Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

HUBUNGAN KEBIJAKAN HARGA DENGAN VOLUME PENJUALAN PADA CV. BINTANG FAJAR BERSINAR FARMA BANDUNG WELLYANTO.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "HUBUNGAN KEBIJAKAN HARGA DENGAN VOLUME PENJUALAN PADA CV. BINTANG FAJAR BERSINAR FARMA BANDUNG WELLYANTO."— Transcript presentasi:

1 HUBUNGAN KEBIJAKAN HARGA DENGAN VOLUME PENJUALAN PADA CV. BINTANG FAJAR BERSINAR FARMA BANDUNG WELLYANTO

2 PENDAHULUAN  LATAR BELAKANG Kebutuhan manusia beraneka ragam,seperti kebutuhan akan makanan, pakaian, perumahan, dan kebutuhan lainnya yang harus dipenuhi dalam hidupnya. Setiap barang atau jasa yang dapat memuaskan kebutuhan manusia mempunyai nilai. Nilai yang dinyatakan secara kuantitatif disebut harga. Keputusan harga yang diikuti oleh seorang penjual disebut kebijakan harga. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik mengadakan penelitian dengan judul: “HUBUNGAN KEBIJAKAN HARGA DENGAN VOLUME PENJUALAN PADA CV. BINTANG FAJAR BERSINAR FARMA, BANDUNG”  IDENTIFIKASI MASALAH Bertitik tolak dari latar belakang di atas, makapenulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut: 1.Bagaimana kebijakan penetapan harga jual yang ditetapkan oleh CV. Bintang Fajar Bersinar Farma? 2.Bagaimana perkembangan volume penjuala CV. Bintang Fajar Bersinar Farma? 3.Bagaimana hubungan kebijakan penetapan harga jual dengan volume penjualan pada CV. Bintang Fajar Bersinar Farma?  LATAR BELAKANG Kebutuhan manusia beraneka ragam,seperti kebutuhan akan makanan, pakaian, perumahan, dan kebutuhan lainnya yang harus dipenuhi dalam hidupnya. Setiap barang atau jasa yang dapat memuaskan kebutuhan manusia mempunyai nilai. Nilai yang dinyatakan secara kuantitatif disebut harga. Keputusan harga yang diikuti oleh seorang penjual disebut kebijakan harga. Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik mengadakan penelitian dengan judul: “HUBUNGAN KEBIJAKAN HARGA DENGAN VOLUME PENJUALAN PADA CV. BINTANG FAJAR BERSINAR FARMA, BANDUNG”  IDENTIFIKASI MASALAH Bertitik tolak dari latar belakang di atas, makapenulis mengidentifikasikan masalah sebagai berikut: 1.Bagaimana kebijakan penetapan harga jual yang ditetapkan oleh CV. Bintang Fajar Bersinar Farma? 2.Bagaimana perkembangan volume penjuala CV. Bintang Fajar Bersinar Farma? 3.Bagaimana hubungan kebijakan penetapan harga jual dengan volume penjualan pada CV. Bintang Fajar Bersinar Farma?

3  MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN 1.Untuk mengetahui kebijakan penetapan harga jual yang ditetapkan oleh perusahaan CV. Bintang Fajar Bersinar Farma. 2.Untuk mengetahui perkembangan volume penjualan CV. Bintang Fajar Bersinar Farma. 3.Untuk mengetahui kebijakan penetapan harga jual dengan volume penjualan pada CV. Bintang Fajar Bersinar Farma.  KERANGKA PEMIKIRAN Harga merupakan elemen yang penting di dalam bauran pemasaran yang dapat menghasilkan pendapatan melalui penjualan produk perusahaan, oleh karna itu dalam melaksanakan kebijakan harga, perusahaan dituntut untuk dapat menetapkan harga dengan tepat, agar dapat diterima oleh konsumen dan dapat menghasilkan keuntungan sesuai dengan peningkatan penjualan seperti yang diharapkan oleh perusahaan.  MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN 1.Untuk mengetahui kebijakan penetapan harga jual yang ditetapkan oleh perusahaan CV. Bintang Fajar Bersinar Farma. 2.Untuk mengetahui perkembangan volume penjualan CV. Bintang Fajar Bersinar Farma. 3.Untuk mengetahui kebijakan penetapan harga jual dengan volume penjualan pada CV. Bintang Fajar Bersinar Farma.  KERANGKA PEMIKIRAN Harga merupakan elemen yang penting di dalam bauran pemasaran yang dapat menghasilkan pendapatan melalui penjualan produk perusahaan, oleh karna itu dalam melaksanakan kebijakan harga, perusahaan dituntut untuk dapat menetapkan harga dengan tepat, agar dapat diterima oleh konsumen dan dapat menghasilkan keuntungan sesuai dengan peningkatan penjualan seperti yang diharapkan oleh perusahaan.

