Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

SQL: Queries, Constraints & Triggers (Chap. 5 – Ramakrishnan)

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "SQL: Queries, Constraints & Triggers (Chap. 5 – Ramakrishnan)"— Transcript presentasi:

1 SQL: Queries, Constraints & Triggers (Chap. 5 – Ramakrishnan)

2 Pokok Bahasan  Apa yang termasuk dalam bahasa SQL? Apa SQL/1999?  Bagaimana queries disajikan dalam SQL? Bagaimana makna suatu query dinyatakan dalam standar SQL?  Bagaimana SQL menjadikan aljabar dan kalkulus relasional sebagai dasar dan memperluas keduanya?  Apa yang dimaksud dengan “grouping”? Dan bagaimana ia dapat digunakan dalam operasi-operasi aggregasi?  Apa yang dimaksud dengan “nested queries”?  Apa yang dimaksud dengan null values ?  Bagaimana queries dapat digunakan utk menuliskan integrity constraints yang komplek?  Apa yang dimaksud triggers, dan mengapa triggers menjadi berguna? Dan bagaimana kaitan triggers dan integrity constarints?

3 Overview  Data Manipulation Language (DML): Subset SQL yang dapat diguna-kan utk menspesifikasikan queries dan utk menyisipkan (insert), menghapus (delete), dan memodifikasi (modify) baris-baris tabel  Data Definition Language (DDL): Subset SQL utk mendukung pembuatan, penghapusan, dan modifikasi tables & views.  Integrity Constraints (ICs) dapat didefinisikan pada tables pada saat suatu tabel dibuat atau nanti sesudahnya  Triggers & Advanced ICs: Standar SQL/99 memberikan dukungan untuk triggers, yang merupakan tindakan-tindakan otomatis yang dijalankan oleh DBMS bilamana perubahan-perubahan pada database memenuhi kondisi yang dispesifikasikan dalam trigger  Embedded & Dynamic SQL: Fitur-fitur embedded SQL memungkinkan SQL utk dipanggil dari suatu bahasa induk seperti C atau Java. Sedang fitur-fitur dynamic SQL memungkinkan sebuah query utk disusun (dijalankan) pada saat “run-time” (Ramakrishnan, Chap 6).

4 Overview (Lanjutan)  Client-Server Execution & Remote Database Access: Perintah- perintah SQL untuk ini dapat digunakan mengendalikan bagaimana suatu program aplikasi client dapat dihubungkan ke sebuah SQLdatabase server, atau mengakses data dari sebuah database melalui jaringan (Ramakrishnan, Chap 7)  Transaction Management: Berbagai perintah SQL memungkinkan seorang pengguna utk secara eksplisit mengendalikan aspek bgm sebuah transaksi harus dijalankan (Ramakrishnan, Chap 21)  Security: SQL menyediakan mekanisme utk mengendalikan akses pengguna ke obyek database seperti tables & views (Ramakrishnan, Chap 21)

5 Contoh Instances  Contoh-contoh sebagian instances dari relasi Sailors, Boats, dan Reserves akan digunakan dalam contoh-contoh spesifikasi SQL Reserves (R1) Sailor (S1) Sailor(S2) Boat(B1) sidsnameratingage 22 dustin lubber rusty sidsnameratingage 28 yuppy lubber guppy rusty bidbnamecolor 101 Interlakeblue 103 Clippergreen sidbidday /10/ /12/96

6 Basic SQL Query  relation-list Satu list nama-nama relasi (mungkin diikuti dengan sebuah range-variable setelah setiap nama relasi).  target-list Satu list attribut dari relasi dlm relation-list  qualification Perbandingan (Attr op const, or Attr1 op Attr2, dimana op adalah salah satu dari ( , , , , ,  ) yang dikombinasikan menggunakan konjungsi logika AND, OR, atau NOT.  DISTINCT merupakan sebuah keyword optimal yang mengindikasikan bahwa jawaban query tidak boleh berisi duplikasi baris. Default-nya adalah duplikasi TIDAK dieliminasi! SELECT [DISTINCT] target-list FROM relation-list WHERE qualification

7 Strategi Evaluasi Konseptual  Semantik dari sebuah query SQL didefinisikan berdasarkan strategi evaluasi konseptual berikut:  Hitung hasil “cross-product” dari relation-list.  Buang tuples hasil jika tuples tsb tidak memenuhi qualifications.  Hapus attributes yang tidak ada dalam target-list.  Jika digunakan DISTINCT, lakukan eliminasi baris-baris yang duplikasi.  Strategi di atas mungkin merupakan cara yang paling tidak efisien utk menghitung sebuah query! Untuk ini, sebuah “optimizer” akan mencari strategi yang lebih efisien utk menghitung jawaban yang sama.

