Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Dr. Ahmad Aulia Jusuf, PhD Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2009 ASPEK HISTOLOGIS DALAM NEUROSAINS All images in this document.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Dr. Ahmad Aulia Jusuf, PhD Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2009 ASPEK HISTOLOGIS DALAM NEUROSAINS All images in this document."— Transcript presentasi:

1 dr. Ahmad Aulia Jusuf, PhD Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2009 ASPEK HISTOLOGIS DALAM NEUROSAINS All images in this document is removed due to copyright restriction

2 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi2 PENGANTAR  Fragmen kehidupan I  Pujo, mhs FKUI tk IV  berangkat ke kampus dgn mengendarai mobil. Sesaat sebelum berangkat ia berdoa agar selamat dalam perjalanan.  Pagi itu jalan tampak ramai sekali. Sambil menyetir ia mendengarkan lagu klasik kesukaannya. Dengan trampil ia menggunakan kedua kakinya untuk mengatur laju kendaraannya. Kedua tangannya tak kalah trampilnya mengendalikan kemudi. Sekali-sekali tanganya mengambil makanan atau minuman ringan yang tersedia di dekat kemudi. Kadang-kadang ia bersiul ikut menirukan melodi lagu tersebut.  Walaupun begitu pikirannya berusaha untuk mengingat patofisologi dan terapi penyakit-penyakit saraf yang telah dipelajarinya semalam. Yah.. Hari itu ternyata ia akan ujian neurologi.  Tiba-tiba ia teringat akan Surti, gadis desa yang manis, lincah dan ramah, anak pak Camat yang dijumpainya saat ia dan teman-temannya melakukan bakti sosial 3 bulan silam. Terbayang di benaknya beberapa peristiwa manis bersama gadis tersebut. Ingin sekali ia berkenalan lebih lanjut dengan gadis pemikat hatinya tersebut, tetapi sayang mereka berada di kecamatan tersebut hanya untuk 1 minggu. Meskipun begitu ia sempat mencatat nomer telepon rumah pak camat tersebut.  Tiba-tiba ia tersadar dari lamunannya ketika klakson dari mobil dibelakangnya menyalak dengan sangat bersemangat. Ternyata lampu merah didepannya telah berubah menjadi hijau

3 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi3 PENGANTAR  Fragmen Kehidupan II  Wiji, anak seorang petani penggarap di daerah yang tandus, usia 8 th  Sudah 5 hari terbaring lemah di tempat tidur di ruang ICU salah satu RS di daerah. Tampak selang makanan terpasang melintas di salah satu lubang hidungnya, sementara selang nafas terpasang langsung ke dalam trakea melintasi rongga mulutnya. Di tangan dan kakinya terpasang selang-selang infus.  Mukanya tampak tegang, sementara sekujur tubuhnya yang tadinya kaku mulai melemas, begitu juga mulutnya yang tadinya terkatup erat mengancing mulai melemas. Kejang-kejang sekujur tubuhnya kadang masih muncul.  Luka akibat menginjak paku berkarat pada telapak kaki kanannya mulai membaik.  Yah, ia merupakan salah seorang penderita penyakit tetanus

4 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi4 PENGANTAR  Pikirkan  Bagaimana aktivitas-aktivitas yang terjadi pada fragmen I dan II dapat terjadi ?  Bagaimana begitu banyak aktivitas dapat berlangsung sekaligus ?  Struktur apa yang mengatur semua aktivitas tersebut ?  Mengapa dapat terjadi aktivitas yang tidak normal pada fragmen II ?  Mengapa luka di kaki dapat mempengaruhi sistem saraf di tubuh anak tersebut ?

5 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi5 PENGANTAR  Semua Aktivitas kehidupan sehari-hari tidak terlepas dari kontrol, kerja dan berfungsinya jaringan saraf  Terganggunya aktivitas jaringan saraf akan berdampak luas terhadap kerja jaringan atau organ tubuh lainnya.

6 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi6 PENGANTAR  Semua Aktivitas kehidupan sehari-hari tidak terlepas dari kontrol, kerja dan berfungsinya jaringan saraf  Terganggunya aktivitas jaringan saraf akan berdampak luas terhadap kerja jaringan atau organ tubuh lainnya.

7 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi7 PENGANTAR  Tujuan khusus modul  Struktur mikroskopik, histofisiologis dan histodinamika jaringan saraf  Definisi dan klasifikasi jaringan saraf  Embriologi sistem saraf  Sel saraf Inti dan sitoplasma Akson dan dendrit Transportasi aksonal  Sinaps  Sel penyokong (neuroglia)

8 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi8 PENGANTAR  Tujuan khusus modul  Struktur mikroskopik susunan saraf pusat  Serebrum ( Cerebrum )  Serebellum ( Cerebellum )  Medula spinalis ( spinal cord )  Struktur mikroskopik susunan saraf tepi  Ganglia  Serat saraf  Selubung serat saraf  Badan akhir saraf  Regenerasi serat saraf

9 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi9 Struktur mikroskopik, histofisiologis dan histodinamika jaringan saraf  Jaringan Saraf  Nervous = dapat dirangsang  Salah satu dari 4 jaringan dasar penyusun tubuh  Disusun oleh sel-sel saraf (neuron) dan sel-sel penyokong (neuroglia/sel glia)  Fungsi: komunikasi

10 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi10  Jaringan Saraf di seluruh tubuh manusia Struktur mikroskopik, histofisiologis dan histodinamika jaringan saraf

11 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi11  Anatomis  Susunan saraf pusat  Otak  Medula spinalis  Susunan saraf tepi  Saraf kranialis ……. 12  Saraf spinalis …….. 31  Sistim saraf otonom Simpatis parasimpatis  Fungsional  Sensoris  Somato-sensoris  Visero-sensoris  Motoris  Somato-motoris  Visero-motoris (Sistem saraf otonom) Klasifikasi Struktur mikroskopik, histofisiologis dan histodinamika jaringan saraf

