Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Pengantar Kesusastraan UmumPengantar Kesusastraan Umum Ni Made Savitri Paramita, S.S.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Pengantar Kesusastraan UmumPengantar Kesusastraan Umum Ni Made Savitri Paramita, S.S."— Transcript presentasi:

1 Pengantar Kesusastraan UmumPengantar Kesusastraan Umum Ni Made Savitri Paramita, S.S.

2 Unsur IntrinsikUnsur Intrinsik TTema CCerita PPlot PPenokohan PPelataran SSudut pandang GGaya bahasa

3 TEMA

4 Definisi  Makna yang dikandung oleh sebuah cerita (Stanton dan Kenny)  Gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai stuktur semantis dan yang menyangkut kesamaan- kesamaan/perbedaan (Hartoko & Rahmanto, 1986:142) Tema: dasar cerita, gagasan dasar umum sebuah karya sastra

5 Penggolongan TemaPenggolongan Tema Tema yg menunjuk pd hal yg “itu-itu” saja  telah lama dipergunakan Selalu ada kaitannya dg masalah kebenaran & kejahatan Tema Tradisional Tema yang tidak lazim, melawan arus, mengejutkan, mengesalkan Tema Non tradisional

6 Tingkatan tema menurut ShipleyTingkatan tema menurut Shipley  Tema tingkat fisik  manusia sebagai molekul  Lbh byk menyarankan dan atau ditunjukkan oleh banyaknya aktifitas fisik daripada kejiwaan  Tema tingkat organik  manusia sebagai protoplasma  Lbh byk menyangkut/mempersoalkan masalah seksualitas  Tema tingkat sosial  manusia sebagai makhluk sosial  Tentang manusia yang senantiasa “menuntut” pengakuan atas hak individunya  Tema tingkat divine  manusia sbg makhluk tingkat tinggi  Tentang hubungan manusia dengan Tuhan, religiositas, filosofis

7 Tema Utama & Tema TambahanTema Utama & Tema Tambahan Tema Minor Makna yang hanya terdapat pada bagian- bagian tertentu cerita Tema Mayor Makna pokok yg menjadi dasar/gagasan dasar umum karya

8 Penafsiran TemaPenafsiran Tema  Mempertimbangkan tiap detil yang menonjol  Tidak bersifat bertentangan dengan tiap detil cerita  Tidak mendasarkan diri pada bukti-bukti yang tidak dinyatakan baik secara langsung maupun tidak langsung dalam novel yang bersangkutan  Harus mendasarkan diri pada bukti-bukti yang secara langsung ada dan atau yang disarankan dalam cerita

9 CERITA

10 Definisi  Sebuah narasi berbagai kejadian yang sengaja disusun berdasarkan urutan waktu (Forster, 1970:35)  Sebuah urutan kegiatan yang sederhana dalam urutan waktu (Abrams, 1981:61)  Peristiwa-peristiwa yang terjadi berdasarkan urutan waktu yang disajikan dalam sebuah karya fiksi (Kenny, 1966:12) Cerita: peristiwa yang memiliki kaitan waktu yang jelas, bersebab-akibat

11 Cerita & FaktaCerita & Fakta  Cerita dapat ditulis dengan data faktual  Mimetik: karya sastra merupakan peniruan dari alam (Aristoteles)

12 PLOT

13 Definisi  Cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan sebab-akibat, peristiwa satu disebabkan peristiwa lain (Stanton, 1965:14)  Peristiwa-peristiwa cerita yang mempunyai penekanan adanya hubungan kausalitas (Foster, 1927:93) Plot: - mengandung unsur jalan cerita -- adanya hubungan kausalitas --misterius

14 Unsur penting dalam pengembangan plotUnsur penting dalam pengembangan plot  Peristiwa  Konflik  Klimaks

15 Peristiwa  Peristiwa: peralihan dari 1 keadaan ke keadaan yang lain  Aksi (action)  aktivitas yang dilakukan seseorang  Kejadian (event)  cakupan lebih luas, sesuatu yang dilakukan/dialami tokoh manusia & sesuatu yang di luar aktivitas manusia

