Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS & INFORMASI KESEHATAN FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN Mata kuliah Klasifikasi, Kodifikasi Penyakit dan Masalah Terkait KKPMT.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS & INFORMASI KESEHATAN FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN Mata kuliah Klasifikasi, Kodifikasi Penyakit dan Masalah Terkait KKPMT."— Transcript presentasi:

1 PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS & INFORMASI KESEHATAN FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN Mata kuliah Klasifikasi, Kodifikasi Penyakit dan Masalah Terkait KKPMT SKS Semester 5

2 certain other consequences of external causes AND MORTALITY CAUSE

3 Penentuan penyebab dasar kematian Dengan tabel bantu MMDS ( Medical Mortality Data Sheet )

4 4 KEMATIAN (DEATH) Mati adalah berhentinya secara permanen semua fungsi vital tubuh = akhirnya suatu kehidupan. Indikator klasik mati adalah: berhentinya secara permanen fungsi jantung, dan paru. Pada banyak kasus ini menjadi patokan dokter mendiagnosis suatu kematian pasiennya. Alternatif lain : Kematian otak (brain death) yang didefinisikan sebagai berhentinya semua fungsi seluruh otak yang ireversibel termasuk batang otaknya. Jadi Seseorang dinyatakan meninggal secara legal apabila sirkulasi darah dan fungsi paru sudah berhenti irreversible atau bila kriteria brain death terpenuhi. Diagnosis kematian dalam batasan normal adalah bila individu terkait : – tidak dalam pertolongan ventilator, – pernapasan spontannya sudah berhenti, – detak jantung berhenti, dan – pupil mata melebar tidak bereaksi terhadap cahaya.

5 5 Kriteria legal didasarkan penentuan adanya fungsi otak yang berhenti ireversibel. Panduan menyebut bahwa harus ada bukti jelas dari kerusakan ireversibel otak; – koma dalam persisten; – tidak ada pernapasan apabila pasien terkait dilepas dari ventilator ; – fungsi otak absen (reaksi pupil terhadap cahaya, mengkerut terhadap ransangan sakit,dan gerak voluntir mata pada rangsangan/rabaan) EEG yang menandakan tidak adanya aktivitas listrik otak besar sebagai bukti bahwa sudah terjadi kematian otak. Sudden Death (Kematian mendadak) Sering terjadi pada bayi (s/d usia 1 tahun). Meninggal tanpa ada gejala sebelumnya = SIDS (Sudden infant death syndrome) atau crib death. Penyebabnya tidak diketahui, walau teorinya banyak. Sudden death pada dewasa juga umumnya terjadi pada: injury, brain hemorrhage myocardial infarction, dan pneumonia Jarang, namun juga bisa akibat:anafilatik shok, asthma, bunuh diri Kasus-2 sudden death harus dilapor ke forensik untuk penentuan perlunya otopsi.

6 Manusia disebut mati bila ;berhentinya sistim Cardiovaskular, sistim pernafasan dan yang utama sistim saraf pusat secara permanen / ireversibel Mati suri adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan proses vital sedemikian rupa sampai ketaraf minimal untuk kehidupan sehingga secara klinis menyerupai orang mati, dengan pertolongan yang tepat dan pada saat yang tepat maka dapat hidup kembali ( reversibel ) Keadaan mati suri dapat ditemukan pada ; – Kegagalan jantung akut – Terkena listrik atau petir – Kedinginan, tenggelam – Anestesi dalam Dalam keragu – raguan pasien masih hidup atau sudah mati maka harus dianggap masih hidup sebelum ditentukan mati, berarti harus diberi pertolongan.

7 Perubahan pada kematian mempunyai 2 stadium ; PERBEDAANMATI SOMATIS / KLINISMATI SURI Resusitasi, CVS(-)(+) Waktusetelah 2 jam timbul lebam mayatDapat hidup kembali Segmentasi vaskular retina Bila lebam mayat tidak ada curiga mati suri 1.Somatik death / clinical death / systemic Berhentinya pernafasan Berhentinya denyut jantung dan peredaran darah Fungsi SSP berhenti : refleks cornea (-),refleks pupil (-) 2.Cellular death Setelah kematian somatis beberapa organ tubuh masih hidup sendiri- sendiri dimana beberapa organ mempunyai waktu kematian berbeda- beda -> hal ini memungkinkan dilakukannya pencangkokan beberapa organ tertentu. Organ SSP 4 detik, Cornea 6 jam, Otot jantung 6-8 jam Contoh yang menggambarkan cellular death dimana seseorang sudah somatik death 3-4 jam sebelumnya ; bila otot dirangsang listrik akan berkontraksi, cornea dirangsang atropin menjadi midriasi s, hal ini merupakan kerja langsung otot dan bukan SSP