8 Contoh Hasil Evaluasi Konseptual SELECT S.sname FROM Sailors S, Reserves R WHERE S.sid=R.sid AND R.bid=103 Range variables (sid)snameratingage(sid)bidday 22 dustin /10/96 22 dustin /12/96 31 lubber /10/96 31 lubber /12/96 58 rusty /10/96 58 rusty /12/96

9 Catatan utk “Range Variables”  Sebenarnya hanya diperlukan jika ralasi yang sama muncul dua kali dalam FROM clause. Untuk ini query sebelumnya dapat juga ditulis menjadi: SELECT S.sname FROM Sailors S, Reserves R WHERE S.sid=R.sid AND bid=103 SELECT sname FROM Sailors, Reserves WHERE Sailors.sid=Reserves.sid AND bid=103 Namun demikian, merupakan good style untuk selalu menggunakan range variables! ATAU

10 Dapatkan sailors yang telah melakukan reservasi boat  Apakah penambahan opsi DISTINCT pada query di atas akan memberikan perbedaan hasil query?  Apa efek yang akan terjadi jika S.sid diganti dengan S.sname dalam SELECT clause? Juga, Apakah penambahan opsi DISTINCT pada query ini akan memberikan perbedaan hasil query? SELECT S.sid FROM Sailors S, Reserves R WHERE S.sid=R.sid

11 Persamaan & Strings  Contoh di atas mengilustrasikan penggunan persamaan matematik dan penyamaan pola string: Dapatkan triples (terdiri dari ages of sailors dan dua fields yang didefinsisikan oleh persamaan) untuk sailors yang namanya diawali dan diakhiri dengan huruf B dan paling sedikit terdiri dari 3 karakter  AS dan = merupakan dua cara utk menamakan fields dalam hasil query.  LIKE digunakan utk “string matching”. ‘_’ menyatakan sembarang satu karakter, dan ‘%’ menyatakan sembarang string karakter dengan panjang 0 atau lebih. SELECT S.age, age1=S.age-5, 2*S.age AS age2 FROM Sailors S WHERE S.sname LIKE ‘B_%B’

12 Dapatkan sid dari sailors yang telah melakukan reservasi sebuah red boat atau sebuah green boat  UNION: dpt digunakan utk menghitung union dari sembarang dua union-compatible sets of tuples yang merupakan hasil dari dua SQL queries.  Jika OR diganti dg AND dlm query pertama, apa yang akan diperoleh?  Juga tersedia: EXCEPT untuk menghitung set difference dari sembarang dua union-compatible sets of tuples (Apa yang akan diperoleh jika UNION diganti dengan EXCEPT?) SELECT S.sid FROM Sailors S, Boats B, Reserves R WHERE S.sid=R.sid AND R.bid=B.bid AND (B.color=‘red’ OR B.color=‘green’) SELECT S.sid FROM Sailors S, Boats B, Reserves R WHERE S.sid=R.sid AND R.bid=B.bid AND B.color=‘red’ UNION SELECT S.sid FROM Sailors S, Boats B, Reserves R WHERE S.sid=R.sid AND R.bid=B.bid AND B.color=‘green’ UNION, INTERSECT & EXCEPT

13 Dapatkan sid dari sailors yang telah melakukan reservasi sebuah red boat dan sebuah green boat  INTERSECT: dpt digunakan utk menghitung interseksi dari sembarang dua union- compatible sets of tuples.  Dimasukkan dlm standar SQL/92, tetapi beberapa sistem tidak mendukungnya.  Bedakan secara jelas query UNION & INTERSECT ! Seberapa jauh kedua berbeda ? (tanpa secara eksplisit menggunakan keyword UNION & INTERSECT) SELECT S.sid FROM Sailors S, Boats B1, Reserves R1, Boats B2, Reserves R2 WHERE S.sid=R1.sid AND R1.bid=B1.bid AND S.sid=R2.sid AND R2.bid=B2.bid AND (B1.color=‘red’ AND B2.color=‘green’) SELECT S.sid FROM Sailors S, Boats B, Reserves R WHERE S.sid=R.sid AND R.bid=B.bid AND B.color=‘red’ INTERSECT SELECT S.sid FROM Sailors S, Boats B, Reserves R WHERE S.sid=R.sid AND R.bid=B.bid AND B.color=‘green’