16 Jenis peristiwaJenis peristiwa  Peristiwa fungsional  Peristiwa yg menentukan/mempengaruhi perkembangan plot (inti cerita dr cerita fiksi)  Peristiwa kaitan  Peristiwa-peristiwa yg berfungsi mengaitkan peristiwa-peristiwa penting (fungsional) dlm pengurutan penyajian cerita  Kurang mempengaruhi perkembangan plot  Peristiwa acuan  Peristiwa yg secara tidak langsung mempengaruhi/berhubungan dg plot  Berhubungan dg hal-hal lain, misal: perwatakan, suasana alam, dll

17 Tahapan Plot (Rincian Lain menurut Tasrif) 1) Tahap Situation (penyituasian) ; pelukisan dan pengenalan tokoh & latar 2) Tahap Generating Circumstances ; tahap pemunculan konflik 3) Tahap Rising Action ; Tahap peningkatan konflik 4) Tahap Klimaks 5) Tahap Denouement ; tahap penyelesaian

18 Konflik  Sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara 2 kekuatan yg seimbang dan menyiratkan aksi dan aksi balasan (Wellek & Warren, 1989:285)  Sesuatu yg bersifat tidak menyenangkan yg dialami tokoh cerita, yg tidak diinginkan terjadi oleh tokoh (Meredith & Fritzgerald, 1972:27)

19 Bentuk konflikBentuk konflik  Konflik Internal  Konflik yg terjadi di dalam diri tokoh (konflik batin)  Konflik Eksternal  Konflik fisik: perbenturan antara tokoh dengan lingkungan alam  Konflik sosial: kontak sosial antar manusia/hubungan antarmanusia

20 Klimaks Saat konflik telah mencapai tingkat intensitas tertinggi, dan saat (hal) itu merupakan sesuatu yg tidak dapat dihindari kejadiannya (Stanton, 1965:16) Klimaks: -Titik puncak konflik-konflik yg terjadi -Tidak semua konflik mencapai klimaks -Dpt menimbulkan persepsi yg berbeda pada tiap pembaca -Bisa terdapat lebih dari 1 klimaks

21 Antiklimaks  Terjadi saat konflik mulai mereda/ketegangan menurun  Masalah/konflik berangsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai menghilang

22 Kaidah PemplotanKaidah Pemplotan  Plausibilitas  Cerita dpt dipercaya pembaca  Sifat plausibel: tokoh-tokohnya dapat dibayangkan pembaca  Tidak plausibel: membingungkan pembaca  Suspense  Membuat pembaca penasaran dg kelanjutan cerita  Fore shadowing: penampilan peristiwa2 tertentu yg bersifat mendahului thd peristiwa2 yg akan dikemukakan kemudian

23  Surprise  Kejutan, sesuatu yg bersifat mengejutkan  Dikatakan memberikan kejutan jika sesuatu yg dikisahkan/kejadian2 yang ditampilkan menyimpang atau bertentangan dg harapan pembaca (Abrams, 1981:138)  Kesatupaduan  Berbagai unsur yg ditampilkan (peristiwa2 fungsional, kaitan, acuan yg mengandung konflik atau kehidupan yg ingin dikisahkan) memiliki keterkaitan satu sama lain

24 Penahapan PlotPenahapan Plot  Cerita bisa langsung dimulai dg konflik berkadar tinggi/inti permasalahan  in medias res  Dikarenakan urutan waktu penceritaan (secara linear, sujet) sengaja dimanipulasikan dengan urutan peristiwa (logika, fabel)

25 Tahapan Plot: Awal – Tengah - AkhirTahapan Plot: Awal – Tengah - Akhir awal Tahap perkenalan Garis besar seting tengah Tahap pertikaian Bagian terpenting & terpanjang akhir Tahap pelaraian Akibat dari klimaks

26 Pembedaan PlotPembedaan Plot Plot campuran Gabungan dr plot progesif & flash back Plot sorot-balik (flash back) Cerita tdk kronologis Plot lurus (progesif) Peristiwa2 dikisahkan dg kronologis

27 Plot berdasarkan kriteria jumlahPlot berdasarkan kriteria jumlah Plot Tunggal Hanya menampilkan seorang tokoh protagonis sbg hero Plot Sub-subplot Memiliki lbh dr 1 alur cerita Lbh dr 1 tokoh yg diceritakan hidupnya

28 Plot berdasarkan kriteria kepadatanPlot berdasarkan kriteria kepadatan Plot Padat Peristiwa2 fungsional terjadi susul-menyusul scr erat Plot Longgar Pergantian peristiwa fungsional lambat, hbgn antarperistiwa tdk erat

