Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS & INFORMASI KESEHATAN FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN Mata kuliah Klasifikasi, Kodifikasi Penyakit dan Masalah Terkait KKPMT.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS & INFORMASI KESEHATAN FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN Mata kuliah Klasifikasi, Kodifikasi Penyakit dan Masalah Terkait KKPMT."— Transcript presentasi:

1 PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS & INFORMASI KESEHATAN FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN Mata kuliah Klasifikasi, Kodifikasi Penyakit dan Masalah Terkait KKPMT SKS Semester 1 Dr.Noor Yulia Kuliah 5

2 Uraian dan Tujuan Mata Kuliah Pembahasan mata kuliah ini diselenggarakan secara blok yang mengintegrasikan aspek anatomi, fisiologi, patofisiologi,terminologi medis serta klasifikasi kodefikasi penyakit dan tindakan medis meliputi sistim Respirasi sebagai dasar untuk mencapai kompetensi clinical coder.

3 Tujuan Instruksional Mampu memahami hubungan Struktur dan fungsi sistim Respirasi Memahami Proses terjadinya gangguan funfsi dan berbagai penyakit pada sistim Respirasi. Memahami istilah dan singkatan medis yang terkait dengan sistim Respirasi meliputi kondisi klinis, pemeriksaan penunjang, diagnosis dan terapi Istilah, singkatan dan simbol yang digunakan oleh staf medis dalam mendiagnosa pasien yang digunakan dalam pendokumentasian layanan kesehatan meliputi pembentukan dan penggunaannya Jenis dan fungsi klasifikasi & kodefikasi terutama ICD 10 meliputi struktur, cara penggunaan, dan tatacara pengkodean secara umum Tatacara penentuan kode diagnosis sistim Respirasi berdasarkan ICD 10. Tatacara penentuan kode Tindakan medis sistim Respirasi berdasarkan ICD 9 CM

4 Daftar Pustaka Ganong William F 2003 REVIEW of MEDICAL PHISIOLOGY 21 st Ed.McGraw – Hill Companies,San Francisco Guyton Arthur C 2007 Buku ajar Fisiologi Kedokteran EGC Jakarta Hazelwood,Anit & Venable,Carol,2006,ICD-9-CM DIAGNOSTIC CODING AND REIMBURSEMENT FOR PHYSICIN SERVICES AHIMA,Illionis ICD-10 general & morbidity coding online training packagr, ICD-10 mortality coding online training package, 10%20Death%20Certificate/html/index.html 10%20Death%20Certificate/html/index.html Marie A,Moisio & Elmer W,Moisio 2002,MEDICAL TERMINOLOGY-a Student centered approach.Delmar Thomson Learning Canada Sudarto Pringgoutomo dkk,2002, BUKU AJAR PATOLOGI 1 ( UMUM) Sagung Seto Jakarta Syaifuddin 2006 ANATOMI FISIOLOGI untuk mahasiswa keperawatan EGC Jakarta Genevieve love smith,Phyllis E Davis 1967 MEDICAL TERMINOLOGY a programmed text 2 nd John Wiley & Sons Inc.New York MEDICAL TERMINOLOGY an illustrated Guide 4 th ed,Schraffenberger,Lou Ann,2006.BASIC ICD-9-CM CODING,AHIMA Illionis The Centers for Medicare and Medicaid services (CMS) and the National center for Health Statistics (NCHS)2006.ICD-9-CM OFFICIAL GUIDELINES FOR CODING AND REPORTING Wedding Mary Ellen,2005,MEDICAL TERMINOLOGY SYSTEMS,A Body systems Approach F.A.Davis Company.Philadelphia World Health Organization,2004 ICD-10 2 ND ed Vol 1,2,3 Geneva

5 Substansi Kajian : Anatomi Fisiologi Patofisiologi Terminologi Medis Klasifikasi dan kodefikasi

6 PATOFISIOLOGI SISTIM RESPIRASI Kuliah 6

7 GANGGUAN PERNAFASAN Dibagi menjadi 2 golongan yaitu – Gangguan irama pernafasan – Gangguan pernafasan Gangguan irama pernafasan : – Serangan Apneu – Pernafasan periodik

8 GANGGUAN POLA PERNAFASAN Bradipnea : Frekwensi pernapasan lambat yang abnormal, irama teratur Takipnea: Frekwensi pernapasan cepat yang abnormal Hiperpnea: Pernafasan cepat dan dalam Apnea: Berhenti bernapas Hiperventilasi: Sesak nafas yang diakibatkan dari kegagalan vertikel kiri Hipoventilasi: Pernafasan tampak sulit dan tertahan terutama saat akspirasi Pernapasan kussmaul: Nafas dalam yang abnormal bisa cepat, normal atau lambat pada umumnya pada asidosis metabolik Pernapasan biok: Tidak terlihat pada kerusakan otak bagian bawah dan depresi pernapasan Pernapasan Cheyne – stokes: Periode pernapasan cepat dalam yang bergantian dengan periode apnea, umumnya pada bayi dan anak selama tidur terasa nyenyak, depresi dan kerusakan otak.

9 APNEU Serangan apneu dinyatakan abnormal pada bayi prematur bila berlangsung lebih dari 20 detik disertai sianosis dan bradikardia Etiologi – Imature pusat pernafasan – Obstruksi jalan nafas oleh lendir / susu Misal ; penyakit hialin membran, pneumonia, perdarahan paru – Gangguan SSP Misal : perdarahan intra kranial, Kern icterus – Gangguan metabolik Misal : hipoglikemia, perubahan keseimbangan asam basa, cairan dan elektrolit tubuh – Sikap dan Tindakan Lakukan rangsangan mekanis dengan mengubah letak bayi atau memukul telapak kaki bayi Bersihkan saluran nafas Beri oksigen intra nasal dan lakukan frog breathing Cari etiologi dan therapi sesuai etiologi

10 PERNAFASAN PERIODIK Tampak ventilasi diikuti periode apneu yang berlangsung kurang dari 10 detik pada bayi Keadaan ini tidak disertai sianosis, bradikardi atau hipotermia Pernafasan ini timbul karena maturitas SSP belum sempurna Terapi ; – Beri Oksigen dengan konsentrasi tertentu dapat mengurangi periode apneu – Perbaiki ventilasi paru dan rangsang timbulnya pernafasan teratur

11 SINDROM GANGGUAN PERNAFASAN Merupakan kumpulan gejala yang terdiri dari : – Dyspneu / hiper pneu – Sianosis – Expiratory grunting – retraksi didaerah epigastrium, suprasternal, intercostalpada saat inspirasi – Terdapat penurunan air entry dalam paru Dapat terjadi oleh bermacam kelainan baik didalam paru maupun diluar paru Kelainan didalam paru misal ;; Pneumothoraks, pnumomediastinum, penyakit membran hyalin, pneumonia aspirasi, sindrom Wilson Mikity Tindakan harus sesuai dengan penyebab syndrom tersebut

12 SESAK NAFAS Sesak nafas merupakan terganggunya saluran nafas yang mengakibat kan seseorang kesulitan untuk bernafas Terjadi karena penyempitan saluran nafas Gejala : – Dada terasa sesak – Nafas berbunyi Pemicu terjadinya penyempitan adalah : – Debu – Asap – Bulu binatang – Kelelahan fisik – Perubahan cuaca – Marah yag ditahan / stress

