Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Para ahli sosiologi tidak sepaham dengan disiplin “Educational Sociology” karena :  Tidak berkaitan dengan arus.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Para ahli sosiologi tidak sepaham dengan disiplin “Educational Sociology” karena :  Tidak berkaitan dengan arus."— Transcript presentasi:

1

2 Para ahli sosiologi tidak sepaham dengan disiplin “Educational Sociology” karena :  Tidak berkaitan dengan arus utama kajian sosiologi yang telah berkembang pesat di Amerika Serikat.  Lebih bersifat programatis (ke arah program-program kependidikan), dan memiliki banyak polemik dengan para ahli filsafat sosial atau pedagogi (ahli ilmu pendidikan)  Penelitian-penelitian yang dilakukan sering kali dibuat dengan kadar metode atau teknik penelitian yang sangat sederhana. Penelitiannya cenderung terarah pada pertanyaan-pertanyaan praktek pendidikan bukan pada permasalahan yang bersifat spesifik sosiologis.  Sebagian besar penelitian pendidikan sudah ditangani oleh para ahli pendidikan yang tidak memiliki latar belakang sosiologi. Sehingga ada kesan disiplin ini telah dikuasai oleh para ahli psikologi pendidikan atau ahli pedagogi.  Pendidikan tidak dikaitkan dengan persoalan-persoalah sosial, sehingga terkesan mengabaikan upaya untuk membuat kebijakan- kebijakan sosial tentang pendidikan.

3 PERBEDAAN ANTARA “EDUCATIONAL SOCIOLOGY” (ES) DENGAN ‘SOCIOLOGI OF EDUCATION’ (SE): ES :  Tekanannya pada pertanyaan-pertanyaan yang bersifat kependidikan  Merupakan aplikasi prinsip-prinsip umum dari penemuan sosiologi yang dimanfaatkan untuk pelaksanaan praktik dan proses pendidikan. SE:  Tekanannya pada permasalahan-permasalahan sosiologis, misalnya analisis terhadap proses-proses sosiologis yang berlangsung dalam pranta pendidikan.  Perhatian utamanya pada upaya menemukan aspek-aspek sosiologis dari fenomena pranata pendidikan.  Masalah-masalah yang dikaji adalah masalah-masalah esensial sosiologi, bukan merupakan masalah praktis pendidikan.

4 *Kajian-kajian dalam sosiologi pendidikan dapat ditelusuri di dalam ranah:  pendidikan formal: sekolah (pra SD hingga PT), terstruktur, dan memiliki kurikulum yang telah ditentukan  pendidikan non-formal: (kursus, pelatihan, dll), terstruktur namun tidak seketat pendidikan formal  pendidikan informal: (community based education: pendidikan yang berlangsung di lingkungan rumah, ketetanggaan, teman sepermainan, media massa,dll) *Pendidikan: pranata/institusi sosial di mana masyarakat mengajarkan kepada para anggotanya tentang berbagai pengetahuan penting, termasuk fakta-fakta yang terjadi di masyarakat, keterampilan- keterampilan kerja, norma-norma serta nilai-nilai budaya. *Persekolahan (schooling): Instruksi atau arahan formal di bawah kendali orang-orang yang memiliki kompetensi (guru-guru), yg terdapat berbagai aktivitas dan program pembelajaran yang terstruktur dan diselenggarakan di sekolah berdasarkan kurikulum tertentu

5  Realitas persekolahan pada masa kini *Perluasan makna persekolahan di berbagai negara berkaitan erat dengan tingkat pembangunan ekonomi di negara tersebut. *Di negara yang penduduknya mayoritas berpenghasilan menengah ke bawah (low and middle income countries) sekolah bukan sarana untuk memperbesar kemakmuran/kekayaan, karena yang lebih berperan dalam mendidik anak-anak adalah keluarga dan komunitas  mengajarkan pengetahuan dan keterampilan agar dapat bertahan hidup. *Sekolah formal dianggap tidak secara langsung berkaitan dengan upaya untuk bertahan hidup (survival)  karena sekolah disediakan utamanya bagi orang-orang kaya yang tidak lagi membutuhkan kerja (mencari uang) *Di beberapa negara yang berpenghasilan menengah-bawah, sekolah juga mencerminkan budaya nasionalnya. Seperti di Iran, kegiatan persekolahan secara dekat dihubungkan dengan Islam, begitu juga persekolahan di Bangladesh, Zimbabwe dan Nikaragua, sekolah dibentuk oleh tradisi budaya yang berbeda di masing-masing negara.