29 4) Berdasarkan Kriteria Isi Cerita ; a) Plot peruntungan ; berhubungan dengan cerita yang mengungkapkan nasib, peruntungan. Plot peruntungan dibagi menjadi ; plot gerak (action plot), Plot sedih (pathetic plot), Plot Tragis (Tragic Plot), Plot Penghukuman (punitive plot), Plot Sentimental (sentimental plot), Plot kekaguman (Admiration Plot) b) Plot Tokohan ; Pementingan tokoh, tokoh yang menjadi fokus perhatian. Plot tokohan dibedakan dalam Plot pendewasaan, Plot pembentukan, Plot Pengujian, Plot Kemunduran c) Plot Pemikiran ; Sesuatu yang jadi bahan pemikiran, obsesi, perasaan, masalah hidup & kehidupan manusia. Terbagi ke dalam plot Pendidikan (education plot), Plot Pembukaan rahasia (revelation plot), Plot Afektif (affektive Plot), Plot kekecewaan

30 TOKOH

31 Penokohan  Tokoh = pelaku cerita, penokohan = pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampikan dalam sebuah cerita  Tokoh cerita kadang disebut karakter adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan

32 Tokoh, Penokohan & Teori ResepsiTokoh, Penokohan & Teori Resepsi Seorang tokoh dan kualitas pribadinya berkaitan erat dengan penerimaan pembaca Teori Resepsi = (Teori penerimaan pembaca)

33 KewajaranKesepertikehidupan Tokoh Rekaan VS Nyata

34 Pembedaan TokohPembedaan Tokoh 1. Tokoh Utama & Tokoh Tambahan (berdasarkan tingkat pentingnya/segi peranan) 2. Tokoh Protagonis & Tokoh Antagonis (berdasarkan fungsi penampilan tokoh) 3. Tokoh Sederhana & Tokoh Bulat (Berdasarkan perwatakannya) 4. Tokoh Statis & Tokoh Berkembang (Berdasarkan perkembangan perwatakan) 5. Tokoh Tipikal & Tokoh Netral ( Berdasarkan pencerminan trhpd kehidupan nyata)

35 1. Tokoh Utama = tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Dan ia juga tokoh yang dibuat sinopsisnya. Tokoh tambahan muncul di cerita sedikit & tak dipentingkan. 2. Tokoh protagonis = tokoh yang dikagumi, pengejawantahan nilai & norma yang ideal bagi kita. Tokoh antagonis = tokoh yang menyebabkan konflik bagi tokoh protagonis. Konflik yang dialami oleh tokoh protagonis tidak selalu disebabkan oleh seseorang tapi bisa juga hal lain spt kekuatan alam, kekuasaan dsbnya. Hal ini disebut ; Kekuatan antagonis (antagonistis force)

36 3. Tokoh Sederhana = tokoh yang bersifat monoton, hanya memiliki 1 watak saja. Perwatakannya sederhana dan hanya dibuat dalam 1 kalimat. mis : ia orang yang miskin tapi jujur ia orang yang kaya tapi pelit Sebaliknya Tokoh bulat = tokoh yang kompleks, yang memiliki & diungkap berbagai sisi kepribadian dan jati dirinya. Tokoh bulat lebih menyerupa kehidupan sesungguhnya, karena memiliki berbagai kemungkinan sikap & tindakan, ia juga sering memberikan kejutan.

37 4. Tokoh Statis = tokoh yang dalam cerita tidak mengalami perubahan / perkembangan perwatakan sebagai akibat peristiwa yang terjadi. Sementara tokoh berkembang adalah tokoh yang mengalami perubahan watak sejalan dengan peristiwa dan plot yang dikisahkan. 5. Tokoh tipikal = tokoh yang bersifat mewakili. Merupakan penggambaran/pencerminan sekelompok orang/bangsa/individu. Sedangkan tokoh netral adalah tokoh yang bereksistensi untuk cerita itu sendiri.

