Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Sindrom Perilaku yang Berhubungan Dengan Gangguan Fisiologi dan Faktor Fisik.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Sindrom Perilaku yang Berhubungan Dengan Gangguan Fisiologi dan Faktor Fisik."— Transcript presentasi:

1 Sindrom Perilaku yang Berhubungan Dengan Gangguan Fisiologi dan Faktor Fisik

2 F50 Gangguan Makan Gangguan makan adalah penyakit di mana korban menderita gangguan parah pada perilaku makan mereka yang berkaitan dengan pikiran dan emosi. Menurut American Psychiatric Association (APA), ada tiga jenis utama dari gangguan makan, yaitu anorexia nervosa, bulimia nervosa, dan gangguan pesta makan (binge eating disorders).

3 Cara Menghitung Berat Badan Ideal BMI (Body Mass Index) adalah suatu rumus kesehatan, di mana berat badan (BB) seseorang (kg) dibagi dengan tinggi badan (TB) pangkat dua (m2). Rumus: BMI = BB / (TB*TB) BMI < 18.5 = berat badan kurang (underweight) BMI = normal BMI = kelebihan berat badan (overweight) BMI >30 = obesitas

4 Anorexia Nervosa Anoreksia nervosa adalah gangguan makan yang ditandai dengan penolakan mempertahankan berat badan tubuh dalam batas-batas yang normal. Gangguan didiagnosis ketika pasien memiliki berat badan <15 % dari BB normal. Anoreksia nervosa lebih sering muncul pada wanita dan dari kalangan sosial ekonomi menengah ke atas.

5 Anorexia Nervosa (2) Akibat: Menstruasi berhenti Osteopenia atau osteoporosis (penipisan tulang) melalui hilangnya kalsium Rambut / kuku menjadi rapuh Mengeringnya kulit dan kulit dapat berubah menjadi kuning Anemia ringan dan otot, termasuk otot jantung Sembelit parah Turunnya tekanan darah, melambatnya pernapasan dan denyut nadi suhu tubuh internal jatuh, menyebabkan orang merasa dingin sepanjang waktu Depresi, dan kelesuan Pada pria dapat menderita kurangnya minat pada seks atau impotensi.

6 Bulimia Nervosa Bulimia nervosa adalah penyakit di mana orang merasa bahwa mereka telah kehilangan kontrol atas makan mereka Gejala: Tenggorokan kronis meradang dan sakit kelenjar saliva di leher dan di bawah rahang menjadi bengkak. Enamel gigi habis, gigi mulai membusuk dari paparan asam lambung muntah secara rutin yang menyebabkan gangguan gastroesophageal reflux penyalahgunaan Laksatif menyebabkan iritasi pada usus Diuretik ( pil air) menyebabkan masalah ginjal Dehidrasi berat dari membersihkan cairan

7 Binge Eating Disorders Gangguan pesta makan berada di bawah penyelidikan atau masih sedang didefinisikan. Dalam DSM - 5, gangguan tersebut didefinisikan sebagai suatu kondisi kejiwaan yang unik dengan kriteria yang lebih spesifik. Kriteria penderita Binge Eating Disorders: Makan lebih cepat dari biasanya Makan sampai merasa perutnya penuh Makan makanan dalam jumlah besar meski tidak merasa lapar secara fisik Makan sendirian karena merasa malu Merasa jijik dengan diri sendiri, depresi, atau sangat bersalah sesudahnya

8 Treatment membantu pasien mendapatkan kembali berat badan ke tingkat yang sehat dan dianggap normal. Untuk pasien dengan gangguan pesta makan adalah dengan membantu mereka menghentikan perilaku binges. Psikoterapi membantu individu dengan gangguan makan untuk memahami pikiran, emosi dan perilaku yang memicu gangguan ini. Obat juga terbukti efektif dalam proses pengobatan.

