Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Diskusi Kasus Nyeri Sendi Oleh: Raymond Surya0906508421 Liana Srisawitri0906554346 Muncieto Andreas0906508314 Valencia Livia0906639953 Adityo Budiarso0906507740.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Diskusi Kasus Nyeri Sendi Oleh: Raymond Surya0906508421 Liana Srisawitri0906554346 Muncieto Andreas0906508314 Valencia Livia0906639953 Adityo Budiarso0906507740."— Transcript presentasi:

1 Diskusi Kasus Nyeri Sendi Oleh: Raymond Surya Liana Srisawitri Muncieto Andreas Valencia Livia Adityo Budiarso Wynne Oktaviane L D Winoyoko Sidimontro

2 Identitas Diri Nama: Ny M Nomor RM: Tanggal lahir: 1 Agustus 1966 Usia: 47 tahun Agama: Islam Alamat: Jalan Pesanggrahan Riwayat Pendidikan: Akademi kebidanan Pekerjaan: Bidan

3 Keluhan Utama Pasien datang untuk kontrol

4 Riwayat Penyakit Sekarang Nyeri sendi jari tangan dan kaku pada pagi hari Kaku >1jam  membaik dgn aktivitas Bengkak Berobat, dikatakan RA, mendapat MTX, berhenti obat 10 bln lalu Nyeri sendi, kaku, bengkak, dan panas diantara jari tangan dan kaki Diberikan MTX Hasil RF (-) 1 bln lalu Nyeri di lutut kanan setelah aktivitas Membaik dgn istirahat Riwayat patah tulang Saat ini

5 Anamnesis Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat tekanan darah tinggi, stroke, serangan jantung tidak ada Riwayat DM tidak ada Alergi (+) seafood dan ibuprofen Riwayat Penyakit dalam Keluarga Tekanan darah tinggi, DM, kolesterol tinggi, stroke, serangan jantung disangkal Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi, Kejiwaan, dan Kebiasaan Pasien bekerja sebagai pegawai RSCM di poliklinik kebidanan Pasien berobat menggunakan Askes

6 Pemeriksaan Fisik Kesadaran: komposmentis Keadaan umum: tampak sakit ringan Tekanan darah: 130/80 mmHg Nadi: 88 x/menit Suhu: 36,5 0 C Pernapasan: 18 x/menit Tinggi badan: 155 cm Berat badan: 75 kg IMT: 31,21 kg/m 2 Status gizi: obese II Kulit: Warna sawo matang, tidak tampak kelainan Kepala: Normocephal, tidak ada deformitas Rambut: Warna hitam, persebaran merata, tidak mudah dicabut Mata: Konjungtiva pucat tidak ada, sklera ikterik tidak ada Gigi dan mulut: Oral hygiene baik Leher: JVP 5-2 cmH2O, tidak ada pembesaran KGB maupun tiroid Jantung: bunyi jantung I-II normal, murmur dan gallop Paru: Bunyi napas vesikular +/+, ronki - /-, wheezing -/- Abdomen: supel, lemas, hati dan limpa tidak teraba, BU normal Ekstremitas: – Akral hangat, edema -/-, CRT <2” – Tidak terdapat deformitas seperti swan neck, boutoniere, dan deviasi ulnar – Terdapat krepitasi pada lutut kanan

7 Pemeriksaan Penunjang Tidak ada

8 Masalah, Rencana Diagnosis dan Tatalaksana Daftar Masalah Rheumatoid arthritis Osteoartritis Rencana Diagnosis Foto polos sendi Pemeriksaan DPL, LED, CRP, RF, anti CCP, Ur/Cr, SGOT/PT Rencana Tatalaksana MTX 1x 7,5mg / minggu Natrium diklofenak 2x50 mg Edukasi untuk menurunkan berat badan, aktivitas fisik yang tidak membebani lutut Fisioterapi

9 Pendekatan Keluhan Muskuloskeletal Cush JJ, Lipsky PE. Approach to articular and musculoskeletal disorders. In: Dan LL, Dennis LK, Larry J, Anthony SF, Stephen LH, Joseph L, editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine 18 th ed (e-book). McGraw- Hill; 2012.

10 Nyeri pada Tangan Nyeri bilateral  degeneratif (OA), sistemik, imun (RA) Nyeri Lutut Asal: – Intraartikular (OA, RA) – Periartikular (bursitis, regangan ligamen) – Penjalaran dari gangguan panggul Sebaiknya diperiksa pada posisi berdiri dan terlentang (evaluasi tanda inflamasi) Cush JJ, Lipsky PE. Approach to articular and musculoskeletal disorders. In: Dan LL, Dennis LK, Larry J, Anthony SF, Stephen LH, Joseph L, editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine 18 th ed (e-book). McGraw-Hill; 2012.

