Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS & INFORMASI KESEHATAN FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN Mata kuliah Klasifikasi, Kodifikasi Penyakit dan Masalah Terkait KKPMT.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS & INFORMASI KESEHATAN FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN Mata kuliah Klasifikasi, Kodifikasi Penyakit dan Masalah Terkait KKPMT."— Transcript presentasi:

1 PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS & INFORMASI KESEHATAN FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN Mata kuliah Klasifikasi, Kodifikasi Penyakit dan Masalah Terkait KKPMT SKS Semester 1 Dr.Noor Yulia

2 Uraian dan Tujuan Mata Kuliah Pembahasan mata kuliah ini diselenggara kan secara blok yang mengintegrasikan aspek anatomi, fisiologi, patofisiologi,terminologi medis serta klasifikasi kode fikasi penyakit dan tindakan medis meliputi sistim Digestif sebagai dasar untuk mencapai kompetensi clinical coder.

3 Tujuan Instruksional Mampu memahami hubungan Struktur dan fungsi sistim Digestif. Memahami Proses terjadinya gangguan funfsi dan berbagai penyakit pada sistim Digestif. Memahami istilah dan singkatan medis yang terkait dengan sistim Digestif meliputi kondisi klinis, pemeriksaan penunjang, diagnosis dan terapi Istilah, singkatan dan simbol yang digunakan oleh staf medis dalam mendiagnosa pasien yang digunakan dalam pendokumen tasian layanan kesehatan meliputi pembentukan dan penggunaan nya

4 Daftar Pustaka Ganong William F 2003 REVIEW of MEDICAL PHISIOLOGY 21 st Ed.McGraw – Hill Companies,San Francisco Guyton Arthur C 2007 Buku ajar Fisiologi Kedokteran EGC Jakarta Hazelwood,Anit & Venable,Carol,2006,ICD-9-CM DIAGNOSTIC CODING AND REIMBURSEMENT FOR PHYSICIN SERVICES AHIMA,Illionis ICD-10 general & morbidity coding online training packagr, ICD-10 mortality coding online training package, 10%20Death%20Certificate/html/index.html 10%20Death%20Certificate/html/index.html Marie A,Moisio & Elmer W,Moisio 2002,MEDICAL TERMINOLOGY-a Student centered approach.Delmar Thomson Learning Canada Sudarto Pringgoutomo dkk,2002, BUKU AJAR PATOLOGI 1 ( UMUM) Sagung Seto Jakarta Syaifuddin 2006 ANATOMI FISIOLOGI untuk mahasiswa keperawatan EGC Jakarta Genevieve love smith,Phyllis E Davis 1967 MEDICAL TERMINOLOGY a programmed text 2 nd John Wiley & Sons Inc.New York MEDICAL TERMINOLOGY an illustrated Guide 4 th ed,Schraffenberger,Lou Ann,2006.BASIC ICD-9-CM CODING,AHIMA Illionis The Centers for Medicare and Medicaid services (CMS) and the National center for Health Statistics (NCHS)2006.ICD-9-CM OFFICIAL GUIDELINES FOR CODING AND REPORTING Wedding Mary Ellen,2005,MEDICAL TERMINOLOGY SYSTEMS,A Body systems Approach F.A.Davis Company.Philadelphia World Health Organization,2004 ICD-10 2 ND ed Vol 1,2,3 Geneva

5 Substansi Kajian : Anatomi Fisiologi Patofisiologi Terminologi Medis Klasifikasi dan kodefikasi

6 PATOFISIOLOGI SISTIM PENCERNAAN

7 PENDAHULUAN Yang dimaksud dengan alat pencernaan adalah bagian tubuh yang berfungsi dalam mencernakan makanan dan mengubahnya menjadi bentuk zat nutrient yang dapat diserap oleh usus Gangguan atau penyakit – penyakit yang akan dipelajari adalah : – Penyakit / gangguan pada oral cavity, glands salivary, dan rahang – Penyakit pada oesofagus, stomach dan duodenum – Penyakit pada apendix – Hernia – Non infektive enteritis dan colitis – Penyakit pada usus halus – Penyakit pada peritonium – Penyakit pada organ hati / liver – Penyakit pada kandung empedu, biliary tract dan pankreas – Serta gangguan lain pada system pencernaan

8 ORGAN PENCERNAAN pembentuk saluran Rongga Mulut Faring Esofagus Lambung Usus halus Usus besar Rectum dan Anus bukan pembentuk saluran Gigi Lidah Kelenjar saliva Hati Pankreas

9 GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN Patofisiologik gangguan derajat gerakan usus mengakibatkan perasaan tidak enak diabdomen( abdomen discomfort), nausea dan akhirnya muntah –muntah( vomitus), manifestasi ini merupakan keluhan utama penderita gangguan saluran pencernaan Peningkatan pergerakan akan mengakibatkan diare dan perasaan nyeri kejang abdomen Perasaan nyeri paling hebat ditimbulkan oleh penyumbatan aliran isi sal cerna normal ( misal : tumor,volvulus, strictura usus) Perdarahan yang terjadi dapat mengakibatkan kehilangan darah – Hematemesis (muntah darah), – Hematosesia (tinja mengandung darah segar), – Melena (tinja berwarna hitam seperti ter karena darah yang telah berubah) Pemeriksaan yang mendukung : Endoscopy 9

10 Diagnostik patologi ( gejala ) Berkaitan dengan Usus besar ( kolon dan rektum ) : gejala eliminasi, konstipasi, diare, perubahan jumlah dan warna feses, adanya darah dalam feses,nyeri terletak di bagian pinggir abdomen kiri atau kanan Nyeri terletak periumbilikal pada gangguan usus halus Pemeriksaan Fisik teraba adanya massa pada abdomen, Penunjang Diagnostik : – Pemeriksaan digital, – Pemeriksaan feses, – Sigmoidoskopi, – radiologi,pemeriksaan radiogram dengan enema barium, – proktosigmoidoskop – bakteriologik, parasitologik, sitologik, biopsi lesi – kolonoskopi,

11 PENYAKIT PADA RONGGA MULUT, KELENJAR SALIVA DAN RAHANG

12 Penyakit pada oral cavity Gangguan perkembangan gigi dan erupsi tertanam dan dampak gigi karies dentis lain penyakit jaringan keras gigi penyakit jaringan periapikal pulp dan gingivitis penyakit periodontal Dentofacial anomali kista pada daerah oral

13 PENYAKIT DAN KELAINAN YANG PERLU PERHATIAN PADA PEMERIKSAAN GIGI : Kebersihan mulut dan gigi Karies dentis Penyakit – peyakit periodontal Bibir sumbing dan celah langit – langit Tumor dalam mulut Jika gusi sering berdarah jangan anggap sepele karena bisa berakibat fatal, memicu kerusakn organ lain Gusi sering berdarah : gingivitis merupakan petunjuk adanya peradangan, biasanya disebabkan oleh bakteri.