4  HIPOTESIS Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, penulis memberikan hipotetis sebagai berikut: Bahwa tidak ada hubungan antara harga jual dengan volume penjualan. Atau: Ho : r=0 : Tidak ada hubungan antara harga jual dengan volume penjualan Ha : r<0 : Ada hubungan yang negatif antara harga jual dengan volume penjualan.  OPERASIONALISASI VARIABEL Berdasarkan judul skripsi ini, terhadap dua variable yang akan dibahas, yaitu: 1. Harga jual sebagai variabel independen atau X. Indikator dari variable ini adalah: a. Lingkungan perusahaan. B. Struktur organisasi. 2. Volume penjualan sebagai variabel dependen atau Y. Indikator dari variable ini adalah kuantitas..  HIPOTESIS Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, penulis memberikan hipotetis sebagai berikut: Bahwa tidak ada hubungan antara harga jual dengan volume penjualan. Atau: Ho : r=0 : Tidak ada hubungan antara harga jual dengan volume penjualan Ha : r<0 : Ada hubungan yang negatif antara harga jual dengan volume penjualan.  OPERASIONALISASI VARIABEL Berdasarkan judul skripsi ini, terhadap dua variable yang akan dibahas, yaitu: 1. Harga jual sebagai variabel independen atau X. Indikator dari variable ini adalah: a. Lingkungan perusahaan. B. Struktur organisasi. 2. Volume penjualan sebagai variabel dependen atau Y. Indikator dari variable ini adalah kuantitas..

5  TEHNIK PENGOLAHAN DATA Tehnik pengolahan data yang digunakan penulis adalah sebagai berikut: 1.Analisis koefisien korelasi Analisis koefisien korelasi digunakan untuk mengetahui kuatnya hubungan antara harga dan volume penjualan. Untuk mengukur atau menganalisis koefisien korelasi ini maka digunakan Korelasi Person Product Moment Rumus Korelasi Person menurut Supranto adalah sebagai berikut: r = Dimana: r= Koefisien korelasi n= Banyaknya periode x= Persentase kenaikan atau penurunan harga untuk mengukur atau interpretasi atas besarnya r, maka digunakan table.  TEHNIK PENGOLAHAN DATA Tehnik pengolahan data yang digunakan penulis adalah sebagai berikut: 1.Analisis koefisien korelasi Analisis koefisien korelasi digunakan untuk mengetahui kuatnya hubungan antara harga dan volume penjualan. Untuk mengukur atau menganalisis koefisien korelasi ini maka digunakan Korelasi Person Product Moment Rumus Korelasi Person menurut Supranto adalah sebagai berikut: r = Dimana: r= Koefisien korelasi n= Banyaknya periode x= Persentase kenaikan atau penurunan harga untuk mengukur atau interpretasi atas besarnya r, maka digunakan table.

6 Tabel 1.1 Ukuran Koefisien Korelasi RInterpretasi 0,00-0,199Sangat rendah 0,20-0,399Rendah 0,40-0,599Sedang 0,60-0,799Kuat 0,80-1,00Sangat kuat

7 2. Uji Hipotesis Dilakukan untuk mengetahui apakah hipotesis diterima atau ditolak yaitu dengan mencari nilai t hitung. rumus t hitung adalah sebagai berikut: t = r dimana: n = Jumlah sampel r = Koefisien korelasi Hipotesis tersebut diterima atau ditolak dengan criteria sebagai berikut: 1.Jika t hitung > t tabel, maka hubungan kedua variable adalah signifikan, Ho ditolak. 2.Jika t hitung < t tabel, maka hubungan kedua variabel tidak signifikan, Ho diterima. 2. Uji Hipotesis Dilakukan untuk mengetahui apakah hipotesis diterima atau ditolak yaitu dengan mencari nilai t hitung. rumus t hitung adalah sebagai berikut: t = r dimana: n = Jumlah sampel r = Koefisien korelasi Hipotesis tersebut diterima atau ditolak dengan criteria sebagai berikut: 1.Jika t hitung > t tabel, maka hubungan kedua variable adalah signifikan, Ho ditolak. 2.Jika t hitung < t tabel, maka hubungan kedua variabel tidak signifikan, Ho diterima.

