Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PERILAKU KONSELOR. WAWANCARA Sesi Pertama Tujuan wawancara pertama kali:  Langkah mereduksi kecemasan klien, menahan diri dari pembicaraan yang terus-

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PERILAKU KONSELOR. WAWANCARA Sesi Pertama Tujuan wawancara pertama kali:  Langkah mereduksi kecemasan klien, menahan diri dari pembicaraan yang terus-"— Transcript presentasi:

1 PERILAKU KONSELOR

2 WAWANCARA Sesi Pertama Tujuan wawancara pertama kali:  Langkah mereduksi kecemasan klien, menahan diri dari pembicaraan yang terus- menerus, mendengarkan secara baik dan hati-hati, serta menyadari bahwa pilihan klien terhadap topik-topik akan memberikan pemahaman terhadap prioritasnya.

3 Tujuan utama wawancara adalah untuk mendapatkan informasi, so beberapa bentuk respon yang disarankan, yaitu : (1)Penggalian. (2)Penekanan. (3)Pertanyaan tertutup. (4)Permintaan klarifikasi.

4 Sesi Kedua (1)Mengidentifikasi data (identitas klien) (2)Menyampaikan masalah, baik yang utama dan yang lain. (3)Setting kehidupan klien saat ini, (4)Riwayat keluarga, (5)Riwayat pribadi, (6)Deskripsi klien selama wawancara, dan (7)Kesimpulan dan rekomendasi.

5 Sesi-sesi Berikutnya Wawancara hendaknya sudah mengarah kepada wawancara terapeutik dan dilakukan dengan menggunakan data-data yang sudah dimiliki. Sesi Akhir Wawancara Dipandang sebagai suatu transisi dari satu kondisi psikologis ke yang lain, maka fungsi konselor adalah sebagai jembatan dari kondisi psikologis dari yang satu ke yang lain.

6 PROSES MENDENGARKAN Mendengarkan Proses kompleks yang melibatkan: -Mindfull -Penerimaan pesan secara fisik -Pemilihan & penyusunan informasi -Menafsirkan komunikasi -Merespon -Mengingat

7 Merespon konten kognitif Konselor harus memahami alternatif yang dihadirkan klien dan selanjutnya merespon terhadap alternatif tersebut secara tepat. Memahami alternatif, berarti mengidentifikasi secara tepat jenis isi yang dihadirkan klien, dan altrnatif-alternatif yang dapat direspon. Merespon alternatif, yaitu proses menyeleksi alternatif.

8 Fokusnya adalah tentang kebutuhan klien daripada kebutuhan konselor. Respon dapat juga diberikan kepada hal-hal yang menurut klien paling menarik. Dalam merespon, juga banyak tipe yang bisa dijadikan stimulus terhadap isi kognitif, yaitu : ide yang disetujui, organisasi dan suatu hal. Untuk membedakan stimuli, konselor dapat menggunakan melalui diam, aktivitas verbal secara minimal, pernyataan kembali, dan pemeriksaan.

9 Merespon konten afektif Pesan-pesan perasaan mungkin diekspresikan melalui nonverbal, seperti nada vokal, kecepatan bicara, posisi tubuh, dan atau isyarat badan. Isyarat verbal maupun nonverbal selalu berasosiasi dengan emosi. Konselor harus mampu memahami perasaan klien, sebelum konselor dapat menghasilkan perasaan yang sama seperti yang dirasakan klien. Elemen-elemen komunikasi afeksi klien dapat diientifikasi berdasar atas gerakan kepala dan badan, posisi tubuh, kecepatan gerak, dan kualitas suara.

