Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Social contexts and socio emotional development John W. Santrock, 4 th ed Andrika Pesparani 69080082 Christina Budi Setyaningrum 690800 Educational Psychology.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Social contexts and socio emotional development John W. Santrock, 4 th ed Andrika Pesparani 69080082 Christina Budi Setyaningrum 690800 Educational Psychology."— Transcript presentasi:

1 Social contexts and socio emotional development John W. Santrock, 4 th ed Andrika Pesparani Christina Budi Setyaningrum Educational Psychology

2 Chapter Outline Learning Goals Teori kontemporer 1 Teori Ekologi Bronfenbrenner’s Teori Erikson’s Life Span Development Konteks sosial dari perkembangan 2 Keluarga Kelompok teman sebaya Sekolah Menggambarkan dua perspektif kontemporer pada perkembangan sosioemosional Mendiskusikan bagaimana konteks sosial dari keluarga, kelompok teman sebaya, sekolah berkoneksi dengan perkembangan sosial Menjelaskan aspek-aspek dari perkembangan sosioemosional anak : harga diri, identitas, perkembangan moral, dan mengatasi stress Perkembangan Sosioemosional 3 Diri Perkembangan moral Mengatasi stress

3 Teori Ekologi Bronfenbrenner’s TIME (Sociohistorical conditions and time since life events) Chronosystem Macrosystem Attitudes and ideologies of the culture Chronosystem

4 5 Sistem Lingkungan 1.Microsystem : setting/lokasi dimana individu menghabiskan waktunya yang dapat dipertimbangkan bersama keluarga, peers, sekolah, tetangga. Individu menjalin interaksi timbal balik secara langsung dengan mereka dan membantu menciptakan microsystem. 2.Mesosystem : hubungan diantara microsystem. Hubungan antara keluarga dan sekolah, sebagai contoh : pelajar yang diberikan kesempatan- kesempatan yang lebih besar untuk mengkomunikasikan dan mengambil keputusan, apakah di rumah atau di dalam kelas, menunjukkan lebih banyak inisiatif dan mendapatkan nilai yang lebih baik.

5 Contoh Mesosystem Hubungan antara keluarga, rekan sebaya, sekolah dan pekerjaan orang tua  program sekolah menengah dan sekolah tinggi. Program Outreach pada pelajar dengan “low income” di Latin dan African American. Pelajar mengomentari bahwa program ini membantu mereka menjembatani gap dalam perbedaan kelas sosial. Banyak dari pelajar tersebut melihat sekolah mereka dan tetangga-tetangga mereka sebagai konteks dimana seseorang diekspektasi untuk gagal, hamil, dan meninggalkan sekolah, atau berperilaku kriminal. Program ini menyediakan pelajar dengan ekspektasi dan tujuan moral untuk melakukan sesuatu yang baik untuk masyarakatmu, seperti bekerja di komunitas dan mendorong saudara-saudara sekandung belajar di perguruan tinggi.

6 3. Exosystem bekerja ketika pengalaman-pengalaman di dalam setting yang lain (dimana pelajar tidak memiliki peran yang aktif) mempengaruhi apa yang pelajar dan guru alami di dalam konteks yang segera. sebagai contoh, pertimbangkan sekolah dan supervisor yayasan dalam komunitas. Mereka mempunyai peran yang kuat dalam memutuskan kualitas sekolah, taman, rekreasi, dan perpustakaan. Keputusan mereka dapat menolong perkembangan anak.

7 4. Macrosystem : melibatkan budaya yang lebih luas. Pengertian budaya termasuk peran sosial dan sosio ekonomic dalam perkembangan anak. Konteks dimana pelajar dan guru hidup, termasuk nilai-nilai dan adat istiadat, norma. Beberapa budaya (pedesaan China dan Iran) menekankan peran jenis kelamin secara tradisional. Beberapa budaya di US menerima lebih banyak jenis peran dari jenis kelamin, menghargai kesempatan yang sama bagi pria dan wanita. Negara-negara Timur Tengah, sistem pendidikannya men-support dominasi pria. Kondisi sosioekonomic seperti kemiskinan dapat berpengaruh pada perkembangan anak, membahayakan kemampuan mereka untuk belajar, meskipun beberapa anak improverished lingkungan yang ditandai dengan fleksibel.