8 1.8 PEMBATASAN MASALAH Perusahaan ini menjual banyak macam/jenis obat-obatan dan farmasi. Maka dari itu penulis hanya membatasi masalah pada penetapan harga untuk produk Obat Syrup Etadril dari tahun Obat Syrup Etadril merupakan obat batuk, pilek, dan gejala alergi lainnya dengan komposisi 60ml. Jenis obat sirup ini adalah obat yang dikenal oleh masyarakat dan telah terbukti khasiatnya. Hal ini telah diakui oleh para dokter, para ahli kesehatan, dan pihak apoteker seluruh wilayah Indonesia. 1.9 WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN Penelitian dan pengumpulan data dilakukan pada CV. Bintang Fajar Bersinar Farma yang berlokasi di Jl. Tulip VIII No. 5 Bumi Rancaekek Kencana, Bandung. Dan waktu penelitian dilakukan pada bulan januari 2004 – Maret PEMBATASAN MASALAH Perusahaan ini menjual banyak macam/jenis obat-obatan dan farmasi. Maka dari itu penulis hanya membatasi masalah pada penetapan harga untuk produk Obat Syrup Etadril dari tahun Obat Syrup Etadril merupakan obat batuk, pilek, dan gejala alergi lainnya dengan komposisi 60ml. Jenis obat sirup ini adalah obat yang dikenal oleh masyarakat dan telah terbukti khasiatnya. Hal ini telah diakui oleh para dokter, para ahli kesehatan, dan pihak apoteker seluruh wilayah Indonesia. 1.9 WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN Penelitian dan pengumpulan data dilakukan pada CV. Bintang Fajar Bersinar Farma yang berlokasi di Jl. Tulip VIII No. 5 Bumi Rancaekek Kencana, Bandung. Dan waktu penelitian dilakukan pada bulan januari 2004 – Maret 2004.

9 PEMBAHASAN PENELITIAN  Kebijakan Harga yang Dilaksanakan CV. Bintang Fajar Bersinar Farma. 1.Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan pihak Manager, bahwa CV. Bintang Fajar Bersinar Farma membeli obat-obatan dan farmasi hanya dari PT. Erritha Pharma dan selanjutnya menetapkan harga obat-obatan dan farmasi untuk dijual kepada konsumen akhir (para pelanggan). 2.Kepala pemasaran selalu memantau harga jual yang ditetapkan oleh para pesaingnya, dan hasil pantauan tersebut akan disampaikan kepada Manager. Kemudian para pimpinan CV. Bintang Fajar Bersinar Farma (Manager, Kepala Administrasi, Kepala Pemasaran, Kepala Keuangan) akan rapat untuk menganalisis harga jual obat. 3.Metode kebijakan harga yang telah diterapkan oleh perusahaan CV. Bintang Fajar Bersinar Farma ini dalam menetapkan harga jual produknya yaitu penetapan harga yang berorientasi pada biaya-plus (cost-plus or mark up pricing). Dalam hal ini perusahaan menetapkan harga jual dengan meperhitungkan berdasarkan atas harga beli ditambah dengan persentase keuntungan yang diinginkan perusahaan yaitu sebanyak 15% untuk wilayah Bandung, dan 30% untuk wilayah Papua (Irian Jaya). Dapat penulis rumuskan sebagai berikut: a. Untuk wilayah Bandung: Penetapan Harga= (15% x Harga Beli) + Harga Beli. b. Untuk wilayah Papua (Irian Jaya): Penetapan Harga= (30% x Harga Beli) + Harga Beli.  Kebijakan Harga yang Dilaksanakan CV. Bintang Fajar Bersinar Farma. 1.Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan pihak Manager, bahwa CV. Bintang Fajar Bersinar Farma membeli obat-obatan dan farmasi hanya dari PT. Erritha Pharma dan selanjutnya menetapkan harga obat-obatan dan farmasi untuk dijual kepada konsumen akhir (para pelanggan). 2.Kepala pemasaran selalu memantau harga jual yang ditetapkan oleh para pesaingnya, dan hasil pantauan tersebut akan disampaikan kepada Manager. Kemudian para pimpinan CV. Bintang Fajar Bersinar Farma (Manager, Kepala Administrasi, Kepala Pemasaran, Kepala Keuangan) akan rapat untuk menganalisis harga jual obat. 3.Metode kebijakan harga yang telah diterapkan oleh perusahaan CV. Bintang Fajar Bersinar Farma ini dalam menetapkan harga jual produknya yaitu penetapan harga yang berorientasi pada biaya-plus (cost-plus or mark up pricing). Dalam hal ini perusahaan menetapkan harga jual dengan meperhitungkan berdasarkan atas harga beli ditambah dengan persentase keuntungan yang diinginkan perusahaan yaitu sebanyak 15% untuk wilayah Bandung, dan 30% untuk wilayah Papua (Irian Jaya). Dapat penulis rumuskan sebagai berikut: a. Untuk wilayah Bandung: Penetapan Harga= (15% x Harga Beli) + Harga Beli. b. Untuk wilayah Papua (Irian Jaya): Penetapan Harga= (30% x Harga Beli) + Harga Beli.