13 Macam-Macam Gangguan pada Sistem PernapasanGangguan pada Sistem Pernapasan Emfisema, merupakan penyakit pada paru-paru. Paruparu mengalami pembengkakan karena pembuluh darahnya kemasukan udara. Asma, merupakan kelainan penyumbatan saluran pernapasan yang disebabkan oleh alergi, seperti debu, bulu, ataupun rambut. Kelainan ini dapat diturunkan. Kelainan ini juga dapat kambuh jika suhu lingkungan cukup rendah atau keadaan dingin. Asma Kanker paru-paru. Penyakit ini merupakan salah satu yang paling berbahaya. Sel-sel kanker pada paru-paru terus tumbuh tidak terkendali. Penyakit ini lamakelamaan dapat menyerang seluruh tubuh. Salah satu pemicu kanker paru-paru adalah kebiasaan merokok. Merokok dapat memicu terjadinya kanker paru-paru dan kerusakan paru- paru. Kanker paru-paru Tuberkulosis (TBC), merupakan penyakit paru-paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tersebut menimbulkan bintil-bintil pada dinding alveolus. Jika penyakit ini menyerang dan dibiarkan semakin luas, dapat menyebabkan sel-sel paru-paru mati. Akibatnya paru-paru akan kuncup atau mengecil. Hal tersebut menyebabkan para penderita TBC napasnya sering terengah-engah. Tuberkulosis (TBC) Bronkhitis, merupakan gangguan pada cabang batang tenggorokan akibat infeksi. Gejalanya adalah penderita mengalami demam dan menghasilkan lendir yang menyumbat batang tenggorokan. Akibatnya penderita mengalami sesak napas. Bronkhitis Influenza (flu), merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus influenza. Penyakit ini timbul dengan gejala bersin-bersin, demam, dan pilek. Influenza (flu)

14 RIWAYAT GANGGUAN DAN PENYAKIT SISTIM PERNAFASAN – Merokok  memperhebat penyakit – penyakit sistim pernafasan – Misal : bronkhitis kronik, Emfisema pulmonum, Karsinoma bronkogenik – Riwayat pekerjaan --> – Dispnea : perasaan subyektif ketidaknyamanan yang dirasa berhubungan dengan nafas pendek – Batuk : – Sputum – Hemoptisis – Sianosis

15 GANGGUAN SISTIM PERNAFASAN Gangguan Genetik – Jarang dijumpai, Fistula Trakeoesofageal pada bayi yang baru lahir, Fibrosis kistik Infeksi – Pneumonia, dapat menyerang semua umur,KU memburuk, PPOK ( Penyakit Paru Obstruktif Kronik ), Tuberkulosis, Infeksi pulmoner anaerob Gangguan traumatik / degeneratif – Bronkitis kronik, Emfisema Obstruktif, Ektasia Gangguan Toksik / Metabolik – Udema paru, Penyakit paru restriktif kronik Gangguan Vaskular – Hipertensi pulmoner Gangguan Imunologik – Asma Bronkhiale Gangguan Fungsional – Tumor : Karsinoma paru – paru

16 GAGAL NAPAS (RESPIRATORY FAILURE) Ketidakmampuan paru mempertahankan pernapasan normal. Ini bisa diakibatkan oleh blokade saluran napas atau gagal paru dalam melaksanakan pertukaran gas di dalam kantung paru. Gagal napas bisa disebabkan karena kurang O2(hypovolumic failure) atau masalah transfer gas-2 (ventilatory failure). Suatu tanda hypoxemia failure adalah hyperventilasi (excess breathing) yang bisa timbul pada penyakit-2 emphysema, infeksi fungal, leukaemia, pneumonia, kanker paru, atau Tb. Ventilatory failure pada penyakit paru jangka panjang bisa disebabkan oleh tambahan stress, seperti juga pada gagal jantung, operasi, anestesia, atau infeksi saluran napas atas. Terapi: mempertahankan kebersihan saluran napas dengan suction, bronchodilatotor, tracheostoma. Terapi untuk mempertahankan/ meningkatkan fungsi saluran napas.

17 PENYAKIT SISTIM PERNAFASAN Infeksi pada saluran pernafasan jauh lebih sering dibanding infeksi pada organ lain misal common cold Kanker paru merupakan penyebab utama kematian akibat kanker pada pria dewasa Insiden penyakit pernafasan kronis terutama emfisema paru-paru dan bronkitis kronis merupakan penyebab utama gangguan serta cacat kronis pada pria

18 INFEKSI Infeksi hidung sering disebabkan oleh virus influenza dengan gejala hidung tersumbat akibat pembengkakan selaput lendir rongga hidung dengan banyak keluarnya lendir. Bila infeksi meluas kebelakang sampai nasofaring kadang dapat menyumbat muara saluran eustakhius yang berhubungan dengan rongga telinga tengah Bila menyerang laring atau pangkal tenggorok dengan gejala utama sakit tenggorok terutama pada waktu menelan.batuk dan mengganggu bergetar nya pita suara sehingga mengubah suara menjadi parau. Bila infeksi menyerang bronkus maka dinamakan Bronkitis Memberi gejala batuk disertai infeksi Infeksi yang menyerang paru-paru sering disebabkan oleh bakteri kokkus dan TBC Radang paru-paru dinamakan pneumonia, alveolus banyak terisi lendir, sehingga penderita mengeluh sesak nafas. Kurangnya oksigen dapat menimbulkan warna biru pada wajah penderita

19 NASOPHARINGITIS Dapat terjadi ; – Akut : ACUT NASOFARINGITIS Common cold : coryza Gejala ; Acute nasal cattarh ( banyak cairan/ lendir keluar dari hidung ), Nasopharingitis, Rhinitis acut, infektive – Kronik

20 PENYAKIT PADA HIDUNG Dibagi 2 : 1.Penyakit vestibulum nasi – Vestibulitis / folikulitis ; bisul – Furunkulosis – Fissura – Papiloma squamosa 2.Penyakit cavum nasi – Rhinitis akut – Rhinitis alergika – Concha hipertrofi – Polip nasal – Rhinitis atroficans – Erisipelas – Rhinitis vasotropika

21 Keluhan umum penyakit pada hidung : – Ada sumbatan dihidung – Timbul sekret / ingus – Timbul bersin- bersin – Gangguan indra penciuman – Sakit kepala – Perasaan tidak enak pada muka Peradangan pada mukosa hidung biasanya difus tapi tidak menimbulkan peradangan kulit pada vestibulum nasi Infeksi kulit didaerah muka dilarang dipencet – pencet karena dapat terjadi trombosis sinus cavernosus

22 RHINITIS ALERGIKA Ozena : Season alergic rhinitis Muncul akibat reaksi alergi dimana tubuh bereaksi terhadap zat asing Tidak mengancam jiwa namun cukup mengganggu Dapat muncul pada segala usia Radang pada membran nasal ( bagian dalam hidung) dengan gejala : bersin, hidung tersumbat, hidung terasa gatal, keluar cairan dari hidung Manifestasi ditempat lain: mata, telinga, tenggorok, sinus wajah. Gejala lain terjadi perubahan rasa dan penciuman, bengkak pada kulit dibawah mata, cekung dan berwarna kebiruan. Dapat terjadi : Akut Rhinitis, Kronik Rhinitis Pada kasus kronik rhinitis dapat ditandai oleh Atrofi, granuloma tousa, hipertropik, obstruktif, purulent, ulseratif

