Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Penyakit Menular Seksual (Sexually Transmitted Diseases) Sifilis – Gonore – AIDS.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Penyakit Menular Seksual (Sexually Transmitted Diseases) Sifilis – Gonore – AIDS."— Transcript presentasi:

1 Penyakit Menular Seksual (Sexually Transmitted Diseases) Sifilis – Gonore – AIDS

2 Pendahuluan Pengertian Penyakit menular seksual adalah penyakit yang menyerang manusia melalui transmisi hubungan seksual, seks oral, dan seks anal. Penyakit menular seksual juga dapat ditularkan melalui jarum suntik, juga kelahiran dan menyusui. Infeksi penyakit menular seksual telah diketahui selama ratusan tahun.

3 Penyakit menular seksual merupakan penyakit yang ditakuti oleh setiap orang. Angka kejadian penyakit ini termasuk tinggi di Indonesia. Kelompok resiko yang rentan terinfeksi tentunya adalah seseorang yang punya kebiasaan perilaku yang tidak sehat. Penyakit menular seksual yang akan dibahas antara lain :  Sifilis  Gonorhoe  AIDS

4 Sifilis (Syphilis) Penyakit Sifilis atau raja singa merupakan penyakit kelamin menular yang disebabkan oleh bakteri spiroseta atau lebih dikenal dengan nama Treponema pallidum, sangat kronis dan sistematik. Pada perjalanannya dapat menyerang hampir semua alat tubuh, dapat menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten, dan dapat ditularkan dari satu orang ke yang lain melalui hubungan seksual baik secara genital maupun oral.

5 Penyebab dari penyakit sifilis adalah bakteri berbentuk spiral, Treponema pallidum yang masuk ke dalam tubuh seseorang melalui selaput lendir atau melalui kulit. Dalam beberapa jam, bakteri akan sampai ke kelenjar getah bening terdekat sehingga dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Pada umumnya penyakit ini timbul dikarenakan memiliki banyak pasangan dan mereka mempraktekan seks secara tidak aman.

6 Klasifikasi Secara klinis, sifilis dibagi menjadi dua: 1.Sifilis kongenital (bawaan), terdiri atas: o Dini (sebelum dua tahun) o Lanjut (setelah dua tahun) o Stigmata 2.Sifilis akuisita (didapat), terdiri atas: o Klinis (Stadium I, Stadium II, dan Stadium III) o Epidemiologi Stadium laten dini (menular) Stadium laten lanjut (tidak menular)

7 Dampak penyakit sifilis jika tidak segera diobati dapat menyebabkan efek serius seperti kerusakan sistem saraf, jantung, dan otak. Atau luka-luka mengerikan yang timbul pada mulut, daerah sekitar kelamin, bahkan seluruh tubuh pada tingkat parah. Sifilis yang tak disembuhkan dapat berakibat fatal. Orang yang memiliki kemungkinan terkena sifilis atau mempunyai pasangan seks yang mungkin terkena sifilis dianjurkan untuk segera menemui dokter secepat mungkin.

8 Gejala yang timbul pada penyakit sifilis antara lain : 1.Muncul rasa sakit di bagian anus, alat kelamin, atau mulut pada sekitar 3-12 minggu setelah berhubungan seksual dengan orang yang terkena sifilis. Kemudian rasa sakit menghilang tetapi bakteri tetap berada di dalam tubuh. 2.Sekitar 6-12 bulan terinfeksi, tahap kedua terjadi. Muncul ruam kemerahan pada sekitar alat kelamin, telapak tangan dan kaki, serta wajah. 3.Tahap ketiga dimulai sekitar 2 tahun sejak infeksi. Pada tahap ini, bakteri telah merusak sistem saraf, otak, dan sistem dalam peredaran darah penderita.

9 Penanganan pada penderita sifilis diantaranya dapat dengan cara : 1.Menerapkan prinsip pencegahan infeksi pada persalinan 2.Menerapkan prinsip pencegahan infeksi pada penggunaan instrumen 3.Pemberian antibiotik, misal: Benzalin penisilin 4,8 juta unit IM setiap minggu dengan 4x pemberian; Dofsisiklin 200 mg oral dosis awal, dilanjutkan 2×100 mg oral hingga 20 hari; Sefriakson 500 mg IM selama 10 hari 4.Lakukan konseling preventif, pengobatan tuntas dan asuhan mandiri

10 5.Sebelum pemberian terapi pada bayi dengan dugaan/ terbukti menderita sifilis kongenital, maka dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinalis dan uji serologik tiap bulan sampai negatif. Berikan antibiotik: Benzalin pensilin IU/ kgBB per minggu hingga 4x pemberian; Sefriakson 50 mg/ kg BB dosis tunggal (per hari selama 10 hari) 6.Memastikan pengobatan lengkap dan kontrol terjadwal 7.Pantau lesi kronik atau gejala neurologik yang menyertai.

11 Pencegahan penyakit sifilis : 1.Tidak melakukan seks bebas, praktikkan seks monogami dengan aman bersama pasangan 2.Memakai kondom mengurangi risiko terinfeksi sifilis 3.Setiap ibu hamil harus di tes sifilis, agar bila terinfeksi dapat diterapi sesegera mungkin, dan tidak menginfeksi bayinya 4.Hindari kontak dengan jaringan yang terpapar langsung atau dengan cairan tubuh.