12 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi12 Klasifikasi SSP SST Struktur mikroskopik, histofisiologis dan histodinamika jaringan saraf

13 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi13  Sistem Saraf Autonom  Parasimpatis Simpatis Klasifikasi Struktur mikroskopik, histofisiologis dan histodinamika jaringan saraf

14 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi14  Minggu ke 3  Proses pembentukan  Lempeng saraf (neural plate)  Lipatan saraf (neural folds)  Alur saraf (neural groove)  Tabung saraf (neural tube)  Gelembung otak utama (primary brain vesicle) dan medula spinalis---- SSP  Sel-sel neural krest (Neural Crest cells)--- saraf tepi Embriologis Struktur mikroskopik, histofisiologis dan histodinamika jaringan saraf

15 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi15 Embriologi Struktur mikroskopik, histofisiologis dan histodinamika jaringan saraf

16 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi16  Histogenesis sel-sel di SSP Embriologi Struktur mikroskopik, histofisiologis dan histodinamika jaringan saraf

17 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi17 Embriologi  Sel-sel Krista Neuralis (Neural Crest cells) Struktur mikroskopik, histofisiologis dan histodinamika jaringan saraf

18 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi18 Embriologi Perkembangan sel-sel neural krest (neural crest cells)  Sel-sel saraf Tepi  Dorsal root ganglia  Saraf kranial  Saraf simpatis dan parasimpatis  Ganglia enterikus  Ganglia sakralis  Ganglia Vesikalis  Melanosit  Sel Schwann  Sel-sel kromafin di medula adrenal  Odontoblas  Beberapa tulang rawan dikepala dan lengkung faring Struktur mikroskopik, histofisiologis dan histodinamika jaringan saraf

19 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi19  Komponen jaringan saraf  Sel saraf (neuron)  Sel Penyokong atau neuroglia (sel glia) Struktur mikroskopik, histofisiologis dan histodinamika jaringan saraf

20 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi20 SEL SARAF (NEURON)  Saraf ( Gr. Neuron=nerve)  Differensiasi paling tinggi  Tidak dapat membelah lagi  Jumlahnya diduga 14 milyar  Histologis  Badan sel (Perikarion)  Juluran / taju saraf (prosesus saraf) Akson Dendrit Struktur mikroskopik, histofisiologis dan histodinamika jaringan saraf

21 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi21 SEL SARAF (NEURON)  Badan sel saraf (Perikarion)  Ukuran mm  Bentuk: piramid, lonjong, bulat  Struktur  Inti (mata burung hantu / owl eye) Bulat, lonjong Pucat Di tengah perikarion  Sitoplasma Organel Badan inklusi

22 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi22 SEL SARAF  Sitoplasma  Organel  Sitoskeleton Neurofilamen (penyokong) Mikrotubulus (transportasi zat- zat)  Apparatus Golgi  Mitokondria  Retikulum endoplasmik kasar (Badan Nissl) HE: basofilik Substansia Tigroid  Sentriol Pasca lahir ( - )

23 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi23 SEL SARAF  Badan inklusi  Vesikel  Granula  Hormon  Pigmen  Lipofuksin  Besi  Tetes lemak  glikogen

24 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi24 JULURAN SARAF  Juluran saraf  Akson  Dendrit

25 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi25 DENDRIT  Jumlahnya bisa lebih dari satu  Pangkalnya tebal dan makin ke distal makin tipis  Duri atau tonjolan (spike / gemullae)  Badan Nissl, ribosom, mitokondria, neurofilamen, mikrotubulus (+)  Fungsi: menerima rangsang saraf dari akson dan meneruskannya ke perikarion.

26 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi26 AKSON  Pangkal akson (Akson Hillock)  Jumlahnya satu  mitokondria, neurofilamen dan mikrotubulus (+)  Badan Nissl, ribosom, kompleks Golgi (-)  Sebagian besar bermielin  Telodendria  Terminal boton (Boutons terminaux  Fungsi: membawa impuls saraf dari badan saraf

27 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi27 Jenis Neuron  Berdasarkan jumlah juluran saraf  Neuron unipolar  Neuron unipolar masa embrio  Neuron bipolar  Ganglion vestibular  Ganglion koklear  Neuron olfaktoris  Neuron pseudo-unipolar  Ganglion kraniospinal  Neuron multipolar  Neuron motoris kornu anterior medula spinalis  Sel Purkinje di otak kecil  Sel piramid pada korteks serebri

28 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi28 TRANSPORTASI AKSONAL  Akson tidak dapat mensintesa protein  Endoplasmik retikulum kasar (Badan Nissl), ribosom, kompleks Golgi (-)  Komponen yang terlibat  Mikrotubulus  Protein penggerak (motor protein)  Vesikel transport  Arah transportasi aksonal  Anterograde  retrograde

29 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi29 TRANSPORTASI AKSONAL  Mikrotubulus  Organel sel berbentuk silindris  dibentuk oleh hasil polimerisasi subunit-subunit protein tubulin yang berbentuk globular  Diameter 24 nanometer  Tersusun oleh Dinding dengan ketebalan 9 nanometer Lumen dengan ketebalan 15 nanometer 13 protofilamen protein tubulin yang tersusun secara paralel membentuk dinding mikrotubulus (singlet microtubule) 1 protofilamen: kumpulan beberapa heterodimer protein tubulin alfa (+) dan beta (-) yang masing-masing berukuran 4 nanometer dan mengikat GTP Polimerisasi

30 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi30 MIKROTUBULUS

31 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi31 TRANSPORTASI AKSONAL  Mikrotubulus  Struktur  2 kutub Kutub negatif : dekat dengan perikarion Kutub positif : dekat dengan ujung akson  Fungsi  lintasan (track) vesikel transport yang mengandung zat-zat tertentu dari perikarion ke ujung akson dan sebaliknya diperantarai oleh protein penggerak atau motor protein dan membutuhkan energi yang besar yang berasal dari ATP

