators: showing (a) normalisation according to indicator range, with a nominal 0– 10 scale representing increasing sustainability, and (b) scaling according to equal units of sustainability relative to a sustainability limit, with a nominal −3 to +3 scale representing increasing sustainability.. An aggregation framework to link indicators associated with multifunctional land use to the stakeholder evaluation of policy options Maria Luisa Paracchini, Cesare Pacini, M. Laurence M. Jones, Marta Pérez-Soba. Ecological Indicators. Volume 11, Issue 1, January 2011, Pages 71–80Volume 11, Issue 1

30 Ordinal Scale 1 st Born2 nd Born3 rd Born 1 st Born2 nd Born3 rd Born 1 st Born2 nd Born3 rd Born Elastic Tape Diunduh dari: ………….. 25/8/2012 Polar scatterplot of aspect and slope for 64 sites (populations on flat surface were omitted) with P. vulgaris populations in Belgium. [ordinal scale for the slope variable: 1, slight slope (0–30%); 2, average slope (30–60%); 3, strong slope (>60%)]. Temporal changes (1986–1999) in populations of primrose (Primula vulgaris Huds.) in an agricultural landscape and implications for conservation Patrick Endels, Hans Jacquemyn, Rein Brys, Martin Hermy, Geert De Blust. Biological Conservation. Volume 105, Issue 1, May 2002, Pages 11–25.Volume 105, Issue 1

31 Interval Scale Diunduh dari: ………….. 25/8/2012 Introducing wildfire into forest management planning: towards a conceptual approach Kostas D. Kalabokidis, Stylianos Gatzojannis, Spyros Galatsidas Forest Ecology and Management. Volume 158, Issues 1–3, 15 March 2002, Pages 41–50.Volume 158, Issues 1–3

32 Ratio Scale Diunduh dari: ………….. 23/8/2012

33 Diunduh dari: ………….. 24/8/2012 Menentukan Rentang Skala Likert Pada dasarnya skala likert merupakan suatu alat, seperti sebuah penggaris untuk mengukur panjang. Kalau kita ingin mengukur panjang sebuah meja kecil dapat digunakan penggaris biasa; tetapi kalau kita ingin mengukur panjang jalan, maka digunakan penggaris yang lebih panjang. Apakah penelitian tersebut mengukur preference atau mengukur kinerja? Seberapa rinci pengukuran yang akan dilakukan. Satu hal yang perlu diperhatikan, rentang Skala Likert harus memiliki nilai yang tepat. Lebih mudahnya perhatikan contoh penelitian berikut: Setuju vs Tidak Setuju Ingin diketahui apakah masyarakat setuju akan suatu pernyataan. C ontoh peryataannya adalah 'Pelebaran sungai diperlukan untuk mengatasi banjir'. Maka akan muncul kemunginkan pilihan sebagai berikut: 1.Sangat tidak setuju Agak tidak setuju Agak setuju Sangat setuju 2.Sangat tidak setuju Tidak setuju Ragu2 Setuju Sangat setuju 3.Sangat tdk setuju Tdk setuju Agak tdk setuju Agak setuju Setuju Sangat-setuju 4.Dan seterusnya, kita DAPAT membuatnya menjadi 4, 5, 6, atau bahkan 7 pilihan. Tetapi mana yang terbaik? Pilihan yang terbaik adalah yang memiliki rentang paling banyak. Dengan kondisi setiap arti dari skala tersebut memiliki arti yang saling bertolak belakang dengan skala yang lain. Misalnya Setuju vs Tidak setuju, Sangat tidak setuju vs Sangat setuju, dst. Hal ini menghindari pilihan netral (ragu-ragu), kecuali jika anda ingin mengetahui apakah ada pihak netral. Misalkan untuk peryataan seperti berikut 'Pak Abdul layak menjadi Presiden 2014'.

34 Measures Free Format Self-Report Measures Fix Format Self-Report Measures Self-Report Measures Behavioral Measures Self-Report? Yes No Format? No Yes Projective Measures Associative Measures Think-around Protocols The Likert Scale The Semantic Differential The Guttman Scale Physiological?Yes Psychophysiological Measures No Non-Reactive Measures EEG, MRI, fMRI, PET, CAT Frequency, Duration, Intensity Latency, Speed Attitudes? Yes Observational Measures No IAT Diunduh dari: ………….. 23/8/2012

