Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

KETAHANAN LINGKUNGAN: MITIGASI & REMEDIASI Dikoleksi oleh: Soemarno PSDL-PPSUB April 2013.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "KETAHANAN LINGKUNGAN: MITIGASI & REMEDIASI Dikoleksi oleh: Soemarno PSDL-PPSUB April 2013."— Transcript presentasi:

1 KETAHANAN LINGKUNGAN: MITIGASI & REMEDIASI Dikoleksi oleh: Soemarno PSDL-PPSUB April 2013

2 MITIGASI DAN REMEDIASI Mitigasi adalah pengurangan, pencegahan atau bisa dikatakan sebagai proses mengupayakan berbagai tindakan preventif untuk meminimalisasi dampak negatif dari sesuatu. MITIGASI adalah proses mengupayakan berbagai tindakan preventif untuk meminimalisasi dampak negatif bencana yang akan terjadi. Mitigasi merupakan investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat. Propinsi Kalsel kaya sumberdaya alam berupa hasil hutan, hasil bumi, dan mineral tambang. Kayu dan batu bara merupakan komoditas ekonomi yang paling diandalkan. Dalam perjalanan pembangunannya, banyak terjadi dampak negatif akibat eksploitasi yang menyebabkan gangguan keseimbangan ekosistem, dan berakibat timbulnya bencana banjir dan tanah longsor. Banjir dan tanah longsor, kalau diperhatikan merupakan fenomena alam yang rutin datang seiring perubahan musim dari kemarau ke penghujan. Namun intensitasnya makin tahun terasa makin parah. Walaupun fenomena banjir dan tanah longsor di daerah pegunungan dan gelombang pasang di daerah pesisir merupakan hal yang berulang setiap tahun, tetapi tetap saja terasa minim antisipasi. Bencana alam sekarang tidak hanya diakibatkan air dan tanah. Angin juga sering menimbulkan malapetaka. Kedahsyatan puting beliung, mampu menyapu semua yang ada di permukaan tanah. Penanggulangan bencana alam adalah perkara kemanusiaan, sehingga menjadi tanggung jawab setiap manusia untuk saling membantu. Tetapi tetap di pundak pemerintah tanggung jawab paling besar untuk menanganinya. Pada awalnya setiap bencana dikoordinasikan oleh Bakornas Penganggulangan Bencana. Sejak disahkannya UU No 24 Tahun 2007, badan itu diganti dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Tugasnya adalah koordinasi, komando dan rekonstruksi. BNPB diperkuat oleh dua lembaga yaitu panitia pengarah dan panitia pelaksana. Panitia pengarah terdiri atas masyarakat profesional dan sipil. Oleh: Wahyu Wardhana Spesialis Bedah RS Hasan Basri Kandangan Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

3 MITIGASI DAN REMEDIASI MITIGASI “Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana” (UU No. 24 tahun 2007). Mitigasi sebagai upaya pengurangan risiko bencana memiliki sifat struktural dan nonstruktural. Mitigasi struktural merupakan upaya yang berbentuk fisik untuk dapat mengurangi dampak dari ancaman bencana, misalnya pembangunan sarana dan prasarana yang mampu untuk mengurangi dampak dari ancaman bencana. Sedangkan mitigasi non-struktural merupakan upaya yang berkaitan dengan kebijakan, sosialisasi kepada masyarakat, dan penyediaan informasi kepada masyarakat sehingga mampu untuk mengurangi dampak dari bencana. Dengan adanya kombinasi antara mitigasi struktural dan mitigasi nonstruktural, maka diharapkan masyarakat akan lebih peka terhadap ancaman bencana yang terdapat di sekitar tempat tinggalnya misalnya dengan pembangunan rumah tahan gempa, maka masyarakat akan sadar bahwa di tempat pembangunan tersebut merupakan daerah yang memiliki potensi gempa bumi atau dengan adanya pengerukan sungai, maka masyarakat akan sadar bahwa di lokasi pengerukan tersebut merupakan daerah rawan banjir. Pembangunan rumah tahan gempa dan pengerukan sungai tidak akan mampu memenuhi tujuan tanpa adanya sosialisasi kepada masyarakat. Sosialisasi dapat berupa penyuluhan, penyebaran pamflet, maupun pemasangan rambu yang menjelaskan mengenai tujuan dibangunnya rumah tahan gempa dan pengerkan sungai. Oleh karena itu, mitigasi struktural dan mitigasi non-struktural harus berjalan secara simultan. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

4 MITIGASI DAN REMEDIASI. Bencana Menurut keputusan Sekretaris Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penaganan Pengungsi Nomor 2 Tahun 2001 tentang Pedoman Umum Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi, yang dimaksud bencana adalah : Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, manusia, dan atau oleh keduanya yang mengakibatkan korban penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana prasarana dan fasilitas umum serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan penghidupan masyarakat. Bencana alam menurut Majelis Guru Besar Institut Teknologi Bandung (2009 : 2) adalah “gejala ekstrim alam dimana masyarakat tidak siap mengahadapinya. Jelas ada dua hal yang berinteraksi yakni gejala alam, masyarakat, atau sekumpulan manusia yang berinteraksi dengan gejala alam”. Berdasarkan dua pengertian di atas, maka jelas bahwa bencana merupakan peristiwa yang diakibatkan oleh manusia, alam, maupun gabungan dari keduanya yang menimbulkan korban penderitaan manusia maupun kehilangan harta benda, serta merusak sistem kehidupannya. Bencana terbagi menjadi tiga yaitu, bencana alam, bencana non-alam, dan bencana manusia. Bencana alam merupakan 13 bencana yang disebabkan oleh adanya gejala alam. Gejala alam baru disebut sebagai bencana ketika bertemu dengan kerawanan, misalnya kejadian gempa bumi merupakan ancaman bagi daerah yang memiliki kepadatan penduduk tinggi. Dalam hal ini kedudukan gempa bumi adalah sebagai ancaman, sedangkan kedudukan kepadatan penduduk merupakan kerawanan. Selanjutnya, bencana non-alam merupakan bencana yang disebabkan oleh hal-hal selain dari alam dan manusia. Bencana yang masuk kategori ini adalah bencana yang diakibatkan oleh kegagalan teknologi dan wabah penyakit. Sedangkan bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh manusia. Bencana yang masuk ke dalam kategori ini antara lain teror bom dan konflik antar kelompok masyarakat. “Bencana dapat disebabkan oleh kejadian alam (natural disaster) maupun oleh ulah manusia (man-made disaster)” (UNDP, 2006 : 4). Faktor-faktor yang dapat menyebabkan bencana adalah sebagai berikut. 1. Bahaya alam dan bahaya karena ulah manusia dapat dikelompokkan menjadi bahaya geologi, bahaya hidrometeorologi, bahaya biologi, bahaya teknologi dan penurunan kualitas lingkungan. 2. Kerentanan yang tinggi dari masyarakat, infrastruktur serta elemen-elemen di dalam kota atau kawasan yang berisiko bencana. 3. Kapasitas yang rendah dari berbagai komponen di dalam masyarakat. Secara geologis Indonesia terletak di antara tiga lempeng tektonik yaitu lempeng Hindia Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Pada Sumatera bagian barat, Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku 14 terdapat fenomena ring of fire yang menjadikan Indonesia memiliki potensi besar terhadap bencana geologis seperti gempa bumi, tanah longsor, tsunami, dan erupsi gunung api. Indonesia juga memiliki kekayaan mineral seperti emas, nikel, tembaga, dan barang tambang lainnya. Selama kurun waktu , Indonesia telah mengalami gempa bumi yang disebabkan oleh peregerakan lempeng. Gempa bumi dengan kekuatan lebih dari enam skala richter juga berimbas terhadap kejadian tsunami. Dampak tsunami akan parah jika morfologi pantai relatif datar dengan penggunaan lahannya didominasi oleh kawasan terbangun. Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004 merupakan contoh nyata betapa hebatnya dampak dari pergerakan lempeng yang mengakibatkan gempa bumi dengan kekuatan 8,9 skala richter dan diikuti oleh gelombang tsunami yang memporak-porandakan semua yang dilewatinya. Korban jiwa akibat peristiwa itu pun tidak kurang dari jiwa. Bencana ini sempat mengundang simpati dari berbagai belahan dunia, sehingga bencana ini sering disebut sebagai bencana kemanusiaan. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