32 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi32 MIKROTUBULUS

33 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi33 TRANSPORTASI AKSONAL  Protein penggerak (motor protein)  Kinesin  Mempunyai aktivitas ATP-ase  Struktur Kepala: berikatan dengan mikrotubulus dan ATP Badan Ekor: berikatan dengan vesikel transport via reseptor kinesin  Bergerak dari kutub negatif ke kutub positif ( dari perikarion ke ujung akson) sepanjang mikrotubulus  Memerlukan ATP untuk pergerakan

34 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi34 KINESIN

35 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi35 TRANSPORTASI AKSONAL  Dynein  Mempunyai aktivitas ATP-ase  Struktur  Kepala berikatan dengan mikrotubulus dan ATP  Badan  Ekor : berikatan dengan membran vesikel transpor via reseptor dynein  Bergerak sepanjang lintasan mikrotubulus dari kutub positif (dekat dengan ujung akson) ke kutub negatif (dekat dengan perikarion) sepanjang mikrotubulus

36 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi36 DYNEIN

37 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi37 VESIKEL TRANSPORT  Berfungsi sebagai kontainer  Mengangkut  Protein  Glikoprotein  Faktor-faktor untuk pertumbuhan sel saraf  Protein-protein neurotransmiter  Dsbnya  Mempunyai reseptor kinesin atau reseptor dynein

38 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi38 TRANSPORTASI ANTEROGRAD  Dari perikarion ke ujung akson  Komponen yang terlibat  Mikrotubulus  Vesikel transpor  Protein kinesin  Berdasarkan kecepatan pengangkutannya  Fast anterograde: mm/ hari  Glikoprotein, glikolipid, protein membran vesikel sinaps, bahan-bahan untuk sintesa neurotransmiter  Slow anterograde: 1-4 mm/ hari  Aktin, clathrin, calmodulin, enolase, neurofilamen, tubulin

39 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi39 TRANSPORTASI RETROGRAD  Dari ujung akson ke perikarion  Komponen yang terlibat  Mikrotubulus  Vesikel transport  Protein dynein  Materi yang diangkut  Sisa-sisa membran vesikel sinaps  Faktor pertumbuhan untuk sel saraf  Zat-zat sisa  Zat-zat ekstraselular termasuk toksin dan virus

40 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi40 TRANSPORTASI AKSONAL

41 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi41 Fungsi Neuron  Komunikasi  Sifat khas neuron  Iritabilitas  Rangsang fisik  Rangsang kimiawi  Konduktivitas  Beberapa neuron di hypothalamus dapat mengeluarkan sekret neural berisi hormon vasopressin dan oksitosin

42 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi42 SINAPS  Tempat transmisi impuls saraf dari satu neuron ke neuron lain atau dari neuron ke reseptor perifer  Transmisi impuls saraf  Kimiawi  penerusan impuls saraf lewat senyawa kimia (neurotransmiter) Paling umum Neuron ke otot  Listrik  penerusan impuls saraf melalui ion-ion yang melintas bebas melalui saluran-saluran pada gap junction atau nexus Jarang terdapat pada SSP mammalia Ditemukan di beberapa tempat di batang otak, retina dan korteks serebrum

43 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi43 SINAPS  Komponen pembentuk  Pra-sinaps (bouton sinaps)  Gelembung (vesikel sinaps) nanometer  neurotransmiter  Celah sinaps  Lebar nanometer  Filamen-filamen halus  Post-sinaps  Reseptor neurotransmiter

44 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi44 SINAPS

45 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi45 SINAPS  Neurotransmitter  Disintesa di perikarion atau dekat dengan ujung akson  Macam-macam neurotransmiter  Asetil kolin  Norepinefrin  Gamma amino butyric acid  Enkefalin  dsbnya

46 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi46 SINAPS  Transmisi impuls saraf pada sinaps  aksi potensial yang tiba di ujung akson akan membuka kanal ion kalsium.  Ion kalsium kemudian akan masuk ke dalam ujung akson.  Disamping itu ion natrium dan senyawaan kolin serta senyawaan asetat juga akan masuk ke dalam akson lewat pompa natrium.  Senyawa asetat akan di aktivasi menjadi ko-ensim A di dalam mitokondria.  Kolin bersama asetil ko-ensim A (dihasilkan oleh mitokondria) dan ensim kolin asetil transferase akan membentuk asetil kolin.

47 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi47 SINAPS  Asetil kolin kemudian akan dibungkus oleh membran vesikel sinaps yang diinternalisasi kembali lewat proses endositosis membentuk vesikel sinaps. Kedalam vesikel ini juga dimasukkan ATP sebagai sumber energi.  Vesikel sinaps lalu bergerak ke membran akson terminal (bouton terminaux), menyatu dengan membran akson. Proses ini distimulus oleh ion kalsium  Neurotransmiter akhirnya akan dikeluarkan ke dalam celah sinaps lewat proses eksositosis

48 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi48 SINAPS  Asetilkolin kemudian akan berikatan dengan reseptornya di post- sinaps.  Penyatuan asetil kolin dengan reseptornya akan menimbulkan respons listrik di neuron post- sinaps  Ensim asetil kolin-esterase akan melepaskan ikatan asetil kolin dengan reseptornya dan menghidrolisis asetil kolin menjadi senyawaan kolin dan asetat.  Asetat dan kolin dapat masuk kembali ke ujung akson dan dipergunakan untuk membentuk vesikel sinaps yang baru  Membran vesikel sinaps juga akan dipergunakan kembali untuk membuat vesikel yang baru dengan proses endositosis.