10 4.Perusahaan akan memberikan potongan pembelian kepada para pelanggan sebesar (5%) dari total pembelian apabila para pelanggan membeli obat lebih dari (10) boks sampai lima puluh (50) boks secara tunai. 5.Perusahaan akan memberikan potongan pembelian kepada para pelanggan sebesar (7%) dari total pembelian apabila para pelanggan membeli obat lebih dari (50) boks secara tunai. 6.Semantara penjualan secara kredit, perusahaan ini juga memberikan potongan pembelian kepada para pelanggan sebesar lima persen (5%) dari total pembelian, dengan syarat pembelian lebih dari lima (50) boks, untuk jangka waktu (30) hari (credit term 5/30, n/30). Apabila pembayaran kredit lebih dari tiga puluh hari dari waktu pembelian, maka tidak ada potongan pembelian atau potongan pembelian dianggap hangus. 7.Apabila dokter membeli atau memesan obat langsung kepada perusahaan atau Kepala pemasaran, maka akan diberikan potongan pembelian sebesar (5%) untuk pembelian sampai lima puluh (50) boks baik tunai maupun kredit, dan potongan pembelian sebesar tujuh persen (7%) untuk pembelian lebih dari lima puluh (50) boks baik tunai maupun kredit. Kebijakan ini ditetapkan karna dianggap sebagai jalur promosi obat kepada para konsumen akhir. 8.Sebagai perusahaan yang bergerak dibidang obat-obatan/farmasi, maka perusahaan ini memiliki pesaing yaitu: a. Di Bandung; PT. Adiratna Pharma, dan PT. Tri Star Pharma. b. Di Papua (Irian Jaya); PT. Aweda Pharma. 9.Perusahaan tidak membedakan wilayah (Jawa Barat dan Papua) di dalam pencatatan penjualannya. 10.Kebijakan harga yang dilakukan oleh perusahaan ini biasanya memiliki perubahan harga jual yang biasanya cenderung naik, yaitu rata-rata setiap dua sampai empat bulan. Hal ini dikarenakan, dalam menetapkan harga jualnya dipengaruhi oleh harga beli dan perkembangan harga pasar. 11.Kebijakan ini bertujuan agar para penyalur didorong untuk membeli dalam jumlah yang banyak dan agar supaya para pelanggan memutuskan pembeliannya hanya pada perusahaan ini. 4.Perusahaan akan memberikan potongan pembelian kepada para pelanggan sebesar (5%) dari total pembelian apabila para pelanggan membeli obat lebih dari (10) boks sampai lima puluh (50) boks secara tunai. 5.Perusahaan akan memberikan potongan pembelian kepada para pelanggan sebesar (7%) dari total pembelian apabila para pelanggan membeli obat lebih dari (50) boks secara tunai. 6.Semantara penjualan secara kredit, perusahaan ini juga memberikan potongan pembelian kepada para pelanggan sebesar lima persen (5%) dari total pembelian, dengan syarat pembelian lebih dari lima (50) boks, untuk jangka waktu (30) hari (credit term 5/30, n/30). Apabila pembayaran kredit lebih dari tiga puluh hari dari waktu pembelian, maka tidak ada potongan pembelian atau potongan pembelian dianggap hangus. 7.Apabila dokter membeli atau memesan obat langsung kepada perusahaan atau Kepala pemasaran, maka akan diberikan potongan pembelian sebesar (5%) untuk pembelian sampai lima puluh (50) boks baik tunai maupun kredit, dan potongan pembelian sebesar tujuh persen (7%) untuk pembelian lebih dari lima puluh (50) boks baik tunai maupun kredit. Kebijakan ini ditetapkan karna dianggap sebagai jalur promosi obat kepada para konsumen akhir. 8.Sebagai perusahaan yang bergerak dibidang obat-obatan/farmasi, maka perusahaan ini memiliki pesaing yaitu: a. Di Bandung; PT. Adiratna Pharma, dan PT. Tri Star Pharma. b. Di Papua (Irian Jaya); PT. Aweda Pharma. 9.Perusahaan tidak membedakan wilayah (Jawa Barat dan Papua) di dalam pencatatan penjualannya. 10.Kebijakan harga yang dilakukan oleh perusahaan ini biasanya memiliki perubahan harga jual yang biasanya cenderung naik, yaitu rata-rata setiap dua sampai empat bulan. Hal ini dikarenakan, dalam menetapkan harga jualnya dipengaruhi oleh harga beli dan perkembangan harga pasar. 11.Kebijakan ini bertujuan agar para penyalur didorong untuk membeli dalam jumlah yang banyak dan agar supaya para pelanggan memutuskan pembeliannya hanya pada perusahaan ini.