5 MITIGASI DAN REMEDIASI. Risiko Bencana Menurut United States Agency for International Development (2009:10), yang dimaksud risiko bencana adalah : Kemungkinan terjadinya kerugian pada suatu daerah akibat kombinasi dari bahaya, kerentanan, dan kapasitas dari daerah yang bersangkutan. Pengertian yang lebih mudah dari risiko adalah besarnya kerugian yang mungkin terjadi (korban jiwa, kerusakan harta, dan gangguan terhadap kegiatan ekonomi) akibat terjadinya suatu bencana. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, pengertian risiko bencana adalah : Potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat. Berdasarkan dua pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahui risiko bencana yang terdapat di suatu daerah, maka terlebih dahulu harus mengetahui jenis bahaya, kerentanan, dan kapasitas daerah. Semakin rentan suatu daerah, maka tingkat risiko daerah tersebut akan tinggi. Apalagi jika masyarakat di daerah itu tidak memiliki kapasitas yang baik dalam penanggulangan bencana. D. Kerentanan “Kerentanan adalah rangkaian kondisi yang menentukan apakah suatu bahaya (baik bahaya alam maupun bahaya buatan) yang terjadi akan dapat menimbulkan bencana” (United States Agency for International Development, 2009 : 9). Kerentanan dibagi menjadi kerentanan fisik, kerentanan sosial 17 kependudukan, dan kerentanan ekonomi. Kerentanan fisik misalnya kondisi permukiman yang terletak di dekat patahan aktif sedangkan kerentanan sosial kependudukan misalnya kepadatan penduduk di suatu permukiman sangat padat. Kerentanan fisik merupakan kerentanan yang diakibatkan oleh adanya gejala alam yang berpotensi menimbulkan bencana. Kerentanan sosial kependudukan merupakan kerentanan yang disebabkan oleh adanya aktivitas manusia yang memicu timbulnya bencana sedangkan kerentanan ekonomi terkait dengan pendapatan masyarakat. Semakin rendah pendapatan penduduk maka dianggap penduduk tersebut lebih rentan terhadap bencana gempa bumi. Dua hal ini sangat berkaitan karena semakin tinggi kerentanan sosial kependudukan yang ada di suatu tempat, maka akan semakin tinggi pula tingkat kerentanan fisik yang mengancam. Kerentanan ekonomi juga masih terkait dengan kerentanan fisik dan kerentanan sosial kependudukan. Kerentanan ekonomi merupakan kerentanan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Mata pencaharian dan pendapatan merupakan aspek yang termasuk ke dalam kerentanan ekonomi. Mata pencaharian dalam hal ini dilihat dari tempat bekerja seseorang. Orang yang bekerja lebih banyak di dalam bangunan dianggap lebih rentan terkena ancaman gempa bumi daripada orang yang bekerja di luar ruangan. Pendapatan masyarakat dalam hal ini ditinjau dari tingkatannya. Orang yang berpendapatan tinggi akan lebih mudah dalam mengakses jenjang pendidikan, sehingga pengetahuan kebencanaan yang dimilikinya akan mengurangi tingkat kerentanan dari ancaman bencana gempa bumi. 18 Salah satu aspek yang menentukan kerentanan adalah letak suatu komunitas dari pusat ancaman misalnya daerah rawan letusan gunung api merupakan daerah yang terdapat di sekitar tubuh gunung api. Daerah seperti ini pada umumnya mempunyai daya tarik dalam kondisi tanah yang subur untuk bercocok tanam, mata air dan pemandangan yang indah, sehingga masyarakat senang tinggal dan beraktivitas di wilayah itu seperti bertani dan pariwisata. Masyarakat juga banyak yang tinggal di sekitar ancaman bencana, misalnya masyarakat yang rentan terhadap tsunami adalah mereka yang tinggal di pesisir pantai yang berada di dekat daerah penunjaman lempeng bumi, mereka yang rentan terhadap gempa bumi adalah yang tinggal di dekat patahan aktif, penduduk yang rentan terhadap gerakan tanah adalah mereka yang tinggal di lerang-lereng yang labil, masyarakat yang rawan banjir adalah mereka yang tinggal di bantaran-bantaran sungai atau di daerah-daerah yang dahulunya memang merupakan dataran banjir. Tsunami Aceh merupakan contoh dari bencana yang menelan korban di pesisir pantai, longsor Pasir Jambu merupakan bencana yang korbannya adalah masyarakat sekitar lereng, banjir Baleendah merupakan bencana yang menimbulkan korban di bantaran sungai. E. Ancaman Ancaman adalah “kondisi bahaya atau kejadian yang memiliki potensi melukai, menyebabkan kematian, merusak harta milik, fasilitas, pertanian, dan lingkungan” (Boli dkk, 2004 : 12). Berdasarkan asalnya, ancaman terdiri atas ancaman alami dan ancaman tidak alami. Ancaman alami merupakan ancaman 19 yang bersifat meteorologis, geologis, biologis, dan dari luar angkasa. Ancaman tidak alami adalah ancaman yang dibuat manusia atau karena teknologi. Ancaman juga terdiri atas beberapa jenis antara lain pemicu, tanda-tanda peringatan, peringatan awal, kecepatan terjadi, frekuensi, kapan, dan durasi. Pemicu terdiri atas angin, air, tanah, api, konflik, industri, dan ancaman lain yang berhubungan dengan manusia. Tanda-tanda peringatan terdiri atas indikator ilmiah maupun tradisional yang menunjukkan bahwa ancaman akan terjadi. Peringatan awal merupakan waktu antara peringatan dan dampak. Kecepatan terjadinya merupakan kecepatan terjadinya serta dampaknya, misalnya yang bisa diprediksi atau yang tidak bisa diprediksi. Frekuensi merupakan banyaknya ancaman terjadi, misalnya musiman, sekali seumur hidup, atau sepuluh tahun sekali. Kapan merupakan waktu terjadinya ancaman tersebut, misalnya setiap musim hujan atau setiap musim kemarau. Durasi merupakan panjang waktu ancman yang dirasakan, misalnya gempa bumi dan gempa susulannya. Dalam menganalisis ancaman terdapat hal-hal yang harus diperhatikan yaitu sejarah, pengalaman masyarakat, kemungkinan intensitasnya, ancaman sekunder, dan bahaya maksimum yang mungkin terjadi serta elemen-elemen yang ada dalam masyarakat yang berisiko bila ancaman terjadi antara lain manusia, harta benda, lingkungan, dan sistem, sedangkan dampak yang ditimbulkan antara lain kehilangan nyawa, luka, wabah penyakit, kerusakan lingkungan, kerusakan hak miliki, kerusakan infrastruktur, gangguan terhadap tanaman produksi, 20 gangguan terhadap pemerintahan, gangguan terhadap sistem, konsekuensi psikologis, dan perubahan geologis. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