23 RHINITIS ALERGIKA Pemeriksaan : – Skin test, – Foto sinus – Kadar Imunoglobulin E dan kadar eosinofil meningkat Komplikasi : – dapat memicu serangan asma, otitis media, sinusitis, polip hidung, konjungtivitis alergi, dermatitis atopik – Juga dapat mengakibatkan gangguan tidur, kesulitan belajar, badan terasa lemah, kulitas hidup terganggu Pengobatan : – Kortikostiroid - Antihistamin – Dekongestan- Nasal atropin

24 BEDA RINITIS ALERGIKA DENGAN INFLUENZA RINITIS ALERGIKAINFLUENZA Tanda dan gejala Hidung berlendir encer, tanpa disertai demam Lendir berwarna putih cair, berubah menjadi kuning kental, tubuh agak demam AwitanSesaat setelah terpapar alergen 1- 3 hari setelah terpapar virus penyebab influenza Lama serangan Sepanjang tubuh terpapar dengan alergen tidak diobati 5-6 hari, tergantung kondisi tubuh dan pengobatan yang diberikan

25 PILEK / RHINITIS AKUT Suatu alergi dan bukan penyakit turunan Rhinitis simpleks : common cold Ditandai dengan adanya cairan encer atau kental keluar dari hidung Penyebab : – Reaksi alergi : alergen – Infeksi : virus atau bakteri Ditularkan melalui kontak percikan dari bersin ; droplet infection Terapi – Suatu penyakit self limiting disease ; dapat sembuh sendiri – Symptomatis ; istirahat, cukup cairan – Anti histamin : ctm, Dekongestan : Pseudoefedrin, fenilpropanolamin

26 SELESMA/ INFLUENZA Penyakit yang disebabkan oleh virus yang menginfeksi saluran pernafasan atas ( hidung, faring, laring dan bronkus) Etiologi ; Virus, Golongan virus influenza dapat menyebabkan pneumonia khas disertai menggigil, demam dan tanda konsolidasi. Dapat terjadi ; ISPA, Laringitis, Pharingitis, Pleural infeksi, Enchephalopathy, gastroenteritis dan myocarditis Masa inkubasi 1-3 hari Gejala berupa lesu, pilek, perasaan tidak enak ditenggorokan, suhu normal atau meningkat, Pilek mula mula bersifat cair kemudian menjadi kental dan kehijauan, Batuk berdahak sering timbul, Kadang diikuti infeksi bakteri sekunder yang menimbulkan penyakit sinusitis, otitis media dan bronkitis. Penularan melalui udara pernafasan : bersin, batuk, percikan ludah, kontak dari tangan yang terkontaminasi hidung

27 POLIP NASAL Polip pada cavitas nasal – Polip choana – Polip nasopharingeal Polipoid sinus degeneration Polip disinus accessories Polip disinus ethmoidalis Polip disinus maxilaris Polip Sinus Sphenoidalis Sering terdapat pada pasien Rhinitis alergika Tampak tumor bulat bertangkai multipleks dan dapat digerakkan, bila dibiarkan dapat membesar Terapi ; pembedahan tapi cenderung kambuh kembali

28 Gangguan lain didaerah sinus nasal Abses, furunkel dan karbunkel pada hidung dapat terjadi Cellulitis, nekrosis, ulserasi Dapat juga terjadi kista ataupun mukokel pada sinua nasalis Gangguan lain Deviasi septum pada nasal Hipertrofi nasal turbinates

29 RHINITIS ATROFICANS Hidung terasa kering, berisi kerak / krusta berwarna hijau, cavum nasi lapang, tapi mucosa cavum nasi dan concha menyempit / atrofi Penderita mengeluh hidung tersumbat walaupun cavum nasi lapang Penderita tidak mengeluh sakit Hidung tercium bau busuk karena proses pembentukan crusta dan jaringan mati

30 SINUSITIS Akibat peradangan mukosa sinus paranasalis Gejala berupa hidung tersumbat, Ingus berbau, berwarna kuning hijau, sakit pada daerah sinus yang terserang Dapat terjadi abses, empyema, infeksi, inflamasi dan supurasi Berdasarkan peradangan dibagi : – Sinusitis supurativa ( stadium akut, sub akut, kronika ) – Sinusitis alergika – Sinusitis hiperplastika Berdasarkan lokasi : – Sinusitis maxilaris akut / kronik – Sinusitis frontal akut / kronik – Sinusitis ethmoidalis akut / kronik – Sinusitis Aphenoidalis akut / kronik – Pan sinusitis akut / kronik

31 Komplikasi sinusitis Tanda – tanda – Sakit kepala yang umum dan menetap – Muntah, Kejang, demam – Odem didahi dan – odem kelopak mata, Penglihatan kabur / diplopia, sakit menetap diretroocular – Tanda – tanda peningkatan tekanan intra kranial – Perubahan sikap/ tingkah laku / perasaan sensorik Komplikasi – Selulitis orbita, abses periorbita, trombosis sinus cavernosus, meningitis, abses epidural, abses subdural, abses otak, osteomyelitis tulang tengkorak, osteomyelitis maxila superior, fistula oroantral, mucocele, pyocele

32 ISPA Infeksi saluran pernafasan atas : Upper Respiratory Infections acuta Contoh ; – Pilek, Influenza – Rhinitis alergika / vasomotor : Hay fever, Polinosis, alergi zat pollen, Rhinitis perennial alergik – Rhinitis kronika – Nasopharingitis – Laringopharingitis akuta – Pharingitis – Pneumonia – Bronchopneumonia

33 PHARINGTIS Sore throat Etiologi : Streptococcus Perjalanan penyakit dapat ; – Akut – Kronik : atropik, granular, hipertropik – Tonsil mengalami pembesaran, hiperemis, cripta melebar, debritus, diikuti pembesaran kelenjar getah bening dileher

34 TONSILITIS Etiologi ; Streptoccocus Dapat terjadi Tonsilitis Akut -> peritonsilitis -> peritonsiler infiltrat -> peritonsiler abses – Kronik Interpretasi : – Normal : T0/T0, tidak hiperemis, cripta tidak melebar, tidak ada tanda debritus,tidak ada pembesaran kelenjar – T0 : tidak ada tonsil sama sekali, terjadi post operasi, tidak tumbuh – T1 : tidak melewati arcus anterior – T2 : tidak melewati arcus posterior – T3 : tidak melewati linea media – T4 : melewati linea media Peritonsiler abses : Suatu abses pada tonsil

35 LARINGITIS Disebabkan oleh infeksi mikroorganisme atau oleh asap rokok. Sering menimbulkan suara parau karena pembengkakan dari pita suara Gejala khas : oedematous, supurative, ulseratif, di subglotic Pada laringitis dapat terjadi – Akuta – Kronika Manifestasi Chatarhal, hipertrofik, sicca Pda kasus laringotracheitis terjadinya dapat berupa ; – Laringitis kronik dengan tracheitis atau Tracheitis kronik dengan laryngitis