14 Nested Queries  Merupakan fitur SQL yang sangat berguna: sebuah WHERE clause dpt berisikan sebuah SQL query!  Dalam conth di atas, untuk mendapatkan sailors yang tidak melakukan reservasi boat bernomor 103  gunakan NOT IN.  Utk memahami semantik dari nested queries, pikirkan evaluasi sebuah nested loops : Untuk setiap tuple dari outer query, cek kualifikasinya dengan cara membandingkannya dengan hasil perhitungan subquery. SELECT S.sname FROM Sailors S WHERE S.sid IN ( SELECT R.sid FROM Reserves R WHERE R.bid=103) Dapatkan names dari sailors yang telah melakukan reservasi boat bernomor 103

15 Nested Queries dengan Korelasi  EXISTS adalah bentuk operator perbandingan yang lain (seperti halnya IN) yang bernilai TRUE jika subquery yang digunakan sbg parameternya tidak menghasilkan set kosong.  Jika keyword UNIQUE digunakan pada subquery, dan * diganti dengan R.bid pada spesifikasi SQL di atas, maka query akan menjadi: dapatkan sailors yang melakukan reservasi paling banyak satu boat bernomor 103. (UNIQUE memeriksa duplikasi tuples; * menyatakan semua attributes)  Untuk query di atas, secara umum subquery harus dihitung ulang untuk setiap Sailors tuple, mengapa? SELECT S.sname FROM Sailors S WHERE EXISTS ( SELECT * FROM Reserves R WHERE R.bid=103 AND S.sid=R.sid) Dapatkan names dari sailors yang telah melakukan reservasi boat bernomor103

16 Lebih Jauh mengenai Set-Comparison Operators  Sebelumnya telah dibahas penggunaan IN, EXISTS dan UNIQUE. Juga dpt digunakan NOT IN, NOT EXISTS dan NOT UNIQUE.  Selain itu, juag tersedia: op ANY, op ALL, dimana op salah satu dari , , , , , . Contoh: dapatkan sailors yang mempunyai rating lebih besar dari rating sailor bernama Horatio SELECT * FROM Sailors S WHERE S.rating > ANY ( SELECT S2.rating FROM Sailors S2 WHERE S2.sname=‘Horatio’)

17 Menuliskan kembali INTERSECT Queries dg Menggunakan operator IN  Untuk mendapatkan names (bukan sid) dari Sailors yang telah melakukan reservasi baik red boat maupun green boats, hanya ganti S.sid dengan S.sname dalam SELECT clause.  Demikian pula, EXCEPT queries dapat ditulis kembali dengan menggunakan NOT IN. Dapatkan sid dari sailors yang telah melakukan reservasi baik red boat maupun green boat SELECT S.sid FROM Sailors S, Boats B, Reserves R WHERE S.sid=R.sid AND R.bid=B.bid AND B.color=‘red’ AND S.sid IN (SELECT S2.sid FROM Sailors S2, Boats B2, Reserves R2 WHERE S2.sid=R2.sid AND R2.bid=B2.bid AND B2.color=‘green’)

18 Division dalam SQL  Cara yang lebih sulit, tanpa menggunakan EXCEPT : SELECT S.sname FROM Sailors S WHERE NOT EXISTS (( SELECT B.bid FROM Boats B) EXCEPT ( SELECT R.bid FROM Reserves R WHERE R.sid=S.sid)) SELECT S.sname FROM Sailors S WHERE NOT EXISTS ( SELECT B.bid FROM Boats B WHERE NOT EXISTS ( SELECT R.bid FROM Reserves R WHERE R.bid=B.bid AND R.sid=S.sid)) Dapatkan sailor S sedemikian rupa sehingga TIDAK terdapat boat yang TIDAK direservasi oleh S Dapatkan sailors yang telah melakukan reservasi semua boats (1) (2)

19 Operator Aggregasi  Perluasan yang signifikan dari aljabar relasional COUNT (*) COUNT ( [DISTINCT] A) SUM ( [DISTINCT] A) AVG ( [DISTINCT] A) MAX (A) MIN (A) SELECT AVG (S.age) FROM Sailors S WHERE S.rating=10 SELECT COUNT (*) FROM Sailors S SELECT AVG (DISTINCT S.age) FROM Sailors S WHERE S.rating=10 SELECT S.sname FROM Sailors S WHERE S.rating= (SELECT MAX(S2.rating) FROM Sailors S2) single column SELECT COUNT (DISTINCT S.rating) FROM Sailors S WHERE S.sname=‘Bob’

20 Dapatkan name dan age dari sailor(s) yang paling tua  Query pertama ilegal! (Mengapa?, alasan lihat penggunaan keyword GROUP BY)  Query ketiga ekivalen dengan query kedua yang diperbolehkan dalam SQL/92, tetapi tidak lagi banyak didukung dalam beberapa sistem yang ada pada saat ini SELECT S.sname, MAX (S.age) FROM Sailors S SELECT S.sname, S.age FROM Sailors S WHERE S.age = ( SELECT MAX (S2.age) FROM Sailors S2) SELECT S.sname, S.age FROM Sailors S WHERE ( SELECT MAX (S2.age) FROM Sailors S2) = S.age