11 Pemeriksaan Penunjang Individu dgn gejala kronik yg tdk respon dgn pengobatan  pem laboratorium Rutin: DPL, reaktan fase akut, serologi Analisis cairan sinovial  monoartritis akut/ infeksi/ artropati akibat kristal  membedakan proses inflamasi dan non inflamasi Foyo polos  riw trauma, curiga inf kronik, disabilitas progresif, monoartikular USG  jar lunak Skintigrafi  metabolik tl dan metastasis CT-Scan  skeleton aksial dan sendi yg sulit terlihat MRI  struktur lebih detail (sumsum tl dan jar lunak) Cush JJ, Lipsky PE. Approach to articular and musculoskeletal disorders. In: Dan LL, Dennis LK, Larry J, Anthony SF, Stephen LH, Joseph L, editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine 18 th ed (e-book). McGraw-Hill; 2012.

12 Rheumatoid Artritis RA  Penyakit autoimun yang ditandai oleh inflamasi sistemik kronik dan progresif, di mana sendi merupakan target utama. Terjadi peradangan pada sinovial dengan erosi progresif dari tulang  berujung pada deformitas. Dapat mengenai organ-organ di luar sendi Menegakkan diagnosis dan memulai terapi sedini mungkin dapat menurunkan progresifitas penyakit. Prevalensinya di Indonesia kurang dari 0,4%. Suarjana IN. Artritis Reumatoid. Sudoyo A, Setiohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing; hlm

13 Etiologi Faktor genetik (gen HLA-DRB1, TNFRSR11A) hormon sex virus dan bakteri (mycoplasma, parvovirus B19, retrovirus, bakteri enterik, mycobacteria, Epstein-barr virus.) Suarjana IN. Artritis Reumatoid. Sudoyo A, Setiohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing; hlm

14 Faktor Faktor Resiko: Jenis kelamin perempuan (prevalensi 3:1 dengan pria) riwayat keluarga umur lebih tua (dekade 4-5) paparan salisilat dan merokok konsumsi kopi lebih dari tiga cangkir per Penurunan resiko Makanan tinggi vitamin D konsumsi the kontrasepsi oral Suarjana IN. Artritis Reumatoid. Sudoyo A, Setiohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing; hlm

15 Patogenesis disregulasi dari sistem imun Aktivasi dari sel T proliferasi makrofag dan fibroblast sinovial mediator inflamasi respon inflamasi pada sendi interaksi faktor genetik, lingkungan, imunologik aktivasi Sel B antibodi RF dan anti-CCP kompleks imun Neovaskularisasi, pertumbuhan irreguler jaringan sinovial pannus Aktivasi osteoklas Suarjana IN. Artritis Reumatoid. Sudoyo A, Setiohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing; hlm Shah A, St. Clair EW. Rheumatoid Arthritis. Fauci et al. Harrison’s Principles of Internal Medicine 18th edition. Philadelphia: McGraw-Hill Companies, Inc; pg

16 Manifestasi Klinis onset penyakit perlahan diikuti oleh kekakuan sendi pada pagi hari yang berlangsung selama satu jam atau lebih poliartikular >5sendi, dapat juga monoartikular atau oligoartikular (< 4 sendi) pada awal penyakit. Tanda kardinal inflamasi pada awal penyakit atau saat kekambuhan (flare) Umumnya persendian tangan (MCP, PIP), kaki, vertebra servikal, tetapi persendian besar seperti bahu dan lutut juga dapat terkena. umumnya bersifat simetris Deformitas : Ankilosis Tendon fleksor tenosinovitis deviasi ulnar swan-neck deformity boutonniere deformity Z-line deformity pes planovalgus. Suarjana IN. Artritis Reumatoid. Sudoyo A, Setiohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing; hlm Shah A, St. Clair EW. Rheumatoid Arthritis. Fauci et al. Harrison’s Principles of Internal Medicine 18th edition. Philadelphia: McGraw-Hill Companies, Inc; pg

17 Manifestasi ekstraartikular banyak berkembang pada pasien dengan riwayat merokok, onset dini disabilitas, dan serum RF positif. Secondary Sjögren’s syndrome dapat terjadi pada 10% pasien RA, dengan manifestasi keratoconjunctivitis sicca atau xerostomia. Shah A, St. Clair EW. Rheumatoid Arthritis. Fauci et al. Harrison’s Principles of Internal Medicine 18th edition. Philadelphia: McGraw-Hill Companies, Inc; pg

