Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

WEST ART & DESIGN HISTORY - The Usborne: Introduction to Art. Rosie Dickins & Mari Griffith. www.usborne-quicklinks.com - Atlas Dunia Zaman Kuno (Erlangga).

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "WEST ART & DESIGN HISTORY - The Usborne: Introduction to Art. Rosie Dickins & Mari Griffith. www.usborne-quicklinks.com - Atlas Dunia Zaman Kuno (Erlangga)."— Transcript presentasi:

1 WEST ART & DESIGN HISTORY - The Usborne: Introduction to Art. Rosie Dickins & Mari Griffith. - Atlas Dunia Zaman Kuno (Erlangga). - Atlas Dunia Abad Pertengahan (Erlangga). - Atlas Eksplorasi dan Kerajaan (Erlangga). - Atlas Dunia Zaman Modern (Erlangga). Minggu 11

2 New Perspectives - Abad 20 membawa banyak perubahan di kehidupan masyarakat. - Berkembangnya teknologi mesin juga mempengaruhi cara bekerja dan transportasi masyarakat abad Karya lukis yang dihasilkan banyak menggambarkan tentang kecepatan, pergerakan dan mesin-mesin. - Pengaruh Cubism terasa di sini, para seniman menggunakan penggalan-penggalan gambar dan berbagai sudut pandang untuk menangkap dan menceritakan pengalaman baru ini.

3 New Perspectives Into the future (1) - Beberapa seniman Italia awal abad 20 membentuk aliran Futurists, dalam upaya menciptakan kreasi baru di jaman yang baru pula. - Aliran ini menolak masa lalu, museumpun dianggap sebagai tempat pemakaman, yang harus dimusnahkan. - Museum Louvre di Paris, Perancis bahkan menjadi sasaran untuk dibakar, walaupun gagal terlaksana. - Aliran Futurists ingin menonjolkan masa kini, terutama dalam hal kekuatan dan kecepatan mesin. Jadi bukan sekedar menggambar citra pesawat atau mobil.

4 New Perspectives Into the future (2) - Aliran Futurists mempengaruhi banyak aliran baru seniman Eropa. - Tahun 1909, Aliran Futurists mengeluarkan pernyataan tentang tujuan mereka (Futurist Manifesto) yang isinya berbunyi: “We declare that the world’s splendor has been enriched by a new beauty, the beauty of speed.”

5 Year 1913, Format 50 x 65 cm, Technique Oil on canvas, Location TATE London DACS 2003 Abstract Speed - The Car Has Passed Giacomo BALLA ( ) Seniman asal Itali, pendiri Aliran Futurism. Balla menggunakan bentuk-bentuk geometri dalam menyampaikan sisa-sisa kecepatan (mengaburkan) mobil yang sedang melaju.

6 New Perspectives City slickers - Teknik Cubists dan Futurists banyak dikembangkan dalam menggambarkan suasana kota modern yang ramai. - The Red Tower ( ) karya Robert Delaunay serta The City (1919) karya Fernand Leger dapat menjadi contoh pengembangan teknik lukis yang berbeda dalam menggambarkan kondisi kota modern saat itu.

7 New Perspectives Modern life - Delaunay banyak menghasilkan lukisan tentang kehidupan modern di Paris, yang kadang digambarkan dengan simbol pesawat terbang ataupun Menara Eiffel (bangunan tertinggi di dunia saat itu). - Dalam The Red Tower, Menara Eiffel terlihat menonjol dari bangunan lainnya dan seperti keluar dari jalanan. - Delaunay menggambarkan dalam beberapa sudut pandang, membuat - kita, ataupun kota Paris- seperti bergerak, sebuah kota modern yang hidup.

8 Year Format 163 x 130 cm Technique Oil on canvas Copyright L & M Services B.V. Amsterdam Pelukis asal Perancis. Champ de Mars, La Tour Rouge (The Red Tower) Robert DELAUNAY ( )

9 New Perspectives Man and machine - Leger banyak menggambar suasana kota dengan mesin-mesin khayalan yang aneh bentuknya. - Dia bahkan menciptakan gaya Cubism sendiri, yang memakai bentuk struktur geometri tebal dengan garis pinggir yang kuat serta penggunaan warna alami. - The City digambarkan sebagai kota dalam elemen- elemen berbeda, bercampur aduk satu dalam susunan bentuk padat yang terlihat kacau dan berwarna terang. - Orang-orang digambar seperti robot, bahkan lukisan ini seperti dibuat dengan mesin karena lurusnya garisnya dan halusnya bayangannya yang tercipta.