14 Karies dentis Karies gigi merupakan kerusakan pada jaringan keras gigi yang paling sering ditemui.(lubang ). Keberadaan bakteri dalam mulut merupakan hal yang normal. Bakteri mengubah makanan, terutama gula, menjadi asam. Bakteri, asam, sisa makanan, dan ludah akan membentuk lapisan lengket yang melekat pada permukaan gigi yang disebut plak dimana Plak akan terbentuk 20 menit setelah makan. Zat asam dalam plak menyebabkan jaringan keras gigi larut dan terjadilah karies. Bakteri yang paling berperan menyebabkan karies adalah Streptococcus Patofisiologi : Karies ditandai dengan adanya lubang pada jaringan keras gigi (berwarna coklat / hitam. Gigi berlubang biasanya tidak terasa sakit sampai lubang tersebut bertambah besar dan mengenai syaraf Pada karies yang cukup dalam, keluhan yang sering dirasa adalah rasa ngilu bila gigi terkena rangsang panas, dingin, atau manis. Bila dibiarkan, karies akan ber tambah besar dan mencapai kamar pulpa yang berisi jaringan syaraf dan pemblh darah. akan terjadi proses peradangan yang menyebabkan rasa sakit berdenyut. Lama kelamaan, infeksi bakteri dapat menyebabkan kematian jaringan dalam kamar pulpa dan infeksi dapat menjalar ke jaringan tulang penyangga gigi, sehingga terjadi abses.

15 Pemeriksaan : klinis, radiografik, tes sensitivitas pada gigi yang dicurigai nekrosis, tes perkusi untuk melihat infeksi sudah mencapai jaringan penyangga gigi. perawatan : pembersihan jaringan gigi yang terkena karies dan penambalan (restorasi). Bahan tambal yang digunakan misalnya resin komposit (penambal an dengan sinar dan bahan sewarna gigi), glass ionomer cement, kompomer, atau amalgam (sudah mulai jarang digunakan). Pada lubang gigi yang besar dibutuhkan restorasi yang lebih kuat, biasanya digunakan inlay atau onlay, bahkan mungkin mahkota tiruan. Pada karies yang sudah mengenai jaringan pulpa,dilakukan perawatan saluran syaraf. Bila kerusakan sudah terlalu luas dan gigi tidak dapat diperbaiki lagi, maka dilakukan pencabutan. Pencegahan : Sikat gigi dengan pasta gigi berfluoride dua kali sehari (pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur). Lakukan flossing sekali dalam sehari untuk mengangkat plak dan sisa makanan yang tersangkut di antara celah gigi-geligi. Hindari makanan yang terlalu manis dan lengket, kurangi minum minuman yang manis/soda.Lakukan kunjungan rutin ke dokter gigi tiap 6 bulan sekaliPenggunaan fluoride baik secara lokal maupun sistemik.. Perhatikan diet pada ibu hamil dan pastikan kelengkapan asupan nutrisi, karena pembentukan benih gigi dimulai pada awal trimester kedua.

16 DISORDERS OF TOOTH DEVELOPMEN AND ERUPTION ANODONTIS SUPERNUMERARY TEETH ABNORMAL SIZE AND FORM OF TEETH MOTTLED TEETH DISTURBANCES IN TOOTH FORMATION HEREDITARY DISTURBANCES IN TOOTH STRUCTURE DISTURBANCE IN TOOTH ERUPTION TESTHING SYNDROME

17 DISEASES OF PULP AND PERIAPICAL TISSUES PULPITIS NECROSIS OF PULP PULP DEGENERATION PERIAPICAL ABSCESS – WITH SINUS – WITHOUT SINUS RADICULAR CYST

18 PENYAKIT PULPA DAN PERIAPIKAL PENYAKIT PULPA 1.Pulpitis Reversibel Gejala Klinis: Rasa tidak nyaman (seperti rasa linu) akan segera hilang bila penyebabnya dihilangkan. Respon dari pulpa berupa rasa yang menusuk yang singkat. Faktor penyebab : karies, dentin yang terekspos, perawatan gigi terakhir, restorasi yang rusak. 2. Pulpitis Irreversibel a. Pulpitis Irreversibel Simptomatik – gejala rasa sakit spontan atau berdenyut. Rasa sakit yang ditimbulkan diperparah dengan perubahan temperature (khususnya stimulus dingin), rasa sakit berlangsung cukup lama walaupun penyebab rasa sakit telah dihilangkan. Rasa sakit yang timbul terasa menusuk atau tumpul, terlokalisasi ataupun menyebar.

19 b. Pulpitis Irreversibel Asimptomatik – Pada beberapa kasus karies yang dalam tidak menimbulkan gejala, walau pun klinis dan radiologis telah sampai kedalam pulpa. Kondisi semakin parah menjadi pulpitis irreversibel simptomatik sampai nekrosis, perlu perawatan endodontik segera sebelum menimbulkan gejala sakit yang berat. 3. Nekrosis Pulpa Saat pulpa nekrosis (pulpa non vital), suplai darah ke pulpa sudah tidak ada dan saraf pulpa tak berfungsi. Setelah pulpa nekrosis, penyakit gigi menjadi asimptomatik gejala dari penyebaran penyakit ke jaringan periradikular. Nekrosis pulpa dapat terjadi sebagian /keseluruhan dan dapat tidak meliputi seluruh akar pada gigi dengan akar lebih dari satu Bakteri tumbuh dalam saluran akar. bakteri / toksin bakteri menyebar kedalam ligamen periodontal, menimbulkan sakit spontan. Gigi hipersensitif terhadap panas dan sakit, mereda bila diberi dingin.

20 B. PENYAKIT PERIAPIKAL 1.Periodontitis Apikalis Simptomatik gejala sakit akut pada saat menggigit atau perkusi. 2.Periodontiti s Apikalis Asimptomatik umumnya tidak memiliki gejala klinis 3.Abses Apikal Akut rasa sakit sangat akut untuk menggigit, perkusi, dan palpasi. Gigi ini tidak respon terhadap tes vitalitas pulpa dan dapat terjadi mobiliti dalam berbagai grade. Pembengkakan dapat terlihat di intraoral atau ekstraoral. Disertai demam pembesaran kelenjar limfe cervical dan submandibular 4.Abses Apikal Kronis umumnya tidak memiliki gejala klinis.