18 Diagnosis Skor >6 memenuhi criteria definit RA Kriteria dipakai untuk pasien dengan paling sedikit satu sendi dengan tampakan sinovitis yang tidak dapat dijelaskan dengan penyakit lain. Kriteria klasifikasi RA menurut American College of Rheumatology (ACR) dan European League Against Rheumatism (EULAR) tahun Shah A, St. Clair EW. Rheumatoid Arthritis. Fauci et al. Harrison ’ s Principles of Internal Medicine 18th edition. Philadelphia: McGraw-Hill Companies, Inc; pg Agency for Healthcare Research and Quality. Drug Theray for Rheumatoid Arthritis in Adults: An Update. AHRQ Publication No 2-EHC025-EF

19 Diagnosis Pemeriksaan laboratorium : Serum rheumatoid factor (RF)  pada 75% pasien dengan RA, sering negatif pada awal penyakit. Anticyclic citrullinated peptide (CCP) antibody  lebih sensitif Analisis cairan sinovial  hitung sel darah putih WBC/µ 3 (nilai normal <2000 WBC/µ 3 ) Pemeriksaan radiologi – untuk diagnosis dan menilai progresi dan kerusakan sendi. – Foto polos sendi  osteopenia juxtraartikular, pembengkakan jaringan lunak, joint space loss simetris, dan erosi subchondral. – MRI dan USG Shah A, St. Clair EW. Rheumatoid Arthritis. Fauci et al. Harrison ’ s Principles of Internal Medicine 18th edition. Philadelphia: McGraw-Hill Companies, Inc; pg Agency for Healthcare Research and Quality. Drug Theray for Rheumatoid Arthritis in Adults: An Update. AHRQ Publication No 2-EHC025-EF

20 Tata Laksana Tujuan: kontrol nyeri, inflamasi, dan remisi penyakit atau memperkecil aktivitas penyakit. OAINS  – Pada penyakit awal atau ringan – Tidak dapat memodifikasi penyakit. – Penggunaan kronik perlu diminimalisasi (efek gastrointestinal ) Kortikosteroid  – mensupresi inflamasi  mengurangi nyeri dan bengkak sendi. – metilprednisolon, prednisone, dan prednisolon. – Dosis rendah -sedang  mencapai kontrol penyakit sebelum onset DMARDs – Flare  diberikan dalam 1-2 minggu. – Pada pasien dengan respon buruk terhadap DMARDs Shah A, St. Clair EW. Rheumatoid Arthritis. Fauci et al. Harrison ’ s Principles of Internal Medicine 18th edition. Philadelphia: McGraw-Hill Companies, Inc; pg Agency for Healthcare Research and Quality. Drug Theray for Rheumatoid Arthritis in Adults: An Update. AHRQ Publication No 2-EHC025-EF

21 Oral disease-modifying antirheumatic drugs (DMARDs)  Kontrol penyakit dalam 6-12 minggu dapat memodifikasi kondisi inflamasi melalui efeknya pada sistem imun. mampu memperlambat atau mencegah perubahan struktural pada RA. methotrexate (MTX), sulfazalazine (SSZ), hydroxychloroquin, dan leflunomide. MTX  first-line. – Dosis 10–25 mg/minggu. – Pasien dengan penyakit aktif dilakukan monitor tiap 3 bulan dan tatalaksana perlu disesuaikan bila tidak ada peningkatan lebih dari 6 bulan. – Efek samping  hepatotoksisitas, myelosupresi, dan infeksi. – Folic acid 1 mg/hari untuk mengurangi hepatotoksisistas – dikontraindikasikan dalam kehamilan. Shah A, St. Clair EW. Rheumatoid Arthritis. Fauci et al. Harrison ’ s Principles of Internal Medicine 18th edition. Philadelphia: McGraw-Hill Companies, Inc; pg Agency for Healthcare Research and Quality. Drug Theray for Rheumatoid Arthritis in Adults: An Update. AHRQ Publication No 2-EHC025-EF Tata Laksana

22 heat and cold theraphy  – kompres hangat : pemanas elektrik, air panas, ultrasonografi, diathermy, atau paraffin  untuk mengurangi nyeri dan kaku. – Kompres dingin : lebih banyak digunakan pada kejadian akut. Alat-alat ortotik  untuk stabilitas, mengurangi deformitas, dan memperbaiki kelainan posisi. Latihan fisik  – Pada RA terkontrol  Aerobik dianjurkan 30 menit beberapa kali seminggu. – Pencegahan atrofi otot  aktivitas isometrik. Tata Laksana Temprano KK. Rheumatoid Arthritis Treatment & Management. available from treatment#aw2aab6b6b4. cited 8 December 2013.http://emedicine.medscape.com/article/ treatment#aw2aab6b6b4