10 1. Afeksi Positif KegembiraanKemampuanCintaKebahagiaanHarapan CantikMampuAkrabRiangUntung SenangDapatB’sahabatMenyenangk’Optimis BaikTerpenuhiCintaCeriaMencoba BagusBesarSukaGairahDugaan ManisBagusKebutuhanBahagiaHarapan PuasPintarSayangTertawaKeinginan HebatMenghargaiKeinginanSensasi Cukup baikMemilihMenghargai

11 2. Amarah SeranganKejelekanPembelaan diriBercekcok PerdebatanTidak sukaMenyalahkanMarah SeranganBenciMelindungiBerkelahi BertandingBurukMarahPertengkaran MencelaKemuakanHati-hatiBerdebat BerkelahiMerengutMenyiapkan Mempersoalkan masalah MemukulMenolak MenyakitiTidak setuju Melukai perasaan

12 3. Ketakutan KetakutanKekhawatiranKesakitanMenjauhi GelisahKegagalanPayahMelarikan diri KesusahanMenjatuhkanMenyakitiLari KeprihatinanTidak pastiHebatPelarian KesendirianSedang Tidak menyenangkan Memotong Suka murungTidak nyamanLupa KetakutanKebingunganSakit TegangBodohMerobek GangguanTak pasti

13 4. Kesedihan KesedihanKesendirianDepresi Tidak senangSendiriDepresi Terkatung-katungMeninggalkanTekanan PenderitaanLepasLesu Bersedih hatiHilangMengecilkan hati SedihSangat sedih Murung

14 Alasan utama konselor tidak merespon perasaan klien (1) konselor tidak mengetahui cara yang tepat untuk meresponnya. (2) konselor “menghalangi” pengenalan pada perasaan klien.

15 Relasi Bantuan Empati kemampuan untuk merasakan secara akurat dunia klien mampu melihat sesuatu menurut pandangan klien. kemampuan untuk secara verbal berbagai pemahaman dengan klien. Mampu mengembangkan penghargaan yang positif Perlu keiklhlasan, keaslian, atau kesungguhan Kemampuan untuk menyingkapkan diri

16 Memperhatikan Klien Hal yg perlu dilakukan:’Berkomunikasi’ 1.Ekspresi wajah 2.Posisi badan 3.Respon verbal

17 Mengenali pola-pola berkomunikasi kebanyakan pola yang terjadi dalam sesi konseling adalah pola komunikasi interaktif. tiga macam pola berkomunikasi yang luar biasa untuk hubungan sosial, tetapi tidak tepat bagi konselor, yaitu  kurang berpartisipasi,  terlalu berpartisipasi,  partisipasi yang mengacaukan.

18 Konselor Yang Kurang Berpartipasi Mungkin memiliki ketakutan terhadap klien atau terhadap masalahnya. Karakteristik nonverbal, adalah tampak kaku, kurang gerak, posisi badan sering menjaga jarak dengan klien, menghindarkan pandangan, dan kadang-kadang membungkukkan bahu. Karakteristik verbal meliputi kalimatnya tidak lengkap, berbicara yang tidak berlanjut, kadang- kadang mencela pernyataannya sendiri, atau memberikan respon yang sifatnya reflektif. Atau dengan menggunakan bahasa yang lembut, sopan, dan pelan.

19 Konselor Yang Terlalu Berpartisipasi Cenderung menggunakan gaya meresponnya untuk menutupi perasaan takut saat interview. Nonverbal dicirikan dengan jarang melakukan perpindahan gerak badan dan banyak beranimasi dan berekspresi. Verbal, dicirikan dengan berbicara secara langsung melalui kata-kata yang kompulsif, tidak detail dan melakukan pengulangan, serta merespon secara panjang dibandingkan dengan respon klien. Aspek bahasa: cenderung berbicara secara langsung dan cepat, banyak berhenti diantara kalimat-kalimat, serta tekanan suaranya kadang tinggi dan keras.

20 Partisipasi Yang Mengacaukan Verbal dicirikan dengan pembicaraan yang tidak merespon pada masalah yang utama / primair tetapi yang sekunder, mengalihkan topik, fokus pada orang lain dari pada klien, dan lebih mempermasalahkan masa lalu dari pada saat ini. Non verbal: menggunakan perilaku-perilaku yang tidak perlu seperti memperhatikan orang lain, menggerak-gerakkan kaki dan tangan terlalu sering, mengangkat telepon, dsb

21 KEMAMPUAN KONSELOR DALAM FASE PEMAHAMAN & ACTION 1.Changing Perceptions Persepsi biasanya diubah dgn proses reframing  st teknik yg menawarkan klien ttg perspektif/ sudut pandang lain yg memungkinkan & positif pd st situasi Tujuan yg tdk realistis diganti m’gunakan strategi kognitif, perilaku, atau kognitif-perilaku spt m’definisikan kembali masalahnya, m’ganti perilaku ke situasi yg tepat, & memahami masalah dgn cara & perilaku yg lebih dpt dimanajemeni (Okun & Kantrowitz, 2008)

