Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Kuliah ke-VII m.k. DASAR REKAYASA BIOPROSES TIN 221 FENOMENA PERPINDAHAN PADA SISTEM BIOPROSES JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Kuliah ke-VII m.k. DASAR REKAYASA BIOPROSES TIN 221 FENOMENA PERPINDAHAN PADA SISTEM BIOPROSES JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI."— Transcript presentasi:

1 Kuliah ke-VII m.k. DASAR REKAYASA BIOPROSES TIN 221 FENOMENA PERPINDAHAN PADA SISTEM BIOPROSES JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012

2 PENGGANDAAN SKALA BIOPROSES  Merupakan suatu proses peralihan kegiatan produksi dari skala laboratorium  skala pilot plant  skala industri 1.Skala Laboratorium : penyeleksian mikroba atau identifikasi karakteristik kinerja enzim 2. Skala pilot-plant : penerapan kondisi proses yang optimal 3. Skala industri : dengan mempertimbangkan aspek ekonomi dan finansial industri bioproses PENDAHULUAN

3 Pada kajian penggandaan skala, faktor-faktor kimiawi dan lingkungan harus dijaga konstan, sedangkan faktor fisik sangat tergantung ukuran dan skala produksi.  Peubah yang tetap : rancangan dasar bioreaktor, galur mikroba, jenis dan komponen media, suhu sterilisasi, suhu operasi, metabolisme sel mikroba dan ukuran gelembung udara  Peubah yang meningkat : ukuran fisik bioreaktor, bahan baku dan peralatan  Peubah yang menurun : luas permukaan untuk aerasi

4 Penggandaan skala dapat dilakukan setelah didapatkan proses fermentasi yang mantap, pada skala yang lebih kecil. Pada rancang bangun bioreaktor terdapat 3 jenis fenomena yang penting, yaitu : 1.Fenomena Termodinamik : contoh kelarutan oksigen 2.Fenomena Mikrokinetik : kinetika pertumbuhan dan pembentukan produk, pH dan suhu pertumbuhan  (1) dan (2) tidak tergantung pada skala 3. Fenomena Perpindahan  sangat tergantung pada skala !

5 PENTING ! Mempelajari fenomena perpindahan pada sistem bioproses (massa, momentum dan panas) sebagai dasar untuk : 1.Perancangan bioreaktor, memahami kinerja bioreaktor atau penggandaan skala 2.Perancangan teknologi proses hilir (contoh ekstraksi dengan pelarut)

6 Pada pada fermentasi aerobik, aerasi dan agitasi berperan penting karena keduanya berpengaruh thd laju konsumsi oksigen oleh mikroba dan ketersediannya selama proses fermentasi berlangsung Aerasi dan agitasi bertujuan untuk memasok kebutuhan oksigen untuk mikroba, mengaduk media fermentasi agar suspensi mikroba tercampur secara homogen serta mempercepat laju perpindahan massa produk metabolik. Agitasi juga mempercepat perpindahan panas.  Dengan semakin besar ukuran bioreaktor dan viskositas cairan fermentasi menyebabkan pencampuran semakin sullit

7 7 Pencampuran (mixing) pada kultivasi :  Mendispersikan gelembung udara  Mensuspensikan sel mikroba  Meningkatkan transfer (perpindahan) panas dan massa dalam media Sumber :

8 8 Aerasi = proses pemberian udara untuk meningkatkan konsentrasi O 2 dalam cairan  penting pada kultivasi aerobik Cara aerasi dapat dilakukan dengan : a. Pemberian gelembung udara melalui cairan (bubbling air) b. Penyemburan (spraying) cairan ke udara c. Agitasi cairan untuk meningkatkan absorpsi permukaan Masalah : kelarutan O 2 dalam air rendah  Kelarutan O 2 dalam air murni = 8 mg/L at 4 o C (bandingkan kelarutan sukrosa = 600 g/L) Kelarutan O 2 menurun dengan meningkatnya : - suhu - Konsentrasi solut dalam larutan