8 SEBAB – SEBAB KEMATIAN Pada mati normal lebam mayat berwarna merah kebiruan Lebam mayat lengkap setelah 8-12 jam dan menghilang bersamaan dengan proses pembusukan. Keracunan : – Cyanida, Co, Suhu dingin ; merah terang ( cherry red) oleh karena disosiasi oxy Hb terganggu – Nitrit : coklat oleh karena hemoglobin yang tinggi – Anilin : biru – Asfiksia : warna merah gelap Perdarahan hebat Congestive heart failure

9 URUTAN DIAGNOSIS PENYEBAB KEMATIAN Penyebab langsung Penyebab antara Penyebab dasar

10 Sebab kematian Cause of Death Penyebab langsung : Adalah semua penyakit, kondisi morbid atau cedera serta keadaan akibat kecelakaan yang langsung menyebabkan atau turut serta menyebabkan kematian Penyebab antara ; bila lebih dari 2 sebab terekam, -> harus dilakukan seleksi sesuai aturan berdasarkan konsep “ sebab yang mendasari kematian” ( Underlying cause of death) Penyebab dasar : adalah Sebab yang mendasari kematian ( Un der lying Cause of Death ), adalah : – Penyakit atau cedera yang menimbulkan rangkaian peristiwa morbid yang secara langsung menyebabkan kematian – Keadaan ( akibat ) kecelakaan atau kekerasan yang menghasilkan cedera fatal

11 Penyebab dasar kematian merupakan suatu penyakit/kondisi yang merupakan awal dimulainya rangkaian perjalanan penyakit menuju kematian, atau keadaan kecelakaan atau kekerasan yang menyebabkan cedera dan berakibat dengan kematian penyebab dasar kematian merupakan suatu kondisi, kejadian atau keadaan yang tanpa penyebab dasar tersebut pasien tidak akan meninggal

12 MENGGUNAKAN TABEL BANTU MMDS Untuk membantu menentukan diagnosis penyebab dasar kematian MMDS ; Medical Mortality Data Sheet ; Lembar data kematian medis the medical certificate of cause of death (MCCD), sertifikat medis penyebab kematian

13 MEMBUAT SERTIFIKAT KEMATIAN SESUAI PERATURAN YANG BERLAKU Format sertifikat internasional sebab kematian yang telah direkomendasi WHA (World Health Assembly) mempunyai 2 bagian : Bagian I : Digunakan untuk penyakit yang berhubungan dengan urutan kejadian yang mengarah langsung ke kematian Bagian II : Digunakan untuk kondisi yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kejadiaan yang menyebabkan kematian, tetapi menunjang kematian

14 KODE MORTALITAS (Penyebab Kematian) World Health Assembly XX tahun 1967 mendefinisikan Penyebab kematian adalah : penyakit, keadaan sakit atau cedera yang dapat menimbulkan kematian dan kecelakaan atau kekerasan yang menimbulkan cedera yang mematikan.

15 KONSEP UNDERLYING COUSE OF DEATH Underlying cause of death (sebab kematian utama) adalah penyakit atau cedera yang menim bulkan serangkaian kejadian yang berakhir dengan kematian atau kecelakaan atau kekerasan yang menimbulkan cedera yang mematikan.

16 Tujuan Mengumpulkan Data Mortalitas adalah untuk mengetahui:  Penyakit Penyebab kematian menurut ICD-10 secara nasional dan menurut kawasan.  Angka kematian kasar dan angka kematian menurut kelompok umur

17 Manfaat Statistik Penyebab Kematian  Tren dan diferensial penyakit  Perencanaan program intervensi  Monitoring  Evaluasi program  Penelitian epidemiologi  Penelitian biomedis dan sosiomedis Perencana kesehatan, Administrator, medis profesional

18 Data Statistik kematian vs kesakitan KEMATIANKESAKITAN Satu kali seumur hidup Berkali-kali seumur hidup Kejadian final Bukan kejadian final Hanya 1 perhitungan utk setiap individu Lebih dari 1 perhitungan untuk setiap individu Informasi tentang paparan kesehatan masa lampau Informasi tentang paparan kesehatan saat ini

19 IDENTIFIKASI KONDISI PENCETUS URUTAN KEJADIAN PENYEBAB KEMATIAN Mencatat perkiraan interval (menit, jam, minggu, bulan atau tahun) antara onset setiap kondisi dan kematian akan membantu dalam menegakkan rangkaian kejadian yang menyebabkan kematian dan juga berguna sebagai petunjuk bagi pemberi kode untuk memilih kode yang tepat.

20 SERTIFIKAT KEMATIAN Sertifikat Kematian terdiri dari 2 bagian : 1.Penyakit yang berhubungan dengan rangkaian kejadian yang langsung menyebabkan kematian. 2.Penyakit penting lainnya yang membantu menimbulkan kematian, tetapi tidak ada hubungannya dengan penyakit yang menimbulkan kematian.

