Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

 Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 1 Bab 2 Penalaran (Reasoning)

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: " Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 1 Bab 2 Penalaran (Reasoning)"— Transcript presentasi:

1  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 1 Bab 2 Penalaran (Reasoning)

2  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 2 Menjelaskan pengertian penalaran. Menyebut dan menjelaskan komponen penalaran. Menyatakan asersi secara makna dan diagram. Menyebut dan menjelaskan sifat keyakinan. Menyebutkan dan menjelaskan jenis argumen. Membedakan antara argumen dan strategem. Menjelaskan dan memberi contoh strategem dan salah nalar. Mengevaluasi validitas argumen. Menjelaskan aspek manusia yang menghambat argumen yang sehat. Tujuan Pembelajaran Mencapai kemampuan dan kompetensi peserta untuk:

3  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 3 Proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan mengevaluasi suatu keyakinan terhadap suatu pernyataan atau asersi. Menentukan secara logis dan objektif apakah suatu pernyataan valid (benar atau salah) sehingga pantas untuk diyakini atau dianut. Struktur penalaran terdiri atas masukan, proses, dan keluaran. Penalaran

4  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 4 Unsur atau Komponen Penalaran Pernyataan atau asersi (assertion) Keyakinan (belief) Argumen (argument)

5  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 5 Proses dan Struktur Penalaran Argumen Asersi sebagi elemen Keyakinan bahwa asersi konklusi benar/valid MasukanProsesKeluaran Asersi inferensi konklusi

6  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 6 Serangkaian asersi beserta inferensi atau penyimpulan yang terlibat di dalamnya. Simpulan dinyatakan pulan dalam bentuk asersi. Merupakan bukti rasional akan kebenaran suatu pernyataan. Argumen membentuk, memelihara, atau mengubah keyakinan. Arti Penting Argumen

7  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 7 Asersi Penegasan tentang sesuatu hal atau realitas yang dinyatakan dalam bentuk kalimat atau ungkapan. Pengkuatifikasi asersi Untuk membatasi asersi universal/umum menjadi spesifik dan menentukan hubungan inklusi, eksklusi, saling-isi. Pengkuantifikasi: sedikit, banyak, tak semua, beberapa, semua.

8  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 8 Penyajian Asersi Makna atau arti Semua badan usaha milik negara adalah perusahaan pencari laba. Struktur atau bentuk Semua A adalah B. Diagram A B

9  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 9 Penyajian Asersi Hubungan eksklusi: Hubungan inklusif: A B A B Tidak satupun A adalah B = Tidak satupun B adalah A Semua A adalah B dapat bermakna Tidak semua B adalah A

10  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 10 Penyajian Asersi Hubungan saling isi B A

11  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 11 Penyajian Asersi “Beberapa B adalah A” Ada sebagian A yang bukan B. Semua A adalah B. B sama dengan A Asersi menyangkal “Semua B adalah A” Asersi menegaskan “Tidak semua B adalah A” Tanpa diagram tidak diketahui apakah: “Beberapa B adalah A” tidak selalu sama dengan “Tidak semua B adalah A”

12  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 12 Penyajian Asersi Interpretasi: Beberapa B adalah A. B A B A Menyangkal Semua B adalah A. Menegaskan Tidak semua B adalah A Umumnya ini yang dimaksud. atau

13  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 13 Asersi untuk Evaluasi Istilah Interpretasi: certified public accountant (CPA) = bersertifikat akuntan publik (BAP)? meja bundar biru (blue round tables) meja biru bundar (round blue tables)

14  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 14 Jenis dan FungsiAsersi Kredibilitas konklusi tidak dapat melebihi kredibilitas terendah premis-premis yang diajukan dalam argumen. Asumsi (assumption) Hipotesis (hypothesis) Pernyataan fakta (statement of facts) Jenis: Fungsi: Sebagai pernyataan premis dan konklusi Kaidah/prinsip:

15  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 15 Keyakinan Kebersediaan untuk menerima bahwa suatu asersi adalah benar tanpa memperhatikan apakah argumen valid atau tidak atau apakah asersi tersebut benar atau tidak. Keadabenaran Bukan pendapat Bertingkat Berbias Bermuatan nilai Berkekuatan Veridikal Berketertempaan Properitas Keyakinan

16  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 16 Anatomi Argumen Asersi inferensi Asersi inferensi Premis 1 Premis 2Premis 3 Konklusi

17  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 17 Indikator Argumen Dalam suatu argumen atau penalaran yang kompleks, tidak selalu mudah untuk mengenali premis dan konklusi. Indikator premis: oleh karena, karena, mengingat, dengan asumsi bahwa, jika Cara mengenali: Prinsip/kaidah interpretasi terdukung (principle of charitable interpretation) Indikator konklusi: oleh karena itu, dengan demikian, maka, sehingga, sebagai akibatnya

18  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 18 Jenis Argumen Deduktif Nondeduktif: Induktif Analogi Sebab-akibat

19  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 19 Argumen Deduktif Argumen yang simpulannya diturunkan dari serangkaian asersi umum yang disepakati atau dianggap benar (disebut premis baik major maupun minor). Pada umumnya berstruktur silogisma sehinga disebut argumen logis (logical argument). Premis major: Premis minor: Konklusi: Semua binatang menyusui berparu-paru. Kucing adalah binatang menyusui. Kucing berparu-paru. Lihat contoh penalaran deduktif dalam akuntansi pada Gambar 2.8

20  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 20 Kriteria Kebenaran Argumen Deduktif Kelengkapan Kejelasan Kesahihan Keterpercayaian Kebenaran konklusi dalam argumen deduktif adalah kebenaran logis bukan kebenaran empiris (realitas). Kriteria kebenaran logis: 1.Semua premis benar 2.Konklusi mengikuti semua premis 3.Semua premis dapat diterima

21  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 21 Hubungan Premis dan Konklusi (Gambar 2.9) Bila konklusi mengikuti premis secara logis, kebenaran logis konklusi bergantung pada kebenaran semua premis. Premis 1: B Premis 2: B Premis 3: B Konklusi: B Premis 1: B Premis 2: B Premis 3: B Konklusi: S Premis 1: S Premis 2: S Premis 3: S Konklusi: B Premis 1: S Premis 2: S Premis 3: S Konklusi: S Pasti/harusTak mungkinMungkin B = Benar, S = Salah

22  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 22 Argumen Induktif Argumen yang simpulannya merupakan perampatan atau generalisasi dari keadaan atau pengamatan khusus sebagai premis. Generalisasi menjadikan argumen induktif merupakan argumen ada benarnya (plausible argument) bukan argumen pasti benarnya atau logis (logical argument). Premis: Konklusi: Satu biji jeruk dari karung A manis rasanya. Beberapa biji berikutnya manis rasanya. Semua jeruk dari karung A manis rasanya. Ada benarnya tetapi dapat salah. Tidak pasti benar.

23  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 23 Perbedaan Argumen Deduktif dan Induktif Untuk meyakinkan perlu dilekatkan tingkat keyakinan (confidence level), misalnya 90% atau 95%. Premis 1: Semua burung berbulu. Premis 2: Bebek berbulu. Konklusi: Bebek adalah burung. Pasti benar (necessarily true) Premis 1: Beberapa burung dapat terbang. Premis 2: Bebek adalah burung. Konklusi: Bebek dapat terbang. Argumen deduktifArgumen induktif Boleh jadi benar/ada benarnya (not necessarily true) Lihat contoh penalaran induktif dalam akuntansi pada Gambar 2.11