9 KEBUTUHAN OKSIGEN BAGI MIKROBA Fungsi Oksigen pada metabolisme aerobik : - Penerima elektron terakhir pada RTE - Katabolisme sumber karbon Estimasi kebutuhan oksigen teoritis bagi mikroba dapat diperoleh dari stoikiometri reaksi oksidasi substrat Tingkat konsentrasi O 2 terlarut kritis perlu diketahui, karena metabolisme mikroba akan terganggu kalau konsentrasi O 2 terlarut lebih kecil dari tingkat kritisnya. Contohnya untuk bakteri, tingkat kelarutan oksigen kritis berkisar antara 3-10 % dari udara jenuh

10 Laju Konsumsi O 2 spesifik (Q O2 ) Konsentrasi O 2 Terlarut C kritis Gambar 1. Pengaruh konsentrasi O 2 terhadap laju konsumsi oksigen spesifik (Q O2 ) Faktor yg mempengaruhi ketersediaan O 2 untuk mencukupi kebutuhan mikroba : 1.Laju konsumsi O 2 terlarut oleh mikroba 2. Kelarutan O 2 3. Laju perpindahan massa O 2 ke dalam cairan kultivasi Bila konsentrasi O 2 terlarut meningkat, maka laju konsumsi oksigen spesifik akan meningkat pula sampai batas tertentu

11 MikrobaSuhu ( 0 C)Konsentrasi O 2 terlarut kritis (mmol/L) Azotobacter sp. E. Coli Saccharomyces sp. Penicillium chrysogenum Sumber : Riviere di dalam Lee (1988) Tabel 1. Tingkat kelarutan O 2 kritis untuk beberapa mikroba

12 PERPINDAHAN MASSA  Pada sistem bioproses, umumnya kultur berada dalam keadaan heterogen (gas-cairan-padatan)  perpindahan massa dapat terjadi antara padatan dengan cairan, gas dengan cairan atau ke sel mikroba Gas Terlarut Nutrien TerlarutNutrien Padatan & Larutan yang tidak bercampur Produk dalam air Sel Perpindahan massa pada Sistem Bioproses

13 Tahap Perpindahan Pada Bioproses (Kultivasi) I.Tahap perpindahan dari gas ke cairan (dispersi udara secara fisik (aerasi) ke dalam bioreaktor serta perpindahan oksigen dari gas ke cairan) II. Tahap perpindahan dari cairan ke padatan (perpindahan massa dari cairan nutrien ke padatan sel mikroba) III. Tahap pencampuran (pencampuran cairan dan padatan serta mempertahankan kelarutan oksigen dalam bioreaktor) IV. Tahap pindah panas

14 Perpindahan oksigen dari udara ke sel mikroba melalui tahapan : 1.Perpindahan oksigen dari gelembung udara ke cairan fermentasi 2. Perpindahan oksigen terlarut dari media fermentasi ke sel mikroba 3. Pengambilan oksigen terlarut oleh sel

15 Diagram tahapan perpindahan O 2 dari gelembung udara menuju bagian dalam sel mikroba (substrat terlarut mengalami proses perindahan yang sama) Gelembung gas Daerah stagnasi (film cairan 1)Daerah stagnasi (film cairan 2) Reaksi Biokimia (sitoplasma) Sel Membran Sel ‘Bulk liqiud’ (Daerah cairan) Agregat sel Antar muka gas-cairanAntar muka cairan-agregat sel 8 ‘Bulk gas’

16 PERPINDAHAN OKSIGEN  Kelarutan O 2 dalam cairan sangat rendah, sehingga harus dipasok dari luar dengan aerasi  O 2 membatasi laju metabolisme mikroba (Ingat : O 2 sbg akseptor elektron terakhir pada kultivasi aerob)  Pada saat aerasi, O 2 akan berpindah dari fasa gas (udara) ke fasa cairan (medium kultivasi)  Laju pindah massa O 2 ke cairan : dC L /dt = k L a (C* - C L ) mmol O 2 /dm 3.jam C L : kons O 2 dalam cairan kultivasi (mmolO 2 /dm 3 ) k L : tetapan pindah massa O 2 (cm/jam) a : luas antar muka gas/cairan per volume cairan (cm 2 /cm 3 ) C* : kons O 2 terlarut jenuh (mmol O 2 /dm 3 ) t : waktu