35 KARAKTERITIK PENGUKURAN YANG BAIK Proses pengukuran mengggunakan suatu alat ukur. Alat ukur tersebut harus menghasilkan ukuran yang sesuai dengan karakteristik obyek sesungguhnya. Diunduh dari: 24/8/2012 Kesulitan-kesulitan pengukuran dalam ilmu sosial tersebut bisa menimbulkan perbedaan-perbedaan hasil pengukuran untuk setiap peneliti yang merancang sendiri alat ukur, atau disebut juga instrumen penelitian. Sumber-sumber yang bisa menimbulkan perbedaan hasil pengukuran adalah : 1.Faktor satuan pengamatan (misalnya responden yang asal-asalan atau tidak jujur mengisi kuisoner), 2.Faktor situasional (misalnya tekanan dari orang lain atau enggan diwawancara secara langsung); 3.Faktor pihak pengukur (misalnya si pewawancara tidak komunikatif atau terlalu bertele-tele), 4.Faktor instrumen penelitian alau alat ukur (misalnya redaksi membingungkan atau bisa menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda). Bagaimana mengevaluasi baik ATAU tidaknya suatu alat ukur? Secara umum terdapat tiga karakteristik yang digunakan untuk menilai baik- tidaknya proses pengukuran, yaitu validitas (validity), reliabilitas (reliability), dan kepraktisan (practicality). “Validitas” adalah mengukur apa yang seharusnya diukur, yaitu validitas eksternal dan validitas internal. Validitas eksternal menunjukkan kemampuan pengukuran untuk diterapkan secara umum pada berbagai obyek, tempat, dan waktu pengukuran. Sedangkan validitas internal berkaitan dengan kemampuan instrumen penelitian untuk mengukur apa yang ingin diukur. “Reliabiltas” menunjukkan konsistensi pengukuran yang dilakukan yang meliputi stabilitas (stability), ekivalen (equivalence), dan konsistensi internal (internal consistency). Reliabilitas ini sangat erat kaitannya dengan ketepatan dan ketelitian pengukuran. Pengukuran dikatakan stabil jika pengukuran pada sebuah obyek dilakukan berulang-ulang pada waktu yang berbeda, menunjukkan hasil yang sama. Pengukuran dikatakan “ekivalen” jika pengukuran menunjukkan hasil pengukuran yang sama jika dilakukan peneliti lain atau memakai contoh item lain; Pengukuran dikatakan “konsisten internal” jika item-item atau indikator yang digunakan adalah konsisten satu sama lain. “Kepraktisan” bisa ditinjau dari sudut ekonomi (biaya dan waktu), kemudahan administrasi atau pengelolaannya, serta hasil yang mudah diinterpresikan oleh pihak lain.

36 TEKNIK PENSKALAAN Diunduh dari: 24/8/2012 Dalam ilmu sosial, alat ukur yang digunakan untuk mengukur variabel sering tidak tersedia sehingga harus dirancang dan dikembangkan sendiri oleh peneliti. Alat ukur (instrumen) harus dapat membeda-bedakan satuan pengamatan sesuai dengan karakteristik yang diamati dengan menggunakan teknik penskalaan tertentu. “Penskalaan” merupakan prosedur untuk memberikan bilangan (atau simbol lain) pada suatu obyek sehingga bilangan tersebut menunjukkan karakteristik obyek tersebut. Karakteritik tersebut lebih tepatnya diwakili oleh sejumlah indikator atau item. Beberapa teknik penskalaan yanh sering digunakan adalah Likert’s Summated Rating (LSR), Semantic Differential, The Law of Comparative Judgement, Method of Succesive Interval, dan Method Bsed on Rank Order. LSR adalah metode pengukuran sikap (attitude) yang banyak digunakan dalam penelitian sosial karena kesederhanaannya. LSR sangat bermanfaat untuk membandingkan skor sikap seseorang dengan distribusi skala dari sekelompok orang lainnya, serta untuk melihat perkembangan atau perubahan sikap sebelum dan sesudah ekperimen atau kegiatan. Tahap-tahap perancangan LSR adalah sebagai berikut:

37 TEKNIK PENSKALAAN Diunduh dari: 24/8/ Tentukan secara tegas sikap terhadap topik apa yang akan diukur. Contohnya, sikap para karyawan terhadap sistem pelatihan, sikap para pengusaha kecil terhadap realisasi pemberian kredit usaha, sikap mahasiswa terhadap liberalisasi perdagangan, dan sebagainya 2.Tentukan secara tegas Dimensi yang menyusun sikap tersebut. Dimensi tersebut pada dasarnya merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap yang menurut Likert terdiri dari dimensi kognitif (tahu atau tidak tahu), afektif (perasaan terhadap sesuatu), dan konatif (kecenderungan untuk bertingkat laku). Contoh lain, dimensi tingkat sosial ekonomi meliputi kekayaan, pendapatan, pendidikan, dan pekerjaan 3.Susun pernyataan-pernyataan atau item yang merupakan alat pengukur dimensi yang menyusun sikap yang akan diukur sesuai dengan indikator. Banyaknya indiktor biasanya antara item untuk sebuah sikap tertentu. Item-item yang disusun tersebut harus terdiri dari item positif dan item negatif. Item positif adalah pernyataan yang memberikan isyarat mendukung/menyokong topik yang sedang diukur, sedangkan item negatif sebaliknya, yaitu melawan topik. Item positif dan item negatif harus ditempatkan secara acak. Contoh: Dua contoh item untuk mengukur sikap para pemilik perusahaan terhadap masuknya investor asing : a. Masuknya investor asing akan memperluas jaringan bisnis (item positif) b. Investor asing akan menyebabkan eksploatasi sumberdaya domestik (Item Negatif)

38 Tahap-tahap perancangan LSR adalah : Diunduh dari: 24/8/ Setiap item diberi pilihan respon yang bersifat tertutup (closed questionare). Banyaknya pilihan respon biasanya 3, 5, 7, 9, dan 11. Dalam prakteknya, jumlah pilihan respon yang paling banyak dipakai adalah 5. Alasannya adalah jika respon terlalu sedikit maka hasilnya terlalu kasar tetapi jika terlalu banyak maka responden sulit membedakannya. Kelima pilihan respon tersebut adalah: Sangat tidak setuju Tidak setuju Tidak ada pendapat Setuju Sangat setuju Contoh: a. Masuknya investor asing akan memperluas jaringan bisnis [ ] Sangat setuju [ ] Setuju [ ] Tidak ada pendapat [ ] Tidak setuju [ ] Sangat tidak setuju b. Investor asing akan menyebabkan eksploitasi sumberdaya alam domestik [ ] Sangat setuju [ ] Setuju [ ] Tidak ada pendapat [ ] Tidak setuju [ ] Sangat tidak setuju 5. Untuk setiap pilihan respon, jawaban diberikan skor dengan kriteria apabila item positif maka angka terbesar diletakkan pada sangat setuju sedangkan jika item negatif maka angka terbesar diletakkan pada sangat tidak setuju. Skor yang diberikan pada jawaban untuk setiap item kemudian dijumlahkan. Contoh skor untuk item negatif dan positif diatas adalah sebagai berikut: a. Masuknya investor asing akan memperluas jaringan bisnis (item positif) [5] Sangat setuju [4] Setuju [3] Tidak ada pendapat [2] Tidak setuju [1] Sangat tidak setuju b. Investor asing akan menyebabkan eksploatasi sumber daya domestik (item negatif) [1] Sangat setuju [2 ] Setuju [3] Tidak ada pendapat [4] Tidak setuju [5] Sangat tidak setuju.

39 HOW MEANINGFUL ARE DATA FROMLIKERT SCALES? AN EVALUATION OF HOW RATINGS ARE MADE AND THE ROLEOF THE RESPONSE SHIFT IN THE SOCIALLY DISADVANTAGED. Jane Ogden and Jessica Lo Journal of Health Psychology1 –12© The Author(s) 2011 Diunduh dari: gs_are_made_and_the_role_of_the_response_shift_in_the_socially_disadvantaged………….. 24/8/2012 Likert scales relating to quality of life were completed by the homeless (N= 75); first year students (N= 301)and a town population (N= 72). Participants also completed free text questions. The scale and free textdata were often contradictory and the results highlighted three processes to account for these disparities: (i) frame of reference: current salient issues influenced how questions were interpreted; (ii) within-subjectcomparisons: ratings were based on expectations given past experiences; (iii) time frame: those with morestable circumstances showed habituation to their level of deprivation. Likert scale data should be understoodwithin the context of how ratings are made. Likert scales. Participants rated the followingusing 5-point Likert scales (not at all (1), rarely(2), somewhat (3), fairly (4), very much (5)). All items for mood and health status referred to how participants were feeling ‘right now’. The quantitative data from the Likert scales wereanalysed using ANOVA and LSD post hoc tests toexplore differences in mood, health status and sat-isfaction between the three groups.