8 5. Chronosystem Termasuk kondisi-kondisi sociohistorical dari perkembangan pelajar. Sebagai contoh, gaya hidup anak-anak sekarang berbeda dengan orang tua masa dulu. Adanya “child care, komputer, hidup dalam keluarga yang bercerai atau menikah kembali, memiliki sedikit kontak dengan orang diluar keluarga, bertumbuh besar dalam bentuk bentuk baru seperti single, kota-kota yang terdekonsentrasi tidak seperti urban (perkotaan), rural (pedesaan), suburban.

9 Evaluasi Teori Bronfenbrenner Manfaat: merupakan satu dari sedikit kerangka teoritis yang secara sistematis menguji konteks sosial antara level mikro dan makro, menjembatani gap antara teori-teori perilaku yang berfokus pada setting yang kecil dan teori- teori antropologi yang menganalisis setting yang lebih besar. Teori ini menjadi instrumen untuk menunjukkan bagaimana perbedaan konteks pada kehidupan anak saling berkaitan. Diperlukan guru untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam keluarga, tetangga, dan kelompok teman sebaya. Kritik : memberikan terlalu sedikit perhatian pada faktor biologis dan kognitif pada perkembangan anak. Teori ini juga tidak dimaksudkan untuk perubahan perkembangan tahap per tahap seperti teori Piaget dan Erickson

10 Strategi untuk mengedukasi Anak menurut Teori Brofenbrenner’s 1.Berpikirlah bahwa anak sebagai bentukan dari sistem lingkungan dan pengaruhnya  pihak sekolah dan guru, orangtua dan saudara kandung, komunitas dan tetangga, teman teman dekat dan sebayanya, media, kepercayaan (agama), dan budaya 2. Perhatikan koneksi antara sekolah dan keluarga  membangun hubungan melalui outreach “penjangkauan” secara formal dan informal 3.Mengakui akan pentingnya komunitas, status sosial ekonomi, dan budaya dalam perkembangan anak  konteks sosial yang lebih luas dapat mempunyai pengaruh-pengaruh yang besar pada perkembangan anak

11 Erickson’s Life Span Development Theory 8 tahapan perkembangan manusia Setiap perkembangan memberikan detil tugas sebagaimana yang dijalani seseorang dalam sepanjang kehidupannya. Setiap tahapan mempunyai tugas perkembangan yang mengkonfrontasi individu dengan suatu krisis. Menurut Erickson, krisis bukanlah ketidakberuntungan melainkan turning point untuk meningkatkan potensi. Semakin sukses seseorang memecahkan setiap krisis, semakin sehat secara psikologis individu yang bersangkutan. Setiap tahap memiliki sisi positif dan negatif. 1.Trust vs mistrust (percaya vs tidak percaya) Tahapan psikososial pertama. Terjadi pada tahun pertama kehidupan. Perkembangan rasa percaya membutuhkan kehangatan, mengasuh, merawat. Hasil positifnya adalah perasaaan nyaman dan ketakutan yang minimal. Mistrust (tidak percaya) berkembang ketika bayi diperlakukan terlalu negatif atau diabaikan.

12 2. Autonomy vs shame and doubt (otonomi vs rasa malu) Terjadi pada late infancy dan kanak-kanak awal. Setelah memperoleh trust dari “caregiver”, bayi mulai menemukan bahwa perilaku mereka adalah dirinya. Mereka mengklaim independence (kemandirian) dan menyadari keinginan mereka. Jika bayi dikonrol terlalu banyak atau dihukum terlalu cepat, mereka mengembangkan rasa malu dan ragu-ragu 3. Initiative vs Guilt (Inisiatif vs rasa bersalah) Masa awal kanak-kanak, sekitar usia 3 sampai 5 tahun. Mereka mengalami dunia sosial yang meluas, mereka ditantang lebih dari mereka sebagai kanak- kanak. Untuk mengatasi tantangan ini, mereka butuh untuk terlibat aktif, perilaku yang bertujuan melibatkan inisiatif. Kanak-kanak akan mengembangkan rasa bersalah yang tidak menyenangkan jika mereka tidak bertanggung jawab atau merasa terlalu cemas. 4. Industry vs Inferiority (Industri vs Inferioritas) usia SD, 6 tahun sampai pubertas atau remaja awal. Sebagaimana mereka berpindah pada tahun-tahun sekolah, mereka menyalurkan energinya untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan intelektual. Bahaya pada masa tahun-tahun SD dengan mengembangkan rasa rendah diri, tidak produktif dan tidak kompeten.

