Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Rekayasa Perangkat Lunak Pengkodean dan Pengujian Unit.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Rekayasa Perangkat Lunak Pengkodean dan Pengujian Unit."— Transcript presentasi:

1 Rekayasa Perangkat Lunak Pengkodean dan Pengujian Unit

2 Tugas Tentukan Nilai wati jika tugas 80, quiz 65, uts 75, dan uas 70 Nilai = aturan penilaian di MDP. Nilai huruf – Misal 80 nilai huruf A dst Keterangan – A Sangat Memuaskan dst

3 Tugas cGaji -NIK String -Nama String -Jns_klm String -Gapok int -Tunjangan int -Potongan int -Total int +getNIK() String +getNama() String +Getkelamin() String +total() int Total = (gapok + tunjangan) - potongan

4 Pendahuluan Konstruction merupakan gabungan penulisan kode pemograman dan pengujian untuk menemukan dan memperbaiki error yang yang ada dengan baik. Construction yang baik harus mengacu kepada design. Pembangunan perangkat lunak dilakukan melalui proses coding, verifikasi, pengujian unit, integrasi dan debugging. Pada dasarnya, pengkodean adalah menyalin alur data dan alur system kedalam bahasa pemrograman yang kita inginkan.

5 Pendahuluan Pada pengkodean dilakukan 2 tahap yaitu pengkodean alur system dan data dan pengkodean tampilan. Adapun metode pengerjaannya biasa mendahulukan pengkodean system kemudian pengkodean tampilan atau sebaliknya atau keduanya dilakukan bersamaan tergantung perangkat lunak kita apakah berorientasi objek (object oriented programming) atau berorientasi pada system (system oriented programming)

6 Rekayasa Perangkat Lunak Pengkodean Perangkat lunak

7 Aktivitas Implementasi Merupakan sekumpulan aktivitas di mana rancangan perangkat lunak yang telah dibuat pada tahap perancangan kemudian dikodekan ke dalam bentuk kode program dengan menggunakan bahasa pemrograman tertentu agar dapat dijalankan pada komputer. Fondasi dari aktivitas ini adalah pemrograman. Tools untuk membuat program disebut bahasa pemrograman. Programmer membuat program dengan panduan dokumentasi rancangan perangkat lunak, namun pada umumnya programmer juga memeriksa semua dokumen dari tahapan-tahapan sebelumnya (semisal SKPL) untuk memeriksa konsistensi dari dokumentasi-dokumentasi yang ada.

8 Aktivitas Pemrograman Program adalah serangkaian ekspresi yang disusun menjadi kesatuan prosedur berupa urutan langkah untuk menyelesaikan suatu permasalahan dan diimplementasikan dalam bentuk bahasa pemrograman sehingga dapat dijalankan pada komputer. Adapun bahasa pemrograman merupakan tata cara penulisan program. Pada bahasa pemrograman terdapat dua faktor penting, yakni: – Sintaks, yaitu aturan-aturan gramatikal yang mengatur tatacara penulisan ekspresi/statemen – Semantik, yaitu aturan-aturan untuk menyatakan suatu arti

9 Problem Biaya proyek perangkat lunak meningkat Waktu pengembangan PL semakin lama Biaya pemeliharaan PL semakin tinggi Error PL semakin sering dibanding error perangkat keras Perkembangan teknologi perangkat keras yang pesat mendukung pengembangan PL yang besar dan kompleks

10 Biaya proyek PL Fasa% Analisis Kebutuhan Perancangan Implementasi Pengujian Pemeliharaan

11 Error PL Fasa% Analisis Kebutuhan Perancangan Pengkodean dan Pengujian Unit Integrasi Validasi dan Dokumentasi Pemeliharaan operasional

12 Dasar Konstruksi Perangkat Lunak Meminimalkan Kompleksitas Pengurangan kompleksitas dilakukan dengan menggunakan pembuatan kode yangmudah dibaca dengan menggunakan teknik tertentu (pseudocode,flowchart). Mengantisipasi Perubahan Perubahan lingkungan eksternal dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam pembangunan perangkat lunak sehingga dibutuhkan standar untuk mengantisipasi perubahan tersebut. – Metode Komunikasi : Standar dokumen, contoh: dokumen RUP yang berupa SRS dan SAD. – Bahasa Pemrograman : VB.NET, Java,PHP – Platform : Standar interface programmer untuk operating system call. – Tool (Alat) : UML, DFD Verifikasi Konstruksi Tahap ini digunakan dalam melacak kesalahan dalam membangun perangkat lunak yang dapat dilakukan dengan unit testing dan pemberian standart coding untuk mendukung review code. Standar Dalam Konstruksi Standar dalam konstruksi yang digunakan berupa alat dan bahasa yang dapatmenghubungkan antara konstruksi perangkat lunak dengan area pengetahuan lainnya

