Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

KOMPENDIUM KAJIAN LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN KEMISKINAN DAN LINGKUNGAN Dikoleksi oleh: Etik Setyaningsih, Irwan Zulkifli Matondang, dan Soemarno PM PSLP.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "KOMPENDIUM KAJIAN LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN KEMISKINAN DAN LINGKUNGAN Dikoleksi oleh: Etik Setyaningsih, Irwan Zulkifli Matondang, dan Soemarno PM PSLP."— Transcript presentasi:

1 KOMPENDIUM KAJIAN LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN KEMISKINAN DAN LINGKUNGAN Dikoleksi oleh: Etik Setyaningsih, Irwan Zulkifli Matondang, dan Soemarno PM PSLP PPSUB, MALANG 2012

2 Sumber: lingkungan ……. Diunduh 3/4/2012 Kemiskinan Menjadi Pemicu Kerusakan Lingkungan Faktor kemiskinan adalah salah satu pemicu dari rusaknya lingkungan, sehingga akhirnya dapat menyebabkan bencana alam yang menimbulkan jatuhnya korban. Seperti yang terjadi pada hari Senin (04/10/2010) di Wasior. Kemiskinan telah membuat sebagian masyarakat untuk memanfaatkan lingkungan, dengan menghalalkan cara-cara yang kurang bijak. Hal itu juga terjadi hingga tataran pemerintahan daerah. Kebijakan publik yang diterapkan pemerintah sudah cukup berpihak kepada konservasi lingkungan. Namun pemerintah daerah terkadang mengabaikan kebijakan tersebut, dan menerapkan kebijakan-kebijakan lokal yang kurang ramah lingkungan. Menurut Direktur Eksekutif WALHI, pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah belum sinergis dalam menjalankan kebijakan berorientasi lingkungan, perangkat hukum yang ada juga masih kurang. (Tribunnews.com - Sabtu, 9 Oktober :40 WIB) Hubungan timbal-balik antara masalah lingkungan dan kemiskinan berpangkal dari konsep pembangunan yang berkelanjutan. Salah satu akar masalah kemiskinan adalah akibat dari kegiatan pembangunan yang dilakukan secara tidak berkelanjutan. Eksploitasi sumberdaya alam secara berlebihan, secara langsung dan tidak langsung, berdampak negatif terhadap kelangsungan fugnsi produktif sumberdaya alam dan kondisi kesehatan masyarakat di sekitar lokasi eksploitasi. Selain sumberdaya alam yang semakin terkuras, memburuknya polusi dan perubahan iklim juga mengindikasikan tidak adanya keberlanjutan ekologis, yang pada akhirnya memperburuk fenomena kemiskinan. Oleh karena itu, upaya-upaya perbaikan kondisi lingkungan diharapkan dapat membantu menurunkan kemiskinan atau memperbaiki tingkat kesejahteraan masyarakat.

3 Sumber: …. Diunduh 3/4/2012 RUMAH TANGGA MISKIN Rumah tangga miskin yakni rumah tangga sebagai disebut BPS, Litbang Kompas, dan Bappenas (Kompas Mei 2008) dengan ciri- ciri sebagai berikut: 1.Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8 meter persegi per orang 2.Lantai tempat tinggal dari tanah / bambu/ kayu murahan 3.Jenis dinding tempat tinggal terbuat dari bambu / rumbia/ kayu berkualitas rendah / tembok tanpa diplester 4.Tidak memiliki fasilitas buang air / bersama- sama dengan rumah tangga lain 5.Penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik 6.Sumber air minum dari sumur/mata air tidak terlindungi/ sungai / air hujan 7.Bahan bakar untuk rumah tangga berupa kayu/ arang/ minyak tanah 8.Mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali seminggu 9.Hanya membeli satu setel pakaian baru dalam setahun 10.Hanya sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas 11.Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan lahan garapan kurang dari 0,5 ha, buruh tani, nelayan, buruh bangunan,buruh perkebunan,atau pekerjaan lain dengan pendapatan kurang dari Rp per bulan 12.Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga tidak sekolah /tidak tamat SD 13.Tidak memiliki tabungan / barang berharga yang mudah dijual dengan nilai minimal Rp sepeda motor dengan kredit, emas, ternak, kapal motor, barang modal lainnya. 14..

4 Sumber: Diunduh 3/4/2012 KERUSAKAN LINGKUNGAN Lingkungan hidup meliputi sumberdaya alam yang punya kemampuan untuk recovery, namun oleh tekanan aktifitas manusia yang semakin menguat dibanding laju pemulihan sumberdaya alam yang lambat maka akan terjadi degradasi bahkan kerusakan sumberdaya alam yang semakin cepat. Tekanan penduduk apabila tidak sebanding dengan ketersediaan sumberdaya alam tentu saja akan memperlambat pemulihan sumberdaya alam. Kerusakan lingkungan dapat terjadi apabila intensitas tekanan terhadap lingkungan berlangsung secara terus menerus; sehingga upaya pembangunan berwawasan lingkungan sangat diperlukan agar lingkungan tetap lestari. Kekeliruan pengelolaan lingkungan akan berdampak fatal pada kerusakan lingkungan yang berkepanjangan hingga tanpa dapat diperbaiki lagi dalam jangka panjang. Kondisi seperti ini akan dapat menimbulkan bencana lingkungan.. Goncangan lingkungan pada tingkat mikro mempengaruhi jumlah penduduk yang lebih sedikit. Penduduk miskin biasanya hidup di wilayah-wilayah marjinal, rumah dan lahan usahanya mempunyai resiko tinggi terkena dampak akibat bencana kekeringan, banjir, tanah longsor, wabah penyakit (endemik) dan sejenisnya. Kelompok wanita miskin khususnya sering paling rentan dan menanggung konsekuensi dari berkurangnya konsumsi makanan, terjangkitnya penyakit, dan kebutuhan untuk membangun lagi tempat tinggal. Bencana lingkungan dapat mempengaruhi kemiskinan baik secara jangka pendek maupun jangka panjang. Bencana tentunya memperburuk keterpurukan ekonomi dalam jangka pendek. Bencana juga dapat mempengaruhi kesejahteraan ekonomi rumahtangga dalam jangka panjang, ketika upaya untuk bertahan hidup mutlak memerlukan modal atau investasi, misalnya modal direncanakan untuk membiayai pendidikan anak-anak di masa mendatang. Kerusakan lingkungan dan bencana alam juga telah menyebabkan para korban, yang kebanyakan adalah orang miskin, meninggalkan rumah-rumah mereka untuk mengungsi atau pindah ke lokasi lain yang lebih baik. Pengungsi korban bencana alam mengalir ke kota-kota di mana mereka menambah jumlah orang miskin yang juga hidup di lahan marjinal dan beresiko terhadap bencana. (sumber: Berkelanjutan-Dan-Strategi-Penanggulangan-Kemiskinan-Di-Indonesia-Puguh-B-Irawan- Oktober-2004)

5 Sumber: lingkungan-hidup/ ……. Diunduh 3/4/2012 Kemiskinan Penyebab Kerusakan Lingkungan Hidup? Syukri Muhammad Syukri, | 03 March 2012 | 00:56 Pendapat sejumlah pakar lingkungan hidup menyatakan bahwa kemiskinan menyebabkan tekanan terhadap lingkungan makin tinggi. Oleh karena itu, kemiskinan harus dientaskan supaya lingkungan hidup dapat diselamatkan. Bagaimana dengan kondisi Indonesia saat ini? Menurut data BPS (2011) jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 30,02 juta orang atau 12,49% dari penduduk Indonesia. Dibandingkan tahun 2010, penduduk miskin di Indonesia mengalami penurunan sebesar 0,84%. Dari 30,02 juta orang penduduk miskin, yang terbesar berada di pedesaan yaitu sebanyak juta orang, sedangkan di perkotaan sebanyak 11,05 juta orang. Kawasan pedesaan paling banyak penduduk miskinnya, hal inilah yang mengkhawatirkan, karena tekanan terhadap hutan semakin tinggi. Hal ini juga menjadi kekhawatiran Komisi Dunia Untuk Lingkungan dan Pembangunan PBB (1988). Masyarakat miskin seringkali mengeksploitasi lingkungan sekitarnya demi kelangsungan hidupnya. Mereka akan menebang hutan, ternaknya akan menggunduli padang- padang rumput, mereka akan menggunakan lahan merginal secara berlebihan. Mereka ini terpaksa memanfaatkan secara berlebihan basis sumberdaya yang ada demi kelangsungan hidup mereka. Sasaran yang paling dekat untuk memperoleh bahan pangan adalah hutan. Orang miskin itu disebut dengan kelompok the struggling. Mereka umumnya memiliki motto: apa yang dapat kita makan hari ini. Hal ini menyebabkan mereka memandang lingkungan sebagai salah satu “mata pencaharian” untuk bertahan hidup. Bagi mereka lingkungan bukan untuk kaya. Intinya, bagaimana dari lingkungan bisa menghasilkan pangan, papan dan sandang. Tentu upaya yang mereka lakukan adalah mengeksploitasi habis-habisan lingkungan yang ada di sekitarnya, terutama kawasan hutan. Masyarakate miskin belum sempat berpikir tentang lingkungan, tentang pelestarian, tentang konservasi tentang rehabilitasi lahan. Tekanan ekonomi dan kehidupan yang tidak memihak kepada mereka semakin terasa berat; kondisi ini memaksa mereka untuk mencari lahan sekedar bercocok tanam untuk dapat bertahan hidup.

6 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 POVERTY AND ENVIRONMENT: Case of Urban Wetland Communities in Depok and Jakarta. By: Rissalwan Habdy Lubis This paper presented in Flinders Asia Centre Honours, Post-Grad & Staff Seminar, on October 14th Also published in Social Welfare Journal (ISSN X), University Of Indonesia, Vol.4 No.1, April In many cases, environmental degradation has serious impact on people especially the poor. The poor are living in a very hostile environment: no clean water; no infrastructure for proper liquid and solid waste removal and disposal; no road or access for necessary services such as fire fighting or ambulance; no proper educational facilities and health services (Hukka, et al 1991). The poor have been pushed or squeezed out of strategic and high-potential land, and often have no choice but to over-exploit the marginal resources available to them. They continue to find some place nearby natural resources—especially water—to build their slum settlement upon. Therefore, the poorer of the society get the worse of the environmental situation. Poverty and environment are related through a complex web of relationships. The World Bank (2004) identifies three major links between environmental degradation and impacts on poor people: Environmental health: poor people suffer most when water, air and land are polluted - it is poor people who suffer most; Livelihoods: poor people tend to be most directly dependent on natural resources, and are therefore the most severely affected when soils, vegetation and water resources are degraded; Vulnerability: the poor are often exposed to environmental hazards, and are the least capable of coping when they occur..

7 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 LINKING POVERTY AND ENVIRONMENT: A CONSEPTUAL FRAMEWORK Since the 1970s, it has been almost universally agreed that poverty and environmental degradation are inextricably linked. The World Commission on Environment and Development (Brundtland Commission,1987) states: Many parts of the world are caught in a vicious downwards spiral: poor people are forced to overuse environmental resources to survive from day to day, and their impoverishment of their environment further impoverishes them, making their survival ever more difficult and uncertain. The overlapping implications of population growth and economic marginalization for poverty and environmental degradation have led to a belief in a negative downward spiral for poor communities in the face of economic and demographic change (Durning, 1989; Grepperud, 1997: ). To this may be added the additional impacts of environmental decay. The approach of poverty and environment linkages. It assumes that: 1.There is an aggregate ‗population‘ or ‗community‘ which interacts with an aggregate ‗environment‘; 2.People‘s livelihoods are based more or less exclusively on the use and management of environmental resources; 3.Poverty and environmental change have a direct causal relationship, and can feed each other in some kind of cumulative causation process, and that; 4.Poverty is the principal or only cause of environmental change, and vice versa. This mutual relationship therefore leads to a ‗downward spiral‘ of poverty and environmental degradation.

8 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 The Environmental Entitlements Framework A useful set of analytical tools for a more comprehensive approach of the poverty and environment linkage is found in the environmental entitlements approach. Outlines the environmental entitlements approach in diagrammatic form (Leach et all, 1997). The framework elaborates how particular components of the environment become endowments and entitlements for different people, affecting their well-being..

9 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 LINGKUNGAN HIDUP DAN KESEJAHTERAAN The natural resource management activities of diverse groups of people in turn help produce kinds of environmental services. The concept of environmental entitlements is a descriptive one, referring to the alternative sets of benefits derived from environmental goods and services over which people have legitimate effective command and which are instrumental in achieving well-being. These benefits may include direct uses in the form of commodities, such as food, water or fuel, and the benefits derived from environmental services, such as the properties of the hydrological cycle for electrical generator. Importantly, different people may rely for contributions to their well-being derived from different components of the environment. The processes by which particular people derive benefit from particular components of the environment are structured by institutions, which can be defined as ‗regularized patterns of behavior between individuals and groups in society‘. Those relevant to people- environment relations may be formal (e.g. a statutory land reform) or informal (e.g. customary norms regarding labor use). Institutions at multiple scale levels may interact to shape the benefits people derive from environmental goods and services and the ways they manage them, and thus the trajectories of livelihood- environment relations over time. Such as the process to make chemical fertilizer from natural gas (LNG), that may increase farmers productivity and their income.

10 Kemiskinan kota Jakarta, daerah pinggiran Kali Sunter Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 ENVIRONMENTAL CHANGE AND THE URBAN POVERTY There are important differences between poverty–environment linkages in urban and in rural areas. Firstly, in the rural context livelihoods depend more directly on natural resources than in the urban context where cash-based income activities (e.g. trading and services) are more significant. Secondly, poor people impact less on the forces causing environmental degradation than industrial excess in urban areas. Thirdly, urban environmental degradation is primarily associated with health impacts. As a result, the causes and consequences of urban deprivation are commonly more adequately addressed via political and economic policies rather than through direct intervention into environmental processes..

11 Sumber: Strategi-Penanggulangan-Kemiskinan-Di-Indonesia-Puguh-B-Irawan-Oktober-2004……. Diunduh 3/4/2012 Environmental Health Several researchers have identified that urban environmental problems may undergo a variety of transformations which some have represented as a series of stages (1995; Satterthwaite et.all, 1996; McGranahan et.all, 1996). The initial phase is the dominance of biological pathogens or microorganisms that may result from inadequate sanitation, poor clean water supplies and waste disposal. Later stages of pollution include industrial hazards such as smoke and solvent pollution. On the other hand, poor people who live along the edge of situ also have a lot of contribution to the degradation of water quality in the situ. They flow their house liquid waste into situ, so the water in the situ becomes muddy mixed with oil and detergent foam. Although it can be dangerous, the poor people also consume the water from situ for washing their clothes and for bathing. Hubungan antara determinan-determinan lingkungan dandimensi-dimensi kemiskinan (Diadaptasi dari Bucknall, Kraus and Pillai (2001))

12 Sumber: ……. Diunduh 3/4/ The approach to link poverty and environment issues by explaining the negative mutual relationship between poverty or vulnerability and environmental change—recognized as ‗vicious downward spiral‘ concept‘— are currently not suitable for the actual condition. The more relevant approach to explain this real complex situation is by describing the environmental entitlements that make poor people able to use the natural and environmental resources by governing from institutions that have authorization of it. 2.The poor community in the riverbank has made the river a waste area—by throwing solid trash and disposing liquid waste directly into the river—and at the same time this has made the river for consuming purposes— such as for their livelihood and also as a source of consumption for water unsanitary. 3.The poor community nearby situ, whether intentionally or unintentionally, has strongly contributed to the reducing water surfaces. The intentionally one, perform in the action to extend the land for subsistence cultivation and new settlements. 4.There is a need to conduct further study to reveal some topics, which are: (1) the specific change over time (past and present— and future, is possible) of relational pattern between daily activities of the poor and the condition of the wetland where they live, as the water conservation for the sustainability of environment and human life as well. (2) The issue about local and regional interest mapping on various concerning urban wetland stakeholders, to explain whether there are sustainable development or sustainable conflict management among the stakeholders.

13 Sumber: kerusakan.html……. Diunduh 3/4/2012 KEMISKINAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN Kemiskinan dan kerusakan lingkungan berkorelasi positif. Bahkan keduanya memiliki hubungan kausalitas derajat polinomial. Pada derajat pertama, kemiskinan terjadi karena kerusakan lingkungan atau sebaliknya lingkungan rusak karena kemiskinan. Pada tingkatan polinomial berikutnya, kemiskinan terjadi akibat kerusakan lingkungan yang disebabkan karena kemiskinan periode sebelumnya. Hal sebaliknya berpeluang terjadi, lingkungan rusak karena kemiskinan yang dipicu oleh kerusakan lingkungan pada periode sebelumnya. Hubungan sebab akibat itu bisa terus berlanjut pada derajat polinomial yang lebih tinggi, membentuk lingkaran setan atau siklus yang tidak berujung. Dalam kondisi seperti itu, kemiskinan semakin parah dan lingkungan semakin rusak. Semakin lama kondisi itu berlangsung, semakin kronis keadaanya. Bila sudah demikian, status kemiskinan berubah secara tidak linier. Dari miskin, ke lebih miskin, dan akhirnya miskin sekali. Tren yang sama juga terjadi juga pada kerusakan lingkungan. Jeffrey Sachs dalam kesimpulan bukunya The End of Poverty menekankan pentingnya hubungan kemiskinan dan kerusakan lingkungan sebagai peubah penentu kesejahteraan dan kemakmuran. Menurutnya, sementara investasi pada kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur mungkin dapat mengatasi perangkap kemiskinan yang sudah ekstrem kondisinya, degradasi lingkungan pada skala lokal, regional, dan global dapat meniadakan manfaat investasi tersebut. Dengan kata lain, ada banyak variabel penting yang ikut menentukan kesejahteraan dan kemiskinan, namun lingkungan alam bisa dipandang sebagai yang terpenting. Karena pentingnya hubungan kemiskinan dan kerusakan lingkungan, dalam Millenium Development Goals (MDGs) kedua variabel tersebut dijadikan target bersama negara-negara dunia untuk menyelesaikannya hingga periode 2015.

14 Sumber: 1/ ……. Diunduh 3/4/2012 KEMISKINAN DAN KERUSAKAN EKOLOGIS Kemiskinan dan kerusakan ekologis adalah sesuatu yang sangat sulit dipisahkan. Kerusakan ekologis menyebabkan kemiskinan, sebaliknya kemiskinan menyebabkan semakin tingginya kerusakan ekologis. Sehingga faktor ekologis merupakan salah satu faktor utama penyebab kemiskinan di Indonesia. Pemimpin spiritual India, Mahatma Gandhi pernah mengingatkan, Bumi menyediakan cukup kebutuhan seluruh umat manusia, tapi tak akan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan dan kerakusan seorang manusia. Memang, orang- orang yang rakus senantiasa tidak pernah puas dan merasa kurang, sekalipun sudah berkelimpahan. Peringatan Mahatma Gandhi sangat relevan dengan situasi global, lebih-lebih saat ini. Kerakusan tidak hanya menciptakan kemiskinan bagi sesama manusia, tapi juga rusaknya keseimbangan alam. Keserakahan membuat alam dieksplorasi secara berlebihan, yang akan menimbulkan bencana, alam hanya dilihat sebagai sumber financial semata, sedangkan sesungguhnya alam memiliki fungsi ekologis yang bernilai ekonomi tidak langsung, yang mendukung nilai ekonomi secara langsung. Bencana dapat didefinisikan, adalah suatu situasi di mana cara masyarakat untuk hidup secara normal telah gagal, sebagai akibat dari peristiwa kemalangan luar biasa, baik karena peristiwa alam ataupun perbuatan manusia. Bencana tersebut menyebabkan terjadinya bencana pembangunan sebagai gabungan faktor krisis lingkungan, akibat pembangunan dan gejala alam itu sendiri, yang diperburuk dengan perusakan sumber daya alam dan lingkungan serta ketidakadilan dalam kebijakan pembangunan sosial ekonomi. Dari beberapa sumber dan fakta lapangan, bahwa kerusakan ekologis menjadi salah satu faktor utama kemiskinan di Indonesia. Di pesisir Jawa, sampai akhir tahun 2003, jumlah desa terkena banjir meningkat tiga kali lipat, yaitu desa dibandingkan tahun , yang juga merupakan implikasi dari rusaknya ekosistem pesisir akibat dari konversi lahan, destructive fishing, reklamasi, hingga pencemaran laut (di mana 80% industri di Pulau Jawa berada di sepanjang pantai utara Jawa). Kekeringan adalah bencana lain yang semakin kerap terjadi di Indonesia. Belakangan ini musim kemarau di Indonesia semakin panjang dan tidak beraturan, meski secara geografis dan alamiah, Indonesia berada di lintasan Osilasi Selatan-El Nino (ENSO). Misalnya kemarau 2003 termasuk normal, namun tercatat 78 bencana kekeringan di 11 provinsi, dengan wilayah yang terburuk dampaknya adalah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dampak kekeringan yang utama adalah menurunnya ketersediaan air, baik di waduk maupun badan sungai, yang terparah adalah pulau Jawa. Dampak lanjutannya adalah pada sektor air bersih, produksi pangan serta pasokan listrik. Kekeringan juga terkait dengan kebakaran hutan, karena cuaca kering memicu perluasan kebakaran hutan dan lahan serta penyebaran asap.

15 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Kemiskinan Akar Masalah Kerusakan Hutan Saturday, 18 February :58 Yudi Rachman, Reporter KBR68H. Kemiskinan dianggap menjadi akar masalah pengerusakan hutan dan lingkungan hidup di Indonesia. Ketua Satuan Tugas Kelembagaan REDD+ Kuntoro Mangunsubroto mengatakan, pengurangan angka kemiskinan menjadi faktor penting penurunan angka kerusakan hutan, karbon dan penyelamatan lingkungan hidup. Menurut dia, tanpa menyelesaikan persoalan kemiskinan, program perbaikan hutan dan lingkungan hidup tidak akan berjalan maksimal. Hal yang lebih penting adalah “kemiskinan”, karena sebagian orang yang nebang tegakan hutan adalah “orang miskin”. Hasil menebang pohon hutan ini digunakannya untuk biaya sekolah anaknya, untuk berobat anak ke Puskemas, untuk merawat kesehatan dan lainnya. Fakta ini ada di masyarakat dan apabila tidak segera ditanggulangi maka masalah-masalah REDD+, emisi karbon, penebangan hutan, pemerkosaan lahan gambut akan tetap terjadi. Kegiatan-kegiatan pengelolaan lingkungan dapat berkontribusi terhadap upaya pemberdayaan masyarakat lokal. Masyarakat setempat diberdayakan dengan ikut serta dalam pengambilan keputusan tentang pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan secara berkelanjutan, yang kemudian langsung dikaitkan dengan sumber penghidupan dan kegiatan ekonomi mereka. Apabila masyarakat sudah diberdayakan, pengelolalaan sumberdaya alam akan bermanfaat menjaga lingkungan, menciptakan peluang- peluang ekonomi bagi masyarakat untuk peningkatan pendapatan, dan sekaligus membangun modal sosial dari masyarakat setempat dalam memahami dan mengatasi berbagai masalah pengelolaan lingkungan.

16 Sumber: rusak-picu-peningkatan-kemiskinan&catid=41:liputan&Itemid=89 ……. Diunduh 3/4/2012 LINGKUNGAN RUSAK, PICU PENINGKATAN KEMISKINAN Monday, 03 May :50 Kegagalan pemerintah mengatasi kerusakan lingkungan yang semakin parah, dapat memicu peningkatan kemiskinan di Indonesia. Ada tiga dampak kerusakan lingkungan yang berpotensi memiskinkan rakyat yakni banjir, kemacetan lalu lintas serta penyakit lantaran buruknya lingkungan. "Ketiga masalah ini telah terjadi, bahkan kondisinya sudah meluas di hampir seluruh daerah di Indonesia," ungkap Herdianto WK, Sekjen Dewan Pengurus Nasional (DPN) Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia (Perwaku) pada seminar nasional 'Pertimbangan Lingkungan untuk Penataan Ruang' di Jakarta. Banjir dapat mengubah orang jadi miskin seketika karena kehilangan rumah dan harta bendanya, Kemacetan lalu lintas berakibat biaya transportasi perkotaan menghabiskan 30% pendapatan setiap orang per bulannya. “Kualitas lingkungan buruk dapat memicu penyakit demam berdarah, malaria, muntaber sehingga menyedot biaya rumah sakit yang tinggi, sehingga dapat menghabiskan tabungan masyarakat, malah membuatnya berhutang”. Sampai saat ini belum ada tindakan pemulihan kerusakan lingkungan yang berhasil. Reboisasi hutan selama 10 tahun telah menghabiskan dana lebih dari Rp 15 triliun, ternyata tidak hasilnya belum tuntas. Konversi lahan menjadi tambang batubara yang menghasilkan uang triliunan rupiah dan membuat pengusaha menjadi konglomerat, terbukti tidak mampu meningkatkan kesejahteraan riil masyarakat di sekitar penambangan batubara. Malah yang terjadi di Samarinda juga daerah tambang batubara lainnya terjadi kerusakan lahan pertanian, meningkatnya banjir dan melonjaknya angka kemiskinan akibat hilangnya mata pencaharian penduduk sekitar tambah itu, ungkap Herdianto serius. Untuk menekan angka kerusakan lingkungan dibutuhkan kepemimpinan dan keberanian dalam menyetop berncana lingkungan dan pemiskinan massal. Juga, dibutuhkan kemauan politik lingkungan serta tindakan nyata yang pro lingkungan pada kegiatan konversi pemanfaatan ruang, lingkungan dan sumber daya alam. Konversi dari rakyat kecil di sekitar lingkungan yang rusak, menjadi kegiatan korporasi yang dapat berpotensi menghancurkan perekonomian rakyat setempat. Ada tiga yang berpotensi mengancam kesejahteraan rakyat setempat yakni reklamasi pantai, pertambangan perkebunan sawit, dan penggusuran pemungkiman untuk kegiatan komersial. Proses pemiskinan rakyat dibalik fenomena pertumbuhan ekonomi harus segera dihentikan, di beberapa daerah pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan PDRB diikuti oleh meningkatnya kemiskinan. Fenomena ini terjadi lantaran sumbangan terbesar pertumbuhan oleh korporasi yang eksploatif terhadap sumber daya alam, lingkungan serta upah buruh yang murah. Pertumbuhan seperti ini mengakibatkan kerusakan lingkungan yang dampaknya ditanggung oleh rakyat. Besarnya biaya kerusakan yang ditanggung rakyat inilah yang memicu tumbuhnya kemiskinan.