13 5. Identity vs Identity Confusion (identitas vs kebingungan peran) Di tahun – tahun remaja. Mereka berusaha menemukan siapa mereka, apa sesungguhnya mereka, dan kemana mereka akan pergi di dalam hidup ini. Mereka akan berkonfrontasi dengan banyak peran baru dan status orang dewasa (vocational dan romantic). Mereka perlu diijinkan untuk mengeksplorasi jalan yang berbeda-beda untuk mendapatkan identitas yang sehat. Jika tidak dengan benar mengeksplorasi peran yang berbeda-beda dan mengabaikan jalan menuju masa depan yang positif, mereka akan mengalami kebingungan dengan identitasnya 6. Intimacy vs Isolation (Keintiman vs isolasi) Di tahun-tahun dewasa muda, usia 20 tahunan – 30 tahunan. Tugas perkembangan adalah membentuk hubungan dekat yang positif dengan orang lain. Resiko dari tahap ini adalah seseorang gagal untuk membentuk relasi yang intim dengan partner yang romantis atau teman dan secara sosial menjadi terisolasi

14 7. Generativity vs Stagnation Berhubungan dengan tahun tahun dewasa tengah, usia 40 tahunan dan 50 tahunan. Generativity berarti transmitting seseuatu yang positif pada generasi berikutnya. Ini dapat melibatkan bebrapa peran sebagai orang tua dan pengajar, melalui dimana orang dewasa menemani generasi selanjutnya pada pengembangan kehidupan yang bermanfaat. Erickson menggambarkan “stagnation” sebagai perasaan tidak mempunyai apa-apa untuk membantu generasi selanjutnya 8. Integrity vs despair (Integritas vs keputusasan) tahun-tahun dewasa akhir, 60 tahun-an sampai kematian. Orang dewasa yang lebih tua melakukan review terhadap kehidupan mereka, merefleksikan apa yangtelah mereka lakukan. Jika evaluasi retrospective positif, mereka mengembangkan integritas. Mereka melihat kehidupan mereka terintegrasi positif dan kehidupan yang bermakna. Sebaliknya, orang dewasa yang lebih tua menjadi putus asa jika mereka melihat ke belakang terutama yang negatif

15 Evaluasi Ericksons Theory Manfaat: menangkap beberapa tugas-tugas sosioemosional (kunci kehidupan) dan menempatkannya pada kerangka perkembangan. Konsepnya dalam mengidentifikasi khususnya membantu dalam memahami remaja akhir dan pelajar universitas. Teorinya secara menyeluruh adalah dorongan kritis yang mendorong untuk menciptakan pandangan saat ini dari perkembangan manusia sepanjang masa kediupannya dibandingkan dibatasi hanya pada masa kanak-kanak. Kritik : Beberapa ahli menyatakan bahwa tahapan ini terlalu kaku. Bernice Neugarten (1988) mengatakan bahwa identitas, intimacy, independence, dan aspek lain dalam perkembangan sosioemosional tidak seperti drip dalam string yang tampak secara teratur tergabung dalam interval- interval. Belum terdokumentasi secara ilmiah, scienticts. Sebagai contoh., beberapa individu (terutama wanita), intimacy lebih dulu atau berkembang secara simultan

16 Strategi untuk mengedukasi Anak menurut Teori Erickson 1.Mendorong inisiatif untuk remaja Preschool dan childhood  memberikan kebebasan untuk mengeksplorasi dunianya. Children at this stage love to play Benefit for: socioemotional development, cognitive growth. - Mendorong permainan sosial dengan peers dan permainan fantasi -Menolong anak dalam hal “tanggungjawab” untuk mengambil dan mengembalikan alat bermain ke tempatnya setelah selesai bermain -Anak dapat diberikan tumbuhan atau bunga untuk di rawat (perhatikan) dan mengambil peran dengan membantu merawatnya