49 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi49 SINAPS

50 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi50 SINAPS  Jenis Sinaps  Akso-dendritik  Akso-somatik  Akso-aksonik  Dendro-dendritik  Akson-serat otot

51 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi51 NEUROGLIA/ SEL GLIA  Rudolf Virchow (1846) : nerve glue (perekat neuron)  70-80% dari seluruh sel yang ada di SSP  Selnya kecil dengan inti 3-10  m  Jenisnya  Astrosit (ektoderm)  Oligodendroglia (ektoderm)  Ependim (ektoderm)  Sel Schwann (krista neuralis/ektoderm)  Sel Satelit (krista neuralis/ektoderm)  Mikroglia (?)  Impregnasi perak dan pulasan Gold

52 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi52 ASTROSIT  Astro = bintang  Berasal dari ektoderm  Gambaran histologis  Berbentuk seperti bintang (astro)  Inti bulat, lonjong, besar  Banyak cabang sitoplasma  Ribosom, kompleks Golgi, lisosom, neurofilamen  2 tipe  Astrosit Protoplasmatik  Cabang sitoplasmanya pendek dan gemuk mirip lumut  Substansia grisea  Astrosit Fibrosa  Cabang sitoplasmnya lurus, langsing mirip lidi atau landak  Substansia alba

53 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi53 ASTROSIT Astrosit protoplasmatis Astrosit fibrosa

54 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi54 ASTROSIT  Salah satu komponen pembentuk sawar darah otak (blood-brain barrier)  Terdapat di substansia alba dan grisea  Fungsi:  Menyerap kelebihan ion kalsium yang lolos dari sel saraf selama proses konduksi impuls saraf.  Berperan dalam transportasi zat-zat metabolisma  Berperan dalam pembentukan jaringan parut di SSP

55 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi55 OLIGODENDROGLIA  Oligo = sedikit  Gambaran histologis  Lebih kecil dari astrosit  Cabang sitoplasma lebih sedikit (oligo= sedikit) dan pendek  Mengandung ribosom, kompleks Golgi, mikrotubulus dan neurofilamen.  Terdapat di substansia grisea dan alba  Fungsi:  Penyokong  Pembentuk selubung mielin di SSP.

56 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi56 OLIGODENDROGLIA

57 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi57 MIKROGLIA  Berasal dari mesoderm  Gambaran histologis  Selnya kecil, badan sel gepeng dengan inti yang sukar dilihat  Sitoplasma bercabang besar (cabang primer), yang kemudian dari cabang primer bercabang-cabang lagi. Cabang-cabang ini saling tegak lurus  Terdapat di substansia alba dan grisea  Fungsi  fagositosis

58 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi58 MIKROGLIA

59 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi59 SEL EPENDIMA  Melapisi ventrikel otak dan kanalis sentralis medula spinalis  Gambaran histologis  Sel silindris rendah atau kuboid, permukaannya terdapat silia dan mikrovili  Membentuk epitel pleksus khoroideus

60 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi60 SEL EPENDIMA

61 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi61 PLEKSUS KHOROIDALIS

62 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi62 SUSUNAN SARAF PUSAT

63 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi63 SUSUNAN SARAF  Susunan saraf pusat  Susunan saraf perifer

64 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi64 Susunan Saraf Pusat  Otak dan medula spinalis  Fungsi  menerima, mengintegrasikan, mengolah dan memberi jawaban terhadap semua rangsang yang diterima baik yang berasal dari dalam maupun luar tubuh.  Menyimpan impuls yang diterima sebagai memori

65 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi65 Susunan Saraf Pusat  Struktur histologis  Neuron  Medula Spinalis Kolumna berbentuk huruf H (Substansia grisea)  Otak ---- Korteks Serebri dan Serebellum (substansia grisea) dan nukleus  Neuroglia  Serat saraf – Traktus  Struktur tambahan  Pembuluh darah  Likuwor serebrospinal (LCS)  Selaput otak

66 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi66 Susunan Saraf Pusat  Terdiri atas 2 lapisan  Substansia grisea (abu-abu)  Perikarion  Serat saraf tak bermielin  Substansia alba (putih)  Serat saraf bermielin  Dendrit

67 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi67 MEDULA SPINALIS  Substansia Alba (White matter)  Kumpulan serat-serat saraf (Funikulus)  Anterior (ventral)  Lateral  Posterior (dorsal)  Funikulus terbagi atas kelompokan kecil lagi (Fasikulus) / traktus

68 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi68 MEDULA SPINALIS  Funikulus Posterior  Fasikulus Gracilis  Fasikulus cuneatus  Traktus Intersegmental Posterior  Funikulus Lateral  Traktus Spinocerebellar posterior  Traktus Spinocerebellar anterior  Traktus Spinothalamikus lateral  Traktus Spinotektal

69 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi69 MEDULA SPINALIS  Funikulus Lateral  Traktus Posterolateral (Lissauer tract)  Traktus Spinoretikular  Traktus Spinoolivary  Traktus kortikospinal lateral  Traktus rubrospinal  Traktus retikulospinal lateral  Descending autonomic fibers  Traktus olivospinal  Traktus Intersegmental lateral

70 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi70 MEDULA SPINALIS  Funikulus Anterior  Traktus Spinothalamikus anterior  Traktus Kortikospinal anterior  Traktus Vestibulospinal  Traktus Tectospinal  Reticulospinal fibers  Traktus Intersegmental Anterior

71 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi71 MEDULA SPINALIS  Substansia Grisea  Perikaryon, neuroglia, pembuluh darah  Daerah berbentuk huruf H atau kupu- kupu  Terdiri atas  Kornu Anterior  Kornu Posterior  Kornu Lateralis

72 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi72 Medula Spinalis  Kornu Anterior  Bagian yang paling banyak mengandung neuron  Sel saraf multipolar Besar Inti bulat besar Perikarion dan dendrit mengandung badan Nissl Akson hilock dan akson tidak mengandung badan Nissl Akson keluar sebagai serat alfa efferen yang mempersarafi otot skelet

73 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi73 Medula Spinalis  Kornu Anterior  Sel saraf multipolar yang lebih kecil Akson keluar sebagai gamma efferen yang mempersarafi serat otot intrafusal Gelendong otot (Muscle Spindle)

74 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi74 MEDULA SPINALIS  Kornu Posterior  4 group sel saraf Grup Substansia gelatinosa Grup Nucleus Proprius Grup nucleus dorsalis (Clark’s column) Grup visceral eferent  Kornu Lateralis  Kelompokan sel saraf terletak dari Th1-L3  Sel saraf kecil

