Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Oleh: Agustinus Sroyer Oleh: Agustinus Sroyer Ringkasan: DDR (Didactical Design Research) Berdasarkan: Didactical Design Research (DDR) dalam Pembelajaran.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Oleh: Agustinus Sroyer Oleh: Agustinus Sroyer Ringkasan: DDR (Didactical Design Research) Berdasarkan: Didactical Design Research (DDR) dalam Pembelajaran."— Transcript presentasi:

1 Oleh: Agustinus Sroyer Oleh: Agustinus Sroyer Ringkasan: DDR (Didactical Design Research) Berdasarkan: Didactical Design Research (DDR) dalam Pembelajaran Matematika (Makalah Semnas Semarang, 26 Oktober 2013) Penulis: Prof. Dr. Didi Suryadi, M.Ed.

2 Proses Berpikir Guru (Konteks Pembelajaran) Tahap I Sebelum Pembelajaran Tahap II Pada Saat Pembelajaran Berlangsung Tahap III Setelah Pembelajaran I. PENDAHULUAN 2

3 lanjutan: Pendahuluan Kecenderungan proses berpikir sebelum pembelajaran yang lebih berorientasi pada penjabaran tujuan berdampak pada proses penyiapan bahan ajar serta minimnya antisipasi terutama yang bersifat didaktis. Penyiapan bahan ajar pada umumnya hanya didasarkan pada model sajian yang tersedia dalam buku-buku acuan tanpa melalui proses rekontekstualisasi dan repersonalisasi. Padahal, sajian materi matematika dalam buku acuan, baik berupa uraian konsep, pembuktian, atau penyelesaian contoh masalah sebenarnya merupakan sintesis dari suatu proses panjang yang berakhir pada proses dekontekstualisasi dan depersonalisasi. 3

4 lanjutan: Pendahuluan Proses belajar matematika yang cenderung diarahkan pada berpikir imitatif, berdampak pada kurangnya antisipasi didaktif yang tercermin dalam persiapan yang dilakukan guru. Rencana pembelajaran biasanya kurang mempertimbangkan keragaman respon siswa atas situasi didaktis yang dikembangkan sehingga rangkaian situasi didaktis yang dikembangkan berikutnya kemungkinan besar tidak lagi sesuai dengan keragaman lintasan belajar (learning trajectory) masing-masing siswa. Dkl, proses belajar matematika yang idealnya dikembangkan mengarah pada proses re- dekontekstualisasi dan re- depersonalisasi belum menjadi pertimbangan utama bagi para guru di lapangan. 4

5 Kurangnya Antisipasi Didaktis proses belajar siswa kurang optimal dikarenakan Sebagian respon siswa atas situasi didaktis yang dikembangkan di luar jangkauan pemikiran guru atau tidak tereksplor sehingga kesulitan belajar yang muncul beragam tidak direspon guru secara tepat atau tidak direspon sama sekali sehingga berakibat proses belajar bisa tidak terjadi lanjutan: Pendahuluan 5

6 Upaya Guru (meningkatkan kualitas pembelajaran) refleksi tentang keterkaitan rancangan dan proses pembelajaran yang sudah dilakukan 6

7 lanjutan: Pendahuluan Sebelum Pembelajara n Pada Saat Pembelajaran Berlangsung Setelah Pembelajara n Metodologi Penelitian Desain Didaktis Analisis Metapedadidak tik DDR (Penelitian Desain Didaktis) 7

8 II. METAPEDADIDAKTIK Suryadi, 2005 Hubungan Siswa – Materi Hubungan Guru - Siswa Intervensi Tidak Langsung/Teknik Scaffolding (Tindakan Didaktis) sert a Dorongan untuk Terjadinya interaksi antar Siswa (Tindakan Pedagogis) 8

9 lanjutan: Metapedadidaktik Situasi Didaktis (Brousseau, 1997) Tindakan didaktis menciptakan situasi yang menjadi titik awal proses belajar Situasi baru yang terjadi bisa bersifat tunggal atau beragam tergantung dari milieu atau seting aktivitas belajar Situasi didaktis yang sangat kompleks menciptakan interaktivitas antar individu dalam suatu milieu/antar milieu Situasi didaktis serta interaktivitasnya memunculkan proses coding dan decoding yang bisa menyebabkan distorsi informasi 9