17 Kritik diminimalkan sehingga anak tidak mengembangkan high levels of guilt and anxiety (rasa bersalah dan kecemasan), mereka lebih membutuhkan model yang baik, masa ini mereka banyak melakukan kesalahan dan kegagalan. Strukturkan aktivitas-aktivitas mereka dan lingkungan untuk sukses, sebagai contoh, jangan buat mereka frustrasi dengan duduk dalam periode yang lama untuk mengerjakan akademik paper dan tugas2 tertulis 2. Mempromosikan industri pada kanak-kanak SD Guru menyediakan suasana dimana anak-anak menjadi antusias belajar. Guru dengan tenang namun tegas mendorong siswa dalam petualangan untuk menemukan bahwa mereka dapat mencapai apa yang belum pernah dipikirkan atau dilakukan melalui belajar. Di SD, siswa haus akan rasa ingin tahu, dan menguasai tugas-tugas. Guru berperan mendorong mencapai ini. Tantanglah siswa, namun jangan terlalu berlebihan. Dengan tegas akan mendorong siswa produktif, namun jangan over kritik. Khususnya jadi toleran dan jujur pada kesalahan dan meyakinkan setiap siswa mempunyai kesempatan untuk sukses dalam banyak hal.

18 3. Melakukan stimulasi eksplorasi identitas pada remaja Mengakui bahwa identitas pelajar multidimensi. Aspek mencakup tujuan pekerjaan, pencapaian intelektual, minat pada hobi, olah raga, musik dan area lain. Minta mereka menulis essay mengenai beberapa dimensi, eksplorasi siapa mereka dan apa yang mau mereka lakukan dengan kehidupannya. Dorong mereka untuk berpikir mandiri dan secara bebas mengekspresikan pandangannya. Ini akan menstimulasi self-exploration. Dorong mereka untuk mendengarkan debat mengenai issue agama, politik, dan ideologi. Ini akan menstimulasi mereka dalam menguji perpekstif yang berbeda. Banyak remaja di sekolah menengah baru mulai mengeksplorasi identitas, dorong mereka untuk berbicara dengan konselor tentang pilihan karir. 4. Ujilah kehidupan Anda sebagai guru melalui lensa Erickson 8 tahapan Contoh, issue penting adalah identitas dan kebingungan identitas atau intimacy dan isolation. Karir sukes Anda sebagai pengajar dapat menjadi aspek kunci dalam keseluruhan identitas Anda.

19 5. Manfaat dari karakteristik beberapa tahap lain Erickson Pengajar yang kompeten percaya, menunjukkan inisiatif, industri, dan sense of mastery dan termotivasi untuk mengkontribusikan sesuatu yang memiliki arti untuk generasi selanjutnya

20 Social Context of Development Keluarga Kelompok Teman sebaya Sekolah

21 Keluarga Meskipun anak-anak berkembang dan bertumbuh dalam keluarga yang berbeda, secara virtual setiap orangtua memainkan peran yang penting dalam mendukung dan merangsang prestasi akademik dan sikap di sekolah. Parenting Style (Gaya Pengasuhan) Baumrind, 4 jenis pengasuhan 1. Authotarian parenting : restrictive (melarang) and punitive (disiplin). Mendorong anak untuk mengikuti perintah dan hormat pada mereka. Mereka memberikan batasan dan kontrol, komunikasi verbal yang diijinkan sedikit. Anak-anak menjadi berperilaku tidak kompeten dalam sosial. Mereka cenderung cemas menganai pembandingan sosial, gagal untuk aktivitas –aktivitas kreatif, dan memiliki skill komunikasi yang buruk.

22 2. Authoratative parenting Mendorong anak untuk mandiri tetapi masih menempatkan kontrol dan batasan pada perilaku mereka. Extensive verbal give and take diijinkan, orangtua menunjukan kasih sayang dan mendukung. Anak-anak berperilaku kompeten dalam lingkungan sosial. Mereka cenderung self- reliant, menunda kesenangan, berhubungan baik dengan peers, menunjukkan self esteem yang tinggi. 3. Neglectful parenting Orangtua tidak terlibat dalam kehidupan anak-anaknya. Aspek-aspek lain selain orangtua lebih penting bagi dirinya. Anak-anak sering berperilaku tidak kompeten dalam sosial, memiliki pengendalian diri yang buruk, tidak dapat mengatasi kemandirian dengan baik, dan tidak termotivasi berprestasi

23 4. Indulgent parenting Orangtua terlibat penuh dengan anak – anak namun menempatkan sedikit batasan dan kontrol pada perilaku mereka. Membiarkan anak-anak melakukan apa yang diinginkannya dan mendapatkan caranya karena mereka percaya kombinasi dukungan kasih sayang dan kekurangan larangan akan memproduksi kreativitas, anak-anak yang percaya diri. Hasilnya adalah biasanya anak tidak belajar untuk mengontrol perilaku mereka. Orangtua tidak mengambil account pada perkembangan anak menyeluruh, Coparenting – dukungan orangtua satu sama lain untuk bersama membesarkan anak. Koordinasi yang buruk diantara orang tua, kekurangan kerja sama dan kehangatan, melemahkan orang tua yang lain, dan terputusnya oleh salah satuorang tua adalah kondisi-kondisi dimana anak-anak beresiko untuk masalah-masalah.