75 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi75 Medula Spinalis

76 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi76 OTAK  Serebrum  Terdiri atas hemisfer kiri dan kanan  Struktur histologis  Substansia grisea (Korteks) perikarion  Substansia alba (Medula)----- akson bermielin  Bagian terdalam serebrum (nukleus)---- perikarion

77 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi77 SEREBRUM  Korteks Serebri  Neuron, neuroglia, serat saraf dan pembuluh darah  5 tipe sel saraf  Sel Piramid  Sel Stelata  Sel Fusiform  Sel Horizontal (Cajal)  Sel Martinotti

78 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi78 SEREBRUM  Korteks Serebri  6 lapisan  Lapisan Molekular (Plexiform) Dendrit sel piramid dan sel fusiform Akson sel stelata Sel-sel Horizontal of Cajal  Lapisan Granular Luar Sel-sel Pyramid kecil dan sel Stellata  Lapisan Pyramid Luar Sel-sel Pyramid besar

79 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi79 SEREBRUM  Korteks Serebri  6 lapisan  Lapisan Granular Dalam Sel-sel Stellata Sel-sel Pyramid  Lapisan Pyramidal Dalam (Ganglionik) Sel-sel pyramid berukuran sedang dan sangat besar (sel Batz) Sel-sel Stellata dan sel- sel Martinotti  Lapisan Multiform (Sel-sel Polymorfik) Sel-sel Fusiform, modifikasi sel-sel Pyramid, sel Martinotti

80 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi80

81 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi81 SEREBELLUM  Permukaan tampak berlipat-lipat --- Folia yang tersusun paralel terhadap fissura (alur)  Terdiri atas bagian kiri dan kanan yang terpisahkan oleh bangunan berbentuk cacing disebut Vermis

82 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi82 SEREBELLUM  Substansia grisea (Korteks) & substansia alba (Medula)

83 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi83 SEREBELLUM  Korteks  Lapisan Molekular  Sel stellata (luar) dan sel Basket (dalam)  Akson dan dendrit  Neuroglia  Lapisan Purkinje/Ganglion  sel-sel Purkinje  Lapisan granular  sel-sel saraf kecil-kecil

84 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi84 SEREBELLUM  Medula  Serat saraf  Serat jaringan ikat  Neuroglia  fibrosit

85 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi85 SEREBELLUM

86 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi86 Meninges

87 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi87

88 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi88 Meninges  3 lapisan  Duramater  Lapisan luar yang keras  Terbagi atas 2 lapisan Lapisan periosteum duramater Lapisan fibrosa Pada medula spinalis di antara keduanya terdapat ruang epidural terisi oleh jaringan ikat longgar, pembuluh darah, sel lemak.

89 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi89 Meninges  Kedua lapis duramater di dalam tengkorak orang dewasa menyatu, kecuali pada beberapa tempat tertentu terpisah membentuk sinus- sinus venosus  Ruang potensial untuk terjadi perdarahan “epidural hematom”

90 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi90 Meninges  Arachnoid  Membran tipis, halus, avaskular  Membentuk trabekula dalam ruang ruang subarachnoid  Ruang subarachnoid berisi LCS  Villus arachnoid  Menyalurkan cairan LCS ke sinus venosus

91 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi91 Meninges  Piamater  Membran halus, lembut.  2 lapisan  Luar: serat kolagen, pembuluh darah  Serat retikular dan elastin halus

92 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi92 Cairan Serebrospinal  Cerebrospinal fluid (CSF)  Terdapat di  Ruang subarachnoid  Ventrikel otak  Kanal sentralis medula spinalis

93 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi93 Cairan Serebrospinal  Dihasilkan oleh  Pleksus khoroideus yang terdapat pada  atap ventrikel III, IV dan dinding medial ventrikel lateral  Paranchyma of the brain  Area postrema at the caudal margin of the 4 th ventricle  Proses aktif

94 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi94 Cairan Serebrospinal

95 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi95 Likuwor serebrospinal  Aliran likuwor serebrospinal  Ventrikel lateral ---- ventrikel III aquaeductus Sylvii---- ventrikel IV foramen Magendie dan Luschka ruang subarachnoid (melingkupi otak dan medula spinalis) villus khoroideus sinus venosus (darah)  CSF akan dikeluarkan ke dalam darah di sinus venosus via villus khoroideus  Limbah metabolisma otak akan berdifusi bebas dari ruang ekstraselular menembus ependima, masuk ke CSF di ruang ventrikel

96 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi96

97 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi97 Likuwor serebrospinal

98 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi98 Likuwor serebrospinal  Kandungan CSF  Air, glukosa, asam-asam amino, mineral, vitamin (vit B, vit C), asam folat, albumin, globulin  Fungsi  Mempertahankan lingkungan cairan sesuai untuk otak  Memberi bantalan perlindungan terhadap otak dan medula spinalis dari benturan  Dihasilkan dengan kecepatan 500 ml/ hari

99 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi99 Pleksus khoroideus  Dibentuk oleh sel-sel ependima yang menempel langsung di permukaan dalam lapisan piamater dan membentuk lipatan-lipatan yang menonjol ke dalam lumen ventrikel

100 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi100 Pleksus khoroideus  Sel-sel ependima  Pada permukaan apikal sel-sel ependima terdapat taut sekap (tight junction) yang akan mencegah lolosnya CSF ke dalam darah melintasi celah antar sel.  Di antara sel-sel ependima juga terdapat taut lekat (adherens junction) dan taut rekah (gap junction) untuk melekatkan 2 sel yang berdekatan dan menjaminnya adanya perlintasan zat-zat antara 2 sel yang berdekatan.  Pada sel ependima juga terdapat pompa natrium untuk masuknya air dan garam- garam ke dalam LCS.  Tidak adanya tight junction pada sel-sel ependim yang melapisi ventrikel –ventrikel otak dan canalis centralis memungkinkan terjadinya pembuangan sampah metabolisma secara langsung dari sel saraf ke cairan likuor serebrospinal