22 2. Leading Kemampuan konselor dalam mempengaruhi & mengarahkan klien Mnrt Welfel & Patterson (2005), macamnya: silence, acceptance, & paraphrasing (umumnya digunakan pada fase awal), persuasi (cocok digunakan pd fase pemahaman & aksi) Tipenya tgtg pdktn yg digunakan konselor & fase konselingnya: -Minimal leads  utk fase m’bangun hub, mis. “ehmmm,” “ya..ya..,” “ok, sy m’dengarkanmu” -Maximum leads  digunakan saat hub sdh t’jalin & solid, spt konfrontasi

23 3. Multifocused Responding Mnrt Ivey dan Ivey (2007), & Lazarus (2000), tuning ke dalam gaya klien dlm mempersepsi & belajar adalah penting utk m’bawa pd perubahan Ada klien yg m’persepsi dunianya scr visual, auditori, ataupun kinestetik dgn merasakan Dalam memberikan respon, ada respon afektif, behavioral, & kognitif

24 4. Accurate Empathy Dua faktor yg memungkinkan tjdnya empati: a.Menyadari bhw “perasaan infinite” tidak ada b.Memiliki personal security, shg “dapat m’biarkan diri masuk ke dalam dunia klien & tetap tahu bahwa qt dpt kembali ke dunia qt sendiri” Semua yg dirasakan adalah sbg “seakan-akan” Empati memiliki 3 elemen: perspektif, tahu- bgm, & asertif (Egan, 2007)

25 Tipe dasar empati: -Primary empathy  M’komunikasikan pemahaman dasar ttg apa yg klien rasakan & pengalaman serta perilaku yg mendasari perasaan tsb  M’bantu pembentukan hubungan konseling, mengumpulkan data, dan m’klarifikasi mslh  Co. klien: “Sy merasa tdk dpt melakukan apapun utk diri saya”, konselor: “Kamu merasa tidak berdaya” - Advanced empathy  Merefleksikan apa yg klien persiratkan atau p’nyataan yg tdk lengkap  Co. klien: “….& saya harap segalanya akan terbiasa”, konselor: “Jika tidak, sy tdk yakin dgn apa yg akan sy lakukan selanjutnya”

26 5. Self-Disclosure “St kesadaran, teknik intentional dimana klinisi m’bagi informasi ttg kehidupannya di luar hubungan konseling” Self-disclosure dapat m’bangun kepercayaan & penting dlm m’fasilitasi kemajuan klien Egan (2007), fungsi self-disclosure konselor: modeling & mengembangkan perspektif baru Klien bs belajar utk lebih t’buka dgn melihat konselor yg terbuka, & bahwa bbrp mslh adalah umum & dpt diatasi Namun self-disclosure tdk sll dibutuhkan, konselor harus m’p’timbangkan apakah ini penting, apakah ada cara lain yg risikonya lbh kcl & apakah ini adalah waktu yg tepat (Simone dkk, 1998)

27 6. Immediacy Melibatkan pemahaman konselor & klien, serta m’komunikasikan apa yg tjd diantara mereka dlm hub yg m’bantu, perasaan2 khusus, impresi, & harapan2 (Turock, 1980) Pd dasarnya ada 3 macam immediacy: a.Keseluruhan kedekatan hubungan – “Apa yg anda & saya lakukan?” b.Fokus pd bbrp peristiwa khusus dlm sesi konseling – “Apa yg tjd antara anda & saya saat ini?” c.Pernyataan self-involving – “Saya suka dgn cara anda bertanggung jawab dalam hidup anda pada situasi tsb”