21 GINGIVITIS AND PERIODONTAL DISEASES Acute gingivitis Cronic gingivitis Acute periodontitis Periodontosis Periodontal disease

22 DENTOFACIAL ANOMALIES MAJOR ANOMALIES OF JAW SIZE – Hiperplasia mandibular / maxila – Macrognathion – Micrognathion – Asimetri of jaws – Occlusio : – Open bite – Over bite – Displacement of tooth or teeth – Mal occlusi – Abnormal jaw clossure

23 Penyakit pada kelenjar saliva Atrophy gland salivary Hipertrophy gland salivary Sialoadenitis Abses Sialolitiasis Mucocele

24 Kelainan kelenjar saliva 1.MUCOCELE adalah Lesi pada mukosa (jaringan lunak) mulut yang diakibat kan pecahnya saluran kelenjar liur dan keluarnya mucin ke jaringan lunak di sekitarnya. dapat terjadi pada mukosa bukal, anterior lidah, dan dasar mulut. Mucocele terjadi karena ujung duktus tersumbat / trauma hingga air liur menjadi tertahan tidak dapat mengalir keluar dan menyebabkan pembengkakan (mucocele). Mucocele dapat hilang dengan sendirinya.dapat juga bersifat kronik Penatalaksanaan mukokel biasanya dilakukan dengan eksisi mukokel dengan modifikasi teknik elips. yaitu setelah pemberian anesthesi lokal dibuat dua insisi elips yang hanya menembus mukosa, kemudian lesi dipotong dengan teknik gunting lalu dilakukan penjahitan.

25 2. SIALOADENITIS adalah infeksi bakteri dari glandula salivatorius, disebabkan oleh batu yang menghalangi atau hyposecretion kelenjar. dapat bersifat akut dan menyebabkan pembentukan abses terutama akibat infeksi bakteri, bersifat unilateral atau bilateral Sedangkan Sialadenitis kronis nonspesifik merupakan akibat dari obstruksi duktus,karena sialolithiasis, radiasi eksternal,spesifik berbagai agen menular dan gangguan imunologi. Sialoadenitis paling sering terjadi pada kelenjar parotis dan pada pasien usia tahun, pada pasien kronis xerostomia, sindrom Sjögren, dan terapi radiasi pada rongga mulut. Remaja dan dewasa muda dengan anoreksia juga rentan Organisme penyebab paling umum adalah Staphylococcus aureus, Streptococcus, koli, dan berbagai bakteri anaerob. Gejala berupa gumpalan lembut nyeri di pipi atau di bawah dagu, pembuangan pus dari glandula ke bawah mulut dan dalam kasus yang parah, demam, menggigil dan malaise

26 Penyakit pada rahang Develepmental disorder Gian cell granuloma Kondisi inflamasi pada rahang – osteitis – Osteomyelitis pada neonatal – Osteoradionekrosis – Periostitis Alveolitis pada rahang – Alveolar osteitis – Dry socket

27 Penyakit lain pada rongga mulut Somatitis Apthous stomatitis Recurent oral apthae Stomatitis herpetiformis Celulitus Submandibular abses Periadenitis mucosa necrotica recurrens

28 Stomatitis apthosa = sariawan, merupakan kelainan pada selaput lendir mulut berupa luka pada mukosa mulut yang berbentuk bercak berwarna putih kekuningan dengan permukaan agak cekung Etiologi : banyak penyebab, diantaranya : luka pada mukosa (tergigit,trauma saat menggosok gigi, makanan yang mengiritasi mukosa) kekurangan vitamin ( vit B12 ), stress, virus dan bakteri yang menyerang mukosa mulut, obat-obatan, jamur, alergi, kebersihan mulut yang tidak terjaga ( oral higiene buruk) Stomatitis Aphtous ulcer bukan hanya disebabkan karena kekurangan Vitamin C, namun dapt karena alergi citrus atau alergi makan an yang mengandung asam, kondisi imun yang lemah, obat-obat an tertentu, trauma fisik (penggunaan gigi palsu baru), dsb. Penyakit kekurangan vitamin C sendiri adalah Scurvy akibat ke gagal an proses sintesis kolagen yang ditandai dengan gusi mudah berdarah, pendarahan kulit (purpura) dsb.

29 Penyakit pada bibir dan mukosa mulut lain Penyakit pada bibir : – Cheilitis : glandular / exfoliative, angular – Perleche – Cheilodynia – Cheilosis Leukoplakia pada epithel – ErythroplakiaLeukoedema – Leukokeraosis nicotona – Smoker palate Granuloma – Eosinophilic granuoma, granuloma pyogenicum, xanthoma verrucous Fibrosis oral submukosa Hiperplasia iritatif pada mucosa mulut / denture hiperplasia

30 Penyakit Pada Bibir 1.Pembengkakan : reaksi alergi bisa membuat bibir bengkak. Reaksi disebabkan oleh sensitivitas terhadap makanan atau minuman tertentu, obat-obatan, perona bibir, atau udara yang mengiritasi. Ketika penyebabnya dapat diketahui dan dihilangkan, bibir biasanya kembali normal. Namun sering, penyebab pembengkakan menjadi misteri. Kondisi tersebut disebut angioderma menurun yang bisa menyebabkan sakit pada bengkak.multiforme eritherma, terbakar matahari, udara dingin dan panas, atau luka berat-bisa juga menyebabkan bibir menjadi bengkak. Pengobatan tergantung pada penyebabnya. Salep kortikosteroid kadang digunakan untuk mengurangi bengkak yang disebabkan oleh reaksi alergi.

31 2.Peradangan pada bibir (cheilitis), sudut pada mulut bisa menjadi terasa sakit, luka, merah, pecah, dan bersisik. Cheilitis bisa terjadi karena kekurangan Vitamin B2 pada makanan. kulit berkerut dan kulit teriritasi (cheilitis angular) bisa terjadi pada sudut mulut jika seseorang menggunakan gigi palsu yang tidak terpisah dengan rahang 3.Perubahan warna : bintik-bintik dan daerah yang tidak selalu berwarna coklat (melatonic macules) adalah umum di sekitar bibir,Banyak, kecil, bintik hitam kecoklatan yang menyebar bisa jadi tanda penyakit keturunan yang disebut sindrom peutz- jeghers, berbentuk benjolan pada perut dan usus. Penyakit Kawasaki, sebuah penyakit dengan sebab yang tidak jelas yang biasanya terjadi pada bayi dan anak berumur 8 tahun ke bawah, bisa menyebabkan kekeringan dan pecahnya bibir dan memerahnya lapisan mulut.

