Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma Slide 1 dari 57 PEMODELAN SISTEM.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma Slide 1 dari 57 PEMODELAN SISTEM."— Transcript presentasi:

1 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma Slide 1 dari 57 PEMODELAN SISTEM

2 Slide 2 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PEMODELAN SISTEM n Pemodelan Sistem Klasikal. n Pemodelan Sistem Essensial. n Model Lingkungan (Environmental Model). n Model Perilaku (Behavioral Model) tahap awal. n Model Perilaku (Behavioral Model) tahap akhir. n Model Implementasi.

3 Slide 3 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PEMODELAN SISTEM KLASIKAL  Model Klasikal  Tom De Marco mengusulkan empat tahapan untuk menghasilkan spesifikasi terstruktur, yaitu: 1. Buat Model Fisikal yang ada. 2. Buat Model Logikal yang ada. 3. Buat Model Logikal yang baru. 4. Buat Model Fisikal yang baru. Pemodelan ini disebut sebagai Pemodelan Sistem Klasikal.  Tahapan tersebut didasarkan pada.  Bagaimana sistem yang ada bekerja.  Apa yang dilakukan sistem yang ada.  Apa yang akan dilakukan oleh sistem yang baru.  Bagaimana sistem yang baru akan bekerja.

4 Slide 4 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PEMODELAN SISTEM KLASIKAL n MODEL KLASIKAL  Data flow model klasikal. model fisikal yang ada model logikal yang ada rencana perubahan model logikal yang baru batasan implementasi spesifikasi tersusun (model fisikal yang baru) sistem manual atau otomatis yang ada 1 BUAT MODEL FISIKAL YANG ADA 2 BUAT MODEL LOGIKAL YANG ADA 3 BUAT MODEL LOGIKAL YANG BARU 4 BUAT MODEL FISIKAL YANG BARU

5 Slide 5 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PEMODELAN SISTEM KLASIKAL  ASUMSI  Pemodelan sistem klasikal pada umumnya didasarkan atas 3 asumsi:  Analis sistem mungkin tidak terlalu mengetahui tentang aplikasi atau area bisnis yang diinginkan oleh pemakai. Oleh karena itu ia perlu membangun model fisik sistem saat ini, untuk memahami aplikasi atau area bisnis yang ada.  Pemakai mungkin tidak bisa atau tidak mau bekerja dengan menggunakan model logik baru di awal dari proyek. Alasan utamanya ialah keraguan dari pemakai terhadap pemahaman analis sistem tentang area bisnis yang ia inginkan.  Transformasi dari model logik sistem yang ada ke model logik sistem yang baru tidak memerlukan kerja keras.

6 Slide 6 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PEMODELAN SISTEM KLASIKAL  PERMASALAHAN  Asumsi diatas memang benar untuk beberapa proyek. Meskipun demikian ada suatu masalah, yaitu: proses untuk mengembangkan sebuah model dari sistem yang ada seringkali membutuhkan waktu dan usaha yang banyak, sehingga pemakai menjadi tidak sabar dan bahkan bisa membatalkan proyek.  Beberapa pemakai sering menganggap bahwa segala bentuk analisis sistem hanyalah membuang-buang waktu saja, dan menganggap bahwa proyek dimulai ketika pemrograman (coding) dimulai.  Beberapa pemakai menganggap bahwa pemodelan sistem yang ada secara teliti tidak perlu, karena akan diganti atau diubah sebagai hasil pengembangan sistem yang baru.

7 Slide 7 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PEMODELAN SISTEM KLASIKAL  PEMECAHAN PERMASALAHAN.  Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka Yourdon merekomendasikan agar Analis Sistem sedapat mungkin menghindari pembuatan model dari sistem yang ada saat ini dan secepat mungkin membuat suatu model dari sistem baru yang diinginkan oleh pemakai.  Sistem baru ini pada pendekatan klasik dikenal sebagai model logik sistem yang baru, dan disini disebut sebagai MODEL ESSENSIAL dari SISTEM

8 Slide 8 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PEMODELAN SISTEM KLASIKAL n BAGAIMANA JIKA HARUS MEMBUAT MODEL FISIKAL? – Jika analis sistem harus membuat model fisikal sistem yang ada, maka pembuatannya tidak perlu dilakukan secara detail, cukup bagian yang essensial dan yang dapat dicapai memberikan gambaran dan pemahaman secara umum terhadap yang ada. – Setelah dibuat model fisikalnya, kemudian perlu dibuat model logikal dari sistem yang ada (dengan menghilangkan detail yang implementation-oriented sebanyak mungkin). Agar diperoleh model logikal yang essensial, maka yang perlu diperhatikan ialah komponen esensi dari sistem (aktivitas fundamental, memori essensial dan aktivitas kustodial). Sedangkan komponen yang lain bisa dihilangkan.