6 Fungsi Latent ((tidak tertulis, terkadang menjadi akibat dari berjalannya fungsi manifest yang tidak diharapkan):  Lemahnya pengendalian orangtua kepada anak-anaknya yang masuk ke lembaga pendidikan (sekolah)  Dengan masuk sekolah, masa remaja semakin panjang dan masa dewasa tertunda, ketergantungan ekonomi pada orangtua semakin panjang, terlambat masuk dunia kerja  Sekolah menjadi arena menyemaikan bibit-bibit pembangkangan atau pendobrakan nilai-nilai yang telah mapan/konservatif/dogmatis  Sekolah mempertahankan sistem stratifikasi/pembagian kelas  Sarana untuk menerapkan hidden curriculum (kurikulum tersembunyi): pola/cara sosialisasi & pembelajaran yang tidak terstruktur & tidak direncanakan tetapi terjadi di sekolah, berfungsi untuk: Sosialisasi pengetahuan, sikap, keterampilan, nilai-nilai atau norma tertentu, tujuan-tujuan kelompok, dll.

7  Pendidikan merupakan alat untuk mengembangkan kesadaran diri sendiri (self conciousness) dan kesadaran sosial (collective conciousness), di mana perpaduan keduanya menjadikan masyarakat stabil, disiplin dan utuh. Hal ini dikarenakan melalui penidikan, anak-anak akan dilatih untuk mencerna 3 unsur moral yaitu disiplin, keterikatan/identifikasi diri dg kelompok, dan otonomi yang didukung oleh pengetahuan. Dengan memperhatikan unsur-unsur moral tersebut, maka pendidikan akan mewujudkan tujuan sosial masyarakat, yaitu mewujudkan peserta didik yg sadar terhadap dirinya sendiri dan juga sadar akan kepentingan sosial masyarakat.  Disiplin menurut Durkheim: adalah konsistensi dan keteraturan tingkah laku, yang juga meliputi wewenang yang berfungsi untuk membantu manusia untuk menetapkan cara-cara tertentu sehingga mampu memberi respon yang pantas, serta memberi jawaban kepada individu tentang arti pengekangan, yang memungkinkan individu menahan diri (untuk mendapatkan tujuan-tujuan tertentu mencapai secara bertahap)

8  Kesetaraan kesempatan (equality opportunity) yang dapat diperoleh/diberikan pada anak-anak kelas bawah adalah ilusi/khayalan, karena: Latar belakang kelas sosial seseorang adalah faktor penentu yang mempengaruhi tingkat pencapaian pendidikan dan prestasi seseorang. Sistem stratifikasi kelas justru dibangun dari sistem pendidikan yang berkembang cepat di masyarakat; Masyarakat kelas menengah-atas cenderung menyekolahkan anak- anaknya ke sekolah privat/bergengsi; masyarakat kelas bawah menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah yang sesuai dengan kondisi mereka.