6 MITIGASI DAN REMEDIASI Mitigation may refer to: mitigation of global warmingmitigation of global warming in climate science environmental mitigationenvironmental mitigation in public administration; also, in particular: Mitigation banking The Disaster Mitigation Act of 2000Disaster Mitigation Act of 2000 disaster mitigationdisaster mitigation in emergency management; also, in particular: Flood mitigation Landslide mitigation Hurricane mitigation mitigation of political riskmitigation of political risk in political science defense against computer insecuritycomputer insecurity Mitigation (law)Mitigation (law), the opposite of aggravation in law.aggravation Sumber: … diunduh 31 Maret 2012 Environmental mitigation, compensatory mitigation, or mitigation banking, are terms used primarily by the United States government and the related environmental industry to describe projects or programs intended to offset known impacts to an existing historic or natural resource such as a stream, wetland, endangered species, archeological site or historic structure.mitigation bankingUnited Statesnatural resource To "mitigate" means to make less harsh or hostile. Environmental mitigation is typically a part of an environmental crediting system established by governing bodies which involves allocating debits and credits. Debits occur in situations where a natural resource has been destroyed or severely impaired and credits are given in situations where a natural resource has been deemed to be improved or preserved. Therefore, when an entity such as a business or individual has a "debit" they are required to purchase a "credit". In some cases credits are bought from "mitigation banks" which are large mitigation projects established to provide credit to multiple parties in advance of development when such compensation cannot be achieved at the development site or is not seen as beneficial to the environment. Crediting systems can allow credit to be generated in different ways. For example in the United States, projects are valued based on what the intentions of the project are which may be to restore, create, enhance, or preserve a natural resource. Sumber:

7 MITIGASI DAN REMEDIASI Remediasi Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ (atau on-site) dan ex-situ (atau off-site). Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan, venting (injeksi), dan bioremediasi. Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut disimpan di bak/tanki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke bak/tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site ini jauh lebih mahal dan rumit. Bioremediasi Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan air). Menurut Anton Muhibuddin, salah satu mikroorganisme yang berfungsi sebagai bioremediasi adalah jamur vesikular arbuskular mikoriza (vam). Jamur vam dapat berperan langsung maupun tidak langsung dalam remediasi tanah. Jasad ini berperan langsung, melalui kemampuannya menyerap unsur logam dari dalam tanah; dan berperan tidak langsung karena mampu menstimulir pertumbuhan mikroorganisme bioremediasi lain seperti bakteri, dan jamur. Michael Hogan, Leda Patmore, Gary Latshaw and Harry Seidman das ist alles scheisse Computer modeling of pesticide transport in soil for five instrumented watersheds, prepared for the U.S. Environmental Protection Agency Southeast Water laboratory, Athens, Ga. by ESL Inc., Sunnyvale, California (1973) Sumber: diunduh 31 Maret 2012

8 MITIGASI DAN REMEDIASI BIOREMEDIASI Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme untuk mengurangi polutan di lingkungan. Saat bioremediasi terjadi, enzim-enzim yang diproduksi oleh mikroorganisme memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia polutan tersebut, sebuah peristiwa yang disebut biotransformasi. enzim Pada banyak kasus, biotransformasi berujung pada biodegradasi, dimana polutan beracun terdegradasi, strukturnya menjadi tidak kompleks, dan akhirnya menjadi metabolit yang tidak berbahaya dan tidak beracun. Sejak tahun 1900an, orang-orang sudah menggunakan mikroorganisme untuk mengolah air pada saluran air. Saat ini, bioremediasi telah berkembang pada perawatan limbah buangan yang berbahaya (senyawa-senyawa kimia yang sulit untuk didegradasi), yang biasanya dihubungkan dengan kegiatan industri. Hal-hal yang termasuk dalam polutan-polutan ini antara lain logam- logam berat, petroleum hidrokarbon, dan senyawa-senyawa organik terhalogenasi seperti pestisida, herbisida, dan lain-lain. Sumber: diunduh 31 Maret 2012

9 MITIGASI DAN REMEDIASI BIOREMEDIASI Banyak aplikasi-aplikasi baru menggunakan mikroorganisme untuk mengurangi polutan yang sedang diujicobakan. Bidang bioremediasi saat ini telah didukung oleh pengetahuan yang lebih baik mengenai bagaimana polutan dapat didegradasi oleh mikroorganisme, identifikasi jenis-jenis mikroba yang baru dan bermanfaat, dan kemampuan untuk meningkatkan bioremediasi melalui teknologi genetik. Teknologi genetik molekular sangat penting untuk mengidentifikasi gen-gen yang mengkode enzim yang terkait pada bioremediasi. Karakterisasi dari gen- gen yang bersangkutan dapat meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana mikroba-mikroba memodifikasi polutan beracun menjadi tidak berbahaya.genmikroba Strain atau jenis mikroba rekombinan yang diciptakan di laboratorium dapat lebih efisien dalam mengurangi polutan. Mikroorganisme rekombinan yang diciptakan dan pertama kali dipatenkan adalah bakteri "pemakan minyak". Bakteri ini dapat mengoksidasi senyawa hidrokarbon yang umumnya ditemukan pada minyak bumi. Bakteri tersebut tumbuh lebih cepat jika dibandingkan bakteri-bakteri jenis lain yang alami atau bukan yang diciptakan di laboratorium yang telah diujicobakan. Akan tetapi, penemuan tersebut belum berhasil dikomersialkan karena strain rekombinan ini hanya dapat mengurai komponen berbahaya dengan jumlah yang terbatas. Strain inipun belum mampu untuk mendegradasi komponen-komponen molekular yang lebih berat yang cenderung bertahan di lingkungan. Sumber: diunduh 31 Maret 2012

10 MITIGASI DAN REMEDIASI BIOREMEDIASI Ada beberapa terminologi penting arti kata Remediasi. Proses pemulihan dari kondisi terkontaminasi cemaran menjadi kondisi acuan. Dari wikipedia Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang tercemar. Apabila dianalisis secara lebih mendalam, remediasi ada tiga yaitu remediasi fisik (isolasi dan pewadahan ke suatu tempat cemaran), remediasi kimia (solidifikasi dan ekstrasi kimia) dan remediasi biologi (biofilter, bioventing, dll). Hal yang terakhir ini lebih dikenal dengan istilah bioremediasi. Selain media tanah, remediasi dapat dilakukan di media air dan udara. Bioremediasi minyak bumi. Perlu tahap – tahap studi aplikasi untuk menghindari kesalahan bioremediasi yang nantinya berujung kerugian. Hal yang pertama adalah melakukan feasibility study dan site characterization, pemilihan teknik yang akan dipakai apakah in situ atau ex situ. Kelebihan dan kekurangan tentunya menjadi alasan bagaimana menyikapi cemaran tersebut. Kelebihan “In Situ” adalah mengurangi gangguan terhadap lokasi, pengolahan pencemaran yang lebih dalam, kontak yang minimal dengan cemaran volatil dan tentunya sangat mengurangi biaya transport meliputi ijin yang terkait dengan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Kekurangannya, diperlukan data geohidrologi yang lebih detail, pengendalian kondisi reaksi dan hasil akhir yang sulit, monitoring yang lebih hati-hati dan perlu rekayasa lebih lanjut untuk supply O2 dan nutrient. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

