Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi Kasus: Gangguan Nutrisi Oleh Angela Christina Narasumber: Dr. dr. Lanny Christine Gultom, SpA.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Presentasi Kasus: Gangguan Nutrisi Oleh Angela Christina Narasumber: Dr. dr. Lanny Christine Gultom, SpA."— Transcript presentasi:

1 Presentasi Kasus: Gangguan Nutrisi Oleh Angela Christina Narasumber: Dr. dr. Lanny Christine Gultom, SpA

2 Ilustrasi Kasus Nama: An. AF Jenis kelamin: Laki-laki Usia: 8 tahun Tanggal lahir: 9 Maret 2006 No rekam medis: Caretaker: Tante Alloanamnesis: Tante Tanggal masuk: 15 Maret 2014 Tanggal pemeriksaan: 18 Maret 2014

3 Keluhan Utama – Diare yang memberat 1 minggu SMRS RPS – Diare sejak 1 bulan, memberat 1 minggu – BAB >4x/hari, cair, ampas (-), lendir (-), darah (-), busa (+), kuning-coklat, cucian beras (-) – Tetap diare meski makan dihentikan – Nyeri perut (-), mules (-) – Demam (+) 1 minggu SMRS, tidak diukur – Muntah (+), mual (-)

4 ...Riwayat Penyakit Sekarang 1 minggu SMRS, sariawan & nyeri tenggorok – Sakit menelan – Muncul bercak-bercak putih di mulut dan lidah – Pinggir bibir kering dan luka, pasien jarang membuka mulut, hanya mau makan 2-3 sendok – Cenderung minum yang banyak supaya nyeri tenggorok berkurang Pasien tampak semakin kurus – Awal 18 kg, turun 4 kg sejak 1 bulan SMRS – Sangat lemas, tidak mampu berdiri/berjalan sendiri – Tidak masuk sekolah sejak 1 minggu SMRS – Mata tampak lebih cekung dari biasa

5 ...Riwayat Penyakit Sekarang Batuk sejak 1 bulan SMRS – Sempat sembuh, kemudian batuk lagi – Awal: dahak (-), sejak 3 hari (+) warna hijau – Demam naik turun sejak 1 minggu SMRS – Keringat malam (-) – Kontak TB (-), belum pernah diperiksa – Berat badan sulit naik sejak 1 tahun SMRS

6 Riwayat Penyakit Dahulu Pernah diare selama 2 minggu, 1 tahun SMRS – Napsu makan baik – Demam (-) – Turun BB (-) Sering batuk pilek dan bisul kulit Tidak pernah diare karena minum susu sapi Sakit lama, alergi, riwayat TB, kejang, minum obat dalam jangka panjang disangkal

7 1 tahun SMRS Diare 2 minggu BB sulit naik 1 bulan SMRS Diare Batuk 1 minggu SMRS Diare memberat Sariawan Intake sulit Demam Batuk IGD Tampak semakin kurus Turun BB 4 kg Lemas Mata cekung

8 Riwayat Penyakit Keluarga – Batuk lama (-), batuk darah (-) – Orang tua pasien meninggal karena sakit namun tidak diketahui sakit apa Riwayat Sosial Ekonomi, Lingkungan – Diangkat tantenya sejak pasien usia 1 thn karena orang tua meninggal (ibu saat pasien usia 1 thn, ayah saat usia 8 thn) – Tinggal dengan 2 kakak, tante, dan om (supir pribadi & kuli) – Jaminan JKN – Tidak diberi uang jajan, sering mendapat jajan dari guru & org tua murid, sering jajan es, mie kocok, mie lain

9 Riwayat Kehamilan – Tidak diketahui sakit apa ibunya saat hamil, minum obat (?) – Ibu meninggal saat usia pasien 1 tahun Riwayat kelahiran – Ditolong bidan, spontan, cukup bulan – APGAR, PL, dan BL tidak diketahui – Langsung menangis, biru(-), pucat (-), kuning (-), kejang (-), mekonium hijau (+) – Kelainan bawaan sejak lahir (-)

