Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

 Kewajiban ihtimam bi amril muslimin  Persaudaran sesama Muslim di seluruh dunia  Larangan menyakiti kaum Muslim.  Perlakuan terhadap kafir harbi.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: " Kewajiban ihtimam bi amril muslimin  Persaudaran sesama Muslim di seluruh dunia  Larangan menyakiti kaum Muslim.  Perlakuan terhadap kafir harbi."— Transcript presentasi:

1

2  Kewajiban ihtimam bi amril muslimin  Persaudaran sesama Muslim di seluruh dunia  Larangan menyakiti kaum Muslim.  Perlakuan terhadap kafir harbi (ahlul harbiy) menurut syariat Islam

3

4

5

6

7 وكذلك أهل الحرب يُمنعون الإتْيَانَ إلى بلاد المسلمين بتجارة بكل حال Begitu juga Ahl al-Harb, mereka dilarang datang ke negeri kaum Muslim untuk berdagang”.[Imam Asy Syafi’iy ra, al Umm,

8

9 Ahl al-Harb tidak boleh dibiarkan masuk negeri kaum Muslim sebagai pedagang. Jika mereka masuk tanpa jaminan keamanan (al-aman) dan risalah (sebagai duta), maka mereka bisa dirampas (hartanya). Jika mereka masuk dengan al-aman, dengan syarat membayar 1/10 lebih atau kurang dari harta mereka, maka boleh diambil. Jika masuk tanpa al-aman dan syarat, mereka harus dikembalikan ke negeri mereka. Dan tidak boleh dibiarkan melenggang di negeri kaum Muslim. (as-Syafi’i, al-Umm, juz IV, hal. 244)

10  Sebagai utusan/duta/konsul untuk menyampaikan risalah kepada kepala negara Islam;  Bisnis atau berdagang;  Mencari kebutuhan, seperti kunjungan sanak kerabat, dan lain-lai.  Mempelajari Islam dan al-Qur’an (Ibn al-Qayyim al- Jauziyah, Ahkam Ahl ad-Dzimmah, juz II, hal. 873)

11 Para fuqaha ’ mensyaratkan, bahwa al-Aman tersebut bisa diberikan dengan syarat, tidak menimbulkan mudarat (bagi kepentingan Islam dan kaum Muslim). فيلزم الإمام وغيره الوفاء به إذا لم تكن فيه مضرة.. ( قوانين الأحكام الشرعية / ۱۷۳ ) Imam dan yang lainnya harus terikat untuk menunaikan jaminan (al-aman) tersebut, jika tidak menyebabkan mudarat. (Qawanin al-Ahkam as- Syar ’ iyyah, hal. 173)

12  Jumhur fuqaha ’ menyatakan, hukum asal hubungan Negara Islam dengan Negara Kafir – baik fi ’ lan maupun hukman – adalah hubungan perang.  Hubungan damai antara Negara Islam dengan Negara Kafir bisa terjadi karena: perdamaian, Negara Kafir menjadi Islam, atau tunduk kepada Negara Islam. (Ibn Qudamah, al- Mughni, juz X, hal. 387)

13  AS, termasuk Inggeris, dll. adalah negara Kafir Harbi Fi’lan, karena secara nyata memerangi negeri kaum Muslim, seperti Irak dan Afganistan, untuk dijajah.  Negeri kaum Muslim adalah satu, dengan begitu hukum asal hubungan dengan AS, Inggeris, dll itu adalah hubungan perang, bukan hubungan damai.  Konsekuensinya, tidak boleh ada hubungan diplomatik dengan negara-negara Kafir Harbi Fi’lan itu. Termasuk, tidak boleh ada konsul, duta dan perwakilan mereka di negeri kaum Muslim.