36 Vocal cord Gangguan vocal cord adalah – Paralysis vocal cord, dapat terjdi pada laryngoplegia, paralysisi glotis – Adanya polip pada vokal cord – Adanya nodule pada vocal cord ; pada kasus chorditis, singer`s nodes, teachers nodes – Penyakit lain abses, cellulitis, granuloma, leukokeratosis, leukoplakia

37 EPIGLOTITIS Normal epiglotis tenang, hiperemis. Gangguan palatum mole : – Dysphagia ; gangguan menelan Akut : nyeri menelan Kronis : rasa mengganjal – Nasolalia / Rhinolalia : suara sengau, dapat karena : Karena parese palatum mole ; infeksi / parese IX /X Gangguan hidung ; obstruksi cavum nasi Tumor : jinak, ganas ( ca nasofaring ) Corpus alienum : tampon Trauma Kongenital ; palatoschisis

38 TENGGOROKAN Gejala umum pada gangguan tenggorokan – Sakit / dysphagia – Banyak / tidak ada reak – Batuk – Suara parau, sengau, serak-serak

39 BATUK Adalah suatu refleks pertahanan tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari saluran nafas Batuk juga membantu melindungi paru – paru dari aspirasi ( masuknya benda asing ) Penyebab batuk : – Penyakit infeksi : bakteri, virus, misal tuberkulosa, influenza, campak, batuk rejan – Bukan infeksi : misal : debu, asma, alergi, makanan yang merangsang tenggorokan, batuk pada perokok dsb Batuk dapat dibedakan menjadi : – Batuk berdahak ; ada sekret ditenggorokan, – Batuk tidak berdahak : batuk kering :tidak ada sekresi, terjadi iritasi tenggorokan timbul rasa sakit Terapi : – Obat batuk untuk batuk berdahak : Ekspektoran : Gliseril guaikolat, Bromheksin, OBH – Obat batuk untuk batuk tidak berdahak : Antitusif : Dekstrometorfan HBr, Difenhidramin HC

40 PNEUMONIA Etiologi : – Virus, dapat timbul ; Bronchopneumonia karena virus adenoviral, para influenza, streptococcus,haemofilus influenza – bakteri Bakteri Klebsiella, pseudomonas, staphyloccocus, strepto coccus group B, eschericia coli,bakteri gram negative aerob (Serratia marcescens), micoplasma, clamidia – Mycosis ; Aspergillosis, Candidiasis,cocsidioidomycosis, histoplasmosis – Parasit ; Ascariasis, shcistosomiasis, toxoplasmosis – Penyebab lain : Ornithosis, Q fever, Rheumatic fever, Spirochaeta

41 Penderita bakterial pneumonia biasanya kelihatan benar- benar sakit, demam dan takipnea. Sputum purulen, kadang mengandung guratan darah ; – sputum berkarat (khas infeksi oleh pneumokokkus) – Sputum seperti bubur kismis ( pneumonia klebsiela) – Sputum kotor dan bau busuk ( infeksi an aerob) Manifestasi klinik pneumonia demam tinggi, menggigil, sakit kepala, batuk hebat non produktif, kadang disertai hemoptisis,nyeri dada pleurritik dan dyspnea, kadang didahului oleh nausea, muntah, diare Pemeriksaan fisik : ronki basah tersebar, bradikardi relatif

42 ISPB AKUT Infeksi Saluran Pernafasan Bawah Akut Penyakit : – Bronchitis akuta – Bronkhiolitis akuta

43 BRONKHITIS Banyak ditemukan pada anak – anak usia kurang dari 15 tahun Dapat terjadi ; Akut atau sub akut dengan ; – Bronkhospasme, fibrinous, membraneus, purulent, septik ataupun tracheitis ( tracheo bronkhitis akuta ) Etiologi ; – Mycoplasma pneumoniae, Haemophilus influenza, Streptococcus, Coxsakie virus, para influenza virus, respiratory syncitial virus, Rhinovirus, Echo virus,

44 BRONKITIS AKUT Merupakan penyakit infeksi saluran nafas akut bawah yang sering dijumpai Penyebab utama virus Gejala yang menonjol adalah batuk Mengenai organ laring, trakea dan bronkus Etiologi : – Rhinovirus, Respiratory sincytial virus(RSV) virus influenza, virus para influenza, adenovirus, Cox sackie virus Bronkitis akut selalu terdapat pada anak yang menderita Morbili, Pertusis dan infeksi mycoplasma pneumonia Faktor predisposisi – Alergi, cuaca, polusi udara dan infeksi saluran nafas atas kronik

45 Gejala klinis – Dimulai dengan ISPA oleh virus, – Batuk mula-mula kering, setelah 2-3 hari mulai berdahak mukoid, Pada anak mulai mengeluh sakit retrosternal, kadang sesak nafas,Wheezing(mengi) – Timbul ronki basah kasar dan suara nafas kasar – Batuk biasanya hilang setelah 1 – 2 minggu, Bila setelah 2 minggu batuk menetap kemungkinan terdapat kolaps paru segmental atau infeksi sekunder paru Penata laksanaan : Banyak minum air buah- buahan Obat penekan batuk tidak boleh diberikan pada batuk yang banyak lendir Bila dalam 2 minggu batuk tidak berkurang  dapat diberikan antibiotika karena kemungkinan ada infeksi sekunder

46 Prognosis umumnya baik Pada bronkitis akut yang berulang dan disertai merokok terus menerus cenderung dapat menjadi bronkitis kronis BRONKITIS KRONIK dan BATUK BERULANG (BKB) Keadaan klinis yang disebabkan oleh berbagai sebab dengan gejala batuk yang berlangsung sekurang- kurangnya selama 2 minggu berturut – turut dan/ berulang paling sedikit 3 kali dalam 3 bulan dan atau tanpa disertai gejala respiratorik dan non respiratorik lainnya Patologi : – Penebalan dinding bronkus, hipertrofi kelenjar mukosa, hipertrofi sel goblet, epitel mengalami metaplasi squamosa dan inflasi kronik.