24 Perubahan keluarga dalam perubahan di masyarakat - Meningkatnya jumlah anak, meningkatnya keluarga yang bercerai - Keluarga stepparent - Keluarga dimana orang tua bekerja diluar rumah Orang tua bekerja di rumah : sisi negatif dan positif  overtime, stressful work, kekurangan otonomi di tempat kerja, akan lebih irretable di rumah dan sedikit efektif dalam pengasuhan dibandingkan dengan mereka yang emmeiliki kondisi kerja yang baik di tempat kerja. Anak dengan keluarga yang bercerai : Memiliki romantic yang tidak stabil. Marital relationship dan pendidikan level rendah dalam masa remaja.

25 Strategies for forging school-Family-Community linkages 1.Menyediakan bantuan kepada keluarga-keluarga 2. Berkomunikasi secara efektif dengan keluarga mengenai program sekolah dan kemajuan anak mereka 3. Mendorong orangtua menjadi sukarelawan 4. Melibatkan keluarga dengan anak-anak mereka dalam aktivitas belajar di rumah 5.Melibatkan keluarga-keluarga sebagai partisipan dalam keputusan sekolah 6.Mengkoordinasikan kolaborasi komunitas

26 Peers (Kelompok teman sebaya) Peers adalah anak-anak yang memiliki usia yang sama atau level kematangan. Fungsi peer group yakni untuk menyediakan sumber-sumber informasi dan perbandingan mengenai dunia diluar keluarga. Relasi peer ini berhubungan apakah anak-anak melakukan hal baik di sekolah dan di kehidupan. -Kompeten dalam relasi peers selama SD berkaitan dengan sukses pekerjaan dan kepuasan dalam hubungan romantis pada remaja awal. Kompeten dalam relasi peers diukur oleh teacher ratings of social contact dengan peers, popularity, friendship, social skill, dan leadership -Popularitas dengan peers dan level rendah agresi pada usia 8 memprediksi status pekerjaan yang lebih tinggi pada usia 48

27 Peer Statuses Popular children : teman terbaik dan jarang tidak disukai oleh peer  memberikan reinforcement, mendengar dengan hati-hati, mempertahankan komunikasi yang terbuka dengan peers, happy, bertindak seperti peers, menunjukkan antusiasme dan perhatian pada orang lain, dan percaya diri tanpa menjadi arogan Average children : menerima jumlah yang rata-rata dari nominasi positive dan negative dari peers Neglected children : dinominasikan sebagai teman terbaik namun tidak disukai oleh peers Rejected children : dinominasikan sebagai teman terbaik seseorang namun sering secara aktif tidak disukai oleh peers Controversial children : antara teman terbaik seseorang dan tidak disukai

28 Sekolah Early childhood education Developmentally Appropriate education: pengetahuan dari perkembangan tipikal anak didalam rentang usia (age- appropriateness) pada saat yang bersamaan dengan keunikan anak (individual-appropriateness). Domains of children development – physical, cognitive, socioemotional – are closely

29 Montessori approach Filosofis dalam pendidikan yang memberikan kebebasan dan spontanitas dalam memilih aktivitas Mendorong siswa mengambil keputusan dan memecahkan persoalan dengan mengguankan waktu secara efektif

30 Socioemotional Development SELF Self esteem : pandangan secara menyeluruh seseorang terhadap dirinya (self worth, self image) Persistent low self esteem : prestasi rendah, depresi, gangguan makan, dan kriminalitas

31 Perkembangan identitas Marcia 4 identitas status Eksplorasi dapat didefinisikan sebagai derajat dimana ketertarikan individu dalam mencari jati diri mengenai nilai, kepercayaan, tujuan dan proses eksplorasi menunjukkan percobaan dengan perbedaan aturan sosial, rencana dan ideologi. Komitmen kembali pada kesetiaan untuk patuh dalam menyatukan keyakinan, tujuan dan nilai.

32 1.Identitas diffusion. Orang tipe ini, yaitu orang yang mengalami kebingungan dalam mencapai identitas. Ia tidak memiliki krisis dan juga tidak memiliki tekad untuk menyelesaikannya.