10 Riwayat Nutrisi – ASI & susu formula tidak diketahui – Pola makan biasa, 3x/hari, selalu habis 1 porsi, biasa: nasi lauk pauk & sayur – Sejak lahir ukuran tubuh sedang, tidak pernah gemuk, tidak terlalu kurus – BB turun 18 kg menjadi 14 kg dalam 1 bln, BB sulit bertambah sejak 1 thn SMRS Riwayat Imunisasi – Hanya saat lahir, campak di sekolah, dan imunisasi oral Riwayat Tumbuh Kembang – Saat ini kelas 2 SD, usia 8 tahun – Mampu mengikuti pelajaran sekolah

11 Pemeriksaan Fisik 15 Maret 2014 Antropometrik – Berat badan= 14 kg – Tinggi badan= 116 cm – LLA = 11,5 cm Status Nutrisi – BB/U: 14/26 x 100% = 53,8% – TB/U: 116/128 x 100% = 90,6% – BB/TB: 14/21 x 100% = 66,6% – Tebal lemak lengan atas kiri 0,8 cm Kesimpulan: gizi buruk marasmik

12 KesadaranKompos mentis Keadaan umum Tampak sakit berat, tidak tampak pucat, tidak tampak sianosis, tidak tampak kuning, aktif bergerak Denyut nadi110x/ menit, reguler, isi cukup, ekual Laju napas28x/ menit Suhu Tekanan darah 37,3°C di axilla 100/60 mmHg Kepala Normosefal, tidak ada deformitas, rambut hitam, persebaran merata, tidak mudah dicabut Mata Mata terlihat cekung, konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik, RCL +/+, RCTL +/+ HidungTidak ada napas cuping hidung. MulutMukosa kering, ada oral trush. TelingaTidak ada deformitas, tidak ada sekret, membran timpani intak LeherKGB tidak teraba membesar, tidak ada gerakan otot bantu napas m. sternokleidomastoideus

13 Paru Inspeksi: tidak ada kelainan bentuk dada, pergerakan dada simetris, tidak ada retraksi. Palpasi: fremitus simetris Perkusi: sonor/sonor Auskultasi: vesikuler/vesikuler, tidak ada rhonki dan tidak ada wheezing. Jantung Inspeksi: iktus kordis tidak terlihat Palpasi: iktus kordis teraba di sela iga IV 1 jari medial linea midklavikula kiri, tidak ada heaving, lifting, maupun thrilling Perkusi: batas jantung normal Auskultasi: BJ I-II normal, tidak ada murmur, tidak ada gallop Abdomen Inspeksi: datar, lemas, tidak terdapat venektasi Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan, hepar teraba 3 cm di bawah arcus costae, 5 cm di bawah prosesus xyphoideus, tepi tajam, permukaan rata, kenyal. Lien tidak teraba. Perkusi: shifting dullness (-) Auskultasi: bising usus (+) normal PunggungTidak terdapat gibbus, tidak terdapat deformitas lainnya GenitalTidak diperiksa AnusTidak diperiksa Extremitas Tidak terdapat pitting edema, terdapat wasting, terdapat clubbing finger, tidak terdapat baggy pants KulitTurgor kulit kurang

14

15

16 Pemeriksaan Fisik 18 Maret 2014 KesadaranKompos mentis Keadaan umum Tampak sakit berat, tidak tampak pucat, tidak tampak sianosis, tidak tampak kuning, aktif bergerak Denyut nadi104x/ menit, reguler, isi cukup, ekual Laju napas18x/ menit Suhu Tekanan darah 36,3°C di axilla 120/70 mmHg Kepala Normosefal, tidak ada deformitas, rambut hitam, persebaran merata, tidak mudah dicabut, muka tampak lebih tua dari usia Mata Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik, becak bitot tidak ada, ulkus kornea tidak ada HidungTidak ada napas cuping hidung. MulutMukosa kering, tidak ada oral thrush. TelingaTidak ada deformitas, tidak ada sekret, membran timpani intak LeherKGB tidak teraba membesar, tidak ada gerakan otot bantu napas m. sternokleidomastoideus