9 Gangguan Tidur Non-Organik Gangguan tidur adalah gangguan utama dari pola tidur normal yang mengakibatkan tekanan dan menggangu fungsi di siang hari. Gangguan tidur non organik mencakup : 1) Disomnia : kondisi psikogenik primer dengan ciri gangguan pada jumlah, kualitas atau waktu tidur -> insomnia, hipersomnia, gangguan jadwal tidur 2) Parasomnia : peristiwa episodik abnormal selama tidur. Pada masa kanak ada hubungan dengan perkembagan anak, pada orang dewasa berupa -> somnabulisme, night terror, nightmare

10 Gangguan Tidur Non-Organik F51.0 Insomnia non organik F51.1 Hipersomnia non organik F51.2 Gangguan jadwal tidur non organik F51.3 Somnambulisme (Sleepwalking) F51.4 Teror tidur (night terrors) F51.5 Mimpi buruk (nightmare)

11 F51.0 Insomnia non organik Menurut DSM-IV, insomnia didefinisikan sebagai keluhan dalam hal kesulitan untuk memulai atau mempertahankan tidur atau tidur non-restoratif yang berlangsung setidaknya satu bulan dan menyebabkan gangguan signifikan atau gangguan dalam fungsi individu. The International Classification of Diseases mendefinisikan insomnia sebagai kesulitan memulai atau mempertahankan tidur yang terjadi minimal 3 malam/minggu selama minimal satu bulan. Menurut The International Classification of Sleep Disorders, insomnia adalah kesulitan tidur yang terjadi hampir setiap malam, disertai rasa tidak nyaman setelah episode tidur tersebut.

12 Etiologi Insomnia Stres. Kecemasan dan depresi. Obat-obatan. Kafein, nikotin dan alkohol. Kondisi Medis. Perubahan lingkungan atau jadwal kerja. 'Belajar' insomnia.

13 Kriteria Diagnostik Insomnia Non- Organik berdasarkan PPDGJ 1.Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau kualitas tidur yang buruk 2.Gangguan minimal terjadi 3 kali dalam seminggu selama minimal 1 bulan. 3.Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur dan kekhawatiran yang berlebihan terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari 4.Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan

14 Pengobatan 1.Non Farmakoterapi a. Terapi Tingkah Laku, meliputi : - Edukasi tentang kebiasaan tidur yang baik. - Teknik Relaksasi - Terapi kognitif - Restriksi Tidur - Kontrol stimulus b. Gaya hidup dan pengobatan di rumah. 2.Medikamentosa a. Benzodiazepine (Nitrazepam,Trizolam, dan Estazolam) b. Non benzodiazepine (Chloral-hydrate, Phenobarbital)

15 Komplikasi Insomnia Gangguan dalam pekerjaan atau di sekolah. Saat berkendara, reaksi reflex akan lebih lambat. Sehingga meningkatkan reaksi kecelakaan. Masalah kejiwaan, seperti kecemasan atau depresi. Kelebihan berat badan atau kegemukan. Daya tahan tubuh yang rendah Meningkatkan resiko dan keparahan penyakit jangka panjang, contohnya tekanan darah yang tinggi, sakit jantung, dan diabetes

16 F51.1 Hipersomnia non organik Hipersomnia adalah bertambahnya waktu tidur sampai 25% dari pola tidur yang biasa. Gejala : a)Rasa kantuk siang hari yang berlebihan atau adanya serangan tidur dan atau transisi yang memanjak dari saat mulai bangun hingga sadar penuh. b)Terjadi setiap hari, lebih dari 1 bulan atau berulang dengan kurun waktu lebih pendek. c)Tidak ada kondisi neurologis atau medis yang menunjukan gejala rasa kantuk pada siang hari.

17 F51.1 Hipersomnia non organik Diagnosa Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan psikis ditujukan untuk depresi, gangguan ingatan atau tanda-tanda kelainan neurologis. Pemeriksaan CT scan atau MRI dilakukan pada penderita dengan tanda-tanda kelainan neurologis. Pengobatan Pengobatan tergantung kepada penyebabnya.

18 F51.2 Gangguan jadwal tidur non organik Gangguan ini timbul akibat ketidakcocokan antara ritme sirkadian normal dan siklus tidur-terjaga normal yang dituntut oleh lingkungan. Ditandai dengan : – Pola tidur-jaga dari individu tidak seirama dengan pola tidur-jaga yang normal bagi masyarakat setempat. – Insomnia pada waktu orang-orang tidur dan hipersomnia pada waktu kebanyakan orang jaga, yang dialami hampir setiap hari untuk sedikitnya 1 bulan atau berulang dengan kurun waktu yang lebih pendek. – Adanya gejala gangguan jiwa lain seperti cemas, depresi. Pengobatan Kronoterapi dan Sedatif-hipnotik

19 F51.3 Somnambulisme (Sleepwalking) Somnambulisme adalah gangguan tidur sambil berjalan, yang merupakan gangguan perilaku yang terjadi dalam tahap mimpi dari tidur. gangguan tidur gangguan perilaku Penyebab a)Kurang tidur (sleep deprivation) b)Jadwal tidur yang tidak teratur/kacau (chaotic sleep schedules) c)Demam (fever) d)Stres atau tekanan (stress) e)Kekurangan (deficiency) magnesium f)Intoksikasi obat atau zat kimia Pencegahan dan pengobatan Tidak ada pengobatan dan cara pencegahan yang pasti.