28 Egan (2007), immediacy m’butuhkan keberanian lebih & ke-asertifan dibanding kemampuan interpersonal lain Turock (1980), 3 ketakutan para konselor ttg immediacy: a.Takut jika klien akan salah m’artikan pesan yg disampaikan konselor b.Immediacy mungkin m’hasilkan st hal yg tdk t’duga c.Immediacy dpt m’pengaruhi klien utk melakukan terminasi konseling krn mrk tidak dpt terus dalam hub yg terkontrol & manipulatif Egan (2007), immediacy t’baik digunakan saat: hub yg directionless, ada ketegangan, ada p’tanyaan ttg kepercayaan, ada perbedaan/ jarak sosial antar klien- konselor, ada ketergantungan klien, ada counter- dependency, & ada ketertarikan antar konselor &klien

29 7. Humor Melibatkan respon yg incongruent atau tdk terduga dlm bertanya atau situasi Humor dlm konseling sebaiknya tidak merendahkan siapapun Humor dpt m’hindari resistansi klien, m’bangun rapport, m’hilangkan ketegangan, menolong klien dlm m’beri jarak thd dirinya sndiri dari sakit scr psikologis, & meningkatkan self-efficacy klien (Goldin dkk., 2006; Vereen, Butler, Williams, Darg, & Downing, 2006) “Ha-ha” t’kadang lbh menimbulkan awareness drpd “Ah-ha”, & m’p’jelas situasi (Kotler, 1991)

30 8. Confrontation Respon yg mungkin tdk konsisten dgn persepsi klien ttg dirinya sndiri atau lingkungannya Dapat m’bantu orang utk melihat dgn lbh jelas ttg apa yg tjd, apa konsekuensinya, & bgm mrka memandang tanggungjawab utk b’ubah dgn cara yg m’buat hidup lbh efektif & lbh baik serta hub yg lebih fair dg orang lain Leaman (1978), batasan utk konfrontasi: konselor hrs memastikan bhw hub dgn klien ckp kuat utk diadakan konfrontasi, konselor hrs menyiapkan waktu yg tepat & tetap pd motif melakukan konfrontasi (lbh produktif m’konfrontasi kelebihan klien dibanding kekurangannya), konselor harus menantang klien utk m’gunakan sumber2 yg gagal digunakannya

31 9. Contracting Ada 2 aspek: a.Fokus pd proses, meliputi p’capaian tujuan b.Konsentrasi pd outcome final (goal) Moursund dan Kenny (2002), kontrak m’cakup: S – Spesifikasi (goal treatment) A – Awareness (pengetahuan ttg prosedur, goal, & efek samping konseling) F – Fairness (hub yg diseimbangkan & antar klien & konselor memiliki informasi yg cukup dlm bekerja) E – Efficacy (memastikan bhw klien diberdayakan dlm memilih & m’buat keputusan)

32 Manfaat m’gunakan kontrak dlm konseling: -Menyediakan rekaman tertulis ttg goal yg disetujui oleh konselor & klien, & tindakan yg harus dilakukan -Kontrak yg formal & batas waktu yg ada dpt sbg motivator utk klien yg cenderung menunda -Jika kontrak terbagi dlm sesi yg dpt didefinisikan, maka klien akan merasa jelas bhw masalah dpt diatasi -Kontrak m’berikan tanggungjawab pd klien utk b’ubh, shg b’potensi utk m’berdayakan klien & m’buatnya lbh responsif pd lingkungan & lbh b’tnggjwb thd tingkah lakunya -Sistem kontrak, dgn p’jelasan scr spesifik ttg jml sesi yg akan dilakukan, m’jamin bhw klien akan kembali pd proses konseling scr regular

33 Thomas dan Ezell (1972), kelemahan sistem kontrak: -Konselor tdk dapat menahan klien dlm kontrak (tdk ada reward atau punishment yg konselor gunakan utk menekan klien agar memenuhi kontrak) -Bbrp mslh klien tdk mencerminkan dirinya sndiri dlm sistem kontrak (kontrak tdk dpt memastikan bahwa klien akan melakukan tindakan perubahan yg t’cantum dalam kontrak) -Cara kontrak dlm m’atasi mslh t’fokus pd perilaku luar (wlpn kontrak telah dipenuhi dgn sukses, klien mgkn tdk m’dpt insight atau persepsi yg b’ubah) -Daya tarik kontrak terbatas (klien yg t’motivasi utk b’ubah & menemukan ide yg fresh & menarik, dapat mjd bosan dgn sistem yg terencana