21 INTERPRETASI ISIAN ( ENTRY) SERTIFIKAT KEMATIAN – Melihat format sertifikat medis penyebab kematian yang telah direkomendasikan oleh WHO. – Dalam format ini, terdapat dua bagian penting dalam sertifikat medis penyebab kematian, yaitu: Bagian I –> digunakan untuk penyakit-penyakit yang berkaitan dengan urutan dari kejadian langsung menuju kematian Bagian II –> digunakan untuk kondisi yang tidak berkaitan dengan Bagian I tetapi secara alamiah berkontribusi terhadap kematian – Penyebab langsung kematian dituliskan pada baris pertama [ (a) ] – Penyebab antara dituliskan pada baris yang terletak antara baris pertama dan baris terbawah dari baris yang digunakan [ (b) dan (c) ] – Penyebab dasar kematian dituliskan pada baris terbawah dari baris yang digunakan [ (d) ]

22 Penting untuk mencatat urutan kejadian penyakit menuju kematian dan mencari / menganalisa penyebab semula dari urutan tersebut. Urutan kejadian penyakit kematian yang tepat akan memudahkan petugas dalam melakukan reseleksi guna menentukan penyebab dasar kematian. Jika dalam suatu sertifikat hanya dilaporkan satu penyebab kematian yang dilaporkan, maka penyebab tersebut adalah Underlying Cause Of Death (UCOD) dan digunakan untuk tabulasi. Jika lebih dari satu penyebab kematian yang dilapor kan, maka langkah pertama yang digunakan untuk memilih penyebab dasar kematian adalah dengan menentukan penyebab awal yang tepat yang mendahuluinya pada baris terbawah di Bagian I dari sertifikat dengan menerapkan Prinsip Umum atau Rule I, 2 dan 3.

23

24 SERTIFIKAT KEMATIAN PERINATAL Sertifikat penyebab kematian perinatal yang terpisah harus dilengkapi dengan urutan sbb: – Penyakit utama atau kondisi janin atau bayi – Penyakit lain atau kondisi janin atau bayi – Penyakit maternal utama/kondisi ibu yang mempengaruhi janin /bayi – Penyakit maternal lain/ kondisi ibu yang mempengaruhi janin / bayi – Penyakit atau keadaan lain yang ada kaitannya. Untuk analisa yang menyeluruh diperlukan data dari ibu dan bayi. Data Ibu : – Tanggal lahir – Jumlah kehamilan sebelumnya : lahir hidup, lahir mati, abortus – Tanggal dan hasil dari kehamilan sebelumnya : lahir hidup, lahir mati, abortus

25 – Kehamilan saat ini, meliputi :  Hari pertama dari saat menstruasi terakhir (perkiraan hamil dalam minggu)  Perawatan antenatal (dua kali atau lebih)  Persalinan normal spontan vertex/lain (sebutkan) Data Anak : – Berat badan lahir dalam gram – Jenis kelamin – Lahir tunggal/kembar pertama/kembar kedua / persalinan multiple yang lain – Jika lahir mati, kapan kejadiannya : sebelum persalinan / selama persalinan / tidak tahu Variabel lain : – Penolong persalinan khusus, seperti dokter / bidan / personalia yang terlatih lain (sebutkan)/lain-lain (sebutkan).

26 Sertifikat mempunyai 5 bagian bagian (a) dan (b) diisi penyakit atau kondisi janin atau bayi, – yang penting pada (a) -> mempunyai kontribusi terbesar terhadap kematian janin atau bayi.dan yang lain pada (b) bila ada. – Cara kematian seperti heart failure, asphyxia atau anoxia tidak dimasuk kan pada bagian (a) kecuali hanya pada janin atau bayi yang tidak diketahui kondisinya, begitu juga halnya untuk prematuritas. Pada bagian (c) dan (d) diisi semua penyakit atau kondisi ibu yang mempunyai pengaruh terburuk pada janin atau bayi. bagian (e) adalah kejadian lain yang berhubungan dengan kematian tetapi tidak dapat menggambarkan suatu penyakit atau kondisi bayi atau ibu, misalnya persalinan tanpa kehadiran penolong.

27 Contoh 1 : Riwayat seorang wanita mengalami abortus spontan pada minggu 12 dan 18, masuk rumah sakit pada kehamilan 24 minggu dengan diagnosa persalinan premature. Dilakukan persalinan spontan dengan Berat Bayi 700 gram, bayi meninggal pada hari pertama. Diagnosa Bayi disebutkan pulmonary immaturity. Sebab kematian perinatal : (a) Pulmonary immaturity (b) – (c) Persalinan premature (d) Abortus berulang (e) –

28 Contoh 2 : Seorang ibu hamil umur 30 tahun mempunyai anak umur 4 tahun yang lahir dengan kehamilan normal dengan hidramnions. Pada kehamilan saat ini, usia kehamilan 36 minggu dilakukan pemeriksaan X-ray didapat anencephali. Persalinan dilakukan dengan induksi dan bayi lahir mati dengan anencephalic berat badan 1500 gram. Penyebab kematian perinatal : (a) Anencephaly (b) – (c) Hydramnios (d) – (e) –