23 Osteoartritis Kerusakan sendi  hilangnya kartilago hialin secara fokal dan biasanya uniform Prevalensi: >60 thn, >>> wanita Patogenesis: – Primer – Sekunder Jejas mekanis dan kimiawi  terbentuk molekul abnormal dan produk degradasi kartilago di dalam cairan sinovial sendi  inflamasi sendi, kerusakan kondrosit, dan nyeri OA  kombinasi degradasi rawan sendi, remodeling tulang, dan inflamasi cairan sendi Felson DT. Osteoarthritis. In: Dan LL, Dennis LK, Larry J, Anthony SF, Stephen LH, Joseph L, editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine 18 th ed (e-book). McGraw-Hill; Soeroso J, Isbagio H, Kalim H, Broto R, Pramudiyo R. Osteoartritis. Dalam: Aru WS, Bambang S, Idrus A, Marcellus S, Siti S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam ed 5 jilid III. Jakarta: Interna Publishing; hlm

24 Faktor Risiko Felson DT. Osteoarthritis. In: Dan LL, Dennis LK, Larry J, Anthony SF, Stephen LH, Joseph L, editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine 18 th ed (e-book). McGraw-Hill; United States Bone and Joint Initiative. A New Vision for Chronic Osteoarthritis Management. Report of the May 2012 COAMI Work Group Meeting and Call to Action; 2012.

25 Diagnosis Riwayat Penyakit Nyeri sendi Hambatan gerakan sendi Kaku pagi Krepitasi Pembesaran sendi (deformitas) Perubahan gaya berjalan Pemeriksaan Penunjang Diagnosis  klinis dan radiografi Kriteria Kellgren dan Lawrence Derajat 1: kemungkinan penyempitan ruang sendi dan adanya osteofitik Derajat 2: osteofit dan penyempitan ruang sendi yang definitif Derajat 3: osteofit multipel sedang, penyempitan ruang sendi yang definitif, beberapa sklerosis, dan kemungkinan deformitas tulang Derajat 4: osteofit besar, penyempitan ruang sendi yang terlihat jelas, sklerosis berat, dan deformitas bentuk tulang yang definitif Felson DT. Osteoarthritis. In: Dan LL, Dennis LK, Larry J, Anthony SF, Stephen LH, Joseph L, editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine 18 th ed (e-book). McGraw-Hill; Soeroso J, Isbagio H, Kalim H, Broto R, Pramudiyo R. Osteoartritis. Dalam: Aru WS, Bambang S, Idrus A, Marcellus S, Siti S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam ed 5 jilid III. Jakarta: Interna Publishing; hlm

26 Tatalaksana Pemantauan Pengukuran nyeri sendi dan disabilitas pada pasien Pengukuran perubahan struktural pada sendi yang terserang Pengukuran proses penyakit yang dinyatakan dengan perubahan metabolisme dari rawan sendi artikuler, tulang subkondral dan jaringan sendi lainnya Tatalaksana Non-farmakologis: edukasi, terapi fisik, penurunan berat badan Farmakologis: analgesik oral non-opiat, analgesic topical, OAINS, kondroprotektif, steroid intra-artikuler Terapi bedah: mal alignment, arthroscopic debridement, osteotomi, dan artroplasti sendi total Felson DT. Osteoarthritis. In: Dan LL, Dennis LK, Larry J, Anthony SF, Stephen LH, Joseph L, editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine 18 th ed (e-book). McGraw-Hill; Soeroso J, Isbagio H, Kalim H, Broto R, Pramudiyo R. Osteoartritis. Dalam: Aru WS, Bambang S, Idrus A, Marcellus S, Siti S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam ed 5 jilid III. Jakarta: Interna Publishing; hlm

27 PEMBAHASAN KASUS

28

29 Rheumatoid arthritis Pasien wanita 47 tahun mengeluh sendi jari-jari tangan nyeri dan kaku > 1 jam saat bangun pada pagi hari 10 bulan (>6 bulan = kronik; kaku pagi = RA) Bengkak dan panas pada pada sendi-sendi jari tangan, leher, dan jari kaki, (tanda kardinal inflamasi, >5 sendi=poliartritis). Faktor resiko RA  jenis kelamin perempuan dan usia lebih tua, sedangkan riwayat keluarga dan riwayat rokok tidak ditemukan.