9 *Arti Pendidikan (Ki Hajar Dewantara):  Upaya untuk menuntun kehidupan dan tumbuh kembang anak;  Upaya menuntun segala kekuatan kodrati yang ada pada anak untuk menjadikan dirinya sebagai manusia dewasa dan anggota masyarakat yang berdaya guna  menjadi manusia yang selamat dan bahagia;  Upaya untuk mengembangkan budi pekerti, pikiran dan jasmani anak. *Prinsip-prinsip mendidik adalah:  ING NGARSO SUNG TULADA: Di depan memberi teladan  ING MADYO MANGUN KARSO: Di tengah memberi inspirasi, membangkitkan motivasi untuk berkarya;  TUT WURI HANDAYANI: Mengikuti dari belakang dengan memberi dorongan dan arahan

10  Meso: menggunakan prinsip atau konsep-konsep sosiologi untuk memahami persoalan yang terjadi di dalam organisasi/sistem pendidikan atau persekolahan: *Sekolah sebagai agen birokrasi/kelompok dominan (penguasa) *struktur yang terbentuk merupakan relasi kekuasaan di antara para aktor di sekolah dan di luar sekolah (suprastruktur) * Adanya partisipasi masyarakat di dalam pendidikan (desentralisasi)

11 Karl Mannheim (Inggris)  Pendidikan sebagai salah satu elemen dinamis dalam sosiologi (alat pengendalian sosial)  Ahli sosiologi seharusnya tidak memandang pendidikan semata-mata sebagai alat untuk merealisasikan cita-cita abstrak masyarakat atau alat untuk mengalihkan spesialisasi teknis pekerjaan tertentu, tetapi sebagai bagian dalam proses membentuk/memengaruhi manusia.  Pendidikan hanya dapat dipahami dengan mengetahui: murid-murid dididik untuk masyarakat apa dan untuk posisi sosial mana mereka nanti akan ditempatkan (fungsi pendidikan sebagai “penempatan sosial”)  Pendidikan dimaknai dalam arti luas: tidak hanya formal tetapi juga nonformal/informal: *bahwa pendidikan yang dilakukan oleh masyarakat itu bahkan lebih hebat daripada pendidikan formal.  Menurutnya: pendidikan adalah suatu teknik sosial yaitu menyediakan suatu lingkungan sosial yang dirancang untuk menghasilkan pribadi demokratis agar dapat berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat yang demokratis

12 KARL MARX  Terdapat kontradiksi di antara metode pendidikan yang digunakan masyarakat dengan sifat pekerjaan mereka nantinya. Kontradiksi itu adalah:  Di sekolah: siswa diajarkan otonomi individu, kreativitas dan cara- cara merespon dunianya (mengajarkan kebebesan dan pengembangan individu)  Di dunia kerja siswa nantinya hanya akan menjadi buruh yang harus tunduk pada keseragaman, keteraturan, tidak boleh berkreasi sekehendak hatinya (tunduk/patuh pada majikan/pemilik modal).  Penyebab kontradiksi itu menurut Marx: *terdapat hubungan-hubungan ekonomi (yang asimetris/tidak seimbang) dalam sistem produksi masyarakat; *terjadi dominasi dari satu golongan atas golongan yang lain.

13 GEORGE HERBERT MEAD  Generalized Other : individu dapat mengembangkan suatu pengertian tentang orang lain secara umum, terutama dengan melihat posisi-posisi sosial dan peran-peran yang dimainkan setiap individu dalam suatu “team game” digunakannya istilah “aktor” bagi orang-orang yang terlibat di dalam sistem persekolahan (guru, kepala sekolah, murid, orangtua murid, pegawai administrasi atau pesuruh sekolah, pihak dinas pendidikan, dll)  Significant Other : keberadaan orang lain dianggap bermakna di dalam kehidupan individu.  (teman sepermainan, guru yang membimbing murid, orangtua yang mendampingi belajar murid, dll)  Social Setting (latar sosial/struktural) : adalah konsep di mana perilaku individu merupakan produk dari latar sosial dan interaksi dengan lingkungan sosialnya.  sekolah adalah social setting yang dapat dipelajari untuk melihat proses-proses sosial yang terjadi di sekolah.