32 MUMPS DISEASE Radang pada kelenjar parotis menimbulkan bengkak besar dibawah telinga meluas ke pipi disebabkan oleh virus disebut penyakit gondongan infeksi mumps virus, menyerang kelenjar air liur (kel. parotid). yang terletak di daerah telinga. termasuk dalam genus Rubela virus. sering ditemukan pada anak usia tahun Cara penularan melalui droplet ludah atau kontak langsung dengan bahan yang terkontaminasi oleh ludah yang terinfeksi. Masa inkubasi penyakit mumps antara hari (rata-rata 18 hari). Gejala umum : bengkak pada kelenjar parotid, panas tinggi, sakit pada saat menelan. Penyakit mumps jarang sekali menyebabkan kematian. Komplikasi : Meningitis, orchitis, pankreasitis, oophoritis, dan keguguran Terapi : Paracetamol / Acetaminophen bila ada gejala demam. Penyakit beguk atau mumps dapat dicegah dengan imunisasi. Nama imunisasi untuk mencegah infeksi mumps virus adalah MMR (untuk pertahanan terhadap Measles, Mumps, dan Rubella). Gambar : Salivary glands 1. Parotid gland 2. Submandibular gland 3. Sublingual gland

33 Bibir sumbing Celah bibir atau Sumbing merupakan cacat akibat kelainan deformitas kongenital yang disebabkan kelainan perkembangan wajah selama masa gestasi. Sumbing dapat terjadi pada bibir, langit - langit mulut (palatum), ataupun pada keduanya. Sumbing pada bibir disebut cheiloschisis sedangkan sumbing pada langit-langit mulut disebut palatoschisis. Penanganan sumbing adalah dengan cara operasi.(dengan waktu terbaik pada saat usia 2, 5 hingga 3 bulan)

34 Kista di regio oral Developmental odontogenic cysts – Eruption – Folicular – Gingival – keratocyst Developmental non odontogenic cysts – Globulomaxillarys – Palatine papilla

35 Penyakit pada gland salivary Atrophy gland salivary Hipertrofi gland salivary Sialoadenitis Abses gland salivary Fistula gland salivary Sialolotiasis karena calculus / stone pada duktus atau kelenjar salivary Mucocele gland salivary karena kista extravasation ataru retensi

36 Penyakit pada lidah Glositis Geografic tongue Atrophy papilla lidah glossopathy

37 Penyakit pada Lidah 1.Kanker lidah merupakan suatu neoplasma (pertumbuhan jaringan baru yang tidak normal) malignat yang muncul dari jaringan epitel mukosa lidah. Penyakit kanker lidah sering menjangkiti para perokok. Penyebab utama : tembakau dan alkohol. hal lain yang memicu seperti jarang merawat kebersihan mulut, pemakaian gigi palsu yang tidak sesuai, serta radang kronis. 2.Sariawan atau oral candidosis terjadi karena adanya infeksi jamur candida albicans pada membran berlendir mulut. ditandai dengan munculnya sejenis luka berupa kumpulan lapisan berwarna putih pada dinding mulut dalam disertai radang berwarna merah pada mukosa mulut. Jika tidak diobati, luka akan melebar dan membesar serta menimbulkan perih di mulut.

38 3.Geographic tongue merupakan peradangan pada lidah yang biasanya bersifat kronis terjadi jika ada gangguan pada saluran cerna. Dinamakan geographic tounge karena bercak pada lidah tampak seperti pulau-pulau. Bagian pulau itu berwarna merah dan lebih licin. Pada kondisi lebih yang lebih parah, daerah berbentuk pulau akan dikelilingi lapisan tebal berwarna putih. Penyakit lidah ini bisa terjadi akibat alergi. 4. Peradangan pada lidah (Atrophic glossitis) adalah suatu penyakit yang ditandai dengan kondisi lidah yang kehilangan rasa karena degenerasi ujung papil (bagian menonjol pada selaput yang berlendir di bagian atas lidah). Lidah tampak licin dan mengkilat, baik seluruh bagian lidah maupun hanya sebagian. Penyakit ini sering timbul akibat kekurangan zat besi. banyak ditemukan pada penderita anemia.

39 5. Fissured tongue (lidah retak-retak ) merupakan penyakit pada lidah yang membuat lidah tampak seperti terbelah atau retak-retak. Garis retakan yang muncul jumlahnya kadang hanya satu dan berada di tengah lidah. Namun bisa juga bercabang-cabang. Kondisi ini tidak terlalu membahayakan, tapi sewaktu-waktu dapat menimbulkan perih dan nyeri di lidah. 6.Lidah berselaput (Coated tongue) pada dorsum lidah tampak tertutup oleh suatu lapisan yang umumnya berwarna putih atau mengikuti warna dari jenis makanan atau minuman yang dikonsumsi. Selaput lidah ini bisa terjadi pada orang yang mengalami penyakit kronis sistemik, dehidrasi, dan penyakit infeksi. 7.Glossopyrosis lidah terasa perih dan terbakar, pada pemeriksaan tidak ditemu kan gejala apa pun. sering timbul pada penggunaan obat kumur jangka panjang ditambah cairan obat kumur sangat pekat.

40 PENYAKIT PADA ESOFAGUS, LAMBUNG DAN DUODENUM

41 Penyakit Esofagus, lambung dan Usus halus Gejala gangguan Esofagus menimbulkan gangguan menelan dan sakit dada. Defek kongenital: atresia esofagus; konstriksi esofagus. Infeksi & inflamasi: Infeksi herpes simplex, candidiasis.akibat imunosupresi, Esofagitis (non-infeksi): umum akibat reflux isi lambung, bisa juga korosif (akibat kimia kaustik)  esofageal strictura Cedera: bisa akibat kimia caustik atau muntah yang hebat yang merobek lapisan dinding  perdarahan; juga bisa akibat makan makanan yang keras dan tajam  rupture. Disfagia : kesulitan menelan, disebabkan disfungsi transport esofagus karena kelainan neuromuscular/ persyarafan atau akibat lesi,seperti ; carsinoma, diverticula, striktura Disfagia dibedakan dengan globus histerikus : perasaan adanya gumpalan dalam tenggorokan disebabkan karena emosi dan dapat timbul tanpa harus menelan.