17 Paru Inspeksi: tidak ada kelainan bentuk dada, pergerakan dada simetris, tidak ada retraksi. Palpasi: fremitus simetris Perkusi: sonor/sonor Auskultasi: vesikuler/vesikuler, tidak ada rhonki dan tidak ada wheezing. Jantung Inspeksi: iktus kordis tidak terlihat Palpasi: iktus kordis teraba di sela iga IV 1 jari medial linea midklavikula kiri, tidak ada heaving, lifting, maupun thrilling Perkusi: batas jantung normal Auskultasi: BJ I-II normal, tidak ada murmur, tidak ada gallop Abdomen Inspeksi: datar, lemas, tidak terdapat venektasi Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan, hepar teraba 3 cm di bawah arcus costae, tepi tajam, permukaan rata, kenyal. Lien tidak teraba. Perkusi: shifting dullness (-) Auskultasi: bising usus (+) normal PunggungTidak terdapat gibbus, tidak terdapat deformitas lainnya GenitalTidak diperiksa AnusTidak diperiksa Extremitas Tidak terdapat pitting edema, terdapat wasting, terdapat clubbing finger, tidak terdapat baggy pants, CRT<2”, akral hangat, tidak ada pembesaran kelenjar getah bening. KulitTurgor kulit baik

18 Pemeriksaan 15/3/14HasilRujukan Hematologi Hemoglobin11,810,7 – 14,7 Hematokrit Leukosit12,25,0 – 14,5 Trombosit Eritrosit4,73,8 – 5,8 VER/HER/KHER/RDW VER72,172,0 – 88,0 HER25,023,0 – 31,0 KHER34, 726,0 – 34,0 RDW15,511,5 – 14,5 Kimia Klinik SGOT410 – 34 SGPT270 – 40 Ureum Darah540 – 48 Kreatinin Darah1,50,0 – 0,9 GDS10860 – 100

19 Elektrolit Darah 15/3/14 Natrium – 147 Kalium2,863,10 – 5,10 Klorida Analisis Gas Darah pH7,3737,370 – 7,440 pCO 2 16,635,0 – 45,0 pO 2 92,883,0 – 108,0 HCO 3 9,421,0 – 28,0 O 2 Saturasi97,295,0 – 99,0 BE (Base Excess)-12,8-2,5 – 2,5 Total CO – 24 Pemeriksaan 16//3/14HasilRujukan Ureum Darah490 – 48 Kreatinin Darah0,60 – 0,9 Natrium – 147 Kalium3,173,10 – 5,10 Klorida10495 – 108

20 Pemeriksaan Feses 17/3/14HasilRujukan Makroskopik KonsistensiLunak WarnaKuningKuning-coklat BauNormal pH87-8 Unsur lain CacingNegatif NanahNegatif LendirPositifNegatif DarahNegatif Mikroskopik Leukosit0-1<10/LPB Eritrosit0-1<3/LPB LemakNegatif E. coliNegatif E. HistolyticaNegatif AmilumNegatif JamurNegatif Serat OtotNegatif Serat TumbuhanPositifNegatif Telur CacingNegatif Kimia GulaNegatif Darah SamarNegatif Pemeriksaan BakteriologiBakteri batang gram negatif (+) CXR PA Thorax 15/3/14: infiltrat perikardiak

21 Daftar Masalah 1.Gizi buruk marasmik 2.Diare persisten dd/ diare kronik 3.Kandidosis oral perbaikan 4.Intake sulit dengan dehidrasi ringan-sedang  sudah teratasi 5.Suspek TB paru