21 GROUP BY & HAVING  Sejauh ini telah dibahas penggunaan operator aggregasi ke semua tuples (yang memenuhi kualifikasi). Namun, seringkali kita menginginkan utk mengaplikasi-kannya pada setiap beberapa kelompok (groups) dari tuples.  Sebagai contoh, perhatikan query: Dapatkan age dari sailor yang termuda untuk setiap level dari rating yang ada  Secara umum, kita tidak tahu berapa jumlah level dari rating yang ada dalam database, demikian pula berapa nilai-nilai rating dari semua level yang ada dalam database !  Jika, misalnya, kita tahu bahwa nilai-nilai rating berada dalam range 1 s.d. 10, maka kita dapat menuliskan 10 queries seperti berikut ! SELECT MIN (S.age) FROM Sailors S WHERE S.rating = i For i = 1, 2,..., 10:

22 Queries yang Melibatkan GROUP BY & HAVING  target-list terdiri dari: (a) attribute names, dan (b) “terms” berisikan operasi-operasi aggregasi (misal, MIN (S.age)).  attribute name dituliskan dlm target-list harus juga menjadi subset dari grouping-list.  Secara intuitif, setiap tuple jawaban berkorespondensi dengan sebuah group, dan attribute tersebut harus memiliki sebuah nilai tunggal untuk setiap group.  Sebuah group adalah satu set tuples yang mempunyai nilai yang sama untuk semua attributes yang ada dalam grouping-list. SELECT [DISTINCT] target-list FROM relation-list WHERE qualification GROUP BY grouping-list [HAVING group-qualification ]

23 Evaluasi Konseptual dari Queries yang Melibatkan GROUP BY & HAVING  Cross-product dari relation-list dihitung, tuples yang tidak memenuhi qualification dibuang, fields “yang tidak diperlukan” dihapus, dan tuples yang tersisa dipartisi menjadi sejumlah group berdasarkan nilai attribut yang ada dalam grouping-list.  term (berupa satu atau lebih operator aggregasi) diaplikasikan pada tuples dari setiap group.  group-qualification kemudian diaplikasikan utk mengeliminasi beberapa groups. Persamaan dlm group-qualification harus mempunyai single value per group!  Satu jawaban tuple dihasilkan untuk setiap qualifying group (group yang memenuhi kondisi).

24 Dapatkan age dari sailor termuda dengan usia  18 untuk setiap level rating dan minimal harus terdiri dari 2 sailors untuk setiap levelnya  Hanya S.rating dan S.age yang disebutkan dalam SELECT, GROUP BY atau HAVING clauses; attributes lainnya menjadi tidak diperlukan.  Kolom ke-2 dari hasil query tidak mempunyai nama. (Gunakan AS utk menamakannya!) SELECT S.rating, MIN (S.age) FROM Sailors S WHERE S.age >= 18 GROUP BY S.rating HAVING COUNT (*) > 1 Relasi Jawaban

25 Untuk setiap red boat, dapatkan jumlah reservasi untuk boat tersebut  Grouping terhadap join tiga relasi.  Apa yang akan diperoleh jika B.color=‘red’ dihapus dari WHERE clause dan menambahkan HAVING clause dengan kondisi tersebut (B.color=‘red’ )? SELECT B.bid, COUNT (*) AS scount FROM Sailors S, Boats B, Reserves R WHERE S.sid=R.sid AND R.bid=B.bid AND B.color=‘red’ GROUP BY B.bid SELECT B.bid, COUNT (*) AS scount FROM Sailors S, Boats B, Reserves R WHERE S.sid=R.sid AND R.bid=B.bid GROUP BY B.bid HAVING B.color=‘red’

26 Dapatkan age dari sailor termuda dengan usia  18 untuk setiap rating yang minimal mempunyai 2 sailors (dari sembarang usia)  Menunjukkan bahwa HAVING clause juga dapat berisikan sebuah subquery.  Apa yang terjadi jika HAVING clause deganti dengan:  HAVING COUNT (*) > 1 SELECT S.rating, MIN (S.age) FROM Sailors S WHERE S.age >= 18 GROUP BY S.rating HAVING 1 < ( SELECT COUNT (*) FROM Sailors S2 WHERE S.rating=S2.rating)