24  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 24 Argumen Sebab-Akibat (Causal Generalization) Argumen untuk mendukung bahwa perubahan faktor tertentu disebabkan oleh faktor yang lain. Kriteria Penyebaban: 1.Faktor sebab bervariasi dengan faktor akibat (efek). 2.Faktor sebab terjadi sebelum atau mendahului faktor akibat. 3.Tidak ada faktor lain selain faktor sebab yang diidenfikasi. Lihat kaidah penyebaban Mill pada Gambar 2.10

25  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 25 Kecohan (Fallacy) Strategem Salah nalar (reasoning fallacy) Aspek manusia dalam berargumen Keyakinan semu atau keliru akibat orang terbujuk oleh suatu argumen yang mengandung catat (faulty) atau tidak valid. Orang dapat terkecoh akibat taktik membujuk selain dengan argumen yang valid. Orang dapat mengecoh atau terkecoh lantaran:

26  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 26 Kecohan lantaran Strategem Persuasi taklangsung Membidik orangnya Menyampingkan masalah Misrepresentasi Imbauan cacah Imbauan autoritas Imbauan tradisi Dilema semu Imbauan emosi

27  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 27 Kecohan lantaran Salah Nalar Menyangkal anteseden Pentaksaan Perampatan-lebih Parsialitas Pembuktian dengan analogi Merancukan urutan kejadian dengan penyebaban Menarik simpulan pasangan Ketegaran ilmiah (scientific rigor) dan prinsip ketersalahan (principles of falsifiability) bukan salah nalar.

28  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 28 Kecohan lantaran Aspek Manusia Puas dengan penjelasan sederhana Kepentingan mengalahkan nalar Sindroma tes klinis Mentalitas Djoko Tingkir Merasionalkan daripada menalar Persistensi Fiksasi fungsional

29  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 29 Kutipan Penting Hirshleifer (1988) di halaman 90. Nickerson (1986) di halaman 92. Thomas Kuhn (1970) di halaman 93.

30  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 30 All sciences advance through disagreement. In astronomy the geocentric model of Ptolemy was opposed by the new heliocentric model of Copernicus; in chemistry Priestley supported the phlogiston theory of combustion while Lavoisier propounded the oxidation theory; and in biology the creationism of earlier naturalists was countered by Darwin’s theory of evolution. It is not universal agreement but rather the willingness to consider evidence that signals the scientific approach. For Galileo’s opponents to disagree with him about Jupiter’s moons was not unscientific of itself; what was unscientific was their refusal to look through his telescope and see. Jack Hirshleifer, Price Theory and Applications (1988), hlm. 4.

31  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 31 Priestley never accepted the oxygen theory, nor Lord Kelvin the electromagnetic theory, and so on. The difficulties of conversion have often been noted by scientists themselves. Darwin, in a particulary perceptive passage at the end of his Origin of Species, wrote: “Although I am fully convinced of the truth of the views given in this volume..., I by no means expect to convince experienced naturalists whose mind are stocked with a multitude of facts all viewed, during a long course of years, from a point of view directly opposite to mine.... [B]ut I look with confidence to the future, —to young and rising naturalists, who will be able to view both sides of the question with impartiality.” Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (1970), hlm. 151.

32  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 32 And Max Planck,..., sadly remarked that “a new scientific truth does not triumph by convincing its opponents and making them see the light, but rather because its opponents eventually die, and a new generation grows up that is familiar with it”... scientists, being only human, cannot always admit their errors, even when confronted with strick proof. I would argue, rather, that in these matters neither proof nor error is at issue. The transfer of allegience from paradigm to paradigm is a conversion experience that cannot be forced. Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (1970), hlm. 151.

33  Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 33 Bila orang merasakan belajar sebagai kenikmatan, maka dia akhirya akan mengenyam kenikmatan ganda.


Download ppt " Suwardjono Bab 2Penalaran (Reasoning) 4/7/2015 Transi 1 Bab 2 Penalaran (Reasoning)"

Presentasi serupa


Iklan oleh Google