9 Slide 9 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PEMODELAN SISTEM ESENSIAL  DEFINISI  Model essensial dari sistem ialah suatu model tentang apa yang harus dikerjakan oleh sistem untuk memenuhi kebutuhan pemakai, dengan sedikit mungkin (idealnya tanpa) menyebutkan bagaimana sistem akan diimplementasikan. Hal ini berarti model dari sistem mengasumsikan bahwa teknologi sempurna (perfect technology) tersedia dan dapat diperoleh dengan cepat tanpa biaya.

10 Slide 10 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PEMODELAN SISTEM ESENSIAL n CONTOH  Model bagaimana fungsi dari sistem dilaksanakan.  Model tentang apa fungsi dari sistem. EMPLOYEE FILE FOLDERS EMPLOYEE MASTER FILE (tape) PAYROL L CLERK PAYROLL COMPUTE R PAYROLL EMPLOYE E EMPLOYEE S time sheets cas h time cards (80-column format) salary report hours worked + employee-id salar y

11 Slide 11 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PEMODELAN SISTEM ESENSIAL  KOMPONEN ENSENSI DARI SISTEM  Komponen Esensi dari sistem terdiri dari:  AKTIVITAS ESENSIAL (essential activities)  MEMORI ESENSIAL (essential memory/data store).  AKTIVITAS ESENSIAL ialah semua aktivitas/task yang harus dikerjakan oleh sistem.  Aktifitas esensial harus ada, meskipun dengan menggunakan teknologi sempurna aktifitas tersebut tidak bisa dihilangkan atau tidak diimplementasikan. Aktivitas edit, bukan aktivitas esensial, karena jika digunakan teknologi sempurna,aktivitas tersebut dapat dihilangkan.

12 Slide 12 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PEMODELAN SISTEM ESENSIAL  KOMPONEN ENSENSI DARI SISTEM  Ada 2 jenis aktivitas esensial:  Aktifitas Fundamental (Fundamental Activity), merupakan aktifitas yang melaksanakan suatu task yang merupakan bagian dari tujuan sistem.  Aktifitas Kustodial (Custodial Activity), merupakan aktifitas yang membangun dan memelihara memori esensial dengan mengambil atau menyimpan informasi yang diperlukan aktifitas fundamental.

13 Slide 13 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PEMODELAN SISTEM ESENSIAL  KOMPONEN ESENSIAL DARI SISTEM  MEMORI ESENSIAL mengandung semua data yang harus diingat oleh sistem dan yang diperlukan oleh aktivitas esensial. Dengan perkataan lain, memori esensial berisi semua data yang harus diingat oleh sistem dengan teknologi sempurna.  DFD dari ke 3 (tiga) komponen tersebut stimulus respon memori esensial stimulus respon AKTIFITAS KUSTODIAL AKTIFITAS FUNDAMENTAL

14 Slide 14 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PEMODELAN SISTEM ESENSIAL  KOMPONEN ESENSI DARI SISTEM  Contoh: Aktivitas fundamental dari sistem payroll  Aktivitas fundamental dan memori esensial 4 BAYAR PEKERJA HARIAN 4 BAYAR PEKERJA HARIAN data pekerja upah potongan cheque_pembayaran jam_kerja POTONGAN UPAH DATA PEKERJA jam_kerja cheque_pembayaran

15 Slide 15 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PEMODELAN SISTEM ESENSIAL  KOMPONEN ESENSI DARI SISTEM  Aktifitas Kustodial, Memori Esensial dan Aktifitas Fundamental kenaikan pekerja_baru pekerja_berhenti update_potongan jam_kerja cheque_pembayaran UPAH DATA PEKERJA POTONGAN 1 MEMELIHARA UPAH 2 MEMELIHARA PEKERJA 3 MEMELIHARA POTONGAN 4 BAYAR PEKERJA HARIAN

16 Slide 16 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PEMODELAN SISTEM ESENSIAL  BAGIAN-BAGIAN PADA MODEL ESENSIAL  Model esensial terdiri 2 bagian, yaitu:  MODEL LINGKUNGAN (environment model)  MODEL PERILAKU (behavioral model).  Model lingkungan menentukan batas antara sistem dengan lingkungan dimana sistem tersebut berada.  Model perilaku menjelaskan aktifitas-aktifitas di dalam sistem yang diperlukan untuk keberhasilan interaksinya dengan lingkungan.