14

15 1 Larangan menjalin hubungan kerjasama dalam bentuk apapun dengan negara kafir harbiy fi’lan. Hubungan asal dengan mereka adalah hubungan perang, bukan hubungan damai, lebih-lebih lagi, bermitra dengan mereka secara komprehensif

16

17 “Keempat, negara-negara kafir harbi fi’lan, seperti Israel, wajib bagi kita menjadikan hubungan perang (keadaan perang) sebagai asas untuk mengatur seluruh hubungan dengan negara-negara kafir harbiy fi’lan. Interaksi antara kita dengan negara-negara kafir harbiy fi’lan seperti dalam keadaan perang langsung, sama saja apakah antara kita dengan negara-negara tersebut ada perjanjian atau tidak. Seluruh warga negara duwal al-muhaaribah fi’lan (negara kafir harbiy fi’lan) dilarang masuk ke dalam negera Islam, dan seluruh harta dan jiwa mereka adalah halal, kecuali kaum Muslim yang tinggal di sana”.[Muqaddimah al-Dustur, hal.416]

18 2 Kemitraan strategis termasuk dalam perjanjian yang dilarang (al- mu’aahidaat al-mamnuu’ah). Di dalam Kitab Muqaddimah al-Dustur disebutkan:.

19 وأمّا القسم الثالث فهو المعاهدات الممنوعة مثل معاهدة الحماية، ومعاهدة الحياد الدائم، ومعاهدة تحديد الحدود الدائمة، ومعاهدة تأجير المطارات، والقواعد العسكرية وما شاكل ذلك، فهذه المعاهدات غير جائزة، لأن موضوعها غير جائز، لأن الحماية تجعل للكافر سلطاناً على المسلمين وتجعل المسلمين يأمنون بأمان الكفر. والحياد الدائم غير جائز لأنه ينقِص من سلطان المسلمين. وتحديد الحدود الدائمة غير جائز لأنه يعني عدم حمل الدعوة وإيقاف حكم الجهاد. وتأجير المطارات غير جائز لأنه يجعل للكفار سلطاناً على دار الإسلام. وكذلك القواعد العسكرية. وأمّا المعاهدات العسكرية فحرام لقوله صلى الله عليه وسلم : ( لا تستضيئوا بنار المشركين ) ونار القوم كناية عن كيانهم في الحرب، ولقوله عليه السلام : ( لا نستعين بالمشركين ) ( لا نستعين بالكفار ) ، فهذه هي أدلة هذه المادة

20 3 Kemitraan Strategis Menimbulkan Madlarah: أما الأصل الثاني وهو أن الأصل في المضار الحرمة فهذا يستدعي بحثين ; أحدهما البحث عن ماهية الضرر والثاني إقامة الدليل على حرمته.... الثاني في إقامة الدلالة على حرمة الضرر والمعتمد فيه قوله عليه الصلاة والسلام لا ضرر ولا إضرار في الإسلام والكلام على التمسك بهذا النص اعتراضا وجوابا مشهور في الخلافياتأما الأصل الثاني وهو أن الأصل في المضار الحرمة فهذا يستدعي بحثين ; أحدهما البحث عن ماهية الضرر والثاني إقامة الدليل على حرمته.... الثاني في إقامة الدلالة على حرمة الضرر والمعتمد فيه قوله عليه الصلاة والسلام لا ضرر ولا إضرار في الإسلام والكلام على التمسك بهذا النص اعتراضا وجوابا مشهور في الخلافيات

21 ”Adapun hukum asal kedua adalah hukum asal dari al-madlaar (sesuatu yang berbahaya) adalah haram. Hal ini mengandung dua pembahasan, pertama, pembahasan mengenai hakekat dlarar, dan kedua, dalil yang menunjukkan haramnya dlarar....Kedua, pembuktian dalil mengenai haramnya dlarar. Dalil yang diakui dalam masalah ini adalah sabda Rasulullah saw, ”Tidak ada bahaya dan menimpakan bahaya dalam Islam”. Pendapat untuk berpegang teguh dengan nash ini, baik penjelasannya maupun jawabannya telah masyhur di dalam masalah khilaafiyah”.[Al- Mahshuul, juz 6, hal. 105 &108]