14 ALFRED SCHUTZ  Indeksikalitas: makna yang disampaikan seseorang yang tidak atau jarang diartikulasikan dalam proses berbicara itu sendiri.  Yang terjadi : yang berbicara beranggapan bahwa antara dirinya dengan lawan bicaranya memiliki persamaan dalam hal makna, sehingga kata-kata yang diucapkan ditafsirkan di dalam konteks yang dimaksudkan atau “diindekskan” oleh bahasa.(ada prosedur interpretatif)  Indeksikalitas banyak dimanfaatkan dalam studi sosiologi pendidikan, misalnya : *Di ruang kelas, murid harus memahami indeksikalitas dalam ucapan guru, agar murid dapat menangkap pesan-pesan guru. *Guru dan murid berusaha mencari prosedur-prosedur intepretatif, fungsinya untuk ketertiban dan terlaksananya proses belajar-mengajar. *Sekolah mempunyai standar tipifikasi (pen-tipe-an atau pengkategorian) yang kemudian diintepretasikan murid dengan berbagai jenis perilaku: “baik”, “dapat diterima” atau “menyimpang”

15 MAX WEBER  Kelompok kelas : adalah kumpulan individu yang berada dalam posisi sosial yang sama (misalnya: kesamaan derajat ekonomi, kesamaan agama, kesamaan tingkat pendidikan, dsb.) dianggap berada dalam kelompok kelas yang sama.  Kelompok status : adalah kelompok kelas yang memiliki prestige (gengsi/wibawa) yang sama atau memiliki gaya hidup yang sama, mereka sadar akan hal itu dan menggunakan gaya hidup tersebut dalam bermasyarakat  melalui gaya hidup tersebut dapat membedakan diri mereka dengan kelompok kelas yang lain).  Organisasi dan birokrasi dapat digunakan untuk menganalisis struktur sosial di sekolah.

16 TALCOTT PARSONS  Konsep sistem sosial dalam konteks pendidikan antara lain: *Ruang kelas dijelaskan berdasarkan fungsinya bagi sekolah *Sekolah dijelaskan berdasarkan sistem pendidikan *Sistem pendidikan dijelaskan berdasarkan fungsinya bagi masyar  Dalam setiap tindakan sosial, kita akan dihadapkan pada lima dilema (atau variabel-variabel pola): 1. Afektivitas dan netralitas afektif  pilihan antara memandang tujuan pribadi/diri sendiri atau sebagai bagian dari rencana yang lebih luas; 2. Specifity (kekhususan) & diffuseness (kebauran) 3. Universalism (menyeluruh) & particularism(istimewa/khusus) 3. Self orientation (terarah pada diri sendiri) and collectivity orientation (terarah kepada kolektivitas/kelompok) 4. Achievement (prestasi) & ascription (pemberian)akat

17 PERSPEKTIF STRUKTURAL FUNGSIONALISME  Emile Durkheim *Fungsi utama pendidikan: Sebagai agen yang mentransmisikan norma-norma dan nilai-nilai masyarakat; *Fungsi/peran sekolah: 1. Menanamkan nilai-nilai dan keterampilan ‘baru’ yang tidak didapat anak- anak dari lingkungan keluarga atau sosialnya. 2. Mengajarkan disiplin secara tegas  agar murid terbiasa menaati norma dan nilai-nilai masyarakat, melatih disiplin diri  kesalahan yang diperbuatnya akan merusak masyarakat secara keseluruhan (bukan karena menghindari hukuman) 3. Mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan untuk pekerjaan-pekerjaan di masa datang  tempat alih pengetahuan dan keterampilan seiring dengan meningkatnya pembagian kerja yang kompleks dan terspesialisasi di masyarakat.

18 Perspektif Fungsionalisme Teknis  Meningkatnya jumlah tenaga ahli di berbagai bidang pekerjaan terutama disebabkan oleh perubahan teknologi. *Proposisi tersebut didasari atas fenomena : 1. pekerjaan yang mensyaratkan keahlian rendah jumlahnya semakin menurun, dan pekerjaan yang mensyaratkan keahlian tinggi semakin meningkat. 2. Banyak pekerjaan (di masa y.a.d) yang semakin membutuhkan tenaga berkeahlian tingkat tinggi.  Pendidikan formal pada akhirnya harus menyediakan pelatihan keterampilan bagi siswa-siswanya.  Oleh karena didorong oleh semakin tingginya tuntutan tenaga kerja yang berpendidikan atau berkeahlian, maka pada akhirnya masyarakat akan menempuh periode sekolah yang semakin lama/panjang.  Teori ini mendukung MERITOKRASI DAN TEKNOKRASI di dalam sistem stratifikasi sosial