17 Sumber: wisnusudibjo.wordpress.com/.../ Tinggalkan Kemiskinan - Tingkatkan Produktivitas Dari sudut pandang awal, kemiskinan berkait dengan produktivitas. Situasi kemiskinan cenderung membuat produktivitas seseorang rendah. Rendah dalam kuantitas, rendah dalam kualitas ataupun rendah dalam kreativitas. Yang dihasilkan hanya yang rutin, yang juga sudah dihasilkan banyak orang, kualitas rendah, sehingga daya saing menurun, harga jatuh dan tidak terjual karena yang ditawarkan menjadi lebih banyak dari kebutuhannya. Pada akhirnya, penghasilan rendah, keuangan terbatas, dan kekurangan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

18 Sumber: ndp2kp.blogdetik.com/apa-itu-plp-bk/ Transformasi sosial menuju Masyarakat Madani

19 Sumber: Seorang anggota jaringan kaum muda memperkenalkan sebuah gerakan "adopsi pohon" pada sebuah lokakarya antaragama saat ia mendesak aksi, meskipun kecil, daripada sejumlah konsep untuk mengatasi kerusakan lingkungan. "Dalam mengatasi masalah lingkungan hidup, saya kira usaha-usaha kecil dan konkret jauh lebih penting daripada konsep-konsep ideal," kata Ardi Rahman pada lokakarya April di Kaliurang, Yogyakarta. "Kami telah berusaha menanamkan kesadaran akan betapa pentingnya pohon bagi kehidupan umat manusia dengan meluncurkan program yang kami beri nama 'adopsi pohon,'" kata anggota Jaringan Pemuda Indonesia (JPI) yang beragama Islam itu kepada lebih dari 30 peserta dari berbagai komunitas dan organisasi keagamaan. Rahman, 29, mengatakan bahwa tujuan gerakan tersebut adalah melindungi pohon- pohon besar di lahan milik para petani setempat. Sementara kelompok-kelompok lain telah melakukan gerakan penanaman pohon, katanya, kelompoknya melindungi pohon-pohon yang sudah tumbuh dengan meminta para petani agar bersumpah untuk tidak menebang pohon-pohon tersebut dalam jangka waktu tertentu, hingga 15 tahun.

20 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 JPI = JARINGAN PEMUDA INDONESIA JPI meluncurkan gerakan itu setahun lalu berdasarkan pemikiran bahwa masyarakat tidak bisa menunggu sebuah gerakan yang besar untuk menjaga lingkungan. "Kepada para petani, kami beri uang sebanyak Rp per pohon”. Seorang petani bersumpah untuk tidak menebang pohon dalam sebuah ritual khusus. Saat ritual ini, petani tersebut dan lima anggota JPI membungkus pohon itu dengan kain putih dan kemudian berdiri mengelilingi pohon itu dan berdoa. Dengan cara seperti ini, JPI telah melindungi 200 dari pohon yang akan menjadi target di wilayah Yogyakarta. Beberapa organisasi dan komunitas yang menghadiri lokakarya itu adalah Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) Yogyakarta, Indonesian Committee on Religions for Peace (IComRP), Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, dan Lembaga Lingkungan Hidup Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar kedua di tanah air. Muhyidin Mawardi (dari Muhammadiyah) mengatakan kepada peserta bahwa sebuah perubahan pola pandang itu perlu untuk mengatasi isu lingkungan hidup. Banyak orang bertindak sewenang- wenang terhadap alam karena mereka menganggap manusia diciptakan sebagai "raja atas alam semesta."

21 Pengertian Kemiskinan Pengertian kemiskinan ada bermcam-macam, namun dalam rangka penanggulangan kemiskinan yang komprehensif dan terpadu harus ada kesepakatan pemahaman semua pihak penyelenggara agar targeting yang dilaksanakan tepat sasaran baik target penduduk miskin maupun program yang dilaksanakan. Pengertian kemiskinan yang perlu diketahui dan dipahami adalah sebagai berikut: 1. Kriteria BPS, kemiskinan adalah suatu kondisi seseorang yang hanya dapat memenuhi makanannya kurang dari kalori per hari. 2. Kriteria BKKBN, kemiskinan adalah keluarga miskin prasejahtera apabila: a. Tidak dapat melaksanakan ibadah menurut agamanya. b. Seluruh anggota keluarga tidak mampu makan dua kali sehari. c. Seluruh anggota keluarga tidak memiliki pakaian berbeda untuk di rumah, bekerja/sekolah dan bepergian. d. Bagian terluas dari rumahnya berlantai tanah. e. Tidak mampu membawa anggota keluarga ke sarana kesehatan. 3. Kriteria Bank Dunia, kemiskinan adalah keadaan tidak tercapainya kehidupan yang layak dengan penghasilan USD 1,00 per hari. Masyarakat Miskin Menurut Gunawan Sumodiningrat, masyarakat miskin secara umum ditandai oleh ketidakberdayaan /ketidakmampuan (powerlessnesss) dalam hal: 1.Memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar seperti pangan dan gizi, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan (basic need deprivation). 2.Melakukan kegiatan usaha produktif (unproductiveness). 3.Menjangkau sumber daya sosial dan ekonomi (inacceribility). 4.Menentukan nasibnya diri sendiri serta senantiasa mendapat perlakuan diskrminatif, mempunyai perasaan ketakutan dan kecurigaan, serta sikap apatis dan fatalistik (vulnerability); dan 5.Membebaskan diri dari mental budaya miskin serta senantiasa merasa mempunyai martabat dan harga diri yang rendah (no freedom for poor). Ketidakberdayaan atau ketidakmampuan tersebut menumbuhkan perilaku miskin yang bermuara pada hilangnya kemerdekaan untuk berusaha dan menikmati kesejahteraan secara martabat. Sumber: gemaniasbarat.wordpress.com/.../

22 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 PENDAPATAN MASYARAKAT MISKIN PEDESAAN Nias memiliki lahan desa-desa yang relatif subur seperti di wilayah kabupatennya yang sangat banyak ditumbuhi pohon kelapa hingga Ha, yang menutupi hampir seluruh pantainya. Walaupun demikian, tingkat kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat di seluruh desa-desa pada umumnya masih sangat rendah. Masalah utama Nias yang sangat pelik dan membuat penduduknya selalu terperangkap pada situasi keterbelakangan dan kemiskinan tersebut, pertama adalah adat istiadat (sehingga Nias ini dapat dikategorikan sebagai daerah kemiskinan cultural), dan yang kedua keterissolasian desa-desa dalam kabupaten Nias itu sendiri. Dalam keadaan rata-rata pendapatan masyarakat pedesaan yang demikian rendah, adat istiadat mewarnai cara hidup suku Nias ini dan dikategorikan sangat ketat, dan juga demikian konsumtif. Hampir tidak ada acara adat yang tidak dilayani dengan pengorbanan materi yang sangat besar terutama untuk menyiapkan makanan bagi para tetamu. Adat istiadat yang masih sangat kuat melekat pada kehidupan masyarakat Nias ini merupakan ongkos ekonomi maupun sosial yang sangat tinggi dan harus dibayar, walaupun kurang menciptakan multiplier ekonomi yang sangat diperlukan bagi pembangunan atau untuk melepaskan diri dari kemiskinan dan keterbelakangan.

23 Sumber : yogisuprayogisugandi.wordpress.com/.../yogisuprayogisugandi.wordpress.com/.../ Kuala Lumpur Slums Area Perbedaan Program Pembasmian Kemiskinan di Indonesia dan Malaysia: Kajian Kes Bandung dan Kuala Lumpur Posted by yogi suprayogi sugandi on September 11, 2008yogi suprayogi sugandi Kemiskinan masih menarik perhatian banyak pihak, termasuk para ahli akademik di berbagai bidang kajian. Kajian tentang kemiskinan selalunya melibatkan faktor ekonomi, sosial, budaya dan juga politik. Ahli sejarah dan perbandingan kemiskinan mendefinisikan kemiskinan melalui satu garisan (continuum), kemahuan (want) bermula dari kebuluran, saradiri (subsistence), sosial coping dan akhir sekali partisipasi sosial. Walau bagaimanapun, kemiskinan merupakan sebagai suatu masalah kehidupan sosial didalam masyarakat dunia ketiga, bukan hanya wujud pada masyarakat luar bandar, tetapi juga bandar. Seperti halnya dituliskan oleh ahli- ahli sosiologi, politik dan ekonomi di Indonesia, yang menyatakan bahawa kemiskinan termasuk dalam permasalahan sosial, tetapi apa yang menyebabkannya dan bagaimana mengatasinya tergantung pada ideologi yang dipergunakan.

24 Sumber: mave.wordpress.com/.../ ORANG MISKIN DAN GARIS KEMISKINAN Pemerintah menetapkan bahwa yang disebut miskin adalah ketidakmampuan secara ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Penduduk miskin adalah penduduk yang mempunyai rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan. Garis Kemiskinan (GK) terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (nilai pengeluaran kebutuhan minimum untuk makanan setara 2100 kalori/kapita/hari, yang diwakili oleh 52 komoditi bahan makanan) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (nilai pengeluaran kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan, yang diwakili oleh komoditi). Disebut “tidak miskin” kalau pengeluarannya > 1,5 GK.

25 Sumber: kriyamedia.blogspot.com/2008/04/kritisnya-reh... DEGRADASI Menyinggung masalah banjir dan masalah kepemimpinan seperti yang diungkapkan diatas, dari dua dekade pemerintahan terakhir, kita merasakan semakin seringnya terjadi bencana ekologi, tidak hanya baik banjir namun kekeringan, maupun tanah longsor, yang telah menelan begitu banyak korban harta maupun manusia. Bencana ekologi tersebut juga telah menghadirkan begitu meluasnya kemiskinan dan penurunan kualitas kesehatan masyarakat di tingkat lokal. Hal ini memunculkan pertanyaan bagi kita, apakah pemerintahan mempunyai keberpihakan terhadap lingkungan hidup yang baik dan sehat bagi rakyat? Bagaimana sikap dan kebijakan pemerintah terhadap penanganan lingkungan saat ini?

26 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 DEGRADASI LAHAN DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH Sudah kita ketahui bersama, kondisi sumber daya alam dan lingkungan di Indonesia saat ini dalam keadaan yang memprihatinkan. Erosi tanah mengakibatkan pencemaran dan pendangkalan sungai, waduk serta perairan terjadi di seluruh wilayah Indonesia sehingga tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Bila melihat laju degradasi hutan di Indonesia sepuluh tahun terakhir, sangat memprihatinkan mencapai hingga 1,6 hutan Ha/tahun. Seperti yang kita ketahui, salah satu fungsi hutan adalah menjaga keseimbangan hidro-orologis. Hutan berperan menaikkan laju resapan air ke dalam tanah sehingga mengurangi konsentrasi aliran air dan risiko banjir dapat diminimalisasi, walaupun terjadi banjir tidak terjadi banjir bandang. Kenaikan laju infiltrasi menyebabkan peningkatan cadangan air tanah di sekitar hutan, yang nantinya dikeluarkan pada musim kemarau sebagai mata air. Jadi secara umum, hutan berfungsi untuk stabilisasi dan optimalisasi aliran air, bukan menambah air (Soemarwoto, 1992). Degradasi lahan masih terus terjadi hingga sekarang. Di Jawa Barat saja, dari total luas kawasan hutan Jabar, yang luasnya mencapai 22,5 persen dari daratan, diperkirakan hanya tinggal 10 persen luas daratan yang masih berupa hutan. Selebihnya hanya berupa tanah kosong yang sudah tidak berfungsi lagi sebagai hutan. Jumlah lahan kritis di Provinsi Jawa Barat tercatat seluas hektare. Dari jumlah tersebut terbagi dalam kerusakan di lahan hutan konservasi seluas ha, kerusakan di hutan lindung ha, lahan hutan produksi ha, dan hutan rakyat ha (Pikiran Rakyat, Selasa, 14 Oktober 2007). Tanda-tanda degradasi lahan di Jawa Barat sangat kentara. Tanda- tanda adanya degradasi, adalah dengan makin menyusutnya sumber air di permukaan tanah dan sumber air di bawah tanah, baik secara kuantitas maupun kualitasnya.

27 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 ALIH FUNGSI LAHAN Perubahan fungsi lahan dari kawasan resapan air menjadi kawasan permukiman, juga memberi dampak yang sangat luas, yang akhirnya menimbulkan bencana bagi masyarakat setempat. Dengan kondisi seperti itu, tidak ada jalan lain selain mengerahkan segala daya untuk segera bertindak nyata mencegah dan memulihkan kerusakan lingkungan hidup di bumi ini. Bahkan pasca krisis moneter didaerah- daerah pinggiran hutan terdorong untuk melakukan perluasan lahan- lahan perkebunan. Sehingga seringkali terjadi perambahan hutan oleh masyarakat sekitarnya. Ditambah oleh usaha kehutanan dan hutan tanaman dari pemerintah pusat, yang membagi habis kawasan hutan lindung. Hal diatas diiringi semakin tidak terkendalinya pemerintah, baik pusat, provinsi maupun kabupaten-kota, dalam mengelola tata lingkungannya. Bila menilik masalah lingkungan yang terjadi di Jawa Barat merupakan akibat dari perencanaan dan pengelolaan tata ruang dan lahan yang tidak tepat, kondisinya memberikan gambaran yang negatif dan terus mengalami degradasi di berbagai sektor. Hal tersebut karena tidak adanya lagi otoritas gubernur untuk ikut mengendalikan tata ruang, masing-masing walikota atau bupati punya otoritas baru. Sehingga pemerintah daerah leluasa memberikan perijinan kepada para pengembang, tanpa pernah mengindahkan dampak ekologi yang akan timbul dari pemberian ijin. Semua terjadi dengan dan atas nama Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan atas nama pertumbuhan ekonomi di daerah, banyak sekali ruang terbuka hijau yang sebenarnya ruang publik dan hak masyarakat, dirampas dan direduksi menjadi fungsi- fungsi ekonomi. Bahkan kebijakan ini semakin diperkuat dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No.2 tahun 2008, tentang jenis dan tarif atas jenis penerimaan negara bukan pajak yang berasal dari penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan. Sehingga kemungkinan hutan semakin dieksploitasi semakin terbuka lebar. Ada apa ini?! Apakah hasil dari eksploitasi hutan yang akan diterima sebanding dengan resiko bencana ekologi?

28 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 DEGRADASI HUTAN DAN LAHAN Dampak lingkungan akibat kerusakan hutan dan lahan dapat berupa longsor dan banjir selama musim penghujan. Berbagai kerugian dialami seperti rusaknya areal pertanian dan sarana prasarana berupa jalan, jembatan serta perumahan penduduk yang nilainya miliaran rupiah. Bencana banjir dan tanah longsor juga menimbulkan korban jiwa dan dampak lain yaitu menyebarnya berbagai penyakit. Di musim kemarau, rakyat mengalami kekeringan yang mengakibatkan penderitaan masyarakat. Kekurangan sumber air dimana-mana, sehingga pertanian tidak berjalan dengan semestinya. Kawasan dengan fungsi lindung, dibangun dan diolah tanpa mengikuti kaidah sistem pengolahan lahan yang tepat. Kalau keadaan ini berlanjut terus setiap tahun, dapat dibayangkan betapa akan merosotnya kondisi lingkungan. Kerugian yang besar akan dialami oleh bangsa dan negara. Menurut Dadang Sudardja—aktivis lingkungan dari WALHI Jabar, tingkat dan akselerasi kerusakan lingkungan saat ini telah lebih jauh berubah menjadi masalah sosial yang pelik. Aktifitas pembangunan saat ini telah menimbulkan masalah-masalah sosial seperti mengabaikan hak-hak rakyat atas kekayaan alam, marjinalisasi, dan pemiskinan. Permasalahan lingkungan hidup juga bukan masalah yang berdiri sendiri dan harus dipandang sebagai masalah sosial kolektif (http://satudunia.oneworld.net, 05 Februari 2008). Dan ini sebetulnya adalah tuntutan dari International Convenant on Economic, Social and Cultural Right Tahun 2002 mengenai hak-hak dasar manusia dan kewajiban negara untuk menghargai, melindungi dan memenuhi kebutuhan rakyatnya..

29 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Menyikapi program-program rehabilitasi lahan, Deni Jasmara, Direktur Eksekutif Walhi Jabar, dalam kesempatan Diskusi Media yang diselenggarakan K3A dan ESP USAID pada tanggal 24 Februari 2008 merekomendasi perlunya evaluasi program-program regabilitasi lahan kritis seperti GRLK maupun Gerhan secara menyeluruh dengan audit oleh Auditor Publik—bukan Bawasda atau BPK, transparan, menghadirkan pengawas independent serta pelibatan masyarakat sepenuh hati. “Jika rekomendasi ini tidak dilakukan lebih baik stop!“ tegasnya. Menurutnya pula, inti kegagalan Gerhan disebabkan beberapa hal seperti indikasi korupsi, lahan fiktif, tanaman tidak terawat, bibit mati, pengurangan bibit, penunjukkan langsung dalam tender pengadaan bibit, dan kehilangan lahan. Pemerintah sudah sepenuh hati untuk percaya terhadap masyarakat dalam melakukan pengelolaan lingkungannya. Sehingga mampu membangkitkan sistem kelola sumberdaya alam berbasis komunitas lokal yang telah terbukti memiliki kearifan terhadap alam dan lingkungan kehidupannya Dengan begitu akan lahir bangkit dorongan bagi masyarakat untuk menghasilkan inovasi dan kreatifitas komunitas-komunitas lokal menjadi tumbuh berkembang seiring dengan adanya pemerintahan yang dipercaya. Mekanisme kontrol, akuntabilitas dan transparansi pun diharapkan hadir dengan adanya pemerintah yang memiliki visi tegas dalam memperjuangkan nasib rakyat di masa mendatang. Pemerintah sebagai pelayan publik wajib mempunyai visi terhadap lingkungan hidup sebagai bentuk sikap keberpihakan terhadap kelompok marginal dan pengupayaan pendidikan dan kesehatan berkualitas dan murah bagi rakyat.

30 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Kritisnya Rehabilitasi Lahan Kritis Dalam kondisi lahan di Jawa Barat yang kritis ini, kita masih bisa sedikit bernafas lega dengan adanya program-program pemerintah yangmenyelenggarakan rehabilitasi lahan kritis. Berdasarkan data Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat menyatakan bahwa tingkat keberhasilan dari program rehabilitasi lahan seperti Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK) dan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL di Jawa Barat dari tahun 2003 – 2006 adalah sekitar 63%. Berlawanan dengan Namun sayang, praktek dilapangan kita masih harus mengusap dada. Dari beberapa pantauan penulis, semisal program Gerakan Rehabilitasi Lahan (Gerhan) atau Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK), menurut pengakuan Eson, salah satu ketua kelompok petani Mekarsari Desa Mekarwangi-Lembang, keberhasilan program tersebut di desanya hanya 3% saja. Hal ini disebabkan bantuan yang datang selalu salah mangsa. Dimana bibit yang ditanam menghadapi musim kemarau, sehingga perlu ekstra perhatian dalam penyiramannya. Namun hal itu tidak didukung dana yang memadai dari pemerintah termasuk telatnya pencairan dana. Bahkan bibitnya yang diterima kwalitasnya sangat buruk dan secara kwantitas yang ada tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Dalam pengadaan bibit, tidak diusahakan untuk melakukan pembibitan oleh masyarakat diwilayah sasaran. Pemerintah masih melakukan pembibitan dan pengadaan bibit sendiri tanpa mengindahkan kebutuhan dan keinginan warga di wilayah sasaran program rehabilitasi. Sehingga bibit yang ditanam tidak sesuai dengan kondisi wilayahnya. Proses penanamannya pun seakan- akan tanpa pengawasan jelas dan tidak adanya proses pendampingan dahulu dalam upaya penyadaran terhadap kepedulian lingkungan.