11 MITIGASI DAN REMEDIASI BIOREMEDIASI Kelebihan Ex Situ, optimasi kondisi pengolahan, pengendalian proses, pengolahan lebih cepat dan mikroorganisme khusus dapat diimplementasikan. Sedangkan kekurangannya, diperlukan kegiatan pemindahan bahan pencemar yang mahal, materi volatil sulit dikontrol pada saat kegiatan pemindahan limbah. Land Farming, composting, biopile dan slurry reactor merupakan kegiatan bioremediasi Ex Situ. Studi aplikasi berikutnya adalah Treatability, yang dibagi menjadi tiga fase. Fase pertama, uji kemungkinan bioremediasi tanah meliputi analisis kimia kontaminan dan penyebarannya, komposisi mikroorganisme, yang ada di tanah terkontaminan, uji toksisitas dan inhibitordan karakteristik fisik permebilitas struktur tanah, dll. Fase ke dua, kriteria desain termasuk didalamnya desorpsi abiotik, biodegradasi materi terkontaminan skala laboratorium dan kinetika reaksi dengan simulasi. Fase ke tiga (fase pilot), aplikasi di lapangan dengan sistem evaluasi dari monitoring, yaitu penurunan konsentrasi tercemar, perubahan struktur atau komposisi pencemar, perubahan struktur nitrogen, peningkatan mikroorganisme dan perubahan kondisi operasional (pH, temperatur) Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

12 MITIGASI DAN REMEDIASI Jenis-jenis bioremediasi Jenis-jenis bioremediasi adalah sebagai berikut: Biostimulasi Nutrien dan oksigen, dalam bentuk cair atau gas, ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar untuk memperkuat pertumbuhan dan aktivitas bakteri remediasi yang telah ada di dalam air atau tanah tersebut. Bio-augmentasi Mikroorganisme yang dapat membantu membersihkan kontaminan tertentu ditambahkan ke dalam air atau tanah yang tercemar. Cara ini yang paling sering digunakan dalam menghilangkan kontaminasi di suatu tempat. Namun ada beberapa hambatan yang ditemui ketika cara ini digunakan. Sangat sulit untuk mengontrol kondisi situs yang tercemar agar mikroorganisme dapat berkembang dengan optimal. Para ilmuwan belum sepenuhnya mengerti seluruh mekanisme yang terkait dalam bioremediasi, dan mikroorganisme yang dilepaskan ke lingkungan yang asing kemungkinan sulit untuk beradaptasi. Bioremediasi Intrinsik Bioremediasi jenis ini terjadi secara alami di dalam air atau tanah yang tercemar. Di masa yang akan datang, mikroorganisme rekombinan dapat menyediakan cara yang efektif untuk mengurangi senyawa-senyawa kimiawi yang berbahaya di lingkungan kita. Bagaimanapun, pendekatan itu membutuhkan penelitian yang hati-hati berkaitan dengan mikroorganisme rekombinan tersebut, apakah efektif dalam mengurangi polutan, dan apakah aman saat mikroorganisme itu dilepaskan ke lingkungan. Sumber: diunduh 31 Maret 2012

13 MITIGASI DAN REMEDIASI Faktor Lingkungan yang Berpengaruh Kemasaman Tanah (pH). Pada tanah umumnya merupakan lingkungan asam, alkali sangat jarang namun ada yang melaporkan pada pH 11. Penyesuaian pH dr 4.5 menjadi 7.4 dengan penambahan kapur meningkatkan penguraian minyak menjadi dua kali. Penyesuaian pH dapat merubah kelarutan, bioavailabilitas, bentuk senyawa kimia polutan, dan makro & mikro nutrien. Ketersediaan Ca, Mg, Na, K, NH4+, N dan P akan turun, sedangkan penurunan pH menurunkan ketersediaan NO3- dan Cl-. Cendawan yang lebih dikenal tahan terhadap asam akan lebih berperan dibandingkan bakteri asam. Kadar Air dan karakter geologi. Kadar air dan bentuk poros tanah berpengaruh pada bioremediasi. Nilai aktivitas air dibutuhkan utk pertumbuhan mikroba berkisar , umumnya kadar air 50-60%. Bioremediasi lebih berhasil pada tanah yang poros. Ketersediaan Hara. Baik pada in situ & ex situ. Bila tanah yang dipergunakan bekas pertanian mungkin tak perlu ditambah zat nutrisi. Untuk hidrokarbon ditambah nitrogen & fosfor, dapat pula dgn makro & mikro nutrisi yang lain. Sumber: diunduh 31 Maret 2012

14 MITIGASI DAN REMEDIASI TEKNOLOGI REMEDIASI TANAH 1.Perkembangan teknologi Remediasi Tanah (In situ, ex situ, physical treatment, thermal treatment, chemical treatment, biologycal treatment). Silahkan klik Perkembangan Teknologi Remediasi Tanah 2.Physical treatment: Soil Washing. Contoh prosesnya silahkan klik Soil Washing dan Soil Washing TechniqueSoil Washing Soil Washing Technique 3.Physical treatment: Soil flushing. Contoh proses lihat di Flushing dan SOIL FLUSHINGFlushing 4.Chemical treatment: Netralisasi Tanah. Lihat penjelasannya di NETRALISASI pH TANAH DAN AIR dan gambar dampak kasus acid sludge yang mencemari tanahacid sludge 5.Presentasi tugas physical treatment, thermal treatment, chemical treatment 6.Biologycal treatment: prinsip dasar (adsorbsi/absorbsi dan bioakumulasi misal logam berat, radioaktif, dengan fitokelatin (tanaman hiperakumulator), dll dan degradasi/biokonversi bahan oleh makhluk hidup) 7. Biologycal treatment: prinsip dasar Bioremediasi (dibatasi dg prinsip degradasi/biokonversi bahan) dan Fitoremediasi (adsorbsi/absorbsi, rizofiltrasi, rizodegradasi, akumulasi, dll) 8.Bioremediasi: Landfarming 9.Bioremediasi: Biopile 10.Bioremediasi: Composting 11.Fitoremediasi: Bioakumulasi logam berat atau rhizodegradasi hidrokarbon. Sumber: diunduh 31 Maret 2012