22 Al Hafidz As Suyuthi dalam Kitab Al-Asybaah wa al-Nadzaair menyatakan: الْقَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ : الضَّرَرُ يُزَالُ. أَصْلُهَا قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ } أَخْرَجَهُ مَالِكٌ فِي الْمُوَطَّأِ عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِيهِ مُرْسَلًا وَأَخْرَجَهُ الْحَاكِمُ فِي الْمُسْتَدْرَكِ وَالْبَيْهَقِيُّ وَالدَّارَقُطْنِيّ ، وَمِنْ حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَأَخْرَجَهُ ابْنُ مَاجَهْ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ. ”Kaedah keempat: bahaya harus dilenyapkan. Dalil asal kaedah ini adalah sabda Rasulullah saw, ”Tidak ada bahaya dan menimpakan bahaya”. [HR. Imam Malik dalam Kitab Al-Muwatha’, dari ’Amru bin Yahya, dari bapaknya, diriwayatkan secara mursal. HR. Imam Hakim dalam al-Mustadrak, Imam Baihaqiy, Imam Daruquthniy, dan dari haditsnya Abu Sa’id al-Khudriy, dan HR. Imam Ibnu Majah dari haditsnya Ibnu ’Abbas dan ’Ubadah bin ash Shaamith]

23 4 Larangan memberikan jalan kepada kaum kafir untuk menguasai kaum Muslim. وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا “Dan sekali-kali Allah tidak akan pernah menjadikan bagi orang-orang kafir jalan untuk menguasai kaum Mukmin”.[TQS An Nisaa’ (4):141]

24 Di dalam Kitab Fath al-Qadir, Imam Asy Syaukani menyitir beberapa pendapat ulama ketika menafsirkan ayat di atas; وقيل : إن الله لا يجعل للكافرين على المؤمنين سبيلا شرعاً ، فإن وجد ، فبخلاف الشرع. هذا خلاصة ما قاله أهل العلم في هذه الآية ، وهي صالحة للاحتجاج بها على كثير من المسائل.

25 “Dinyatakan bahwasanya, secara syar’iy, Allah swt tidak akan pernah menjadikan jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai kaum Mukmin. Jika terjadi penguasaan kaum kafir atas kaum Mukmin, maka hal tersebut menyelisihi syariat (haram). Inilah ringkasan pendapat yang dinyatakan oleh ahlu al-‘ilm berkenaan dengan ayat ini. Dan ayat ini absah dijadikan hujjah dalam berbagai masalah yang banyak”. [Imam Asy Syaukani, Fath al-Qadir, juz 2, hal. 233]

26 5 Pengkhianatan terhadap rakyat, khususnya kaum Muslim. Pada dasarnya, kerjasama antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat dalam bingkai ”kemitraan komprehensif ”, merupakan bentuk pengkhianatan kepada bangsa ini, khususnya kaum Muslim

27 مَا مِنْ وَالٍ يَلِي رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ “Tidaklah seorang hamba yang diserahi mengatur urusan rakyat, kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali Allah mengharamkan atas dirinya surga”.[HR. Imam Bukhari dan Muslim]

28 Mengizinkan Obama datang ke Indonesia bukan saja mendatangkan mudarat bagi Islam dan kaum Muslim, tetapi juga bagi Indonesia. Lebih dari itu, ini juga merupakan bentuk pengkhianatan terhadap negeri-negeri kaum Muslim yang dijajah oleh AS, dkk. Menjalin kemitraan komprehensif dengan Amerika Serikat tidak hanya menimbulkan madlarah dan mafsadat bagi bangsa ini, namun juga menjadikan negara ini tunduk di bawah kendali dan kepemimpinan Amerika Serikat. Maka, HARAM MEMBERIKAN IZIN (al-aman) dan MENERIMA KEDATANGAN OBAMA DAN MENJALIN KEMITRAAN KOMPREHENSIF DENGAN AS


Download ppt " Kewajiban ihtimam bi amril muslimin  Persaudaran sesama Muslim di seluruh dunia  Larangan menyakiti kaum Muslim.  Perlakuan terhadap kafir harbi."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google