19 PERSPEKTIF LIBERALISME  Lebih menitikberatkan peran individu yang mempengaruhi kehidupan sosial/masyarakat  Individu dianggap: (1). Memiliki kemampuan sebagai penentu keberhasilan pendidikan dan sukses karir seseorang di masyarakat; (2). Setiap individu memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk mencapai kesuksesan (equality of opportunity); (3). Individu berperan untuk kestabilan norma dan nilai-nilai di masyarakat; (4). Semua individu memiliki potensi dan kecerdasan yang sama secara intelektual; (5.) Manusia adalah individu yang otonom (berkehendak bebas), setiap individu mampu memilih dan memiliki kehendak bebas untuk mengembangkan potensinya.

20 Perspektif konflik  Pendidikan cenderung bersifat kelas, konsekuensinya mereka menyarankan untuk membebaskan pendidikan dari pengaruh kelas yang berkuasa. Tesis ini didasarkan atas fenomena : (1). sekolah merupakan sarana dari kaum kapitalis untuk meneruskan posisinya kepada keturunannya. (2). fungsi sekolah : (a) mempersiapkan anak-anak kaum elit menggantikan posisi orang tuanya; (b) mengarahkan anak-anak kaum pekerja untuk membiasakan diri mereka pada status yang lebih rendah.  Pendidikan seharusnya untuk mengakhiri perjuangan kelas: membantu proses perubahan masyarakat menuju masyarakat tanpa kelas.  Pendidikan sebagai lembaga yang otonom akan punah: artinya, pendidikan tidak bisa lagi mengekang dan mengatur tingkah laku manusia, apalagi mengindoktrinasi, karena dalam masyarakat tanpa kelas, manusia adalah makhluk yang bebas terutama dari rasa asing terhadap dirinya sendiri.

21 IDEOLOGI KRITIS Didasarkan atas pemikiran Paolo Freire, terutama tentang kesadaran manusia. Menurut Freire, kesadaran manusia terdiri atas tiga tahap: 1. KESADARAN MAGIS, cirinya : (a). manusia tidak mampu mengetahui kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. pendidikan tidak memberikan kemampuan analisis yang mengaitkan antara sistem dan struktur dalam menangani permasalahan masyarakat. (b). lebih melihat faktor di luar manusia sebagai penyebab ketidakberdayaan. (c). pendidikan cenderung diterima secara dogmatis, tanpa ada mekanisme untuk memahami “makna” dari setiap konsep kehidupan masyarakat. 2. KESADARAN NAIF, cirinya : (a). manusia adalah penentu segala kejadian dalam kehidupan (b). sangat percaya pada etika (baik-buruk, rajin-malas, kaya-miskin, beruntung-sial, dll.), kreativitas, need for achievement, yang kesemuanya dianggap sebagai penentu perubahan sosial. (c). lebih menekankan pada “man power development” sebagai kunci pemicu perubahan.

22 3.KESADARAN KRITIS, cirinya : a. Sistem dan struktur lah yang menjadi sumber masalah, bukan manusianya. b.Pendidikan difungsikan untuk dapat menciptakan ruang dan kesempatan agar peserta didik mampu melibatkan diri pada proses penciptaan struktur yang lebih baik. c. Melalui pendidikan diharapkan setiap anggota masyarakat memperoleh kesadaran kritisnya, dengan cara :  melatih murid untuk mengidentifikasi ketidakadilan dalam struktur yang ada;  mampu melakukan analisis tentang bekerjanya sistem dan struktur dan dapat melakukan transformasi terhadapnya. PENDIDIKAN KRITIS MEYAKINI BAHWA HAL-HAL BERIKUT INI ADALAH YANG DAPAT MEMBISUKAN MANUSIA : ketidakadilan kelas; diskriminasi gender; hegemoni kultural dan politik; Dominasi (diskursus yang membius kesadaran masyarakat)