22 Rencana Tatalaksana Rencana Diagnosis 1.Kultur darah 2.Kultur urin 3.Kultur feses 4.Analisis feses  sudah 5.Tes Mantoux Rencana Terapi 1.Rawat inap 2.Diet F-75 (bahan dasar pregestinil) 8 x 200 ml / NGT 3.KaEN 3B 1000 ml/ 24 jam + KCl 10 mg/kolf 4.Pasang NGT 5.Cefotaxime 3 x 500 mg IV 6.Mycostatin drip 3 x 2 ml 7.Metronidazol 3 x 150 mg IV 8.Vit A 1 x Asam folat 1 x 5 mg 10.Zinc 1 x 20 mg

23 Prognosis Ad vitam: bonam Ad functionam: bonam Ad sanactionam: dubia ad bonam

24 TINJAUAN PUSTAKA DAN ANALISIS KASUS

25 Gizi buruk Anamnesis: – Pengeluaran berlebihan & pemasukan nutrisi yang berkurang – Anoreksia – Mata cekung – Penurunan BB 4 kg dalam 1 bln  penurunan berat badan sebanyak 4 kg dalam 1 bulan (dari 18 kg menjadi 14 kg ~ 77% dari semula)  kehilangan berat badan sedang (16-25%). Pemeriksaan fisik: – Visible severe wasting – Jar lemak : jaringan lemak bawah kulit pada bahu, lengan, dan paha – tulang iga yang terlihat jelas & edema (-) WHO. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. Jakarta: WHO Indonesia. 2009; IDAI. Pedoman pelayanan medis IDAI. Jilid I. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 2011;

26 Antropometrik Gizi Buruk Antropometrik – Berat badan= 14 kg – Tinggi badan= 116 cm Status Nutrisi – BB/U: 14/26 x 100% = 53,8% – TB/U: 116/128 x 100% = 90,6% – BB/TB: 14/21 x 100% = 66,6%

27 BB/U BB = 14 kg BB/U = 14/26 x 100% = 53,8% >120% : gizi baik % : gizi baik 60-80% : tanpa edema; gizi kurang dengan edema; gizi buruk (kwashiorkor) <60% : gizi buruk, tanpa edema (marasmus) dengan edema (kwashiorkor) Latief A, Tumbelaka AR, Matondang CS, Chair I, Bisanto J, Abdoerrachman MH. Diagnosis fisis pada anak. Jakarta: CV Sagung Seto. 2009; 32-4.

28 TB/U TB = 116 cm % : baik/normal 70-89%: tinggi kurang <70% : tinggi sangat kurang TB/U: 116/128 x 100% = 90,6% Latief A, Tumbelaka AR, Matondang CS, Chair I, Bisanto J, Abdoerrachman MH. Diagnosis fisis pada anak. Jakarta: CV Sagung Seto. 2009; 32-4.

29 Rasio Berat Badan menurut Tinggi Badan > 120% : obes % : OW %: normal 70-90%: gizi kurang <70%: gizi buruk Latief A, Tumbelaka AR, Matondang CS, Chair I, Bisanto J, Abdoerrachman MH. Diagnosis fisis pada anak. Jakarta: CV Sagung Seto. 2009; BB/TB: 14/21 x 100% = 66,6%

30 Kemenkes. Bagan tatalaksana anak gizi buruk. Buku I. Jakarta: Direktorat bina gizi

31 Gizi Buruk Kedaruratan?  derajat dehidrasi WHO. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. Jakarta: WHO Indonesia. 2009; Diagnosis : gizi buruk dengan dehidrasi berat?

32 Dehidrasi Penting: rehidrasi pada gizi buruk tidak boleh dengan infus  overhidrasi  gagal jantung  kematian Dehidrasi, syok? – Penurunan kesadaran (-) – TD 100/60  N – HR 110x/m, kuat, isi cukup  N – Akral hangat – CRT<2” –  syok (-)  rehidrasi oral  ReSoMal – Ur/cr meningkat  paska rehidrasi  turun  GGA pre renal? ReSoMal: – 5 ml/kgBB setiap 30 menit untuk 2 jam pertama, kemudian dilanjutkan 5-10 ml/kgBB/jam berselang-seling dengan F-75 dengan jumlah sama setiap jam selama 10 jam. WHO. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. Jakarta: WHO Indonesia. 2009;