47 BRONKITIS KRONIK Gangguan klinik berhubungan dengan pembentukan sputum paling sedikit 3 bulan dalam waktu 2 tahun berturut – turut Faktor patogenik yang paling sering : merokok Bronkitis kronik mengakibatkan peradangan bronkiolus dan PPOK (penyakit patu obstruktif kronik) yang membentuk jaringan parut Gambaran klinik : – Dyspnea progresif, ada penyumbatan saluran nafas yang tidak spesifik dan dapat dipulihkan oleh bronkodilator – Batuk bersifat produktif dengan sputum yang kental dan lengket – Infeksi paru-paru oleh bakteri yang berulang – Cor pulmonale – Berakhir dengan kegagalan pernafasan dan payah jantung

48 Bronkiektasis Secara khas dimanifestasikan oleh sputum yang banyak dan berlangsung kronik dan pneumonia rekuren

49 BRONKHIOLITIS AKUTA Bisa terjadi bronkospasme Etiologi dapat virus atau organisme lain

50 TUBERKULOSA Nama lain TBC / KP Dapat : – menyerang paru – paru ( Tuberkulosa paru ),batuk dengan sputum mukopurulen, hemoptisis, perasaan berat dan ketat didada, demam pada tengah malam, banyak keringat pada malam hari,eritema nodosum kadang ditemukan, atau tanda – tanda fisik infeksi bronko pulmoner, efusi pleura atau keduanya, penurunan fremitus dan redup pada perkusi. – Dapat tersebar keseluruh tubuh ( Tuberkulosis Miliar ), keluhan berat badan menurun, malaise,demam, sakit kepala, batuk,dispnea, perasaan tidak enak diperut,hati, limpa dapat membesar, pada funduskopi terlihat tuberkel - tuberkel

51 TUBERKULOSA Dapat menyerang organ lain (Tuberkulosa ekstra pulmoner ) misal : – sistim limfatik : Lomfadenitis tuberkulosa/ skrofulo kelenjar getah bening leher, – tulang, sendi( Tuberkulosis tulang dan sendi ),terjadi penghancuran tulang belakang dan abses dingin jaringan paravertebra disebut Pott disease ( Gibus ) – sistim genitourinarius,mengakibatkan epididimitis, disuria, hematuria tanpa disertai perasaan nyeri dan nyeri tumpul daerah panggul – perikardium,menimbulkan efusi perikardial akut atau perikarditis adesiva kronik – mening, Meningitis tuberkulosa, sakit kepala,mudah marah,perubahan kepribadian,kelumpuhan saraf kranial, kaku kuduk. – Usus dan peritoneum,Tuberkulosis peritoneum, demam, perasaan nyeri abdomen,terjadi pembentukan ascites

52 INFEKSI PULMONER AN AEROB Kemungkinan terjadi karena aspirasi setelah muntah, serangan kejang atay setelah mendapat anestesi atau sepsis orofaring / disfungsi oesofagus. Manifestasi berupa abses paru Dapat diikuti empyema bila abses mengalami perforasi kerongga pleura

53 PPOK Penyakit Paru Obstruksi Kronik Penyakit paru yang membentuk jaringan parut Gambaran klinik : – Kebanyakan riwayat merokok – Dispnea progresif – Penyumbatan saluran pernafasan yang tidak sepenuhnya dapat dipulihkan oleh bronkodilator – Batuk produktif, sputum kental dan lengket – Infeksi paru berulang oleh bakteri – Kor pulmonale – Kegagalan pernafasan / payah jantung Penyebab utama : Emfisema obstruktif,Bronkhitis kronik

54 Hilangnya elastisitas paru mengakibatkan beban kerja pernafasan meningkat Penderita dengan PPOK yang disebabkan oleh bronkitis kronik kadang digambarkan sebagai “ blue bloasters” karena sering dijumpai sianosis dan payah jantung.Umumnya gemuk Emfisema obstruktif adalah penyebab utama PPOK, biasanya kurus dan tidak sianotik dijuluki ‘ pink puffers” Ditemukan destrukti progresif dinding alveolus disertai penggabungan alveolus – alveolus membentuk ruangan yang lebih besar berukuran bula atau gelembung Hilangnya elastisitas paru mengakibatkan beban kerja pernafasan meningkat

55 Ektasia Pelebaran bronkus abnormal yang menetap Dapat terjadi akibat infeksi bronkus rekuren Timbul pada penderita mukovisidosis, agammaglobulinemia atau penderita sindroma kartagener sindroma kartagener suatu gangguan herediter yang terdiri dari bronkiektasis, bronkitis kronik, sinusitis dan situs inversus

56 GANGGUAN IMUNOLOGIK Asma bronkhiale – Merupakan gangguan imunologik utama yang menyerang paru-paru – Bersifat reversibel – Timbul wheezing yang tiba- tiba waktu ekspirasi – Disebabkan respon imunologik type I, diperantarai Ig E Sindoma Goodpasteure – Gangguan imunologik yang melibatkan jaringan parenkim paru-paru dan ginjal – Gambaran klinik berupa batuk, hemoptisis, dyspnea, hematuria dan payah ginjal

57 ASMA Ditandai 3 kelainan utama pada bronkus yaitu : Bronko konstriksi otot bronkus, inflamasi mukosa dan bertambahnya sekret yang berada pada jalan nafas Serangan asma berupa sesak nafas ekspiratoir yg paroksismal, berulang dengan mengi ( whezing) dan batuk yang disebabkan oleh konstriksi atau spasme otot bronkus, inflamasi mukosa bronkus dan produksi lendir kental yang berlebihan Merupakan penyakit familier, diturunkan secara poligenik dan multifaktorial Reaksi berlebihan dari trakea dan bronkus ( hiperreaktivitas bronkus) karena adanya hambatan sebagian sistim adrenergik, kurangnya enzim adenilsiklase dan meningginya tonus sistem parasimpatik.menyebabkan mudah terjadinya kelebihan tonus parasimpatik kalau ada rangsangan sehingga terjadi spasme bronkus

58 ASMA BRONKHIALE Akibat gangguan Imunologik utama yang menyerang paru – paru Ditandai oleh penyumbatan saluran udara reversibel Menyerang cabang – cabang halus bronkus yang sudah tidak memiliki cincin- cincin tulng rawan sehingga terjadi penyempit an yang mendadak akibatnya penderita sesak nafas. Timbul wheezing tiba – tiba pada saat ekspirasi Ada tanda nyata meningkatkan pernafasan dengan bantuan otot - otot leher akibat penderita sesak nafas pernafasan dibantu oleh otot pernafasan Sekitar separuh penderita mendapat serangan pertama pada masa kanak – kanak dan menghilang pada usia akil baliq pria > wanita

59 Penyebab ; – respon imunologik Tipe I diperantarai Ig.E terhadap alergen yang mengganggu ( faktor ekstrinsik) Asma yang baru timbul pada usia dewasa sering disebabkan oleh faktor intrinsik, lebih sulit diobati karena penyebabnya tidak jelas. Terjadi konstriksi bronkus akibat menghirup bahan – bahan yang merangsang Analisis darah : – Hipoksemia, Alkalosis respiratorik,dengan PaCO2 rendah, dehidrasi, Hipoksemia lebih hebat Saluran nafas menjadi kejang dan menyempit Penyempitan saluran nafas terjadi antara lain : – Radang saluran nafas – Sembab atau bengkak selaput lendir saluran nafas – Penyumbatan saluran nafas oleh dahak atau lendir berlebih

60 PATOFISIOLOGI ASMA BRONKHIALE Ventilasi relatif mendekati normal. Kondisi ini ditimbulkan oleh berbagai rangsangan.suatu hiperaktivitas dari bronkus Perubahan jaringan tanpa komplikasi terbatas pada bronkus dan terdiri dari spasme otot polos, edema paru-paru, infiltrasi sel – sel radang dan hipersekresi mukus yang kental. Mobilisasi sekret pada lumen dihambat oleh penyempitan dari saluran pernafasan dan pengelupasan sel epitel bersilia. Yang dalam keadaan normal silia membantu membersihkan mukus. Gejala : Serangan spontan / tiba – tiba yang timbul pada waktu istirahat / waktu sedang tidur Penanggulangan : Beri penjelasan mengenal gejala awal Atur kegiatan aktifitas fisik, Latihan pernafasan, perbaiki keadaan kejiwaan Kenali faktor pencetus dan hindari Beri obat untuk mengatasi / mencegah penyempitan saluran nafas