20 F51.4 Teror tidur (night terrors) Night terror adalah suatu kondisi terbangun dari sepertiga awal tidur malam, biasanya diikuti dengan teriakan dan tampakan gejala cemas yang berlebihan, berlangsung selama 1 – 10 menit. Gejala Dalam episode yang khas, penderita akan terduduk di tempat tidur dengan kecemasan yang sangat dan tampakan agitasi serta gerakan motorik perseverativ (seperti menarik selimut), ekspresi ketakutan, pupil dilatasi, keringat yang berlebihan, merinding, nafas dan detak jantung yang cepat. Kriteria DSM-IV untuk Night Terror : – Episode berulang dari bangun secara tiba-tiba dari tidur, biasanya berlangsung pada sepertiga awal tidur dan dimulai dengan teriakan yang panik. – Ketakutan yang sangat dan tanda-tanda sistem autonomik yang meningkat seperti takikardi, bernafas dengan cepat, dan keringat dalam setiap episode. – Tidak responsif secara relatif terhadap dukungan orang sekitar untuk menenangkan disaat episode. – Tidak dijumpainya mimpi yang dapat diingat dan timbulnya amnesia terhadap episode. – Episode-episode serangan dapat menyebabkan distress tang tampak secara klinis dan ketidak seimbangan dalam lingkungan, pekerjaan dan dalam aspek lain. – Gangguan tidak disebabkan oleh efek psikologis suatu zat secara langsung (seperti penyalahgunaan zat atau untuk medikasi) ataupun dalam suatu kondisi medis umum.

21 F51.4 Teror tidur (night terrors) Pengobatan a)membiasakan rutinitas tidur yang baik dan memastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup. b)membangunkan anak sebelum waktu terjadinya night terror. c)obat tidur. Komplikasi dan Prognosis Komplikasi dari gangguan ini dapat dijumpai ketidakseimbangan hubungan penderita dalam lingkungan sosial. Prognosis dari pasien dengan night terror adalah baik, karena gangguan ini memiliki kecenderungan untuk hilang sendiri.

22 F51.5 Mimpi buruk (nightmare) Gangguan ini terdiri dari terjaga dari tidur yang berulang dengan ingatan terperinci yang hidup akan mimpi menakutkan. Gambaran klinis berikut adalah esensial untuk diagnosis secara pasti terhadap mimpi buruk, yaitu: – Terbangun dari tidur malam atau tidur siang berkaitan dengan mimpi yang menakutkan yang dapat diingat kembali secara terperinci dan jelas (vivid), – Setelah terbangun dari mimpi yang menakutkan, individu segera sadar dan mampu mengenali lingkungannya. – Pengalaman mimpi itu dan akibat dari tidur yang terganggu, menyebabkan penderitaan yang cukup berat bagi individu. Psikoterapi dan pengobatan perilaku merupakan metode pengobatan paling efektif.

23 F52.0 Disfungsi Seksual Gangguan disfungsi seksualadalah masalah yang mengganggu inisiasi, penyempurnaan, atau kepuasan seksual.

24 Fase-fase tersebut secara berurutan adalah : Hasrat: nafsu atau fantasi tentang seks. Keterangsangan: perubahan fisik untuk mempersiapkan tubuh untuk melakukan hubungan dan kenikmatan seksual yang menyertainya Orgasme: respon fisik yang mengarah pada puncak kenikmatan dan pelepasan ketegangan seksual Resolusi: relaksasi fisik disertai dengan perasaan sejahtera dan kepuasan