29 Aturan pemberian kode Peraturan yang terpilih untuk mortalitas umum tidak dapat diterapkan pada sertifikat kematian perinatal. Peraturan 1. Cara untuk kematian atau prematuritas yang dimasukkan di (a). Contoh 1 : bayi lahir hidup, mati setelah 4 hari. (a) Prematurity (P07.3) (b) Spina bifida (Q05.9) (c) Placental insuffisiensi (d) – Prematurity di beri kode pada (b) dan spina bifida pada (a). Yang perlu dicatat kode ICD Q pada (a) dan kode P pada (b).

30 Peraturan 2. Dua atau lebih kondisi dimasukkan pada bagian (a) atau (c). Contoh 2 : bayi lahir mati sebelum lahir (a) Severe fetal malnutrition, Light for dates, Antepartum anoxia (b) – (c) Severe pre eclampsia, Placenta praevia (d) – (e) – Light for dates dengan severe fetal malnutrition pada (a) dan antepartum anoxia pada (b), severe pre eclampsia pada (c) dan placenta praevia pada (d). Peraturan 3. Tidak ada isian pada (a) atau (c)

31 MMDS Medical Mortality Data Sheet = WHO – FIC INFORMATION SHEET Statistik Kematian (penyebab kematian) adalah suatu statistik kesehatan tertua dan yang paling komprehensif di dunia internasional The International klasifikasition Penyakit (ICD) telah menjadi standar klasifikasi kematian internasional (coding) sejak akhir abad ke19 dan penggunaannya sangat penting untuk pembanding statistik penyebab kematian di tingkat nasional dan internasional sepanjang waktu. ICD saat iniStatistik Klasifikasi Internasional Penyakit dan Masalah Kesehatan Terkait, Revisi Kesepuluh (ICD-10), mencakup definisi, petunjuk dan aturan untuk pengkodean dan tabulasi penyebab kematian. Untuk memahami dan menafsirkan ICD-10 statistik kematian kode beberapa fakta dasar tentang bagaimana informasi penyebab kematian dikumpulkan dan diklasifikasikan diperlukan..

32 Apa manfaat pembuatan statistik mengenai penyebab kematian Angka dan tingkat kematian oleh penyebab yang mendasari memberikan informasi tentang status kesehatan dari populasi. Mereka dapat digunakan untuk mengukur proporsi kematian secara keseluruhan dan prematur yang disebabkan oleh penyebab masing-masing, sehingga mengidentifikasi prioritas untuk layanan kesehatan dan intervensi kesehatan masyarakat Analisis tren angka kematian kasus yang spesifik dapat digunakan untuk memperkirakan kemanjuran intervensi kesehatan masyarakat, seperti vaksinasi dan program skrining. Analisis data kematian untuk kelompok tertentu penyakit dapat membantu mengidentifikasi kelompok risiko tinggi dalam populasi.

33 PENYEBAB EKSTERNAL DAN KONSEKUENSINYA Efek penyebab luar yang tidak spesifik, komplikasi trauma dan komplikasi tindakan bedah

34 Efek dari radiasi Efek samping yang akut – Kerusakan permukaan epitel termasuk kulit, mukosa oral, pharyngeal, usus mukosa dan ureter. – beberapa minggu perawatan biasanya kulit mulai menjadi merah muda dan sakit. Reaksi mungkin menjadi lebih parah selama perawatan hingga sekitar satu minggu setelah akhir radioterapi, dan kulit mungkin rusak. Terjadi desquamati menimbulkan rasa tidak nyaman, pemulihan biasanya cepat. – Reaksi kulit cenderung lebih buruk di daerah di mana terdapat dalam lipatan dibawah kulit, seperti di bawah payudara, di belakang telinga, dan di pangkal paha.

35 pada daerah kepala dan leher nyeri dan ulserasi umumnya terjadi di mulut dan kerongkongan. Jika parah, dapat mempengaruhi fungsi menelan, pasien mungkin perlu obat penghilang rasa sakit dan suplemen gizi. Esofagus dapat juga menjadi sakit secara langsung pada pemberian dosis radiasi selama pengobatan kanker paru- paru. Pada Usus secara langsung pada pengobatan radiasi kanker dubur atau anal atau terpapar oleh radioterapi struktur panggul (prostat, kandung kemih, saluran kelamin perempuan). Gejala khas adalah rasa sakit, diare, dan mual. Pada radioterapi pengobatan tumor otak dan otak metastasis,dapat menyebabkan masalah pembengkakan jaringan lunak (edema), peningkatan tekanan intrakranial Gonad (indung telur dan testis) sangat sensitif terhadap radiasi dapat terjadi Infertilitas.