10 lanjutan: Metapedadidaktik Kansanen (2003): HD dan HP Suryadi:Dimodif ikasi (+ADP) karena HD dan HP tidak bisa dipandang secara parsial melainkan perlu dipahami secara utuh karena pada kenyataannya kedua hubungan tersebut dapat terjadi secara bersamaan 10

11 lanjutan: Metapedadidaktik Keterangan:  HP: Hubungan Pedagogis  HD: Hubungan Didaktis  ADP: Antisipasi Didaktis dan Pedagogis 11

12 lanjutan: Metapedadidaktik Perlun ya ADP  Guru merancang situasi didaktis, perlu memikirkan prediksi respon siswa serta antisipasinya.  Antisipasi tidak hanya menyangkut S-M tetapi juga G-S, baik individu maupun kelompok/kelas. 12

13 lanjutan: Metapedadidaktik Peran Guru Dalam Segitiga Didaktis Guru perlu menguasai materi ajar dan pengetahuan lain, dkl guru perlu memiliki kemampuan lain untuk menciptakan relasi didaktis (Didactical Relation) antara S & M sehingga tercipta suatu situasi didaktis ideal bagi siswa Menciptakan Situasi Didaktis (Didactical Situation)  terjadi proses belajar dalam diri siswa (Learning Situation) 13

14 lanjutan: Metapedadidaktik Proses Pembelajaran Guru mulai dengan konsep, menyajikan masalah kontekstual, atau permainan matematik Tercipta situasi yang menjadi sumber informasi bagi siswa sehingga terjadi proses belajar Dalam proses belajar, siswa akan menjadi sumber informasi bagi guru Situasi didaktis pada kenyataannya akan bersifat dinamis; berubah dan berkembang selama proses pembelajaran Guru merespon aksi siswa terhadap situasi didaktis siswa sebelumnya, akan menciptakan situasi didaktis baru 14

15 lanjutan: Metapedadidaktik Contoh Soal 1 “FAKTORISASI” Pertanyaan: Temukan sedikitnya tiga cara menentukan nilai total uang yang ada dalam gelas. Untuk membantu proses berpikir siswa, guru mengilustrasikan seperti gambar di samping yang cukup terstruktur sehingga situasi didaktis yang dirancang mampu mendorong proses berpikir ke arah yang diharapkan. 15

16 lanjutan: Metapedadidaktik Akan tetapi bisa saja ada jawaban lain dari siswa atau 3 x 6000 Perkiraan guru, ada tiga macam respon siswa x x ( ) atau 3 x

17 lanjutan: Metapedadidaktik  Melalui diskusi kelas, siswa mengemukakan, faktor 3 pada representasi kedua diperoleh dari banyaknya angka 1000 dan 5000 yaitu masing-masing tiga buah.  Karena masing-masing suku pada representasi kedua mengandung faktor yang sama yaitu 3, maka representasi tersebut dapat disederhanakan menjadi representasi ketiga.  Hasil ini menunjukkan siswa memahami konsep faktorisasi suku aljabar. Prediksi guru dipengaruhi materi yang diajarkan yaitu faktorisasi, sehingga dikaitkan dengan konsep faktorisasi suku aljabar. Terjadi distorsi antara hasil linguistic coding yang dilakukan guru dan decoding yang dilakukan siswa. Respon siswa terlahir, walaupun tidak terlalu relevan; tidak perlu dipandang sebagai masalah. Perlu respon guru untuk menindaklanjuti agar tercipta situasi didaktik baru. 17

18 lanjutan: Metapedadidaktik Contoh Soal 2 “FAKTORISASI” Pertanyaan: Temukan sedikitnya dua cara menentukan nilai total uang yang ada dalam gelas. Untuk membantu proses berpikir siswa, guru mengilustrasikan seperti gambar di samping. 18