17 Slide 17 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL LINGKUNGAN  BATASAN (BOUNDARY)  Pekerjaan yang paling sulit bagi Analis Sistem, seringkali menentukan apa yang menjadi bagian dari sistem (di dalam sistem) dan apa yang tidak (di luar sistem). Model di luar sistem disebut model lingkungan sedangkan model di dalam sistem disebut model perilaku. Batas antara Model Lingkungan dan Model Perilaku disebut Boundary (Batasan)  Selain menentukan batasan (boundary), juga perlu ditentukan interface (antar muka) antara sistem dan lingkungan. Interface ini berupa event atau stimulus yang terjadi di lingkungan yang perlu diberikan respon oleh sistem.

18 Slide 18 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL LINGKUNGAN  BATASAN (BOUNDARY)  Batasan antara sistem dan lingkungan.  "Gray Area" yang merupakan daerah yang perlu dibicarakan antara Pemakai dan Analis SIstem. Lingkungan Sistem Lingkungan Gray Area Sistem

19 Slide 19 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL LINGKUNGAN  BATASAN (BOUNDARY)  Contoh Sistem Piutang Pengendalian Persediaan Manajemen Kas Penagihan Pemasukan Pesanan Hutang Lingkungan

20 Slide 20 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL LINGKUNGAN  KOMPONEN MODEL LINGKUNGAN  Pernyataan Tujuan.  Diagram Konteks  Daftar Event.  Diagram E-R.

21 Slide 21 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL LINGKUNGAN  PERNYATAAN TUJUAN (STATEMENT OF PURPOSE)  Pernyataan tujuan adalah suatu pernyataan ringkas dan padat berbentuk tulisan tentang tujuan dari sistem.  Pernyataan ini ditujukan untuk top management, user management dan personil lainnya yang tidak langsung terlibat didalam pengembangan sistem.  Pernyataan tujuan dapat terdiri dari satu, dua atau beberapa baris kalimat, tetapi jangan lebih dari satu paragraph.  Contoh :  Tujuan dari sistem pendukung proyek adalah untuk menangani permintaan barang dari proyek, termasuk juga pembuatan purchase order (PO) ke supplier, pembayaran ke supplier, penerimaan barang dari supplier dan pengiriman barang ke proyek.

22 Slide 22 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL LINGKUNGAN  DIAGRAM KONTEKS  Diagram konteks menonjolkan karakteristik penting dari sistem sebagai berikut:  Orang, organisasi, atau sistem yang berkomunikasi dengan sistem. Mereka disebut terminator (source/sink).  Data yang diterima sistem dari lingkungan dan harus diproses oleh sistem.  Data yang dihasilkan oleh sistem dan dikirim ke lingkungan.  Penyimpanan data yang digunakan secara bersama-sama antara sistem dan terminator.  Batasan antara sistem dan lingkungan.

23 Slide 23 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL LINGKUNGAN  DIAGRAM KONTEKS  Contoh Diagram Konteks. pesanan| pesanan batal pesanan+shipping list laporan penjualan tagihan D.O. Percetakan pesanan cetak ulang KONSUMEN MANAJEMEN AKUNTING PERCETAKAN STATUS KREDIT SISTEM PEMESANAN BUKU

24 Slide 24 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL LINGKUNGAN  DAFTAR EVENT  Definisi Event Event ialah suatu kejadian diluar sistem, kejadian karena waktu, atau kejadian yang dideteksi didalam sistem (sistem real time), yang menyebabkan aktifitas didalam sistem, atau merupakan hasil/respon dari sistem.  Istilah lain dari event atau yang serupa dengan event ialah Use Case.  Jenis Event  External Event ~Flow Oriented (F) ~Control Oriented (C untuk sistem real time)  Temporal Event (T)  Internal Event (untuk sistem real time)