13 Mengelola Konstruksi Model Konstruksi merupakan pemodelan untuk menyusun suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau memperbaiki system telah ada. Contoh: Model Waterfall, Extreme Programming, Scrum Perencanaan Konstruksi Perencanaan metode konstruksi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar konstruksi perangkat lunak melalaui urutan pengerjaan konstruksi. Pengukuran Konstruksi Pengukuran konstruksi digunakan untuk memastikan kualitas selama konstruksi sertameningkatkan proses konstruksi dengan mengukur code yang dapat dikembangkan,digunakan kembali, dihancurkan, rate penemuan dan pembenaran kesalahan, dan lainsebagainya.

14 Pertimbangan Praktis Rancangan Konstruksi Perancangan yang dibangun dilakukan berdasarkan keadaan dunia nyata yang dapat dengan menghadirkan perangkat lunak. Bahasa Konstruksi Bahasa konstruksi meliputi semua bahasa dimana manusia dapat menemukan solusi yangdapat dilakukan oleh komputer. – Bahasa Konfigurasi, digunakan untuk menciptakan perangkat lunak baru. – Bahasa Toolkit, digunakan untuk membangun aplikasi diluar toolkit. – BahasaPemrograman, digunakan untuk membangun aplikasi. Coding – Penanganan Struktur Kontrol – Penanganan Kondisi Error – Pencegahan Pelanggaran Keamanan – Organisasi Source Code

15 Pertimbangan Praktis Pengujian Konstruksi Pengujian konstruksi dilakukan untuk mengurangi jarak waktu penyisipan kesalahandalam kode dan waktu kesalahan terdeteksi. Reuse Coding harus dapat digunakan kembali dengan menggunakan metode-metode tertentusehingga dibutuhkan prosedur pengujian untuk menguji reusability. Kualitas KonstruksiUntuk menjamin kualitas kode yang akan dibangun dibutuhkan teknik meliputi pengujianunit dan pengujian integrasi, penggunaan pernyataan, debugging, dan lain sebagainya. Integrasi Tahapan untuk menggabungkan keseluruhan hasil konstruksi untuk mengetahui tingkatpengujian dan kualitas kerja sesudah dan sebelum diintegrasikan.

16 Standar Program yang Baik Standar pemrograman dibutuhkan untuk menciptakan suatu program dengan portabilitas yang tinggi sehingga memudahkan dalam merancang dan merawat program serta meningkatkan efektivitas penggunaan peralatan komputer. Beberapa standar dasar penilaian untuk sebuah program dikatakan baik antara lain: – Teknik pemecahan masalah – Penyusunan program – Perawatan program – Standar prosedur

17 Standar Teknik Pemecahan Masalah Setelah masalah dipahami dengan baik, seorang pemrograman membutuhkan suatu teknik untuk memecahkan masalah tersebut. Ada dua pendekatan yang umum digunakan, yakni: – Teknik Top-Down merupakan teknik pemecahan masalah di mana suatu masalah yang kompleks dibagi-bagi menjadi beberapa struktur hingga unit yang paling kecil, setelah itu kemudian disusun langkah-langkah untuk menyelesaikan masalah secara rinci. Teknik semacam ini digunakan pada metode pemrograman terstruktur – Teknik Bottom-Up merupakan teknik pemecahan masalah yang berkebalikan dengan teknik Top-Down di mana penyelesaian masalah dimulai dari hal-hal yang bersifat khusus, kemudian naik ke bagian yang bersifat umum. Teknik semacam ini digunakan pada metode pemrograman berorientasi objek