30 Diagnosis RA Diagnosis RA  skor kriteria RA oleh EULAR. Skor akhir didapatkan 6, sehingga pasien didiagnosis RA.

31 Analisis RA PF : – tidak ditemukan deformitas  perjalanan penyakit yang masih dini atau telah terkontrol dengan obat (pasien telah mendapatkan MTX) – tidak ditemukan manifestasi ekstraartikular RA. Sejak 1 bulan nyeri sendi, kaku, bengkak, dan panas diantara jari tangan dan kaki, putus obat MTX  flare. Pemeriksaan: – Foto polos sendi  progresifitas penyakit. – Analisis cairan sendi tidak diperlukan karena gejala klinis telah cukup mendukung diagnosis. – DPL, LED, Ur/Cr  mengetahui ada atau tidaknya manifestasi ekstraartikular – SGOT dan SGPT  evaluasi hati karena pasien telah mendapatkan MTX yang bersifat hepatotoksik. – RF dan anti-CCP belum dibutuhkan sekarang karena diagnosis RA sudah ditegakkan. – Pemeriksaan CRP dapat dilakukan untuk evaluasi dari tatalaksana.

32 Tatalaksana Natrium diklofenak 2x50 mg  OAINS  kurang tepat diberikan karena tidak dapat memodifikasi penyakit. Kepada pasien diberikan terapi MTX sesuai yang telah diberikan sebelumnya  – memperlambat progresifitas penyakit – MTX merupakan obat lini pertama RA – pasien telah menunjukkan penurunan gejala dengan terapi MTX sebelumya. Terapi rehabilitasi/ fisioterapi juga diberikan kepada pasien berupa heat theraphy, yaitu dengan diathermy atau paraffin dengan tujuan mengurangi nyeri dan kaku.

33 Osteoartritis Wanita usia 47 tahun keluhan nyeri pada lutut kanan terutama setelah berdiri lama, jika beristirahat akan membaik sedikit. Riwayat patah tulang. Pada PF ditemukan krepitasi pada lutut kanan Sifat dari nyeri OA ini biasanya uniform dan frekuensi lebih sering pada wanita di atas usia 60 tahun Kemungkinan OA Patogenesis  OA sekunder  mengalami patah tulang kaki kiri (jejas mikro) Faktor risiko  sistemik (jenis kelamin wanita dan peningkatan usia), pembebanan (obesitas II dengan IMT 31,21 kg/m2)

34 Osteoartritis Riw penyakit: nyeri sendi, hambatan gerakan sendi, dan krepitasi PF: krepitasi tanpa tanda-tanda peradangan, tidak ada perubahan bentuk sendi yang permanen, serta tidak ada perubahan gaya berjalan Diagnosis Pemeriksaan laboratorium: belum ada Perlu foto polos lutut Penunjang Non farmakologis  edukasi ↓ BB, menjalani pengobatan teratur dan rehabilitasi medik Farmakologis  pemberian natrium diklofenak (sesuaikan dengan VAS), dapat ditambah agen kondroprotektif Bedah belum diperlukan Tatalaksana

35 Daftar Pustaka Cush JJ, Lipsky PE. Approach to articular and musculoskeletal disorders. In: Dan LL, Dennis LK, Larry J, Anthony SF, Stephen LH, Joseph L, editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine 18 th ed (e- book). McGraw-Hill; Suarjana IN. Artritis Reumatoid. Sudoyo A, Setiohadi B, Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing; hlm Shah A, St. Clair EW. Rheumatoid Arthritis. Fauci et al. Harrison’s Principles of Internal Medicine 18th edition. Philadelphia: McGraw-Hill Companies, Inc; pg Agency for Healthcare Research and Quality. Drug Theray for Rheumatoid Arthritis in Adults: An Update. AHRQ Publication No 2-EHC025-EF Temprano KK. Rheumatoid Arthritis Treatment & Management. available from cited 8 December Felson DT. Osteoarthritis. In: Dan LL, Dennis LK, Larry J, Anthony SF, Stephen LH, Joseph L, editors. Harrison’s Principles of Internal Medicine 18 th ed (e-book). McGraw-Hill; Soeroso J, Isbagio H, Kalim H, Broto R, Pramudiyo R. Osteoartritis. Dalam: Aru WS, Bambang S, Idrus A, Marcellus S, Siti S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam ed 5 jilid III. Jakarta: Interna Publishing; hlm United States Bone and Joint Initiative. A New Vision for Chronic Osteoarthritis Management. Report of the May 2012 COAMI Work Group Meeting and Call to Action; 2012.


Download ppt "Diskusi Kasus Nyeri Sendi Oleh: Raymond Surya0906508421 Liana Srisawitri0906554346 Muncieto Andreas0906508314 Valencia Livia0906639953 Adityo Budiarso0906507740."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google