Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Pola Pikir Wartawan Profesional Kebijaksanaan Redaksional Oleh Usman Yatim.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Pola Pikir Wartawan Profesional Kebijaksanaan Redaksional Oleh Usman Yatim."— Transcript presentasi:

1 Pola Pikir Wartawan Profesional Kebijaksanaan Redaksional Oleh Usman Yatim

2 Pola Pikir Wartawan Wartawan maupun media harus dapat berfikir dan bersikap normatif/konvensif, selalu mengacu pada peraturan-perundang-undangan. Kebijakan yang diambil harus dapat dibakukan. Menyalurkan aspirasi secara proporsional, dan mendukung perubahan yang dilakukan secara konstitusional.

3 Mengedepankan Kejujuran ► Wartawan dalam melakukan peliputan/investigasi/wawancara/mendapatkan keterangan resmi, dan ketika menulis, harus didasarkan dengan tidak berniat buruk, jujur pada diri/profesi dan redaksinya. ► Wartawan tidak boleh menggelapkan peristiwa/fakta/data dan tidak melebihkan/mereduksi. ► Semua aktifitas wartawan dilakukan secara terbuka. ► Wartawan melakukan pekerjaan secara bertanggungjawab kepada masyarakat, bangsa dan negara atau dalam kendali sensor/tekanan

4 By Line ► Sikap pribadi/pendapat wartawan tidak dapat mengotori fakta/data peristiwa. Bilamana wartawan berpendapat, ia dapat menulis by line — sebab editorial merupakan opini board of paper. ► Wartawan dapat menyampaikan pendapatnya melalui artikel/kolom/opini yang ditulis by line (menyebutkan nama penulis) dan konsekuensi/implikasi menjadi tanggungjawab pribadinya

5 Profesionalisme ► Wartawan melakoni pekerjaan sebagai kendaraan untuk mencapai tujuan yang berhubungan langsung dengan pekerjaannya. ► Pekerjaan wartawan dilakoni bukan sebagai ritual/protokoler atau sekedar drama (bukan sebenarnya) dan upacara/bermanis-lipservis yang penuh kebohongan. ► Pekerjaan yang dilakoni untuk mencapai tujuan lain berarti sama dengan memanipulasi/melacurkan pekerjaan untuk tujuan tertutup/tersembunyi/terselubung.

6 Siap Menerima Konsekuensi ► Wartawan harus bersedia/menyiapkan diri untuk menerima konsekuensi/implikasi dari pekerjaannya. ► Konsekuensi didapat berkat melakoni pekerjaan karena berdedikasi pada apa yang jadi tujuan pekerjaan. ► Wartawan selalu memelihara kejujuran pada diri sendiri, orang lain danTuhan

7 Ketrampilan Jurnalistik ► Pofesionalisme wartawan dibangun melalui proses pembelajaran yang meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya. ► Wartawan harus menguasai jurnalistik dan semua standar berkaitan pekerjaan kewartawanan. ► Wartawan harus mengerti prinsip dasar 5 W + 1 H (what, who, where, when, why, dan how)

8 5 W + 1 H ► What — diajukan sampai 17 kali, adalah esensi/subtansi peristiwa. ► Who, pelaku/korban/saksi mata dan pejabat/petugas dari instansi berkaitan secara kompetensi formal dan atau siapa yang berbicara atau mengatakan. ► When - menyangkut aktualitas. ► Where - tempat kejadian — bisa juga konteks peristiwa. ► Why - latar belakang/penyebab peristiwa. ► How - lika-liku/jalan cerita peristiwa.

9 Nilai Berita ► Harus disadari bahwa nilai berita menentukan perlakuan/proporsi sesuai kebijakan redaksi/segmentasi, dan bentuk-bentuk penulisan (strightnews, depthnews, features, journey reports, profile, special interview, editorial, photo, grafik/grafis, dan seterusnya). ► Peliputan/penulisan harus sampai ke tingkat menguasai peristiwa dan mengerti jalan cerita/duduk perkara peristiwa.