40 Levels of Measurements Four levels of Measurements Nominal – Measures categories Ordinal – Categories + rank and order Interval – Equal distance between any two consecutive measures Ratio – Intervals + meaningful zeros Diunduh dari: ocw.usu.ac.id/.../ekm_2405_slide_skala_pengukuran_dan_instrumen... ………….. 24/8/2012

41 Levels of Measurements Diunduh dari: ocw.usu.ac.id/.../ekm_2405_slide_skala_pengukuran_dan_instrumen... ………….. 24/8/2012 Metode Pengukuran Sikap Komponen sikap dijelaskan melalui tiga dimensi: 1.Afektif, menyatakan refleksi perasaan atau emosi seseorang terhadap suatu obyek. 2.Kognitif menunjukkan kesadaran seseorang terhadap pengetahuan mengenai obyek tertentu 3.Komponen-komponen perilaku, menggambarkan suatu keingingan, kecenderungan untuk bertindak. Skala pengukuran Sikap Terdiri dari: 1.Skala sederhana 2.Skala kategori 3.Skala Likerts 4.Skala perbedaan semantis 5.Skala Numeris 6.Skala Grafis Skala Sederhana 1.Skala sederhana menggunakan skala nominal misalnya setuju atau tidak setuju, ya atau tidak. 2.Skala ini digunakan bila kuesionar penelitian berisi relatif banyak butir pertanyaan, tingkat pendidikan responden rendah atau alasan lain.

42 Skala Kategori = Categories of Scales Categorical (ratings) – Score without comparison - 1 to 5 scales Comparative (ranking) – Score by comparing - Smartest Preference – Subjective - which do you prefer Non-preference – Objective - which solution is less costly Diunduh dari: ………….. 23/8/2012 Skala Kategori 1.Skala ketegori merupakan metode pengukuran sikap yang berisi beberapa alternatif kategori pendapat yang emmungkinkan bagi responden untuk memberikan alternatif penilaian. 2.Skala ini mengukur lebih sensitif dimensi konstruk dibandingkan dengan skala sederhana. 3.Skala ini disebut juga skala butir penelianan, dan dapat dinyatakan dengan angka. 4.Skala ini digunakan untuk mengukur sikap responden yang berkaiatan dengan: 1. kualitas, 2. urgensi, 3. menarik, 4. kepuasan, 5. frekuensi

43 Categories of Scales Unidimensional – Involves only one aspect of the measurement – Measurement by one construct Multi-dimensional – Involves several aspects of a measurement – Uses several dimensions to measure a single construct Diunduh dari: and-self-rated-health-in-hong-kong.html………….. 24/8/2012 Types of Scales 1.Likert/Summated Rating Scales 2.Semantic Differential Scales 3.Magnitude Scaling 4.Thruston Scales 5.Guttman Scales

44 Diunduh dari: and-self-rated-health-in-hong-kong.html………….. 24/8/2012 T.F. Wong and Y.Y. Yan Perception of Neighborhood Environments and Self-rated Health in Hong Kong. The Internet Journal of Public Health Volume 2 Number 1. DOI: /2b7c. It is believed that where an individual resides is associated with his health status. This neighborhood and health relationship is well documented in western countries but receives very little attention in Hong Kong. The present study attempted to explore the relationship between perception of neighborhood environments and self-rated health (SRH) in Tin Shui Wai, Hong Kong. Questionnaire was used to collect people’s perception of neighborhood environments, including the physical and living environment, service environment and social environment, and their SRH. Binary logistic regression was employed to explore the neighborhood environment and SRH relationship. It was discovered that a significant negative association of poor SRH with perceptions of physical and living, service and social environments. Income and education levels also were significant predictors of SRH. Perception of neighborhood environment Neighborhood environments, for this study, include three subscales perceived by the respondents including (i) physical and living environment; (ii) service environment and (iii) social environment. For physical and living environment, respondents were asked to evaluate the air quality, noise level, environmental cleanliness and hygiene and public security of their neighborhood by a five-point Likert scale ranging from 1, very serious problem to 5, not a problem. A total of 16 questions were asked in this part. The measurement of service environment was obtained by asking respondents to assess the social services, social welfare facilities and some neighborhood facilities such as medical, recreational and cultural facilities in the neighborhood by a five- point Likert scale ranging from 1, very serious problem to 5, not a problem. Eight questions were administered in this part. The social environment was represented by asking respondents to rate a total of 20 statements regarding social participation, social networking, social connectivity, relationship with neighborhoods and sense of belonging to the neighborhood by using a five-point Likert scale ranging from 1, strongly disagree to 5, strongly agree. Responses to the individual items in each subscale were summed to produce the physical and living environment score, service environment score and social environment score which indicated the overall assessment of the three neighborhood environments respectively. Higher score demonstrated that a respondent had better perception of the neighborhood.


Download ppt "VARIABEL, SEKALA, DAN PENGUKURANNYA DALAM ………. FOTO: smno.kampus.ub.febr2012."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google