33 GDS : 108 ; T 37,3 o C Gg e- : hiponatremi (117; ) hipokalemi (2,86; 3,10-5,10) Infeksi (+): demam, leukositosis , takikardi (-), takipneu(-) Defisiensi mikro nutrien?  dianggap semua iya, dan ditatalaksana Anemia (+), bercak bitot (-), ulkus kornea (-) WHO. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. Jakarta: WHO Indonesia. 2009;

34 Hipoglikemia Semua pasien gizi buruk berisiko Harus diberikan tatalaksana segera: makan atau lar glukosa 10%, NGT pemberian awal diberikan energi kkal/kgBB/hari, protein 1-1,5 g/kgBB/hari, dan cairan 130 ml/kgBB/hari WHO. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. Jakarta: WHO Indonesia. 2009; IDAI. Pedoman pelayanan medis IDAI. Jilid I. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 2011;

35 Pada hari 1-2 frekuensi yang diberikan setiap 2 jam dengan volume per pemberian : 11 ml (11 x 14 = 154 ml). Volume yang diberikan per hari : 130 ml x 14 = ml. Pada pasien ini diberikan sebanyak 8 kali (artinya setiap jam) dengan volume 200 ml, artinya dalam sehari diberikan ml. Berdasarkan perhitungan ini sebenarnya volume cairan yang diberikan kurang. Jumlah energi yang diberikan adalah 14 x (80-100) = 1120 – 1400 kkal/hari. Pada pemberian ml x 0,75 = kkal/hari, maka pemberian kalori per hari pada tatalaksana awal ini sesuai (termasuk dalam kisaran energi yang diberikan pada fase awal).

36 Infeksi: – tidak ada komplikasi/ infeksi nyata diberi kotrimoksazol per oral (25 mg SMZ + 5 mg TMP/kgBB) setiap 12 jam selama 5 hari. – pasien : cefotaxime dan metronidazole. WHO. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. Jakarta: WHO Indonesia. 2009;

37 Mikronutrien Asam folat (5 mg pada hari 1, dan selanjutnya 1 mg/hari) Seng 2 mg Zn elemental/kgBB/hari Tembaga (0,3 mg Cu/kgBB/hari) Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai fase rehabilitasi) Vitamin A: per oral pada hari 1 Pada pasien ini diberikan vitamin A, asam folat, dan zinc namun tidak diberikan tembaga. WHO. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. Jakarta: WHO Indonesia. 2009;

38 Diare persisten dd/ diare kronis Diare: – peningkatan pengeluaran tinja dgn konsistensi lebih lunak atau lebih cair dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24 jam. Gishan: – diare kronis sebagai episode diare lebih dari 2 minggu Walker: – diare persisten dengan kondisi serupa dengan diare kronis dengan disertai berat badan menurun atau sukar naik. Bhutta: – diare kronis adalah episode diare lebih dari dua minggu, sebagian besar disebabkan diare akut berkepanjangan akibat infeksi The American Gastroenterological Association – episode diare yang berlangsung lebih dari 4 minggu, oleh etiologi non-infeksi serta memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. PPM IDAI – diare persisten tidak meliputi diare kronik atau diare rekuren, seperti tropical sprue, celiac disease, cystic fibrosis, dan kelainan herediter lain dengan manifestasi diare. Soenarto Y. Diare kronis dan diare persisten. Dalam: Buku ajar gastroenterologi-hepatologi. Jakarta: UKK-Gastroenterologi-hepatologi IDAI. 2009; IDAI. Pedoman pelayanan medis IDAI. Jilid II. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 2011; 53-9.

39 Indonesia diare persisten : infeksi diare kronis : non- infeksi. intoleransi protein susu sapi/kedelai (pada anak usia <6 bulan, tinja sering disertai dengan darah); celiac disease (gluten- sensitive enteropathy), dan cystic fibrosis. IDAI. Pedoman pelayanan medis IDAI. Jilid II. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 2011; 53-9.