36 Efek samping jangka menengah dan jangka panjang tergantung pada jaringan yang terkena radiasi Jaringan Fibrosis yang telah diradiasi cenderung menjadi kurang elastis dari waktu ke waktu karena proses parut Rambut rontok Tidak seperti rambut rontok pada kemoterapi, efek radiasi menyebabkan rambut rontok lebih cenderung permanen, dan cenderung terbatas pada wilayah radiasi. Kekeringan Kelenjar liur dan kelenjar air mata pada pengobatan kanker leher. Mulut kering (xerostomia) dan mata kering (xerophthalmia) dapat menjadi masalah jangka panjang yang menjengkelkan dan sangat mengurangi kualitas hidup pasien. Demikian pula, kelenjar keringat di pada kulit (seperti ketiak) cenderung untuk berhenti berproduksi dan mukosa vagina sering kering setelah radiasi panggul. Kelelahan/ malaise adalah gejala yang paling umum dari terapi radiasi, dan dapat berlangsung dari beberapa bulan sampai beberapa tahun, tergantung pada jumlah dan jenis pengobatan kanker. Kekurangan energi, kurang aktivitas dan perasaan lelah adalah gejala umum lainnya.

37 Radiasi berpotensi penyebab kanker sekunder,, dan keganasan sangat kecil pada pasien, umumnya bertahun- tahun setelah mereka menerima pengobatan radiasi Radiasi memiliki potensi risiko kematian akibat penyakit jantung yang terlihat setelah beberapa masa, misal Kanker payudara. Dalam kasus-kasus terapi kepala radiasi dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif Efek kumulatif dari proses jangka panjang reirradiation masih bisa menimbulkan masalah.

38 Reaksi anafilaktik Hipersensitifitas Type 1 : reaksi anafilaktik atau reaksi alergi definisi anafilaksis sebagai suatu reaksi hipersensitifitas yang berat dan mengancam jiwa. diperantarai oleh mekanisme imunologis, yaitu IgE, IgG dan kompleks imun-komplemen. Reaksi anafilaksis yang diperantarai oleh antibodi IgE, disebut anafilaksis alergi IgE-mediated. Reaksi anafilaksis non alergi, sebelumnya disebut reaksi anafilaktoid atau reaksi pseudo alergi, adalah jika anafilaksis disebabkan oleh penyebab non imunologis Etiologi tersering dari reaksi anafilaksis yaitu alergi makanan, obat-obatan, sengatan lebah (Hymenoptera) dan lateks. Anafilaksis yang terjadi pada pasien rawat inap terutama karena reaksi alergi terhadap pengobatan dan lateks, sedangkan anafilaksis yang terjadi di luar rumah sakit paling banyak disebabkan oleh alergi makanan

39 Mayoritas kasus reaksi anafilaksis tidak bersifat fatal. Diperkirakan 1-2% kejadian yang disebabkan penisilin diperberat dengan reaksi sistemik namun hanya 10% yang bersifat fatal. Di Amerika Serikat sekitar orang meninggal per tahunnya karena anafilaksis akibat penisilin dengan gambaran yang serupa dengan media kontras. Tujuh puluh persen kematian disebabkan oleh komplikasi pernafasan yaitu edema laring dan atau bronkospasme dan 25% oleh karena disfungsi kardiovaskular.

40 anafilaksis alergi selain berdasarkan mekanisme imunologik juga dapat disebabkan oleh ketidak seimbang an sistem saraf otonom. Sistem parasimpatik (kholinergik) dan sistem simpatik (adrenergik) mempunyai efek yang berlawanan terhadap organ sasarannya, sehingga keadaan inipun akan mempengaruhi terhadap keseimbangan antara sel mediator dan sel sasarananya (otot polos). Reaksi alergi dimulai ketika alergen melewati barier epitel dan atau endotel dan kemudian berinteraksi dengan 2 molekul antibodi IgE sitotropik yang berikatan dengan sel (cell bound IgE antibodies) sehingga menimbulkan serangkaian peristiwa biokimia. Kekuatan barier alami seperti kulit atau saluran cerna harus dapat ditembus, dan alergen ini harus mencapai sel yang tersensitisasi di jaringan (sel mast) atau darah (basofil).