31 Sumber: awalsholeh.blogspot.com/2009/07/go-green-indo…. Hutan termasuk sumber daya alam yang bersifat dapat diperbaharui, dan hutan merupakan tempat tersediannya organisme yang secara alami telah sesuai (adaptif) dengan lingkungannya, sehingga hutan perlu dilindungi dan dilestarikan. Kerusakan lingkungan karena campur tangan manusia antara lain pembangunan permukiman, penerapan ekstensifikasi pertanian, dan penebangan hutan. Hutan merupakan sumber daya alam yang penting bagi makhluk hidup. Bagi tumbuhan dan hewan, hutan sebagai tempat hidup. Adapun bagi manusia, hutan sebagai penyedia bahan baku, sumber plasma hutfah, dan sistem penunjang kehidupan. Pada dasarnya fungsi hutan bagi manusia dibedakan menjadi dua, yaitu fungsi langsung dan tidak langsung. 1. Fungsi Langsung Hutan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat khususnya di sekitar hutan. Contoh: a. Memberikan lapangan kerja b. Memberi hasil hutan berupa kayu, getah, dan lain-lain. 2. Fungsi Tidak Langsung 1. Fungsi hidrologis (pengatur air tanah) 2. Fungsi klimatologis 3. Mencegah erosi 4. Sumber humus 5. Stabilisator unsur CO2 dan O2 udara 6. Menjaga kerusakan ozon 7. Tempat hidup berbagai jenis hewan dan tumbuhan. 1) Cagar alam adalah kawasan yang keadaan alamnya memiliki tumbuhan, hewan, dan ekosistem khas sehingga perlu dilindungi agar tumbuh secara alami. Contoh: Nusa Kambangan, Jawa Tengah. 2) Suaka Margasatwa adalah kawasan suaka alam yang memiliki ciri khas keanekaragaman dan keunikan jenis satwa sehingga perlu dilakukan pembinaan terhadap habitatnya untuk menjaga kelangsungan hidup satwa yang ada. Contoh: Baluran dan Meru Betiri di Jawa Timur. 3) Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang memiliki ekosistem asli yang dikelola dengan sistem zonasi. Kawasan ini dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, budidaya dan pariwisata. Contoh: Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur dan Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Timur. 4) Taman Wisata adalah kawasan taman yang secara khusus dibina dan dipelihara untuk kepentingan pariwisata atau rekreasi. Contoh: Danau Towuti di Sulawesi Selatan dan Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat. Penebangan hutan tanpa perhitungan dapat mengurangi fungsi hutan sebagai penahan air. Akibatnya daya dukung hutan menjadi berkurang. Penebangan hutan akan berakibat pada kelangsungan daur hidrologi dan menyebabkan humus cepat hilang. Dengan demikian kemampuan tanah untuk menyimpan air berkurang. Air hujan yang jatuh ke permukaan tanah akan langsung mengalir, hanya sebagian kecil yang meresap ke dalam tanah. Tanah hutan yang miring akan tererosi, khususnya pada bagian yang subur, sehingga menjadi tanah yang tandus. Bila musim penghujan tiba akan menimbulkan banjir, dan pada musim kemarau mata air menjadi kering karena tidak ada air tanah. Penggundulan hutan dapat menyebabkan terjadi banjir dan erosi. Akibat lainnya adalah harimau, babi hutan, ular dan binatang buas lainnya menuju ke permukiman manusia. Berikut ini berbagai usaha untuk menghindari kerusakan ekosistem hutan. 1. Reboisasi, yaitu penanaman kembali tumbuhan di daerah hutan yang gundul. 2. Melarang penebangan kayu di hutan. Penebangan hutan hanya boleh dilakukan dengan prinsip tebang pilih, artinya pohon yang ditebang harus memenuhi ukuran tertentu dan penebangan dalam jumlah terbatas. 3. Mencegah terjadinya kebakaran hutan. 4. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya hutan. 5. Menindak tegas dengan sanksi hukuman yang berat bagi mereka yang melakukan perusakan hutan. Lingkungan Alami dan Lingkungan Tercemar Lingkungan hidup yang didambakan manusia adalah lingkungan yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas hidup, dapat menjadi habitat bagi banyak makhluk hidup, serta mempunyai nilai ekonomis dan nilai budaya. Lingkungan yang demikian dinamakan lingkungan alami, yaitu lingkungan yang disusun oleh komponen abiotik dan biotic yang seimbang dan tidak tercemar oleh polutan (zat yang menyebabkan polusi). Akibat masuknya polutan ke dalam lingkungan yang komponen-komponen penyusunnya tidak seimbang. Untuk membedakannya, coba perhatikan narasi berikut ini ! Apakah air sungai tersebut mengalami perubahan warna, berbau busuk, atau dipenuhi sampah? Jika sungai dalam keadaan demikian, maka dikatakan sungai tersebut telah tercemar. Namun jika kalian melihat air yang jernih, tidak berwarna, dan tidak berbau, maka sungai tersebut dikatakan masih alami. Di dalam sungai yang alami dapat kita jumpai hewan dan tumbuhan yang beraneka ragam, tidak demikian halnya disungai yang tercemar. Pencemaran Lingkungan 1. Berdasarkan sifat zat pencemar,pencemaran dapat dibedakan menjadi tiga macam. a. Pencemaran kimiwi, yaitu pencemaran yang disebabkan oleh zat-zat kimia. b. Pencemaran fisik, yaitu pencemaran yang disebabkan oleh zat cair, zat padat, dan gas. c. Pencemaran biologis yaitu pencemaran yang disebabkan berbagai macam mikroba penyebab penyakit. 2. Macam-Macam Pencemaran Lingkungan Berdasarkan lingkungan yang terkena pencemaran maka pencemaran dapat dibedakan menjadi tiga yaitu pencemaran air, udara, dan pencemaran tanah. Kerap kali yang sering terdengar adalah masalah pencemaran air. oleh karena itu Penulis hanya membahas tentang pencemaran air. Pencemaran Air Pencemaran air adalah peristiwa masuknya zat atau komponen lain ke dalam lingkungan perairan sehingga kualitas air menurun. Air yang tercemar adalah air yang telah menyimpan dari keadaan normalnya, dengan tanda-tanda berikut ini. 1) Perubahan suhu air Semakin tinggi suhu air maka semakin sedikit kadar O2 yang terlarut dalam air. Kegiatan industri dapat menimbulkan panas yang umumnya berasal dari gerakan mesin. Jika air hasil industri tersebut dibuang ke lingkungan maka suhu air menjadi panas. 2) Perubahan pH Air dapat bersifat asam atau basa tergantung besar kecilnya pH. Air limbah dan buangan dari industri yang dibuang ke sungai akan mengubah pH air, sehingga dapat mengganggu kehidupan organisme air. 3) Perubahan warna, bau, dan rasa air Air bersih adalah air yang tidak berwarna bening, jernih, tidak berbau, dan tidak berasa. Air yang tercemar bahan buangan industri menyebabkan perubahan warna dan bau. Selain disebabkan oleh bahan yang berasal dari buangan industri, kadang- kadang bau dapat pula berasal dari hasil degradasi bahan buangan oleh mikroba. Mikroba dalam air akan mengubah bahan buangan organic terutama protein menjadi bahan yang mudah menguap dan berbau. Sumber-sumber pencemaran air terutama berasal dari limbah industri, limbah rumah tangga, limbah pertanian, dan hasil tambang. 1) Limbah Industri Limbah industri atau pabrik mengandung berbagai macam zat berbahaya, salah satunnya logam berat seperti timbale, cadmium, dan raksa. Logam berat yang terlarut dalam air akan masuk ke dalam tubuh hewan laut dan terkumpul di dalamnya. Jika hewan laut yang telah tercemar logam berat dikonsumsi manusia, maka akan menimbulkan dampak yang sangat berbahaya. Peristiwa ini pernah terjadi di Teluk Minamata, Jepang. Para nelayan memakan ikan yang telah tercemar raksa, akibatnya sistem sarafnya mengalami kerusakan. Penyakit tersebut dinamakan penyakit minamata. Selain itu, limbah industri yang mengendap di perairan dapat menyebabkan pendangkalan perairan dan membuat air menjadi kotor serta berubah warna. Pencemaran air oleh limbah industri dapat dicegah dan ditanggulangi dengan cara berikut ini. a) Setiap pabrik harus memiliki tempat penampungan dan instalasi pengolahan limbah sehingga limbah yang dibuang tidak mengurangi kualitas perairan. b) Limbah industri yang mengandung unsur logam dapat diatasi dengan menanam tumbuhan sejenis alang-alang disekitar tempat pembuangan limbah. c) Sanksi hukum bagi perusahaan yang sengaja membuang limbah tanpa diolah dahulu. 2) Limbah pertanian Penggunaan pupuk buatan yang berlebihan pada lahan pertanian dapat menyebabkan peningkatan kesuburan ekosistem perairan. Pupuk mengakibatkan pertumbuhan tumbuhan air menjadi sangat cepat. Peristiwa ini disebut eutrofikasi. Eutrofikasi menyebabkan permukaan air ditutupi oleh ganggang. Sinar matahari terhalangi kedalam perairan. Akibatnya proses fotosintesis oleh fitoplankton terhambat sehingga kadar O2 dalam perairan menurun. Salah satu jenis insektisida yang sangat berbahaya adalah DDT. Senyawa DDT tidak dapat terurai di alam. Organisme yang berada dipuncak rantai makanan akan teracuni DDT dalam jumlah besar. Sebagai contoh, berkurangnya populasi burung Falconi formes karena kadar DDT yang tinggi sehingga menyebabkan cangkang telur menipis dan mudah pecah. Pencemaran air yang disebabkan oleh limbah pertanian dapat dicegah dengan cara berikut ini. a) Penggunaan pupuk buatan sesuai dosis yang telah ditentukan. b) Tidak melakukan pemupukan saat turun hujan. c) Menggunakan pestisida yang mudah diuraikan oleh alam. d) Menggunakan metode biological control yaitu melakukan pemberantasan hama dengan makhluk hidup pemakan hama tersebut. 3) Limbah rumah tangga Rumah tangga menghasilkan limbah, misalnya sampah dan air buangan yang mengandung detergen. Limbah rumah tangga dalam jumlah banyak bila masuk ke dalam perairan akan menyebabkan ekosistem perairan tercemar. Di perairan, sampah mengalami penguraian oleh mikroorganisme. Akibatnya kandungan oksigen dalam air akan menurun. Pencemaran air oleh limbah rumah tangga berupa sampah dan air buangan dapat dicegah dengan cara berikut ini. a. Membuat tempat pembuangan sampah. b. Memanfaatkan sampah untuk dibuat kompos. c. Membuat tempat penampungan limbah berupa air buangan. Tempat pembuangan harus jauh dari sumber air. 4) Limbah minyak Limbah minyak dapat menyebabkan pencemaran laut. Biota laut akan terpengaruh langsung oleh pencemaran minyak dan secara tidak langsung akan berpengaruh pula terhadap organismedarat. Adanya lapisan minyak dipermukaan laut menyebabkan oksigen tidak dapat berdifusi ke dalam air. Selain itu, sinar matahari tidak mampu menembus seluruh permukaan laut sehingga fitoplankton tidak dapat berfotosintesis. Pencemaran air oleh limbah minyak dapat dicegah dan ditanggulangi dengan cara berikut ini. a) Menghindari kebocoran minyak di laut. b) Sanksi yang tegas bagi pelaku pencemaran. c) Membersihkan minyak dengan cara bioiremediasi. Bioremediasi adalah penggunaan mikroorganisme untuk membersihkan pencemaran. d) Membuat penghalang mekanik bila ada tumpahan minyak di laut sehingga minyak tidak mencapai pantai, kemudian dilakukan penyedotan minyak.

32 Sumber:

33 Sumber: lifestyle.okezone.com/read/2008/07/28/19/ Meski kekeringan melanda sejumlah daerah di Tanah Air, namun hal itu tidak serta merta membuat ketahanan pangan menjadi terganggu. "Porsi lahan kering itu tidak terlalu luas, karena itu terjadi di sebagian kecil saja," jelas Deputi Menteri Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Khrisnamurti, saat ditemui di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Senin (28/07/2008). Ia pun menegaskan stok beras di gudang Bulog juga masih aman untuk menghadapi hari-hari besar keagamaan dalam beberapa bulan ke depan. Sebelumnya, pemerintah telah menjamin persediaan bahan pangan hingga Ramadan dan lebaran cukup dan harganya relatif stabil. Hal itu akan dilakukan dengan cara meminta Bulog untuk mengintensifkan pengadaan berasnya.

34 Sumber: Kesejahteraan petani di daerah marjinal (lahan kering/tadah hujan) relatif masih rendah dibanding petani lahan irigasi. Pengembangan teknologi pertanian di lahan marjinal yang merupakan konsentrasi petani miskin, lebih tertinggal dan kurang mendapat prioritas dibanding di lahan irigasi. Demikian juga dengan dukungan kelembagaan dan ketersediaan sarana/prasarana, serta akses informasi untuk petani miskin kurang mendapat perhatian. Kondisi seperti ini menempatkan mereka semakin terpuruk dalam perangkap kemiskinan. Untuk meningkatkan pendapatan dan keluar dari perangkap kemiskinan, petani harus mampu melakukan inovasi produksi dan pemasaran untuk menangkap peluang pasar.

35 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 PEMBERDAYAAN PETANI MISKIN Poor Farmers Income Improvement through Innovation Project (PFI3P) dirancang untuk menjawab permasalahan “petani miskin”. Kesejahteraan /pendapatan petani miskin ditingkatkan melalui inovasi pertanian mulai dari tahap produksi sampai pemasaran hasil. Untuk itu diperlukan peningkatan akses petani terhadap informasi pertanian, dukungan pengembangan inovasi pertanian, serta upaya pemberdayaan petani. Pendekatan partisipatif dalam perencanaan dan pelaksanaan, pengembangan kelembagaan serta perbaikan sarana/prasarana yang dibutuhkan di desa, merupakan alternatif dalam pemberdayaan petani untuk meningkatkan kemampuan inovasi. Proyek Peningkatan Pendapatan Petani Miskin melalui Inovasi ini akan membangun investasi desa di desa di lima Kabupaten tersebar yang di empat Propinsi yaitu : Blora (Jawa Tengah), Temanggung (Jawa Timur), Lombok Timur (NTB), Ende (NTT) dan Donggala (Sulawesi Tenggara). PFI3P bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani miskin melalui inovasi produksi pertanian dan pemasaran (agribisnis) dengan cara: 1) Memberdayakan petani melalui mobilisasi kelompok dan pengembangan kelembagaan serta memperbaiki sarana/prasarna tingkat desa yang dibutuhkan petani dalam mendukung pengembangan agribisnis; 2) Meningkatkan akses petani terhadap informasi pertanian; dan 3) Melakukan reorientasi penelitian di daerah marjinal (lahan kering/tadah hujan). Target yang dicanangkan adalah desa-desa miskin, dimana desa tersebut dihuni oleh >75% keluarga miskin, dengan ciri : 1) Memiliki lahan sempit (<0,1 ha); 2) Berproduktivitas rendah; 3) Hanya mengusahakan makanan pokok; 4) Pendapatan rata-rata < Rp 1 juta/kapita/tahun; dan 5) Merambah sumber daya hutan dan laut untuk mencukupi kebutuhan dasar hidupnya. Proyek ini dirancang untuk masa lima tahun dan terdiri atas empat komponen, yaitu: 1). Pemberdayaan petani; 2) Pengembangan sumber informasi nasional dan lokal; 3) Dukungan pengembangan inovasi pertanian dan diseminasinya; dan 4) Manajemen Proyek. Sesuai dengan semangat partisipatif, pembiayaan kegiatan proyek berasal dari pinjaman lunak Asian Development Bank (ADB) sebesar 79%, Pemerintah Indonesia Pusat 10,1%, Pemerintah Kabupaten 1,4%, dan dari petani sebesar 9,5% dalam bentuk jasa dan bahan lokal.

36 Workshop Pengembangan Inisiatif Lokal dan Kapasitas Institusi Lokal Kamis, 23 Juli :47 Seminar / Workshop Program Peningkatan Pendapatan Petani melalui Inovasi telah melaksanakan Workshop Pengembangan Inisiatif Lokal dan Kapasitas Institusi Lokal di Hotel Sahid Jaya Solo, pada tanggal 13–16 Juli 2009, diikuti oleh pelaksana kegiatan di daerah (BPTP dan PIU ) serta pelaksana kegiatan di pusat (PCMU, PUSDATIN, LSM, dan konsultan). Tujuan diselenggarakannya workshop Pengembangan Inisiatif Lokal adalah: Untuk melihat hasil dan kemajuan kegiatan INLOK, pengembangan KAPINLOK dan dukungan PUSTAKA dalam kegiatan desiminasi inovasi pertanian di wilayah P4MI; Untuk melihat permasalahan yang terjadi selama pelaksanaannya dilapang dan sekaligus diskusi bagaimana cara melakukan pemecahannya agar lebih dapat operasional. Workshop Pengembangan Inisiatif Lokal dan Kapasitas Lokal dibuka secara resmi oleh Penanggung Jawab P4MI atas nama Sekretaris Badan Litbang Pertanian, dengan menekankan, antara lain : Inisiatif lokal (Inlok) adalah bagian dari kegiatan untuk menggali teknologi, berdasarkan kearifan lokal, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : (i) Teknologi harus tepat guna dan sesuai dengan keadaan lokasi, (ii) adaptif, (iii) efektif, (iv) mudah diterapkan, (v) terukur dengan mudah, (v) tidak menimbulkan resiko besar, (vi) dan harus komplemen dengan teknologi lain. Inlok dilakukan dengan pendekatan partisipatif terutama sengan kelompok tani setempat. Inlok merupakan upaya untuk lebih memperhatikan lebih memperhatikan potensi dan kepentingan masyarakat karena inlok, dengan teknologi yang digali ndari masyarakat bertujuan untuk meningkatkan produksi, pengolahan dan pemasaran produk pertanian.

37 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 WORKSHOP PENGEMBANGAN INISIATIF LOKAL DAN KAPASITAS INSTITUSI LOKAL Kamis, 23 Juli :47 Seminar / Workshop INISIATIF LOKAL BPTP Jawa Tengah Jumlah kegiatan Inlok tahun 2008 sebanyak : 4 judul dan jumlah kegiatan tahun 2009 sebanyak 4 judul (2 lanjutan dan 2 judul baru). 1.Hasil Inlok 2008 cukup baik dan prospektif, terutama untuk kegiatan pemanfaatan Klobot Jagung sebagai pembungkus rokok dan Pembuatan Teh Hijau dalam bentuk kemasan. 2.Beberapa kendala untuk pengembangan klobot dan teh hijau tersebut, antara lain sebagai berikut: 3.Bahan klobot tersedia secara fluktuatif, mungkin kedepan perlu dilakukan penyimpanan klobot yang dikumpulkan pada saat panen raya, dengan membangun gudang-gudang desa. Selain itu perlu diversifikasi penggunaan klobot, misalnya untuk bungkus olahan dodol, pakan ternak dsb. 4.Produk teh hijau bisa menjadi icon di Temanggung, namun pemasarannya masih terbatas disekitar desa, perlu dicari pasar yang lebih luas. Bentuk kemasan dan mutu teh hijau masih perlu ditingkatkan, sehingga lebih higienis dan terlihat lebih menarik pembeli. BPTP Sulawesi Tengah Penjelasan tentang kesempatan untuk mengajukan proposal dimulai oleh BPTP melalui berbagai kesempatan pertemuan dengan petani, penyuluh dan fihak0fihak lain yang diperkirakan daoat mengajukan proposal. Khusus untuk peneliti dan penyuluh BPTP disarankan untuk tidak mengajukan proposal agar kesempatan dapat lebih dimanfaatkan oleh petani, penyuluh, universitas dan peminat lainnya. 1.Sebelum seleksi, BPTP juga membina inisiator proposal (petani atau penyuluh dsb). Hal ini dilakukan untuk meningkatkan proposal yang lemah dan tidak lengkap. Mungkin saja proposal yang lemah tersebut mengangkat teknologi yang baik dan perlu dikembangkan. 2.Inlok alat pemecahan buah kakao yang terbuat dari kayu cukup prospektif untuk diangkat dan dikembangkan mengingat Sulteng merupakan salah satu sentra produksi kakao di Sulawesi. Disamping alat ini lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan alat parang yang selama ini digunakan petani; bahan yang digunakan bersumber dari bahan lokal yaitu kayu yang banyak tersedia di lokasi. Alat ini dapat dioperasionalkan dengan mudah dan aman digunakan oleh kaum wanita tani. Pada saat ini fokus baru pada analisis uji kemampuan teknis alat, sedangkan analisis pengembangan alat tersebut ditingkat petani, kelompok tani, antar desa masih perlu dilakukan.

38 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Workshop Pengembangan Inisiatif Lokal dan Kapasitas Institusi Lokal Kamis, 23 Juli :47 Seminar / Workshop BPTP Nusa Tenggara Timur 1.Kegiatan Inlok (tahun 2006) penggunaan media simpan jerigen dengan pemanfaatan campuran pestisida nabati (mahoni, tembakau dan srikaya) ternyata efektif dalam menjaga mutu benih. Petani sekarang sudah terbiasa menggunakan jerigen untuk menyimpan benih. 2.Kegiatan Inlok di BPTP NTT untuk tahun 2008 tidak dapat dilaksanakan karena materi proposal tidak sesuai, dan tidak cukup waktu proses seleksi. 3.Kegiatan INLOK 2009 dewasa ini masih dalam proses seleksi terhadap 7 proposal. Dua proposal cukup prospektif, ialah: a) pembuatan konsentrat pakan babi dari limbah pertanian dan b) peningkatan mutu : KIBI ARE sebagai tingting berbahan baku beras. Diharapkan ada usulan baru yang mengkaji tentang pembuatan blok kakao. BPTP Nusa Tenggara Barat 1.Keberhasilan munculnya kegiatan sebanyak 24 topik INLOK di Lombok timur tidak lepas dari peran BPTP NTB yang aktif melakukan promosi dan sosialisasi ke masyarakat luas melalui berbagai kesempatan seperti pelatihan, seminar, pertemuan-pertemuan lain dan website sehingga Inlok betul-betul bersumber dan didukung masyarakat. 2.Dari waktu ke waktu dilakukan penyempurnaan hasil Inlok lebih lanjut sehingga mendukung usaha pertanian yang lebih terintegrasi dengan teknologi pertanian lainnya. 3.Kegiatan Inlok secara umum baru sampai pada tahapan pengujian atau demplot, dan masih perlu ditingkatkan pada analisis peningkatan pendapatan rumah tangga, jumlah adopter, replikasi alat. 4.Keberlanjutan usaha yang berbasis Inlok perlu lebih ditingkatkan lagi agar usaha tersebut dapat berkembang kearah agribisnis dan meningkatkan pendapatan masyarakat tani secara berkelanjutan. 5..

39 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Workshop Pengembangan Inisiatif Lokal dan Kapasitas Institusi Lokal Kamis, 23 Juli :47 Seminar / Workshop KAPASITAS INSTITUSI LOKAL BPTP Nusa Tenggara Timur 1.Pengembangan Kapinlok belum fokus pada penguatan kelembagaan dan masih berorientasi pada alih teknologi. Walaupun mengetengahkan alih teknologi tetapi hendaknya jangan melupakan perlunya penguatan kapasitas kelembagaannya. Hal serpa juga perlu diperhatikan oleh BPTP lainnya. 2.Selain tentang produksi, Kapinlok perlu pula memperhatikan kelembagaan modal usaha, rantai pasar, dsb. Pada umumnya petani lebih cepat dapat menguasai teknologi produksi, dibandingkan dengan memenuhi kebutuhan modal usaha dan pemasaran hasilnya. BPTP Nusa Tenggara Barat 1.Pengembangan kapinlok di NTB telah dimanfaatkan oleh masyarakat tani seperti terlihat secara nyata pada dari jumlah adopter dan produk yang bisa dipasarkan. 2.Upaya pemberdayaan kelompok tani dalam kapinlok tidak cukup hanya dengan penyediaan teknologi tepat guna, tetapi perlu dukungan modal dan pasar dengan keberpihakan kepada kepada petani. 3.Pengembangan kapinlok hendaknya fokus pada penguatan kelembagaan yang sebagai lembaga usaha pertanian yang dapat dilakukan melalui pelatihan, sekolah lapang, gelar teknologi, penyediaan media informasi dsb. 4.Penekanan kegiatan pengembangan Kapinlok adalah pada penguatan kelembagaan sebagai lembaga usaha pertanian; sedangkan kegiatannya dapat lebih diupayakan dalam bentuk transfer teknologi (diseminasi) melalui pelatihan, sekolah lapang, gelar teknologi dan media informasi. 5.Peningkatan Kapinlok sebaiknya sejalan dengaan ketersediaan modal usaha, dukungan pasar, manajemen dan inovasi teknologi tepat guna..

40 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Workshop Pengembangan Inisiatif Lokal dan Kapasitas Institusi Lokal Kamis, 23 Juli :47 Seminar / Workshop BPTP Sulawesi Tengah 1.Tingkat Adopsi kegiatan gelar teknologi PTT jagung dan pemeliharaan ternak belum maksimal bahkan hanya relative sangat sedikit yang telah membangun kandang sendiri. 2.Pengembangan teknologi yang digelar ke lahan yang lebih luas ataupun dalam skala agribisnis masih perlu dilakukan dengan sebaik-baiknya. 3.Pendampingan Agribisnis di desa P4MI yang menonjol dan berkembang adalah pengembangan Kelompok Wanita Tani seperti di desa Lumbutarombo, Toaya dan Kanuna sehingga tumbuh industri rumah tangga. 4.Kegiatan posyantek masih perlu disesuaikan dengan tujuan maupun sasaranya sebagai wahana untuk pelayanan teknologi bagi petani. BPTP Jawa Tengah 1.Selain pelatihan juga perlu dukungan kegiatan lain seperti pengupayaan penyediaan modal usaha dan sarana produksi/pengolahan. dalam rangka memantapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari sehingga dapat merintis kegiatan agribisnis sendiri. 2.Kunjungan petani, penyuluh, petugas dsb ke daerah lain bukan untuk keperluan perorangan akan tetapi untuk menguatkan kelembagaan, baik KID, gapoktan atau lembaga lain yang ada di desa tersebut. 3.Hasil ke ikut sertaan dalam pelatihan agribisnis pedesaan, dapat dfilihat pada peserta petani dari Temanggung dan Blora wawasannya tentang agribisnis meningkat. Selanjutnya para peserta menularkan pengetahuannya kepada petani/tetangga lain, dan mencoba sendiri serta meningkatkan peran kelompok. 4.Kegiatan lain, seperti magang, studi banding, sekolah lapang juga telah meningkatkan pengetahuan dan motivasi usaha dari para petani peserta, dan ditindak lanjutnya dengan meningkatkan skala usahanya dan menyebarkan teknologi ke petani lain melalui kelompok/ paguyuban petani. 5.Hasil berbagai kegiatan agribisnis di Blora dan Temanggung dapat memberikan keuntungan kepada petani/peternak, namun kendala yang ditemui adalah belum terpecahkannya pemasaran komoditi secara berkelanjutan. Diharapkan dapat Pemda memfasilitasi penyelesaiannya.

41 Sumber: Olah Lahan Kering Seorang petani mencoba mengolah lahan sawah miliknya yang mengering, di kawasan Teluk Naga, Tangerang, Banten, Rabu (29/7). Sejumlah petani di kawasan tersebut berhenti menanam padi dan mulai mencoba beralih menanam sayuran atau buah yang tahan terhadap cuaca panas dan kekeringan seiring dengan datangnya musim kemarau. (FOTO ANTARA/Ismar Patrizki)Disiarkan: Rabu, 29 Juli :49 WIB

42 Longsor Sejumlah warga melintasi badan jalan Panton Luas-Sawang yang tertimbun longsor di pengunungan Panton Luas Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Selatan, Senin (16/11). Hujan deras yang terjadi Minggu (15/11) mengakibatkan tiga titik longsor di jalan utama menuju ke pusat kecamatan. putusnya jalan tersebut mengakibatkan 220 KK warga desa Panton Luas terisolasi. (FOTO ANTARA/Irwansyah Putra)Disiarkan: Senin, 16 November :17 WIB

43 Penambang Pasir Seorang penambang tradisional mengumpulkan pasir dan kerikil di sungai Samadua, kecamatan Samadua, Aceh Selatan, Sabtu (14/11). Pasir dan kerikil yang dikumpulkan secara tradisional dengan tangan dan peralatan seadanya itu dijual Rp Rp40.000/kubik. (FOTO ANTARA/Irwansyah Putra)Disiarkan: Sabtu, 14 November :34 WIB

44 BUDIDAYA NILAM Pada gambar hasil tanam bibit nilam yang dihasilkan dari Micro Cutting. Bibit ditanam pada lahan kering cenderung kritis dimana tidak pengairan normal. Tamanan hanya mendapat suplai air 1-2 minggu sekali. Pemupukan menggunakan pupuk kandang di awal pengolahan tanah. Usia tanam adalah 2 bulan.

45 Sumber: newblueprint.wordpress.com/.../ KIAT MEMANFAATKAN SUMBERDAYA ALAM Upaya untuk bertahan (survival) bukan hanya dengan melakukan urbanisasi. Warga yang memilih tetap bertahan di desa juga memiliki serangkaian cara survival. Mereka lebih memilih mencari motode baru dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang ada walaupun dalam jumlah yang minim. Yang terpenting lagi adalah kapitalisasi modal sosial yang dimiliki warga yang mengakibatkan dampak yang cukup signifikan bagi peningkatan kondisi sosial-ekonomi mereka. Masyarakat Gunung Kidul tidak lagi lekat dengan stereotype penduduk miskin. Banyak perbaikan yang terjadi baik dalam hal ekonomi-sosial, mapun dalam pembangunan infrastruktur yang menunjang aktifitas masyarakat. Faktor reformasi politik yang bergulir sejak 1998 memang tidak bisa diabaikan. Sebab hal ini menyebabkan partisipasi warga cukup mendapat perhatian dalam proses pembangunan. Berbagai bantuan dana yang berasal dari APBN, APBD dan sumber- sumber lain menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Karena dengan inilah warga memperoleh stimulant  untuk melakukan perbaikan di wilayahnya. Penelitian tentang kemiskinan di lahan pertanian kering seperti Gunung Kidul bisi dibilang relatif baru. Buku yang khusus mengkaji tentang kemiskinan di wilayah Yogyakarta baru mengkaji tentang daerah di luar Gunung Kidul. Tepatnya di desa Sriharjo, Kabupaten Bantul. Desa Sriharjo terletak pada garis pembagi antara dataran Yogyakarta yang subur dan berpengairan baik dengan barisan bukit-bukit tandus yang menandai permulaan daerah Gunung Kidul. Dengan membandingkan tingkat kemiskinan berdasarkan kondisi wilayahnya, jelas masyarakat Gunung Kidul lebih miskin.

46 Sumber: newblueprint.wordpress.com/.../ KIAT MEMANFAATKAN SUMBERDAYA ALAM Ada juga penelitian lain tentang desa di kawasan Gunung Kidul yang dilakukan oleh Santiasih dan Endah Pertiwi. Riset ini memilih desa Karangawen yang disebut sebagai desa miskin parah di Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul. Beberapa hasil riset ini bisa digeneralisasikan kepada wilayah lain di Gunung Kidul diantaranya mengenai penyebab kemiskinan. Untuk memperkaya studi mengenai kemiskinan di lahan pertanian kering, maka riset yang kami lakukan saat ini mengambil objek Kecamatan Tepus. Kecamatan dahulunya menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kemiskinan yang cukup parah. Dan dari banyak faktor pendukung perubahan tersebut, penulis berasumsi bahwa daya survivalitas warga di desa menjadi faktor terpenting. Faktor inilah yang menjadi determinasi dari berbagai upaya perbaikan yang dilakukan oleh pihak luar. Tulisan ini hendak mencari jawaban tetntang pertanyaan upaya apa saja yang dilakukan masyarakat Tepus agar survive dan melakukan perbaikan ?