10 Year 1919, Format 231 x 300 cm, Technique Oil on canvas, Location Philadelphia Museum of Art, A. E. Gallatin Collection/ CORBIS/ ADAGP, Paris and DACS, London 2003 La Ville (The City) Fernand LEGER ( ) Pelukis asal Perancis.

11 Art and Emotion - Masih di abad 20, ada juga kelompok seniman yang cenderung mengutamakan ekspresi pribadi mereka dalam seni lukis. - Kelompok ini membuat distorsi bentuk dalam karyanya dan meningkatkan intensitas warna sehingga tercipta kesan emosi yang kuat. - Pendekatan ini disebut Aliran Expressionism.

12 Art and Emotion It’s a scream - Aliran Expressionism terinspirasi dari karya Vincent van Gogh (Belanda) dan Edvard Munch (Norwegia). - Van Gogh percaya bahwa warna dalam lukisan bisa menyampaikan perasaannya. - Pengalaman hidup Munch sendiri tidak bahagia. Ibu dan kakak perempuannya meninggal karena TBC waktu ia kecil, sementara iapun sering sakit-sakitan. - Melalui karyanya, Munch seakan menyatakan manusia tidak terlepas dari kondisi “living beings who breathe and feel and love and suffer.”

13 Year 1893 Format 91 x 74 cm Technique Tempera and pastel on board Copyright J. Lathion/ National Gallery Norway/ Munch Museum/ Munch- Ellingsen Group, BONO, Oslo/ DACS, London 2003 Pelukis asal Norwegia. Lukisan ini menggambarkan citra sakit dan kesedihan yang mendalam. Jeritan sosok orang dalam lukisan ini seakan menarik kulitnya, seperti menyerupai tengkorak. The Scream Edvard MUNCH ( )

14 Art and Emotion Wild beasts (1) - Selain itu, ada juga karya seniman Expressionist yang menyampaikan perasaan bahagia. - Lukisan Henri Matisse memberi kesan penuh warna, baik lukisan pemandangan ataupun lukisan potret dari keluarga dan orang-orang dekatnya. - Walau begitu, penggunaan warna Matisse dianggap mengejutkan, karena tebal dan penuh eksperimen. - Dalam Madame Matisse (1905), warna yang dipakai Matisse terlihat begitu penuh semangat, tapi tidak terlihat alami, lebih memberi kesan terlalu terang.

15 Art and Emotion Wild beasts (2) - Penggunaan warna Matisse terkesan liar (wild), dan diikuti beberapa seniman lainnya, sehingga teknik ini disebut sebagai Aliran Fauves (bahasa Perancis untuk wild beasts). - Aliran Fauves populer di tahun

16 Year 1905 Format 41 x 33 cm Technique Oil and tempera on canvas Copyright Archivo Iconografico, S.A./ CORBIS/ Succession H. Matisse/ DACS 2003 Pelukis dan pematung asal Perancis. Murid dari Gustave Moreau ( , Perancis), pelopor symbolism. Model lukisan ini adalah istri Henri Matisse, yaitu Amelie. Madame Matisse Henri MATISSE ( )

17 Art and Emotions The Bridge (1) - Die Brucke (The Bridge dalam bahasa Jerman) sebuah kelompok seniman muda Jerman yang dibentuk tahun 1905, berusaha menjembatani karya lukis masa kini ke masa depan, menuju gaya baru. - Ernst Kirchner, Erich Heckel dan Karl Schmidt-Rottluff merupakan tokoh-tokoh Die Brucke, yang bekerja sama mulai dari Dresden hingga Berlin. - Kecewa akan seni kontemporer Jerman masa itu, Die Brucke mengambil gaya seni Afrika dan abad pertengahan Eropa.

18 Art and Emotions The Bridge (2) - Ini bisa dilihat dari karya-karya Kirchner yang penuh dengan bentuk kaku dan warna-warna buatan. - Banyak karya seniman Die Brucke yang peduli akan pengaruh kondisi modern saat itu, baik membuat gambaran pedesaan yang sederhana dan penuh kenangan, ataupun membuat pemandangan perkotaan (seperti karya Kirchner) yang merefleksikan tekanan kehidupan kota. - Untuk mendapatkan gambaran bagi lukisannya, Kirchner banyak membuat sketsa dari tempat di sekitar Berlin yang mempunyai reputasi kurang baik.