41 MANIFESTASI KLINIS Pelepasan mediator seluler menimbulkan respon pada organ seperti kulit, saluran nafas, sistem kardiovaskular, dan susunan saraf Tanda dan gejala klinis anafilaksis Kutan / subkutan / jaringan mukosa : – Flushing, pruritus, urtikaria, angioedema, ruam morbiliform – Pruritus pada bibir, lidah, palatum; edema pada bibir, lidah dan uvula – Pruritus periorbita, eritema dan edema, eritema konjungtiva Saluran pernafasan – Laring: pruritus dan nyeri tenggorokan, disfagia, disfoni, suara serak, pruritus di kanalis aurikularis eksterna – Paru-paru: nafas pendek, dispnea, rasa berat di dada, batuk, mengi / bronkospasme (penurunan PEF) – Hidung: Pruritus, hidung tersumbat, hidung berair, bersin Kardiovaskular – Hipotensi – Near syncope, pingsan, penurunan kesadaran – Nyeri dada, disritmia Gastrointestinal – Mual, nyeri atau kram perut, muntah, diare Lain-lain – Kontraksi uterus pada wanita

42 Gambaran klinis dari anafilaksis : – dapat bervariasi, namun kompensasi dari sistem pernafasan dan kolapsnya kardiovaskular menjadi hal yang penting karena kelainan yang mengenai kedua sistem organ ini paling sering berakibat fatal. Gambaran patologis dari anafilaksis meliputi : – urtikaria dan angioedema, – bersifat fatal meliputi hiperinflasi paru akut, edema dan perdarahan intraalveolar, kongesti visera dan edema laring. – Hipotensi akut diakibatkan oleh dilatasi vasomotor dan atau disritmia jantung.

43 PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan darah lengkap Uji Coomb untuk penderita anemia Antibodi IgE total serum Antibodi IgE spesifik dalam RAST (Radioallergosorbent test) Antibodi IgM dan IgG spesifik Antibodi antinuklear (ANA) pada SLE yang diduga diinduksi oleh obat-obatan Uji kulit – Uji tusuk (Prick test/Scratch test) – Uji tempel (Patch test) Uji provokasi Dilakukan setelah keadaan gawat darurat teratasi

44 Tindakan harus segera – Resusitasi kardiopulmonal – Trakeostomi sesuai indikasi – Obat – obatan : Adrenalin,Antihistamin,Teofilin, Kortikosteroid – Tourniquet (proksimal dari tempat gigitan) – O 2 : Bila sianosis, dispnea atau mengi – Difenhidramin Bila penderita masih hipotensi, dispnea, rawat di ICU – Cairan intravena : NaCl fisiologis + glukosa 5% – Aminofilin – Vasopresor Bila tekanan darah belum terkontrol, berikan salah satu obat dibawah ini – Metaraminol bitartrat (Aramine) – Levaterenol bitartrat (Levophed) – Dopamin – Kortikosteroid Suportif setelah stabil.

45 Komplikasi vaskular Komplikasi vaskular akibat tranfusi, infus atau suntikan – Phlebitis – Tromboembolisme – Trombophlebitis

46 Transfusi darah adalah proses mentransfer darah atau darah berbasis produk dari satu orang ke dalam sistem peredaran darah orang lain. Donor unit darah harus disimpan dalam lemari es untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan memperlambat metabolisme sel. Darah hanya dapat diberikan secara intravena. Untuk meminimalkan risiko reaksi transfusi sebelum darah diberikan, rincian pribadi darah pasien dicocokkan dengan darah yang akan ditransfusikan Efek samping yang paling umum untuk transfusi darah adalah : – reaksi transfusi demam non-hemolitik ( non hemolitik Fever tranfusi reaction ) selain itu – Reaksi hemolitik termasuk menggigil, sakit kepala, sakit punggung, dispnea, sianosis, nyeri dada, takikardi dan hipotensi. Risiko lain yang terkait dengan menerima transfusi darah : – kelebihan volume, – kelebihan zat besi, – reaksi anafilaksis (pada orang dengan kekurangan IgA), – dan reaksi hemolitik akut (yang paling umumnya karena jenis darah tidak cocok).

47 PLEBITIS Infus adalah salah satu cara atau bagian dari pengobatan untuk mema suk kan obat atau vitamin kedalam tubuh pasien Infeksi dapat menjadi komplikasi utama dari terapi intra vena terletak pada system infus atau tempat menusukkan vena Plebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan baik dari iritasi kimia maupun mekanik yang sering disebabkan oleh komplikasi dari terapi intravena. Plebitis dikarakteristikan dengan adanya dua atau lebih tanda : nyeri, kemerahan, bengkak, indurasi, dan teraba mengeras di bagian vena yang terpasang kateter intravena Plebitis dapat menyebabkan thrombus yang selanjutnya menjadi trombo plebitis perjalanan penyakit ini biasanya jinak, tapi walaupun demikian jika thrombus terlepas kemudian diangkut dalam aliran darah dan masuk kejantung maka dapat menimbulkan gumpalan darah seperti katup bola yang bisa menyumbat atrioventrikular secara mendadak dan menimbul kan kematian