34 10. Rehearsal Setelah kontrak, konselor dpt m’bantu klien utk memaksimalkan kesempatan dlm memenuhi kontrak dgn melatih atau m’praktekkan perilaku yg direncanakan Klien dpt berlatih scr overt & covert Overt rehearsal – klien berlatih scr verbal & tindakan ttg apa yg akan dilakukannya Covert rehearsal – m’bayangkan atau merefleksikan tujuan yg diinginkan (m’bayangkan situasi t’lebih dulu dpt menurunkan kecemasan & menolong klien utk perform lebih baik)

35 T’kadang klien m’butuhkan pengajaran dari konselor sblm berlatih. Konselor jg dpt memberikan klien homework, utk m’bantu klien m’praktekan kemampuan yg telah dipelajari dlm sesi konseling & m’generalisasikan kemampuan tsb pd b’bagai area yg relevan dlm kehidupannya. Konselor dr b’bagai perspektif teori dpt m’gunakan homework jika mereka ingin m’bantu klien m’atasi masalahnya sendiri Homework yg efektif, berkaitan dgn perubahan perilaku yg dpt diukur, relevan dgn situasi klien jika homework itu ingin b’makna & m’bantu

36 Tipe homework: -Paradoksikal, usaha m’ciptakan efek yg b’lawanan -Perilaku, m’praktekkan kemampuan baru -Risk taking, melakukan sst yg ditakutkannya -Berpikir, merenungkan pikiran ttt -Menulis, m’buat jurnal -Bibliotherapeutic (m’baca, m’dengar, atau melihat literatur) -Tidak melakukan apapun (break dari perilaku yg biasanya)

37 Manfaat homework: -M’jaga klien utk tetap fokus pd perilaku yg relevan diantara sesi -M’bantu klien melihat dgn jelas kemajuan yg dibuatnya -Memotivasi klien utk m’ubah perilaku -M’bantu klien m’evaluasi & memodifikasi aktifitasnya -M’buat klien lbh b’tanggungjawab utk mengendalikan dirinya -Merayakan terobosan yg dicapai dlm konseling

38 TRANSFERENCE & COUNTERTRANSFERENCE Transference Adalah proyeksi klien pd konselor ttg perasaan masa lalu & sekarang, attitudes, atau pun keinginan2 Dpt digunakan dlm 2 cara: - Utk m’bantu konselor memahami klien dgn lebih baik -Sbg cara utk memecahkan mslh klien Co. Klien yg b’prilaku seakan konselor adalah ibunya

39 Countertransference Merujuk pd konselor yg m’proyeksikan reaksi emosional/perilaku thd atau ke arah klien (Fauth & Hayes, 2006; Hansen dkk., 1994) Countertransference t’kadang menyakiti, m’ancam, menantang, & atau memerlukan coping konselor (Fauth & Hayes, 2006) Co. konselor yg b’perilaku kpd klien yg seakan klien adlh adik kandungnya; konselor yg tll m’identifikasikan dirinya dgn klien yg m’alami gangguan makan

40 Dapat merusak hubugan dalam konseling Kernberg (1975), 2 pdkt utama ttg konseptualisasi countertransference: -Pdkt klasik, dipandang scra negatif & dianggap sbg reaksi ketidaksadaran langsung ataupun tdk langsung dari konselor kpd klien -Pdkt total, coutertransference dilihat lbh positif – alat diagnostik utk memahami aspek ketidaksadaran klien Pdkt ke-3 ditambahkan oleh Blanck dan Blanck (1979), memandang countertransference diantara positive & negative

41 Manifestasi countertransference (Corey dkk., 2007): - Merasa keinginan yg konstan dlm m’bolehkan klien -Terlalu bnyk identifikasi pd mslh klien dpt m’hilangkan objektifitas -Mengembangkan perasaan romantik atau seksual pada klien -M’berikan nasihat secara kompulsif -Ingin mengembangkan hub sosial dgn klien Countertransference jg dpt menyebabkan kemajuan yg lambat dr klien, & konselor & klien dpt terluka dalam proses konseling