15 FITO REMEDIASI “FITOREMEDIASI” berasal dari kata Inggris phytoremediation; kata ini sendiri tersusun atas dua bagian kata, yaitu phyto yang berasal dari kata Yunani phyton (= "tumbuhan") dan remediation yanmg berasal dari kata Latin remedium ( ="menyembuhkan", dalam hal ini berarti juga "menyelesaikan masalah dengan cara memperbaiki kesalahan atau kekurangan“). Fitoremediasi dapat didefinisikan sebagai: penggunaan tumbuhan untuk menghilangkan, memindahkan, menstabilkan, atau menghancurkan bahan pencemar baik itu senyawa organik maupun anorganik. Fitoremediasi dapat dibagi menjadi fitoekstraksi, rizofiltrasi, fitodegradasi, fitostabilisasi, fitovolatilisasi. Fitoekstraksi mencakup penyerapan kontaminan oleh akar tumbuhan dan translokasi atau akumulasi senyawa itu ke bagian tumbuhan seperti akar, daun atau batang. Rizofiltrasi adalah pemanfaatan kemampuan akar tumbuhan untuk menyerap, mengendapkan, dan mengakumulasi logam dari aliran limbah. Fitodegradasi adalah metabolisme kontaminan di dalam jaringan tumbuhan, misalnya oleh enzim dehalogenase dan oksigenase. Fitostabilisasi adalah suatu fenomena diproduksinya senyawa kimia tertentu untuk mengimobilisasi kontaminan di daerah rizosfer. Fitovolatilisasi terjadi ketika tumbuhan menyerap kontaminan dan melepasnya ke udara lewat daun; dapat pula senyawa kontaminan mengalami degradasi sebelum dilepas lewat daun. Sumber: diunduh 31 Maret 2012

16 TUMBUHAN HIPER-AKUMULATOR LOGAM Tumbuhan hiperakumulator adalah tumbuhan yang mempunyai kemampuan untuk mengkonsentrasikan logam di dalam biomassanya dalam kadar yang luar biasa tinggi. Kebanyakan tumbuhan mengakumulasi logam, misalnya nikel, sebesar 10 mg/kg berat kering (BK) (setara dengan 0,001%). Tetapi tumbuhan hiperakumulator logam mampu mengakumulasi hingga 11% BK. Batas kadar logam yang terdapat di dalam biomassa agar suatu tumbuhan dapat disebut hiperakumulator berbeda-beda bergantung pada jenis logamnya (Baker, 1999). Untuk kadmium, kadar setinggi 0,01% (100 mg/kg BK) dianggap sebagai batas hiperakumulator. Sedangkan batas bagi kobalt, tembaga dan timbal adalah 0,1% (1.000 mg/kg BK) dan untuk seng dan mangan adalah 1% ( mg/kg BK). Laporan pertama mengenai adanya tumbuhan hiperakumulator muncul pada tahun 1948 oleh Minguzzi dan Vergnano, yang menemukan kadar nikel setinggi 1,2% dalam daun Alyssum bertolonii. Sejak itu, terutama dengan mengandalkan analisis mikro terhadap spesimen herbarium, diketahui ada 435 taxa tumbuhan hiperakumulator logam yang tumbuh tersebar di lima benua dan semua wilayah iklim (Baker, A.J.M Metal hyperaccumulator plants: a biological resource for exploitation in the phytoextraction of metal-polluted soils. URL: WG2_abstracts.html). Banyak jenis tumbuhan yang mempunyai sifat hiperakumulator atau bersifat toleran terhadap logam berat. Tumbuhan hiperakumulator nikel diketahui lebih dari 150 spesies; sekitar 50 jenis ditemukan di Kaledonia Baru, 70 jenis (terutama dari 6 genera Brassicaceae) di daerah dingin di belahan utara bumi, dan sisanya ditemukan di Indonesia, Kuba, Zimbabwe, Afrika Selatan, Brazil dan Filipina (Batianoff, G.N., R.D. Reeves dan R.L. Specht Stackhousia tryonii Bailey: a nickel- accumulating serpentine-endemic species of central Queensland. Aust. J. Bot. 38: ). Sebagian tumbuhan mampu menyerap dan mengakumulasi logam berat dalam jumlah besar. Di antara tumbuhan hiperakumulator tersebut, Sebertia acuminata dari Kaledonia Baru perlu mendapat catatan khusus karena kemampuannya yang luar biasa dalam mengakumulasi nikel. Sedemikian besarnya kadar nikel di dalam lateksnya sehingga bila batang dilukai, lateks yang keluar berwarna hijau-biru, yaitu warna nikel oksida. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

17 LINGKUNGAN PERKOTAAN KOTA HIJAU Jawaban Permasalahan Kualitas Lingkungan Perkotaan Amanat Undang-undang Penataan Ruang (UUPR) mengenai penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Perkotaan seluas 30% harus dipenuhi oleh setiap Kabupaten/Kota. Hal ini merupakan jawaban atas permasalahan lingkungan dan perubahan iklim yang mengemuka saat ini, demikian diungkapkan Direktur Jenderal Penataan Ruang (Imam S. Ernawi), terkait dengan Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH). Perwujudan RTH perkotaan yang berkualitas diharapkan dapat menjadi etalase atas miniatur kota hijau, Terbukanya akses publik yang luas terhadap RTH akan mewujudkan peranannya sebagai laboratorium sosial yang memiliki fungsi diseminasi informasi dan edukasi masyarakat dalam hal perwujudan kota hijau (menurut Direktur Perkotaan, Ditjen Penataan Ruang, Joessair Lubis) dalam kegiatan sosialisasi Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH) di Jakarta. Ditjen Penataan Ruang menggulirkan P2KH sebagai upaya peningkatan kuantitas dan kualitas RTH pada kawasan perkotaan secara nasional. P2KH diharapkan dapat menjadi sarana bagi pemerintah kabupaten/kota untuk bersama-sama pemerintah pusat, menyatukan potensi dalam mewujudkan kota yang berkelanjutan. Pada saat ini, luasan rata-rata RTH Publik pada Kawasan Perkotaan di Indonesia baru mencapai sekitar 13 %. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk memenuhi amanat Undang-undang Penataan Ruang (UUPR) tersebut. P2KH yang telah dirintis sejak 2010 lalu merupakan upaya mengatasi kekurangan tersebut. Kegiatan perluasan dan peningkatan kualitas RTH yang akan dilakukan pada tahun 2012 ini, rencananya akan menyentuh 60 Kabupaten/Kota terlebih dahulu. Paralel dengan kegiatan tersebut, dilakukan fasilitasi penyusunan Rencana Aksi Kota Hijau (RAKH) bagi kabupaten/kota lainnya di Indonesia sebagai prasyarat perluasan fisik RTH kotanya masing-masing. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