47 Sumber: sambiroto.indonetwork.co.id/.../bibit-nilam.htm Hasil Tanam Bibit Nilam Micro Cutting Usia 2 Minggu Pada gambar hasil tanam bibit nilam yang dihasilkan dari Micro Cutting. Bibit ditanam pada lahan kering cenderung kritis dimana tidak pengairan normal. Tamanan hanya mendapat suplai air 1-2 minggu sekali. Pemupukan menggunakan pupuk kandang di awal pengolahan tanah. Usia tanam adalah 2 minggu.

48 Sumber: harimurtiana wordpress.com/.../ KANDANG DAN LINGKUNGAN ITIK Manajemen lahan / tempat : Ketersediaan lahan mutlak dibutuhkan, untuk kapaitas 500ekor per minggu estafet bisa dengan lahan seluas 1.000m2, idealnya lahan berbentuk persegi panjang. Status lahan baik milik sendiri atau sewa tetap menjadi perhitungan nilai ekonomis usaha. Lahan yang baik adalah lahan kering (tegalan, pekarangan), kontur/kemiringan lahan antara 2%-5%, tata drainase dengan saluran air bersih, saluran air buangan dan sumur resapan. Pada tata lahan (zoning) yang luasnya agak terbatas, sebaiknya di setting layout nya se-efektif mungkin, akan lebih baik jika dikonsultasikan lebih dulu. Pepohonan tahunan dapat dipertahankan sebagai peneduh dan terjaga kelestarian lingkungan setempat, jarak lokasi lahan dengan hunian penduduk idealnya berjarak kurang lebih 200m, tetapi jika dimungkinkan berjarak 50m bisa saja dengan perawatan kebersihan kandang yang lebih intensif.

49 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Untuk perijinan usaha dapat mengacu pada UU peternakan dan perunggasan dari dinas kementerian RI, kewajiban perijinan jika skala usaha ber-kapasitas produksi >15.000/ekor, sedangkan usaha saya ini termasuk usaha kecil masyarakat mandiri, jumlah produksi kontinyu berkisar ekor /minggu, total produksi ber-kapasitas ekor, menurut hemat saya cukup dengan perijinan kepada tetangga terdekat atau setingkat perangkat desa setempat. Manajemen kandang : Kandang yang dibuat sederhana saja dan memiliki nilai ekonomis, bisa dipilih sistem kandang ren atau kandang litter. Bahan yang digunakan untuk pembuatan kandang dengan material sederhana saja, yang cukup mudah didapatkan, juga relatif murah harganya dan bersifat semi permanen. Seperti bambu, kayu kaso, asbes gelombang, genteng, terpal plastik, bilik bambu, kawat jaring, kawat ayakan pasir, dll. Dengan bahan-bahan tersebut, pelaksanaan pembuatannya pun sangat mudah, cepat dan banyak pekerja yang bisa melaksanakannya. Dari segi ketahanan pada daerah beriklim tropis, konstruksi kandang semi permanen tersebut bisa cukup bertahan masa 2-3 tahun dengan perawatan yang cukup ringan dan murah. Zona Produksi : Masa permulaan (fase starter) umur 1-14 hari, kandang dibuat cukup tertutup dengan ventilasi tetap diberikan, ukuran 2m x 4m =8m2 untuk kapasitas ekor. Masa pertumbuhan (fase grower) umur hari, kandang dibuat semi terbuka ukuran 4m x 10m =40m2 setiap kelompok generasi ber- kapasitas ekor Masa penggemukan (fase faster) umur hari, kandang dibuat semi terbuka ukuran 4m x 10m =40m2 setiap kelompok generasi ber- kapasitas ekor

50 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Zona Pakan : Tempat untuk penyimpanan stok pakan, dibuat semi permanen dan cukup tertutup dengan ventilasi tetap diberikan, ukuran minimal 3m x 6m = 18m2 untuk kapasitas maksimal sistem penyimpanan disusun vertikal maks.5 tumpukan. Zona Peralatan : Tempat untuk penyimpanan peralatan, dibuat semi permanen dan cukup tertutup dengan ventilasi tetap diberikan, ukuran minimal 3m x 3m = 9m2 Zona Isolasi : Kandang untuk meng-karantina bebek yang sakit, cacat dll., kandang dibuat terpisah, konstruksi semi terbuka dengan ukuran minimal 2m x 2m =4m2 ber-kapasitas 50ekor ukuran sedang / 20 ekor ukuran besar. Zona Riset : Kandang percobaan (trial) untuk menemukan formula produksi terbaru, ter-efisien, ter-efektif dan tetap mengutamakan kualitas mutu. Kandang dibuat sederhana konstruksi semi permanen dan cukup terbuka dengan penutup atap, ukuran minimal 2m x 2m =4m2 untuk kapasitas 10ekor. Zona Informasi : Tempat untuk menerima relasi, untuk istirahat pekerja, dan bisa juga untuk berbagi informasi (sharing), dibuat semi permanen dan cukup terbuka dengan bentuk seperti saung atau gazebo, ukuran minimal 3m x 3m = 9m2.

51 Sumber: sentra-telur-asin-di-desa-kebonsari-kec-candi.html ……. Diunduh 3/4/2012 KANDANG DAN LINGKUNGAN ITIK: Zona Pupuk Tempat untuk penampungan kotoran bebek hingga menjadi pupuk kandang, dibuat semi permanen dan cukup terbuka dengan penutup bagian atas tetap diberikan, ukuran minimal 3m x 6m = 18m2 untuk kapasitas maksimal 36m3 Perawatan dan pemeliharaan kandang, dilakukan secara manual oleh para pekerja, terjadwal pada setiap kandangnya. Akibat dari terjadinya pengendapan sisa-sisa pakan yang bercampur dengan kotoran bebek, membuat permukaan tanah cukup becek dan umumnya menimbulkan bau tidak sedap. Kandang diupayakan bersih dan kering pada seluruh permukaan tanah setiap harinya, itu akan menghasilkan pertumbuhan bebek yang berkualitas, bahkan bulunya tumbuh dengan baik juga. Lebih utamanya lagi, kesehatan para pekerja pemeliharanya lebih optimal, kenyamanan lingkungan.pun akan terjaga dengan baik. Hasil limbah kotoran dan sisa-sisa pakan yang telah bercampur dengan lapisan permukaan tanah, setelah dibersihkan segera dikumpulkan ke area/zona pupuk. Dalam periode dan jumlah tertentu, volume timbunan limbah kotoran tersebut di distribusikan ke lahan pertanian penduduk sekitar sebagai bahan pupuk kandang yang baik dan cukup bermanfaat positif ke produktifitas lahan pertanian masyarakat sekitar.

52 Sumber: kelembagaandas.wordpress.com/.../ Pemasukan dan pengeluaran rumah tangga petani miskin desa lahan kering di Lombok Timur

53 KELEMBAGAAN KETAHANAN PANGAN DI LAHAN KERING (Kasus Ketahanan pangan Desa-Desa Lahan Kering di Kabupaten Lombok Timur) I M. Wisnu W., Yohanes G. Bulu, dan Ketut Puspadi (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat). Tujuan utama petani berusahatani adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga. Ketahanan pangan rumah tangga petani dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor agroekosistem dan iklim, perubahan orientasi dan manajemen usahatani. Penyediaan pangan melalui lumbung oleh masyarakat NTB khususnya di pulau Lombok tidak lagi difungsikan akibatnya ketahanan pangan keluarga menjadi lemah. Lembaga lain yang berfungsi mendukung ketahanan pangan di lahan kering belum ada. Perubahan perilaku masyarakat petani disebabkan oleh semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan pangan masyarakat. Hal tersebut mendorong petani melakukan perubahan orientasi dan tujuan pada pengelolaan usahatani yang berorientasi komersial tanpa melalui perencanaan yang baik terhadap stabilitas dan keberlanjutan ketahanan pangan rumah tangga. Dalam posisi sulit petani cenderung mengatasi kekurangan pangan rumah tangga melalui sistem ijon. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2005 di beberapa desa lahan kering di dua wilayah agroekosistem yaitu wilayah lahan kering dataran rendah dan lahan kering dataran tinggi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dan kuantitatif melalui pemahaman dinamika petani lahan kering. Pengumpulan data dilakukan melalui pendekatan focus group discussion (FGD). Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan pangan rumah tangga petani di wilayah lahan kering baik di wilayah lahan kering dataran rendah maupun dataran tinggi relatif lemah. Lembaga ketahanan pangan pedesaan lahan kering yang mendukung ketahanan pangan rumah tangga petani belum ada menyebabkan sistem ijon pada kantong-kantong kemiskinan wilayah lahan kering. Untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat tani di wilayah lahan kering maka perlu menumbuhkan kelembagaan ketahanan pangan untuk mengatasi kekurangan pangan pada musim-musim tertentu serta strategi perencanaan usahatani di lahan kering.

54 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Perilaku Ketahanan Pangan Beberapa desa lahan kering di wilayah Lombok Timur bagian selatan mempunyai pola ketahanan pangan rumah tangga lebih baik dibandingkan dengan masyarakat desa yang terletak di bagian utara kabupaten. Perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan agroekosistem antara kedua wilayah tersebut. Lombok Timur bagian selatan didominasi oleh agroekosistem sawah tadah hujan sedangkan bagian utara agroekosistemnya berupa lahan kering dataran tinggi. Perbedaan tersebut membawa konsekwensi pada jenis komoditas yang diusahakan. Komoditas yang diusahakan pada sawah tadah hujan yang terletak di bagian selatan kabupaten pada umumnya padi dan tembakau dengan pola tanam padi-tembakau- bera, sedangkan dibagian utara komoditas dominan yang diusahakan yaitu dari sektor tanaman pangan antara lain bawang merah, kentang, kubis, tomat, dan cabe sedangkan dari sub sektor tanaman perkebunan terdiri dari: jambu mete, vanili, coklat, kopi dan cengkeh. Masih diusahakannya padi di sawah tadah hujan dengan dukungan air embung yang berasal dari hujan di bagian selatan kabupaten merupakan salah satu faktor yang menyebabkan ketahanan pangan diwilayah ini lebih baik dibandingkan dengan ketahanan pangan wilayah bagian utara kabupaten. Introduksi tanaman tembakau yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjanjikan keuntungan yang tinggi pula berkembang pesat di wilayah bagian selatan sehingga menghilangkan kesempatan petani menanam padi pada MK I maupun pada MK II, akibatnya stock pangan petani menjadi berkurang. Hasil padi yang ditanam pada musim hujan hanya sebagian kecil disimpan petani untuk cadangan pangannya dan sebagian besar hasil produksi dijual guna mendapatkan modal untuk persiapan penanaman tembakau.

55 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Kegagalan dalam berusahatani karena kelebihan maupun kekurangan curah hujan sudah menjadi hal yang lumrah di kedua bagian kabupaten ini. Hujan yang turun lebih awal dari biasanya dibagian selatan kabupaten terutama pada saat menjelang panen tembakau akan merusak kualitas daun tembakau oven, akibatnya, harga yang diterima rendah sehingga petani mengalami kerugian dalam jumlah yang cukup besar. Demikian pula halnya dengan tanaman yang diusahakan dibagian utara kabupaten, yaitu: bawang merah, tomat, cabe, kentang dan kol sangat riskan pada resiko kegagalan yang disebabkan oleh kelebihan maupun kekurangan hujan karena ketergantungan pada curah hujan sehingga mengakibatkan kerugian pada petani dalam jumlah cukup besar. Kerugian yang dialami petani biasanya cukup besar karena biaya yang dipergunakan dalam proses produksi cukup besar. Kondisi menjadi lebih memprihatinkan karena sebagian biaya produksi tersebut diperoleh melalui modal pinjaman baik dari pengelola untuk petani yang mengusahakan tembakau dibagian selatan kebupaten maupun dari pinjaman tetangga untuk petani sayuran dibagian selatan kabupaten. Dalam kondisi terbelit hutang maka berbagai upaya dilakukan petani untuk menjaga ketahanan pangan rumah tangganya.

56 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 PENGELUARAN RUMAHTANGGA MISKIN Pengeluaran untuk pangan meliputi beras, lauk pauk, makanan kecil, minyak goreng, gula, kopi, teh dan lain-lain, sedangkan pengeluaran non pangan meliputi penerangan, sabun, odol, alat rumah tangga, pakaian, transportasi, pendidikan, rokok/tembakau, perbaikan rumah dan pajak bumi dan bangunan. Pengeluaran rumah tangga untuk pangan mencapai lebih dari 50%, menunjukkan bahwa tingkat ketahanan pangan rumah tangga petani di wilayah lahan kering relatif rendah. Hasil kajian Sri Hastuti et al (2005) tentang pola pendapatan dan pengeluaran terhadap ketahanan pangan rumah tangga di desa Sambelia yang merupakan desa lahan kering dataran rendah menjelaskan bahwa pengeluaran petani miskin untuk pangan mencapai 54,27 % artinya ketahanan pangan rumah tangga relatif rendah. Karakteristik Rumah Tangga Miskin Karakteristik rumah tangga miskin dicirikan oleh faktor-faktor (1) pendidikan rendah, (2) masih makan 3 kali sehari, (3) teman merupakan tempat yang paling sering berkomunikasi, (4) keluarga merupakan tempat yang paling sering diminta bantuan ekonomi, (5) tingkat mobilitas masyarakat rendah, (6) kemiskinan merupakan warisan keluarga. Kebutuhan fasiltas publik yang dirasakan tidak terpenuhi secara berurutan terjadi di desa pesisir, upland, kota, dan desa biasa. Kebutuhan terhadap modal awal yang dirasakan tidak terpenuhi secara berurutan terjadi di wilayah desa upland, desa kota, desa pesisir, dan desa biasa. Beberapa faktor penyebab kemiskinan secara berurutan adalah (1) kurang usaha/kurang kreatif, (2) berasal dari golongan miskin, (3) rendah pendidikan/ketrampilan, (4) keterbatasan modal/lahan, (5) lainnya (cacat, sakit, dan tua). (sumber: identifikasi-karakteristik-dan-kebutuhan-rumah-tangga-miskin-berdasarkan- topologi-wilayah-di-provinsi-aceh

57 Sumber: kelembagaandas.wordpress.com/.../yohanes-g-bulu/ USAHA TERNAK KAMBING Untuk meningkatkan pendapatan rumahtangga miskin

58 MODEL KELEMBAGAAN PENGEMBANGAN TERNAK KAMBING PADA LAHAN KERING DI KABUPATEN LOMBOK TIMUR Yohanes G. Bulu, Sasongko WR dan Ketut Puspadi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan ternak kambing pada pertanian lahan kering, serta mempunyai peluang yang besar terhadap tumbuh kembangnya kegiatan usaha agribisnis di pedesaan. Lahan kering menyimpan berbagai potensi yang cukup besar apabila dikelola dengan baik. Populasi kambing di NTB pada tahun 2003 mencapai ekor, sedangkan di Kabupaten Lombok Timur tercatat ekor. Namun demikian selama tujuh tahun terakhir ini (1997 – 2003) populasi kambing di NTB mengalami penurunan sebesar 21,4%, sedangkan di Kabupaten Lombok Timur mengalami penurunan cukup tinggi yaitu sebesar 87,5%. Sebagian besar petani pada wilayah pertanian lahan kering adalah berpenghasilan rendah dan berpendidikan rendah, sehingga banyak permasalahan-permasalahan yang tidak dapat dipecahkan secara individu; yang hanya dapat dipecahkan melalui lembaga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model kelembagaan pengembangan ternak kambing di lahan kering adalah “kelembagaan produksi ternak kambing” yang meliputi kelembagaan pembibitan dan penggemukan yang disesuaikan dengan kondisi sumberdaya lokal (sosial ekonomi, sosial kelembagaan dan budaya), agroekosistem dan ketersediaan bahan lokal. Kegiatan penggemukan kambing tidak dapat dipisahkan dengan kelembagaan pembibitan sehingga merupakan satu kesatuan dalam kegiatan produksi ternak kambing. Kelembagaan produksi ternak kambing harus didukung oleh ketersediaan teknologi dari sumber teknologi, dukungan pemberdayaan kelembagaan dari Dinas dan PPL setempat.

59 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Model Kelembagaan Pengembangan Ternak Kambing Pemberdayaan petani melalui kegiatan sistem usahatani ternak kambing di lahan kering yang meliputi pemberdayaan teknologi, kelembagaan, dukungan permodalan melalui perguliran ternak kambing, pemanfaatan sumberdaya lokal (bahan hijauan pakan, bahan kandang, dan ternak kambing jenis lokal) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan produktivitas (60,87%) dan peningkatan populasi kambing (75,9%). Penerapan teknologi, pemanfaatan sumberdaya lokal dan pemberdayaan kelembagaan serta pemberdayaan permodalan melalui sistem perguliran dalam usaha pemeliharaan kambing mempunyai hubungan dengan peningkatan reproduksi ternak yang berdampak pada peningkatan produksi dan pertambahan populasi. Model kelembagaan pengembangan ternak kambing di lahan kering yang dibangun dalam pengkajian sistem usahatani adalah membangun kerjasama antara lembaga produksi dengan lembaga-lembaga lain. Pengembangan usaha ternak kambing pada lahan kering tetap mengacu pada pemanfaatan sumberdaya alam atau sumberdaya lokal, sumberdaya sosial (SDM, ekonomi, Sosial budaya) dan sistem permodalan yang relatif bertahan sesuai kondisi masyarakat setempat. Penguatan kelembagaan dan permodalan petani melalui sistem bagi hasil dan pengelolaan permodalan dari usahatani pangan akan meningkatkan sumberdaya ekonomi dan sosial masyarakat petani. Informasi teknologi dan sosial ekonomi merupakan informasi penting yang sangat dibutuhkan petani dalam pengembangan usaha peternakan. Peranan BPTP sebagai sumber teknologi atau penghasil teknologi dan pemerintah daerah yang dalam hal ini Dinas Peternakan melalui PPL sebagai pengguna teknologi dan sekaligus sebagai perantara penyebaran teknologi ke tingkat petani diharapkan mampu menciptakan kerjasama dan koordinasi dalam meningkatkan daya saing usaha peternakan pada sentra-sentra produksi. Penyebaran informasi teknolog hasil penelitian perlu menjadi prioritas dalam mendukung peningkatan produksi kambing pada sentra-sentra produksi. Alternatif model kelembagaan pengembangan kambing tersebut dapat menjadi informasi dasar bagi pihak terkait dalam merancang program pengembangan peternakan, bisa dilakukan secara integrasi antara ternak kambing dengan tanaman jagung dalam suatu konsep agribisnis. Keberlanjutan usaha agribisnis ternak kambing sangat tergantung pada ketahanan dan keberlanjutan sub sistem produksi, sub sistem teknologi dan sub sistem kelembagaan. Akan tetapi juga sangat ditentukan oleh pola usaha (pembibitan/penggemukan) yang dilakukan serta dukungan kelembagaan pemasaran, teknologi dan kebijakan. Model pengembangan usaha ternak kambing yang berorientasi agribisnis harus mempertimbangkan sistem dan jaringan pemasaran serta kemampuan daya serap pasar per kawasan. Skala usaha pemeliharaan ternak kambing bagi peternak merupakan bagian terpenting yang perlu diperhatikan untuk mendukung keberlanjutan usaha agribisnis ternak kambing di lahan kering.

60 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 DAMPAK PEMBERDAYAAN KELEMBAGAAN TANI Besadasarkan hasil kajian menunjukkan bahwa pembedayaan petani kooperator melalui sistem usahatani ternak kambing terjadi perubahan perilaku petani dalam pemeliharaan ternak kambing. Hal ini menunjukkan perubahan pola pemeliharaan kambing dari ekstensif menjadi semi intensif yaitu pola dikandangkan (70,8%), campuran yaitu antara ikat pindah, dikandangkan dan digembalakan (25%) dan digembalakan menurun menjadi (4,2%). Peluang peningkatan produksi ternak kambing dapat dilakukan dengan pemberdayaan kelembagaan tani dan lembaga pendudukung dalam sistem agribisnis ternak kambing di lahan kering sehingga memungkingkan usaha ternak kambing sebagai sumber pendapatan utama rumah tangga petani. Strategi untuk meningkatkan pendapatan petani kecil adalah dengan memadukan antara kegiatan usahatani tanaman, usaha ternak kambing, kegiatan luar usahatani serta luar pertanian ke dalam suatu sistem sehingga terbemtuk aliran permodalan antara sub sistem guna menjamin produktivitas sistem, ketahanan dan keberlanjutan sistem usahatani ternak kambing di lahan kering. Reaksi dan motivasi petani untuk menerima teknologi anjuran serta untuk mencoba beberapa komponen teknologi relatif baik. Sebagian besar petani memilih pola usaha pembibitan kambing relatif bervariasi atantara lain karena cepat menghasilkan sehingga dapat meningkat populasi kambing yang dipelihara, mudah dipelihara dan cepat di jual. Orientasi petani pada usaha pembibitan adalah untuk mendapatkan anak kambing yang setiap saat dapat dijual guna memenuhi kebutuhan keluarga maupun untuk modal usaha pangan.

61 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Sumber Modal dan Alokasi Penggunaan Pendapatan Masalah keterbatasan modal merupakan salah satu masalah utama yag dihadapi petani marginal. Kelembagaan keuangan formal yang bersedia memberikan skim kredit kepada petani sebenarnya cukup banyak akan tetapi tidak ada yang dapat dengan mudah diakses oleh petani. Dukungan permodalan petani untuk usaha ternak kambing baik dari usahatani tanaman pangan, tanaman tahunan, luar usahatani dan luar pertanian relatif lemah. Hal ini mereka (petani miskin) masih mengutamakan ketahanan pangan rumah tangga. Secara umum permodalan petani lahan kering untuk membiayai usahataninya relatif sangat terbatas. Sebagian besar sumber permodalan petani lahan kering relatif bervariasi. Sumber permodalan untuk usaha ternak kambing sebagian besar berasal dari modal sendiri (45,5%). Sumber pemodalan sendiri untuk usaha ternak kambing dominan berasal dari usahatani pangan, hortikultura dan perkebunan. Petani yang tidak memiliki modal lebih adalah dengan meminjam kepada orang tua, famili, dan tetangga berkisar 36% – 41%. Hasil penjulan kambing yang digunakan untuk usaha pemeliharaa kambing baru mencazpai 5,6%. Sebagian besar (48,4%) hasil penjulan atau pendapatan dari usaha kambing digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga/sehari-hari (kebutuhan pangan keluarga); sisanya digunakan untuk memnuhi kebutuhan lain seperti biaya pendidikan, pajak, zakat, dan transportasi. Pendapatan dari usahatani tanaman pangan yang digunakan untuk usaha pangan (10,5%), usaha ternak (5,3%), untuk memnuhi kebutuhan rumah tangga (78,9%) dan untuk pemenuhan kebutuhan lainnya (5,3%). Pendapatan petani lahan kering dari usaha ternak dan usahatani pangan lebih banyak dimanfaatkan untuk memnuhi kebutuhan pangan keluaga. Petani belum melakukan investasi untuk usaha ternak kambing sebagai sumber pendapatan utama rumah tangga. Sebagian besar petani masih cenderung memilih usahatani tanaman pangan sebagai sumber pendapatan utama rumah tangga. Berdasarkan kondisi ini maka pengembangan peternakan ke depan harus dilakukan secara integarasi dengan usahatani tanaman (tanaman jagung).

62 Aliran permodalan dalam usaha tanaman pangan dan usaha ternak, 2004.

63 USAHA TERNAK KAMBING Kambing merupakan komoditas yang cukup populer di kalangan masyarakat petani yang sebagian merupakan salah satu komponen sistem usahatani di lahan kering. Tingkat produktivitas ternak kambing dan usahatani lahan kering di NTB tergolong rendah yang disebabkan oleh berbagai aspek, baik aspek kondisi fisik lingkungan alam, penggunaan teknologi yang masih rendah, ekonomi, kelembagaan dan sosial budaya. Rendahnya kepemilikan dan produktivitas ternak kambing kemungkinan besar disebabkan oleh keterbatasan modal peternak dan kemampuan untuk menyediakan sarana produksi. Akibatnya investasi dalam bentuk waktu, tenaga kerja dan modal yang dialokasikan untuk pemeliharaan kambing sangat kecil dibandingkan dengan investasi pada usahatani tanaman pangan.

64 Sumber: PERTANIAN LAHAN KERING Nusa Penida terkenal dengan kekayaana alam yang berada di iklim agrarian, dengan basic petani yang berkerja keras dalam mencari nafkah hidup menjadikan Nusa Penida daerah petati terbesar nomor 2 selain Tabanan, petani lahan kering yang dominant dilakoni karena jarangnya dan kecilnya curah hujan, sedangkan masyarakat yang berada di pesisir pandai lebih menekuni tani rumput laut yang sebagaimana perkembanganya lebih pesat ketimbang tani-tani yang lai, mengapa tidak???karena bahan bahan yang diolah untuk membuat kosmetik, makanan yang diolah oleh masyarakat di luarsana di pasok dari petani Nusa Penida, sungguh bangga dengan prestasi petani Nusa Penida. Asal mau berkerja keras dan terus berusaha, pekerjaan apapun yang kita lakoni niscaya akan menghasilakn hasil yang memuaskan bahkan sangat memuaskan, jadi jangan berkecil hati jika siapapun memiliki perkerjaan tidak boleh menyesalinya, tetap bersyukur dan bersyukur, apapun itu keputusan mutlak di tangan yang kuasa, kita sebagai media hanya bias menggerakan saja tetapi yang menentukan itu bagus atau tidak adalah Yang Maha Kuasa.