25 Slide 25 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL LINGKUNGAN  DAFTAR EVENT  External Event External event adalah suatu kejadian yang bebas (independent) yang terjadi di luar sistem dan menyebabkan terjadinya aktifitas di dalam sistem, ketika stimulus diberikan kepada sistem.  Dalam menentukan event, perlu dilihat arah terjadinya event, yaitu dari lingkungan kearah sistem (luar ke dalam) dan bukan dari sistem ke lingkungan. ~ " Pesanan diterima dari konsumen oleh sistem" (dari sistem ke lingkungan) ~ "Konsumen memberikan pesanan" (dari lingkungan ke sistem) Tujuannya adalah untuk membedakan antara event sebenarnya dengan event related flow (aliran data yang bukan berasal dari event tetapi dibutuhkan oleh event)

26 Slide 26 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL LINGKUNGAN  Contoh External event ~ Seseorang memutuskan untuk membuka rekening (F) ~ Konsumen memberikan pesanan (F) ~ Customer cancel order (F) ~ Book reprint arrives at warehouse (C)  Temporal Event Temporal Event ialah suatu kejadian yang berdasarkan waktu yang menyebabkan aktivitas di dalam sistem dan biasanya menghasilkan respon dari sistem.  Contoh :  Manajemen memerlukan laporan penjualan bulanan  Manajer meminta ringkasan transaksi harian  Jam 12:00 proses mengumpulkan dan memasukan tanda terima ke account ledger.

27 Slide 27 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL LINGKUNGAN  Menyusun Daftar Event.  Daftar Event adalah daftar yang berbentuk teks dari event di dalam lingkungan dimana sistem perlu memberikan respon.  Daftar event mengandung daftar external event dan temporal event.  Di dalam menyusun daftar event perlu dibedakan antara sebuah event dan sebuah event related flow.  Mana yang lebih dahulu, Daftar Event atau Diagram Konteks? Boleh dipilih mana yang lebih mudah.

28 Slide 28 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL LINGKUNGAN n Diagram E-R – Diagram E-R dapat mulai dibuat. – Diagram E-R dapat dibuat sebelum atau bersamaan dengan pembuatan DAD. – Kadang-kadang lebih praktis untuk memulai dari diagram E-R. kemudian Daftar Event dan Diagram Konteks. Daftar Event 1. Event Event Event

29 Slide 29 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PERILAKU TAHAP AWAL  PENDEKATAN KLASIKAL (De Marco, Gane & Sarson)  Pendekatan Top Down Diagram Konteks dekomposisi/partitioning Diagram Tengah dekomposisi/partitioning Primitif Fungsional. Diagram Konteks Diagram 0 dekomposisi

30 Slide 30 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PERILAKU TAHAP AWAL  PENDEKATAN KLASIKAL  Beberapa masalah yang mungkin dihadapi, jika pendekatan top down dilakukan:  Analysis Paralysis Kesulitan dalam menurunkan Diagram 0 dari diagram konteks. Sering waktu sudah habis sebelum Diagram 0 yang tepat diperoleh.  Six Analyst Phenomenon Dekomposisi Diagram Konteks ke Diagram 0, mengikuti jumlah analis sistem. Jika ada 6 analis sistem, maka Diagram 0 hasil dekomposisi dari Diagram Konteks akan berisi 6 bulatan. Bagaimana jika 9 analis sistem?  An arbitraty physical partitioning Pembagian dari Diagram Konteks berdasarkan sistem yang ada. Misalkan sistem yang ada mempunyai Bagian Produksi dan Bagian Pengendalian Mutu, maka pembagiannya akan cenderung mengikuti kedua bagian tersebut meskipun belum tentu merupakan pembagian/dekomposisi yang terbaik.

31 Slide 31 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PERILAKU TAHAP AWAL  PENDEKATAN ESENSIAL  Model Tingkah Laku Tahap Awal  Identifikasi respon terhadap event  Menghubungkan respon event  Membuat Model Data Tahap Awal  Identifikasi Respon Terhadap Event  Hubungan Event, sumber/terminator, stimulus, respon yang dihasilkan dan tujuan/terminator. SUMBER SISTEM TUJUAN EVENT stimulus respon

32 Slide 32 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PERILAKU TAHAP AWAL n Identifikasi Respon terhadap Event – Pendekatan pembagian menurut event mengandung 4 langkah : 1. Sebuah bulatan atau proses digambar untuk setiap event didalam daftar event. 2. Bulatan diberi nama berdasarkan respon yang harus diberikan oleh sistem terhadap event yang terkait. 3. Masukan dan keluaran digambar sedemikian rupa sehingga bulatan dapat memberikan respon yang diinginkan dan data store digambar, jika perlu untuk komunikasi antar bulatan. 4. DAD yang dihasilkan diperiksa terhadap Diagram Konteks dan daftar event untuk kelengkapan dan konsistennya.