101 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi101 Pleksus khoroideus  Fungsi : menghasilkan likuwor serebrospinal  Cara sekresi:  Difusi yang difasilitasi : glukosa dan asam-asam amino  Transpor aktif: vitamin B, C dan asam folat

102 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi102 Villus Subarachnoid  Penonjolan lapisan arachnoid menembus lapisan fibrosa duramater  Cairan yang terdapat diruangan subarachnoid pada villus subarachnoid dipisahkan dari darah di sinus venosus hanya oleh selapis tipis arachnoid dan endotel yang terdapat di atas yang membatasi sinus venosus

103 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi103 Villus Subarachnoid  Villus subarachnoid merupakan jalan untuk keluarnya cairan serebrospinal dan berfungsi sebagai katup  Tergantung pada perbedaan tekanan pada setiap sisi dinding villus  Bila tekanan CSF lebih besar daripada vena, CSF akan masuk ke dalam darah, sebaliknya bila tekanan vena lebih besar dari CSF, villus subarachnoid akan kolap dan mencegah unsur- unsur darah masuk kedalam CSF

104 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi104 Sawar Darah Otak  Sawar darah otak (blood brain barrier)  Komponen pembentuk  Dinding sel endotel  Keberadaan taut sekap (tight atau occluding junction di antara sel-sel endotel kapiler darah akan melapisi ruang antar sel-sel endotel dan mencegah lewatnya zat-zat melalui ruang-ruang ini.  Zat-zat harus melewati dinding kapiler darah lewat mekanisme mikropinositosis.  Lamina basal sel endotel  Kaki perivaskular astrosit (end feet astrosit)

105 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi105

106 Sawar Darah Otak

107 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi107 Sawar darah otak  Fungsi:  Melindungi SSP dari perubahan konsentrasi ion yang terjadi secara tiba-tiba di cairan ekstrasellular  Mencegah masuknya molekul-molekul dari sirkulasi ke dalam LCS yang dapat menggangu fungsi normal neuron di dalam SSP  Cara menembus sawar darah otak  Mikropinositosis, bila zat tersebut mempunyai reseptor pada dinding endotel yang memungkinkan terjadinya transport secara mikropinositosis.  Diffusi yang difasilitasi (facilitated diffusion)  Glukosa, asam-asam amino, vitamin-vitamin, nukleosida  Transport aktif  Ion-ion dan mineral  Kerugian  Antibiotik dan obat-obatan tidak dapat masuk kedalam otak

108 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi108 BLOOD BRAIN BARRIER

109 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi109 SUSUNAN SARAF TEPI

110 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi110 SUSUNAN SARAF TEPI  Susunan Saraf Tepi  Serat saraf  Ganglia  Selubung mielin  Selubung Schwann  Ujung saraf  Cakram motorik ( Motor end plate )  Gelendong otot ( Muscle spindle )  Badan Vater Paccini ( Paccinian corpuscle )  Badan Meissner ( Meissner corpuscle )

111 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi111 Sistem Saraf Perifer  Komponen motorik serat saraf perifer  Sistem saraf somatik  Sistem saraf otonom

112 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi112 Sistem Saraf Perifer  Sistem saraf somatik  Komponen motorik  Volunter  Terdiri atas  Badan sel saraf: multipolar Nukleus motorik pada otak Tanduk depan medula spinalis

113 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi113 Sistem Saraf Perifer  Sistem Saraf Somatik  Serat saraf Saraf Kranial : III, IV, VI and XII Saraf Spinal : 31 pasang  Efektor Otot rangka melalui cakram motorik

114 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi114 Sistem Saraf Perifer  Sistem Saraf Otonom  Komponen motorik  involunter  Mengontrol organ dalam tubuh melalui serat saraf eferen umum (visceral motor) yang mempersarafi  Otot polos  Otot jantung  kelenjar

115 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi115 Sistem Saraf Perifer  Sistem saraf Otonom  Berhubungan dengan pusta-pusat persarafan yang lebih tinggi di otak  Berada di bawah kontrol

116 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi116 Sistem Saraf Perifer  Sistem Saraf Otonom  Terdiri atas  2 badan sel saraf Sel saraf Pertama Terletak pada SSP Aksonnya biasanya bermielin Sel saraf kedua Terletak pada ganglia otonom Aksonnya biasanya tidak bermielin

117 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi117 Sistem Saraf Perifer  Serat Saraf Serat saraf pra ganglionik Bersinaps dengan serat srat post ganglionik Serat Saraf Post ganglionik Aksonnya keluar dari ganglion untuk mencapai organ efektor  Efektor (otot polos, otot jantung, kelenjar)

118 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi118 Susunan Saraf Autonom  Digolongkan dalam susunan saraf tepi (SST)  Simpatis  Parasimpatis  Fungsi: mempertahankan keseimbangan fungsi- fungsi tubuh (homeostasis)  Yang diatur  Sekresi kelenjar  Kontraksi dan kecepatan denyut otot jantung  Kontraksi dan kecepatan kontralsi otot polos  Sistim sirkulasi darah  Walaupun berfungsi secara otomatis (tak dipengaruhi kehendak), tetapi tetap dibawah kendali SSP  Pusat koordinasi antara sistim autonom dengan sistim persarafan lainnya terdapat di hipotalamus

119 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi119 Sistim persarafan simpatis  Serat Preganglion: Th1-L3  Divisi torakolumbar Susunan saraf autonom  Keluar dari medula spinalis melalui akar depan (radiks ventral) saraf spinal  Bersinaps dengan post- ganglionik di ganglia simpatis  Serat post-ganglionik menuju ke organ sasaran