25 Ada sembilan disfungsi seksual yang saat ini teridentifikasi: F52.0 Kurang atau hilangnya nafsu seksual F52.1 Tidak menyukai dan tidak menikmati seks.10 Tidak menyukai seks.11 Tidak menikmati seks F52.2 Kegagalan dari respons genital F52.3 Disfungsi Orgasme F52.4 Ejakulasi dini F52.5 Vaginismus Nonorganik F52.6 Dispareunia Nonorganik F52.7 Dorongan seksual yang berlebihan F52.8 Disfungsi seksual lainnya, bukan disebabkan oleh gangguan atau penyakit organik F52.9 Disfungsi seksual YTT, bukan disebabkan oleh gangguan atau penyakit organik

26 F52.0 Kurang atau hilangnya nafsu seksual Gangguan Hasrat Seksual Hipoaktif: Gangguan hasrat seksual hipoaktif (hypoactive sexual desire disorder/ HSDD). HSDD dicirikan oleh kegagalan untuk memulai atau merespon inisiasi pasangan untuk aktivitas seksual.

27 F52.1 Tidak menyukai dan tidak menikmati seks Gangguan Keengganan Seksual Gangguan keengganan seksual (sexual aversion disorder) adalah gangguan yang ditandai dengan rasa jijik, takut, muak, atau kurangnya keinginan dalam hubungan yang melibatkan kontak kelamin. Keengganan seksual dapat seumur hidup (selalu hadir) atau diperoleh setelah pengalaman traumatik situasional (dengan mitra tertentu atau dalam keadaan tertentu) atau umum (terjadi dengan pasangan manapun dan dalam segala situasi). Keengganan seksual dapat disebabkan oleh faktor psikologis atau kombinasi faktor fisik dan psikologis. Gangguan Keterangsangan Seksual Wanita Gangguan keterangsangan seksual wanita (female sexual arousal disorder/ FSAD) adalah ketidakmampuan berulang wanita untuk mencapai atau mempertahankan respon lubrikasi dan pembesaran yang cukup selama aktivitas seksual

28 F52.2 Kegagalan dari respons genital Disfungsi Ereksi Disfungsi ereksi (DE) adalah ketidakmampuan yang konsisten untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk memungkinkan hubungan seksual yang memuaskan. Pria yang berbeda mengalami pola DE yang berbeda. Disfungsi ereksi dapat terjadi sebagai bagian dari gangguan mental atau merupakan gejala dari gangguan lain, seperti disfungsi seksual karena kondisi medis umum atau disfungsi seksual yang dipengaruhi obat. Dorongan Seksual Dorongan seksual (sexual drive) adalah keinginan pribadi dan subyektif atau rasa kesiapan untuk memiliki pengalaman erotoseksual

29 F52.3 Disfungsi Orgasme Gangguan Orgasme Laki-Laki Gangguan orgasme laki-laki adalah ketidakmampuan yang persisten atau berulang untuk mencapai orgasme meskipun melakukan kontak seksual lama. Kondisi ini adalah salah satu disfungsi seksual, bersama dengan ejakulasi dini, dispareunia, dan lainnya. Gangguan Orgasme Wanita Gangguan orgasme wanita adalah ketidakmampuan persisten atau berulang dari seorang wanita untuk mengalami orgasme setelah gairah seksual dan stimulasi seksual yang memadai. Kondisi ini memengaruhi kualitas pengalaman seksual wanita. Anorgasmia Anorgasmia adalah ketidakmampuan untuk mencapai orgasme. Secara medis dibedakan sebagai gangguan orgasme wanita dan gangguan orgasme laki-laki.

30 F52.4 Ejakulasi dini Ejakulasi Dini Ejakulasi dini (ED) atau ejakulasi prematur mengacu pada keluarnya cairan mani (ejakulasi) yang persisten atau berulang dengan stimulasi seksual minimal sebelum, pada, atau sesaat setelah penetrasi, sebelum orang menginginkannya, dan lebih awal dari yang diharapkannya. Ejakulasi dini adalah keluhan umum dan umumnya dikaitkan dengan gejala psikologis, terutama kecemasan kinerja dan rasa bersalah.

31 F52.5 Vaginismus Nonorganik Vaginismus merupakan suatu keadaan disfungsi seksual dimana terdapat kejang otot yang abnormal pada sepertiga vagina bagian luar dan bagian dalam vagina. a. Kejadian ini yang akan mengakibatkan terhambatnya rutinitas bercinta. Vaginismus bisa menyerang wanita dengan variasi usia. Mulai dari usia ketika seorang wanita sudah aktif secara seksual, sampai wanita yang sudah berusia lanjut atau tua. Dan diduga, sekitar 2-3 persen wanita dewasa mengalami vaginismus.