65 Sumber: bio06hunter-kehati.blogspot.com/2009/02/keles... Teras kebun Teras kebun adalah jenis teras untuk tanaman tahunan, khususnya tanaman pekebunan dan buah-buahan. Teras dibuat dengan interval yang bervariasi menurut jarak tanam. Pembuatan teras bertujuan untuk: (1) meningkatkan efisiensi penerapan teknik konservasi tanah, dan (2) memfasilitasi pengelolaan lahan (land management facility), di antaranya untuk fasilitas jalan kebun, dan penghematan tenaga kerja dalam pemeliharaan kebun. Teras kebun dibuat pada lahan-lahan dengan kemiringan lereng antara 30 – 50 % yang direncanakan untuk areal penanaman jenis tanaman perkebunan. Pembuatan teras hanya dilakukan pada jalur tanaman sehingga pada areal tersebut terdapat lahan yang tidak diteras dan biasanya ditutup oleh vegetasi penutup tanah. Ukuran lebar jalur teras dan jarak antar jalur teras disesuaikan dengan jenis komoditas. Dalam pembuatan teras kebun, lahan yang terletak di antara dua teras yang berdampingan dibiarkan tidak diolah. Teras kebun merupakan bangunan konservasi tanah berupa teras yang dibuat hanya pada bagian lahan yang akan ditanami tanaman tertentu, dibuat sejajar kontur dan membiarkan bagian lainnya tetap seperti keadaan semula, biasanya ditanami tanaman penutup tanah. Teras ini dibuat pada lahan dengan kemiringan 10 – 30 %, tetapi dapat dilakukan sampai kemiringan 50 % jika tanah cukup stabil / tidak mudah longsor. Pelaksanaan pembuatan bangunan teras kebun adalah: (a) membuat batas galian dengan menghubungkan patok-patok pembantu melalui pencangkulan tanah, (b) menggali tanah di bagian bawah batas galian dan timbunkan ke bagian bawah sampai patok batas timbunan, (c) tanah urugan dipadatkan dan permukaan tanah dibuat miring ke arah dalam sekitar 1%, (d) di bawah talud dibuat selokan teras atau saluran buntu dengan panjang 2 m, lebar 20 cm dan dalam 10 cm. Sumber:

66 Rorak Rorak dengan teras gulud. Rorak merupakan lubang penampungan atau peresapan air, dibuat di bidang olah atau saluran resapan. Pembuatan rorak bertujuan untuk memperbesar peresapan air ke dalam tanah dan menampung tanah yang tererosi. Pada lahan kering beriklim kering, rorak berfungsi sebagai tempat pemanen air hujan dan aliran permukaan. Dimensi rorak yang disarankan sangat bervariasi, misalnya kedalaman 60 cm, lebar 50 cm, dan panjang berkisar antara? cm. Panjang rorak dibuat sejajar kontur atau memotong lereng. Jarak ke samping antara satu rorak dengan rorak lainnya berkisar cm, sedangkan jarak horizontal 20 m pada lereng yang landai dan agak miring sampai 10 m pada lereng yang lebih curam. Dimensi rorak yang akan dipilih disesuaikan dengan kapasitas air atau sedimen dan bahan- bahan terangkut lainnya yang akan ditampung. Sesudah periode waktu tertentu, rorak akan terisi oleh tanah atau serasah tanaman. Agar rorak dapat berfungsi secara terus-menerus, bahan-bahan yang masuk ke rorak perlu diangkat ke luar atau dibuat rorak yang baru. Teras guludan adalah suatu teras yang membentuk guludan yang dibuat melintang lereng dan biasanya dibuat pada lahan dengan kemiringan lereng 10 – 15 %. Sepanjang guludan sebelah dalam terbentuk saluran air yang landai sehingga dapat menampung sedimen hasil erosi. Saluran tersebut juga berfungsi untuk mengalirkan aliran permukaan dari bidang olah menuju saluran pembuang air. Kemiringan dasar saluran 0,1%. Teras guludan hanya dibuat pada tanah yang bertekstur lepas dan permeabilitas tinggi. Jarak antar teras guludan 10 meter tapi pada tahap berikutnya di antara guludan dibuat guludan lain sebanyak 3 – 5 jalur dengan ukuran lebih kecil. Teras guludan merupakan bangunan konservasi tanah berupa guludan tanah dan selokan / saluran air yang dibuat sejajar kontur, dimana bidang olah tidak diubah dari kelerengan permukaan asli. Di antara dua guludan besar dibuat satu atau beberapa guludan kecil. Teras ini dilengkapi dengan SPA sebagai pengumpul limpasan dan drainase teras. (Sumber: knologi-pengendalian-banjir/teras-2/

67 Sumber: SAWAH KEKERINGAN Ribuan hektar lahan persawahan yang berada di kawasan Pantai Utara (Pantura) Kabupaten Tangerang, Banten, mengalami kekeringan akibat musim kemarau sehingga tanaman padi yang sudah berbuah dikhawatirkan terancam gagal panen karena kekurangan air.

68 Sumber: jurnalis-ntt.blogspot.com/2008_06_01_archive.html TEBAS BAKAR, BUMI TIMOR KIAN MERANA : KEMBALI HIJAUKAN LAHAN KRITIS BUKIT Haumeni di Desa Haumeni, Kecamatan Miomafo Timur di pedalaman Pulau Timor, suatu hari di bulan Oktober Matahari telah meninggi, asap membubung tinggi. Bunyi ledakan terdengar bertubi-tubi pertanda api telah menjalari kawasan hutan bambu. Hamparan padang rumput dan perbukitan yang ditumbuhi pohon kemiri, ampupu dan semak belukar juga tidak luput dari amukan api yang disulut para petani. Enam pria bertelanjang dada mengumpulkan batang-batang bambu dan kayu yang terbakar menggunakan galah bambu yang diberi besi pada ujungnya. Wajah mereka tampak menghitam akibat sengatan sinar matahari dan panas api. Pemandangan orang membakar lahan untuk membuka kebun bisa disaksikan tiap tahun di Timor pada awal hingga pertengahan bulan Oktober, hari-hari akhir musim kemarau. Bulan November biasanya hujan mulai membasahi bumi Timor yang kering kerontang sejak April hingga Oktober. Orang Timor membakar lahan di bulan Oktober untuk menyambut datangnya hujan menghidupi tanaman pertanian. Tapi tibanya musim hujan tidak selalu menggembirakan. Kerap hujan hanya turun beberapa hari kemudian lebih sering matahari menyengat. Tanaman padi, jagung dan turis ( Cajanus cajan) yang baru tumbuh pun merana, layu dan akhirnya mati. Iklim Timor memang kering, musim hujan pendek dengan intensitas curah hujan rendah. ( Curah hujan di Timor mm per tahun, sangat rendah dibanding curah hujan di Jawa, misalnya, yang rata-rata mm per tahun.}

69 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Sumber: jurnalis-ntt.blogspot.com/2008_06_01_archive.html TEBAS BAKAR, BUMI TIMOR KIAN MERANA : KEMBALI HIJAUKAN LAHAN KRITIS Tebas & Bakar Dari generasi ke generasi, orang-orang Timor menebas dan membakar hutan atau semak belukar untuk berkebun dan juga membakar padang untuk menumbuhkan pucuk rumput bagi ternak. Mereka yakin, lahan harus dibakar agar menjadi subur untuk ditanami jagung, turis, kacang panjang, ubikayu dan juga padi ladang. Di musim kemarau, padang rumput yang kuning mengering juga harus dibakar agar setelah dibasahi embun malam beberapa hari muncul pucuk hijau yang akan menjadi makanan sapi, kambing dan kuda. "Kami harus bekerja seperti ini untuk bisa bertahan hidup. Tebas dan bakar kami lakukan tiap tahun. Sebagai petani di Timor kami sengsara, tapi lebih baik sengsara daripada mati kelaparan," ujar Yosef Kefi, seorang pria ubanan. Masyarakat menyadari bahwa dampak membakar lahan dan hutan terhadap lingkungan hidup sangat serius. Hal yang ada dalam benak mereka adalah hasil jangka pendek, bagaimana kebun harus segera ditanami, tanaman bertahan hidup menghasilkan panen sebelum musim kemarau datang. Para petani-petani di daerah Timor ini masih terus main tebas dan bakar setiap penghujung musim kemarau, dengan tujuan untuk membudidayakan tanaman pangan..

70 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Sumber: jurnalis-ntt.blogspot.com/2008_06_01_archive.html TEBAS BAKAR, BUMI TIMOR KIAN MERANA : KEMBALI HIJAUKAN LAHAN KRITIS Sumur Mengering Tidak jauh dari lokasi tebas bakar milik Yosef dan beberapa warga lainnya, terdapat sebuah sumur tua yang airnya hanya setinggi sekitar 10 cm. Air sumur itu menjadi rebutan warga desa itu yang berjumlah 320 KK. Tidak heran, sering kali mereka terlibat adu mulut bahkan tak jarang terjadi perkelahian karena ada yang menyerobot giliran. Di siang hari lokasi itu ramai seperti pasar. Di malam hari warga terus berdatangan membawa obor, pelita bahkan lampu gas. Sumur itu selalu ramai siang maupun malam. Kendati tempat itu oleh sebagian warga dinilai angker, tetapi daripada mati kehausan, warga akhirnya melawan rasa takut dan menanti giliran timba sejak malam hingga pagi hari. Di sekitar sumur itu hanya terdapat tiga pohon beringin dan sebatang pohon jambu air yang mungkin sudah berumur ratusan tahun. Empat pohon itulah yang tetap kokoh berdiri, akar-akarnya menangkap air hujan untuk sumur tua. Pohon-pohon lain sudah lenyap ditebang, atau tinggal sisa-sisa batang yang menghitam akibat dibakar warga. Sumur itu peninggalan bangsa Belanda sejak tahun Dulu air sumur dapat ditimba langsung dengan ember atau tabung bambu. Namun sejak 15 tahun lalu ketika kawasan hutan di sekitar daerah ini dibabat warga, air sumur tiba-tiba menyusut. Pada bulan-bulan seperti ini kita harus turun ke dasar sumur sedalam empat meter dan menimba dengan menggunakan gayung karena airnya tidak dalam lagi. Praktek tebas bakar untuk mempersiapkan kebun ini telah menjerumuskan warga dalam beragam bencana. Mereka menginginkan hasil jagung, padi, ubikayu, tetapi menyepelekan sumber-sumber air yang terus merosot debitnya. Akibat langsungnya, anak-anak sekitar wilayah itu menderita berbagai penyakit kulit karena jarang mandi. Diare atau muntaber juga menjadi langganan ratusan balita di desa itu lantaran sanitasi lingkungan yang buruk.

71 Sumber: krisdinar.files.wordpress.com/ Produksi beberapa komiditi pertanian Indonesia cukup tingggi. Produksi padi Indonesia nomor tiga dunia setelah China dan India. Produksi jagung Indonesia terbesar di Asia. Pada tahun 2006, produksi kelapa sawit nomor satu dunia. Sedangkan produksi karet Indonesia nomor dua dunia. “Produksi pertanian Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Namun bila dibandingkan jumlah penduduk dan dibagi per kapita produksi tersebut seringkali belum mencukupi kebutuhan dalam negeri. Kebijakan impor untuk beberapa komoditi pertanian masih ditetapkan. Tidak ada negara yang menghilangkan kebijakan impor komoditi pertaniannya. Brazil, negara yang produksi pertaniannya terbesar pun masih menetapkan impor pada beberapa komiditi.

72 SISTEM AGRIBISNIS Agribisnis sebagai suatu sistem merupakan seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Dengan demikian agribisnis terdiri dari dari berbagai sub sistem yang tergabung dalam rangkaian interaksi dan interpedensi secara reguler, serta terorganisir sebagai suatu totalitas. Paling tidak terdapat lima subsistem yang harus berkaitan pada system agribisnis yaitu : a. Subsistem Penyediaan Sarana Produksi Sub sistem penyediaan sarana produksi menyangkut kegiatan pengadaan dan penyaluran. Kegiatan ini mencakup Perencanaan, pengelolaan dari sarana produksi, teknologi dan sumberdaya agar penyediaan sarana produksi atau input usahatani memenuhi kriteria tepat waktu, tepat jumlah, tepat jenis, tepat mutu dan tepat produk. b. Subsistem Usahatani atau proses produksi Sub sistem ini mencakup kegiatan pembinaan dan pengembangan usahatani dalam rangka meningkatkan produksi primer pertanian. Termasuk kedalam kegiatan ini adalah perencanaan pemilihan lokasi, komoditas, teknologi, dan pola usahatani dalam rangka meningkatkan produksi primer. Disini ditekankan pada usahatani yang intensif dan sustainable (lestari), artinya meningkatkan produktivitas lahan semaksimal mungkin dengan cara intensifikasi tanpa meninggalkan kaidah-kaidah pelestarian sumber daya alam yaitu tanah dan air. Disamping itu juga ditekankan usahatani yang berbentuk komersial bukan usahatani yang subsistem, artinya produksi primer yang akan dihasilkan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam artian ekonomi terbuka. c. Subsistem Agroindustri/pengolahan hasil Lingkup kegiatan ini tidak hanya aktivitas pengolahan sederhana di tingkat petani, tetapi menyangkut keseluruhan kegiatan mulai dari penanganan pasca panen produk pertanian sampai pada tingkat pengolahan lanjutan dengan maksud untuk menambah value added (nilai tambah) dari produksi primer tersebut. Dengan demikian proses pengupasan, pembersihan, pengekstraksian, penggilingan, pembekuan, pengeringan, dan peningkatan mutu.

73 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 SISTEM AGRIBISNIS d. Subsistem Pemasaran Sub sistem pemasaran mencakup pemasaran hasil-hasil usahatani dan agroindustri baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Kegiatan utama subsistem ini adalah pemantauan dan pengembangan informasi pasar dan market intelligence pada pasar domestik dan pasar luar negeri. e. Subsistem Penunjang Subsistem ini merupakan penunjang kegiatan pra panen dan pasca panen yang meliputi : 1.Sarana Tataniaga 2.Perbankan/perkreditan 3.Penyuluhan Agribisnis 4.Kelompok tani 5.Infrastruktur agribisnis 6.Koperasi Agribisnis 7.BUMN 8.Swasta 9.Penelitian dan Pengembangan 10.Pendidikan dan Pelatihan 11.Transportasi 12.Kebijakan Pemerintah.

74 PERAN PEREMPUAN DALAM PERTANIAN Gagasan pemberdayaan masyarakat khususnya petani pemakai air semakin meningkat ketika pemerintah mengeluarkan Inpres No. 3 tahun 1999 tentang Pembaharuan Kebijakan Pengelolaan Irigasi (PKPI). Selanjutnya melalui PP No. 77 Tahun 2001, Pemerintah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan irigasi. Masyarakat yang dimaksud adalah petani pemakai air yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Hasil pemberdayaan yang telah dilakukan sejak lama, dalam pelaksanaannya belum mencapai kondisi yang diharapkan. Hal ini antara lain disebabkan kegiatan pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan petani sebagai pemeran utama dalam proses pengelolaan irigasi merupakan hal yang relatif baru, sehingga masih terjadi ketidakmantapan dalam proses perencanaan maupun implementasinya. Di sisi lain sumberdaya manusia potensial yang memungkinkan untuk meningkatkan kinerja P3A masih belum sepenuhnya termanfaatkan secara optimal. Sumberdaya manusia yang dimaksud adalah kaum perempuan. Keterlibatan perempuan dalam menunjang sektor pertanian masih terbatas pada kegiatan proses produksi diantaranya penananaman (tandur), penyiangan, pemupukan, panen dan penjemuran hasil produksi. Tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran kaum perempuan dalam kegiatan proses produksi mampu meningkatkan produktivitas lahan per satuan luas. Dengan demikian kaum perempuan mampu meningkatkan pendapatan keluarga, mengurangi ketergantungan perempuan terhadap laki-laki secara ekonomi dan memperkuat kedudukannya dalam rumah tangga. Hal yang sama diungkapkan oleh beberapa hasil peneltian bahwa akses perempuan terhadap lahan, sarana dan prasarana pertanian dan pengelolaan irigasi telah memberikan manfaat lebih baik kepada para pemilik lahan. Oleh sebab itu membangun keterlibatan peran perempuan dalam proses pengambilan keputusan sangatlah strategis.

75 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Kelembagaan pengelola air irigasi yaitu P3A pada umumnya masih menempatkan laki-laki sebagai pemeran utama. Dominasi laki-laki dalam berbagai bidang kegiatan termasuk P3A tidak terlepas dari persepsi masyarakat terhadap keberadaan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan. Persepsi yang mengesampingkan kehadiran perempuan tersebut terbentuk dan terpola bukan saja bersumber dari laki-laki tetapi juga dari perempuan sendiri. Pola pikir yang dilegalisasi oleh kebiasaan dan norma masyarakat tersebut mengakibatkan keterlibatan perempuan dalam berbagai aspek kegiatan menjadi sangat terbatas, padahal apabila diberikan kesempatan dapat dilakukan lebih baik dari pada laki-laki. Kondisi tersebut menggambarkan masih tingginya masalah gender di lingkungan masyarakat. Secara politis pemerintah telah mempunyai kehendak untuk meningkatkan peran perempuan dalam berbagai aspek kegiatan pembangunan dengan dikeluarkannya Undang-undang tentang pemberdayaan perempuan menyusul Inpres No. 9 Tahun 2000 yang mengisyaratkan kehendak untuk mengarusutamakan pemecahan masalah gender. Dari data yang diperoleh ternyata struktur kepengurusan maupun keanggotaannya masih didominasi laki-laki. Seperti umumnya organisasi P3A. Kinerja P3A masih belum sepenuhnya berjalan secara efisien dan efektif, karena berbagai faktor intern organisasi, khususnya sumberdaya manusia yang terlibat didalamnya. Kondisi ini dapat dilihat dari masih besarnya ketergantungan dan harapan intervensi dalam meningkatkan kinerja organiasi. Di sisi lain sumber dana swadaya yang dapat menunjang kegiatan pengelolaan irigasi masih bertumpu pada iuran anggota yang pada saat ini masih sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan dana operasional dan pemeliharaan saluran irigasinya. Kondisi ini dicerminkan oleh tertundanya kewajiban-kewajiban P3A dalam operasional dan pemeliharaan irigasi. Saatnya kini perempuan diberi peran yang lebih dalam kepengurusan organisasi pertanian di berbagai tingkatan.

76 LAHAN KERING DI GUNUNG KIDUL Sumber: emilianuselip.wordpress.com/ Gambaran Gunungkidul yang kering memang tidak pernah usai. Upaya yang dilakukan berbagai pihak baik pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, pemerintah Prop. DIY, lembaga-lembaga donor dan LSM lokal tidak kurang-kurang. Namun nampaknya sampai kini belum ada yang “memuaskan” bagi masyarakat setempat. Pipa-pipa saluran air, yang malang melintang menembus batu karang, pekarangan, bukit, dan kebun-kebun masyarakat lebih banyak mengalirkan udara dari pada tetesan-tetesan air… Dalam Bahasa Indonesia, agroforestry dikenal dengan istilah wanatani atau agroforestri, arti sederhananya adalah menanam pepohonan di lahan pertanian. Sistem ini telah dipraktekkan oleh petani di berbagai tempat di Indonesia selama berabad-abad, misalnya sistem ladang berpindah, kebun campuran di lahan sekitar rumah (pekarangan) dan padang penggembalaan. Aroforestri dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem agroforestri sederhana dan sistem agroforestri kompleks. (SUMBER: 04/BK pdf).

77 LAHAN KRITIS DI bANJARNEGARA Sumber: Di Banjarnegara, tepatnya dusun Simpar, terletak segerombol rumah penduduk yang berada dilembah bukit yang sebagian permukaanya telah dieksploitasi menjadi lahan pertanian. Pengolahan lahan miring pegunungan yang keliru menjadi penyebab utama meluasnya lahan kritis. Apabila hal ini terus terjadi, lahan kritis akan muncul dimana mana, sehingga bila datang musim hujan, pada daerah lahan kritis ini mudah timbul erosi dan longsor yang bisa menimbun pemukiman dibawahnya. Teras bangku adalah serangkaian dataran yang dibangun sepanjang kontur pada interval yang sesuai. Bangunan ini dilengkapi dengan saluran pembuangan air (SPA) dan ditanami dengan rumput untuk penguat teras. Jenis teras bangku ada yang miring ke luar dan miring ke dalam. Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan jalan memotong lereng dan meratakan tanah di bagian bawah sehingga terjadi suatu deretan bentuk tangga atau bangku. Teras jenis ini dapat datar atau miring ke dalam. Teras bangku yang berlereng ke dalam dipergunakan untuk tanah- tanah yang permeabilitasnya rendah dengan tujuan agar air yang tidak segera terinfiltrasi tidak mengalir ke luar melalui talud. Teras bangku sulit dipakai pada usaha pertanian yang menggunakan mesin-mesin pertanian yang besar dan memerlukan tenaga dan modal yang besar untuk membuatnya.

78 Mengenal Bencana Alam Tanah Longsor dan Mitigasinya Ditulis oleh Agus Setyawan dan Wahyu Wilopo dan Supriyanto Suparno tanah-longsor-dan-mitigasinya Tanah longsor adalah suatu jenis gerakan tanah, umumnya gerakan tanah yang terjadi adalah longsor bahan rombakan (debris avalanches) dan nendatan (slumps/rotational slides). Gaya-gaya gravitasi dan rembesan (seepage) merupakan penyebab utama ketidakstabilan (instability) pada lereng alami maupun lereng yang di bentuk dengan cara penggalian atau penimbunan. Faktor manusia Ulah manusia yang tidak bersabat dengan alam antara lain: 1.Pemotongan tebing pada penambangan batu dilereng yang terjal. 2.Penimbunan tanah urugan di daerah lereng. 3.Kegagalan struktur dinding penahan tanah. 4.Penggundulan hutan. 5.Budidaya kolam ikan diatas lereng. 6.Sistem pertanian yang tidak memperhatikan irigasi yang aman. 7.Pengembangan wilayah yang tidak diimbangi dg kesadaran masyarakat, sehingga RUTR tidak ditaati yang akhirnya merugikan sendiri. 8.Sistem drainase daerah lereng yang tidak baik Mitigasi Mitigasi bencana tanah longsor berarti segala usaha untuk meminimalisasi akibat terjadinya tanah longsor. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menekan bahaya tanah longsor dibagi menjadi 3 yaitu: 1. Tahap awal (preventif) Langkah pertama dalam upaya meminimalkan kerugian akibat bencana tanah longsor adalah: a.Identifikasi daerah rawan dan pemetaan. Dari evaluasi terhadap lokasi gerakan tanah yang telah terjadi selama ini ternyata lokasi- lokasi kejadian gerakan tanah merupakan daerah yang telah teridentifikasi sebagai daerah dg kerentanan menengah hingga tinggi. b.Penyuluhan pencegahan dan penanggulangan bencana alam gerakan tanah dengan memberikan informasi mengenai bagaimana dan kenapa tanah longsor, gejala gerakan tanah dan upaya pencegahan serta penangulangannya. c.Pemantauan daerah rawan longsor dan dilakukan secara terus menerus dengan tujuan untuk mengetahui mekanisme gerakan tanah dan faktor penyebabnya serta mengamati gejala kemungkinan akan terjadinya longsoran. d.Pengembangan dan penyempurnaan manajemen mitigasi gerakan tanah baik dalam skala nasional, regional maupun lokal secara berkelanjutan dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan menggalang kebersamaan segenap lapisan masyarakat. e.Pengembangan sistem peringatan dini di daerah rawan bencana. f.Pola pengelolaan lahan untuk budidaya tanaman pertanian, perkebunan yang sesuai dengan azas pelestarian lingkungan dan kestabilan lereng. g.Hindari bermukim atau mendirikan bangunan di tepi lembah terjal. h.Hindari melakukan penggalian pada daerah bawah lereng terjal yang akan mengganggu kestabilan lereng sehingga mudah longsor. i.Hindari pencetakan sawah baru atau kolam pada lereng yang terjal karena air yang banyak mempengaruhi sifat fisik dan keteknikan yaitu tanah menjadi lembek dan gembur sehingga kehilangan kuat gesernya yang mengakibatkan tanah mudah bergerak. j.Penyebarluasan informasi bencana gerakan tanah melalui berbagai media dan cara sehingga masyarakat, baik secara formal maupun non formal.

79 LAHAN KRITIS Sejumlah warga melakukan aktivitas bertani di perladangan lereng bukit kawasan dataran tinggi Dieng, Kejajar, Wonosobo, Jateng, Rabu (2/9). lahan sangat kritis kategori gawat di dataran tinggi Dieng mencapai luas ,35 ha yang ditandai dengan tingkat erosi sangat tinggi yang mengakibatkan hilangnya lapisan permukaan dan subsoil kesuburan tanah, kemiringan di atas 40 persen, dan vegetasi kurang dari 10 persen. Disiarkan: Kamis, 3 September :23 WIB Sumber: =foto&picid=462 =foto&picid=462 LAHAN KRITIS Sejumlah warga melakukan aktivitas bertani di perladangan lereng bukit kawasan dataran tinggi Dieng, Kejajar, Wonosobo, Jateng, Rabu (2/9). Menurut catatan Dinas Kehutanan dan Perkebunan setempat lahan sangat kritis kategori gawat di dataran tinggi Dieng mencapai luas ,35 ha yang ditandai dengan tingkat erosi sangat tinggi yang mengakibatkan hilangnya lapisan permukaan dan subsoil kesuburan tanah, kemiringan di atas 40 persen, dan vegetasi kurang dari 10 persen. Teras bangku adalah bangunan teras yang dibuat sedemikian rupa sehingga bidang olah miring ke belakang (reverse back slope) dan dilengkapi dengan bangunan pelengkap lainnya untuk menampung dan mengalirkan air permukaan secara aman dan terkendali. Teras batu adalah penggunaan batu untuk membuat dinding dengan jarak yang sesuai di sepanjang garis kontur pada lahan miring. Tujuannya adalah: (a) memanfaatkan batu-batu yang ada di permukaan tanah agar lahan dapat dimanfaatkan sebagai bidang olah, (b) mengurangi kehilangan tanah dan air serta untuk menangkap tanah yang meluncur dari bagian atas sehingga secara bertahap dapat terbentuk teras bangku dan hillslide ditches, (c) mengurangi kemiringan lahan untuk memberi bidang olah, konservasi tanah dan mekanisasi pertanian.