33 Slide 33 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PERILAKU TAHAP AWAL n Identifikasi Respon terhadap Event – Bedakan aliran data yang merupakan stimulus dari event yang diperlukan sebagai masukan tambahan dari event. Aliran data ini memberitahu sistem bahwa sebuah event terjadi X

34 Slide 34 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PERILAKU TAHAP AWAL n Identifikasi Respon Terhadap Event Aliran data ini bukan event, tetapi diperlukan untuk memproses event yang terkait dengan X Aliran data keluaran ke terminator X Y Z X P Y Z

35 Slide 35 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PERILAKU TAHAP AWAL n Identifikasi Respon terhadap Event – External Event memotivasi sebuah sumber untuk mengeluarkan sebuah stimulus ke sebuah sistem, dan menyebabkan beberapa keluaran keluaran aliran data sebagai respon. – 1 External Event1 Stimulus1 AktivitasHasilyang diinginkan PEMINJAM SISTEM PERPUSTA- KAAN PEMINJAM SESEORANG MEMBUTUHKAN BUKU permintaan buku buku KARYAWAN MENYELESAIKAN KERJA MINGGUAN SISTEM PENGGAJIAN KARYAWAN BANK statemen dana kartu waktu

36 Slide 36 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PERILAKU TAHAP AWAL n Identifikasi Respon terhadap Event – 1 event2 sumber stimuli pada waktu berlainan 1aktivitas Respon yang diinginkan. – 2 events 1 sumber 2 stimuli yang berbeda pada waktu berbeda 1 aktivitas Respon yang diinginkan. KONSUMEN DISTRIBUTOR PRODUK KONSUMEN KONSUMEN INGIN MEMBUAT PESANAN KONSUMEN INGIN MEMBATALKAN PESANAN SESEORANG INGIN SEBUAH PIZZA KONSUMEN SPOUSE (PASANGAN) PIZZA SPOUSE pesanan_via_telp. nama+No_telp. pizza pesanan_via_telp pembatalan pesanan produk

37 Slide 37 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PERILAKU TAHAP AWAL n Identifikasi Respon terhadap Event – 1 event 1 sumber 2 stimuli 2 aktivitas beberapa respon. – Temporal event aktivitas didalam sistem respon yang diinginkan. KONSUME N 1.0 SEDIAKA N SEPATU BOWLIN G 2.0 TENTUKA N LINTASAN BOWLING LINTASAN BOWLING KONSUME N ukuran_sepatu permintaan lintasan sepatu bowling tanda terima penentuan lintasan MANAJEME N PIUTANG SESEORANG INGIN MAIN BOWLING AKHIR BULAN laporan bulanan

38 Slide 38 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PERILAKU TAHAP AWAL n Menghubungkan beberapa respon terhadap event – Bulatan yang terkait dengan suatu event tidak berhubungan lansung satu sama lain, tetapi bulatan-bulatan tersebut berkomunikasi satu sama lain melalui penyimpanan data (essensial memory). – Penyimpanan data diperlukan untuk sinkronisasi multiple interdependent events. PROSES PESANAN KONSUMEN RESPON KE PERTANYAAN KONSUMEN pesanan konsumen pertanyaan pesanan konsumen PESANAN PROSES PESANAN KONSUMEN RESPON KE PERTANYAAN KONSUMEN pesanan konsumen pertanyaan pesanan konsumen pesanan_ok status pesanan MODEL YANG KURANG TEPAT

39 Slide 39 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PRILAKU TAHAP AWAL n Pembuatan Data Model Tahap Awal – Versi awal dari Diagram E-R (DER) mulai dibuat. Pembuatan Diagram E-R merupakan aktivitas independen dan paralel dengan pembuatan DAD. – DER dan DAD yang dibuat paralel dapat digunakan untuk saling memeriksa ( cross check). l Penyimpanan Data pada DAD dapat digunakan sebagai calon entity atau relationship pada DER. l Entity atau Relationship pada DER dapat digunakan sebagai calon penyimpanan data pada DAD. – Event list dapat digunakan untuk membantu pembuatan DER demikian juga sebaliknya.