27 Dapatkan ratings yang mempunyai rata-rata age paling rendah dibandingkan semua ratings yang ada  Solusi yang SALAH: operasi-operasi aggregasi tidak boleh digunakan dalam nested query! SELECT S.rating FROM Sailors S WHERE S.age = (SELECT MIN (AVG (S2.age)) FROM Sailors S2 GROUP BY S2.rating) SELECT Temp.rating, Temp.avgage FROM (SELECT S.rating, AVG (S.age) AS avgage FROM Sailors S GROUP BY S.rating) AS Temp WHERE Temp.avgage = (SELECT MIN (Temp.avgage) FROM Temp)  Solusi yang benar:

28 Null Values  Nilai-nilai fields dalam sebuah tuple kadang-kadang tidak diketahui (unknown) (Misal, sebuah nilai rating tidak diberikan) atau tidak dapat digunakan (inapplicable) (Misal, tidak mempunyai nama isteri/suami).  SQL menyediakan nilai spesial null utk keadaan-keadaan tersebut.  Adanya nilai null dapat menimbulkan beberapa komplikasi. Sebagai contoh:  Operators spesial diperlukan utk melakukan pengecekan apakah nilai null atau not null.  Diperlukan 3-valued logic (true, false dan unknown).  Bagaimana dengan penggunaan penghubung AND, OR dan NOT ?  Makna dari bentukan-bentukan query harus didefinisikan dengan cermat. (misal, WHERE clause akan mengeliminasi baris-baris yang tidak dievaluasi dengan nilai true)

29 Null Values dan Operator Perbandingan serta Konjungsi AND, OR dan NOT  Perbandingan dua nilai null menggunakan operator perbandingan , , , , ,  selalu menghasilkan nilai unknown  SQL menyediakan sebuah operator perbandingan khusus IS NULL atau IS NOT NULL untuk melakukan pengujian apakah nilai dari suatu kolom adalah NULL atau NOT NULL  NOT unknown dievaluasi unknown  OR dari dua buah argumen akan dievaluasi:  true jika salah satu argumen bernilai true  false jika kedua argumen bernilai false  unknown jika satu argumen dievaluasi false dan argumen lainnya dievaluasi unkwon  AND dari dua buah argumen akan dievaluasi:  false jika salah satu argumen bernilai false  true jika kedua argumen bernilai true  unknown jika satu argumen dievaluasi true dan argumen lainnya dievaluasi unknown

30 Dampak Null Values pada Bentukan SQL  Untuk kualifikasi dalam WHERE clause, keberadaan null values mengakibatkan sembarang baris yang menghasilkan evaluasi false atau unknown harus dieliminasi  Eliminasi baris-baris yang menghasilkan evaluasi unknown, walaupun tidak kentara tetapi dapat mempunyai dampak yang signifikan pada SQL querires, terutama nested queries yang melibatkan EXISTS atau UNIQUE  Persoalan lain dalam kaitan dengan keberadaan null values adalah definisi kapan dua baris dalam sebuah nilai relasi dianggap duplikasi  Definisi SQL menyatakan bhw dua baris dinyatakan duplikasi bilamana nilai kolom- kolom yang bersesuaian adalah sama atau berisi nilai null  Dalam kenyataan, perbandingan dua buah nilai null menggunakan operator “=“ akan menghasilkan nilai unknown; dimana untuk kontek duplikasi, perbandingan ini secara implisit akan diperlakukan sebagai nilai true (yang merupakan anomali !!)

31 Dampak Null Values pada Konsepsi SQL (Lanjutan)  Operasi-operasi aritmatika +, -, *, dan /, semuanya menghasilkan nilai null jika salah satu argumennya bernilai null  Null values dapat menimbulkan kelakukan yang tidak diharapkan untuk operasi-operasi aggregasi  COUNT (*) memperlakukan null values seperti halnya nilai-nilai lainnya (ikut diperlhitungkan)  Operasi-operasi aggregasi lainnya (COUNT, SUM, AVG, MIN, MAX, dan variasi penggunaan DISTINCT) mengabaikan null values

32 Null Values dan Outer Joins  SQL menyediakan operasi yang disebut outer joins yang merupakan varian dari operasi join yang bergantung pada null values  Dalam operasi [inner] join, tuples yang tidak memenuhi kondisi join tidak muncul dalam hasil  Dalam outer join, baris-baris yang tidak memenuhi kondisi join muncul dalam hasil dengan kolom-kolom yang tidak memenuhi kondisi diberikan null values  Terdapat tiga variasi outer join:  Left outer join, baris-baris dari relasi pertama yang tidak mempunyai matching dengan baris dalam relasi kedua muncul dalam hasil  Right outer join, baris-baris dari relasi kedua yang tidak mempunyai matching dengan baris dalam relasi pertama muncul dalam hasil  Full outer join, baris-baris yang tidak mempunyai matching dalam relasi kedua muncul dalam hasil  Dalam SQL, jenis join yang diinginkan dispesifikasikan dalam FROM clause: SELECTS.Sid, R.bid FROMSailors S NATURAL LEFT OUTER JOIN Reserves R