19 Year 1913 Format 121 x 95 cm Technique Oil on canvas Location Brucke Museum, Berlin, Germany/ Bridgeman Art Library Copyright (for works by E.L. Kirchner) by Ingeborg & Dr. Wolfgang Henze-Ketterer, Wichtrach/ Bern Seniman asal Jerman. Salah satu pendiri Die Brucke. Distorsi bentuk serta pemakaian warna yang menggelegar membuat suasana sehari-hari ini terlihat tidak bersahabat dan nyaman. Penggambaran muka orang-orang dibuat secara kasar seakan memakai topeng. Street Scene in Berlin Ernst Ludwig KIRCHNER ( )

20 Art and Emotions The Blue Rider and their blue horses (1) - Der Blaue Rider (The Blue Rider), adalah kelompok seniman Jerman lainnya, yang berdiri tahun Tokohnya antara lain Vassily Kandinsky (Rusia) dan Franz Marc (Jerman). - Nama ‘The Blue Rider’ dipilih karena mereka menyukai kuda dan warna biru. - Kelompok ‘The Blue Rider’ menganggap karya seni haruslah mengekspresikan tema spiritual, kerohanian.

21 Art and Emotions The Blue Rider and their blue horses (2) - Marc suka melukis binatang, karena keberadaannya dianggap lebih mulia dan alami dibanding manusia. - Lukisan kudanya dimaksudkan sebagai gambaran dari kemurnian dan kesucian dari manusia yang telah hilang, terutama dalam masa penuh kekacauan di Eropa saat itu, yang memuncak di PD 1. - Tragisnya, Marc tewas di PD 1.

22 Year 1911, Format 107 x 180 cm, Technique -, Collection Walker Art Centre, Minneapolis, Gift of the T.B. Walker Foundation, Gilbert M. Walker Fund, 1942 Bentuk tubuh kuda disederhanakan menjadi bentuk bulat namun tegas. Bukit melengkung di kejauhan seakan pantulan dari bentuk tubuh kuda. The Large Blue Horses Franz MARC ( )

23 Less is More - Sekitar tahun 1910, hasil karya lukis bukan lagi menyerupai sesuatu yang biasa, melainkan menjadi suatu karya berdasarkan pemikiran pribadi pelukisnya. - Hasil lukisan tidak lagi menggambarkan hal yang mudah dikenali, tetapi menjadi suatu karya seni yang mengkombinasikan warna, garis dan bentuk, sehingga hasilnya lebih ekspresif dan dekoratif. Karya seni ini disebut abstract art.

24 Less is More Pioneering art (1) - Cossaks, karya Vassily Kandinsky ( ), merupakan lukisan yang menggambarkan adegan pertempuran, tetapi disajikan dalam bentuk abstrak. - Karya ini mengalami distorsi sedemikian rupa sehingga tidak mudah dikenali. - Bentuk dan warna yang digunakan memperlihatkan kegemparan peperangan, hanya saja elemen yang ada terasa terpisah-pisah, bukan sebagai suatu kesatuan. - Tiga kotak merah di sisi kanan merupakan gambaran tentara Cossaks, dua di antaranya memegang tombak panjang.

25 Less is More Pioneering art (2) - Di sisi kiri, terlihat dua tentara Cossaks berkuda yang sedang bertempur dengan kuda. Di latar belakang terlihat benteng dan burung yang terbang di atasnya. - Kandinsky mengatakan bahwa salah satu inspirasinya dalam membuat karya abstrak muncul ketika ia melihat sebuah lukisan dengan cara terbalik. - Menurutnya, bentuk-bentuk dalam lukisan itu terlihat lebih menarik dengan cara terbalik.

26 Year , Format 95 x 130 cm, Technique -, Location Tate London 2003, Copyright ADAGP, Paris and DACS, London 2003 Pelukis asal Rusia. Bersama Franz Marc ( , Jerman) mendirikan Kelompok Der Blaue Reiter. Cossaks Vassily KANDINSKY ( )

27 Less is More Supreme Art (1) - Dalam masa yang bersamaan, seniman Rusia lainnya, Kasimir Malevich membuat lukisan abstrak dengan komposisi bentuk geometri. - Bedanya dengan Kandinsky, Malevich menggunakan sedikit warna. - Dipengaruhi gaya Cubism, karya Malevich memakai bentuk sederhana seperti bujur sangkar, lingkaran, persegi panjang dan segitiga. - Malevich meyakini bahwa seni abstrak lebih alami dan lebih baik dalam menggambarkan ide rohani (spiritual) dibanding seni dengan obyek yang jelas dan nyata.