38 Teknik Pelukisan TokohTeknik Pelukisan Tokoh Teknik uraian (telling) Teknik ekspositori Pelukisan secara langsung Teknik ragaan (showing) Teknik dramatik Pelukisan secara tak langsung

39 Teknik Ekspositori (penjelasan) / Teknik analitis/Teknik Uraian Pelukisan tokoh dengan deskripsi, uraian, atau penjelasan secara langsung.Tokoh cerita dihadirkan secara tidak berbelit-belit.  Bapaknya yang masih duduk senang di atas kursi rotan itu jadi mantri kabupaten di kantor patih Sumedang. Ia sudah lebih dari separuh baya – sudah masuk bilangan orang tua, tua umur – tetapi badannya masih muda rupanya. Bahkan hatinya pun sekali-kali belum boleh dikatakan “tua” lagi, jauh dari itu. (Katak hendak jadi lembu)

40 Teknik DramatikTeknik Dramatik Pengarang membiarkan para tokoh cerita untuk menunjukkan dirinya lewat aktivitas yang dilakukan, baik secara lisan atau tindakan. Wujud penggambaran teknik dramatik adalah ; 1. Teknik cakapan 6. Teknik reaksi tokoh lain 2. Teknik tingkah laku 7. Teknik pelukisan latar 3. Teknik pikiran & perasaan 8. Teknik Pelukisan Fisik 4. Teknik arus kesadaran ( sifat kedirian tokoh/monolog batin) 5. Teknik reaksi tokoh

41 Usaha identifikasi tokoh melalui prinsip-prinsip sbb 1. Prinsip pengulangan 2. Prinsip pengumpulan 3. Prinsip kemiripan & pertentangan

42 LATAR

43 PELATARAN (Setting)PELATARAN (Setting) Latar/setting menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa- peristiwa yang diceritakan.

44 Pembedaan LatarPembedaan Latar 1. Latar Fisik & Latar Spiritual (nilai2 yang melingkupi dan dimiliki oleh latar fisik) 2. Latar Netral & Latar Tipikal ; Latar netral tdk mendeskripsikan sifat khas yang terdapat dlm sebuah latar sementara latar tipikal memiliki & menonjolkan sifat khas latar tertentu.

45 Unsur-Unsur LatarUnsur-Unsur Latar  Latar tempat  Latar waktu  Latar sosial

46 Anakronisme Adalah ketidaksesuaian antara latar pada cerita dan keterangan aslinya. Anakronisme bisa terjadi bukan saja karena kelalaian penulis tapi juga bisa karena faktor kesengajaan oleh penulis untuk menjembatani imajinasi antara pembaca,pendengar, audience dengan cerita yang bersangkutan.

47  Latar sebagai metafor Terkadang dalam fiksi dijumpai detil-detil deskripsi latar yang tampak berfungsi sebagai suatu proyeksi / objektivikasi keadaan internal tokoh/kondisi spiritual tertentu. Misalnya latar awan kelabu, hujan menggambarkan keadaan hati seseorang  Latar sebagai atmosfer Atmosfer dalam cerita adalah udara yang dihirup pembaca sewaktu memasuki dunia fiksi. Bisa berupa deskripsi latar yang mampu menciptakan suasana tertentu, misalnya ceria, romantis, sedih, muram, maut dsbnya

48 SUDUT PANDANG

49 SUDUT PANDANG (Point of View) Merupakan cara/ pandangan yang digunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar & berbagai peristiwa yang membentuk cerita. Secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 ; a. Persona pertama,gaya “aku” b. Persona ketiga, gaya “dia”

50 Macam sudut pandangMacam sudut pandang  Sudut Pandang Persona ketiga ; “dia”. Sudut pandang “dia” terbagi menjadi 2 yakni ; 1. “Dia” maha tahu ; cerita dikisahkan dari sudut “dia”, namun pengarang dapat menceritakan apa saja yang menyangkut tokoh “dia” tersebut, Narator bersifat maha tahu segalanya 2. “Dia” terbatas/ “dia” sebagai pengamat Pengarang melukiskan apa yang dialami, dipikir, dirasakan oleh tokoh cerita tapi hanya terbatas pada satu tokoh saja

51  Sudut pandang persona pertama ; “aku” Pada gaya “aku”, si tokoh yang berkisah, mengisahkan keadaan & kesadaran dirinya. Terhadap tokoh lain, pengetahuannya terbatas hanya sebagai pengamat saja. Sudut pandang “aku” dibedakan menjadi ; 1. “aku” tokoh utama ; aku-nya menjadi fokus cerita 2. “aku” tokoh tambahan ; “aku” hadir membawakan cerita kepada pembaca tapi bukan kisah tentang dirinya