18 Standar Teknik Pemecahan Masalah Setelah memilih teknik pemecahan masalah, pemrogram mulai menyusun langkah-langkah untuk memecahkan masalah, yang disebut dengan algoritma. Algoritma yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut: – Tepat, benar, sederhana, standar, dan efektif – Logis, terstruktur, dan sistematis – Semua operasi terdefinisi – Semua proses harus berakhir setelah sejumlah langkah dilakukan – Menggunakan bahasa standar sehingga tidak ambigu

19 Standar Penyusunan Program Beberapa faktor yang menjadi standar dalam penyusunan program antara lain: – Kebenaran logika dan penulisan – Program yang disusun harus memiliki kebenaran logika dalam pemecahan masalah maupun penulisan kode program. Program harus tepat dan teliti dalam perhitungan sehingga hasilnya dapat dipercaya – Waktu minimum untuk penulisan program – Penulisan program harus memiliki waktu minimum, artinya waktu minimal yang harus tersedia untuk menuliskan kode program dari awal hingga siap untuk dieksekusi – Kecepatan maksimum eksekusi program – Agar program memiliki kecepatan eksekusi maksimum, perlu diperhatikan beberapa hal antara lain bahasa pemrograman yang digunakan, algoritma yang disusun, teknik pemrograman yang dipakai, dan perangkat keras yang digunakan. Kecepatan maksimum juga dapat ditingkatkan dengan memperbaiki struktur program misalkan: Menghindari proses pengujian yang berulang-ulang secara percuma Meletakkan syarat pengujian yang akan menolak data dengan jumlah terbanyak sebagai syarat pengujian pertama, syarat pengujian dengan jumlah terbanyak kedua sebagai syarat pengujian kedua, dan seterusnya Memperbaiki susunan baris program guna meningkatkan kecepatan eksekusi

20 Standar Penyusunan Program Ekspresi penggunaan memori Semakin sedikit penggunaan memori, semakin cepat program dieksekusi. Untuk meminimumkan penggunaan memori, maka perlu diperhatikan: – Menggunakan tipe data yang cocok untuk kebutuhan pemrograman – Menghindari penggunaan variabel berindeks secara berulang kali Kemudahan merawat dan mengembangkan program Program yang memiliki struktur yang baik, struktur data jelas, dan dokumentasi yang lengkap dan mudah dipahami, akan mudah untuk dirawat dan dikembangkan User friendly Program yang baik harus memiliki layanan untuk mempermudah pemakai untuk menggunakannya, misalkan layanan online help Portabilitas Program yang baik harus dapat dijalankan pada kondisi platform yang berbeda-beda, baik itu sistem operasi maupun perangkat keras Modular Pada pendekatan pemrograman, masalah dibagi-bagi menjadi unit terkecil, yang disebut modul untuk menyederhanakan pengimplementasian langkah-langkah pemecahan masalah dalam bentuk program

21 Standar Perawatan Program Beberapa standar yang harus dipenuhi agar memudahkan pemrogram dalam merawat dan mengembangkan program antara lain: – Dokumentasi Dokumentasi merupakan catatan dari setiap langkah pekerjaan membuat program dari awal hingga akhir. Dokumentasi ini penting untuk memudahkan menelusuri adanya kesalahan maupun untuk pengembangannya. Dokumentasi yang baik akan memberikan informasi yang memadai sehingga orang lain dapat mengerti dan memahami alur logika program – Penulisan Instruksi Untuk memudahkan perawatan program, sebaiknya penulisan program dilakukan sebagai berikut: Menuliskan satu instruksi pada satu baris program Memisahkan modul-modul dengan memberikan spasi beberapa baris untuk mempermudah pembacaan Membedakan bentuk huruf dalam penulisan program Memberikan tabulasi yang berbeda untuk penulisan instruksi-instruksi yang berada pada loop atau struktur kondisional Menghindari penggunaan konstanta dalam penulisan rumus, jika konstanta tersebut mungkin berubah Melakukan pembatasan jumlah baris instruksi per modul

22 Modularitas Modularitas merupakan sebuah konsep untuk memecah program menjadi modul-modul kecil di mana masing-masing modul berinteraksi melalui antarmuka modul. Dengan adanya modularitas, kesalahan di satu bagian program dapat dikoreksi tanpa perlu mempertimbangkan bagian-bagian lainnya, program menjadi lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami.