18 LINGKUNGAN PERKOTAAN LANGIT BIRU: “Mendorong Peningkatan kualitas Udara Perkotaan dari Pencemaran Udara” Public Expose Langit Biru 2011; Jakarta, 14 Desember 2011 Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) kembali menyelenggarakan Program Expose Langit Biru 2011 diJakarta. Langit Biru merupakan program KLH yang bertujuan untuk mendorong peningkatan kualitas udara perkotaan dari pencemaran udara, khususnya yang bersumber dari kendaraan bermotor melalui penerapan transportasi berkelanjutan. Saat ini, pertumbuhan kendaraan yang cukup tinggi di kota-kota besar di Indonesia tidak saja menimbulkan masalah kemacetan lalu lintas tetapi juga menimbulkan masalah lain seperti kecelakaan lalu lintas, polusi udara, kebisingan, kerugian ekonomi serta kesehatan. Kerugian ekonomi dan dampak kesehatan akibat pencemaran udara dari sumber bergerak di kota-kota di Indonesia, di tahun 1994 World Bank studi memperkirakan biaya ekonomi akibat pencemaran udara di Jakarta mencapai Rp. 500 milyar. Studi ini menghitung terjadi kematian prematur, 32 juta masalah pernapasan, dan kasus asthma. Sementara data Profil Kesehatan Jakarta tahun 2004 menunjukkan sekitar 46% penyakit masyarakat bersumber dari pencemaran udara antara lain gejala pernapasan 43%, iritasi mata 1,7%, dan asthma 1,4%, sementara infeksi saluran pernapasan dan masalah pernapasan lainnya selalu berada di jajaran paling atas. KLH melalui program Langit Biru bertujuan mengurangi pencemaran udara, sehingga “biaya ekonomi” tidak terbuang sia-sia dan dapat diturunkan serta digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat. “Hasil evaluasi kualitas udara perkotaan diintegrasikan ke dalam Program Adipura untuk kriteria pencemaran udara dan menjadi bagian dari penilaian kota dalam pelaksanaan Program Adipura. Evaluasi kualitas udara perkotaan dilaksanakan di seluruh kota metropolitan dan kota besar serta ibukota propinsi di Indonesia. Penilaian dilakukan baik terhadap aspek fisik maupun non fisik, yang pada intinya adalah mendorong kota-kota di Indonesia untuk menerapkan transportasi yang berwawasan lingkungan (Environmental Sustainable Transport) sebagaimana kesepakatan negara-negara di Asia yang tertuang dalam AICHI Statement”. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

19 LANGIT BIRU: “Mendorong Peningkatan kualitas Udara Perkotaan dari Pencemaran Udara” Public Expose Langit Biru 2011; Jakarta, 14 Desember 2011 Expose Langit Biru meliputi 2 (dua) kegiatan yaitu : 1.Evaluasi Kualitas Udara Perkotaan yang merupakan upaya KLH dalam menurunkan pencemaran udara dari sektor transportasi melalui promosi dan penerapan kebijakan transportasi berkelanjutan di daerah perkotaan. 2.Evaluasi Penaatan Baku Mutu Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru Melalui Random Sampling. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya KLH dalam mendorong industri otomotif untuk memproduksi kendaraan bermotor rendah emisi dan rendah konsumsi bahan bakar berdasarkan pada teknologi terbaik yang tersedia (Best Available Technology). Beberapa kegiatan fisik dan non fisik telah dievaluasi. Kegiatan non fisik berupa survei pendapat para pemangku kepentingan yang ada di kota-kota tersebut dan pengisian formulir data kota. Kegiatan fisik meliputi uji emisi “Spotcheck” kendaraan bermotor selama 3 hari dengan target 500 kendaraan pribadi perhari. Kegiatan lainnya adalah Pemantauan Kualitas Udara Udara Jalan Raya (roadside monitoring) untuk parameter SO2, CO, NO2, HC, O3, PM10 dan penghitungan kinerja lalu lintas (Kecepatan lalu lintas dan Kerapatan Kendaraan (VCR) di jalan raya). Seluruh kegiatan fisik dilakukan secara serentak di tiapkota di 3 ruas jalan arteri yang dipilih bersama dan dianggap mewakili kota tersebut. Hasil evaluasi ini menghasilkan 3 (tiga) kota dengan nilai tertinggi sebagai Kota Langit Biru untuk Kategori Kota Metropolitan, yaitu Kota Surabaya, Kota Medan dan Kota Jakarta Timur. Sedangkan tiga Kota Langit Biru Terbaik untuk Kategori Kota Besar, yaitu Kota Surakarta, Kota Batam dan Kota Malang. “Selain meningkatkan kualitas udara kota, Program Langit Biru juga telah berhasil menjawab tantangan upaya-upaya inovatif untuk program penurunan konsumsi bahan bakar minyak sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca yang merupakan penyebab terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim dari sektor transportasi”. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

20 LANGIT BIRU: “Mendorong Peningkatan kualitas Udara Perkotaan dari Pencemaran Udara” Public Expose Langit Biru 2011; Jakarta, 14 Desember 2011 Dalam rangka mendorong industri otomotif memproduksi kendaraan bermotor rendah emisi dan rendah konsumsi bahan bakar berdasarkan pada teknologi terbaik yang tersedia di dunia, KLH melalui kegiatan evaluasi penaatan baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor tipe baru melakukan pengujian secara acak. Parameter yang diuji meliputi emisi CO, HC, PM dan NOx, fuel consumsion (carbon balance) dan CO2. Hasil pengukuran pengujian ini akan dibandingkan dengan nilai rendah emisi sesuai dengan KepmenLH No. 252 Tahun 2004 tentang Peringkat Hasil Uji Tipe Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor Tipe Baru. Melalui kegiatan evaluasi penaatan baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor tipe baru telah melakukan pengujian terhadap 33 jenis kendaraan bermotor roda 4. Hasil pengujian ini menghasilkan nilai terbaik (a) untuk kendaraan berbahan bakar bensin yaitu Honda CR-V RE3 2WD 2.4 CKD A/T dengan nilai ; (b) untuk kendaraan berbahan bakar solar yaitu Toyota Fortuner 2.5 G M/T dengan nilai Apresiasi kepada 6 (enam) kota terbaik sebagai “Kota Langit Biru 2011”, diberikan dalam bentuk plakat dan sebuah sepeda listrik yang merupakan salah satu kendaraan ramah lingkungan; serta plakat untuk Agen Pemegang Merek kendaraan rendah emisi dan rendah konsumsi bahan bakar yang diwakili oleh PT. Honda Prospect Motor dan PT. Toyota Motor Manufacturing. Kegiatan lainnya yang dilakukan sebagai upaya untuk menurunkan pencemaran udara di kota adalah Pemantauan Kualitas Bahan Bakar di SPBU. Kualitas BBM sangat berpengaruh terhadap emisi yang dihasilkan, semakin baik kualitas BBM tersebut maka semakin sedikit pula emisi berbahaya yang dikeluarkan dari proses pembakarannya. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