52  Sudut pandang campuran, “aku” dan “dia” Mula-mula cerita dikisahkan dari sudut pandang “aku” namun kemudian terjadi pergantian ke “dia” dan kembali lagi ke “aku”. Hal ini terjadi karena si “aku” adalah tokoh utama protagonis, dan pengarang ingin membeberkan pengalaman batinnya tapi karena jangkauannya terhadap tokoh lain terbatas padahal pembaca butuh info penting dari tokoh lain tersebut maka pengarang sengaja beralih ke sudut pandang lain

53 GAYA BAHASA

54 Bahasa Dalam SastraBahasa Dalam Sastra  Bahasa dalam sastra mengemban tugas yakni fungsi komunikatif  Struktur novel dan segala sesuatu yang dikomunikasikan senantiasa dikontrol langsung oleh bahasa pengarang  Untuk memperoleh efektivitas pengungkapan, bahasa dalam sastra disiasati, dimanipulasi, dan didayagunakan secermat mungkin sehingga tampil beda dgn bahasa non-sastra

55  Ciri bahasa dalam sastra ; mengandung unsur emotif dan konotatif.  Deotomatisasi ; istilah kaum formalis Rusia untuk menyebut bahwa bahasa sastra butuh penyimpangan dari cara yang bersifat otomatis. Penyimpangan tersebut bisa berupa kiasan, penyimpangan dari bahasa sehari-hari dsbnya.

56 Stile & StilistikaStile & Stilistika  Stile atau style adalah cara pengungkapan bahasa/gaya bahasa dalam prosa, atau bagaimana pengarang mengungkapkan sesuatu yang akan dikemukakan.  Stile ditandai oleh pilihan kata, struktur kalimat, bentuk- bentuk bahasa figuratif, penggunaan kohesi dll  Stilistika (hakikat stile) adalah studi tentang stile  Analisis stilistika biasanya untuk menerangkan hubungan antara bahasa dengan fungsi artistik dan maknanya

57 Cara Analisis StilistikaCara Analisis Stilistika Membuat pertanyaan-pertanyaan sbb;  Mengapa pengarang dalam mengekspresikan dirinya menggunakan cara-cara khususnya  Bagaimanakah efek estetis demikian dapat dicapai lewat bahasa  Atau pemilihan bentuk-bentuk bahasa tertentu dapat menimbulkan efek estetis  Apakah fungsi penggunaan bentuk-bentuk itu untuk mendukung tujuan estetis

58 Stile dan nada (tone)Stile dan nada (tone)  Membaca sebuah novel biasanya kita merasakan adanya nuansa atau suasana atau yang kerap disebut nada  Nada sendiri berarti ekspresi sikap,sikap pengarang terhadap masalah yang dikemukakan terhadap pembaca.  Nada dalam prosa bisa berupa nada intim, santai, romantis, mengharukan, sinis, kasar dll  Dalam bahasa lisan nada dikenali dengan intonasi, dalam tulisan nada ditentukan oleh kualitas stile

59 Unsur stileUnsur stile 1. Unsur Leksikal 2. Unsur Gramatikal 3. Retorika 4. Kohesi

60 Leksikal Mengacu pada diksi yakni penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang Pertimbangan-pertimbangan dalam memilih diksi; 1) Pertimbangan Fonologis ; mis untuk kepentingan alitrasi, efek bunyi tertentu terutama dalam puisi 2) Pertimbangan segi mode, bentuk dan makna yang dipergunakan sebagai sarana mengkonsentrasikan gagasan

61 Untuk menganalisis secara leksikal, perlu membuat pertanyaan-pertanyaan sbb; Tinjauan Umum  Kata yang digunakan sederhana atau kompleks?  Kata-kata baku atau informal, termasuk dialek?  Apa menggunakan ungkapan dari bahasa daerah atau bahasa asing  Bagaimana arah kata tsb, denotasi atau konotasi

62 Tinjauan Khusus  Apa jenis kata yang digunakan  Kata benda, sederhana atau kompleks, abstrak atau konkret, jika abstrak menyaran pada makna apa, kejadian, persepsi, proses, kualitas moral & sosial  Kata kerja jenis apa, intransitif atau transitif, makna menyaran ke tindakan, pernyataan, atau peristiwa  Kata sifat, untuk menjelaskan apa, sesuatu yang bersifat fisik, psikis, visual, auditif, referensial, emotif  Kata bilangan, tentu atau tak tentu, dan untuk menjelaskan apa

63 Unsur GramatikalUnsur Gramatikal Menyaran pada pengertian struktur kalimat. Bagaimana hubungan antar kata-kata dalam suatu kalimat sesuai dengan kaidah yang berlaku. Analisis Gramatikal dilakukan dengan cara melihat penyimpangan struktur kalimat seperti penghilangan unsur tertentu.