11 Perubahan Harga Obat Volume Penjualan Obat Tahun 2001 Tahun 2001 NoBulanHarga jual (Rp) 1Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember1.300 NOBulanVolume Penjualan 1Maret260,150 2April301,900 3Mei325,850 4Juni313,600 5Juli336,600 6Agustus355,100 7September361,500 8Oktober422,300 9November447,550 10Desember503,900 Jumlah

12 Perubahan Harga Obat Volume Penjualan Obat Tahun 2002 Tahun 2002 NoBulanHarga Jual (Rp) 11Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember1.600 NoBulanVolume Penjualan 11Januari550,450 12Februari586,900 13Maret604,850 14April647,750 15Mei688,850 16Juni695,450 17Juli722,150 18Agustus729,500 19September741,400 20Oktober752,300 21November761,550 22Desember779,500 Jumlah

13 Perubahan Harga Obat Volume Penjualan Obat Tahun 2002 Tahun 2002 NoBulanHarga Jual (Rp) 23Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember1.810 NOBulanVolume Penjualan 23Januari766,950 24Februari780,500 25Maret797,250 26April815,200 27Mei831,450 28Juni850,850 29Juli873,000 30Agustus888,650 31September924,350 32Oktober938,300 33November959,950 34Desember976,000 Jumlah

14  Harga Jual dan Volume Penjualan Obat CV. Bintang Fajar Bersina Farma. Harga jual dan tingkat volume penjualan mengalami perubahan setiap bulan sekali. Hal ini dikarenakan dalam menetapkan harga jual sering mengalami perubahan dari waktu ke waktunya, dan juga dipengaruhi oleh banyaknya permintaan obat oleh pelanggan atau konsumen.  Hubungan Kebijakan Harga dengan Volume Penjualan Pada CV. Bintang Fajar Bersinar Farma Hubungan antara kebijakan penetapan harga jual (variabel X) dengan volume penjualan (variabel Y) dianalisis secara statistic, yaitu analisis koefisien korelasi, uji hopotesis.  Harga Jual dan Volume Penjualan Obat CV. Bintang Fajar Bersina Farma. Harga jual dan tingkat volume penjualan mengalami perubahan setiap bulan sekali. Hal ini dikarenakan dalam menetapkan harga jual sering mengalami perubahan dari waktu ke waktunya, dan juga dipengaruhi oleh banyaknya permintaan obat oleh pelanggan atau konsumen.  Hubungan Kebijakan Harga dengan Volume Penjualan Pada CV. Bintang Fajar Bersinar Farma Hubungan antara kebijakan penetapan harga jual (variabel X) dengan volume penjualan (variabel Y) dianalisis secara statistic, yaitu analisis koefisien korelasi, uji hopotesis.

15  Analisis Koefisien Korelasi Kuatnya hubungan antara kebijakan penetapan harga jual dengan volume penjualan digunakan analisis koefisien korelasi dengan menggunakan rumus Pearson Product Moment.  Analisis Koefisien Korelasi Kuatnya hubungan antara kebijakan penetapan harga jual dengan volume penjualan digunakan analisis koefisien korelasi dengan menggunakan rumus Pearson Product Moment.