42 Gejala gangguan Esofagus Disfagia : – kesulitan menelan, disebabkan disfungsi transport esofagus karena kelainan neuromuscular/ persyarafan atau akibat lesi,seperti ; carsinoma, diverticula, striktura – Disfagia dibedakan dengan globus histerikus : perasaan adanya gumpalan dalam tenggorokan disebabkan karena emosi dan dapat timbul tanpa harus menelan. – Disfagia pada gangguan non esofagus yang merupakan akibat dari penyakit otot atau neurologis, adalah : penyakit gangguan peredaran darah otak, miastenia gravis, distrofi otot, polio bulbaris. – Disfagia esofageal dapat bersifat : Obstruktif : disebabkan oleh striktura esofagus dan tumor – tumor ekstrinsik atau intrinsik esofagus yang mengakibatkan penyempitan lumen. Motorik : berupa gangguan peristaltik yang berkurang / tidak ada / terganggu atau akibat disfungsi sfingter atas / bawah.adalah akalasia. Skleroderma dan spasme esofagus difus

43 Gejala gangguan Esofagus Odinofagia : – perasaan nyeri membakar waktu menelan, dapat terjadi bersama disfagia, – khas terjadi pada spasme esofagus yang disebabkan oleh peregangan akut atau sekunnder karena peradangan mukosa oesofagus,akibat iritasi Pirosis : – rasa terbakar diuluhati ( nyeri ulu hati )yang sangat mengiritasi mukosa, – dapat terjadi akibat disfungsi sfingter esofagus bag bawah dimana sekret empedu masuk kedalam esofagus bagian bawah., penyebab yang sering pada Hiatus hernia, – terjadi refluks asam lambung / isi lambung tertumpah sehingga mencapai oesofagus bagian atas ( hipofaring),ditandai oleh sensasi rasa panas terbakar yang terasa diepigastrium atas atau belakang procesus xifoideus menyebar keatas. – Refluks yang menetap disebabkan inkontinensia sfingter esofagus bagian bawah dengan atau tanpa hernia hiatus /esofagitis.

44 Gejala gangguan Esofagus Water brush : – regurgitasi isi lambung kedalam rongga mulut – Berbeda dengan muntah karena waterbrush tanpa tenaga dan tidak diikuti oleh nausea, terasa pada tenggorokan sebagai rasa asam atau cairan panas yang pahit – Regurgitasi tanpa tenaga sering terjadi pada bayi akibat perkembangan sfingter esofagus bagian bawah tidak sempurna – Pada dewasa karena inkompetensi sfingter esofagus bagian bawah dan kegagalan sfing5er esofagus bagian atas sebagai sawar regurgitasi. Tumor: – 90% adalah malignant (kanker), sisanya benign. – Tanda dini adalah kesulitan menelan. – Gangguan lain-2: divertikuli  halitosis; esofageal spasme; achalasia atau regurgitasis.

45 PROSEDUR DIAGNOSTIK PEMERIKSAAN ESOFAGUS Tindakan diagnostik khusus esofagus yang dapat membantu deteksi penyakit esofagus adalah – pemeriksaan radiografi dengan zat kontras barium – Esofagoskopi disertai Biopsi dan Sitologi – Pemeriksaan Motilitas – Tes Refluks asam

46 GANGGUAN PERGERAKAN ESOFAGUS AKALASIA merupakan gangguan hipo motilitas, jarang terjadi Ditandai oleh : – peristaltik yang lemah dan tidak teratur atau aperistalsis korpus esofagus, kegagalan sfingter esofagus bawah untuk berelaksasi sempurna sewaktu menelan, Akibatnya makanan dan cairan tertimbun dalam esofagus bagian bawah dan kemudian dikosongkan dengan lambat bila tekanan hidrostatik meningkat, Korpus esofagus akan kehilangan tonusnya dan dapat melebar Etiologi : yang pasti tidak diketahui, tetapi dapat terbukti bahwa degenerasi pleksus Auerbach menyebabkan kehilangan pengaturan neurologis, akibatnya gelombang peristaltik primer tidak mencapai sfingter esofagus bagian bawah untuk merangsang relaksasi. Akalasia primer idiopatik, Akalasia sekunser ( disebabkan karena karsinoma lambung, toksin atau obat tertentu )

47 AKALASIA Akalasia lebih sering pada orang dewasa daripada anak- anak Timbul perlahan – lahan dengan gejala paling menonjol adalah disfagia terhadap makanan cair dan padat Pengobatan bersifat paliatif yaitu perbaikan obstruksi bagian bawah 2 bentuk terapi yang efektif menghilangkan gejala adalah : – Dilatasi sfingter esofagus bagian bawah dengan bougie atau pneumatik – Esofagotomi / pembedahan : Miotomi Heller ; berupa pembedahan serabut otot perbatasan esofagus lambung dan dilakukan piliroplasti ( pelebaran pintu keluar lambung) untuk dapat mengosongkan isi lambung dengan cepat dan mencegah refluks kedalam esofagus. Terapi obat-obatan dicadangkan untuk penderita yang tidak bisa dilakukan pembedahan atau dilatasi ; – Nifedipin dan Isosorbid : menurunkan tekanan pada esofagus bagian bawah Tindakan lain untuk membantu mengurangi gejala adalah : – makan dengan lambat, hindari alkohol, makanan panas, dingin atau pedas – Tidur dengan kepala lebih tiggi / terangkat untuk menghindari aspirasi akibat regurgitasi

48 PROSEDUR DIAGNOSTIK PEMERIKSAAN ESOFAGUS Tindakan diagnostik khusus esofagus yang dapat membantu deteksi penyakit esofagus adalah – pemeriksaan radiografi dengan zat kontras barium – Esofagoskopi disertai Biopsi dan Sitologi – Pemeriksaan Motilitas – Tes Refluks asam