64 Cara lain yang digunakan untuk analisis gramatikal 1. Kompleksitas Kalimat ; kalimat kompleks atau sederhana 2. Jenis Kalimat ; jenis kalimat apa saja yang muncul, kalimat pernyataan, perintah,pertanyaan..kalimat mana yang menonjol 3. Jenis klausa dan frase

65 Retorika Penggunaan bahasa untuk memperoleh estetis yang dapat diperoleh melalui kreativitas pengungkapan bahasa Bentuk-bentuk retorika ; 1. Majas 2. Penyiasatan struktur 3. Pencitraan

66 Pemajasan Merupakan teknik pengungkapan bahasa, gaya bahasa yang maknanya tak menunjuk pada makna harfiah atau berupa makna kiasan. Bentuk-bentuk pemajasan yang banyak digunakan pengarang adalah bentuk perbandingan atau persamaan yaitu membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain melalui ciri fisik, sikap, sifat, keadaan, suasana dll. Bentuk perbandingan dilihat dari kelangsungan pembandingan persamaannya dibedakan jadi simile, metafora dan personifikasi

67 Simile menyaran pada perbandingan yang langsung dan eksplisit, biasanya memakai kata-kata seperti, bagai, bagaikan, sebagai, laksana, mirip. Cth ; Dihadapan mereka Dukuh Paruk kelihatan remang seperti seekor kerbau besar sedang lelap Metafora merupakan gaya perbandingan yang bersifat tak langsung dan implisit, tak ada kata-kata yang menunjuk perbandingan tsb Cth ; Dihadapan mereka, Dukuh Paruk yang remang adalah seekor kerbau besar sedang lelap Personifikasi gaya bahasa yang memberi sifat benda mati dengan sifat- sifat yang dimiliki manusia sehingga dapat bersikap dan bertingkah laku sebagaimana halnya manusia.

68 Gaya Bahasa LainGaya Bahasa Lain  Metonimi ; Menunjukkan adanya pertalian yang dekat. Mis; seseorang yang suka membaca karya- karya Natsume Soseki akan dikatakan “Ia suka membaca Soseki”  Sinekdoke ; berasal dari bahasa Yunani, synekdechsthai artinya menerima bersama-sama, yaitu menggunakan sebagian untuk menyatakan keseluruhan( pars pro toto) atau sebaliknya, menggunakan keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totum pro parte).

69 Gaya Bahasa LainGaya Bahasa Lain  Hiperbola ; cara penuturan yang bersifat melebih-lebihkan  Paradoks ; Cara penuturan yang sengaja menampilkan unsur pertentangan di dalamnya.  Contoh ?

70 Penyiasatan StrukturPenyiasatan Struktur Untuk mencapai tujuan retorika, peranan penyiasatan struktur cukup menonjol. Penyiasatan struktur adalah bagaimana mengakali struktur kalimat baik struktur makna dan struktur kalimat agar kalimat /wacana untuk mencapai tujuan retorika, seperti menggabungkan antara majas dan stile. Ada beberapa gaya bahasa yang lahir dari penyiasatan struktur ini seperti pengulangan (yang paling banyak dipakai) yaitu gaya repetisi, paralelisme, anafora, polisindenton dan asidenton. Bentuk lainnya adalah antitesis, alitrasi, klimaks, antiklimaks dan pertanyaan retoris.