40 Slide 40 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PERILAKU TAHAP AKHIR n Menyelesaikan Model Tingkah Laku Tahap Akhir – Menyelesaikan Model Proses – Menyelesaikan Model Data n Menyelesaikan Model Proses – Pembuatan tingkatan DAD (leveling DFD) l Peningkatan ke atas (upward leveling)

41 Slide 41 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PERILAKU TAHAP AWAL n Menyelesaikan Model Proses – Pembuatan tingkatan DAD (lanjutan) l Petunjuk Peningkatan keatas : ~ Setiap pengelompokan proses-proses mengandung respon-respon yang terkait. Hal ini dapat dikatakan sebagai proses-proses yang berhubungan dengan data yang terkait erat. ~ Cari kesempatan untuk menyembunyikan penyimpanan data yang ada di tingkat lebih bawah. ~ Pengelompokan DAD awal menjadi DAD lebih tinggi tingkatannya sebaiknya memenuhi petunjuk jumlah bulatan 7 + 2

42 Slide 42 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PERILAKU TAHAP AWAL n Menyelesaikan Model Proses – Pembuatan tingkatan DAD (lanjutan) l Pembagian ke bawah (downward leveling) DAD AwalDAD hasil pembagian l Petunjuk Pembagian ke bawah -Dekomposisi menurut fungsinya (functional decomposition) dapat dilakukan. - Aliran data masuk dan keluar bulatan dapat digunakan sebagai petunjuk untuk pembagian ke bawah. RST X Y ZC B A X Y Z B A C

43 Slide 43 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PERILAKU TAHAP AKHIR n Menyelesaikan Model Proses l Melengkapi Kamus Data – Kamus Data yang telah dibangun sejak awal perlu dilengkapi. – Konsistensi dan Kelengkapan Kamus Data perlu diperiksa terhadap DAD, DER dan Spesifikasi Proses. l Melengkapi Spesifikasi Proses – Spesifikasi proses seringkali belum perlu ditulis pada tahap awal, ia ditulis begitu DAD yang dihasilkan sudah jarang mengalami perubahan. – Spesifikasi proses yang telah lengkap perlu diperiksa terhadap Kamus Data dan DER.

44 Slide 44 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL PERILAKU TAHAP AKHIR n Melengkapi Model Data l Melengkapi Diagram E-R dengan atribut-atribut yang belum ada. l Periksa konsistensi DER terhadap DAD Model yang dihasilkan setelah tahap ini selesai, mengandung : l Diagram Konteks l Daftar Event l Pernyataan Tujuan l Diagram Aliran Data Bertingkat secara lengkap l Diagram E-R secara lengkap l Kamus Data untuk tahap analisa secara lengkap l Spesifikasi proses untuk setiap bulatan pada tingkat paling bawah.

45 Slide 45 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL IMPLEMENTASI n Model Implementasi Pemakai – Sebagai tambahan informasi untuk model esensial ialah isu implementasi yang mempunyai dampak yang cukup kuat terhadap kemampuan pemakai untuk menggunakan sistem. Isu implementasi ini perlu dispesifikasi sekarang. – Model Implementasi Pemakai akan meliputi l Alokasi model esensial kepada manusia versus mesin l Detail interaksi manusia - mesin l Aktivitas manual tambahan yang diperlukan l Batasan operasional yang ingin dipersyaratkan oleh pemakai kepada sistem.

46 Slide 46 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL IMPLEMENTASI n Menetukan batasan otomasi (manusia vs mesin) – Tiga kasus ekstrim : ~ pemakai tidak perduli terhadap batasan otomasi ~ pemakai memilih sistem otomat penuh ~ pemakai memilih sistem manual penuh. Ketiga kasus diatas hampir tidak pernah terjadi. – Beberapa alternatif batasan otomatis Bagian manual Bagian otomasi Bagian manual

47 Slide 47 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL IMPLEMENTASI n Menentukan antar muka untuk manusia – Interaksi manusia mesin mencakup isu-isu sebagai berikut : l Pemilihan Peralatan Keluaran dan Masukan. l Format semua Masukan yang mengalir dari terminator kedalam sistem. l Format semua Keluaran yang mengalir dari sistem kembali ke terminator. l Urutan dan "timing" dari Masukan/Keluaran di dalam sistem on-line.