23 Kriteria Modularitas Terdapat lima kriteria modularitas, yakni: – Decomposibility Kemampuan untuk mendekomposisi masalah menjadi submasalah yang lebih sederhana dan dihubungkan dengan struktur yang sederhana – Composability Kemampuan membangun modul-modul program yang kemudian dapat diintegrasikan menjadi program pada lingkungan yang mungkin berbeda dengan saat modul tersebut dibangun – Understandability Kemampuan menghasilkan program di mana programmer dapat memahami masing-masing modul tanpa perlu mengetahui detailnya – Continuity Kemampuan meredam propagasi perubahan, yaitu suatu kondisi di mana perubahan kecil pada satu modul memicu perubahan hanya pada satu modul atau sedikit modul yang terkait – Protection Kemampuan meredam kondisi abnormal hanya pada satu modul

24 Aturan Modularitas Terdapat pula lima aturan modularitas, antara lain: – Direct mapping Struktur model yang ada pada masing-masing tahap pengembangan perangkat lunak semestinya kontinyu, dalam artian modul yang terdapat pada analisis masih merupakan modul pada tahap perancangan dan tetap menjadi modul pada saat pemrograman – Few interfaces Setiap modul seharusnya berinteraksi dengan sesedikit mungkin dengan modul lain sebab jika terjadi banyak interaksi antar modul akan meningkatkan propagasi perubahan – Small interfaces (weak coupling) Untuk modul-modul yang berkomunikasi, diusahakan informasi yang dipertukarkan pada saat komunikasi adalah sesedikit mungkin sehingga mengurangi ketergantungan antar modul – Explicit interface Kapan saja modul X dan Y berkomunikasi maka komunikasi ini harus dari teks X atau Y atau keduanya – Information hiding Pemrogram harus merancang modul dengan sekelompok fitur pada suatu modul tampak pada modul lain, sedangkan fitur lainnya diusahakan tersembunyi dari modul lain. Modul lain hanya berhubungan dengan modul lewat deskripsi pada fitur yang terlihat tersebut

25 Prinsip Modularitas Terdapat juga lima prinsip modularitas, yakni: – The Linguistic Modular Units principle Modul harus merupakan unit sintaks pada bahasa pemrograman yang digunakan. Prinsip ini umumnya dilanggar karena itu pengembang terpaksa harus melakukan translasi atau restrukturisasi terhadap model rancangan yang diperolehnya – The Self-Documentation Principle Perancang modul harus membuat semua informasi mengenai modul yang berkaitan terdapat pada modul tersebut. Dokumentasi internal ini sangat penting untuk proses pengembangan dan pemeliharaan perangkat lunak – The Uniform Access Principle Semua layanan modul seharusnya tersedia melalui notasi yang seragam tanpa memperhatikan pengimplementasian layanan tersebut apakah untuk keperluan penyimpanan atau komputasi – The Open-Closed Principle Modul harus bersifat terbuka dalam artian terbuka untuk dikembangkan serta bersifat tertutup dalam artian komunikasi antar modul hanya melalui antarmuka yang telah ditetapkan mekanismenya – The Single Choice Principle Kapan saja program harus mendukung beberapa alternatif, satu dan hanya satu modul pada program yang mengetahui daftar lengkap dari yang dimilikinya

26 Kriteria Modul yang Baik Beberapa kriteria dari modul yang baik antara lain: – Kohesif Modul dikatakan kohesif jika fungsionalitasnya terdefinisi dan terfokus dengan baik. Kohesi mengacu pada derajat elemen-elemen modul yang saling berhubungan. Modul kohesif melakukan satu tugas tunggal pada suatu prosedur program yang memerlukan sedikit interaksi dengan prosedur yang sedang dilakukan pada bagian lain program. Modul yang melakukan serangkaian tugas yang saling berhubungan secara lepas disebut sebagai kohesif koinsidental. Modul yang melakukan tugas yang berhubungan secara logis disebut kohesif secara logis. Bila modul berisi tugas-tugas yang dieksekusi dalam jangka waktu sama, maka modul-modul tersebut disebut kohesif temporal. Bila elemen pemrosesan dari suatu modul dihubungkan dan dieksekusi dalam suatu urutan yang spesifik, maka akan muncul kohesi prosedural. Dan bila semua elemen pemrosesan berkonsentrasi pada satu area pada suatu struktur data, maka terjadi kohesi komunikasional