16 KESIMPULAN DAN SARAN  Kesimpulan 1.Kebijakan penetapan harga jual pada perusahaan CV. Bintang Fajar Bersinar Farma mengalami kenaikan harga jual umumnya setiap dua sampai empat bulan sekali. Hal ini dikarenakan dalam penetapan harga jualnya dipengaruhi oleh harga beli dan perkembangan harga pasar. Rata-rata kenaikan harga jual per tahun adalah 1,25% untuk tahun 2001; 1,78% untuk tahun 2002; dan 1,04% untuk tahun Volume penjualan perusahaan ini mengalami kenaikan setiap bulan dangan rata-rata volume penjualan tiap tahun adalah: 7,02% untuk tahun 2001; 3,74% untuk tahun 2002; dan 1,90% untuk tahun Berdasarkan hasil perhitungan statistic dengan menggunakan koefisien korelasi Pearson Product Moment, maka diperoleh r = 0,987 yang berarti hubungan antara kebijakan penetapam harga jual Obat Syirup Etadril dengan volume penjualan adalah positif dan sangat kuat. Dan berdasarkan uji hipotesis t hitung = 34,626 dan t tabel = 1,645 yang berarti t o >, artinya Ho ditolak, sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara kebijakan penetapan harga jual dengan volume penjualannya. Besarnya koefisien determinasi atau Kd = 97,4%, berarti besarnya kontribusi kebijakan penetapan harga jual terhadap volume penjualan perusahaan adalah sebesar 97,40% dan sisanya sebesar 2,60% dipengaruhi oleh factor- faktor lain di luar penelitian  Kesimpulan 1.Kebijakan penetapan harga jual pada perusahaan CV. Bintang Fajar Bersinar Farma mengalami kenaikan harga jual umumnya setiap dua sampai empat bulan sekali. Hal ini dikarenakan dalam penetapan harga jualnya dipengaruhi oleh harga beli dan perkembangan harga pasar. Rata-rata kenaikan harga jual per tahun adalah 1,25% untuk tahun 2001; 1,78% untuk tahun 2002; dan 1,04% untuk tahun Volume penjualan perusahaan ini mengalami kenaikan setiap bulan dangan rata-rata volume penjualan tiap tahun adalah: 7,02% untuk tahun 2001; 3,74% untuk tahun 2002; dan 1,90% untuk tahun Berdasarkan hasil perhitungan statistic dengan menggunakan koefisien korelasi Pearson Product Moment, maka diperoleh r = 0,987 yang berarti hubungan antara kebijakan penetapam harga jual Obat Syirup Etadril dengan volume penjualan adalah positif dan sangat kuat. Dan berdasarkan uji hipotesis t hitung = 34,626 dan t tabel = 1,645 yang berarti t o >, artinya Ho ditolak, sehingga terdapat hubungan yang signifikan antara kebijakan penetapan harga jual dengan volume penjualannya. Besarnya koefisien determinasi atau Kd = 97,4%, berarti besarnya kontribusi kebijakan penetapan harga jual terhadap volume penjualan perusahaan adalah sebesar 97,40% dan sisanya sebesar 2,60% dipengaruhi oleh factor- faktor lain di luar penelitian

17  Saran Perusahaan terus mempertahankan atau tidak menaikan persentasi keuntungannya, yaitu 15% untuk wilayah Jawa Barat, dan 30% untuk Papua, dengan demikian harga jual obat tidak terlalu tinggi sehingga dapat terus dijangkau oleh para pelanggan atau konsumen, dan agar tidak terjadi tingkat kejenuhan untuk membeli oleh para pelanggan/konsumen atas harga yang tinggi (terus menerus naik).  Saran Perusahaan terus mempertahankan atau tidak menaikan persentasi keuntungannya, yaitu 15% untuk wilayah Jawa Barat, dan 30% untuk Papua, dengan demikian harga jual obat tidak terlalu tinggi sehingga dapat terus dijangkau oleh para pelanggan atau konsumen, dan agar tidak terjadi tingkat kejenuhan untuk membeli oleh para pelanggan/konsumen atas harga yang tinggi (terus menerus naik).


Download ppt "HUBUNGAN KEBIJAKAN HARGA DENGAN VOLUME PENJUALAN PADA CV. BINTANG FAJAR BERSINAR FARMA BANDUNG WELLYANTO."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google