48 Slide 48 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL IMPLEMENTASI n Identifikasi dukungan aktivitas manual tambahan – Asumsi pada model esensial adalah adanya teknologi sempurna, yang berarti bahwa teknologi implementasi tidak pernah gagal atau membuat kesalahan. Pemakai seringkali tidak dapat menerima hal ini, untuk itu perlu ditambahkan aktivitas tambahan yang berupa proses baru dalam DAD model perilaku. Dilakukan pada komputer Dilakukan secara manual BUAT TAGIHAN PERIKSA KESALAHAN OUTPUT tagihan tagihan_ok

49 Slide 49 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma MODEL IMPLEMENTASI n Batasan Operasional – Batasan Operasional diperlukan untuk melaksanakan tahap implementasi dengan lebih baik. Batasan Operasional ini belum disinggung pada model esensial. – Isu utama batasan operasional antara lain ; l Volume dari data Pemakai perlu menspesifikasikan volume transaksi dan besarnya penyimpanan data. l Response time terhadap berbagai jenis masukan. Contoh : Response time < 2 detik, laporan harus tersedia jam pagi. l Batasan politik pada pemilihan implementasi. Contoh : Pemilihan perangkat keras/lunak yang berdasarkan alasan non teknis. l Batasan lingkungan. Temperatur, kelembaban, listrik dan lain lain. l Batasan sekuriti dan keandalan. MTBF, MTTR. l Batasan sekuriti. Manimisasi pemakaian sistem oleh yang tidak berhak.

50 Slide 50 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PENERAPAN PEMODELAN SISTEM  Contoh Pemodelan Sistem – Contoh Masalah P.T. Go Skate Sport (GSS) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang olah raga dan hiburan. Salah satu usahanya ialah penyediaan fasilitas untuk bermain sepatu roda. Fasilitas tersebut berupa ruangan tertutup dengan penyejuk ruangan (yang diberi nama Go Skate) serta sepatu roda yang dapat disewa oleh pengunjung. Agar lebih menarik, GSS mengatur ruangantersebut seperti ruangan diskotik dan menyediakan musik untuk mengiringi pengunjung bermain sepatu roda. Pengunjung Go Skate sangat banyak terutama pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur. Untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen yang ingin bermain sepatu roda, maka Go Skate merencanakan untuk melakukan komputerisasi penyewaan sepatu roda. Sistem yang akan di bangun tersebut diinginkan agar dapat melayani hal-hal sebagai berikut :

51 Slide 51 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PENERAPAN PEMODELAN SISTEM n Contoh Pemodelan Sistem – Contoh Masalah (lanjutan) 1. Konsumen menyewa sepatu roda. Untuk menyewa sepatu roda, konsumen perlu menyebutkan namanya serta membayar deposit. Konsumen akan memperoleh sepatu roda dan slip penyewaan. 2. Konsumen mengembalikan sepatu roda. Ketika konsumen mengembalikan dan menyerahkan slip penyewaan, maka perhitungan sewa dilakukan dan konsumen diberitahu jumlah sewa yang harus dibayar. 3. Konsumen membayar sewa. Konsumen membayar jumlah sewa sepatu roda, dan konsumen memperoleh kembali depositnya serta kwitansi sewa. 4. Waktu tutup ruangan. Ketika waktu untuk tutup tiba (misal jam 22.00). Laporan Pendapatan hari tersebut dibuat dan juga Laporan Kerusakan dan kehilangan sepatu roda. Setiap sepatu roda mempunyai Nomor Seri dan Ukuran sepatu dan status. Setiap Slip Penyewaan mempunyai Nomor Slip yang unik. Nama Konsumen, Nomor Seri Sepatu Roda, Jumlah Deposit, Waktu Mulai Sewa dam Pembayaran.