48 Patogenesis flebitis, faktor kimia : seperti obat atau cairan yang iritan, mikro partikel dalam larutan infus Faktor mekanis : seperti bahan, ukuran kateter, lokasi dan lama kanulasi serta agen infeksius. Faktor pasien : usia, jenis kelamin dan kondisi dasar (yakni. diabetes melitus, infeksi, luka bakar). Teknik sterilisasi di Rumah sakit sangat berpengaruh dengan tingkat kejadian phlebitis misalnya kurang sterilnya pada saat melakukan tindakan keperawatan pada pasien yang sedang dirawat, misalnya pada saat pemasangan infus. Infeksi phlebitis dapat terjadi melalui cairan intravena dan jarum suntik yang digunakan atau di pakai berulang-ulang dan banyaknya suntikan yang tidak penting misalnya penyuntikan antibiotika Semakin jauh jarak pemasangan terapi intravena maka risiko untuk terjadi plebitis

49 Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap flebitis bakteri meliputi: Teknik pencucian tangan yang buruk Kegagalan memeriksa peralatan yang rusak. Pembungkus yang bocor atau robek mengundang bakteri. Teknik aseptik tidak baik Teknik pemasangan kanula yang buruk Kanula dipasang terlalu lama Tempat suntik jarang diinspeksi visual Tanda dan gejala phlebitis adalah : a. Nyeri yang terlokalisasi. b. Pembengkakan. c. kulit kemerahan timbul dengan cepat di atas vena d. pada saat diraba terasa hangat e. panas tubuh cukup tinggi

50 Infeksi yang terjadi akibat infus, tranfusi dan terapi suntikan Infeksi Sepsis Septikemia Septik shock

51 Infeksi yang terjadi akibat infus, Infus cairan intravena (IV)adalah pemberian sejumlah cairan kedalam tubuh melalui sebuah jarum kepembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus: – Hematoma, yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat pemasukkan jarum, atau “tusukan” berulang pada pembuluh darah – Infiltrasi, yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan embuluh darah), terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah – Tromboflebitis, / bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena, terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar – Emboli udara, yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah, terjadi akibat masuknya udara dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah

52 Komplikasi yang dapat terjadi dalam pemberian cairan melalui infus – Rasa perih / sakit – Reaksi alergi

53 Komplikasi anestesi lokal Patah Jarum – Penyebab: gerakan tiba-tiba sehingga jarum patuh, – jarum yang dibengkokan. Rasa Terbakar Pada Injeksi. – Sebab: pH larutan melampaui batas, injeksi larutan cepat, kontaminasi larutan, larutan anestesi yang hangat. – bisa terjadi iritasi jaringan, jaringan menjadi rusak. Rasa Sakit pada Injeksi – Sebab: teknik injeksi salah, jarum tumpul, deposit larutan cepat, jarum mengenai periosteum. Parastesi (kelainan saraf akibat anestesi): tidak terasa. – Sebab: trauma (iritasi mekanis pada nervus akibat injeksi jarum/ larutan anestetik sendiri.) – dapat terjadi luka jaringan. Trismus (gangguan membuka mulut). – Sebab: trauma pada otot untuk membuka mulut, iritasi, larutan, pendarahan, infeksi rendah pada otot.rasa sakit, hemobility (kemampuan mandibula untuk bergerak menurun).

54 Hematoma (efusi darah kedalam ruang vaskuler). – robeknya pembuluh darah vena/ arteri akibat penyuntikan, tertusuknya arteri/ vena, dan efusi darah. Infeksi. – Sebab jarum dan daerah operasi tidak steril, infeksi mukosa masuk kedalam jaringa, teknik pemakaian alat yang salah Udema (Pembengkakan Jaringan) – Sebab trauma selama injekasi, infeksi, alergi, pendarahan, irirtasi larutan analgesic. Bibir Tergigit. – Sebab pemakaian long acting anestesi lokal. – bengkak dan sakit. Paralyse N. Facialis (N. Facialis ter anestesi) – masuknya larutan anestesi ke daam kapsul/ substransi grandula parotid.

55 Lesi Intra Oral Pasca Anestesi. – Penyebab: stomatitis apthosa rekuren, herpes simpleks. – sensitivitas akut pada daerah uslerasi. Sloughing pada Jaringan. – Penyebab: epitel desquamasi, abses steril. – sakit hebat. Syncope (fainting). – Merupakan bentuk shock neurogenik. – Penyebab: ischemia cerebral sekunder, penurunan volume darah ke otak, trauma psikologi. – kehilangan kesadaran.

56 SEPSIS- SEPTIKEMIA Septikemia adalah suatu keadaan dimana terdapatnya multiplikasi bakteri dalam darah (bakteremia). Istilah lain untuk septikemia adalah Blood poisoning atau Bakteremia dengan sepsis. Sepsis adalah istilah klinis yang dipakai untuk suatu bakterimia yang bergejala. Septikemia merupakan suatu kondisi infeksi serius yang mengancam jiwa, dan cepat memburuk. Sumber infeksinya berasal dari paru-paru, saluran kencing, tulang radang otak dll. Gejala dimulai dengan demam tinggi, menggigil, nafas cepat dan denyut jantung cepat. Penderita kelihatan sangat sakit.