10 Ketrampilan profesi ► Wartawan harus menguasai teknik meliput (melalui menghadiri jumpa pers/meminta keterangan, pergi ke tempat kejadian peristiwa (TKP), menginvestigasi, mewawancara sumber dan narasumber. ► Wartawan harus dapat mengumpulkan/mengolah data, membahas semua fakta/data/dokumen/keterangan yang dikumpulkan) dan menguasai teknik menulis (berbagai bentuk penulisan/pelaporan tadi).

11 Bentuk Penyajian Berita/informasi ► Strightnews, memenuhi sturuktur berita piramida terbalik — dan ada yang disebut teras/lead berita. ► Feature, memberi peluang mengungkap/memaparkan aspek/dimensi kemanusiaan dan pelaku/korban peristiwa. ► Dephtnews, membuka peluang menyusun laporan dengan menampilkan konteks/alur/kait-mengait peristiwa/lika-liku peristiwa. ► Profile, membuka pula peluang pelaporan yang memberikan gambaran peristiwa lebih utuh. ► Special interview, membuka peluang satu sumber/narasumber menyampaikan pandangannya secara luas dan utuh. ► Editorial, pandangan board of news authority.

12 Independensi Wartawan ► Wartawan harus selalu bersikap independen, obyektif, bothside, fairness, cool, tak berniat, dan jujur dalam meliput/mengumpulkan/mengolah/mencermati kecenderungan dan jujur dalam menulis fakta/data/dokumen/keterangan dikumpul/diolahnya. ► Independen, wartawan tidak memiliki motif/memihak — walaupun tidak terelakkan berita/tulisannya diduga/ditunding “berpihak” (dimensi obyektivitas subyektif).

13 Obyektif, Bothside, Fairness ► Obyektif, mengacu fakta lapangan/keterangan pelaku- korban-saksi mata dan dari dari pejabat/petugas instansi berkaitan — kemungkinan pelaku/korban/saksi mata/pejabat tidak berkata jujur/benar sebagai tantangan. ► Bothside, selalu berusaha mengunjuk fakta/informasi/data/keterangan semua pihak berkaitan dengan peristiwa. ► Fairness, selalu berusaha memproporsikan secara benar — bila ada pihak belum dihubungi dikatakan apa adanya.

14 Kejernihan berfikir ► Kejernihan berfikir seorang wartawan dihasilkan dari gabungan sikap independen/obyektif/bothside/fairness. ► Kejernihan berfikir terwujud karena wartawan tidak berniat buruk, bersikap jujur, punya harga diri tinggi, memiliki integritas/personalitas sebagai wartawan.

15 Mengacu pada Peraturan ► Wartawan harus normatif dan selalu mengacu pada peraturan-perundangan. ► Wartawan selalu mengacu pada — lebih sekedar menghormati — nilai/norma/konvensi. ► Dia meliput/menulis dengan selalu mengacu pada bab-pasal peraturan-perundangan/kebijakan formal yang dibakukan — kendati wartawan tidak sependapat dengan norma/peraturan- perundangan berkaitan.

16 Mengedepankan Fakta ► Apabila wartawan berpikiran/bermaksud/berkeinginan mengubah realitas, harus menjadikannya fakta. Misalnya, wartawan meminta pendapat pakar di bidangnya atau tokoh masyarakat diketahui punya basis dukungan masyarakat atau mungkin hasil penelitian atau aspirasi terbuka. ► Sama sekali tiap wartawan tidak dapat memasukkan pendapat pribadi dalam berita.

17 Pemahaman Mendalam Wartawan ► Memandang jurnalistik/kewartawanan sebagai cara berpikir/jalan pikiran. ► Melakukan peliputan dan pengumpulan informasi/data/dokumen perkembangan, dan keterangan — sejauh mungkin sampai detil ► Memahami/memandang/bersikap: seorang wartawan harus selalu sampai pada tingkat mengerti duduk perkara/menguasai jalan cerita peristiwa.