23 PEDAGOGIANDROGOGI Obyek pendidikannya dianggap sebagai anak-anak (meskipun usia secara fisik sudah dewasa); Pendekatan pendidikan “orang dewasa”  menempatkan peserta didik sebagai orang dewasa; Menempatkan murid sebagai pihak yang pasif (menerima apa saja yang diberikan oleh gurunya)  gaya bank Murid adalah subyek dari sistem pendidikan; Murid sepenuhnya menjadi obyek proses belajar, misalnya : guru menggurui, memilihkan apa yang harus dipelajari, mengevaluasi murid (guru sebagai inti terpenting) Murid memiliki kemampuan aktif untuk merencanakan pendidikannya, memilih bahan pelajaran yang dianggap bermanfaat; mampu mengambil manfaat pendidikan; Murid cenderung berperan sebagai: digurui, tunduk pada pilihan guru, dievaluasi (murid berada dipinggiran) Guru berfungsi sebagai fasilitator, bukan menggurui.  Relasi guru-murid bersifat multicommunication

24 DUA ALIRAN PARADIGMA KRITIS  ALIRAN REPRODUKSI *Golongan ini sangat pesimis dengan fungsi pendidikan, karena : 1. Pendidikan dianggap kecil kemungkinannya untuk berperan dalam proses perubahan sosial menuju transformasi sosial, 1. Pendidikan difungsikan (oleh kapitalisme) untuk mereproduksi sistemnya sendiri, di mana pendidikan akan melahirkan peserta didik yang dapat memperkua ALIRAN PRODUKSI *Golongan ini memiliki keyakinan bahwa : (1) pendidikan mampu menciptakan ruang untuk menumbuhkan resistensi dan subversi terhadap sistem yang dominan; (2) pendidikan memiliki aspek pembebasan dan pemberdayaan jika dilakukan dalam kerangka membangkitkan kesadaran kritis. t sistem yang telah mapan di masyarakat.

25  Penekanan pendidikan kritis dalam pembelajaran: Bagaimana memahami, mengkritik, memproduksi dan menggunakan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk memahami realitas hidup dan mengubahnya  Metode yang digunakan dalam pendidikan kritis: 1. Kodifikasi: -Proses mempresentasikan fakta yang diambil dari kehidupan peserta didik dan kemudian memasalahkannya (problematizing) 2. Dekodifikasi: -Proses pembacaan atas fakta-fakta tersebut melalui dua metode: deskriptif dan analitis -Deskriptif: untuk memahami “surface structure” -Analiitis:: untuk memahami “deep structure”  Dengan cara-cara tersebut, maka relasi-relasi antar kategori (ideologi, ras, gender, kelas, pendidikan) dalam membentuk realitas dapat dipahami.

26 Untuk mendukung peningkatan kesadaran kritis, ada tiga tahap dasar dalam pendidikan kritis yang diajarkan di kelas:  Naming : tahap menanyakan sesuatu: what is the problem  mempertanyakan sesuatu yang berkaitan dengan ‘teks’, realitas sosial atau struktur ekonomi-politik;  Reflecting: mengajukan pertanyaan mendasar untuk mencari akar persoalan : why is it happening?  mengajar murid untuk tidak berpikir sederhana tapi kritis dan reflektif.  Acting: proses pencarian alternatif untuk memecahkan persoalan: what can be done to change the situation?  merupakan tahap praksis/aksi/

27 fisip11.web.unair.ac.id/artikel_d etail Pengetahuan%20Akademik- Materi%20Kuliah%20Sosiologi% 20Pendidikan.html


Download ppt "Para ahli sosiologi tidak sepaham dengan disiplin “Educational Sociology” karena :  Tidak berkaitan dengan arus."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google