42 Watkins (1985), bbrp cara m’ekspresikan countertransference: overprotective, benign, penolakan, & permusuhan  2 cara pertama disebut ‘overidentification’ (konselor kehilangan kemampuan utk m’jaga jarak secara emosional dari klien)  2 cara t’akhir disebut ‘disidentification’ (konselor mjd hilang secara emosional dr klien – tdk empati, hostile, dingin, antagonis, dan jauh)

43 Mengatasinya, adakan supervisi  Bekerja dalam hub profesional dgn banyak konselor b’pengalaman (shg dpt dimonitor scr simultan & meningkatkan peayanan pd klien)  Prosedurnya antara lain: observasi interaksi konselor-klien di belakang kaca satu arah, memonitor sesi konseling lewat audiotape, & m’kritisi video sesi konselingnya  M’analisa peran konselor dalam sesi konseling adalah komponen yg utama dalam supervisi

44 Kualitas Konselor yang Efektif Intellectual competence – kemampuan utk belajar dgn baik, berpikir cepat & kreatif Energy – aktif dalam sesi & m’p’tahankannya Flexibility – kemampuan utk tahu apa yg harus dilakukan utk menemukan kebutuhan klien Support – kapasitas utk mendorong klien agar bisa m’buat keputusan Goodwill – keinginan utk bekerja dlm cara yg konstruktif & bebas Self-awareness – pengetahuan ttg diri sendiri, meliputi attitude, nilai2, & perasaan serta kemampuan utk mengetahui bgm & apa faktor yg mempengaruhinya

45 Memahami Klien Petunjuk singkat utk memahami klien scr lebih efektif (Kelly, 1995): 1.Masalah apa yg sedang dihadapi klien? 2.Bagaimana klien memandangnya? 3.Bagaimana lingkungan dengan kondisinya mempengaruhi klien? 4.Dasar & penyusunan teori apa untuk menghadapi klien? 5.Langkah apa yg akan diambil selanjutnya, juga oleh klien?

46 Social Power Konselor Menurut French dan Raven: 1.Reference power  Jika menunjukkan persetujuan ataupun penerimaan, akan sangat dihargai oleh kliennya 2. Coercive Power  Menggunakan ancaman & hukuman agar orang menuruti tuntutan otoriter  Paling tidak menimbulkan efek dalam suatu hubungan membantu

47 3. Reward Power  Banyak digunakan: reward sosial yg simbolik (empati, ramah, senyum, kontak mata, dsb yg juga mendukung referent power)  Reward materi tidak digunakan oleh konselor profesional, meskipun digunakan oleh teknik intervensi behavioral) 4. Expert & Legitimate Power  Misal: memajang ijazah2 & keanggotaan profesi agar konselor dipercaya & memang memiliki kredibilitas

48 Masalah2 yang Dihadapi Konselor Cavanagh (1982): 1.Kebosanan Yang mungkin timbul krn bosan: -Konselor mengambil jarak dari klien  klien merasa kehilangan rasa aman & diterima -Konselor t’kadang mengambil cara negatif dalam menangani kebosanan  berfantasi, mendengar dari “satu” telinga saja, atau sengaja “menyerang” klien agar seru -Kemungkinan konselor kehilangan informasi penting  kurang konsen, memikirkan masalah sendiri

49 Solusi: -Identifikasi letak masalah  dr klien or konselor -Komunikasikan dgn klien (bagian dr genuineness) -Atur waktu pertemuan saat konselor lebih bisa fokus -Beri tugas pada klien yg dapat didiskusikan saat konseling -Peka thd tanda2 kebosanan klien

50 2. Hostilitas Sumber hostilitas: -Menutupi ketakutan yg mendalam  takut dependen pada konselor, takut ditolak konselor, takut dikenalkan dgn bagian dari diri yg tidak disukai, dsb -Frustrated needs  hipersensitif – pertanyaan biasa dirasa mengancam -Simbolisasi dari konflik internal atau eksternal klien  konselor representasi dari orang yang tidak disukai klien -Adanya tekanan yg sangat intens -Konselor memang pantas mendapat hostilitas dari klien  cara konselor b’komunikasi krg m’bantu, sll melihat sisi negatif klien & mencurigai motifnya, dsb Solusi: Dihadapi, bukan dihindari  klien perlu belajar utk menyelesaikan dan menghadapi hostilitas ini dengan adekuat