17 Laju perpindahan O 2 dari gas ke cairan dipengaruhi faktor : 1.Luas daerah antar muka udara-cairan 2.Tahanan perpindahan massa 3.Penahanan gas (hold-up) 4.Distribusi waktu tinggal udara dalam bejana bioreaktor  faktor-faktor tersebut tergantung aerasi (laju alir udara) serta karakteristik agitasi (geometri sistem agitasi, kecepatan rotasi, masukan tenaga dll.) yang harus diperhatikan pada waktu merancang bioreaktor Pada kebanyakan sistem kultivasi aerobik, laju perpindahan O 2 dari gas ke cairan menjadi faktor pembatas karena berjalan paling lambat

18 k L a : merupakan tetapan perpindahan O 2 volumetrik (jam -1 )  merupakan ukuran kapasitas aerasi bioreaktor Penentuan k L a bertujuan untuk mengetahui efisiensi aerasi dan melihat pengaruh variabel operasi terhadap penyediaan O 2  semakin besar nilai k L a, maka semakin besar pula kapasitas aerasi sistem Nilai k L a suatu bioreaktor harus dapat mempertahankan konsentrasi O 2 optimum untuk pertumbuhan & pembentukan produk dan dapat dipertahankan sepanjang kultivasi Nilai k L a dipengaruhi oleh faktor sifat fisikokimia media & kondisi operasi bioreaktor: 1.Laju alir udara 3. Sifat rheologi cairan kultivasi 2.Tingkat agitasi 4. Pemberian senyawa antibusa

19 AGITASI  Mengendalikan laju perpindahan massa  mempengaruhi tetapan pindah massa  Tujuan : 1. Menghomogenkan media kultivasi & suspensi mikroba agar terdistribusi secara merata 2. Mengurangi gradien suhu 3. Mempercepat laju pindah massa dan panas dengan cara : a. Memperkecil gelembung udara  luas permukaan pindah massa O 2 lebih besar b. Memperlambat perginya gelembung udara dari cairan kultivasi c. Mencegah bergabungnya gelembung udara d. Mengurangi ketebalan film cairan pada daerah antar muka gas-cairan dengan menciptakan turbulensi pada cairan

20  Peningkatan agitasi akan menyebabkan laju perpindahan massa lebih cepat, namun juga berarti meningkatkan konsumsi tenaga dan gaya geser (shear force) yang dapat merusak mikroba  Tingkat agitasi diukur berdasarkan jumlah konsumsi tenaga untuk pengadukan cairan dalam bejana bioreaktor  Kesempurnaan pengadukan ditentukan oleh : - Geometri bioreaktor - Jenis impeler - Kecepatan pengadukan Kecepatan Cairan (Q) : Q ~ ND 3 N : kecepatan impeler D : diameter impeler

21 Karakteristik aliran yang menggambarkan pergerakan cairan akibat agitasi dinyatakan dengan Bilangan Reynold (N Re ) D i 2 N ρ D i : diameter impeler (m) N Re = ρ : densitas (kg/m3) μ N : kecepatan impeler (Hz) μ : viskositas (kg/m.det) 10  Aliran Laminar N Re 10 –  Aliran Transisi (peralihan)  Aliran Turbulen  homogen

22 Hubungan antara N Re dengan Np (Bilangan Tenaga) menggambarkan kaitan konsumsi energi dengan kecepatan pengadukan Bilangan Reynold Bilangan Tenaga (Np = Power Number) Agitator Power (P) ρ N 3 D i 5 Np P = g c P : konsumsi tenaga (HP atau W) yang dibutuhkan bioreaktor untuk menggerakkan impeler Konsumsi tenaga per satuan volume media (Pg/V) dapat dijadikan sebagai parameter translasi pada Penggandaan Skala N = kecepatan agitasi/impeler D i = diameter impeler g c = faktor gravitasi Np dpt ditentukan dr grafik antara N Re dan Np untuk berbagai impeler

23  Kebutuhan tenaga untuk mengaduk cairan pada sistem beraerasi (Pg) lebih kecil dibandingkan sistem tanpa agitasi (P)  disebabkan terjadi penurunan densitas cairan di sekitar pengaduk akibat terdapatnya gelembung udara di dalam cairan  Perbandingan antara tenaga pengadukan sistem beraerasi dengan sistem tanpa aerasi (Pg/P) bervariasi antara tergantung jenis impeler dan laju aerasi  Koreksi terhadap penurunan tenaga pengadukan karena adanya aerasi, dilakukan dengan menggunakan Bilangan Aerasi (Aeration Number = Na) yang menggambarkan perbandingan antara dispersi gelembung udara di sekitar pengaduk dan di dalam tangki bioreaktor