120 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi120 Sistim persarafan parasimpatis  Ciri khas  Serat preganglion  keluar bersama saraf kranial III, VII, IX dan X  Saraf sakral 2,3,4  Divisi kraniosakral SSO  Serat saraf preganglionik yang berjalan bersama saraf kranial III, VII, dan IX mempunyai serat postganglionik yang mempersarafi kelenjar (kelenjar lakrimal, kelenjar liur dsbnya)  Serat saraf preganglionik yang berjalan bersama saraf kranial X mempunyai serat postganglionik yang mempersarafi organ-organ yang terdapat di rongga abdomen dan toraks  Serat saraf preganglionik yang keluar dari segmen sakral mempunyai serat postganglionik yang mempersarafi organ-organ di rongga pelvis: kolon, rektum, vesika urinarius

121 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi121 Ganglia  Ganglia : kumpulan neuron yang terdapat diluar SSP  Nukleus: kumpulan neuron di SSP yang mempunyai fungsi tertentu  Macamnya  Ganglia Kraniospinal  Ganglia Autonom  Simpatis  parasimpatis

122 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi122 Ganglia Kraniospinalis  Ganglia kranial  Jenis neuronnya adalah pseudounipolar  Satu cabang ke perifer (reseptor) disebut serat eferen  Satu cabang ke otak, disebut serat aferen  Perikarion globular, besar dengan cabang yang bermielin atau tanpa mielin  Sel-sel satelit atau sel kapsul atau amfisit  Ganglia trigeminal, fasialis (geniculatum), vestibularis

123 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi123 Ganglia Kraniospinalis  Ganglia spinal  Jenis neuronnya pseudounipolar  Satu cabang ke medula spinalis (serat aferen)  Satu cabang ke perifer via saraf spinal (serat eferen)  Perikarion besar dengan cabang yang bermielin atau tanpa mielin.  Sel-sel sateli atau sel kapsul atau amfisit  Letaknya di radiks atau akar posterior saraf spinal

124 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi124 Ganglia Autonom  Jenisnya  Simpatis (adrenergik)  Parasimpatis (kolinergik)  Karakteristik  Bersimpai jaringan ikat  Lebih kecil daripada ganglia kranio-spinal.  Multipolar  Mempunyai sel-sel satelit yang jumlahnya lebih sedikit

125 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi125 Ganglia Simpatis  Ganglia  Ganglia paravertebralis  Anterolateral medula spinalis  C1-S2-3  Bentuk trunkus simpatis  Ada hubungan trunkus kanan dan kiri  Serat postganglion: sirkulasi darah dan kelenjar

126 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi126 Ganglia Simpatis  Ganglia prevertebra  Letaknya di daerah anterior kolumna vertebralis  Pleksus abdominalis  3 buah ganglia prevertebralis  Ganglia seliaka (celiac ganglion)  Ganglia mesenterika superior  Ganglia mesenterika inferior  Serat saraf keluar dari medula spinalis melalui akar atau radiks ventral dan selanjutnya menuju ganglion prevertebralis melintasi trunkus simpatis yang dibentuk oleh ganglion paravertebralis

127 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi127 Ganglia Simpatis  Ganglia terminalis  Letaknya paling perifer, dekat dengan organ yang akan dipersarafi  Mempersarafi otot polos

128 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi128 Ganglia Parasimpatis  Ganglion terletak dekat dengan organ sasaran  Tidak tersusun dalam suatu bentuk rantai, tetapi tersebar  Ciri khas  Badan sel saraf membentuk kelompokan yang tersebar dikelilingi oleh jaringan ikat  Di sekeliling sel-sel ganglion terdapat sel-sel satelit  Ganglia siliaris, genikulata, submandibula, otik, pterigopalatina, ganglia Meissner dan Aurbach, ganglia vesikalis.

129 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi129 SELUBUNG SERAT SARAF  Berdasarkan ada/ tidaknya selubung mielin, serat saraf (akson) di SSP dan SST terbagi menjadi 2  Serat saraf bermielin (myelinated nerve)  SSP: dibentuk oleh sel oligodendroglia 1 sel oligodendroglia membentuk selubung mielin untuk beberapa serat saraf  SST: dibentuk oleh sel Schwann 1 sel Schwann membentuk hanya 1 selubung mielin  Serat saraf tak bermielin (unmiyelinated nerve)

130 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi130 Selubung serat saraf (akson)  Seluruh serat saraf (akson) di SST akan diselubungi di bagian luar oleh selubung sel Schwann  Pada serat saraf bermielin  1 sel Schwann menyelubungi 1 serat saraf  Pada serat saraf tak bermielin  1 sel Schwann menyelubungi beberapa serat saraf

131 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi131 Selubung Mielin  Lapisan  Melingkari akson  Tersusun secara konsentris  Dibentuk oleh lipid dan neurokeratin  MC  Silinder yang terputus-putus  Celah antar selubung mielin (nodus atau pinggetan Ranvier)  Pada pulasan perak nodus Ranvier akan terisi oleh endapan perak dikenal sebagai palang Ranvier  ME  Lapisan konsentris membran plasma sel Schwan atau oligodendroglia

132 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi132 Selubung Mielin  Terjadi invaginasi serat saraf ke dalam sitoplasma sel Schwann  Kedua ujung sitoplasma sel Schwann menyatu dan membungkus serat saraf. Tempat penyatuan awal di sebut mesaxon interna  Mesaxon kemudian meluas ke arah dalam, membentuk lapisan-lapisan / lamel-lamel  Sitoplasma kemudian menghilang dan sisi dalam membran sitoplasma menyatu…. garis perioda  Membran ekstrasellular kemudian mendekat tetapi tidak menyatu …… garis intrerperioda  Tempat penyatuan akhir sitoplasma sel Schwann …. Mesaxon eksterna

133 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi133 Selubung mielin  Pada saat penyatuan ke dua sisi dalam membran sitoplasma sel Schwann, terdapat kegagalan di beberapa tempat sehingga meninggalkan sejumlah kecil sitoplasma yang terjerat dalam selubung mielin…… celah atau insisura Schmidt- lanterman  Fiksasi osmium tetraoksida bisa terlihat celah Schmidt Lanterman