32 F52.6 Dispareunia Nonorganik Dispareunia Dispareunia adalah nyeri di vagina atau pinggul yang dialami selama hubungan seksual. Dispareunia lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria, tetapi dapat menjadi penghambat aktivitas seksual genital pada kedua jenis kelamin. Pada wanita, dispareunia dapat disebabkan oleh vaginismus atau trauma urogenital lokal atau kondisi peradangan seperti robekan hymen, laserasi labial, uretritis, atau kondisi peradangan pada kelenjar labial atau vagina (vaginitis). Kadang-kadang, reaksi alergi terhadap spermisida atau kondom juga dapat mengganggu hubungan seksual. Pada wanita, penyebab dispareunia biasanya fisik dan berhubungan dengan infeksi pada kelenjar prostat (prostatitis), salurana kencing (sistitis), atau testis. Ereksi menyakitkan mungkin akibat penyakit Peyronie, yang ditandai oleh perubahan fibrotik pada batang penis yang mencegah tercapainya ereksi normal.

33 F52.7 Dorongan seksual yang berlebihan Nymphomania Nymphomania adalah kondisi di mana seorang wanita atau pria tak mampu menahan hasrat seksualnya. Hal ini yang menyebabkan si penderita berhubungan seksual dengan siapapun. Penyebab pasti dari penyakit ini belum diketahui. Beberapa ahli kesehatan dan psikiatri berpendapat bahwa penyakit ini disebabkan oleh trauma di masa kecil. Ahli lain menyatakan penyakit ini disebabkan si penderita ingin melarikan diri dari kekosongan emosi. Gejala Keinginan seksual yang berlebihan dan penderita berulang kali gagal untuk mengendalikannya. Perawatan Perawatan diperlukan jika penderita memang benar-benar mengalami penyakit ini. Satyriasis atau Hiperseks Menurut terjaemahan dari kamus, Satyriasis (baca: seytu'rIusis) adalah suatu keabnormalan gairah seksual yang intense daripada lelaki. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani "satyros" yang berarti "satyr." Dalam Mitologi Yunani, satyr merupakan mahluk separuh manusia dan separuh kambing yang merupakan ikon perilaku seksual yang acap membuat keonaran.

34 F52.8 Disfungsi seksual lainnya, bukan disebabkan oleh gangguan atau penyakit organik Disfungsi seksual atau kerusakan seksual adalah kesulitan yang dialami oleh individu atau pasangan dalam setiap tahap kegiatan seksual yang normal, termasuk kesenangan/kepuasan fisik, keinginan, preferensi, gairah atau orgasme. Disfungsi seksual dapat memiliki dampak besar pada kualitas kehidupan seksual individu. Melalui sejarah seksual dan penilaian kesehatan umum dan masalah seksual lainnya (jika ada) sangat penting.. Menilai (kinerja) kecemasan, rasa bersalah, stres dan khawatir merupakan bagian integral dari pengelolaan yang optimal dari disfungsi seksual. Banyak disfungsi seksual yang didefinisikan didasarkan pada manusia siklus respon seksual, diusulkan oleh William H. Masters dan Virginia E. Johnson, dan kemudian dimodifikasi oleh Helen Singer Kaplan.

35 F52.9 Disfungsi seksual YTT, bukan disebabkan oleh gangguan atau penyakit organik Perubahan fungsi seksual yang dipandang sebagai tidak memuaskan, tidak menguntungkan, tidak memadai Perubahan merusak pada respon seks Gangguan gairah seksual dan perubahan psychophysiologic yang mencirikan siklus respon seksual dan menyebabkan penderitaan dan kesulitan ditandai interpersonal. (APA, DSM-iv, 1994)

36 F.53 Gangguan Jiwa dan Perilaku yang Berhubungan dengan Masa Nifas YTK Timbul dalam 6 mgg setelah persalinan  onset biasanya hr ke 3-10; 50% pada anak k2-2/> Ringan : Depresi; berat : psikotik Ggn hormonal; rejeksi-hostilitas thd kehamilan & bayi Insomnia, gelisah, iritabilitas-labilitas emosi; bingung, curiga, makan (-), rasa bersalah tak rawat/tak mampu urus bayi Bisa B.diri, infantisid; P/baik; jrg berulang

37 F.54 Faktor psikologis dan perilaku yang berhubungan dengan gangguan atau penyakit yang diklasifikasikan di tempat lain

38 Contoh dari kategori ini meliputi : Asma  penyakit kronis dimana saluran udara bronkus di paru-paru menjadi menyempit dan bengkak, sehingga individu menjadi sulit untuk bernapas. Dermatritis  peradangan hebat yang menyebabkan pembentukan lepuh atau gelembung kecil (vesikel) pada kulit hingga akhirnya pecah dan mengeluarkan cairan.