21 HUTAN KOTA DAN KENYAMANAN LINGKUNGAN Hutan kota adalah hutan atau sekelompok pohon yang tumbuh di dalam kota atau pinggiran kota. Dalam arti yang lebih luas bisa berupa banyak jenis tanaman keras atau pohon yang tumbuh di sekeliling pemukiman.kota Hutan kota bisa merupakan hutan yang disisakan pada perkembangan kota atau sekelompok tanaman yang sengaja dibuat untuk memperbaiki lingkungan kota. Hutan kota penting untuk keseimbangan ekologi manusia dalam berbagai hal seperti, kebersihan udara, ketersediaan air tanah, pelindung terik matahari, kehidupan satwa dalam kota dan juga sebagai tempat rekreasi. Hutan kota bisa mengurangi dampak cuaca yang tidak bersahabat seperti mengurangi kecepatan angin, mengurangi banjir, memberi keteduhan. Juga memberikan efek pengurangan pemanasan global. Menurut pemerintah Indonesia definisi hutan kota bisa dilihat pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2002 Tentang Hutan Kota. Keuntungan dari hutan kota dengan pohon dan semak-semaknya sangat banyak, termasuk keindahan, pengurangan efek pulau bahang (urban heat island), pengurangan limpasan air hujan, pengurangan polusi udara, pengurangan biaya energi untuk pendinginan udara ruang dalam bangunan jika ada bangunan di dekatnya, meningkatkan nilai lahan dan bangunan di sekitarnya, meningkatkan habitat kehidupan satwa, juga mitigasi dampak lingkungan perkotaan secara keseluruhan. Manfaatnya bisa meliputi: 1.Pelestarian plasma nutfah. Keragaman tanaman dan hewan yang ada di kota sudah banyak mengalami penurunan. Oleh sebab itu, hutan kota dapat dijadikan areal pelestarian plasma nutfah. 2.Penyangga ekosistem rawan. Tanah miring/terjal dan tepian sungai yang mudah longsor dapat ditanami dengan pepohonan hutan kota. 3.Meningkatkan estetika kota. 4.Hutan kota sebagai kawasan untuk pendidikan dan penelitian. [2] [2] 5.Hutan kota juga dapat dimanfaatkan untuk areal wisata. 6.Pohon, bunga dan buah serta getah yang dihasilkan dapat menunjang pendapatan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 7.Adanya hutan kota akan terbuka lapangan kerja baru seperti pemandu wisata, sopir, biro perjalanan, pedagang asongan dan cinderamata. [2] [2] 8.Pengurangan polusi udara. Penyehatan lingkungan. Lingkungan kota tercemar berat. Hutan kota yang tahan terhadap pencemar dan efektif dalam menurunkan kandungan pencemar dapat menjadikan lingkungan kota menjadi lebih sehat. Sumber: diunduh 31 Maret 2012

22 MEMBANGUN HUTAN KOTA Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membangun Hutan Kota a.l. : 1.Strategik: banyak masalah lingkungan kota dan perkotaan yang dapat diatasi dengan membangun hutan kota. 2.Antisipatif: hutan kota harus dipersiapkan untuk mengatasi masalah lingkungan yang diperkirakan akan muncul pada masa yang akan datang. Hal ini perlu diperhatikan mengingat hutan kota baru akan berfungsi dengan baik setelah tanaman berumur 15 – 25 tahun. 3.Futuristik: hutan kota akan dapat berfungsi dengan baik setelah tanaman berukur 15 – 25 tahun; selain itu disain dan tata letak tanaman dan jarak tanamnya harus memperhatikan lingkungan setempat. Jangan terlalu dekat dengan banguna, agar tanaman setelah dewasa tidak mengganggu bangunan, jalan dan saluran air. 4.Fungsional: hutan kota harus diarahkan untuk mengatasi masalah lingkungan baik yang sudah ada pada saat ini atau yang diperkirakan akan munsul pada masa yang akan datang. 5.Efektif: hutan kota dapat berperan dalam mengatasi masalah lingkungan karena jumlah luasan (batang) cukup. 6.Efisien: luasan hutan kota (jumlah batang) yang ada dapat mengatasi masalah lingkungan pada luasan yang minimal. Hal ini perlu diperhatikan mengingat lahan kota sangat mahal dan lahan kota harus cukup tersedia untuk menyangga kota sebagai pusat berbagai kegiatan. 7.Kecocokan: cocok dengan lingkungan setempat (tanah dan iklim) 8.Luasannya cukup agar manafaat hutan kota dapat dirasakan secara nyata. 9.Penata letakan tanaman diatur sedemikian rupa, sehingga menghasilkan kesan yang indah (estetik) 10.Ketahanan: tahan terhadap cekaman lingkungan alam dan buatan. Sumber: diunduh 31 Maret 2012

23 KENDALA PEMBANGUNAN HUTAN KOTA Beberapa hambatan yang dijumpai dan sering mengakibatkan kurang berhasilnya program pengembangan hutan kota antara lain: 1.Terlalu terpaku kepada anggapan bahwa hutan kota harus dan hanya dibangun di lokasi yang cukup luas dan mengelompok. 2.Adanya anggapan bahwa hutan kota hanya dibangun di dalam kota, padahal harga lahan di beberapa kota besar sangat mahal. Harga tanah misalnya di Jakarta di kawasan Jl. Jend. Sudirman Rp. 5,5 juta/m2, di Jl. Gatot Subroto Rp. 3,5 juta/ m2 dan di kawasan Jl. Rasuna Said Rp. 2,2 juta/m2 (Suara Pembaruan, ). 3.Adanya konflik dari berbagai kepentingan dalam peruntukan lahan. Biasanya yang menang adalah yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Karena hutan kota tidak mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, maka lahan yang semula diperuntukkan bagi hutan kota, atau yang semula telah dibangun hutan kota, pada beberapa waktu kemudian diubah peruntukannya menjadi supermarket, real-estate, perkantoran dan lain-lain. 4.Adanya penggunaan lain yang tidak bertanggung jawab seperti: - Bermain sepak bola, - Tempat kegiatan a-susila, - Tempat tuna wisma, - Pohon sebagai tempat cantolan kawat listrik dan telepon, - Pangkal pohon sering dijadikan sebagai tempat untuk membakar sampah, - Sebagai tempat ditancapkannya reklame dan spanduk. - Vandalisme dalam bentuk coretan dengan cat atau goresan dengan pisau. - Gangguan binatang : anjing, kucing, tikus dan serangga. Sumber: diunduh 31 Maret 2012

24 VEGETASI HUTAN KOTA Pemilihan Jenis Jenis yang ditanam dalam program pembangunan dan pengembangan hutan kota hendaknya dipilih berdasarkan beberapa pertimbangan dengan tujuan agar tanaman dapat tumbuh baik dan tanaman tersebut dapat menanggulangi masalah lingkungan yang muncul di tempat itu dengan baik. Untuk mendapat hasil pertumbuhan tanaman serta manfaat hutan kota yang maksimal, beberapa informasi yang perlu diperhatikan dan dikumpulkan antara lain: 1.Persyaratan edaphis: pH, jenis tanah, tekstur, altitude,salinitas dan lain-lain. 2.Persyaratan meteorologis: suhu, kelembaban udara, kecepatan angin, radiasi matahari. 3.Persyaratan silvikultur: kemudahan dalam hal penyediaan benih dan bibit dan kemudahan dalam tingkat pemeliharaan. 4.Persyaratan umum tanaman: 5.Tahan terhadap hama dan penyakit, 6.Cepat tumbuh, 7.Kelengkapan jenis dan penyebaran jenis, 8.Mempunyai umur yang panjang, 9.Mempunyai bentuk yang indah, 10.Ketika dewasa sesuai dengan ruang yang ada, 11.Kompatibel dengan tanaman lain, 12.Serbuk sarinya tidak bersifat alergis, 13.Persyaratan untuk pohon peneduh jalan: 14.Mudah tumbuh pada tanah yang padat, 15.Tidak mempunyai akar yang besar di permukaan tanah, 16.Tanah terhadap hembusan angin yang kuat, 17.Dahan dan ranting tidak mudah patah, 18.Pohon tidak mudah tumbang, 19.Buah tidak terlalu besar, 20.Serasah yang dihasilkan sedikit, 21.Tahan terhadap pencemar dari kendaraan bermotor dan industri, 22.Luka akibat benturan mobil mudah sembuh, 23.Cukup teduh, tetapi tidak terlalu gelap, 24.Kompatibel dengan tanaman lain, 25.Daun, bunga, buah, batang dan percabangannya secara keseluruhan indah Sumber: diunduh 31 Maret 2012