51 3. Kesalahan2 Konselor -Lemah, tidak tegas  tll menuruti klien -Tidak mengakui kesalahan Konselor yg efektif akan mengakui bahwa dirinya membuat kesalahan, alasannya: a.Kejujuran b.Orang yg ada dalam hubungan konseling harus dibantu untuk memisahkan kesalahan yg mana adalah kesalahan siapa, shg orang yg melakukan kesalahan dapat mengambil tanggung jawab untuk mengoreksinya c.Sbg cara utk mengajar klien bahwa kesalahan bisa diterima & penting mengakui kesalahan itu pd orang lain d.Konselor tahu, klien mungkin tahu bahwa konselor membuat kesalahan & menunggu utk melihat apakah konselornya cukup punya rasa aman untuk mengakui kesalahan itu

52 4. Manipulasi  Bedakan manipulasi dgn manuvering!  Contoh: -Manipulasi: konselor mempengaruhi klien utk lama dalam konseling dengan alasan masih membutuhkan konseling utk pertumbuhannya (padahal hanya utk memenuhi kebutuhan konselor) -Manuvering: konselor ‘memaksa’ kliennya yg depresi utk membuat skedul aktivitas  Penting bagi konselor!! Mengetahui dalam hal apa dirinya rentan, shg bisa mengurangi potensinya utk dimanipulasi

53  Klien memanipulasi konselor, tujuannya: -Utk memenuhi kebutuhan -Untuk menetralisasi ancaman  Konselor memanipulasi klien, contohnya: -Krn bosan, konselor mengatakan bahwa kliennya sudah m’alami kemajuan dan perlu ‘istirahat’ dari konseling -Konselor memenuhi kebutuhan afeksinya dengan membangun hub dgn klien dgn alasan klien perlu belajar & m’praktekannya pd konselor -Konselor b’anggapan bhw agama b’tentangan dgn kesehatan psikologis, shg konselor m’bawa klien m’jauhi keyakinan agamanya

54 5. Penderitaan (Suffering/ Psychological Bleeding)  Konselor efektif mengenali bahwa personality growth is earned and the price may be suffering. The more a counselor expects a person to growth, the more psychological bleeding will occur (Cavanagh, 1982)  Penderitaan konselor -Adanya perasaan tidak berdaya krn hanya dapat berempati -Merasa kepedihan hati (anguish) bila kliennya m’alami perdarahan psikologis krn perbuatan orang lain -Tidak sengaja menimbulkan penderitaan melalui st tindakan atau justru krn tdk melakukan sst (iatrogenic pain) -Konselor frustrasi jika merasa sudah melakukan segalanya bagi klien, namun klien tsb menghentikan konseling sebelum waktunya & mengatakan konselor tdk bnyk membantu

55 6. Hubungan yg Membantu VS Tidak Membantu  2 tipe hubungan yg tidak membantu dalam konseling: emotionally detached (distansi emosional) dan emotionally attached (lekat emosional)  Hubungan yg membantu: emotionally involved (terlibat emosional)  Distansi emosional: Keterlibatan konselor bersifat intelektual, sbg director dan tutor, tidak dapat ‘masuk’ ke dalam diri klien, tdk dpt menyatukan dirinya dgn pikiran, perasaan, & persepsi klien utk bisa b’empati, shg sulit m’ciptakan rapport dan rasa percaya

56  Kelekatan Emosional: -Ketergantungan klien pada konselornya, atau sebaliknya -Kebutuhan dasar yg dapat terpenuhi: kebutuhan utk merasa aman, utk menerima & memberi cinta, utk dikagumi & dibutuhkan -Sikap konselor thd klien: parental (ortu yg tll melindungi), fraternal (sahabat), romantik (kekasih/pasangan) -Bila konselor tdk dapat melepaskan klien dari kelekatannya thd dirinya, lakukan terminasi!