28 Less is More Supreme Art (2) - Malevich menyebut karyanya sebagai Suprematist (supremus dalam bahasa Latin), yang berarti tingkat tertinggi. - Berikut kutipan tentang pemikiran Malevich tentang tujuan dari karyanya:”...trying desperately to free art from the dead weight of the real world, I took refuge in the form of the square... Art wants to have nothing further to do with the object, as such, and believes that it can exist in and for itself.”

29 Year 1913 Format 106 x 106 cm Technique Oil on canvas Copyright The State Russian Museum/ CORBIS Pelukis asal Rusia. Pelopor Suprematism, sebuah gaya geometi yang abstrak. Black Circle Kasimir MALEVICH ( )

30 Less is More All in order (1) - Dalam masa setelah PD 1, seniman Belanda Piet Mondrian mengembangkan seni abstrak dengan dasar warna dan bentuk geometri yang tegas. - Modrian menetapkan 4 (empat) aturan untuk karyanya. - Pertama, hanya menggunakan warna asli seperti hitam, putih, merah, kuning dan biru. - Kedua, hanya menggunakan garis horisontal dan vertikal. - Ketiga, hanya akan melukis bentuk bujur sangkar dan persegi panjang. - Keempat, tidak akan menggunakan ruang khayalan.

31 Less is More All in order (2) - Dengan aturannya tersebut, Mondrian menciptakan komposisi dengan urutan, keseimbangan dan harmonisasi yang terlihat ideal (cocok) dengan kondisi saat itu yang masih dipengaruhi suasana setelah PD 1. - Karyanya mempengaruhi gerakan baru dalam seni dan desain, yang dikenal sebagai De Stijl (The Style dalam bahasa Belanda). - Mondrian meninggalkan kelompok De Stijl ketika ada seniman De Stijl lainnya yang berani menggunakan garis diagonal.

32 Year 1927 Format 38 x 35 cm Technique Oil on canvas Copyright Burstein Collection, CORBIS/ 2003 Mondrian/ Holzman Trust c/o HCR International. Pelukis asal Belanda. Composition in Red, Yellow and Blue Piet MONDRIAN ( )

33 Less is More Abstract emotions (1) - Sekitar tahun 1950, sekelompok seniman New York membuat lukisan abstrak sebagai ekspresi dari perasaan mereka. Gaya ini disebut sebagai Abstract Expressionism. - Tokohnya antara lain Mark Rothko, Jackson Pollock. - Bidang lukis Rothko menyajikan area besar dengan batas warna yang kabur/ tidak jelas, sementara Pollock lebih menggunakan tetesan ataupun cipratan cat. - Karya kedua seniman ini memperlihatkan proses pengerjaan juga sama pentingnya dalam berekspresi.

34 Less is More Abstract emotions (2) - Rothko tidak menyukai istilah Abstract Expressionism. - Walau begitu, ia mengakui bahwa ia ingin karyanya memberi pengaruh baik secara emosional ataupun spiritual (rohani) terhadap yang melihat karyanya. - “I’m intrested only in expressing basic human emotions... The people who weep before my pictures are having the same religious experience I had when I painted them.”

35 Year about 1955 Format 61 x 48 cm Technique Oil on acrylic on paper Copyright Christie’s Images/ CORBIS/ Kate Rothko Prizel and Christopher Rothko/ DACS Pelukis AS kelahiran Rusia. Pelopor Abstract Expressionist. Dalam lukisan ini terlihat area yang ada seakan melayang, dengan batas pinggir yang berbulu dan tidak jelas. Warna yang ditimbulkan memberi kesan bisu dan terlihat tenang, tidak menonjol. Untitled Mark ROTHKO ( )

36 Fantastic Art - Ide-ide seni baru banyak bermunculan di abad Kecewa dengan keadaan dunia, banyak seniman menolak tradisi dan nilai-nilai masa lalu. - Mereka menggunakan materi yang tidak biasa dan penuh perumpamaan, sehingga menghasilkan karya yang fantastis, aneh dan terkadang mengejutkan.

37 Fantastic Art Stuff and nonsense (1) - Selama PD 1, sekelompok seniman membentuk gerakan yang disebut Dada (1914). Istilah ini diambil secara acak dari kamus bahasa Perancis (bahasa Inggris = hobby-horse). - Karya seni Dada dimaksudkan untuk memberi kejutan. - Walau kadang tidak artistik, karya ini lebih ditujukan untuk mempertanyakan ide kita tentang seni, membuat kita berpikir kembali mengenai apa yang kita ketahui tentang seni dan bagaimana kita menghargainya.