40 Patogenesis Soenarto Y. Diare kronis dan diare persisten. Dalam: Buku ajar gastroenterologi-hepatologi. Jakarta: UKK-Gastroenterologi-hepatologi IDAI. 2009;

41 Sekresi Cl- meningkat Mencegah pengikatan Na+ dan Cl- pada vili usus  air tidak terserap  pengeluaran cairan masif Vol tinja banyak > 200 ml/24 jam, konsistensi sangat cair Tidak berhenti dgn penghentian makan Co: V. Cholera, toksin  cAMP  Cl- dan air SekretorisOsmotikMutasi TransportPengurangan luas permukaan usus  short bowelPerubahan gerakan usus Soenarto Y. Diare kronis dan diare persisten. Dalam: Buku ajar gastroenterologi-hepatologi. Jakarta: UKK-Gastroenterologi-hepatologi IDAI. 2009;

42 Sekretoris Gagal cerna dan/atau penyerapan nutrien  lsng msk kolon Peningkatan tekanan osmotik di lumen, menarik cairan ke dalam lumen Perubahan waktu transit usus  gg absorbsi nutrien Co: intoleransi laktosa, tdk ada enzim laktase  laktosan ke usus besar, difermentasi  laktat, pH feses<5 Berhenti dgn berhenti makan pemicu diare Osmotik Mutasi TransportPengurangan luas permukaan usus  short bowelPerubahan gerakan usus Soenarto Y. Diare kronis dan diare persisten. Dalam: Buku ajar gastroenterologi-hepatologi. Jakarta: UKK-Gastroenterologi-hepatologi IDAI. 2009;

43 SekretorisOsmotik Mutasi protein CLD yang mengatur pertukaran ion Cl-/HCO3- pada brush border apikal ileokolon Gg absorbsi Cl- dan shg HCO3- tdk dpt disekresi Alkalosis metabolik dan pengasaman isi usus  mengganggu proses absorbsi Na+ Cl- dan Na+ dalam usus tinggi = diare sekretorik Diare cair sejak prenatal, polihidramnion, prematur, gagal tumbang Mutasi Transport malabsorbsi Pengurangan luas permukaan usus  short bowelPerubahan gerakan usus Soenarto Y. Diare kronis dan diare persisten. Dalam: Buku ajar gastroenterologi-hepatologi. Jakarta: UKK-Gastroenterologi-hepatologi IDAI. 2009;

44 SekretorisOsmotikMutasi TransportPengurangan luas permukaan usus  short bowel Hipomotilitas usus akibat berbagai kondisi seperti malnutrisi, skleroderma, obstruksi usus dan diabetes mellitus, mengakibatkan pertumbuhan bakteri berlebih di usus  dekonjugasi garam empedu  cAMP meningkat  = diare sekretorik Perubahan gerakan usus Soenarto Y. Diare kronis dan diare persisten. Dalam: Buku ajar gastroenterologi-hepatologi. Jakarta: UKK-Gastroenterologi-hepatologi IDAI. 2009;

45 Pasien ini Diare sejak 1 bulan, memberat 1 minggu BAB >4x/hari, cair (hanya air saja), ampas (-), lendir (-), darah (-)  sekretorik busa (+), kuning-coklat, cucian beras (-)  infeksi bakteri Tetap diare meski makan dihentikan  sekretorik Nyeri perut (-), mules (-)  bukan osmotik Demam (+) 1 minggu SMRS, tidak diukur  infeksi dari mana? Muntah (+), mual (-) PF Abdomen: – Inspeksi: datar, lemas, tidak terdapat venektasi – Palpasi: tidak terdapat nyeri tekan, hepar teraba 3 cm di bawah arcus costae, tepi tajam, permukaan rata, kenyal. Lien tidak teraba. – Perkusi: shifting dullness (-) – Auskultasi: bising usus (+) normal