12 Gonore (Gonorrhea) Kencing nanah atau gonore adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan, dan bagian putih mata (konjungtiva). Bakteri ini merupakan gram negative, nonmotil, tidak membentuk spora, berkembang berkoloni membentuk diplokokus, atau pun tunggal monokokus. Gonore bisa menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian.

13 Penyebab Gonorrhea yang paling utama adalah virus Neisseria gonorrhoea, yang masuk ke dalam aliran darah dan menyebar ke seluruh tubuh sehingga tubuh terkontaminasi oleh virus berbahaya ini. Kaum pria memiliki resiko 20% terinfeksi virus tersebut dari satu tindakan hubungan seksual dengan seorang wanita terinfeksi gonorrhea. Sedangkan wanita memiliki risiko 60-80% mendapatkan infeksi dari satu tindakan hubungan seksual dengan seorang pria yang terinfeksi gonorrhea.

14 Gejala yang timbul pada penyakit gonore : Lelaki 1.Keluar cairan putih kekuning-kuningan melalui penis 2.Terasa panas dan nyeri pada waktu kencing 3.Sering buang air kecil 4.Terjadi pembengkakan pada pelir (testis). Wanita 1.Pengeluaran cairan vagina tidak seperti biasa 2.Panas dan nyeri saat kencing 3.Keluhan dan gejala terkadang belum tampak meskipun sudah menular ke saluran tuba fallopi.

15 Dampak penyakit gonore jika tidak segera diobati dapat timbul pada bayi, lelaki dan perempuan dewasa. 1.Pada lelaki : dapat berdampak prostatitis (radang kelenjar prostat), adanya jaringan parut pada saluran kencing (uretra), mandul/infertil, peradangan epididimis 2.Pada perempuan : dapat berdampak PID, infertil, gangguan menstruasi kronis, peradangan selaput lendir rahim setelah melahirkan (post partum endometriosis), abortus, cistitis (peradangan kandung kencing), peradangan disertai pus.

16 Penanganan 1.Pada masa kehamilan, berikan antibiotika seperti : a) Ampisilin 2 gram IV dosis awal, lanjutkan dengan 3 x 1 gram per oral selama 7 hari. b) Ampisilin + Sulbaktan 2,25 gram oral dosis tunggal. c) Spektinomisin 2 gram IM dosis tunggal. d) Seftriakson 500 mg IM dosis tunggal 2.Masa nifas, berikan antibiotika seperti : a) Xiprofloksasin 1 gram dosis tunggal. b) Trimethroprim + Sulfamethoksazol (160 mg mg) 5 kaplet dosis tunggal

17 3.Oftalmia neonatorum (konjungtivitis) : a) Garamisin tetes mata 3 x 2 tetes. b) Antibiotika – Ampisilin 50 mg/ kgBB IM selama 7 hari; Amoksisilin + asam klamtanat 50 mg/ kgBB IM selama 7 hari; Seftriakson 50 mg/ kgBB IM dosis tunggal 4.Lakukan konseling tentang metode barier dalam melakukan hubungan seksual 5.Berikan pengobatan yang sama pada pasangannya 6.Buat jadwal kunjungan ulang dan pastikan pasangan & pasien akan menyelesaikan pengobatan hingga tuntas.

18 Pencegahan 1.Cara yang paling pasti untuk mencegah penyebaran penyakit menular seksual adalah dengan tidak melakukan hubungan seks 2.Berhubungan seks secara monogami, pastikan pasangan tidak terinfeksi 3.Penggunaan kondom dapat mengurangi risiko penularan penyakit 4.Pastikan toilet yang digunakan higienis, hindari penggunaan toilet duduk ditempat umum 5.Segera obati bila ada keluhan-keluhan

19 AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) AIDS adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV; atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain). HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

20 HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

21 Gejala dan Komplikasi Berbagai gejala AIDS umumnya tidak akan terjadi pada orang-orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik; seperti demam, berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta penurunan berat badan. Penderita AIDS berisiko lebih besar menderita kanker seperti sarkoma Kaposi, kanker leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma.

22 Cara pencegahan terhadap penyakit AIDS yaitu menghindari terinfeksi oleh HIV, antara lain : 1.Setia pada pasangan 2.Hindari penggunaan jarum suntik bersama- sama 3.Bila ingin melakukan tranfusi darah, pastikan bahwa darah tidak tercemar HIV 4.Bila ingin menggunakan alat tusuk seperti akupuntur, tatto, melubangi telinga, dan sebagainya pastikan bahwa alat-alat yang dipakai steril 5.Hindari transfusi darah yang tidak jelas sumbernya.

23 Penanganan/Pengobatan Sampai saat ini tidak ada vaksin atau obat untuk HIV atau AIDS. Metode satu-satunya yang diketahui untuk pencegahan didasarkan pada penghindaran kontak dengan virus atau, jika gagal, perawatan antiretrovirus secara langsung setelah kontak dengan virus secara signifikan, disebut post-exposure prophylaxis (PEP). PEP memiliki jadwal empat minggu takaran yang menuntut banyak waktu. PEP juga memiliki efek samping yang tidak menyenangkan seperti diare, tidak enak badan, mual, dan lelah. Penanganan lain yang bisa dilakukan antara lain terapi antivirus, penanganan eksperimental dan saran, dan pengobatan alternatif.


Download ppt "Penyakit Menular Seksual (Sexually Transmitted Diseases) Sifilis – Gonore – AIDS."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google