38 Fantastic Art Stuff and nonsense (2) - Fountain (1917), karya Marcel Duchamp, seniman Perancis, merupakan tempat buang air kecil yang diletakkan di lantai, mempertanyakan apakah sebuah karya seni haruslah unik dan diciptakan dengan kemampuan tertentu. - Menurut Duchamp, ide dari seorang seniman lebih penting dari hasil karyanya. - “Whether Mr. Mutt has made the fountain with his own hands or not is without importance. He chose it... He created a new thought for this object.”

39 Year 1917, Height 60 cm, Material ‘Readymade’ porcelain urinal (original now lost), Copyright Burstein Collection/ CORBIS/ Succession Marcel Duchamp/ ADAGP, Paris and DACS, London Fountain Marcel DUCHAMP ( ) Seniman asal Perancis. Tulisan “R. Mutt” yang ditambahkan Duchamp merupakan nama dari pabrik pembuat produk kamar kecil. Karya seni seperti ini, yang menggunakan obyek buatan pabrik, dikenal juga sebagai karya “readymades”.

40 Fantastic Art More than real - Banyak seniman Dada menciptakan gaya baru, seperti Surrealism (1924). Seni Surrealist dikenal sebagai karya khayalan yang aneh, tetapi bukan tidak nyata (un-real), bahkan lebih dari nyata (real), atau sur-real (sur) dalam bahasa Perancis berarti di atas) - Seniman Surrealist terinspirasi akan cara kerja pikiran, terutama tentang ketidaksadaran dan mimpi, berdasar teori psikiater terkenal Sigmun Freud (dalam buku The Interpretation of Dreams). - Freud percaya bahwa banyak hal dilakukan orang karena terpicu oleh pikiran dan keinginan bawah sadar, yang bisa diungkap dalam mimpi.

41 Year 1954, Format 21 x 26 cm, Technique Oil on canvas, Copyright Christie’s Images/ CORBIS/ Salvador Dali, Gala-Salvador Dali Foundation/ DACS, London Soft Watch at Moment of First Explosion Salvador DALI ( ) Seniman, desainer dan penulis asal Spanyol. Banyak karya Dali menampilkan jam yang hancur dan meleleh, merefleksikan obsesinya tentang waktu dan bagaimana kita melaluinya.

42 Fantastic Art Tales of the unexpected (1) - Karya Surrealist biasa menggabungkan elemen yang terlihat tidak saling berhubungan, seperti lukisan The Art of Conversation (sekitar tahun 1963) karya Rene Magritte, pelukis Belgia. - Kesan aneh di karya Magritte ini tercipta dari adegan khayalan (dua orang bertopi yang seakan terbang di angkasa), yang terasa kontras dengan cara melukis yang realistis.

43 Fantastic Art Tales of the unexpected (2) - Seniman Surrealist senang menampilkan kombinasi tak terduga, seperti penggambaran payung dan mesin jahit di ruang operasi. - Kombinasi seperti ini dianggap merefleksikan terbentuknya pikiran alam bawah sadar seseorang dan membentuk hal-hal yang tidak berhubungan menjadi satu, sama seperti yang dialami dalam mimpi.

44 Year Around 1963 Format 65 x 81 cm Technique Oil on wood panel Copyright Christie’s Images/ CORBIS/ ADAGP, Paris and DACS, London Pelukis Belgia. The Art of Conversation Rene MAGRITTE ( )

45 Fantastic Art Automatic art - Cara lain seniman Surrealist mengeksplorasi pikiran bawah sadar adalah dengan menggambar secara otomatis, sebuah teknik yang membiarkan bentuk- bentuk tercipta begitu saja, seperti cara kita berbicara melalui telepon. - Seniman Surrealist percaya bahwa karya yang tercipta dengan cara demikian merupakan dorongan pikiran alam bawah sadar dari yang seniman.

46 Year , Format 66 x 93 cm, Technique Oil on canvas, Copyright Albright-Knox Art Gallery/ CORBIS/ ADAGP, Paris and DACS, London 2003 Carnival of Harlequin Joan MIRO ( ) Pelukis asal Spanyol.


Download ppt "WEST ART & DESIGN HISTORY - The Usborne: Introduction to Art. Rosie Dickins & Mari Griffith. www.usborne-quicklinks.com - Atlas Dunia Zaman Kuno (Erlangga)."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google