49 GANGGUAN PERGERAKAN ESOFAGUS SPASME ESOFAGUS DIFUS – Merupakan penyakit yang penyebabnya tidak diketahui – Ditandai oleh kontraksi esofagus yang tidak terkoordinasi, non –ropulsif yang timbul bila menelan – Terutama menyolok pada 2/3 bawah organ,tapi dapat menyerang seluruh esofagus, Ke2 sfingter bekerja normal – Sering pada penderita tua diatas usia 50 tahun – Biasanya tanpa gejala, gejala yang paling sering timbul adalah : disfagia intermiten dan odinofagia, yang diperberat oleh menelan makanan yang dingin, bolus yang besar dan ketegangan saraf. – Diferesial diagnosa / diagnosa banding ; angina pektoris – Pengobatan terdiri atas : Perbaikan diet : makan sedikit, hindari makanan dingin Pemberian antasid, sedatif nitrogliserin untuk menghilangkan spasme Dilatasi esofagus, bila gejala menetap dan menyusahkan Miotomi longitudinal esofagus distal dapat dilakukan sebagai usaha terakhir

50 GANGGUAN PERGERAKAN ESOFAGUS SKLERODERMA – Disfungsi motorik esofagus terjadi pada lebih dari2/3 penderita skleroderma – Dasar kelainan adalah atrofi otot polos bagian bawah esofagus – Tanda : Gambaran aperistaltik atau peristaltik lemah pada setengah sampai duapertiga distal esofagus, berkurangnya tekanan sfingter esofagus bagian distal – Inkompetensia sfingter esofagus distal sering mengakibatkan esofagitis refluks dengan pembentukan striktur pada esofagus bagian bawah – Gejala yang menyolok bila esofagitis mengakibatkan pembentukan striktur adalah disfagia

51 ESOFAGITIS Suatu peradangan mukosa esofagus Dapat terjadi akut atau kronik Jenis esofagitis yang tidak berbahaya timbul setelah menelan cairan panas, dimana sensasi panas substernal terjadi dalam waktu singkat dihubungkan dengan edema superficial dan esofagospasme. Esofagitis yang paling sering dijumpai timbul akibat refluks asam lambung, sering bersamaan dengan hernia hiatus Esofagitis yang dapat menular yaitu ; esofagitis monilia dan infeksi herpes virus Bentuk esofagitis berat yang akut terjadi setelah menelan cairan asam atau basa kuat ( cairan pembersih ) gejala : odinofagia berat, demam, keracunan, kemungkinan perforasi esofagus disertai infeksi mediastinum dan kematian. Efek jangka panjang : fibrosis dan striktura esofagus Pengobatan : harus cepat dan intensif dengan pemberian : – Antibiotika - Steroid – Cairan intra vena - Pembedahan

52 ESOFAGITIS REFLUKS KRONIK dan HERNIA HIATUS Esofagitis refluks kronik – merupakan bentuk esofagitis yang paling sering ditemukan secara klinis. – Gangguan ini disebabkan oleh sfingter esofagus bagian bawah bekerja kurang baik dan refluks asam lambung / getah alkali usus masuk kedalam esofagus berlangsung dalam waktu lama – Cacat terjadi akibat refluks berupa peradangan, pembentukan ulkus/ tukak. Perdarahan, pembentukan jaringan parut dan striktur Hernia Hiatus – Suatu herniasi bagian lambung kedalam thoraks melalui diafragma hiatus esofagus

53 Terdapat 2jenis hernia hiatus : – Sliding hiatus hernia ( hernia hiatus tergelincir ): direk :paling sering, perbatasan lambung esofagus tergeser kedalam rongga thoraks, khususnya bila penderita berada dalam posisi berbaring, kompetensi sfingter esofagus bagian bawah dapat rusak mengakibatkan esofagitis refluks, sering timbul tanpa gejala dan ditemukan secara kebetulan pada waktu pemeriksaan mencari penyebab gangguan pada epigastrium atau waktu pemeriksaan radiogram saluran cerna rutin. – Rolling hiatus hernia ( hernia hiatus menggelinding ) : hernia paraesofageal : bagian dari fundus lambung menggulung melewati hiatus dan perbatasan gastroesofagus tetap berada dibawah diafragma.tidak terdapat insufisiensi mekanisme sfingter esofagus bagian bawah akibatnya tidak terjadi esofagitis refluks ‘komplikasi utama adalah dapat terjadi strangulasi

54 Hiatus Hernia Pengobatan : – Terutama ditujukan untuk pencegahan refluks, menetralkan bahan refluks dan melindungi mukosa lambung – Makan makanan dalam jumlah kecil tetapi sering – Beri Antasid, Ranitidin dan obat – obat protektif lain (sukralfat) dapat membantu – Anjurkan berat badan diturunkan pada penderita yang kelebihan berat badan – Obat penghambat saluran Kalsium dan antikolinergik tidak boleh diberikan karena dapat menghambat pengosongan lambung dan relaksasi esofagus bagian bawah – Metoklopramid suatu derivat dari prokainamid meningkatkan tonus esofagus bagian bawah dapat diberikan pada kasus refluks tertentu – Nikotin yang memiliki efek menurunkan tonus harus dihindari. – Pasien hindari sikap membungkuk, terurama setelah makan – Untuk mencegah refluks pada waktu tidur posisi kepala sebaiknya selalu lebih tinggi – Pembedahan

55 Esofagus Varises esofagus – dapat timbul akibat penyumbatan aliran vena portal yang menyebabkan hipertensi portal, paling sering ditemukan pada sirosis hepatis apapun penyebabnya – Vena varikosa ini terletak submukosa dan dapat pecah mengakibatkan hematemesis masif -> kematian – Adanya asites dan perubahan yang menyertai pada sfingter osofagus bagian bawah dapat menyebabkan refluks esofagus, peningkatan resiko perdarahan varises. Skleroderma menyebabkan timbulnya esofagus yang khas yaitu esofagus yang kaku melebar disertai keluhan disfagia

56 TUMOR ESOFAGUS Tumor jinak esofagus jarang, Tipe yang paling sering adalah Leiomioma ( tumor otot polos ) Kanker esofagus terutama menyerang pria pada usia tahun Faktor predisposisi : banyak merokok, banyak minum alkohol, obstruksi esofagus Karsinoma sel squamosa ( sel gepeng) adalah tipe yang paling sering dari jenis karsinoma esofagus, sangat ganas, tumor dapat timbul seluruh bagian esofagus, sebagian besar pada 2/3 bagian bawah Diagnosis : pemeriksaan Radiogram dengan barium, pemeriksaan sitologi,biopsi esofagoscopi merupakan pemeriksaan penting Prognosis : buruk, karena lambat menimbulkan gejala dan Penyebaran melalui limfatik Gejala : disfagia timbul setelah tumor menyerang seluruh lingkaran esofagus. Terapi : – penyinaran untuk lesi diatas esofagus yang tidak memungkinkan untuk dibedah – Bedah reseksi – Dilatasi untuk memperlebar lumen dengan memasukkan bougie / protese dari plastik – Sinar laser : paliatif, untuk menghancurkan bagian tengah tumor yang menyumbat sehingga lumen tetap terbuka dan makanan dapat masuk