80 Sumber: achmadrivainoor.wordpress.com/ PERAN HUTAN DALAM PENCEGAHAN BENCANA BANJIR Oleh: H.A.Rivai Noor Wilayah Propinsi Kalimantan Selatan yang luasnya lebih kurang ha, keberadaannya dibelah oleh pegunungan Meratus yang membujur arah utara- selatan, sehingga terdapat dua wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu wilayah DAS bagian barat dan DAS bagian timur. Daerah aliran sungai dapat dianggap sebagai suatu ekosisitem, dengan demikian dalam suatu ekosistem tidak ada satu komponenpun yang berdiri sendiri, melainkan ada keterkaitan komponen yang satu dengan komponen lainnya, baik langsung maupun tidak langsung. Aktivitas suatu komponen ekosistem selalu berpengaruh pada komponen ekosistem lainnya.

81 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Ekosistem DAS dibagi menjadi daerah hulu, tengah dan hilir. Daerah hulu dicirikan sbb: merupakan daerah konservasi yang berfungsi perlindungan terhadap tata air dan flasma nutfah, daerah dengan kemiringan yg besar, dan bukan daerah rawan banjir,. Daerah hilir adalah daerah dengan kemiringan relatip kecil, merupakan daerah penampungan genangan air (terutama daerah rawa) dan dan daerah daratan rawan banjir, daerah pemanfaatan, pengaturan pemakaian air ditentukan oleh bangunan irigasi. Daerah aliran sungai bagian tengah merupakan daerah transisi dari daerah hulu dan hilir. Daerah hulu dan hilir mempunyai keterkaitan biofisik melalui siklus hidrologi. Sejak bulan Desember 2008 sampai akhir bulan Februari 2009 curah hujan di Indonesia pada umumnya dan Kalimantan Selatan pada khususnya relatip sangat tinggi dan berakibat banjir di berbagai wilayah. Khusus Kalimanan Selatan, daerah banjir yang terparah meliputi Kabupaten Banjar, Tanah Bumbu, Tanah Laut dan HSS. Banjir adalah sebagai air yang meluap keluar melebihi wadahnya (sungai) karena terbatasnya daya tampung sungai, sehingga badan sungai tidak mampu menampung air permukaan yang masuk. Dampak lanjutan dari banjir tersebut adalah kerusakan tanaman padi yang cukup luas, kerusakan infra struktur berupa jalan, kesengsaraan masyarakat yang terkena banjir, dll. Menurut Kepala BP DAS Barito, ( BPost 5 Februari 2008 ) ada lima faktor penyebab banjir, yaitu (1) curah hujan, (2) tingkat kelerengan wilayah, (3) vegetasi penutup tanah dan (4) jenis tanah serta (5) system drainase. Dari lima faktor tersebut ada tiga faktor seperti curah hujan, tingkat kelerengan dan jenis tanah, faktor tersebut adanya secara alamiah dan tidak dapat diubah. Sedangkan dua faktor lainnya seperti vegetasi penutup tanah berupa hutan yang berfungsi sebagai perlindungan terhadap tata air yang ada di hulu dan system drainase serta daerah resapan air yang ada di hilir dapat diperbaiki oleh manusia.

82 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Faktor vegetasi penutup tanah berupa hutan yang ada di Kalimantan Selatan, telah mengalami deforestasi dan degradasi. Faktor pendorong terjadinya deforestasi dan degradasi hutan secara langsung adalah kegiatan penebangan hutan, penebangan liar, dan kebakaran hutan yang tidak dapat dikendalikan. Penyebab tidak langsung adalah pemberian ijin HPH yang tidak menjadi insentif untuk melakukan penanaman pengayaan, dan perubahan system pemerintahan yang sentralistik ke system desentralistik, berupa kegiatan konversi hutan banyak dilakukan untuk pengunaan lain seperti untuk kegiatan perkebunan dan pertambangan. Hasil penelitian Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru (BPost, 10 Sept. 2007), total jumlah lahan potensial kritis, agak kritis, s/d sangat kritis mencapai hektar termasuk kawasan hutan lindung seluas hektar dari luas kawasan hutan lindung seluas hektar. Dengan kerusakan hutan seperti diatas tersebut, menyebabkan keseimbangan alam menjadi jungkirbalik, yang berakibat fungsi dan peranan vegetasi berupa hutan juga terganggu, terjadilah musibah banjir dll. Mengingat peran vegetasi berupa hutan tersebut dalam mencegah dan mengendalikan banjir, dapat dibayangkan apa yang akan terjadi jika air hujan jatuh langsung di permukaan tanah terbuka tanpa bervegetasi maka musibah banjirlah yang datang. Fungsi hidro- orologis suatu DAS akan optimal jika daerah-daerah yang berkelerengan tinggi dalam suatu DAS dipertahankan tetap berhutan. Unsur vegetasi penutup tanah yang diduga penyebab banjir adalah vegetasi non hutan seperti semak,, belukar muda, padang alang- alang dan ladang berpindah. Tipe vegetasi ini banyak ditemukan di punggung dan puncak gunung pada kelerengan curam dan sangat curam, yang berpeluang menimbulkan bahaya banjir, erosi dan tanah longsor.

83 MANFAAT DAN FUNGSI HUTAN LINDUNG Usaha pemanfaatan dan pemungutan di hutan lindung dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan meningkatkan fungsi lindung, sebagai amanah untuk mewujudkan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Sedangkan Fungsi Pokok dari Hutan lindung adalah sebagai kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk : 1.mengatur tata air, 2.mencegah banjir, 3.mengendalikan erosi, 4.mencegah intrusi air laut, dan 5.memelihara kesuburan tanah. Sumber: lindung.html ……. Diunduh 3/4/2012 KELESTARIAN HUTAN LINDUNG Hutan yang ada di pegunungan Meratus yang berstatus sebagai kawasan hutan lindung harus tetap dipertahankan sebagai kawasan perlindungan, karena selain pengamanan kelestarian plasma nutfah berupa flora dan fauna, juga untuk pengamanan fungsi hidro-orologis DAS bagian hulu. Fungsi hidro-orologis DAS ini sebagai sumber mata air yang dapat mencegah kekeringan di musim kemarau dan dapat mencegah banjir di musim hujan. Untuk pengurusan kawasan hutan lindung, sudah saatnya dibentuk Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL), dengan adanya KPHL tersebut mempunyai peluang: 1.Memperbaiki tatakelola pada kawasan hutan lindung 2.Memperkecil laju degradasi hutan 3.Mempercepat rehabilitasi dan reforestasi 4.Meningkatkan perlindungan dan pengamanan hutan 5.Meningkatkan manfaat hutan bagi masyarakat di dalam dan sekitar hutan 6.Fasiltas untuk memasuki carbon market. Dengan kehadiran KPHL di lokasi kawasan hutan lindung dan dengan segala aktivitasnya diharapkan akan dapat dicapai pengelolaan hutan lestari pada kawasan hutan lindung tersebut.

84 PERAN PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI (HTI) DI KALIMANTAN SELATAN H.Achmad Rivai Noor Sejarah pengelolaan hutan alam di Indonesia dimulai sejak dikeluarkannya penerbitan ijin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dari tahun 1975 sampai 1990, sementara awal tahun 1990-an hingga 1997 terfokus pada pengelolaan hutan di luar kawasan hutan. Periode terakhir dari tahun 1998 sampai sekarang, Indonesia mengalami perubahan besar di bidang politik dengan penggantian dari pemerintahan Orde Baru ke Era Reformasi. Perubahan tersebut diikuti perubahan dalam kebijakan pengelolaan hutan, yang bertujuan perbaikan kondisi perekonoman nasional. Perubahan yang dinamis tersebut berdampak negatif pada laju deforestasi dan degradasi hutan. Faktor pendorong terjadinya deforestasi dan degradasi hutan secara langsung adalah kegiatan penebangan hutan, penebangan liar, dan kebakaran hutan yang tidak dapat dikendalikan. Penyebab tidak langsung adalah kegagalan kebijakan misalnya pemberian ijin HPH yang tidak menjadi insentif untuk melakukan penanaman pengayaan (Ani A.N dan Lukas R. 2008), dan perubahan system pemerintahan yang sentralistik ke system desentralistik, kegiatan konversi hutan banyak dilakukan untuk pengunaan lain seperti untuk kegiatan perkebunan dan pertambangan. Menurut Gubernur Kalsel dalam ekspose hasil penelitian Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru (BPost, 10 Sept. 2007), total jumlah lahan potensial kritis, agak kritis, s/d sangat kritis mencapai hektar dari luas wilayah Provinsi Kalmantan Selatan hektar. Upaya yang dilakukan Dinas kehutanan dalam mereboisasi tahun 2007 seluas Ha (BPost 5 Juli 2007) andaikan keberhasilan mencapai 100 % maka diperlukan waktu yang cukup panjang yaitu 65 tahun untuk menyelesaikan upaya mereboisasi lahan kritis tersebut. Salah satu upaya mempercepat menghutankan kembali lahan kritis dalam kawasan hutan produksi adalah melibatkan stakeholder yaitu para pengusaha yang berkeinginan membangun Hutan Tanaman Industri (HTI).

85 Beberapa keuntungan dengan terbangunannya Hutan Tanaman Industri a.l. 1. Menunjang keberadaan industri perkayuan dalam negeri dengan menyediakan bahan baku yang diperlukan secara mantap dan berkesinambungan. Industri perkayuan di Kalimantan Selatan pada periode maju sangat pesat dengan kapasitas industri terpasang mencapau 3 juta m3 per tahun. Setelah tahun 1990-an pasokan bahan baku kayu terus menurun, sekarang sampai pada titik nadir, yaitu pasokan bahan baku kayu hanya sebesar m3 per tahun,akbiatnya banyak industry perkayuan mengalami kolap dan terjadilah PHK besar-besaran. Dengan dibangunnya Hutan Tanaman Industri diharapkan indutri perkayuan di Kalimantan Selatan akan bangkit lagi.Sebab produktivitas hutan tanaman industri per hektar cukup besar yaitu rata-rata 150 m3. Jadi bila dalam 5 tahun kedepan terbangun Hutan tanaman industri di Kalsel sebesar hektar atau rata-rata hektar per tahun, maka mulai tahun 2018 akan dipanen kayu sebesar 3 juta m3 per tahun dst. 2. Menunjang peningkatan ekspor kayu olahan disamping memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Kebutuhan kayu lokal per kabupaten/kota diperkirakan sebesar m3 per tahun (hasil penelitian dari Tropenbos International di Kaltim, wawancara dgn Petrus G, 2008). Kalsel mempunyai 10 kabupaten/kota dengan demikian dibutuhkan kayu sebesar 1,5 juta m3 per tahun, sisanya dapat diekspor ke berbagai Negara. 3. Mempercepat pengembangan daerah tertinggal, dengan terbentuknya networking yang didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Sarana prasarana yang dibangun oleh pengelola hutan tanaman industri, jaringan jalan dari desa ke kota, posko kesehatan untuk pelayanan kesehatan bagi karyawan perusahaan dan masyarakat sekitarnya, pembangunan pendidikan/sekolah terutama tkt SD untuk anak-anak karyawan perusahaan dan masyarakat sekitarnya. Lainnya sarana olah raga untuk rekreasi dan menjaga kebugaran para karyawan. 4. Menciptakan lapangan kerja baru bagi sarjana kehutanan dalam membangun hutan tanaman, sarjana teknik utk bangunan base camp, jalan dan jembatan dalam areal hutan tanaman, dan berbagai tenaga lapangan, selain itu membuka lapangan usaha bagi masyarakat sekitarnya melalui pemberdayaan dan meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat. PERAN PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI (HTI) DI KALIMANTAN SELATAN H.Achmad Rivai Noor

86 Sumber: ……. Diunduh 3/4/ Memanfaatkan sumber daya alam dengan memelihara kelestariannya. Luas lahan kosong yang berupa lahan kritis cukup luas seperti disebut pada alinea 3 tulisan ini, sumberdaya lahan ini merupakan sumberdaya alam yang perlu kita memanfaatkan semaksimal mungkin agar bernilai ekonomis dan bernilai ekologis. Pemanfaatan ini juga bertujuan memelihara sumbedaya lahan agar tak tergradasi kearah yang lebih parah lagi 6. Meningkatkan pendapatan aseli daerah (PAD), berupa pendapatan PBB dan pajak-pajak lainnya. 7. Meningkatkan produktivitas lahan kawasan hutan dan kualitas lingkungan hidup Pada kawasan hutan produksi yang tidak produktip dengan dibangunnya hutan tanaman industri, produktivitas lahan kosong pada kawasan hutan produksi akan jadi jadi meningkat. Dengan teciptanya hutan tanaman industri akan tercipta pula iklim mikro terutama akan terserapnya CO2 di udara dalam jumlah besar, menurut data yang tercatat CO2 yang tersimpan dalam hutan dewasa, karbon stock dapat mencapai 300 ton per hektar (Nur Masripatin, 2008). Ini diharapkan dapat menurunkan gas emisi di udara. Faktor lain dengan terbangunnya hutan tanaman industri akan mensuplai Oksigen (O2) ke udara, setiap hektar hutan dapat mensuplai O2 untuk keperluan 150 orang. Peran lain adalah akan berfungsinya system hidrologi yang akan dapat mengurangi bencana banjir.. PERAN PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI (HTI) DI KALIMANTAN SELATAN H.Achmad Rivai Noor

87 Sumber: ……. Diunduh 3/4/2012 Hutan sebagai Sumberdaya Alam yang dapat diperbaharui (Renewable): Hasil hutan berupa kayu, dapat dipergunakan berbagai keperluan antara lain sebagai bahan bangunan perumahan, berbagai perabot rumah tangga, berbagai perlengkapan pada peralatan kapal laut dan kendaraan roda empat dan lain-lain. Dari hasil hutan kayu dapat dibuat kertas berbagai kualitas, kertas tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas intelektual berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pemula yang melek hurup sampai tingkatan yang tertinggi seperti Presiden/Raja butuh kertas (bahan bacaan baik berita/informasi maupun ilmu pengetahuan). Kehutanan berperan penting dalam mendukung keberlanjutan berbagai industri primer yang menyediakan energy dan berbagai bahan bagi kita. Hutan Tanaman Industri yang lestari mendekati konsep hutan normal dimana terdapat (1) distribusi luas areal per kelas umur yang sama, (2) riap tumbuh jenis pohon yang ditanaman besar, (3) Stock tegakan hutan tanaman yang cukup. Dengan demikian jumlah luas etat tebangan pertahun sama dengan jumlah luas areal penanaman kembali pertahun, inilah yang disebut hutan sebagai sumberdaya alam yang dapat diperbaharui. Beda dengan bahan tambang, sekali tambang bila stocknya habis dan ia tak dapat diperbaharui.. PERAN PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN INDUSTRI (HTI) DI KALIMANTAN SELATAN H.Achmad Rivai Noor

88 Hasil hutan tidak langsung adalah berupa air dalam jumlah cukup dan kualitas yang baik. Air tersebut dihasilkan dari tata air yang diciptakan siklus hidrologi dalam kawasan hutan yang lestari dan dalam jumlah luas yang cukup. Sumber daya air ini dapat dimanfaakan sebagai pembangkit listrik tenaga air (PLTA) seperti di Riam Kanan. Di Kalimantan Selatan pada tahun 2008, jumlah luas hutan yang diusulkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi KalSel seluas lebih kurang 30,08 % dari total luas wilayah dan tapi kondisi hutannya cukup memprihatinkan. Di Pulau Jawa luas hutan kurang dari 30 % dari luas total wilayah, dan kondisi hutannya sangat kritis, dampak negatif yang terjadi pada musim hujan tahun 2008 banjir melanda sebagian dari wilayah Indonesia (Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dll). Sebagai perbandingan, di Negara Korea Selatan dan Kanada, luas wilayah berhutan sebesar 60 % dari total luas wilayahnya. Dengan jumlah luas hutan sebesar 60 % tersebut serta kualitas hutannya dalam kondisi baik dan terjaga, ini memungkinkan siklus hidrologi akan berfungsi dengan baik.Mahluk hidup termasuk manusia sangat membutuhkan air yang cukup dan berkualitas baik, bila hutannya lestari siklus hidrologi akan berjalan normal, tapi bila hutannya rusak berubah menjadi lahan kritis maka siklus hidrologinya terganggu. Pada musim hujan akan kebanjiran dan pada musim kemarau akan kekeringan, kedua kejadian alam diatas akan menyengsarakan kehidupan manusia.

89 PERTUMBUHAN TANAMAN MAHONI DI HUTAN RAKYAT DESA RANGGANG, KECAMATAN TANGKISUNG, KABUPATEN TANAH LAUT, KALSEL. Dalam UU No.41/1999, hutan rakyat dimaksudkan sebagai hutan yang tumbuh di atas tanah yang dibebani hak milik. Hutan rakyat telah lama dikenal dan memberikan manfaat ganda kepada masyarakat luas, yaitu berupa manfaat jasa lingkungan, seperti pencegahan erosi dan banjir, meningkatkan kesuburan tanah, dan disamping itu juga dapat memberikan manfaat sosial ekonomi seperti dalam menciptakan kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat melalui perdagangan kayu.

90 HUTAN RAKYAT Sistem pengelolaan hutan rakyat yang coba dikembangkan di Kalimantan Selatan adalah dengan menanam salah satu jenis tanaman prospektif diantaranya Mahoni (Swietenia macrophylla King), Mahoni ditanam pada Desember tahun 2003, dengan jarak tanam 5 x 4 meter dengan luas lebih kurang 25 Ha, oleh kelompok tani Desa Ranggang. Sistem penanaman dilakukan dengan tumpang sari dengan setiap tahun dibuat pergiliran tanaman palawija. Hasil pengamatan ke 3 sebagai berikut, tegakan mahoni pada umur 4,5 tahun dari 5 petak ukur memiliki tinggi rata-rata sebesar 7,75 m dan rata-rata diameternya 10,52 cm. Persentase hidup mencapai 90 % dan derajat kesempurnaan tegakan berkisar 85 %. Dalam luasan hutan rakyat pada umur 4,5 tahun yang luas arealnya 25 ha memiliki potensi volume untuk tinggi bebas cabang dan tinggi total adalah sebesar 238,47 m3 dan 590,82 m3 Riap berjalan tahunan (CAI) selama satu tahun ini (antara tahun 2007 dan 2008), untuk diameter memiliki riap sebesar 1,76 cm dan untuk riap tingginya sebesar 1,32 m. Jika dibandingkan dengan riap pada tahun 2007, yang lebih mengalami peningkatan adalah pada riap tinggi tegakan dengan nilai kenaikan riap mencapai 0,76 m. Sedangkan untuk riap volume per hektar selama setahun terakhir, untuk riap volume tinggi total sebesar 10,528 m3/ha dan riap volume tinggi bebas cabang sebesar 1,707 m3/ha. Riap rata-rata tahunan (MAI) pada umur 4,5 tahun memiliki nilai sebesar 5,25 m³/ha, dari hasil tersebut pertumbuhan tegakan mahoni pada hutan rakyat tersebut bisa dikatakan sudah cukup baik dalam hal perkembangannya.

91 Sumber: skadrongautama.blogspot.com/2009/06/konservas… KONSERVASI TANAH DAN AIR DI LAHAN KERING Erosi, kekurangan air dan kahat unsur hara adalah masalah yg paling serius di daerah lahan kering. Paket2 teknologi untuk mananggulangi masalah2 tersebut juga dah banyak, akan tetapi kurang optimal di manfaatkan karena tidak begitu signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan petani daerah lahan kering. Memang perlu kesabaran dalam pengelolaan daerah lahan kering, karena meningkatkan produktivitas lahan di daerah lahan kering yang kondisi lahannya sebagian besar kritis dan potensial kritis tidaklah mudah. Konservasi tanah dan air merupakan cara konvensional yang cukup mampu menanggulangi masalah diatas. Dengan menerapkan sisitem konservasi tanah dan air diharapkan bisa menanggulangi erosi, menyediakan air dan meningkatkan kandungan hara dalam tanah serta menjadikan lahan tidak kritis lagi. Ada 3 metode dalam dalam melakukan konservasi tanah dan air yaitu metode fisik dengan pegolahan tanahnya, metode vegetatif dengan memanfaatkan vegetasi dan tanaman untuk mengurangi erosi dan penyediaan air serta metode kimia yaitu memanfaatkan bahan2 kimia untuk mengaawetkan tanah. Konservasi Tanah merupakan cara penggunaan lahan sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukkannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Sedangkan konservasi Air merupakan upaya penyimpanan air secara maksimal pada musim penghujan dan pemanfaatannya secara efisien pada musim kemarau. Konservasi tanah dan konservasi air selalu berjalan beriringan dimana saat melakukan tindakan konservasi tanah juga di lakukan tindakan konservasi air. Dengan dilakukan konservasi tanah dan air di lahan kering diharapkan mampu mengurangi laju erosi dan menyediakan air sepanjang tahun yang akhirnya mampu meningkatkan produktivitasnya. Tanah2 di daerah lahan kering sangat rentan terhadap erosi. Daerah lahan kering biasanya mempunyai curah hujan yg rendah dan intensitas yg rendah pula, dengan kondisi seperti itu menyebabkan susahnya tanaman2 tumbuh dan berkembang, padahal tanaman merupakan media penghambat agar butiran hujan tidak berbentur langsung dengan tanah. Benturan seperti inilah yg menyebabkan tanah mudah terurai sehingga gampang di bawa oleh aliran air permukaan dan akhirnya terjadi erosi. Pemanfaatan vegetasi pada system konservasi tanah dan air selain sebagai penghambat benturan juga berguna sebagai penghambat aliran permukaan, memperbaiki tekstur tanah dan meningkatkan kadar air tanah. Penggabungan metode vegetatif dan fisik dalam satu teknologi diharapkan mampu mengefisienkan waktu dan biaya yg dibutuhkan. Misalkan penanaman tanaman pada sebuah guludan ato penanaman tanaman di sekitar rorak. Dan langkah terakhir yg di harapkan adalah penanaman tanaman yg bernilai ekonomis tinggi seperti jambu mete.

92 Sumber: newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=... DEBIT air Sungai Citanduy di Kab. Ciamis memasuki musim kemarau panjang ini menurun drastis. Hal itu berpengaruh kepada pengairan irigasi Dobo yang menjadi andalan para petani warga Desa Mulyasari, Bojongkantong, Langensari, dan Lakbok, Kab. Ciamis. Surutnya air Dobo membuat ratusan petani tak mampu menanam padi tiga kali dalam setahun. KEKRITISAN DAS Tujuh DAS Kritis di Pulau Jawa adalah Ciliwung, Cisadane, Citarum, Citanduy, Bengawan Solo, Brantas, dan Progo. DAS Kehilangan Fungsi Sebagian besar daerah aliran sungai di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur kehilangan fungsi karena maraknya pembukaan lahan gambut dan pertambangan batu bara. Akibatnya, banjir makin sering terjadi di musim hujan dan kekurangan air terjadi di musim kemarau. Di Kalbar ada sekitar 1,2 juta hektar hutan gambut yang telah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit sejak tahun Di Kaltim terdapat 6,34 juta hektar lahan kritis di sekitar 31 daerah aliran sungai (DAS) atau sekitar 32,4 persen dari luas Provinsi Kalimantan Timur. Selain menyebabkan berkurangnya biodiversitas, pembukaan lahan gambut dalam skala besar juga menyebabkan tanah kehilangan daya simpan air. Ketika dibuka untuk lahan perkebunan sawit, terjadi proses pengeringan lahan gambut, sehingga daya simpan airnya merosot. Padahal, tanah gambut itu bisa menyimpan air 15 kali berat kering tanah gambut. Dampak pembukaan lahan gambut dalam skala besar mulai dirasakan oleh masyarakat di jalan Trans-Kalimantan ruas Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya-Tayan, Kabupaten Sanggau. Sejumlah kawasan di sekitar jalan seperti di Kampung Enggang Raya, Kijang Berantai, dan Pariu sering tergenang banjir ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Padahal, 10 tahun lalu, banjir jarang sekali terjadi walaupun hujan turun dengan intensitas tinggi. Di Kaltim, masifnya penambangan batu bara merupakan penyebab utama makin luasnya lahan kritis. Di Kaltim tahun 2010, luas tambang batu bara mencapai sekitar 4,4 juta hektar atau 22,1 persen dari luas Provinsi Kaltim dengan kuasa pertambangan. Adapun lokasi penambangan menyebar, baik di dalam hutan maupun di sekitar DAS.

93 Sumber: PENDAHULUAN Meningkatnya Kerusakan DAS di Sulawesi Selatan, akan menimbulkan berbagai bencana yaitu “banjir, longsor dan kekeringan”. Salah satu faktor yang paling penting dalam kerusakan DAS adalah “Lahan Kritis”, dimana lahan kritis semakin tahun semakin bertambah, Sehingga hal tersebut merupakan program pokok Departemen Kehutanan dalam upaya rehabilitasi DAS. PENGERTIAN LAHAN KRITIS Persepsi : Lahan kosong / gundul; Lahan tidak produktif; Dll Definisi : Lahan Kritis merupakan lahan yang keadaan fisiknya demikian rupa sehingga lahan tersebut tidak dapat berfungsi secara baik sesuai dengan peruntukkannya sebagai media produksi maupun sebagai media tata air.