52 Slide 52 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PENERAPAN PEMODELAN SISTEM n Contoh Pemodelan Sistem – Contoh Pemecahan l Model Lingkungan ~ Pernyataan Tujuan Sistem penyewaan sepatu roda ditujukan untuk mempercepat pelayanan penyewaan sepatu roda. Sistem ini meliputi antara lain pencatatan penyewaan, perhitungan sewa dan pembuatan laporan pendapatan harian. ~Diagram Konteks nama+dep osit slip penyewaan+ sepatu roda slip penyewaan sepatu roda jumlah sewa pembay aran depo sit laporan pendapatan+ laporan kehilangan/kerusaka n KONSUM EN SISTEM PENYEWAA N SEPATU RODA MANAJ ER

53 Slide 53 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PENERAPAN PEMODELAN SISTEM n Contoh Pemodelan Sistem – Contoh Pemecahan (lanjutan) l Daftar Event 1. Konsumen Menyewa Sepatu Roda 2. Konsumen Mengembalikan Sepatu Roda 3. Konsumen Membayar Sewa 4. Waktu Tutup Ruangan l Daftar Entity ~ Konsumen ~ Sepatu Roda ~ Penyewaan – Model Perilaku l Identitas Event 1. Konsumen Menyewa Sepatu Roda PENYEWA SEPATU RODA 1 BERIKAN SEPATU RODA nama_konsumen+deposit slip_penyewaan+sepatu roda

54 Slide 54 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma PENERAPAN PEMODELAN SISTEM n Contoh Pemodelan Sistem – Contoh Pemecahan (lanjutan) 2.Konsumen Mengembalikan Sepatu Roda 3.Konsumen Membayar Sewa 4.Waktu Tutup Ruangan 2. HITUNG JUMLAH SEWA 3. KEMBALIKAN DEPOSIT slip penyewaan + sepatu roda jumlah_sewa PENYEWAAN SEPATU RODA pembayaran deposit PENYEWAAN 4. BUAT LAPORAN PENYEWAAN SEPATU RODA laporan Pendapatan + laporan kerusakan/kehilangan

55 Slide 55 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma n Contoh Pemodelan Sistem Contoh Pemecahan (lanjutan) § Diagram E-R Karena data mengenai KONSUMEN tidak perlu disimpan, maka Diagram E-R di atas dapat disederhanakan. PENERAPAN PEMODELAN SISTEM SEPATU RODA PENYEWAANKONSUMEN SLIP PENYEWAAN l no_seri l ukuran l status l nama_konsumen l no_slip SLIP PENYEWAAN SEPATU RODAPENYEWAAN l nama_konsumen l no_slip l no_seri l ukuran PMS-60/0693PT. Kuaternita Adidarma

56 Slide 56 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma n Contoh Pemodelan Sistem – Contoh Pemecahan (lanjutan) l Penggabungan event dan periksa (cross check) dengan Diagram E-R. PENERAPAN PEMODELAN SISTEM 1 BERIKAN SEPATU RODA SEPATU RODA nama_konsumen + deposit slip_penyewaan + sepatu roda jumlah sewa pembayara n deposi t laporan_pendapatan + laporan kerusakan 2 HITUNG JUMLAH SEWA 4 BUAT LAPORAN 3 KEMBALIKAN DEPOSIT SLIP PENYEWAAN

57 Slide 57 dari 57 Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma  Contoh Pemodelan Sistem – Contoh Pemecahan (lanjutan) l Kamus Data SLIP PENYEWAAN={NO_SLIP+NAMA_KONSUMEN+NO_SERI+JUMLAH DEPOSIT+WAKTU_MULAI_SEWA + PEMBAYARAN} SEPATU_RODA={NO_SERI+UKURAN_SEPATU+STATUS} l Spesifikasi Proses MODUL HITUNG SEWA {SLIP_PENYEWAAN, SEPATU_RODA, JUMLAH_SEWA} Kembalikan Sepatu Roda ke Rak Ambil data penyewaan dari file SLIP PENYEWAAN berdasarkan NO_SERI. Hitung JUMLAH_SEWA sebagai berikut: WAKTU=Waktu sejak WAKTU_MULAI_SEWA dan dibulatkan keatas ke setengah jam yang terdekat. JUMLAH_SEWA=WAKTU x TARIF Catat JUMLAH_SEWA Beritahu Konsumen tentang JUMLAH_SEWA PENERAPAN PEMODELAN SISTEM


Download ppt "Pelatihan Pemodelan Sistem PT. Kuaternita Adidarma Slide 1 dari 57 PEMODELAN SISTEM."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google