57 PROSEDUR DIAGNOSTIK LAMBUNG DAN DUODENUM Radiogram dengan kontras Barium Analisis lambung : Endoskopi- Gastroskop serat fiber optik fleksibel Foto rontgen Biopsi dan Sitologi eksfoliatif melalui gastroskop : untuk melihat keganasan, dengan pengumpulan sel dengan lavage lambung

58 GASTRITIS Merupakan suatu peradangan mukosa lambung Dapat bersifat akut, kronik, difus atau lokal 2 jenis gastritis yang paling sering terjadi : – Gastritis superficialis akut – Gastritis atrofik kronik

59 2 jenis gastritis yang paling sering terjadi : 1. Gastritis superficialis akut Merupakan respon mukosa terhadap berbagai iritan lokal Agen penyebab tersering : endotoksin bakteri dari makanan yang terkontaminasi, beberapa makanan berbumbu, lada, cuka, mustard, kafein, alkohol, aspirin, obat-obat an NSAID ( Indometasin, Ibuprofen, Naproksen) Sulfonamid, Steroid, digitalis Tanda : mukosa memerah, edematosa, ditutupi mukus yang melekat, erosi kecil dan perdarahan pada derajat peradangan tertentu Manifestasi klinis bervariasi dari keluhan abdomen tidak jelas ( anoreksia, mual ) sampai gejala yang lebih berat ( nyeri epigastrium, muntah, perdarahan, hematemesis), Gastritis superficial akut dapat mereda bila agen penyebab dapat dihilangkan Pada beberapa kasus bila gejala berlanjut dan resisten terhadap pengobatan maka diperlu kan tindakan diagnostik tambahan seperti Endoskopi, biopsi mukosa, analisis cairan lambung. Pengobatan : – obat anti muntah untuk membantu menghilangkan mual dan muntah – Koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit dengan infus Intravena – Ranitidin untuk mengurangi sekresi asam, Sukralfat atau Antasid mempercepat penyembuhan

60 2 jenis gastritis yang paling sering terjadi : 2. Gastritis atrofik kronik Ditandai oleh atrofi progresif kelenjar disertai kehilangan sel parietal danchief cell Akibatnya produksi asam klorida, pepsin dan faktor intrinsik menurun. Dinding lambung jadi tipis dan mukosa mempunyai permukaan yang rata Seri ng dihubungkan dengan anemia perniciosa, tukak lambung dan kanker Etiologi dan patogenesis tidak diketahui Sering pada orang tua Predisposisi timbulnya gastritis kronik : minum alkohol berlebihan, the panas dan merokok Gejala – gejala umumnya bervariasi dan tidak jelas, antara lain ; rasa penuh, anoreksia, distress epigastrik yang tidak nyata. Diagnosis : terdapat aklorhidria, BAO/MAO rendah, pada Biopsi khas terlihat perubahan histologik Pengobatan bervariasi tergantung penyebab kelainan yang dicurigai Hindari alkohol dan obat – obatan yang mengiritasi mukosa lambung Koreksi vitamin B12 pada anemia perniciosa

61 TUKAK LAMBUNG Ulkus peptikum / tukak peptik adalah suatu keadaan dimana kontinuitas mukosa lambung terputus dan meluas sampai di bawah epitel Kerusakan mukosa yang tidak meluas sampai kebawah epitel disebut erosi Ulkus peptikum dapat ditemukan disaluran cerna yang terkena asam lambung, yaitu : esofagus, gaster, duodenum, yeyunum Gambaran klinis utama tukak peptik adalah : – kronik, – nyeri epigastrium intermitten yang khas akan mereda setelah menelan makanan atau antasid. – Nyeri timbul 2-3 jam setelah makan atau malam hari pada saat lambung kosong – Rasa nyeri seperti teriris, terbakar atau rasa tidak enak – Pada tukak lambung terjadi penurunan berat badan, pada tukak duodenum tidak Diagnosa : – Kriteria terpenting pada tukak duodenum adalah nyeri khas yang hilang oleh makanan – Tukak duodenum hampir tidak pernah ganas, tukak lambung sekitar 7% menjadi karsinoma lambung

62 Umumnya tukak ganas mempunyai dasar tukak nekrotik dan tidak beraturan, sedangkan tukak jinak mempunyai dasar yang halus, bersih, dengan batas – batas yang jelas. Pengobatan Tukak peptik adalah menghambat atau mendapar sekresi asam untuk menghilangkan gejala – gejala dan mempermudah penyembuhan, antara lain : – Pemberian antasid, Antikolinergik, Penghambat H2 : Simetidin, Ranitidin, Famotidin – Penatalaksanaan diet, Istirahat secara fisik maupun emosional Komplikasi : – Ulkus interaktibilitas- Perdarahan – Perforasi- Obstruksi pilorus Pembedahan dilakukan bila penderita tidak memberi respon pada terapi medik atau penderita mengalami komplikasi ( perforasi, perdarahan, obstruksi ).

63 Tindakan pembedahan pada tukak duodenum adalah mengurangi kapasitas lambung dalam sekresi asam dan pepsin secara permanen, paling sedikit dengan 4 cara sebagai berikut : – Vagotomi - Antrektomi – Vagotomi dan antrektomi - Gastrektomi parsial Sekuele paska operasi : – Dumping sindrome : akibat pengosongan terlalu cepat – Kambuhnya ulkus yang disebabkan vagotomi atau antrektomi tidak lengkap – Gastritsi akibat refluks empedu – Diare terutama setelah vagotomi trunkus – Anemia megaloblastik karena defisiensi vitamin B12 – Osteomalasia dan Osteoporosis akibat mal absorpsi – Penurunan berat badan – Peningkatan insiden kanker

64 GANGGUAN LAMBUNG LAIN Ulcerasi (borok): Timbul akibat asam lambung yang berlebih. Pertahanan permukaan lambung oleh sekresi lambung selaput lendir yang ada dan kecepatan regenerasi lapisan sel cukup kuat menjaga kerusakan.Pengaruh yang mengganggu (HCL >>) keseimbangan ini bisa menimbukan kerusakan  ulkus peptikum (tukak lambung) Ulkus Peptikum (tukak lambung) bisa akibat: stress, cedera berat (luka bakar), kecelakaan atau post operasi dan infeksi berat. Kadang timbul tanpa kausa jelas. Obat aspirin dan alkohol juga mengganggu selaput lendir lambung  gastritis  ulcerasi. Infeksi: Asam lambung berguna untuk membunuh bakteri, virus dan jamur. Infeksi timbul bila daya tahan terganggu  gastro-enteritis infeksi. Autoimun:Anemia perniciosa: timbul akibat selaput lendir lambung tidak mampu menghasilkan faktor intrinsik yang diperlukan untuk absorpsi vit. B12 yang diperlukan untuk pertumbuhan eritrosit. Kegagalan ini umumnya akibat adanya atropi selaput lendir lambung yang juga gagal memproduksi HCL lambung.