18 Kompetensi ► Tiap berita/tulisan wartawan selalu mengacu fakta/data/keterangan sesuai kompetensi. ► Kompetensi, setidaknya, kompetensi formal (pejabat/petugas berwenang), politis (parlemen/pengurus partai), akademis/metodologis (pakar sesuai bidangnya). ► Profesional (profesional/otoritas teknis), dan fungsional (tokoh/individu panutan/pimpinan Ormas). ► Wartawan tidak secara sembarang nara sumber untuk dapat bicara/dikutip.

19 Kebenaran Wartawan ► Kebenaran wartawan berbeda dengan kebenaran ilmuwan yang menekankan pandangan/pendapat berdasarkan kompetensi akademis/metodologis/keilmuannya — walaupun ilmuwan melakukan penelitian. ► Kebenaran wartawan berbeda dengan kebenaran kecendekiaan yang mengedepankan kecerdasan emosional. ► Kebenaran wartawan juga berbeda dengan kebenaran tokoh masyarakat yang lebih menekankan aspirasi.

20 Obyektifitas dan Pencerdasan ► Berita/tulisan wartawan adalah kebenaran faktual/obyektif menurut norma/konvensi/peraturan-perundangan yang berlaku/keterangan — walau mungkin harus/akan diubah! ► Wartawan menyalurkan aspirasi berdasarkan fakta aspirasi dan memproporsikannya, dan wartawan mewawancarai/mengutip pandangan/pendapat pakar atau profesional di bidangnya untuk pencerdasan.

21 Posisi Kebenaran ► Tanggungjawab kebenaran pada narasumber/sumber berita. ► Kebenaran berita jadi tanggungjawab pada institusi media ► Manajemen media dapat menindak mulai dari pimpinan redaksi sampai jajaran/wartawan.

22 Tugas Holistik Wartawan ► Tugas holistik wartawan/media adalah dalam menginformasikan — memenuhi hak rakyat mengetahui, mentranspormasi/mencerdaskan dengan mengakses semua. ► Sumber/narasumber/dokumen, menyalurkan aspirasi berdasar secara profesional, dan melakukan sosial kontrol dengan mutlak mengacu bab-pasal norma/konvensi/peraturan- perundangan/kebijakan/keterangan berdasar kompetensi!

23 Pertaruhan Profesi ► Wartawan/media harus jujur/bertanggungjawab — menerima konsekuensi/implikasi baik-buruk dari pemberitaan/tulisan. Wartawan/media tidak berniat buruk/harus konstruktif melakukan sosial kontrol beserta solusi. Ada wartawan menulis by line (menyebut nama sendiri, bukan jabatan) — mempertaruhkan profesionalitas/moralitas/integritas/personalitas/dighnity — sekedar menghindarkan tekanan terhadap medianya. Untuk salah berita, maka medianya dapat dihadapkan ke depan hukum — sebaiknya melalui mekanisme pers. Bila by line, penulisnya yang diajukan.

24 Wartawan dan Lembaga ► Wartawan/media tidak memandang siapa pribadi di balik jabatan pemerintahan, tapi, lembaganya! ► Wartawan/media mendukung keberadaan lembaga pemerintahan — siapa pun berada di balik jabatan itu. ► Politisi memang dapat me-impeach kepala daerah, tapi, wartawan hanya mengumpulkan informasi/fakta/data/dokumen/keterangan selengkapnya dan media memberitakannya.

25 Kepentingan Wartawan ► Wartawan/media memberitakan dan atau memuat tulisan yang mengeritik — sejauh mengacu pada bab-pasal peraturan perundangan/kebijakan baku, belum tentu diterima dan dapat dituding “wartawan/media punya kepentingan”.


Download ppt "Pola Pikir Wartawan Profesional Kebijaksanaan Redaksional Oleh Usman Yatim."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google