33 Tidak Membolehkan Null Values  Null values dapat tidak dibolehkan untuk muncul dengan menspesifikasikan NOT NULL sebagai bagian dari definisi field- field yang diinginkan. Contoh: sname CHAR(20)NOT NULL  Selain itu, fields dalam primary key tidak diperbolehkan bernilai null  Untuk ini terdapat constraint implisit NOT NULL untuk setiap field yang dinyatakan dalam PRIMARY KEY constraint Pembahasan null values dalam bab ini jauh dari lengkap. Bagi yang ingin mengetahuinya secara lebih rinci dapat mengacu ke beberapa buku yang secara khusus membahas tentang SQL

34 Integrity Constraints (Review)  Sebuah IC menjelaskasn kondisi yang harus dipenuhi oleh setiap legal instance dari suatu relasi.  Inserts/deletes/updates yang melanggar IC tidak diperbolehkan.  Dapat digunakan utk menjamin semantik dari aplikasi (misal, sid adalah sebuah key), atau mencegah terjadinya inkonsistensi (misal, sname hrs berupa string, age harus < 200)  Jenis IC: Domain constraints, primary key constraints, foreign key constraints, general constraints.  Domain constraints: Nilai-nilai field harus dari tipe data yang benar. Harus selalu dipaksakan.

35 Domain Constraints & Distinct Types  Sebuah domain baru dapat didefinisikan menggunakan statement CREATE DOMAIN dan CHECK constranits CREATE DOMAIN ratingval INTEGER DEAFULT 1 CHECK (VALUE >= 1 AND VALUE = 1 AND VALUE <= 10)  Begitu sebuah domain telah didefinisikan, nama domain dpt digunakan dalam deklarasi sebuah skema  Sebuah distinct type dapat didefiniskan dalam SQL/99: CREATE TYPE ratingtype is INTEGER CREATE TYPE ratingtype is INTEGER  Nilai-nilai dengan tipe ratingtype dapat dibandingkan satu dengan lainnya  Namun, nilai-nilai dengan tipe ratingtype akan diperlakukan berbeda dengan nilai tipe-tipe lainnya yang sejenis (termasuk nilai-nilai dari tipe sumbernya, INTEGER)

36 General Constraints pada Satu Tabel Tunggal  Bermanfaat bilamana melibatkan lebih banyak general IC  Dapat menggunakan quries untuk mengekspresika n constraints  Constraints dapat diberi nama. CREATE TABLE Sailors ( sid INTEGER, sname CHAR(10), rating INTEGER, age REAL, PRIMARY KEY (sid), CHECK ( rating >= 1 AND rating <= 10 ) CREATE TABLE Reserves ( sname CHAR(10), bid INTEGER, day DATE, PRIMARY KEY (bid,day), CONSTRAINT noInterlakeRes CHECK (`Interlake’ <> ( SELECT B.bname FROM Boats B WHERE B.bid=bid)))

37 Constraints utk Multiple Relations CREATE TABLE Sailors ( sid INTEGER, sname CHAR(10), rating INTEGER, age REAL, PRIMARY KEY (sid), CHECK ((SELECT COUNT (S.sid) FROM Sailors S) + (SELECT COUNT (B.bid) FROM Boats B)) < 100 ) CREATE ASSERTION smallClub CHECK( (( SELECT COUNT (S.sid) FROM Sailors S) + ( SELECT COUNT (B.bid) FROM Boats B)) < 100) Constraint: Jumlah boats plus jumlah Sailors hrs < 100  Nampak aneh dan salah. Berkaitan dg Sailors, tapi melibatkan Boats!  Jika Sailors kosong, jumlah Boats tuples dapat berupa sesuatu dan > 100 !  ASSERTION adalah solusi yang benar; tidak diasosiasikan dengan sutau tabel tertentu

38 Triggers  Trigger: procedure yang dipanggil secara otomatis oleh DBMS sebagai respon terhadap perubahan-perubahan dalam database, khusunya yang dispesifikasikan oleh DBA  Deskripsi trigger terdiri dari 3 bagian:  Event: Perubahan pada database yang mengaktifkan trigger  Condition: Query atau pengujian yang dijalankan bilamana trigger diaktifkan  Action: Prosedur yang dijalankan bilamana trigger diaktifkan dan kondisinya bernilai true  Database yang memiliki satu set triggers disebut active database