134 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi134 Selubung Mielin  Di SSP  Proses pembentukan serupa  1 sel oligodendroglia membentuk selubung mielin untuk beberapa serat saraf  Fungsi selubung Mielin  Sebagai insulator  Arus listrik meloncat dari nodus Ranvier yang satu ke yang lain secara cepat (Saltatory conduction)  Kecepatan rambat listrik lebih cepat dibanding serat tak bermielin

135 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi135 Serat saraf tak bermielin  Di SST serat saraf tak bermielin diselubungi oleh selubung sel Schwann, sedangkan di SSP tak ada selubung  1 sel Schwann membentuk selubung Schwann untuk beberapa serat saraf tak bermielin

136 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi136 Selubung Schwann  Membungkus seluruh serat saraf tepi bermielin atau tanpa mielin  Disebut neurilema, tersusun dari sitoplasma sel schwann  Pada pinggetan Ranvier akson hanya diselubungi oleh juluran- juluran sel Schwann yang terpisah oleh suatu celah atau gap  Sel Schwann  Sel dengan init gepeng  Mitokondria, mikrotubulus, mikrofilamen, endoplasmik retikulum, kompleks Golgi

137 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi137 Pembungkus serat saraf tepi  Selain diselubungi oleh selubung mielin dan selubung Schwann, serat saraf tepi juga dibungkus oleh jaringan ikat  3 lapisan  Endoneurium  Membungkus satu serat saraf  Serat kolagen dan retikulin halus serta sel fibroblas  Berhubungan dengan selubung Schwann

138 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi138 Pembungkus serat saraf Tepi  Perineurium  Membungkus satu berkas serat saraf (fasikulus) yang terdiri atas beberapa serat saraf  Serat-serat kolagen dan sel- sel fibroblas  Epineurium  Membungkus satu bundel serat saraf (bundles of nerve fibers) yang terdiri atas beberapa fasikulus

139 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi139 Ujung Saraf (Nerve Ending)  3 kelompok ujung saraf  Pada otot skeletal  Cakram motorik (motor end plate)…. Motorik (efektor)  Gelendong otot (muscle spindle) …. Sensorik (aferen)  Pada Epitel  Ujung akhir saraf bebas  Pada jaringan  Badan Vater Paccini, Badan Meissner dll

140 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi140 Cakram Motorik (motor end plate)

141 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi141 Badan Meissner dan Vater Paccini

142 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi142 Gelendong Otot (muscle spindle)

143 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi143 REGENERASI JARINGAN SARAF

144 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi144 Regeneration in the nervous tissue  Regeneration in the peripheral nerve tissue  Regeneration in the central nervous tissue

145 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi145 Regeneration in the peripheral nerve  When a peripheral nerve fiber is injured/transected  Initiate a series of structural and metabolic events  Axon reaction Repair the damage Regenerate the process Restore the function

146 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi146 Regeneration in the peripheral nerve  Reaction to the trauma is characteristically localized  Local changes  Anterograde changes  Retrograde changes

147 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi147 Regeneration in the peripheral nerve  Local reaction  At the site of damage  Severed ends retract away from each other  Cut membrane of each stump fuses Cover the opened damage ends Preventing loss of axoplasm  Accumulation of material delivered by axoplasmic flow  Invasion of macrophage to the damage area and phagocytose the debris

148 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi148 Regeneration in the peripheral nerve  Anterograde reaction  Distal to the site of damage  Hypertrophy and degeneration of axon terminal within 1 week  Contact with the postsynaptic membrane is terminated  Proliferation of Schwann cells Phagocytose the remnants of the axon terminal and myelin sheath Occupy the synaptic space  The connective tissue covering of the nerve is unaltered  Also called as Wallerian degeneration

149 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi149 Regeneration in the peripheral nerve  Retrograde reaction  proximal to the site of damage  Hypertrophy of perikaryon of the damage neuron Also called as chromatolysis reaction Last several month Actively produce ribosome and various macromolecules Nissl bodies disperse Nucleus displace

150 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi150 Regeneration in the peripheral nerve  Retrograde reaction  proximal to the site of damage  Degeneration of the proximal axon stump and surrounding myelin sheath  Several sprouts of axon emerge from the proximal axon stump Enter the connective tissue sheath guided by Schwann cells to the target cell The sprout reaches the target cell fist forms a synapse whereas the other sprouts degenerate

151 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi151 Regeneration in the peripheral nerve  Neuroma  A swelling in the terminal of nerve fiber at the site of damage  When there is an extensive gap between the distal and proximal segments  when the distal segment disappears altogether ( as in the case of amputation of a limb)  Formed by the newly grown nerve fibers  can be the source of spontaneous pain

152 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi152 Regeneration in the peripheral nerve

153 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi153 Regeneration in the peripheral nerve  Transneuronal degeneration  Degeneration of the cell or tissue due to the defect/ injury occurred in its neuronal cell or its nerve fiber

154 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi154 Regeneration in the peripheral nerve  Several factors influenced the regeneration of nerve fiber  The distance between proximal and distal stumps of axon  Infection  Scar tissue  Nutrition

155 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi155 Regeneration in the central nervous tissue  Damage in the central nervous tissue is permanent  The neuronal cells have no capacity to proliferate  The connective tissue is absent in the CNS  Reaction of Glial scar  Injured cells within the CNS are phagocytosed by microglia  The liberated space is occupied by proliferation of glial cells which forms a cell mass called glial scars

156 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi156 Regeneration in the nervous tissue  In contrast to the nerve cells, neuroglia of the central nervous system and Schwann cell and ganglionic satellite cells of the peripheral nervous system are able to divide by mitosis  The space in the central nervous system left by nerve cells lost by injury or disease are invaded by neuroglia

157 Tuesday, April 07, 2015 Aspek Histologi Dalam Neurosains/AAJ/Histologi157


Download ppt "Dr. Ahmad Aulia Jusuf, PhD Bagian Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 2009 ASPEK HISTOLOGIS DALAM NEUROSAINS All images in this document."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google