46 Pemeriksaan Feses 17/3/14 HasilRujukan Makroskopik KonsistensiLunak WarnaKuningKuning-coklat BauNormal pH87-8 Unsur lain CacingNegatif NanahNegatif LendirPositifNegatif DarahNegatif Mikroskopik Leukosit0-1<10/LPB Eritrosit0-1<3/LPB LemakNegatif E. coliNegatif E. HistolyticaNegatif AmilumNegatif JamurNegatif Serat OtotNegatif Serat TumbuhanPositifNegatif Telur CacingNegatif Kimia GulaNegatif Darah SamarNegatif Pemeriksaan Bakteriologi Bakteri batang gram negatif (+)

47 Oral thrush : normal pada usia 7-10 hari, namun pada anak usia lebih besar  immunocompromised? – HIV testing – keganasan? Smith PB, Benjamin DK. Infection in immunocompetent children and adolescent. Nelson Textbook of Pediatrics. 19 th ed. Philadelphia: Elsevier IDAI. Pedoman pelayanan medis IDAI. Jilid II. Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 2011; 53-9.

48 Diare prolonged malnutrisi Diare semakin parah + Oral thrush Gizi kurang (18 kg) Diare

49 Follow up 19 Maret 2014 S: mual (-), muntah (-), diare sudah tidak O: komposmentis, TSS – HR 108x/m – RR 20x/m – S 36,6 o – BB: 14 kg – Kepala: normocephal, wajah tua (+) – Mata: konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (- /-) – Mulut: mukosa bibir kering, stomatitis (-), leukoplakia (-) – Leher: KGB membesar (-) – Paru: ves/ves, rh (-), wh (-), iga gambang (+) – Jantung: S1 S2 normal, murmur (-), gallop (-) – Abd: datar, supel, hepar dan limpa tidak teraba, shifting dullness (-) bising usus normal – Eks: akral hangat, edema (-), baggy pants (-), kulit kering, wasting (+) Lab: analisis feses : bakteri gram negatif – Kultur urin : (-) A: diare persisten dd/ diare kronik – Gizi buruk marasmik fase transisi H1 – Kandidosis oral – Intake sulit tanpa dehidrasi P: F100 8 x 200 ml – Asam folat 1 x 1 mg – Zinc 1 x 20 mg – Mycostatin 3x2 ml – Cefotaxime 3 x 500 mg – Metronidazole 3 x 150 mg – IVFD KaEN 3B + KCl 10 mg 1000 cc/24 jam

50 Follow up 20 Maret 2014 S: mual (-), muntah (-), diare sudah tidak O: komposmentis, TSS – HR 100x/m – RR 20x/m – S 36,8 o – BB: 14 kg – Kepala: normocephal, wajah tua (+) – Mata: konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (- /-) – Mulut: mukosa bibir kering, stomatitis (-), leukoplakia (-) – Leher: KGB membesar (-) – Paru: ves/ves, rh (-), wh (-), iga gambang (+) – Jantung: S1 S2 normal, murmur (-), gallop (-) – Abd: datar, supel, hepar dan limpa tidak teraba, shifting dullness (-) bising usus normal – Eks: akral hangat, edema (-), baggy pants (-), kulit kering, wasting (+) Lab: Hb/Ht/Leu/Trom/Eri: 10,4/30/3,1/271/4,08 LED : 88 (↑) VER/HER/KHER/RDW: 74/ 25/34/15 Hitung jenis 0/0/70/20/9/1/0,3 Anti HIV reaktif A: diare persisten dd/ diare kronik – Gizi buruk marasmik fase transisi H2 – Kandidosis oral perbaikan – Intake sulit tanpa dehidrasi P: F100 8 x 200 ml – Asam folat 1 x 1 mg – Zinc 1 x 20 mg – Mycostatin 3x2 ml – Cefotaxime 3 x 500 mg – Metronidazole 3 x 150 mg – IVFD KaEN 3B + KCl 10 mg 1000 cc/24 jam


Download ppt "Presentasi Kasus: Gangguan Nutrisi Oleh Angela Christina Narasumber: Dr. dr. Lanny Christine Gultom, SpA."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google