27 Kriteria Modul yang Baik Loosely coupled Coupling mengacu kepada derajat modul-modul saling berkomunikasi. Modul-modul harus seminimal mungkin berkomunikasi dengan modul- modul lain. Maka dari itu nilai derajat coupling harus sekecil mungkin Enkapsulasi Modul harus memenuhi persyaratan information hiding. Atribut dari modul seharusnya tidak secara langsung tersedia untuk modul-modul lain. Atribut-atribut modul hanya tersedia ke modul-modul lain melalui antarmuka yang telah ditetapkan. Enkapsulasi mengimplikasikan pemahaman implementasi modul tertentu tidak dibutuhkan bagi pemakai modul sehingga tidak perlu mengetahui detail dan keseluruhan isi modul Reuseability Merupakan sasaran strategis rekayasa perangkat lunak dan dapat meningkatkan produktivitas pengembangan perangkat lunak. Implikasi dari reuseability adalah fungsionalitas modul harus segeneral dan seluas mungkin sehingga dapat digunakan oleh modul lain dan dapat mengurangi waktu dan biaya yang dikeluarkan

28 Rekayasa Perangkat Lunak Pengujian Unit

29 Latar Belakang Pengujian P/L adalah elemen kritis dari jaminan kualitas P/L dan merupakan review puncak terhadap spesifikasi, desain dan pembuatan program. Pengujian P/L menghabiskan upaya 30-40% dari total pekerjaan proyek. Untuk proyek yang membahayakan nyawa manusia, biaya pengujian bisa 3-5 X proyek biasa.

30 KENAPA HARUS DIUJI ? Kita bukan seorang programmer yg cukup baik Kita mungkin tidak dapat cukup berkonsentrasi untuk menghindari kesalahan Kita kadang2 lupa menggunakan pemrograman terstruktur secara penuh, perancangan atas-bawah utk mendapatkan solusi Kita kadang buruk dalam mengerjakan sesuatu Kita seharusnya dapat membedakan apa yg dikatakan programmer lain atau pelanggan dan apa yg sebenarnya mereka pikirkan Kita seharusnya merasa bersalah apabila seseorang harus menguji koding kita Pengujian merupakan suatu perizinan terhadap kesalahan

31 Tujuan Pengujian 1.Menjalankan program untuk menemukan error. 2.Test case yang bagus adalah yang memiliki kemungkinan terbesar untuk menemukan error yang tersembunyi. 3.Pengujian yang sukses adalah yang berhasil menemukan error yang tersembunyi.

32 Prinsip Pengujian Harus bisa dilacak hingga sampai ke kebutuhan customer. Harus direncanakan sejak model dibuat. Prinsip Pareto: 80% error uncovered. Dari lingkup kecil menuju yang besar. Tidak bisa semua kemungkinan diuji. Dilakukan oleh pihak ketiga yang independen.

33 Testablility Kemudahan untuk diuji. Karakteristiknya: – Operability: mudah digunakan. – Observability: mudah diamati. – Controlability: mudah dikendalikan. – Decomposability: mudah diuraikan. – Simplicity: lingkup kecil, semakin mudah diuji. – Stability: jarang berubah. – Understandability: mudah dipahami.

34 Desain Kasus Pengujian Black box testing – Memastikan fungsional P/L berjalan. – Kesesuaian input dengan output. – Tidak memperhatikan proses logic internal. White box testing – Pengamatan detail prosedur. – Mengamati sampai level percabangan kondisi dan perulangan.

35 White Box Testing Metode: basis path testing. Memakai notasi flow graph.

36 Kompleksitas Cyclomatic Menunjukkan jumlah skenario pengujian yang harus dilakukan untuk menjamin cakupan seluruh program.

37 Contoh White Box Testing Lihat buku halaman 449 – 452.

38 Black Box Testing – Graph Based

39 Black Box Testing – Equivalence Partitioning Contoh: Input NPM dalam SIAMIK – Jika dikosongi? – Jika diisi dengan format yang salah? – Jika diisi dengan NPM yang benar?

40 Black Box Testing – Analisa Nilai Batas 1.Menguji untuk input di sekitar batas atas maupun bawah sebuah range nilai yang valid. 2.Menguji nilai maksimal dan minimal. 3.Menerapkan (1 & 2) untuk output. 4.Menguji batas struktur data yang dipakai. Misal ukuran array.