61 Diagnosa banding Asma Ketegangan psikis bernafas berlebihan Anak dengan adenoid membesar, leher pendek atau epiglotis terkulai kadang bernafas dengan suara keras Disfungsi otot laring yang menyempitkan saluran pernafasan Adanya benda asing / tumor disaluran pernafasan bronkus/ laring dapat mengakibatkan mengi difus seperti asma Vaskulitis ( radang vaskular difus) Tumor karsinoid yang mengeluarkan sekret jika tumor metastasis ke hati Gangguan obstruksif saluran pernafasan lain – Bronkhitis : obstruksi berat saluran nafas, – Pertumbuhan jamur aspergilus fumigatus pada lumen bronkiolus

62 PENGOBATAN ASMA Jika Ig E mempengaruhi : Kurangi kontak alergen dan pemberian Imunoterapi Hindari faktor iritan : asap tembakau, cat, kosmetika, parfum, pembersih aerosol dll Pengobatan segera pada infeksi bakteri dengan antibiotika Hindari udara dingin, pakai syal, kasa penutup hidung dan mulut untuk menghangatkan Suntikan Subkutan Epinefrin untuk serangan asma akut. Aerosol Beta adrenergik yang dihisap/ inhaler ( metaproterenol, Albuterol, terbutalin ) dapat diberikan pada serangan akut Kortikosteroid adrenal sistemik Pengobatan jangka panjang saat ini dengan mempertahankan kadar teofilin didalam darah agar tetap memadai merupakan suatu penatalaksanaan farmakologik yang bermanfaat, Efek teofilin adalah menghambat enzim – enzim intraseluler untuk kerja siklus AMP sehingga terjadi peningkatan relaksasi yang nyata pada otot polos bronkus dan mengurangi pembebasan mediator peradangan oleh alergen, efek yang lain dari teofilin adalah meningkatkan kontraksi diafragma.

63 Status asmatikus Merupakan suatu kondisi serangan Asma berat yang mengancam jiwa Terapi hiperventilasi dengan pemberian oksigen yang sudah dilembabkan Beri epinefrin, Bila tidak ada perbaikan dalam 1 jam atau kurang harus diambil langkah tindakan lain Aminofilin Intra vena Berikan infus cairan Antibiotika, Hidrokortison / metylprednisolon infus intravena Fisioterapi : perkusi manual dada secara berulang dan drainage postural

64 KOMPLIKASI ASMA Pneumotoraks Pneumomediastinum Aspirasi Keracunan obat Idiosinkrasi Gagal jantung Gagal irama jantung

65 ASPERGILOSIS BRONKOPULMONEL ALERGIK Etiologi : Aspergilosus fumigatus Jamur tumbuh didalam lumen bronkiolus Jamur tidak / sedikit mengadakan invasi ke jaringan namun dapat menimbulkan reaksi radang disertai demam hebat yang bersifat imunologis. Pada Radiogram Thoraks ditemukan infiltrat di paru Ditemukan banyak eosinofil di jaringan dan darah perifer, kadar Total IgE serum sangat tinggi, Antibodi pengendap IgG yang spesifik lebih dari 70% Gejala : penderita merasa lelah, berat badan menurun, asma berat, mengeluarkan mukus bronkus yang dapat menunjukkan adanya jamur ( titik-titik pertumbuhan yang gelap ) reaksi kulit melepuh dan merah Terapi : Kortikosteroid adrenal dalam dosis yang cukup dapat menekan penyakit dan mencegah teradinya bronkiektasis yang ireversibel

66 ODEM PARU Odem paru – paru dapat terjadi akibat peningkatan tekanan hidrostatik kapiler ( payah jantung ), peningkatan permeabilitas pembuluh darah dan epitel ( Adult Respiratory Disstress Syndrome : ARDS) Kebocoran cairan kedalam ruang interstitial alveolus mengakibatkan pembatasan volume dan mekanik paru – paru. Gambaran klinik ARDS adalah : – Kegagalan pernafasan akut pada orang yang sebelumnya mempunyai paru-paru normal setelah shock( trauma, sepsis, influenza atau perdarahan, Embolisme lemak, Pankreatitis akuta, Menghirup asap/ panas, – Lesi infiltrat difus, gambaran putih pada paru

67 Penyakit paru paru restriktif kronik Dapat disebabkan oleh infiltrasi jaringan interstitial oleh sel sel radang, neoplastik atau fibrokistik Manifestasi utama : dispnea, batuk non produktif, takipnea, penurunan pengembangan dada dan adanya ronki basah pada waktu inspirasi Dapat terjadi pneumothoraks dan korpulmonale

68 GANGGUAN LAIN Pneumnia lobaris Bronkhitis Laringitis Emfisema Sinusitis Selesma Kanker paru Pneumotorak Sianosis Polisitemia Oskoartropati

69 PNEUMONIA LOBARIS Daerah yang terkena tampak terbendung dan difusi tak berjalan. Kecepatan pernafasan bertambah dalam usaha jaringan paru – paru untuk mengisi kekurangan dari kegagalan pada bagian yang terkena kongesti.

70 BRONKHITIS Pembengkakan lapisan membran menghalangi udara masuk kedalam paru-paru Pada bronkitis kronis bila udara tertahan dijaringan paru- paru dapat menimbulkan emfisema Merupakan obstruksi berat saluran pernafasan yang mampu menimbulkan gagal nafas Radang lokal yang berat menimbulkan obstruksi pada bagian distal saluran nafas kecil Mekanisme humoral juga dapat mempengaruhi proses ini. Etiologi : – sering timbul akibat infeksi pernafasan dengan virus syncytial

71 BRONKHITIS KRONIK Merupakan keadaan peradangan dan dan hipersekresi bronkus yang lama dan sering berjalan progresif lambat Manifestasi : – Batuk berdahak yang berlangsung lama, – berbulan – bulan sampai bertahun – tahun – Kadang serangan obstruksi pernafasan setelah penyakit berjalan lama ( bentuk asma idiopatik)

72 EMFISEMA PULMONALIS Terjadi perubahan anatomis nyata yang ireversibel, disertai kehilangan dinding alveoli yang normal menekan keluar bronkus dikelilingi. Alveoli menjadi kaku, mengembang dan terus menerus terisi udara walau setelah ekspirasi sehingga pertukaran udara akan terganggu Alveoli – alveoli sering bersatu menjadi satu alveoli yang lebih besar Saluran pernafasan cenderung menutup pada waktu ekspirasi jika tekanan diluar dinding melebihi tekanan didalam dinding Faktor – faktor yang mempermudah terjadinya emfisema adalah : polusi udara, asap rokok Gejala : – suatu periode dispnea, dan whezing / mengi setiap saat penderita berusaha untuk bernafas ( biasanya waktu kerja keras ) Prognosis : – kurang baik karena terjadi ketidak mampuan bernafas normal yang semakin lama semakin bertambah