33 2. Identitas foreclosure; identitas ini ditandai dengan tidak adanya suatu krisis, tetapi ia memiliki komitmen atau tekad. Sehingga individu seringkali berangan-angan tentang apa yang ingin dicapai dalam hidupnya, tetapi seringkali tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapinya. Akibatnya, ketika individu dihadapkan pada masalah realitas, tidak mampu menghadapi dengan baik. Bahkan kadang- kadang melakukan mekanisme pertahanan diri seperti ; rasionalisasi, regresi pembentukan reaksi dan sebagainya.

34 3. Identitas moratorium ; identitas ini ditandai dengan adanya krisis, tetapi ia tidak memiliki kemauan kuat (tekad) untuk menyelesaikan masalah krisis tersebut.

35 4. Identitas achievement ; seorang individu dikatakan telah memiliki identitas, jika dirinya telah mengalami krisis dan ia dengan penuh tekad mampu menghadapinya dengan baik.

36 Moral development Preconventional learning : anak menunjukan internalisasi nilai-nilai moral, anak melakukan sesuatu agar memperoleh hadiah dan tidak mendapatkan hukuman

37 Conventional learning Tingkat konvensional ( moralitas konvensional ) : tingkat konvensional berfokus pada kebutuhan sosial ( konformitas ) tahap 3 : Orientasi mengenai anak yang baik -> anak memperlihatkan perbuatan yang dapat dinilai oleh orang lain tahap 4 : mempertahankan norma norma sosial dan otoritas - > menyadari kewajiban untuk melaksankan norma norma yang ada dan mempertahankan pentingnya keberadaan norma, artinya untuk dapat hidup secara harmonis, kelompok sosial harus menerima peraturan yang lebih disepakati bersama dan melaksanakannya.

38 tingkat post konvensional : individu mendasarkan penilaian moral pad aprinsip yang benar secara intern Tahap 5 : Orientasi pada perjanjian antara individu dengan lingkungan sosialnya -> Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara individu dengan dengan linkungan sosialnya, artinya bila seseorang melaksanakan kewajiban yang sesuai dengan tuntutan norma sosial, maka ia berharap akan mendapatkan perlindungan dari masyarakat. tahap 6 : Prinsip universal -> pada tahap ini ada norma etik dan norma pribadi yang bersifat subjektif. Artinya dalam hubungan antara seseorang dengan masyarakat ada unsur unsur subjektif yang menilai apakah suatu perbuatan itu bbaik atau tidak baik moral atau tidak. Disini dibuthkan unsur etik / norma etik yang sifatnya universal sebgai sumber untuk menentukan suatu perilaku yang berhubungan dengan moralitas

39 Kritik Kohlberg Terlalu menekankan pada mpral thinking  pemikiran moral tidak selalu memprediksi perilaku moral, alasan moral seringkali menjadi perlindungan bagi perilaku immoral Terlalu individualistik -Justice perspective  fokus pada hak-hak individu dan yang berdiri sendiri dan membuat keputusan moral secara bebas - Care perspective  suatu perspektif moral yang memandang manusia dari sudut keterkaitannya dengan manusia lain dan menekankan komunikasi interpersonal, relasi dengan manusia lain, dan kepedulian terhadap orang lain

40 Moral Education The hidden curriculum moral atmosphere that is a part of every school – is created by school and classroom rules, the moral orientation of teachers and school administration, and text materials (cheating, lying, stealing, consideration for other)

41 Character education Pendekatan langsung pada pendidikan moral yang melibatkan pengajaran siswa basic moral literacy untuk mencegah mereka melakukan pada perilaku immoral dan melakukan hal yang membahayakan diri mereka maupun orang lain

42 Values verification membantu orang lain mengklarifikasi untuk apa mereka hidup dan apa yang berharga untuk dikerjakan. Pelajar di dorong untuk mendefinisikan nilai-nilai mereka dan memahami nilai orang lain Cognitive moral education keyakinan yang pelajar seharusnya pelajari untuk menilai hal-hal ideal seperti demokrasi, keadilan sebagai perkembangan pertimbangan moral

43 Service learning bentuk pendidikan yang mendukung tanggung jawab sosial dan pelayanan pada komunitas


Download ppt "Social contexts and socio emotional development John W. Santrock, 4 th ed Andrika Pesparani 69080082 Christina Budi Setyaningrum 690800 Educational Psychology."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google