71  Repetisi ; bentuk gaya pengulangan dengan menampilkan pengulangan kata atau kelompok kata yang sama. Posisi pengulangan bisa dalam 1 kalimat atau lebih, posisinya bebas.  Anafora ; Pengulangan kata pada awal beberapa kalimat yang berurutan. Kucari kau karena cemas karena sayang.Kucari kau karena sayang karena bimbang  Paralelisme ; Pengulangan struktur kalimat spt kata, frase, kalimat atau alinea. (cth pengulangan awalan di, hak perempuan dibatasi, kebebasannya dikekang dan ditindas dalam rumah tangga)  Antitesis ; Pengulangan spt paralelisme tapi untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang bertentangan. (kita sudah kehilangan banyak kesempatan, harga diri & airmata, namun dari situ pula kita akan memperoleh pelajaran berharga)

72  Asidenton ; gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau suatu konstruksi yang mengandung kata-kata yang sejajar, tetapi tidak dihubungkan dengan kata-kata penghubung. Ayah, ibu, anak merupakan inti dari sebuah keluarga.  Polisidenton ; gaya bahasa yang berupa sebuah kalimat atau sebuah konstruksi yang mengandung kata-kata yang sejajar dan dihubungkan dengan kata-kata penghubung. Pembangunan memerlukan sarana dan prasarana juga dana serta kemampuan pelaksana.  Alitrasi ; Penggunaan kata-kata yang sengaja dipilih karena memiliki kesamaan fonem & konsonan, baik di awal atau di tengah kata (umumnya di puisi). Kau Keraskan Kalbunya Bagai Batu Membesi Benar

73  Klimaks ; Penekanan gagasan dengan cara menampilkan secara berurutan, urutan penyampaian tsb menunjukkan semakin meningkatnya kadar pentingnya gagasan. Hidup kita diharapkan berguna bagi saudara, orang tua, nusa bangsa dan negara.  Sebaliknya anti-klimaks ; menyatakan kemunduran. Bahasa Indonesia diajarkan kepada mahasiswa, siswa SLTA, SLTP, dan SD.  Gaya pertanyaan retorik ; Pertanyaan yang sebenarnya tak menghendaki jawaban

74 Pencitraan Adalah adalah kumpulan citra, image, yang digunakan dalam karya sastra, baik dengan deksripsi secara harfiah maupun secara kias. Dalam sastra, pencitraan adalah gaya penuturan yang mengkonkretkan pengungkapan gagasan yang sebenarnya abstrak melalui kata-kata dan ungkapan yang membangkitkan imajinasi. Macam pencitraan itu meliputi indra manusia ; citraan penglihatan (visual), pendengaran (auditoris), gerakan (kinestetik), rabaan (taktil termal) dan penciuman (olfaktori)

75  Langit, kemudi, dan layar, itulah samar ingatku tentang Weh. Tapi di sekolah lama Molten Bass Technisce School di Tanjong Pandan, aku pernah melihat fotonya. Tak bohong orang bilang bahwa dia bukan sembarang, karena Belanda hanya menerima pribumi yang paling cerdas di sekolah calon petinggi teknik kapal keruk timah itu. Foto kuno itu sudah buram. Weh seorang pemuda yang gagah. la bergaya, berdiri condong menumpukan tubuh kekarnya di atas pemukul kasti. Namun, sesuatu yang menyayat tersembunyi dalam matanya. Seringainya hambar, jauh, dan kesakitan. Weh mengawasi lekat siapa pun yang mendekati fotonya. Aku menatapnya, lama, lalu bisikan garau mendesis dari foto itu, "Engkau, laki-laki zenit dan nadir...." Bulu tengkukku meruap, seseorang seakan berdiri di belakangku, aku berbalik, sepi

76 Kohesi Antara bagian kalimat satu dan lainnya terdapat hubungan yang bersifat mengaitkan antarbagian kalimat atau antar kalimat. Hubungan tersebut disusun dengan unsur makna yang dikuatkan dengan kata penghubung atau kata-kata yang bersifat menghubungkan. Hal inilah yang disebut kohesi. Kohesi terbagi menjadi dua yakni kohesi sambungan (linkage) dan rujuk-silang (cross-reference)

77 Kohesi sambungan berupa kata tugas seperti: dan, kemudian, akan tetapi, di samping itu dsbnya. Contohnya : Mereka saling mencintai satu sama lain akan tetapi mereka tidak bisa melangkah ke jenjang pelaminan karena pertentangan dari pihak keluarga. Kohesi rujuk silang adahah hubungan antar kalimat dengan menggunakan teknik pengulangan, namun kadang juga melalui reduksi yakni penyingkatan apa yang akan disebut kembali.

78 BLOG 


Download ppt "Pengantar Kesusastraan UmumPengantar Kesusastraan Umum Ni Made Savitri Paramita, S.S."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google