39 Peptic ulcer  luka terbuka yang terjadi di dalam lapisan perut, bagian atas usus kecil atau esophagus. Irritable bowel syndrome (IBS)  gangguan umum pada usus besar. Ulcerative colitis  penyakit peradangan usus yang menyebabkan peradangan kronis pada saluran pencernaan. Urticaria  suatu reaksi pada kulit yang timbul mendadak (akut) karena pengeluaran histamin yang mengakibatkan pelebaran pembuluh darah dan perembesan cairan dari pembuluh darah.

40 Penyalahgunaan Zat yang tidak Menyebabkan Ketergantungan Penyalahgunaan zat adalah suatu perilaku mengkonsumsi atau menggunakan zat – zat tertentu yang dapat mengakibatkan bahaya pada diri sendiri maupun orang lain. Menurut DSM, peyalahgunaan zat melibatkan pola penggunaan berulang yang menghasilkan konsekuensi yang merusak.

41 Beberapa zat yang peyalahgunaannya tidak menyebabkan ketergantungan: Pencahar (laksatif). Zat atau obat yang merangsang percepatan gerakan usus besar. Penyalahgunaan pencahar (laxative abuse) adalah penggunaan berlebihan zat-zat tersebut, khususnya obat perangsang berbasis pencahar, untuk berbagai keperluan. Obat pencahar yang digunakan sebagai penurun berat badan terutama disalahgunakan oleh orang- orang yang memiliki gangguan makan.

42 Analgetika Cenderung mampu menghilangkan atau meringankan rasa sakit tanpa berpengaruh pada sistem susunan saraf pusat atau bahkan hingga menurunkan tingkat kesadaran. Obat Analgetik Non-Narkotik / Obat Analgesik Perifer ini juga Obat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.).

43 Vitamin Vitamin adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita yang berfungsi untuk membantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh.

44 Steroida Steroid telah digunakan untuk mengobati berbagai masalah kesehatan termasuk nafsu makan yang rendah, AIDS, pertumbuhan tulang, kondisi kronis wasting akibat kanker, keterlambatan pubertas, dan lain-lain.

45 F59Sindrom perilaku yang tidak tergolonkan yang berhubungan dengan gangguan fisiologis dan faktor fisik

46 BRUXISM Definisi bruxism menurut The Academy of Prosthodontics, 2005 yaitu parafunsional grinding dari gigi-gigi, suatu kebiasaan yang tanpa disadari dan berulang atau tidak beraturan (spasmodik), non fungsional grinding atau clenching, Fenomena bruxism yang merujuk pada keadaan yaitu mengerotkan gigi- gigi (grinding) atau mengatupkan dengan keras rahang atas dan bawah (clenching).

47 Penyebab Faktor psikologis Etiologi dari bruxism termasuk kebiasaan, stress emosional (misalnya respon terhadap kecemasan, ketegangan, kemarahan, atau rasa sakit), parasomnia (gangguan tidur yang muncul pada ambang batas antara saat terjaga dan tidur, misalnya gangguan mimpi buruk dan gangguan tidur sambil berjalan). Saat muncul rasa frustasi dan marah, perasaan ini harus disalurkan agar individu merasa nyaman. Dalam keadaan marah individu melampiaskan dengan menggigit sesuatu. Bruxism merupakan kebiasaan buruk yang merupakan mekanisme untuk mendapatkan kepuasan tersebut. Faktor morfologi Oklusi gigi geligi dan anatomi skeletal orofasial dianggap terkait dalam penyebab dari bruxism. Perbedaan oklusal, gangguan oklusal yang bentuknya dapat berupa trauma oklusal ataupun tonjol yang tajam, gigi yang maloklusi secara historis dianggap sebagai penyebab paling umum dari bruxism. Disharmoni lokal antara bagian-bagian sistem alat kunyah yang berdampak pada peningkatan tonus otot di region tersebut juga dipandang sebagai salah satu etiologi yang hingga saat ini masih dapat diterima banyak kalangan. Faktor patofisiologis Bruxism kemungkinan terjadi akibat kelainan neurologis yaitu ketidakmatangan sistem neuromuskular mastikasi, perubahan kimia otak, alkohol, trauma, penyakit, dan obat-obatan.