41 Black Box Testing – Perbandingan Spesifikasi kebutuhan yang sama dimungkinkan menghasilkan aplikasi/ perangkat lunak yang berbeda. Skenario pengujian pada aplikasi yang demikian bisa digunakan untuk skenario pengujian aplikasi serupa yang lain.

42 Skenario Pengujian Khusus Pengujian GUI. Pengujian arsitektur client/ server. Pengujian dokumentasi dan fasilitas bantuan. Pengujian sistem waktu nyata.

43 CHAPTER 18 STRATEGI PENGUJIAN P/L

44 STRATEGI PENGUJIAN P/L Membahas langkah-langkah yang harus dikerjakan sebagai bagian dari pengujian. Kapan dilaksanakan? Berapa usaha, waktu dan sumber daya yang digunakan? Meliputi: perencanaan, desain test case, pelaksanaan, koleksi data dan evaluasi.

45 Kaidah Umum Pengujian Dimulai dari pengujian tingkat komponen menuju integrasi. Titik yang berbeda dimungkinkan memakai teknik pengujian yang berbeda. Pengujian dilakukan oleh developer dan (untuk proyek yang besar) tim independen. Testing dan debugging adalah berbeda. Namun debugging pasti berkaitan dengan strategi testing apapun.

46 Strategi Pengujian Dimulai dari unit testing terhadap source code hingga system testing terhadap spesifikasi kebutuhan.

47 Langkah Pengujian

48 Unit Testing

49 Integration Testing Top – down integration

50 Integration Testing Bottom – up integration

51 Integration Testing Regression testing: dilakukan pengujian setiap kali ada modul baru yang diintegrasikan atau ada modul yang berubah. Smoke testing: test daily, untuk proyek jenis kritis-waktu.

52 Validation Testing Disebut sukses jika fungsi P/L dapat diterima oleh customer (berdasarkan dokumen SKPL). Alpha test: dilakukan di tempat developer oleh customer pada lingkungan yang terkendali. Beta test: dilakukan di tempat customer tanpa melibatkan developer pada lingkungan yang tak terkendali.

53 System Testing Meguji sistem berbasis komputer secara menyeluruh, termasuk juga hubungannya dengan sistem yang lain. Diantaranya: – Recovery testing, jika system failure. – Security testing, jika terjadi serangan. – Stress testing, terhadap jumlah, frekuensi dan volume pekerjaan. – Performance testing, untuk mengukur pemakaian sumber daya.

54 Debugging Memperbaiki error yang ditemukan pada saat testing (yang sukses). Kaidah dasar sebelum debug: – Apakah penyebab bug dihasilkan kembali oleh bagian program yang lain? – Apakah bug selanjutnya yang mungkin muncul jika bug diperbaiki? – Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah bug terjadi untuk pertama kalinya?

55 DASAR2 PENGUJIAN PERANGKAT LUNAK Objektifitas Pengujian – Test case yg baik adalah yg mempunyai probabilitas yg tinggi untuk menemukan error yg tak diketemukan – Pengujian merupakan suatu proses eksekusi program yang ditujukan untuk menemukan error – Uji yg sukses adalah yg dapat ‘membuka’ error yang tak diketemukan Dua klas input yg disediakan untuk proses uji 1. konfigurasi software, termasuk Software Requirement Specification, Design Specification dan Source code 2.konfigurasi uji, termasuk Test Plan & Procedure, perangkat testing yg akan digunakan, test case dan hasil yg diharapkan

56 Dasar-Dasar Pengujian Perangkat Lunak Pada proses RPL, pelaku RPL mula-mula berusaha untuk membangun perangkat lunak mulai dari konsep abstrak sampai kepada tahap implementasi yang dapat dilihat, baru kemudian dilakukan pengujian. Pada pengujian perangkat lunak, pelaku RPL menciptakan sekumpulan kasus uji untuk diujikan kepada perangkat lunak. Proses ini lebih terkesan berusaha untuk “membongkar” perangkat lunak yang sudah dibangun. Proses pengujian merupakan tahapan dalam RPL di mana secara fisik terlihat lebih banyak sisi desktruktifnya dibandingkan sisi konstruktifnya karena tujuannya adalah untuk menemukan kesalahan pada perangkat lunak.