73 HEMATOTHORAKS Suatu penyakit akibat cedera pada dada Dapat menyebabkan kematian mendadak atau cacat Gejala : – respiratory distress syndrome yaitu bunyi nafas hilang dan dullness pada perkusi Pemeriksaan : – Rontgen dan Torakokinesis dapat ditemukan darah didalam rongga pleura Pemeriksaan penunjang diagnosa : – Radiologi, – Auskultasi dan – perkusi paru Cedera hebat menyebabkan kontusio pulmoner dapat menyebabkan gagal nafas dan menimbulkan kematian Kontusio pulmoner ditandai dengan perdarahan intra alveolar, edema intertisial paru, penurunan compliance paru dan luas membran difusi berkurang

74 HEMATOTHORAKS Patofisiologi : – Biasanya disebabkan oleh trauma tumpul rongga dada dan organ – organ didalamnya – Cedera menyebabkan fraktur tulang rusuk, yang dapat melukai jaringan paru – Pasien mengalami nyeri yang sangat pada pergerakan dada, ventilasi terganggu, sekresi trakea bronkus meningkat, pergerakan dada tidak simetris ( flail chest bila mengenai lebih dari 2 tulang rusuk) sering pada iga ke 5 – 9 – Perdarahan dapat masuk rongga thoraks, terjadi simple hemotoraks( darah kurang dari 1500 ml ) atau hemotoraks masif ( lebih ). Terapi : – Beri Oksigen, Atasi syok, Pasien diposisikan semi fowler – Tanggulangi nyeri dengan beri obat injeksi morphin – Tingkatkan ekspansi paru dengan latihan nafas dalam – Bimbing batuk efektif dan aspirasi sekret bila perlu trakeostomi – Atasi gagal nafas dengan ventilasi mekanik – Pasang perban elastis untuk fungsi fiksasi

75 PNEUMOTORAKS Adanya udara bebas didalam rongga pleura, dalam keadaan normal rongga pleura tidak berisi udara, supaya paru-paru leluasa mengembang terhadap rongga thoraks Faktor predisposisi pada prematur ialah karena pengembangan paru yang berlebihan akibat resusitasi yang berlebihan, pemberi an oksigen dengan tekanan yang berlebihan, terdapat aspirasi mekonium yang masif, komplikasi perjalanan penyakit paru berat penyakit membran hyalin dsb, Pada yang lebih besar ( anak atau dewasa) disebabkan karena trauma dada dengan luka yang menembus pleura sehingga udara atmosfer masuk kepleura melalui luka tadi

76 Secara umum pneumothorax terjadi karena pecahnya selubung atau lapisan luar paru-paru akibat tekanan di dalam dada atau intratorak yang sangat tinggi. Tekanan rongga pleura akan naik dan paru paru akan colaps Alveolus pecah atau robekan dinding mediastinum hingga udara mengisi rongga pleura/ mediastinum Pneumothorax berhubungan dengan berbagai macam kelainan paru meliputi emfisema, trauma, tuberculosis Pneumothoraks dibagi atas: – Pneumothoraks Terbuka: Jika udara dapat keluar masuk dengan bebas rongga pleura selama proses respirasi – Pneumothoraks Tertutup: Jika tidak ada pergerakan udara. disini tidak terdapat aliran udara antara rongga pleura dengan bronkus atau dunia luar karena fistel atau saluran sudah tertutup – Pneumothoraks Valvular/ventil : Jika udara dapat masuk kedalam paru pada proses inspirasi tetapi tidak dapat keluar paru ketika proses ekspirasi. Akibat nya terjadi peningkatan tekanan intrapleural-> tension pneumothoraks. : paling bahaya

77 Gejala bervariasi, seperti sesak mendadak, nyeri dada, dan sesak semakin lama kian memberat terutama jenis ventil, disebabkan udara kian lama makin banyak sehingga mendesak organ-organ yang ada di rongga dada seperti jantung dan pembuluh darah pada kelainan berat ditemukan gangguan pernafasan, sianosis, takipneu, grunting dan retraksi suprasternal, epigastrium, Kadang terdapat penonjolan dinding thoraks ( bulging) Gejala yang utama adalah berupa rasa sakit yang tiba-tiba dan bersifat unilateral serta diikuti sesak nafas Pada lesi yang lebih besar atau pada tension pneumothoraks, trakea dan mediastinum dapat terdorong kesisi kontralateral. Diafragma tertekam ke bawah, gerakan pernafasan tertinggal pada sisi yang sakit. Fungsi respirasi menurun, terjadi hipoksemia arterial dan curah jantung menurun

78 Diagnostik fisik : – Inspeksi : dapat terjadi pencembungan dan pada waktu pergerakan nafas, tertinggal pada sisi yang sakit – Palpasi : Pada sisi yang sakit ruang sela iga dapat normal atau melebar, iktus jantung terdorong kesisi thoraks yang sehat.Fremitus suara melemah atau menghilang – Perkusi : Suara ketok hipersonor sampai tympani dan tidak bergetar, batas jantung terdorong ke thoraks yang sehat, apabila tekanannya tinggi – Auskultasi : suara nafas melemah sampai menghilang, nafas dapat amforik apabila ada fistel yang cukup besar Diagnosis pasti : – Pemeriksaan radiologis : Rontgen Thoraka AP & Lateral, CT Scan Pengobatan – Awasi pernafasan dan nadi, beri O2,Perbaiki hipoksia dan asidosis yang terjadi, Sedative luminal dapat diberikan untuk mengurani gelisah – Antibiotika diberikan sebagai profilaksis, Beri minum dengan frekuensi lebih sedikit dengan volume rendah – Bila perlu lakukan tindakan operative

79 Masuknya udara ke dalam rongga pleura dibedakan atas: 1.Pneumothoraks spontan: – Pneumotoraks spontan primer terjadi jika pada penderita tidak ditemukan penyakit paru-paru.Pneumotoraks ini diduga disebabkan oleh pecahnya kantung kecil berisi udara di dalam paru-paru yang disebut bleb atau bulla. sering menyerang pria berpostur tinggi- kurus, usia tahun. Faktor predisposisinya adalah merokok dan riwayat keluarga dengan penyakit yang sama. dapat terjadi berulang kali -> kronis. – Pneumotoraks spontan sekunder merupakan komplikasi dari penyakit paru-paru (misalnya penyakit paru obstruktif menahun, asma, fibrosis kistik, tuberkulosis, batuk rejan). 2. Pneumotoraks traumatik Terjadi akibat cedera traumatik pada dada. Traumanya bisa bersifat menembus (luka tusuk, peluru) atau tumpul (benturan pada kecelakaan kendaraan bermotor).