24 Kecepatan aliran udara pada tangki bioreaktor Na = Kecepatan Ujung Pengaduk F/D i 2 F Na = = N D i N D i 3 F : laju alir (m 3 /menit) N = kecepatan agitasi/impeler Di = diameter impeler Dengan mengetahui nilai Na (Bilangan Aerasi) dan dengan menggunakan grafik hubungan antara (Pg/P) dengan Na pada berbagai tipe pengaduk (impeler), maka nilai Pg/P Diketahui  Pg dapat dihitung (Aiba et al., 1973) Tipe Impeler : - Turbin pipih - Baling-baling - Dayung - dll Pg/P Na x !0 2 )

25 Pada penggandaan skala harus diusahakan kondisi lingkungan yang optimal. Namun umumnya penggandaan skala akan menyebabkan berubahnya faktor-faktor lingkungan fisik.  Harus dicari patokan penggandaan skala yang sesuai. Patokan/persamaan penggandaan skala yang dapat dipilih : 1.Masukan tenaga per unit volume (Pg/V) P/V ~ N 3 D 2 2.Tetapan perpindahan oksigen (k L a) 3.Kecepatan ujung pengaduk (v)  v ~ ND) 4.Laju sirkulasi cairan fermentasi (F/V ~ N) 5.Bilangan Reynolds P : konsumsi tenaga; V : volume cairan fermentasi; F : laju alir; N : laju sirkulasi cairan; D : diameter pengaduk;  yang terbanyak digunakan no 1 dan no. 2

26  Untuk memperoleh produksi yang konsisten, maka kondisi operasi bioreaktor harus dipertahankan seragam pada berbagai skala produksi  Harus diusahakan kondisi lingkungan optimal tetap terjaga, sehingga harus dipilih patokan penggandaan skala yang tepat  yang umum digunakan : 1. Masukan tenaga per unit volume (Pg/V) 2. Tetapan perpindahan O 2 volumetrik (k L a) dengan menggunakan bioreaktor yang sama geometri & konfigurasinya !!

27 Berdasarkan nilai Pg/V atau k L a dapat dihitung kecepatan agitasi atau laju aerasi dalam rangka untuk mempertahankan kondisi yang sama pada skala produksi yang lebih besar

28 Konsumsi tenaga per satuan volume cairan (Pg/V) merupakan patokan penggandaan skal ayang penting karena relevan dgn karakteristik cairan dalam bioreaktor berpengaduk Namun harus diperhatikan masalah yang timbul akibat me- ningkatnya laju geser dan waktu sirkulasi

29 Patokan penggandaan skala pada sistem aerobik adalah nilai laju perpindahan oksigen volumetrik (k L a) pada bioreaktor skala kecil = skala besar Asumsi dengan efisiensi aerasi yang sama, akan diperoleh rendemen produk yang sama, baik pada skala kecil mau- pun skala besar. Dasar penggunaan nilai k L a untuk penggandaan skala pada sistem aerobik adalah dalam rangka mempertahankan laju konsumsi oksigen (oxygen uptake rate = OUR) tetap OUR = k L a (C* - C L )  (OUR) 1 = (OUR) 2

30 Nilai k L a dipertahankan tetap dengan cara mempertahankan laju alir udara yang akan menentukan nilai OUR.  pada keadaan steady-state, laju perpindahan oksigen ke cairan fermentasi (OTR) seimbang dengan laju konsumsi mikroba k L a (C* - C) = OUR atau k L a = OUR/(C*-C)

31

32

33 QUIZ : Apa yang sdr ketahui tentang “Rekayasa Bioproses” ? Jelaskan faktor apa saja yang harus diperhatikan untuk mendapatkan kinerja bioproses yg efisien, ekonomis dan produktivitasnya tinggi


Download ppt "Kuliah ke-VII m.k. DASAR REKAYASA BIOPROSES TIN 221 FENOMENA PERPINDAHAN PADA SISTEM BIOPROSES JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google