19 lanjutan: Metapedadidaktik Harapan guru, muncul dua macam respon siswa 1.2 x x 5000 dan 2. 2( ) atau 2 x 6000 Respon siswa tidak hanya kedua representasi di samping tetapi masih ada sejumlah siswa yang menggunakan representasi pertama seperti pada soal sebelumnya untuk menentukan nilai total uang yang ada dalam gelas. Ini menunjukkan, situasi didaktis yang dirancang guru tidak serta merta membuat siswa belajar. 19

20 lanjutan: Metapedadidaktik Contoh Soal 3 “FAKTORISASI” Pertanyaan: Terdapat tiga buah gelas yang masing-masing berisi uang yang besarnya sama akan tetapi tidak diketahui berapa besarnya. Selain itu, terdapat tiga buah gelas lainnya yang masing-masing berisi uang yang besarnya sama akan tetapi juga tidak diketahui berapa besarnya. Jika banyaknya uang pada kelompok gelas pertama dan kedua tidak sama, berapakah nilai total uang yang ada dalam enam gelas tersebut? 20

21 lanjutan: Metapedadidaktik  Dari respon siswa, penggunaan variabel sebagaimana yang diperkirakan guru tidak langsung muncul.  Umumnya respon siswa adalah representasi model kedua tetapi tidak menggunakan variabel.  Jawaban siswa, sbb: 1)3xbanyaknya uang dalam gelas putih + 3xbanyaknya uang dalam gelas ungu. 2)3 + 3 Perkiraan guru, ada tiga macam respon siswa 1.x+x+x+y+y+y 2.3x+3y 3.3(x+y) 21

22 lanjutan: Metapedadidaktik  Setelah siswa diperkenalkan dengan konsep variabel, guru menyajikan soal keempat yaitu: “Terdapat a buah gelas yang masing-masing berisi uang sebesar x rupiah, dan terdapat a buah gelas yang masing- masing berisis uang sebesar y rupiah. Tentukan dua cara menghitung total nilai uang yang ada dalam seluruh gelas.  Walaupun ada siswa yang belum memahami, tetapi melalui interaktivitas yang diciptakan guru, pada akhirnya siswa bisa sampai pada representasi matematis yang diharapkan yaitu: (1). ax+ay dan (2). a(x+y) Walaupun respon atas soal 3 tidak sepenuhnya sesuai dengan prediksi guru, akan tetapi melalui diskusi kelas dengan cara: (1). Mengaitkan respon terakhir ini dengan cara representasi matematis yang diperoleh pada soal 1 dan 2; (2). Mempertanyakan kemungkinan penggantian kalimat panjang pada representasi pertama atau lambang gelas pada representasi kedua dengan huruf tertentu misalnya a, b, c atau x, y, z, maka pada akhirnya siswa bisa memahami bahwa solusi atas masalah yang diajukan bisa direpresentasikan sesuai dengan yang diharapkan guru 22

23 lanjutan: Metapedadidaktik Dari soal- soal di atas dan terkait situasi didaktis aspek kejelasan masalah aspek prediksi respon siswa aspek keterkaita n antar situasi didaktis aspek pengembangan intuisi matematis 23

24 lanjutan: Metapedadidaktik Catatan menarik berkenaan dengan situasi pedagogis seting kelas berbentuk U secara kelompok kepedulian guru terhadap siswa aktivitas belajar bervariasi: individual, interaksi dalam kelompok, interaksi antar kelompok, dan aktivitas kelas 24

25 lanjutan: Metapedadidaktik menciptakan situasi didaktis maupun pedagogis yang sesuai dalam menyusun RPP guru perlu memandang situasi pembelajaran secara utuh sebagai suatu objek (Brousseau, 1997) dengan demikian berbagai kemungkinan respon siswa perlu diantisipasi sedemikian rupa sehingga kenyataan proses pembelajaran dapat tercipta dinamika perubahan situasi didaktis maupun pedagogis 25

26 lanjutan: Metapedadidaktik Secara umum: METAPEDADIDA KTIK memandang komponen-konponen segitiga didaktis yang dimodifikasi yaitu ADP, HD, dan HP sebagai suatu kesatuan yang utuh mengembangk an tindakan sehingga tercipta situasi didaktis dan pedagogis yang sesuai kebutuhan siswa mengidentif ikasi serta menganalisi s respon siswa sebagai akibat tindakan didaktis maupun pedagogis yang dilakukan melakukan tindakan didaktis dan pedagogis lanjutan berdasarkan hasil analisis respon siswa menuju pencapaian target pembelajaran