65 KANKER LAMBUNG = Karsinoma lambung : merupakan bentuk neoplasma lambung yang paling sering terjadi dan menyebabkan sekitar 2,6% kematian akibat kanker ( kematian/tahun, USA) Lelaki lebih sering terserang dan sebagian timbul diusia 40 Tahun Penyebab tidak diketahui Faktor predisposisi : – faktor genetik : banyak pada orang dengan golongan darah A. – Faktor geografis : Jepang, Chili dan Islandia sering terjadi. – Sering terdapat pada golongan sosial ekonomi rendah – Gastritis kronik / anemia perniciosa Sekitar 50% kanker lambung terletak pada antrum pilorikum, sisanya tersebar dikorpus lambung

66 3 bentuk umum karsinoma lambung : – Karsinoma ulseratif – – Karsinoma polipoid – Karsinoma infiltratif Karsinoma lambung jarang didiagnosa pada stadium dini karena gejala timbul lambat atau tidak nyata dan tidak pasti Gejala dini dapat berupa perasaan sedikit tidak enak pada abdomen bagian atas atau perasaan penuh setelah makan, pada akhirnya timbul anoreksia dan penurunan berat badan – Bila tumor terletak dekat kardia mungkin disfagia merupakan gejala utama yang pertama dirasa – Bila tumor berada dekat jalan keluar lambung maka muntah karena obstruksi pilorus Sering ditemukan setelah ada metastasis. Yang tak ganas: polyp Pemeriksaan radiologik, Sitologi eksfoliatif, endoskopi biopsi merupakan cara diagnosa kanker lambung yang penting Terapi satu – satunya yang eektif : eksisi pembedahan Prognosa buruk karena ditemukan sudah stadium lanjut

67 Gejala gangguan lain-lain: walau kecil namun menimbulkan gejala sulit menelan,rasa sakit panas di bagian lambung dan dada (heart burn). Kembung (flatulence), sakit perut (abdominal pain) diare, obstipasi (constipation), atau perdarahan dari dubur (rectal bleeding) PYLORIC STENOSIS : Otot sekeliling pintu keluar lambung ke pylorus jadi abnormal tebal. > bayi laki dari perempuan, familial, bumil dengan pylorus stenosis seringnya melahirkan bayi dengan gangguan ini juga. Pada dewasa penyempitan umumnya akibat jaringan parut pada ulkus peptikum atau maligancy kanker lambung. Gejala: 3-4 minggu post lahir  bayi muntah-muntah terus dengan kuat mendorong makanan keluar, setelah makan. Pada dewasa: muntah beberapa jam sehabis makan. Pemeriksaan: Barium foto; gastroscopy., Terapi: obat; operasi pyloromyotomy;pada dewasa: causalis. Pyloroplasty: operasi pelebaran pintu masuk pylorus; bisa disertai vagotomy (pemotongan saraf ke X) untuk mengurangi produksi asam lambung pada ulkus pepticum

68 Refluks gastroesophageal disease (GERD) atau gastroesophageal reflux (GER) suatu keadaan kembalinya isi lambung ke esophagus dengan atau tanpa regurgitasi dan muntah. GER merupakan suatu keadaan fisiologis pada bayi, anak-anak dan orang dewasa sehat. bisa terjadi beberapa kali dalam sehari, dengan episode terbanyak kurang dari 3 menit, muncul setelah makan dengan sedikit atau tanpa gejala. jika refluks isi lambung menyebabkan gangguan atau komplikasi, disebut GERD. Pada bayi, gejala berupa muntah yang berlebih selama seminggu pertama kehidupan, Tanpa pengobatan gejala akan menghilang sebelum umur 2 tahun pada posisi anak sudah lebih tegak dan makan makanan padat, Gejala berupa mual, muntah, regurgitasi, sakit uluhati, gangguan pada saluran pernafasan dan gejala-gejala lain. komplikasi pada GERD berupa perdarahan, striktur

69 DYSPEPSIA Dyspepsia merupakan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari nyeri ulu hati, rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas/epigastrium yang menetap,mual, kembung, muntah, rasa penuh, atau cepat kenyang, sendawa. Penyebab dibedakan menjadi 2 yaitu : – Dyspepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya (misalnya tukak peptic, gastritis, pankreastitis, kolesistitis dan lainnya). – Dyspepsia non organik atau dyspepsia fungsional atau dyspepsia non ulkus (DNU), bila tidak jelas penyebabnya. Tanda dan Gejala Didasarkan atas keluhan/gejala yang dominan, ada tiga tipe : – Dyspepsia dengan keluhan seperti ulkus (ulcus-like dyspepsia), dengan gejala : Nyeri epigastrium terlokalisasi, Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antasid, Nyeri saat lapar, Nyeri episodik

70 – Dyspepsia dengan gejala seperti dismotilitas (dysmotility-like dyspepsia), dengan gejala : Mudah kenyang, Perut cepat terasa penuh saat makan, Mual, Muntah, Upper abdominal bloating, Rasa tak nyaman bertambah saat makan. – Dyspepsia non spesifik (tidak ada gejala seperti kedua tipe di atas) Pembagian akut dan kronis berdasarkan atas jangka waktu tiga bulan. Pemeriksaan Penunjang – Laboratorium. – radiologi – Endoskopi : CLO (Rapid urea test), Patologi Anatomi (PA) – Kultur mikroorganisme (MO) jaringan, PCR (Polymerase Chain Reaction),

71 PENYAKIT PADA USUS HALUS

72 LANJUT KULIAH MINGGU DEPAN


Download ppt "PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS & INFORMASI KESEHATAN FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN Mata kuliah Klasifikasi, Kodifikasi Penyakit dan Masalah Terkait KKPMT."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google