57 -Kemungkinan perilaku konselor yg lekat emosional: o Sgt b’harap b’temu klien utk m’p’cerah hari o Orang yg signifikan dlm hidupnya dilihat memiliki bnyk kekurangan dibanding kliennya o Memperpanjang sesi o Berfantasi ttg klien diantara sesi o M’izinkan kontak antar sesi yg tdk dip’bolehkan pd klien lain o M’buat penyesuaian honor yg tdk dilakukan pd klien lain o M’anggap sesi lbh sbg rekreasi drpd kerja o Iri thd hubungan dekat klien dg orang lain & scra halus merendahkan atau tdk m’dorong hubungan tsb o M’cemaskan klien diantara sesi yg tdk dirasakan thd klien lain

58 -Hal2 yang terjadi jika konselor lekat pada klien: o Berpengaruh pada persepsi konselor thd realitas (mjd tdk tepat) o B’usaha ‘menahan’ klien utk memenuhi kebutuhan emosioalnya o Menjadi rentan & mudah dimaipulasi o Ikut dgn perubahan mood & tdk objektif o M’berikan bnyk kepuasan pd klien, shg motivasi klien utk b’hubungan dgn orang lain di luar konseling mjd sedikit o Menawarkan hub yg tidak riil pd klien (sbg ortu, sahabat, kekasih)

59 -Sikap klien yang lekat pada konselor: o Menginginkan hub khusus sbg ‘pasien favorit’ o Ingin kontak antar sesi o Membawa hadiah2 yg sifatnya personal o Tanda2 verbal & nonverbal yg merefleksikan perasaan jatuh cinta, tdk mau pergi stlh sesi b’akhir o Merasa sakit hati & ditolak jika konselor m’hadapkannya pd realitas yg tdk menyenangkan, t’utama ttg kelekatannya pd konselor o B’fantasi ttg konselor & m’buatnya mjd teman yg sll ada bagi dirinya o M’bandingkan konselor dgn orang2 signifikan dalam hidup klien & b’anggapan konselor yang superior, mis.”Seandainya anda ayah saya…”

60 -Masalah bagi klien yang lekat pada konselor: o Kurang atau hilang minat utk menjalin hubungan dgn orang lain krn konselor adalah segalanya o Tidak seluruhnya jujur krn takut m’ganggu hub yg menyenangkan tsb o Menyulitkan konselor utk menetapkan batas2 tanpa konselor merasa dirinya egois & menolak klien o Melebih2kan perhatian & pemahaman konselor & tdk mampu m’baca pesan konselor bhw koselor menginginkan kliennya mjd self-sufficient o “Menyembuhkan diri” bagi konselor, bukan utk klien, & ia akan tetap ‘sembuh’ jika konselor baik & menyenangkan dirinya o Bekerja setengah hati & m’ciptakan masalah ketika konseling akan berakhir

61  Keterlibatan Emosional -Mrp satu2nya hub yg sehat antar konselor & klien -Cukup saling mengenal utk dapat saling percaya & empati -Secara emosional dekat & hub yg dinamis -Tetap sbg 2 orang yg terpisah dgn kehidupan yg terpisah -Saling mendukung -Mrp equal partners yg masing2 punya hak, kewajiban, & kebebasan (Rogers:emphatic understanding)

62 7. Terminasi Konseling Konseling akan berakhir melalui salah satu dari 3 cara berikut: 1)Bila sasaran konseling telah tercapai 2)Klien secara prematur ingin menghentikan konseling 3)Konselor ingin menghentikan konseling walau klien ingin melanjutkannya

63 8. Burnout  Gladding (1992), burnout: becoming emotionally and/or physically drained to the point that they cannot perform functions meaningfully  Saran Gladding (1992) utk mencegah atau mengobati burnout: -Menjalin hub dgn individu2 yg sehat -Bekerja dgn rekan2 yg committed & organisasi yg pny misi -Melakukan latihan2 utk mengurangi stres, terapi pribadi -Memodifikasi stressor lingkungan -Melakukan self-assessment -Secara berkala m’kaji ulang & m’klarifikasi counseling roles, expectations, & beliefs -Menyisihkan st waktu bebas & pribadi -M’p’tahankan sikap detached concern bila bekerja dgn klien -M’p’tahankan sikap “selalu ada harapan”


Download ppt "PERILAKU KONSELOR. WAWANCARA Sesi Pertama Tujuan wawancara pertama kali:  Langkah mereduksi kecemasan klien, menahan diri dari pembicaraan yang terus-"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google