94 Kriteria Lahan Kritis Kawasan Hutan Lindung No.Kriteria (% bobot) KelasBesaran/DiskripsiSkorKeterangan 1Penutupan lahan (50) Sangat baik Baik Sedang Buruk Sgt. Buruk >80% 61 – 80 % 41 – 60 % 21 – 40 % <20 % Dinilai berdasarkan prosentase penutupan tajuk pohon 2Lereng (20) Datar Landai Agk. Curam Curam Sgt. Curam <8 % 8 – 15 % 16 – 25 % 26 – 40 % >40 % Erosi (20) Ringan Sedang Berat Sgt. Berat Tanah dalam : <25% lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi alur pada jarak 20 – 50 m Tanah dangkal : 50 m Tanah dalam : 25 – 75 % lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi alur pada jarak kurang dari 20 m Tanah dangkal : 25 – 50 % lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi alur dengan jarak m Tanah dalam : Lebih dari 75 % lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi parit dengan jarak m Tanah dangkal : 50 – 75 % lapisan tanah atas hilang Tanah dalam : Semua lapisan tanah atas hilang >25 % lapisan tanah bawah dan/atau erosi parit dengan kedalaman sedang pada jarak kurang dari 20 m Tanah dangkal : >75 % lapisan tanah atas telah hilang, sebagian lapisan tanah bawah telah tererosi Manajemen (10) Baik Sedang Buruk Lengkap *) Tidak lengkap Tidak ada *) Tata batas kawasan ada Pengamanan pengawasan ada Penyuluhan dilaksanakan

95 Kriteria Lahan Kritis Kawasan Budidaya Untuk Usaha Pertanian No.Kriteria (% bobot) KelasBesaran/DiskripsiSkorKeterangan 1Produktivit as *) (30) Sgt. Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sgt. Rendah >80% 61 – 80 % 41 – 60 % 21 – 40 % <20 % Dinilai berdasarkan ratio terhadap produksi komoditi umum optimal pada pengelolaan tradisional 2Lereng (20) Datar Landai Agk. Curam Curam Sgt. Curam <8 % 8 – 15 % 16 – 25 % 26 – 40 % >40 % Erosi (15) Ringan Sedang Berat Sgt. Berat Tanah dalam : <25% lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi alur pada jarak 20 – 50 m Tanah dangkal : 50 m Tanah dalam : 25 – 75 % lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi alur pada jarak kurang dari 20 m Tanah dangkal : 25–50% lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi alur dngan jarak m Tanah dalam : Lebih dari 75 % lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi parit dengan jarak m Tanah dangkal : 50 – 75 % lapisan tanah atas hilang Tanah dalam : Semua lapisan tanah atas hilang >25 % lapisan tanah bawah dan/atau erosi parit dengan kedalaman sedang pada jarak kurang dari 20 m Tanah dangkal : >75 % lapisan tanah atas telah hilang, sebagian lapisan tanah bawah telah tererosi Batu – batuan (5) Sedikit Sedang Banyak < 10 % permukaan lahan tertutup batuan 10 – 30 % permukaan lahan tertutup batuan >30 % permukaan lahan tertutup batuan Manajem en (30) Baik Sedang Buruk Penerapan teknologi konservasi tanah lengkap dan sesuai petunjuk teknis Tidak lengkap atau tidak terpelihara Tidak ada 5 3 1

96 Kriteria Lahan Kritis Kawasan Lindung Diluar Kawasan Hutan No. Kriteria (% bobot) KelasBesaran/DiskripsiSkorKeterangan 1Vegetasi Permanen (50) Sgt. Baik Baik Sedang Buruk Sgt. Brk >40% 31 – 40 % 21 – 30 % 10 – 20 % <10 % Lereng (10) Datar Landai Ag. Crm Curam Sgt. Crm <8 % 8 – 15 % 16 – 25 % 26 – 40 % >40 % Erosi (10) Ringan Sedang Berat Sg. Brt Tanah dalam : <25% lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi alur pada jarak 20 – 50 m Tanah dangkal : 50 m Tanah dalam : 25 – 75 % lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi alur pada jarak kurang dari 20 m Tanah dangkal : 25–50% lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi alur dengan jarak m Tanah dalam : Lebih dari 75 % lapisan tanah atas hilang dan/atau erosi parit dengan jarak m Tanah dangkal : 50 – 75 % lapisan tanah atas hilang Tanah dalam : Semua lapisan tanah atas hilang >25 % lapisan tanah bawah dan/atau erosi parit dengan kedalaman sedang pada jarak kurang dari 20 m Tanah dangkal : >75 % lapisan tanah atas telah hilang, sebagian lapisan tanah bawah telah tererosi Mana- jemen (30) Baik Sedang Buruk Penerapan teknologi konservasi tanah lengkap dan sesuai petunjuk teknis Tidak lengkap atau tidak terpelihara Tidak ada 5 3 1

97 FAKTOR PENYEBAB LAHAN KRITIS 1.Perambahan hutan 2.Penebangan liar (illegal logging) 3.Kebakaran hutan 4.Pemanfaatan sumberdaya hutan yang tidak berazaskan kelestarian 5.Penataan zonasi kawasan belum berjalan 6.Pola pengelolaan lahan tidak konservatif 7.Pengalihan status lahan (berbagai kepentingan) 8.Dll AKIBAT LAHAN KRITIS 1.Daya resap tanah terhadap air menurun sehingga kandungan air tanah berkurang yang mengakibatkan kekeringan pada waktu musim kemarau. 2.Terjadinya arus permukaan tanah pada waktu musim hujan yang mengakibatkan bahaya banjir dan longsor. 3.Menurunnya kesuburan tanah, dan daya dukung lahan serta keanekaragaman hayati. LAHAN KRITIS DAN KEMISKINAN TERAS MERUPAKAN bangunan konservasi tanah dan air secara mekanis yang dibuat untuk memperpendek panjang lereng dan atau memperkecil kemiringan lereng dengan jalan penggalian dan pengurugan tanah melintang lereng. Tujuan pembuatan teras adalah untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan (run off) dan memperbesar peresapan air, sehingga kehilangan tanah berkurang. Teras berfungsi mengurangi panjang lereng dan menahan air, sehingga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan, dan memungkinkan penyerapan air oleh tanah. Dengan demikian erosi berkurang.

98 Dalam jangka panjang, TERAS bangku dapat meningkatkan kesuburan tanah. Keuntungan lain dari teras bangku adalah: (a) efektif dalam mengendalikan erosi dan aliran permukaan, (b) menangkap tanah dalam parit-parit yang dibuat sepanjang teras dan tanah yang terkumpul itu dapat dikembalikan ke bidang olah. Sumber:

99 KESEIMBANGAN AIR DI PERMUKAAN LAHAN Relationship between impervious surfaces and surface runoff. Impervious surfaces (roads, parking lots and sidewalks) are constructed during land development. During rain storms and other precipitation events, these surfaces (built from materials such as asphalt and concrete), along with rooftops, carry polluted stormwater to storm drains, instead of allowing the water to percolate through soil. This causes lowering of the water table (because groundwater recharge is lessened) and flooding since the amount of water that remains on the surface is greater.roadsrain

100 PRINSIP DASAR PENGELOLAAN DAS 1.Dilaksanakan secara terpadu, holistik, berkesinambungan berwawasan lingkungan dengan pendekatan DAS yang diterapkan berdasarkan sistem pemerintahan yang desentralistik. 2.Berazaskan kelestarian, kemanfaatan, keadilan, kemandirian dan akuntabilitas. 3.Melibatkan stakeholders dalam pengambilan keputusan 4.Prioritas berdasarkan DAS strategi 5.Meliputi manajemen : a) watershe conservation, b) water resourrces development, pengelolaan lahan, dan d) pengelolaan vegetasi serta e) pembinaan SDM 6.Efektivitas dan efisiensi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, monitoring dan evaluasi. 7.Peninjauan kembali secara berkala dan program lanjutan Vegetasi permanen berupa tegakan pohon sangat diperlukan untuk menjaga supaya lahan miring tidak longsor. Sumber: suntoro.staff.uns.ac.id ……. Diunduh 3/4/2012

101 Sumber: bandung.detik.com/read/2009/06/11/122039/ LAHAN KRITIS DI AKWASAN HUTAN Perhutani mengklaim sisa lahan kritis di Jabar tinggal 500 hektar, dan ditargetkan akan habis pada tahun Untuk itu Pemprov Jabar telah mempersiapkan dana Rp 2 juta per hektar lahan untuk reboisasi lahan kritis. Perhutani menyiapkan dana sebesar Rp 2 juta / hektar untuk reboisasi lahan kritis seluas 500 hektar. Lahan kritis tersebar di wilayah Jabar yang memiliki kawasan hutan; luas lahan hutan di Jabar sekitar hektar. Sejak tahun 1997, Pemprov Jabar melakukan program reboisasi hingga akhirnya kini sisa lahan kritis bersisa 500 hektar. Target lahan kritis habis pada 2010 tersebut adalah target yang sejalan dengan target pemerintah pusat yakni tahun 2010 seluruh hutan di Pulau Jawa hijau kembali. Lahan hutan milik negara yang ada saat ini tidak akan ada yang berubah status menjadi hak milik. Tidak akan ada tanah hutan milik negara yang menjadi hal milik, namun kita mengajak masyarakat untuk memanfaatkan hutan dengan tidak mengubah status. Untuk pemanfaatan hutan ini, Bambang menuturkan telah bekerjasama dengan desa. "Perhutani menggandeng desa di Jabar untuk bekerjasama memanfaatkan lahan Perhutani," katanya.

102 Sumber: Sebanyak 55 Ribu Hektar Lahan Kritis di Bali Propinsi Bali menghadapi ancaman akibat minimnya kawasan hutan dan luasnya lahan kritis. Pada saat ini terdapat sekitar 55 ribu hektar lahan kritis yang tersebar di berbagai wilayah. Hutan yang ada baru sekitar 20 persen. Padahal idealnya luas hutan sedikitnya 30 persen dari daratan. Kondisi ini juga dihadapkan pada masalah cukup banyaknya lahan kritis yang ada. Mengantisipasi dampak yang ditimbulkan, berbagai upaya terus dilakukan termasuk mengembangkan hutan-hutan rakyat serta melibatkan masyarakat sekitar hutan untuk ikut berperan dalam menjaga hutan. Upaya lainnya dilakukan agar fungsi hutan bisa terus ditingkatkan. ''Meski luasan hutan belum 30 persen, yang penting pula fungsinya bisa diberdayakan melebihi jumlah tersebut. Masalah yang dihadapi dalam melestarikan kawasan hutan cukup kompleks. Namun, soal perambah hutan dijelaskan sudah terus berhasil dikurangi. Bahkan aksi pencurian isi hutan sudah bisa ditekan dengan pengenaan sanksi yang cukup berat. Permasalahan semakin berkurangnya kawasan hutan di Bali selain akibat perambahan juga banyak lahan hutan yang beralih fungsi. Tenaga personil yang dilibatkan dalam menjaga hutan masih sangat terbatas dan belum maksimalnya hasil pemberdayaan masyarakat sekitar hutan. Oleh karena itu diharapkan ke depan perlu ditingkatkan lagi penambahan berbagai fasilitas untuk mengelola kawasan hutan yang ada. Beragam peristiwa terjadinya perambahan hutan dapat menyebabkan fungsi ekologis hutan menjadi terganggu, dengan segala dampak negatif terhadp lingkungan sekitar.

103 Sumber: Diunduh 3/4/2012 Pengarusutamaan Masalah Lingkungan dalam Strategi PenanggulanKemiskinan Nasional dan Daerah (SPKN & SPKD) Masalah lingkungan mutlak penting untuk diintegrasikan ke dalam strategi penanggulangan kemiskinan nasional dan daerah (SPKN dan SPKD), mengingat kualitas kondisi lingkungan berkaitan erat dengan kualitas hidup dari penduduk miskin. Dalam konteks itu, relevansi masalah lingkungan terhadap proses penyusunan SPKNdan SPKD saat ini dapat dibahas di tiga tahapan kunci, yaitu: 1.kajian hubungan antara lingkungan dan kemiskinan sebagai bagian dari poverty diagnostics; 2.penentuan aksi publik atau program intervensi yang paling efisien dan efektif untuk mengatasi masalah-masalah yang telah diidentifikasikan sebelumnya. 3.monitoring hasil dan evaluasi program intervensi

104 Sumber: Strategi-Penanggulangan-Kemiskinan-Di-Indonesia-Puguh-B-Irawan-Oktober-2004……. Diunduh 3/4/2012 KAJIAN HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN DAN KEMISKINAN Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, kaitan antara lingkungan dankemiskinan dapat ditinjau dari berbagai dimensi yang meliputi kesehatanlingkungan, pendapatan dan kesempatan ekonomi, jaminan untuk mengatasikerentanan terhadap bencana lingkungan, dan pemberdayaan dari penduduk miskin. Untuk melakukan kajian ini, kelompok kerja SPKN dan SPKD harusmendokumentasikan terlebih dahulu informasi yang tersedia untuk mendapatkangambaran di mana masalah-masalah lingkungan berasosiasi dengan insidenkemiskinan. Kajian ini juga sebaiknya dilengkapi dengan pemahaman tentang pola-pola hubungan lingkungan-kemiskinan yang sangat spesifik di daerah-daerahtertentu. Hal ini dapat dilakukan dengan mempelajari studi-studi kasus yang sudahada atau dengan melakukan survei cepat misalnya di daerah-daerah rawan kerusakanlingkungan dengan dengan insiden kemiskinan yang relatif tinggi. Hasil akhir yang diharapkan dari kegiatan kajian ini adalah pemetaan pola hubungan antara lingkungan dan kemiskinan menurut tingkat disagregasi analisis dengan perbedaan cukup signifikan, misalnya menurut wilayah geografis dan topografi, komunitas dengan budaya yang berbeda, wilayah dengan tingkat pembangunan yang berbeda,dll. Pengelolaan Lingkungan Hidup yang Berkelanjutan danStrategi Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia Makalah ini disiapkan oleh Puguh B. Irawan, Senior Advisor for Poverty, Indonesian Decentralized Environmental and Natural Resources Management (IDEN) Project-UNDP,disampaikan sebagai Background Paper pada Round-Table Discussion dari para pakar diYogyakarta, 6 Oktober Makalah in juga merupakan modifikasi ringkasan dari “ Poverty and Environment Nexus in Indonesia ” by Puguh Irawan and Silvia Irawan (2005). E

105 LINGKUNGAN DAN PEMBERDAYAAN Kegiatan-kegiatan pengelolaan lingkungan juga dapat berkontribusi terhadapupaya pemberdayaan dari penduduk lokal. Masyarakat setempat diberdayakandengan ikut serta dalam pengambilan keputusan tentang pemanfaatan sumber-sumber daya alam dan lingkungan sekitar secara berkelanjutan, yang kemudianlangsung dikaitkan dengan sumber penghidupan dan kegiatan ekonomi mereka. Dengan perkataan lain, ketika masyarakat diberdayakan, pengelolalaan lingkungandan sumber daya alam bermanfaat untuk menjaga lingkungan, memberikan peluang-peluang ekonomi kepada masyarakat dalam rangka peningkatan pendapatan, dan sekaligus membangun modal sosial dari masyarakat setempat dalam memahami danmengatasi berbagai masalah yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungansekitarnya.. Sumber: Strategi-Penanggulangan-Kemiskinan-Di-Indonesia-Puguh-B-Irawan-Oktober-2004……. Diunduh 3/4/2012 Pemberdayaan Masyarakat Keberhasilan PSM (Program paguyuban swadaya masyarakat) berkaitan dengan tiga faktor yang saling terkait satu sama lainnya yaitu Faktor-faktor internal, seperti faktor kelembagaan kelompok yang menyangkut masalah keanggotaan, kepengurusan, kegiatan kelompok dan mekanisme kerja kelompok. Faktor-faktor eksternal meliputi faktor lingkungan sosial-ekonomi; hubungan dengan aparat pemerintah se tempat; serta faktor dukungan lembaga bisnis setempat dan faktor-faktor yang berkaitan dengan lembaga- lembaga pendamping, seperti integritas, kompetensi, komitmen dan subsidiaritas dalam usaha mendampingi dan memfasilitasi PSM yang berusaha untuk meningkatkan kemampuannya untuk semakin berhasil. (sumber: miskin-dengan.html)

106 LINGKUNGAN DAN KERENTANAN ORANG MISKIN Semua orang tentu mengalami derita akibat dari gejolak luar yang menimpanya, seperti akibat krisis ekonomi, konflik sosial, perang, bencana alam, kebakaran rumah, kecelakaan mematikan dan lainnya; tetapi penduduk miskin menderita paling parah karena mereka mempunyai kemampuan yang sangat terbatas untuk mengatasinya. Hubungan antara lingkungan dan ketahanan/ jaminan sosial disini difokuskan pada kerentanan (vulnerability) penduduk miskin atas perubahan-perubahan dramatis pada lingkungan atau bencana alam. Kerentanan ini dapatdilihat baik dari tingkat makro ekonomik maupun tingkat mikro ekonomik.Goncangan pada tingkat makro ekonomik mempengaruhi satu wilayah ataunegara secara keseluruhan. Bencana angin siklun, gempa bumi, kekeringan,kebanjiran dan sejenisnya mempengaruhi setiap orang dan dapat merugikanperekonomian nasional secara menyolok. Penduduk miskin punya kemampuansangat terbatas untuk menghadapi goncangan lingkungan. Mereka sering tergantungpada lahan marjinal, memiliki sedikit modal atau barang untuk dijual sehinggamemungkinkan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, mempunyai lebih sedikit pilihan untuk kegiatan- kegiatan yang menghasilkan pendapatan di tempatlain, dan seringkali menerima sedikit informasi tentang bencana yang akan terjadi.Goncangan lingkungan pada tingkat mikro ekonomik mempengaruhi jumlahpenduduk yang lebih kecil. Karena penduduk miskin cenderung hidup di wilayah- wilayah marjinal, rumah dan tanah mereka mempunyai resiko tinggi terkena dampak dari bencana kekeringan, banjir, tanah longsor, wabah penyakit (endemik) dansejenisnya. Kaum wanita miskin khususnya sering paling rentan dan menanggung konsekuensi dari berkurangnya konsumsi makanan, terjangkitnya penyakit, dan kebutuhan untuk membangun lagi tempat tinggal. Bencana lingkungan dapat mempengaruhi kemiskinan baik secara jangka pendek maupun jangka panjang. Bencana tentunya memperburuk keterpurukan ekonomi dalam jangka pendek.Bencana juga dapat mempengaruhi kesejahteraan ekonomi rumahtangga dalam jangka panjang, ketika upaya untuk bertahan hidup mutlak memerlukan penjualan modal atau investasi, modal ini direncanakan untuk digunakan membiayai pendidikan anak-anak mereka di masa mendatang. Kerusakan lingkungan dan bencana alam juga telah menyebabkan para korban, yangkebanyakan adalah orang miskin, meninggalkan rumah-rumah mereka untuk mengungsi atau pindah ke lokasi lain yang lebih baik. Pengungsi korban bencana alam mengalir ke kota-kota di mana mereka menambah jumlah orang miskin yang juga hidup di lahan marjinal dan beresiko terhadap bencana. Sumber: Strategi-Penanggulangan-Kemiskinan-Di-Indonesia-Puguh-B-Irawan-Oktober-2004……. Diunduh 3/4/2012

107 LINGKUNGAN DAN MEMPERLUAS KESEMPATAN EKONOMI Penduduk miskin cenderung sangat tergantung pada sumber daya alam (SDA)di sekitarnya, baik sebagai sumber penghasilan utama atau tambahan, misalnya untuk lahan pertanian dan makanan ternak, untuk berburu binatang atau mencariikan, untuk mengambil kayu bakar dan damar, untuk mengambil barang tambang,dan sebagainya. Karena ketergantungan atas SDA ini sering kali menyumbangkan bagian pendapatan dan konsumsi penduduk miskin yang cukup besar, kemampuan mereka untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari akan mudah terpengaruh bila kualitas SDA menurun. Wanita miskin pedesaan di negara-negara sedang berkembang sangat dipengaruhi oleh degradasi SDA, karena mereka umumnya terlibat dalam pengambilan kayu bakar, rumput pakan ternak dan air. Mereka rata-rata menghabiskan waktu sekitar 2-9 jam per hari untuk mengumpulkan kayu bakar dan pakan ternak, sementara wanita di Lombok perlu 7 jam sehari untuk mencari kayu bakar saja. Sebagai konsekuensi dari meningkatnya penggundulan hutan, kaum wanita miskin ini terpaksa harus berjalan lebih jauh dengan waktu lebih lama untuk mencari kayu bakar. Hal ini mengurangi waktu bagi mereka untuk kegiatan-kegiatan ekonomi yang menghasilkan pendapatan, tanggung jawab mengurusi keluarga termasuk merawat anak-anak, dan bahkan mungkin berpengaruh negatif terhadap kesehatan mereka. Memang hubungan antara kondisi lingkungan dan SDA dengan pendapatan dan konsumsi rumahtangga tidak bersifat langsung. Kemiskinan dapat mendorong orang untuk mengeksploitasi SDA secara tidak berkelanjutan, seperti mereka terpaksa untuk tinggal dan bertani di wilayah dengan kemiringan lahan yang curam, yang dapat menyebabkan erosi dan menurunnya produktivitas lahan. Sumber: Strategi-Penanggulangan-Kemiskinan-Di-Indonesia-Puguh-B-Irawan-Oktober-2004……. Diunduh 3/4/2012

108 LINGKUNGAN DAN KESEHATAN Kesehatan lingkungan (environmental health) dapat didefinisikan sebagaisemua kegiatan yang bertujuan untuk menghindari timbulnya resiko atas gangguankesehatan melalui kontrol eksposur manusia terhadap agen-agen biologi (bakteri, virus dan parasit), kimia (logam berat, pestisida dan pupuk), vektor penyakit(nyamuk dan siput), dan berbagai bahaya fisik dan keselamatan jiwa (kecelakaanlalu-lintas, kebakaran, keadaan panas dan dingin yang ekstrim, kebisingan dan radiasi). Selain itu, kesehatan lingkungan juga dikaitkan dengan pengaruh penggundulan hutan ( Deforestation ) dan kerusakan tanah (land degradation) terhadap kesehatan. Beberapa ukuran indikator diperlukan untuk menggambarkan secara menyeluruh tentang pengaruh dari determinan kesehatan lingkungan terhadap dimensi kemiskinan. Salah satu indikator yang sensitif adalah DALY (disability-adjusted life years), yang mengukur beban penyakit yang dialami oleh suatu komunitas atau bangsa untuk melihat besarnya dampak program intervensi kesehatan terhadap perbaikan kondisi kesehatan. Sangat disayangkan, sampai sejauh ini indikator DALY belum pernah dihitung di Indonesia, baik secara agregat nasional maupun menurut wilayah, mengingat tidak tersedianya data tentang lamanya kehilangan hidup dan hidup sehat yang disebabkan oleh kematian premature, penyakit dan cacat fisik dan mental dalam sistem statistik nasional. Sumber: Strategi-Penanggulangan-Kemiskinan-Di-Indonesia-Puguh-B-Irawan-Oktober-2004……. Diunduh 3/4/2012

109 Sumber: indonesia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=186:penanggulangan-kemiskinan- dengan-menjaga-lingkungan-mengapa-tidak&catid=16:berita-oks&Itemid=47……. Diunduh 3/4/2012 Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Lingkungan Mandiri Pedesaan (PNPM LMP) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Lingkungan Mandiri Pedesaan (PNPM LMP), dimana sebelumnya dikenal sebagai PPK (Program Pengembangan Kecamatan) Hijau atau PPK Lingkungan. Program Pendukung PNPM Mandiri Perdesaan ini mengutamakan perbaikan pengelolaan lingkungan dan sumberdaya alam secara lestari ke dalam salah satu program nasional dalam penanggulangan kemiskinan yang terintegrasi di Indonesia. Pendanaan pada PNPM LMP berupa hibah dari Bank Dunia dengan mekanisme program dan pendanaan mengikuti PNPM Mandiri Perdesaan. “Tujuan dasar PNPM LMP, adalah meningkatkan kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin di perdesaan dengan mendorong kemandirian dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan perdesaan melalui pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam secara lestari. Sampai tahun 2008, program PNPM belum banyak menyentuh lingkungan, masih kegiatan fisik. Ada 11 prinsip dasar PNPM LMP yaitu: 1.Bertumpu pada pembangunan manusia; 2.Otonomi; 3.Desentralisasi; 4.Berorientasi pada masyarakat miskin; 5.Partisipasi; 6.Kesetaraan dan keadilan gender; 7.Demokratis; 8.Transparansi dan akuntabel; 9.Prioritas; 10.Keberlanjutan; 11.Berpihak kepada lingkungan “Prinsip dasar yang ke sebelas ini yang membedakannya dengan PNPM MP, prinsip ini diterapkan sejak saat penggalian gagasan. Selain itu proses penggalian gagasan ini mulai dari bawah ke atas. Jadi mulai dari tingkat dusun, untuk mengetahui potensi dan kebutuhannya apa. Kegiatan tidak tiba-tiba muncul, tetapi melalui proses diskusi yang panjang, terkait isu- isu lingkungan dan sumberdaya alam.

110 Sumber: 2.PDF ……. Diunduh 4/4/2012 HUTAN, MATA PENCAHARIAN DAN KEMISKINAN Untuk memahami bagaimana kawasan hutan Indonesia harus dikelola untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dengan lebih baik, khususnya para penduduk miskin, maka perlu memahami penyebaran penduduk dan hubungan antara kemiskinan dengan lahan hutan. Perlu dipahami juga bagaimana penduduk memanfaatkan kawasan yang berhutan dan tidak berhutan untuk memperoleh manfaat ekonomi. Bab ini membahas tinjauan hukum dan kebijakan yang terkait dengan kehutanan dan pengurangan kemiskinan, menganalisis penyebaran regional penduduk Indonesia, dan menyajikan perkiraan tentang hubungan antara kemiskinan dan tutupan hutan. Setiap upaya untuk memperbaiki keadaan atau meningkatkan lapangan kerja bagi penduduk miskin atau rentan melalui pemanfaatan atau alokasi lahan hutan harus mengenali dahulu ketimpangan mendasar dalam penyebaran populasi di Indonesia yaitu seberapa besar penduduk berada di Jawa dan kebanyakan miskin lahan. Beberapa lokasi di Indonesia merupakan areal pertanian dengan pemukiman padat, sedangkan beberapa wilayah lainnya merupakan kawasan perbatasan dengan sumberdaya dan pemukiman yang lebih jarang. Hal ini mempersulit alokasi sumberdaya pembangunan secara menyeluruh, khususnya penyediaan layanan untuk wilayah miskin yang terpencil. Pada saat yang sama, terdapat jutaan hektar lahan rusak yang sebenarnya dapat dialih fungsikan untuk penggunaan yang lebih produktif agar bermanfaat bagi perekonomian dan penduduk miskin.