80 PENYAKIT MEMBRAN HYALIN SYNDROM GANGGUAN NAFAS IDIOPATIK Etiologi belum jelas Menyerang bayi prematur dengan ibu menderita gangguan perfusi darah uterus selama kehamilan, misal ibu Diabetes, toksemia gravidarum, hipotensi, sectio caesaria, perdarahan ante partum Patofisiologis : akibat pembentukan substansi surfaktan paru yang kurang sempurna pada paru yang dibutuhkan supaya paru tidak kolaps dan mampu menahan sisa udara fungsionil pada akhir ekspirasi. Alveolus akan kolaps pada akhir ekspirasi mengakibatkan terjadi hipoksia, retensi CO2 dan asidosis Akibat hipoksia terjadi penurunan oksigen yang diperlukan jaringan sehingga terjadi metabolisme anabolik metabolik. Kerusakan endotel kapiler dan epitel duktus alveolaris menyebab kan transudasi kedalam alveoli dan terbentuk fibrin

81 Fibrin bersama jaringan epitel yang nekrotik membentuk suatu lapisan yang disebut membran hyalin Gambaran klinis : – Dyspneu / hiperpneu, sianosis, retraksi, expiratory grunting,bradikardia, hipotensi, kardiomegali, pitting odem pada daerah daorsum tangan / kaki, hipotermia, tonus otot menurun Pada gambaran rontgen tampak bercak difus berupa infiltrat retikulogranuler Laboratorium asam laktat meningkat,bilirubin meningkat, p H darah menurun dan defisit basa meningkat ( terjadi asidosis respiratorik dan metabolik dalam tubuh Histopatologis ; adanya atelektasis dan membran hyalin didalam alveolus / duktus alveoli, emfisema Prognosis tergantung tingkat prematuritas bayi dan beratnya penyakit

82 PNEUMONIA ASPIRASI Terjadi bila cairan amnion yang mengandung mekonium terinhalasi oleh bayi. Dikenal juga sebagai sindrom aspirasi mekonium Klinis tanda syndrom gangguan pernafasan, ronki paru, emfisema, atelektasis Rontgen : gambaran infiltrat kasar dikedua lapangan paru disertai bagian yang mengalami emfisema Kematian dapat terjadi akibat kegagalan pernafasan atau asidosis berat Pengobatan : – Perawatan umum ; bersihkan jalan nafas,pasang intubasi, keluarkan cairan lambung untuk mencegah aspirasi, beri oksigen, atur keseimbangan asam basa – beri antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder

83 SINDROM WILSON MIKITY Merupakan suatu bentuk insufisiensi paru pada bayi prematur Penyakit ini berlangsung lama / kronik Terdapat sianosis yang menetap Rontgen fotogambaran difuse infiltrat retikulogranular dan tampak bagian paru yang hiper aerasi / air bronchogram pada kedua paru Klinis ; sianosis, sesak nafas dan retraksi dinding thorakspada pernafasan, kadang pernafasan periodikm dengan episode apneu, ronki pada basal paru, Prognosis : dapat mati mendadak karena kegagalan pernafasan. Perbaikan berangsur – angsur dalam waktu yang lama (6-12 bulan) pe ngobatan tidak ada yang spesifik, pemberian oksigen teratur, pengawasan keseimbangan asam basa

84 84 PULMONARY EDEMA Mekanismenya sedikit berbeda. Umumnya pada kegagalan jantung kiri (left heart failure). Edema paru timbul akibat naiknya tekanan atrium kiri dan menimbulkan tekanan balik ke bantaran kapiler paru, filtrasi memenuhi spatium alveoli paru. Perubahan permeabilitet terjadi di sirkulasi paru dan bila yang severe akan terjadi edema pulmoner, walau tekanan atrial kiri rendah  ini biasa terjadi pada kondisi sepsis bakteri Gram- negatif septicaemia  paru > permeable terhadap cairan tubuh  cairan akan meng genangi alveoli paru dan  hypoxia  sesak napas. Perubahan permeabilt juga bisa terjadi tanpa cedera langsung. Contoh: Edema pulmoner terjadi post cedera kepala atau neurosurgery ( penyebabnya belum jelas)

85 GANGGUAN VASKULAR Peredaran darah paru secara sekunder akibat penyakit jantung,spasme arteriol progresif dan kerusakan kapiler mengakibatkan Hipertensi pulmoner dan hipertrofi ventrikel kanan ( Cor Pulmonale ) Hipertensi pulmoner primer Embolisme arteria pulmonalis Trombosis vena cava inferior

86 KANKER PARU Merupakan penyebab kematian akibat keganasan yang paling utama pada pria Bronkogenik Karsinoma : neoplasma sel skuamosa bronkogenik Berasal dari sel-sel epitelium bronkus Polutan penyebab kanker yang paling sering adalah asap rokok, asap/ debu yang berhubungan dengan pekerjaan, misal asbes, krom, nikel, gas racun, eter, asap batubara Adenokarsinoma Karsinoma small cel un differentiated Karsinoma oat cell ; agresif, tidak berespon terhadap radiasi dan kemoterapi Manifestasi kanker paru tergantung pada tempat asal kanker dan derajat penyumbatan pada bronkus

87 Gejala klinis Ca paru ; – Batuk sering disertai hemoptisis – Pneumonia rekuren – Penurunan berat badan – Malaise Beberapa tumor memberikan efek endokrin terutama hiperkalsemia, efek ACTH dn sindroma sekresi ADH Tumor karsinoid berhubungan dengan sekresi serotonin Ditemukan clubbing finger Osteoartropati pulmoner hipertrofik Neuropati perifer Sindrom Horner pada sisi lesi : nyeri pada bahu dan kelemahan lengan akibat penekanan atau invasi tumor ke pleksus brakialis, iga, atau tulang belakang

88 Banyaknya suplai kelenjar getah bening dan darah ke paru-paru membuat paru – paru menjadi tempat invasi metastasik tumor visera termasuk tumor payudara dan limfoma Jika invasi bersifat fokal, manifestasinya sebagian besar tergantung derajat penyumbatan bronkus yang diakibatkannya Sebaliknya penyebaran limfatik difus

89 GANGGUAN LAIN-LAIN Pembatasan pengembangan paru-paru dapat juga terjadi sebagai akibat adanya gangguan toraks dan neuromuskular seperti kifoskoliosis, ankilosis spondilitis, fibrosis pleura, kelumpuhan nervus frenikus, miastenia gravis dan sindroma Guillan Barre

90 RESPIRATORY THERAPY (RT) IPPB: (Intermittent positif pressure breathing) Suatu bentuk bantuan pernapasan dengan ventilator yang memampatkan gas masuk saluran napas sampai dengan tekanan mencapai batas yang ditentukan. Pasien mengatubkan bibir (pakai mouthpiece) agar darah tidak keluar merembes hidung atau mulut saat inspirasi. Paru agar terisi udara oleh mesin. Exhalasi dengan pasif dilaksanakan melalui katub (valve), dan diulang-ulang lagi. Ventilasi bisa diperbaiki dengan cara ini. Sekresi jadi berkurang dan saluran jadi bersih, dan udara terlembabkan (humidifired). Teknik disebut juga IPPV (Intermittent positive pressure ventilation). Respirasi terapi technisian certified: CRTT

91 PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK Biopsi Radiologi : – Rontgen AP – Rontgen Lateral CT Scan Laboratorium – Rutine, bakteriologis, serologis, citologis Laringoscop

92 LANJUT KULIAH MENDATANG Sistim imunologis Quiz – Sistim Kardiovaskular – Sistim respirasi


Download ppt "PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS & INFORMASI KESEHATAN FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN Mata kuliah Klasifikasi, Kodifikasi Penyakit dan Masalah Terkait KKPMT."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google