57 Sasaran Pengujian Perangkat Lunak Sasaran pengujian perangkat lunak antara lain: – Pengujian adalah proses mengeksekusi program dengan tujuan khusus untuk menemukan kerusakan – Kasus uji yang baik adalah yang memiliki tingkat kemungkinan tinggi untuk menemukan kerusakan yang belum ditemukan – Pengujian dikatakan berhasil jika berhasil menemukan kerusakan yang belum ditemukan Sasaran di atas sekaligus mengimplikasikan adanya perubahan cara pandang di mana sebelumnya dikatakan bahwa pengujian yang berhasil adalah pengujian yang tidak menemukan kesalahan. Jika pengujian sukses dilakukan, maka akan ditemukan kesalahan dalam perangkat lunak. Sebagai keuntungan tambahan, pengujian menunjukkan bahwa fungsi perangkat lunak bekerja sesuai spesifikasi dan bahwa persyaratan kinerja telah dipenuhi. Data yang dikumpulkan pada saat pengujian dilakukan memberikan indikasi yang baik mengenai realibilitas perangkat lunak dan beberapa indikasi dari kualitas keseluruhan perangkat lunak. Akan tetapi, pengujian tidak dapat memperlihatkan bahwa perangkat lunak yang diuji tidak memiliki cacat.

58 Prinsip Pengujian Perangkat Lunak Serangkaian prinsip pengujian perangkat lunak antara lain: – Semua pengujian harus dapat ditelusuri sampai ke kebutuhan pelanggan. Sasaran pengujian perangkat lunak adalah untuk menemukan kesalahan. Hal ini memenuhi kriteria bahwa cacat yang paling fatal dilihat dari sisi pandang pelanggan adalah cacat yang mengakibatkan program gagal memenuhi persyaratannya – Pengujian harus direncanakan lama sebelum pengujian dimulai. Perencanaan pengujian dapat dimulai segera setelah model kebutuhan dilengkapi. Definisi detail kasus uji dapat dibuat segera setelah model perancangan dibuat. Dengan demikian, semua pengujian dapat direncanakan dan dirancang sebelum semua kode dibangkitkan – Prinsip Pareto berlaku untuk pengujian perangkat lunak. Prinsip Pareto mengimplikasikan bahwa 80% dari semua kesalahan yang ditemukan selama pengujian akan dapat ditelusuri sampai 20% dari modul program. Permasalahannya adalah bagaimana mengisolasi modul yang dicurigai dan mengujinya dengan teliti

59 Prinsip Pengujian Perangkat Lunak Serangkaian prinsip pengujian perangkat lunak antara lain: – Pengujian harus mulai “dari yang kecil” dan berkembang ke pengujian “yang besar”. Pengujian pertama kali dilakukan fokus pada modul individual perangkat lunak, kemudian pengujian mengubah fokus menjadi menemukan kesalahan pada cluster modul yang terintegrasi, dan akhirnya pada sistem secara keseluruhan – Tidak mungkin melakukan pengujian yang mendalam. Jumlah jalur permutasi untuk program yang berukuran menengah sangat besar. Karena itulah, tidak mungkin untuk mengeksekusi setiap kombinasi jalur skema pengujian. Tetapi dimungkinkan untuk secara memadai mencakup logika program dan memastikan bahwa semua kondisi dalam rancangan prosedural telah diuji – Agar memperoleh pengujian yang paling efektif, pengujian harus dilakukan oleh pihak ketiga yang independen. Maksudnya, agar pengujian memiliki tingkat kemungkinan yang tinggi untuk menemukan kesalahan, maka pelaku RPL yang membuat sistem tersebut bukanlah orang yang paling tepat untuk melakukan semua pengujian bagi perangkat lunak