27 lanjutan: Metapedadidaktik METAPEDADIDAKTIK “dapat digambarkan sebagai sebuah limas dengan titik puncaknya adalah guru yang memandang alas limas sebagai segitiga didaktis yang dimodifikasi” 27

28 lanjutan: Metapedadidaktik METAPEDADIDAKTIK “meliputi tiga komponen yang terintegrasi” Kesatua n Koheren si Fleksibilitas 28

29 lanjutan: Metapedadidaktik Dkl: METAPEDADIDAKTIK Strategi pengembangan diri menuju guru matematika profesional 29

30 III. DDR Agar situasi belajar menjadi lebih optimal, maka diperlukan upaya maksimal yang harus dilakukan sebelum pembelajaran dikenal sebagai Antisipasi Didaktik dan Pedagogis (ADP) 30

31 lanjutan: DDR Salah satu aspek yang perlu dikembangkan dalam ADP adalah “LEARNING OBSTACLE (LO)” Bersifat Epistimologis (epistimological obstacle) Pengetahuan seseorang yang hanya terbatas pada konteks terstentu. Jika orang tersebut dihadapkan pada konteks berbeda, maka pengetahuan yang dimiliki menjadi tidak bisa digunakan atau dia mengalami kesulitan untuk menggunakannya (Duroux dalam Brouseau, 1997) Sebagai contoh: belajar konsep segitiga dengan titik puncaknya selalu di atas dan alas selalu di bawah. Sehingga, concept image yang terbangun dalam pikiran siswa adalah harus seperti yang digambarkan. 31

32 lanjutan: DDR Soal di samping diberikan kepada sejumlah mahasiswa tingkat pertama. Tidak seluruhnya dapat menjawab dengan benar. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang tidak selamanya dapat diterapkan pada sembarang konteks. 32

33 lanjutan: DDR Dengan mempertimbangkan LO ini, maka dalam merancang situasi didaktis terkait konsep segitiga (termasuk luas daerahnya) maka perlu diperkenalkan beberapa model sigitiga yang bervariasi dengan maksud menghindari terjadinya LO yang mungkin muncul di kemudian hari 33

34 IV. KESIMPULAN Proses berpikir sebelum pembelajaran Fokus pada pengembangan desain didaktis yang merupakan suatu rangkaian situasi didaktis Proses berpikir pada saat pembelajaran Merupakan analisis metapedadidaktik yakni analisis terhadap rangkaian situasi didaktis yang berkembang di kelas, analisis situasi belajar sebagai respon siswa atas situasi didaktis yang dikembangkan, serta analisis interaksi yang berdampak terhadap terjadinya perubahan situasi didaktis maupun belajar Refleksi yang dilakukan setelah pembelajaran Menggambarkan pikiran guru tentang apa yang terjadi pada proses pembelajaran serta kaitannya dengan apa yang dipikirkan sebelum pembelajaran terjadi 34

35 lanjutan: Kesimpulan Proses berpikir sebelum pembelajaran Proses berpikir pada saat pembelajaran Proses berpikir setelah pembelajaran desain didaktis inovatif desain didaktis baru 35

36 lanjutan: Kesimpulan Rangkaian tahapan tersebut diformulasikan sebagai Penelitian Desain Didaktik atau Didactical Design Research (DDR) Pada dasarnya terdiri dari tiga tahapan Analisis situasi didaktis sebelum pembelajaran yang wujudnya berupa Desain Didaktik Hipotetis termasuk ADP Analisis Metapedadidak tik Analisis retrosfektif yakni analisis yang mengaitkan hasil analisis situasi didaktis hipotesis dengan hasil analisis metapedadidakt ik 36

37 God Bless Us...


Download ppt "Oleh: Agustinus Sroyer Oleh: Agustinus Sroyer Ringkasan: DDR (Didactical Design Research) Berdasarkan: Didactical Design Research (DDR) dalam Pembelajaran."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google