39 Triggers dalam SQL/99  Basic events yang dapat dispesifikasikan untuk mentrigger sejumlah aturan (rules) adalah perintah-perintah SQL UPDATE standar: INSERT, DELETE, dan UPDATE.  Untuk kasus UPDATE, attributes yang akan di-update dapat dinyatakan secara eksplisit  Menyediakan row-level trigger dan statement-level trigger.  Menggunakan clause FOR EACH ROW utk row-level, dan cluase FOR EACH STATEMENT utk statement-level  Dapat menggunakan tuple/table variable name untuk mengacu ke tuples yang lama (old) dan baru (new)  Dalam row-level trigger, clause REFERENCING digunakan untuk mengacu ke sebuah baris baru (yang baru disisipkan atau baru di-update) yang dinyatakan sbg new row variable name, sedang old row variable name digunakan utk mengacu ke sebuah baris lama (baris yang telah dihapus atau tuple lama sebelum dilakukan update)  Dalam statement-level trigger, clause REFERENCING digunakan untuk mengacu ke tabel dari semua tuples baru (yang baru disisipkan atau baru di-update) sbg new table variable name, sedang old table variable name digunakan utk mengacu ke tabel dari semua tuples lama (tuples yang telah dihapus atau tuples lama sebelum dilakukan update)

40 Row-Level Trigger: Contoh-1  Tables:  Employee (Name, SSN, Salary, Dno, Supervisor_SSN)  Department (Dname, DNO, Total_Sal, Manager_SSN) CREATE TRIGGER TotalSal_1 AFTER INSERT ON Employee REFERENCING OLD ROW AS O, NEW ROW AS N FOR EACH ROW WHEN (N.DNO IS NOT NULL) UPDATE Department SET Total_Sal = Total_Sal + N.Salary WHERE DNO = N.DNO;

41 Row-Level Trigger: Contoh-2  Tables:  Employee (Name, SSN, Salary, Dno, Supervisor_SSN)  Department (Dname, DNO, Total_Sal, Manager_SSN) CREATE TRIGGER TotalSal_2 AFTER UPDATE OF DNO ON Employee REFERENCING OLD ROW AS O, NEW ROW AS N FOR EACH ROW BEGIN UPDATE Department SET Total_sal = Total_Sal + N.Salary WHERE DNO = N.DNO; UPDATE Department SET Total_sal = Total_Sal - O.Salary WHERE DNO = O.DNO END;

42 Row-Level Trigger: Contoh-3  Tables:  Employee (Name, SSN, Salary, Dno, Supervisor_SSN)  Department (Dname, DNO, Total_Sal, Manager_SSN) CREATE TRIGGER TotalSal_3 AFTER DELETE ON Employee REFERENCING OLD ROW AS O FOR EACH ROW WHEN (O.DNO IS NOT NULL) UPDATE Department SET Total_sal = Total_Sal - O.Salary WHERE DNO = O.DNO END;

43 Row-Level Trigger: Contoh-4  Tables:  Employee (Name, SSN, Salary, Dno, Supervisor_SSN)  Department (Dname, DNO, Total_Sal, Manager_SSN) CREATE TRIGGER Inform_Supervisor_1 BEFORE INSERT OR UPDATE OF Salary, Supervisor_SSN ON EMPLOYEE REFERENCING OLD ROW AS O, NEW ROW AS N FOR EACH ROW WHEN (N.Salary > ( SELECT Salary FROM Employee WHERE SSN = N.Supervisor_SSN ) ) inform_supervisor (N.Supervisor_SNN, N.SSN); //Diasumsikan “inform_supervisor” sebagai sebuah external procedure untuk memberikan notifikasi kepada supervisor memberikan notifikasi kepada supervisor

44 Statement-Level Trigger: Contoh-1  Tables:  Employee (Name, SSN, Salary, Dno, Supervisor_SSN)  Department (Dname, DNO, Total_Sal, Manager_SSN) CREATE TRIGGER TotalSal_4 AFTER UPDATE OF Salary ON EMPLOYEE REFERENCING OLD TABLE AS O, NEW TABLE AS N FOR EACH STATEMENT WHEN EXISTS ( SELECT * FROM N WHERE N.DNO IS NOT NULL ) OR EXISTS ( SELECT * FROM O WHERE O.DNO IS NOT NULL ) UPDATE Department AS D SET D.Total_Sal =D.Total_Sal + ( SELECT SUM (N.Salary) FROM N WHERE D.DNO = N.DNO ) - ( SELECT SUM (O.Salary) FROM O WHERE D.DNO = O.DNO ) WHERE DNO IN ( (SELECT DNO FROM N) UNION (SELECT DNO FROM O) ); - ( SELECT SUM (O.Salary) FROM O WHERE D.DNO = O.DNO ) WHERE DNO IN ( (SELECT DNO FROM N) UNION (SELECT DNO FROM O) );