111 Sumber: ……. Diunduh 4/4/2012 Masyarakat, Mata Pencaharian dan Pengentasan Kemiskinan Hutan dan kehutanan memainkan peranan penting dalam upaya pengentasan kemiskinan dengan menaikkan pendapatan, meningkatkan keamanan pangan, mengurangi kerentanan, dan memperbaiki kelestarian sumberdaya alam. Kesemuanya ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Disamping kebutuhan kayu bakar untuk memasak, “hutan memberikan kontribusi untuk mata pencaharian masyarakat dengan menyediakan bahan baku untuk bangunan, pembuatan keranjang, struktur penyimpanan, alat pertanian, pembuatan perahu serta perlengkapan untuk berburu dan menangkap ikan. Hutan juga merupakan sumber dalam sistem peternakan, seperti menyediakan pakan dan jerami, memberikan kontribusi terhadap sistim daur-ulang unsur hara dalam kawasan, membantu melestarikan kawasan dan air dan memberikan perlindungan dan naungan untuk tanaman dan ternak”. Di luar pangan dan bahan bangunan, hutan juga memberikan kontribusinya terhadap mata pencaharian dengan cara yang seringkali tidak langsung, yaitu dengan mengurangi resiko atau meningkatkan keamanan pangan, yang mungkin sangat berharga bagi penduduk miskin. Masyarakat sekitar hutan juga bisa turut menambah sumber mata pencaharian yang berbasis hutan dengan bekerja sebagai buruh pada perusahaan kayu atau di luar hutan. Potensi sumber mata pencaharian dan kontribusinya terhadap pengurangan kemiskinan, juga dipengaruhi oleh perbedaan gender dalam pemanfaatan hasil hutan.

112 Sumber: Diunduh 4/4/2012 PERAN KEMISKINAN DALAM PENEBANGAN HUTAN Kemiskinan berperan besar dalam memunculkan fenomena penebangan hutan secara tidak terkendali. Hutan-hujan dunia ditemukan di wilayah- wilayah termiskin di muka bumi. Masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan-hujan bergantung pada ekosistem ini untuk kehidupan mereka. Mereka mengumpulkan buah-buahan dan kayu, memburu hewan liar agar dapat makan daging, dan dibayar oleh usaha-usaha yang memanfaatkan sumberdaya alam dari hutan. Kebanyakan orang miskin di sekitar kawasan hutan tidak memiliki pilihan sumber matapencaharian yang mencukupi kebutuhan hidupnya. Mereka harus hidup dari lingkungan sekitar mereka dan menggunakan sumberdaya alam yang dapat mereka temukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kemiskinan merugikan seluruh dunia melalui degradasi sumberdaya hutan hujan tropis. Tanpa menyediakan bantuan untuk orang-orang ini, ekosistem hutan-hujan tak akan bisa diselamatkan..

113 Sumber: ……. Diunduh 4/4/2012 DEFORESTASI Pengertian Deforestasi didefinisikan sebagai penebangan tutupan hutan dan konversi lahan secara permanen untuk berbagai manfaat lainnya. Menurut definisi tata guna lahan yang digunakan oleh FAO dan diterima oleh pemerintah, lahan hutan yang telah ditebang, bahkan ditebang habis, tidak dianggap sebagai kawasan yang dibalak karena pada prinsipnya pohon-pohon mungkin akan tumbuh kembali atau ditanami kembali. Deforestasi yang terjadi di dunia termasuk Indonesia, sebenarnya telah terjadi sejak lama, namun tidak begitu dirasakan, tetapi akibat akumulasi kerusakan hutan tersebut (Baca: Struktur berubah fungsi berubah), maka kemampuan menyerap CO2 (hasil pembakaran), SO2 dan kemampuan suplai O2 menjadi berkurang, sehingga menambah suhu permukaan bumi dan akan terus berlangsung sepanjang masalah pengrusakan hutan ini tidak ditangani secara serius.

114 Sumber: ……. Diunduh 4/4/2012 DEGRADASI HUTAN Degradasi Hutan adalah suatu penurunan kerapatan pohon dan/atau meningkatnya kerusakan terhadap hutan yang menyebabkan hilangnya hasil-hasil hutan dan berbagai layanan ekologi yang berasal dari hutan. FAO mendefinisikan degradasi sebagai perubahan dalam hutan berdasarkan kelasnya (misalnya, dari hutan tertutup menjadi hutan terbuka) yang umumnya berpengaruh negatif terhadap tegakan atau lokasi dan, khususnya, kemampuan produksinya lebih rendah. Penyebab degradasi hutan adalah tebang pilih, pengumpulan kayu bakar, pembangunan jalan dan budidaya pertanian. Definisi degradasi bersifat subjektif, memiliki arti yang berbeda tergantung pada sudut pandang masyarakatnya. Rimbawan memiliki persepsi yang bervariasi terhadap arti degradasi. Sebagian mengatakan bahwa hutan yang terdegradasi adalah hutan yang telah mengalami kerusakan sampai pada suatu point atau titik dimana penebangan kayu maupun non kayu pada periode yang akan datang menjadi tertunda atau terhambat semuanya. Sedangkan sebagian lainnya mendefinisikan hutan yang terdegradasi sebagai suatu keadaan dimana fungsi ekologis, ekonomis dan sosial hutan tidak terpenuhi. Menurut Oldeman (1992), “degradasi” merupakan proses terjadinya penurunan kapasitas, baik saat ini maupun masa mendatang, untuk menghasilkan produk.

115 Sumber: Diunduh 4/4/2012 SAMPAH MASUK KE SUNGAI Kota Medan dilintasi oleh 6 (enam) sungai, yaitu : Sungai Deli, Sungai Babura, Sungai Denai, Sungai Putih, Sungai Belawan, dan Sungai Sikambing. Keenam sungai ini, secara visual terlihat sebagai saluran limbah dan tempat buangan sampah, sehingga kualitas keenam sungai ini sangat buruk.. Sungai Deli Membelah Kota Medan, Saluran Pembuangan Sampah Domestik (Credit Foto : Rudi Panjaitan, SH) Volume sampah Kota Medan dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang tinggi berkaiatan dengan pertumbuhan penduduk dan kehadiran industri baru. Menurut Dinas Kebersihan Kota Medan, bahwa untuk mengelola sampah ton/hari, hanya memiliki 112 unit (83 unit Truk Kuning jenis Tiper dan 19 unit bak container jenis Anrol) dengan kondisi yang tidak memadai. Tempat Pembuangan Akhir sampah berada di 2 (dua) lokasi, yaitu : Namo Bintang dan Terjun di Kecamatan Marelan.

116 Sumber: Koran TEMPO, 26 September Firdaus Cahyadi ; Diunduh 4/4/2012 KEMISKINAN DAN LINGKUNGAN KUMUH ….. di bawah jembatan jalan layang kawasan Tebet, Jakarta, seorang pemulung tidur beralaskan kardus dan tanpa selimut. Dinginnya udara seakan tak dihiraukannya. Sebuah kehidupan keras yang jauh dari hidup layak. Kisah kehidupan yang menyayat hati itu akan semakin terlihat bila kita lanjutkan perjalanan dengan kereta rel listrik (KRL) dari Tebet ke Bogor………………. Dari dalam KRL terlihat hamparan perumahan kumuh di sepanjang rel. Sebagian besar rumah-rumah itu terbuat dari tripleks dengan atap dari seng. Dari hari ke hari kantong kemiskinan di Jakarta ternyata makin luas. Di Jakarta Utara, misalnya, menurut Wali Kota Jakarta Utara, dalam dua tahun terakhir jumlah penduduk miskin meningkat dari 31 ribu keluarga menjadi 55 ribu keluarga. Sejak 2005 hingga awal 2008, jumlah penduduk miskin di Jakarta Utara bertambah sekitar 77,4 persen. Angka kemiskinan di kota ini dipastikan akan terus bertambah seiring dengan makin meningkatnya laju urbanisasi dari tahun ke tahun..

117 Sumber: ……. Diunduh 4/4/2012 Pemulung – Memilah Baik dan Buruk Pemulung adalah orang yang pekerjaannya memungut barang-barang bekas atau sampah tertentu untuk proses daur ulang. Bagi banyak orang, pekerjaan pemulung mempunyai ‘stigma’ yang negatif. Konotasi buruk ini terjadi karena ulah sebagian pemulung, yang mungkin melakukan pencurian. Oleh karena itu cukup banyak pemukiman yang melarang pemulung masuk, atau dibatasi hanya di jam tertentu saja. Menjadi pemulung tentu bukan menjadi harapan dan cita-cita, tapi keterpaksaan di saat terbatas atau mungkin tiada pilihan lagi. Berjuang mencari sebanyak mungkin barang bekas yang layak di daur ulang, berjalan kaki keliling sepanjang hari.

118 Sumber: ……. Diunduh 4/4/2012 Sebuah Ilmu, Belajar Qana’ah dari Pemulung Sampah Qona`ah adalah merasa tenang dan terima terhadap apa yang diberikan oleh Alloh kepadanya, tidak loba dunia, tamak, rakus ataupun menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya semata. Hidup Fauzan memang tergolong di bawah garis kemiskinan. Tanah tidak punya, gubuk reotnya mau roboh, pendapatan per pekan hanya sekitar Rp 100 ribu, dan anak punya dua. Tetapi, ia tetap berusaha menghadapi hidup dengan semangat dengan prinsip qana’ah (rela dan menerima pemberian Allah subhanahu wata’ala apa adanya, red). Bahkan di tengah ketidak-adilan ekonomi di negeri ini, ia tetap mampu tersenyum bersemangat memandang kehidupan. Ia mengerti bagaimana susahnya hidup di negeri ini. Meski demikian, ia tak mau menjadi orangtua cengeng dan tak bertanggung- jawab. Ia berharap, roda hidup akan berganti suatu hari agar Fauzan mampu mengantarkan anaknya hidup lebih baik. “Anak pertama saya kini kelas lima SD. Saya harap ia bisa menjadi orang sukses,” harapnya. Untuk memperbaiki ekonomi, Fauzan sebenarnya ingin berdagang. Tapi, apa boleh dikata, modal tak ada. Pendapatanya sehari-hari hanya cukup buat menyambung hidup keluarganya. Dia berangkat selepas subuh atau sekitar pukul 5.00 WIB. Di dua RW ini Fauzan mengais rezeki dari setiap bak sampah rumah-rumah penduduk. Benda-benda bekas atau rongsokan seperti plastik, kaleng dan lain sebagainya. Untuk mengisi becaknya hingga penuh, Fauzan setiap hari harus pulang malam. “Saya pulang malam setiap hari,” ungkapnya. Itu saja, kalau belum penuh, ia masih mencari di sepanjang jalan menuju rumahnya. Hasil pulungannya itu, ia kumpulkan selama sepekan. Setelah terkumpul banyak, baru ia jual ke pengepul sampah. Hasilnya relatif sedikit: sekitar Rp 120 ribu per pekan.

119 Sumber: emulung/……. Diunduh 4/4/2012 Sumatera Utara Jumat, 15 Apr :08 WIB SELAMATKAN LINGKUNGAN DENGAN MEMULUNG Medan Bisnis – Tebingtinggi. Bagi sebagian orang, profesi pemulung dianggap identik dengan pekerjaan kotor, sebab sehari-hari harus bergaul dengan sampah yang berbau dan menjijikkan. Namun demikian, seringkali dilupakan bahwa dibalik "kehinaan" itu ternyata terkandung nilai luhur dalam menyelamatkan lingkungan hidup kita. Misalnya, sampah rumah tangga dari plastik yang tidak dapat dirombak / diurai oleh mikroba tanah. Di tangan para pemulung, sampah-sampah plastik yang dipandang menjijikkan itu memiliki nilai rupiah yang cukup besar. Seperti yang dilakukan oleh pasangan suami istri, R Hutabarat (37) dan K Br Lubis (32) warga Jalan Baja, Lingkungan II, Kelurahan Damar Sari, Kecamatan Padang Hilir, Kota Tebingtinggi. Pasutri ini mengaku sudah lima tahun menjalani profesi sebagai pemulung dan pengumpul barang-barang sisa rumah tangga yang terbuat dari berbagai jenis plastik seperti plastik kresek dan barang plastik lainnya secara sabar dan penuh ketekunan. Menurut pemulung ini, plastik-plastik yang dikumpulkannya itu berasal dari rekan pemulung lain yang sengaja mencari-cari di lobang-lobang sampah dan juga dari lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Mereka membelinya dengan harga Rp 1.000/kg dari para pemulung lainnya, dan kadangkala sang suami juga mencari sampah plastic dengan menggunakan becak-sampahnya. "Kami hanya mencari sesuap nasi, masalah menjalankan kebersihan, melestarikan alam serta menyelamatkan bumi dari sampah plastik yang tidak sulit terurai itu kami tak tahu." Sampah-sampah plastik dicuci bersih dengan mesin pencuci, kemudiaan dijemur, dan dipilah-pilah menurut jenisnya, kemudian dipack ke goni selanjutnya dijual kepada agen yang berada di Medan. "Harga plastik jika dijual kering mencapai Rp 2.800/kg di tingkat agen. Betapa pentingnya peranan pemulung, tanpa ada pemulung plastik maka kota tidak akan bersih dari sampah rumah tangga yang berupa plastik- plastik ini.

120 Foto: SAMPAH PLASTIK Di tangan pemulung, sampah plastik yang dipandang menjijikkan ternyata memiliki nilai rupiah yang cukup menjanjikan. Terlihat K Br Lubis sedang memisahkan jenis plastik sampah rumah tangga yang tidak bisa terurai dengan tanah. (medanbisnis/ali yustono). Sumatera Utara Jumat, 15 Apr :08 WIB SELAMATKAN LINGKUNGAN DENGAN MEMULUNG Sumber: emulung/……. Diunduh 4/4/2012

121 Sumber: ……. Diunduh 4/4/2012 SAMPAH TIDAK BERSALAH Banyaknya sampah yang berserakan memang mengganggu kehidupan manusia. Namun demikian, dengan banyaknya permasalahan sampah yang terjadi, kita tidak bisa serta merta menyalahkan sampahnya. Berbicara masalah sampah, yang bertanggungjawab terhadap masalahnya adalah manusia sendiri. Tidak salah pula, bila satu lingkungan memilih untuk mengatasi persoalan sampah dengan cara dimusnahkan menggunakan tungku. Seperti penggunaan tungku pemusnah sampah yang dilakukan warga di satu lingkungan wilayah Cikarang Utara. Berkat penggunaan tungku buatan Salikun, persoalan sampah yang semula tidak teratasi, kini dengan mudah bisa teratasi.. Diposkan oleh Salikun di 23: Febr 2012Salikun 23:16

122 Sumber: lingkungan.html ……. Diunduh 4/4/2012 PENCEMAERAN AIR OLEH SAMPAH Pencemaran air terjadi karena masuknya zat-zat yang mengakibatkan kualitas air terganggu. Hal ini dapat terjadi pada sumber mata air, sungai, waduk, dan air laut. Pencemaran tanah terjadi akibat masuknya zat atau komponen lain ke dalam areal tanah. Menurut jenisnya bahan pencemar air dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: a. Pencemaran biologi Pencemar biologi dalam perairan antara lain: 1) Escherichia coli; 2) Entamoeba coli; 3) Salmonella typhi 4) Tumbuhan Pengganggu (Gulma) 5) Tumbuhan Eceng Gondok (Eichornia crassipes) 6) Tumbuhan Paku Sampan (Salvinia natans) b. Pencemaran kimia Pencemar kimia dalam perairan dapat disebabkan oleh Zat-zat kimia. Misalnya pestisida, limbah industri, buatan, dan deterjen yang kesemuanya dapat berakibat buruk terhadap pertumbuhan organisme di perairan. Sampah Plastik yang terdapat di sungai

123 Sumber: Diunduh 4/4/2012 Pencemaran Ciliwung karena Limbah Rumah Tangga By Republika Newsroom Jumat, 19 Juni 2009 pukul 18:58:00 JAKARTA -- Pencemaran air Sungai Ciliwung saat ini sudah memasuki tahap pencemaran berat, sebagian besar penyebab pencemaran itu adalah limbah domestik atau sampah rumah tangga. Pencemaran berat akan mengakibatkan biota sungai berkurang dan airnya tidak dapat dimanfaatkan secara layak. Berdasarkan hasil pemantauan terakhir 2008 di enam titik, hanya dua titik pemantauan yang termasuk indek pencemaran airnya kategori sedang, yakni di sekitar Condet dan Kelapa Dua.Sedangkan empat titik pemantauan lainnya kualitas air Ciliwung sudah tercemar berat dilihat dari parameter kimia dan biologinya. Keempat titik tersebut yakni Manggarai, Kwitang, Pantai Marina dan Kapuk Muara (PIK). Kalau bulan Oktober atau musim hujan, kualitas air sedikit lebih baik kecuali di Marina dan Kapuk Muara. Pencemaran Sungai Ciliwung bukan didominasi limbah industri, karena sepanjang sungai Ciliwung tidak terlalu banyak industri. Namun penyebab utamanya adalah kebiasaan warga membuang sampah dan limbah rumah tangga langsung ke dalam sungai. Data tahun 2007 dari Dinas Kebersihan DKI Jakarta, volume sampah dari seluruh wilayah DKI Jakarta sekitar 6000 ton setiap harinya termasuk sampah dari sungai. Jumlah tersebut akan terus bertambah seiring bertambahnya jumlah penduduk DKI Jakarta setiap tahunnya..

124 Sumber: ……. Diunduh 4/4/2012 PENCEMARAN SUNGAI OLEH LIMBAH RUMAHTANGGA Surabaya, 18/11/2011. Seorang bapak sedang menunggui anaknya yang sedang buang air besar di Kali Surabaya. Sungai merupakan salah satu median penyebaran bakteri E-COLI yang paling cepat karena air sungai sebagai bahan baku air bersih yang dibutuhkan warga digunakan untuk buang air besar bahkan sebagai tempat buang sampah. File name: DSC_9840.jpg Captured: Nov 18, :23:03

125 Sumber: Diunduh 6/4/2012 PERMUKIMAN KUMUH MENGAPA BANYAKNYA PERMUKIMAN KUMUH DI JAKARTA ??? Pesatnya perkembangan kota-kota besar diindonesia mendorong adanya arus migrasi penduduk besar-besaran. Hal inilah kemudian yang menjadi masalah yang tak kunjung selesai, mulai dari banyaknya pengagguran hingga kebutuhan tempat tinggal yang layak. Permasalahan ledakan penduduk ini sudah menjadi masalah klasik yang belum juga diatasi secara menyeluruh. Sementara angka pengangguran di Jakarta terus merangkak naik dari tahun ke tahun, hal ini jelas semakin mempengaruhi mempengaruhi kebutuhan permukiman. Akibatnya terjadi penurunan kualitas permukiman di Jakarta yang menyebabkan banyaknya permukiman kumuh. Ada dua macam cara untuk menangani permukiman kumuh; pertama adalah program jangka panjang, yaitu melakukan redistribusi kawasan, hal ini dimaksudkan agar semua kegiatan industry tidak fokus ke Jakarta saja, kota-kota satelit seperti Tangerang, Bekasi, Depok serta Bogor pun harus dimanfaatkan supaya Jakarta tidak kelebihan beban. Cara ke dua adalah program jangka pendek, yaitu memangun kesadaran masyarakat untuk melakukan pengurangan resiko terhadap bencana yang biasanya ditimbulkan didaerah permukiman kumuh seperti banjir dan kebakaran.

126 Sumber: Diunduh 6/4/2012 PERMUKIMAN KUMUH Permukiman adalah sebuah kawasan yang menjadi wadah bagi hidup manusia beserta dengan kelompoknya. Untuk dapat hidup dengan baik, yaitu hidup yang dapat menumbuhkembangkan dirinya sebagai mahkluk individu dan sosial, manusia membutuhkan lingkungan permukiman yang baik, yaitu yang memenuhi berbagai persyaratan kelayakan. Persyaratan ini biasanya dibangun dan dikembangkan oleh pihak yang berwenang, dalam hal ini adalah pemerintah. Permukiman kumuh adalah permukiman yang tidak memnuhi persyaratan seperti yang telah ditetapkan tersebut.

127 Sumber: sumber-bencana/……. Diunduh 6/4/2012 PERMUKIMAN KUMUH Sungai Ciliwung; Dulu Terbersih kini Sumber Bencana Banjir lagi, banjir lagi. Jakarta di tangan ahlinya saja masih kewalahan menghadapi fenomena yang satu ini. Jangankan menghilangkan, meminimaliskan banjir saja bukan main susahnya. Perilaku masyarakat dituding menjadi penyebab terjadinya banjir atau genangan. Membuang sampah sembarangan sehingga drainase menjadi tersumbat memang merupakan pemandangan sehari-hari, terutama di wilayah-wilayah sepanjang bantaran Sungai Ciliwung. Semakin derasnya arus urbanisasi ke Jakarta, kondisi Ciliwung semakin amburadul. Banyaknya permukiman kumuh di Jakarta menyebabkan Ciliwung beralih fungsi menjadi “tempat pembuangan sampah dan tinja terpanjang di dunia”.

128 Sumber: Diunduh 6/4/2012 PERMUKIMAN KUMUH Kampung Nelayan BaTam Posted on 12 April, 2009 by esther BAGAN TAMBAHAN (BaTam) – Bagan Deli : Kampung Nelayan yang Miskin Di kawasan Teluk Belawan terdapat pemukiman nelayan yang terkonsentrasi di tiga lokasi, yaitu kelurahan Belawan Bahagia dan kelurahan Belawan I – di tepi sungai Belawan, serta di kelurahan Bagan Deli – di tepi sungai Deli. Dari atas jembatan dapat dilihat beberapa perahu nelayan tradisional parkir di belakang rumah nelayan yang berada di atas bantaran sungai Deli. Tampak beberapa perahu nelayan sedang bergerak menuju muara kearah lautan lepas. Kesan yang tampak jelas dari atas jembatan adalah sungai yang begitu kotor dengan sampah dan perkampungan yang sangat kumuh. Karena letaknya persis diatas bantaran sungai, maka rumah harus dibangun kira-kira 1 meter diatas permukaan air sungai pada waktu surut. Menurut penduduk setempat, pada saat air pasang maka permukaan air dapat naik sampai melebihi 1 meter.

129 Sumber: Diunduh 6/4/2012 PERMUKIMAN KUMUH Sunday, February 27, 2011 Kemiskinan Di Cilacap Menurut catatan harian Kompas edisi 10 januari 2011 kemiskinan kian menjerat nelayan di pantai selatan Cilacap. Dari sekitar 20,000 perahu kini hanya sekitar 20 persen yang aktif melaut akibat paceklik berkepanjangan. Paceklik disebabkan bukan hanya karena cuaca buruk tetapi juga karena hasil tangkapan sudah tidak sebanding dengan biaya. Padahal biaya melaut dari utang. Sebagian nelayan terpaksa beralih profesi menjadi pemulung, buruh bangunan atau TKI di luar negeri. Akibatnya omzet penjualan di TPI Cilacap pada tahun 2010 turun hingga 70% yaitu dari Rp 50 miliar menjadi Rp 20 Miliar. Pada 5-10 tahun lalu omzet perdagangan ikan di Cilacap rata – rata di atas Rp 100 miliar per tahun.

130 Sumber: ……. Diunduh 6/4/2012 PERMUKIMAN KUMUH 80% Nelayan di Sukabumi miskin Dari nelayan di Sukabumi, sekitar 80%-nya masih hidup di bawah garis kemiskinan dan hanya 20% yang masuk dalam kategori sejahtera. Hampir 50 persen nelayan di Kabupaten Sukabumi hidupnya sangat miskin. Kriteria yang digunakan HNSI dalam menyimpulkan tingkat sejahtera, dilihat dari penghasilannya, rumahnya, makannya serta kehidupan sehari-harinya. Nelayan yang termasuk pada kategori sangat miskin, adalah nelayan yang penghasilannya sangat minim atau di bawah Rp20 ribu/hari, tidak memiliki rumah, makannya hanya mengandalkan hasil upah melautnya dan hidupnya tergantung pada orang lain serta terjerat hutang rentenir. Sementara mereka yang hidup dalam garis kemiskinan, adalah nelayan yang penghasilannya di atas Rp20 ribu/hari, memiliki rumah sendiri walaupun tidak layak huni tetapi tidak selalu bergantung kepada orang lain. Nelayan yang sejahtera saat ini jumlahnya masih sangat sedikit, yang dimaksud sejahtera yakni memiliki rumah yang sudah layak, memiliki kapal penangkap ikan sendiri dan penghasilannya pun sangat mencukupi untuk kehidupan sehari-harinya. Untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan pihaknya juga mendorong agar pembangunan lokasi minapolitan di Palabuhanratu, yang segera dilaksanakan. Dengan adanya minapolitan akan kesejahteraan nelayan bisa meningkat dan peluang usaha lautnya pun meningkat, katanya.


Download ppt "KOMPENDIUM KAJIAN LINGKUNGAN DAN PEMBANGUNAN KEMISKINAN DAN LINGKUNGAN Dikoleksi oleh: Etik Setyaningsih, Irwan Zulkifli Matondang, dan Soemarno PM PSLP."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google