60 Testabilitas Testabilitas perangkat lunak adalah seberapa mudah sebuah perangkat lunak dapat diuji. Karena pengujian merupakan proses yang sangat sulit, perlu diketahui apa saja yang dapat dilakukan untuk membuatnya menjadi mudah. Salah satu caranya adalah dengan menyediakan checklist mengenai masalah-masalah desain yang mungkin, fitur, dan lain sebagainya yang dapat membantu untuk bernegosiasi dengan pemrogram. Checklist berikut memberikan serangkaian karakteristik sebuah perangkat lunak dapat diuji: – Operabilitas. “Semakin baik dia bekerja, semakin efisien dia dapat diuji.” – Observabilitas. “Apa yang Anda lihat adalah apa yang Anda uji.” – Kontrolabilitas. “Semakin baik perangkat lunak dapat dikontrol, semakin banyak pengujian yang dapat diotomatisasi dan dioptimalkan” – Dekomposabilitas. “Dengan mengontrol ruang lingkup pengujian, kita dapat lebih cepat mengisolasi masalah dan melakukan pengujian kembali dengan lebih baik” – Kesederhanaan. “Semakin sedikit yang perlu diuji, semakin cepat pengujiannya” – Stabilitas. “Semakin sedikit perubahan, semakin sedikit gangguan dalam pengujian.” – Kemampuan untuk dapat dipahami. “Semakin banyak informasi yang dimiliki, semakin baik pengujiannya”

61 Pengujian yang “baik” Pengujian yang baik memiliki probabilitas yang tinggi untuk menemukan kesalahan. Untuk mencapai hal ini, penguji harus memahami perangkat lunak dan berusaha mengembangkan gambaran mengenai bagaimana perangkat lunak dapat gagal. Kemudian kegagalan-kegagalan tersebut diselidiki Pengujian yang baik tidak redundan. Waktu dan sumber daya yang tersedia untuk pengujian terbatas. Tidak ada gunanya melakukan pengujian dengan tujuan yang sama dengan pengujian yang telah dilakukan sebelumnya. Setiap pengujian harus memiliki tujuan yang berbeda Pengujian yang baik seharusnya “jenis terbaik”. Untuk pengujian-pengujian yang memiliki tujuan serupa, batasan waktu dan sumber daya dapat menghalangi eksekusi kelompok pengujian tersebut. Pada kasus semacam ini, maka pengujian yang memiliki kemungkinan paling besar untuk mengungkap seluruh kesalahan yang harus digunakan Pengujian yang baik tidak boleh terlalu sederhana atau terlalu kompleks. Meskipun kadang-kadang mungkin untuk menggabungkan serangkaian pengujian ke dalam satu kasus uji, namun secara umum masing-masing kasus uji harus dieksekusi secara terpisah

62 Perancangan Kasus Uji Semua produk yang direkayasa dapat diuji dengan satu atau dua cara, yaitu: – Dengan mengetahui fungsi yang ditentukan untuk dilakukan oleh suatu produk, pengujian dapat dilakukan untuk memperlihatkan bahwa masing-masing fungsi beroperasi sepenuhnya dan pada waktu yang sama mencari kesalahan pada setiap fungsi -> black-box – Dengan mengetahui kerja internal suatu produk, maka pengujian dapat dilakukan untuk memastikan bahwa seluruh operasi internal bekerja sesuai spesifikasi dan semua komponen internal telah diamati dengan memadai -> white-box

63 PENGUJIAN MODEL OOA dan OOD Kebenaran dari model OOA dan OOD – Kebenaran dari sintaks : Penggunaan simbol dan aturan pemodelan yang tepat – Kebenaran dari sematik Model yang mewakili dunia nyata, dibutuhkan seorang ahli dalam domain persoalan. Hubungan antar kelas Kekonsistenan dari model OOA dan OOD – hubungan antar entitas dalam model – dapat digunakan model CRC dan object-relationship diagram

64

65 PENGUJIAN MODEL OOA dan OOD Langkah : – Lakukan pemeriksaan silang antara model CRC dengan model objectrelationship untuk memastikan semua kolaborasi yang dinyatakan dalam OOA direfleksikan dengan tepat dalam kedua model – Periksa deskripsi dari setiap CRC index card untuk menentukan apakah suatu tanggung jawab merupakan bagian dari definisi collaborator – Periksa hubungan balik untuk memastikan bahwa setiap collaborator menerima permintaan dari sumber yang tepat. – Periksa hubungan balik untuk memastikan apakah kelas lain diperlukan sebagai collaborator – Tentukan apakah beberapa tanggung jawab dapat digabungkan menjadi tanggung jawab – Ke lima langkah di atas diterapkan untuk setiap kelas dan setiap evolusi dari model OOA


Download ppt "Rekayasa Perangkat Lunak Pengkodean dan Pengujian Unit."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google