48 Gejala Grinding gigi saat tidur, ditandai dengan suara yang cukup keras Gigi yang rata / aus, retak atau terkelupas Kerusakan enamel gigi, memperlihatkan lapisan dalam gigi Anda Gigi sensitivitas pada panas, dingin, atau manis Rahang sakit atau tegang pada otot rahang anda Sakit pada telinga (karena sebagian struktur sendi temporomandibular sangat dekat dengan lubang telinga, menyebabkan referred pain atau nyeri menjalar dari lokasi yang berbeda dari sumbernya) Sakit kepala Nyeri wajah kronis Akibat Bruxism dapat menyebabkan abrasi (aus) permukaan gigi-gigi pada rahang atas dan rahang bawah, baik itu gigi susu maupun gigi permanen. Lapisan (lapisan terluar dari gigi) yang melindungi permukaan atas gigi hilang, sehingga dapat timbul rasa ngilu pada gigi-gigi tersebut Kerusakan pada jaringan periodontal (jaringan penyangga gigi), maloklusi, patahnya gigi akibat tekanan yang berlebihan, dan kelainan pada sendi Temporo Mandibular Joint (sendi yang menghubungkan rahang bawah dan tulang kepala).

49 Perawatan Biasanya kasus-kasus bruxism terlambat didiagnosa karena penderita tidak menyadari bahwa mereka memiliki kebiasaan tersebut. Untuk perawatan kasus ini dokter gigi memberikan night-guard dan digunakan saat tidur pada malam hari. Alat ini akan membentuk batas antara gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah sehingga tidak akan saling beradu. Pemakaian alat ini akan mencegah kerusakan yang lebih jauh pada gigi- geligi dan membantu pasien dalam menghentikan kebiasaan buruknya. Bila penyebab utama dari bruxism adalah stres, maka melakukan konsultasi dengan psikolog merupakan salah satu hal yang dapat membantu dalam menghilangkan kebiasaan buruk ini

50 QUIZZZZZZ ZUDAH ZIAPPPPPP?????

51 Soal 1. Dibawah ini merupakan perbedaan antara Anoreksia Nervosa dengan Bulimia Nervosa, kecuali: a. Cara ‘pembersihan’ b. Berat badan c. Penyebab munculnya gangguan d. Gaya berolahraga

52 2. Berapakah berat badan ideal (normal) menurut perhitungan BMI (Body Mass index)? a.<18.5 b.18.5 – 24 c d.>30

53 3. Dibawah ini termasuk gangguan tidur non- organik, kecuali : a.Somnambulisme (Sleepwalking) b.Night terrors c.Nightmare d.Vaginimus

54 4. Yang termasuk parasomnia adalah : a.Insomnia b.Somnabulisme c.Hipersomnia d.Gangguan jadwal tidur

55 5. kondisi di mana seorang wanita atau pria tak mampu menahan hasrat seksualnya. Hal ini yang menyebabkan si penderita berhubungan seksual dengan siapapun adalah: a.Vaginismus b.Orgasme c.Anorgasme d.nymphomania

56 6. nyeri di vagina atau pinggul yang dialami selama hubungan seksual disebut? a.Vaginismus b.Nymphomania c.Dismenora d.Dispareunia

57 7. Tanda dan gejala berupa nyeri perut, diare, demam, penurunan berat badan, dan perdarahan usus merupakan bagian dari penyakit... a.Asma b.Dermatritis c.Peptric ulcer d.Ulcerative colitis

58 8. Obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri dan tidak menghilangkan kesadaran adalah: a.Pencahar b.Antacida c.Steroida d.Analgesik

59 9. Dibawah ini adalah gejala individu yang mengalami bruxism, kecuali: a. Rahang sakit atau tegang pada otot rahang anda b. Sakit pada telinga c. Sakit kepala d. Sakit pada leher

60 10. Pada minggu keberapakah gangguan masa nifas muncul? a.6 minggu b.4 minggu c.1 minggu d.2 minggu


Download ppt "Sindrom Perilaku yang Berhubungan Dengan Gangguan Fisiologi dan Faktor Fisik."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google