25 HUTAN KOTA SEBAGAI HABITAT BURUNG Hembusan angin, kicauan burung dan atraksi satwa lainnya di kota diharapkan dapat menghalau kejenuhan dan stress yang banyak dialami oleh penduduk perkotaan. Salah satu satwa liar yang dapat dikembangkan di perkotaan adalah burung. Burung perlu dilestarikan, mengingat mempunyai manfaat yang tidak kecil artinya bagi masyarakat, antara lain (Hernowo dan Prasetyo, 1989) : 1.Membantu mengendalikan serangga hama, 2.Membantu proses penyerbukan bunga, 3.Mempunyai nilai ekonomi yang lumayan tinggi, 4.Burung memiliki suara yang khas yang dapat menimbulkan suasana yang menyenangkan, 5.Burung dapat dipergunakan untuk berbagai atraksi rekreasi, 6.Sebagai sumber plasma nutfah, 7.Objek untuk pendidikan dan penelitian. Beberapa jenis burung sangat membutuhkan pohon sebagai tempat mencari makan maupun sebagai tempat bersarang dan bertelur. Pohon kaliandra disenangi burung pengisap madu. Menurut Ballen (1989), beberapa jenis tumbuhan yang banyak didatangi burung antara lain : 1.Kiara, caringin dan loa (Ficus spp.) F. benjamina, F. variegata, dan F. glaberrima buahnya banyak dimakan oleh burung seperti punai (Treron sp.). 2.Dadap (Erythrina variegata). Bunganya menghasilkan nektar. Beberapa jenis burung yang banyak dijumpai pada tanaman dadap yangtengah berbunga antara lain : betet (Psittacula alexandri), serindit (Loriculus pusillus), jalak (Sturnidae) dan beberapa jenis burung madu. 3.Dangdeur (Gossampinus heptaphylla). Bunganya yang berwarna merah menarik burung ungkut-ungkut dan srigunting. 4.Aren (Arenga pinnata). Ijuk dari batangnya sering dimanfaatkan oleh burung sebagai bahan untuk pembuatan sarangnya. 5.Bambu (Bambusa spp.). Burung blekok (Ardeola speciosa) dan manyar (Ploceus sp.) bersarang di pucuk bambu. Sedangkan jenis burung lainnya seperti : burung cacing (Cyornis banyumas), celepuk (Otus bakkamoena), sikatan (Rhipidura javanica), kepala tebal bakau ( Pachycephala cinerea) dan perenjak kuning (Abroscopus superciliaris) bertelur pada pangkal cabangnya, di antara dedaunan dan di dalam batangnya. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

26 HUTAN KOTA UNTUK KEINDAHAN Penapis Cahaya Silau Manusia sering dikelilingi oleh benda-benda yang dapat memantulkan cahaya seperti kaca, aluminium, baja, beton dan air. Apabila permukaan yang halus dari benda-benda tersebut memantulkan cahaya akan terasa sangat menyilaukan dari arah depan, akan mengurangi daya pandang pengendara. Oleh sebab itu, cahaya silau tersebut perlu untuk dikurangi. Keefektifan pohon dalam meredam dan melunakkan cahaya tersebut bergantung pada ukuran dan kerapatannya. Pohon dapat dipilih berdasarkan ketinggian maupun kerimbunan tajuknya. Meningkatkan Keindahan Kota Manusia dalam hidupnya tidak saja membutuhkan tersedianya makanan, minuman, namun juga membutuhkan keindahan. Keindahan merupakan pelengkap kebutuhan rohani. Benda-benda di sekeliling manusia dapat ditata dengan indah menurut garis, bentuk, warna, ukuran dan teksturnya, sehingga dapat diperoleh suatu bentuk komposisi yang menarik. Benda-benda buatan manusia, walaupun mempunyai bentuk, warna dan tekstur yang sudah dirancang sedemikian rupa tetap masih mempunyai kekurangan yaitu tidak alami, sehingga boleh jadi tidak segar tampaknya di depan mata. Akan tetapi dengan menghadirkan pohon ke dalam sistem tersebut, maka keindahan yang telah ada akan lebih sempurna, karena lebih bersifat alami yang sangat disukai oleh setiap manusia. Tanaman dalam bentuk, warna dan tekstur tertentu dapat dipadu dengan benda- benda buatan seperti gedung, jalan dan sebagainya untuk mendapatkan komposisi yang baik. Peletakan dan pemilihan jenis tanaman harus dipilih sedemikian rupa, sehingga pada saat pohon tersebut telah dewasa akan sesuai dengan kondisi yang ada. Warna daun, bunga atau buah dapat dipilih sebagai komponen yang kontras atau untuk memenuhi rancangan yang nuansa (bergradasi lembut). Komposisi tanaman dapat diatur dan diletakkan sedemikian rupa, sehingga pemandangan yang kurang enak dilihat seperti : tempat pembuangan sampah, pemukiman kumuh, rumah susun dengan jemuran yang beraneka bentuk dan warna, pabrik dengan kesan yang kaku dapat sedikit ditingkatkan citranya menjadi lebih indah, sopan, manusiawi dan akrab dengan hadirnya hutan kota sebagai tabir penyekat di sana. Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

27 HUTAN KOTA UNTUK MENYIMPAN AIR TANAH Pelestarian Air Tanah Sistem perakaran tanaman dan serasah yang berubah menjadi humus akan memperbesar jumlah pori tanah. Karena humus bersifat lebih higroskopis dengan kemampuan menyerap air yang besar (Bernatzky, 1978). Maka kadar air tanah hutan akan meningkat. Pada daerah hulu yang berfungsi sebagai daerah resapan air, hendaknya ditanami dengan tanaman yang mempunyai daya evapotranspirasi yang rendah. Di samping itu sistem perakaran dan serasahnya dapat memperbesar porositas tanah, sehingga air hujan banyak yang masuk ke dalam tanah sebagai air infiltrasi dan hanya sedikit yang menjadi air limpasan. Jika hujan lebat terjadi, maka air hujan akan turun masuk meresap ke lapisan tanah yang lebih dalam menjadi air infiltrasi dan air tanah. Dengan demikian hutan kota yang dibangun pada daerah resapan air dari kota yang bersangkutan akan dapat membantu mengatasi masalah air dengan kualitas yang baik. Menurut Manan (1976) tanaman yang mempunyai daya evapotrnspirasi yang rendah antara lain : cemara laut Casuarina equisetifolia), Ficus elastica, karet (Hevea brasiliensis), manggis (Garcinia mangostana), bungur (Lagerstroemia speciosa), Fragraea fragrans dan kelapa (Cocos nucifera). Po. K (1 + r - c) t - PAM - Pa La = z La : luas hutan kota yang harus dibangun Po : jumlah penduduk K : konsumsi air per kapita 1/hari) r : laju peningkatan pemakaian air c : faktor pengendali PAM : kapasitas suplai perusahaan air minum t : tahun Pa : potensi air tanah z : kemampuan hutan kota dalam menyimpan air Sumber: … diunduh 31 Maret 2012

28 HUTAN KOTA – KENYAMANAN LINGKUNGAN


Download ppt "KETAHANAN LINGKUNGAN: MITIGASI & REMEDIASI Dikoleksi oleh: Soemarno PSDL-PPSUB April 2013."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google