45 Statement-Level Trigger: Contoh-2  Table:  Sailors (sid, name, age, rating) CREATE TRIGGER youngSailorUpdate AFTER INSERT ON Sailors AFTER INSERT ON Sailors REFERENCING NEW TABLE NewSailors FOR EACH STATEMENT INSERT INSERT INTO YoungSailors(sid, name, age, rating) INTO YoungSailors(sid, name, age, rating) SELECT sid, name, age, rating SELECT sid, name, age, rating FROM NewSailors N FROM NewSailors N WHERE N.age <= 18 WHERE N.age <= 18

46 Statement-Level Trigger: Contoh-3  Table:  Students (sid, name, age, gpa) CREATE TRIGGER setCount AFTER INSERT ON Students AFTER INSERT ON Students REFERENCING NEW TABLE AS InsertedTuples FOR EACH STATEMENT INSERT INSERT INTO StatisticsTable(ModifiedTable, ModificationType, Count) INTO StatisticsTable(ModifiedTable, ModificationType, Count) SELECT ‘Students’, ‘Insert’, COUNT * SELECT ‘Students’, ‘Insert’, COUNT * FROM InsertedTuples I FROM InsertedTuples I WHERE I.age < 18 WHERE I.age < 18

47 Active Databases: Mengapa Triggers Dpt Menjadi Sulit Dipahami?  Dlm sebuah active database system, pada saat DBMS akan mengeksekusi suatu statement yang memodifikasi database, DBMS akan memeriksa apakah beberapa trigger diaktifkan oleh statement tsb.  Jika ya, maka DBMS memproses trigger dengan cara mengevaluasi bagian kondisinya, dan (jika evalusai kondisi bernilai true) maka DBM akan mengeksekusi bagian action dari trigger  Jika sebuah statement mengaktifkan lebih dari satu trigger, secara tipikal DBMS akan memproses semuanya dengan urutan sembarang.  Sebuah trigger dpt mengaktifkan trigger lainnya, yang pada gilirannya trigger yang diaktifkan dpt mengaktifkan trigger yang sama yang disebut “recursive triggers”.  Aktivasi triggers yang membentuk “rantai” dapat menimbulkan kesulitan untuk memahami efek yang dapat ditimbulkannya

48 Active Databases: Constraints v.s. Triggers  Penggunaan triggers yang umum adalah untuk memelihara konsistensi database.  Untuk ini kita harus selalu mempertimbangkan bahwa penggunaan sebuah IC (misal, FK constraint) dapat memenuhi tujuan yang sama  Makna dari sebuah constraint tidak didefinisikan secara operasional (tidak seperti pengaruh sebuah trigger)  Sifat ini menjadikan constraint lebih mudah untuk dipahami, dan memberi peluang bagi DBMS untuk mengoptimasi eksekusinya  Constraint juga mencegah terjadinya inkonsistensi data oleh suatu statement. Beda dengan trigger yang diaktivasi oleh suatu statement yang spesifik (INSERT, DELETE, atau UPDATE). Hal ini menjadikan constraint lebih mudah dipahami  Sebaliknya, triggers memungkinkan kita untuk memelihara database integrity dalam cara yang lebih fleksibel.

49 Rangkuman  SQL menjadi faktor yang penting pada saat awal penerimaan model relasional, karena lebih natural dibandingkan bahasa-bahasa database sebelumnya yang bersifat prosedural (procedural query languages), seperti aljabar relasional.  SQL lengkap secara rasional; bahkan dalam kenyataannya memiliki daya ekspresi yang signifikan dibandingkan aljabar relasional  Bahkan, queries yang dapat dinyatakan dalam aljabar relasional seringkali dpt dinyatakan dengan lebih natural dalam SQL.

50 Rangkuman (Lanjutan)  Terdapat banyak alternatif utk menulsikan sebuah query. Optimizer harus mencari rencana evaluasi yang paling efisien  Dalam praktek, pengguna perlu memikirkan bagaimana queries dioptimalkan dan dievaluasi untuk memberikan hasil terbaik  Nilai NULL untuk nilai-nilai field yang tidak diketahui (unknown) dapat menimbulkan banyak komplikasi  SQL memungkinkan untuk menspesifikasikan berbagai jenis integrity constraints  Triggers memberikan respon otomatis terhadap terjadinya perubahan-perubahan dalam database


Download ppt "SQL: Queries, Constraints & Triggers (Chap. 5 – Ramakrishnan)"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google