57 Gejala berkembang menjadi syok, dengan penurunan suhu (hypothermia), penurunan tekanan darah, perubahan mental (bengong), dan gangguan bekuan darah sehingga timbul bercak perdarahan di kulit (petechiae dan ecchymosis). Bisa ditemukan penurunan jumlah urin. Angka kematiannya cukup tinggi, outcome tergantung organisme penyebab dan seberapa cepat mendapatkan perawatan RS. Kematian biasanya disebabkan septik syok atau ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome)

58 Syok Septik adalah suatu keadaan dimana tekanan darah turun sampai tingkat yang membahayakan nyawa sebagai akibat dari sepsis. terjadi akibat racun yang dihasilkan oleh bakteri tertentu dan akibat sitokinesis (zat yang dibuat oleh sistem kekebalan untuk melawan suatu infeksi). Racun yang dilepaskan oleh bakteri bisa menyebabkan kerusakan jaringan dan gangguan peredaran darah Faktor resiko terjadinya syok septik: Penyakit menahun (kencing manis, kanker darah, saluran kemih-kelamin, hati, kandung empedu, usus)kencing maniskanker darah Infeksi Pemakaian antibiotik jangka panjang Tindakan medis atau pembedahan.

59 Reaksi dari pemberian serum Intoksikasi Protein sickness Serum : rash, sickness, urtikaria

60 Reaksi dari pemberian serum Reaksi anafilaktik (anaphylactic shock) Segera setelah ada reaksi, pemberian serum dihentikan – Suntikan 0,5 mL adrenalin intramuskular. – Periksa tekanan darah secara teratur, – kortikosteroid intramuskular. – Bila keadaan syok belum teratasi, segera bawa penderita ke Rumah Sakit. Serum Sickness; – Beri H1 anthistamin selama beberapa hari – penderita sebaiknya istirahat. – Bila perlu dapat diberi kortikosteroid – Demam disertai menggigil; selimut atau botol berisi air panas. Rasa nyeri pada tempat suntikan; – Keadaan ini tidak memerlukan tindakan apapun, karena akan hilang dengan sendirinya. Demam; demam yang disertai mengiggil, dapat terjadi setelah penyuntikan intravena.

61 Serum sickness atau penyakit serum adalah reaksi yang mirip dengan alergi dan merupakan tipe III reaksi hipersensitivitas yang dihasilkan dari injeksi protein heterolog atau serum. Gejala penyakit serum merupakan gangguan immunologis sistemik khas yang menyertai pemberian bahan antigenik asing. Reaksi tipe III hipersensitivitas adalah interaksi antara antibodi IgG dan / IgM dengan antigen dalam sirkulasi, -> kompleks yang terbentuk akan melekat pada jaringan dan menyebabkan kerusakan endotelium kapiler. Istilah lain untuk tipe III ini, ialah hipersensitivitas kompleks- imun (immune-complex hypersensitivity ). Hal ini disebabkan adanya pengendapan kompleks antigen- antibodi yang kecil dan terlarut di dalam jaringan yang ditandai dengan timbulnya inflamasi atau peradangan.inflamasi

62 Serum sickness Pada reaksi ini terjadi suatu kompleks terdiri dari kumpulan antigen dengan zat antinya yang timbul akibat masuknya antigen asing ke dalam tubuh untuk ke duakalinya dan bereaksi dengan zat anti spesifiknya penyebab utama gejala penyakit serum adalah alergi obat terutama yangdisebabkan oleh obat- obat tertentu seperti penisilin, cefaclor, dan sulfa. Selama penyakit serum, sistemkekebalan tubuh secara keliru mengidentifikasi protein dalam antiserum sebagai zat berbahaya

63 Urtikaria dikenal juga dengan hives, gatal-gatal, kaligata, atau biduran adalah kondisi kelainan kulit berupa reaksi vaskular terhadap bermacam- macam sebab, biasanya disebabkan oleh suatu reaksi alergi, ciri-ciri berupa kulit kemerahan (eritema) dengan sedikit oedem atau penonjolan (elevasi) kulit berbatas tegas yang timbul secara cepat setelah dicetuskan oleh faktor presipitasi dan menghilang perlahan- lahan. Urtikaria dihasilkan dari pelepasan histamin dari jaringan sel-sel mast dan dari sirkulasi basofil. Faktor-faktor nonimunologik yang dapat melepaskan histamin dari sel- sel tersebut meliputi bahan-bahan kimia, beberapa obat-obatan (termasuk morfin dan kodein), makan makanan laut seperti lobster, kerang, dan makanan-makanan lain, toksin bakteri, serta agen fisik. Mekanisme yang paling sering adalah reaksi hipersensitivitas tipe I yang distimulasi oleh antigen polivalen yang mempertemukan dua molekul Ig E spesifik yang mengikat sel mast atau permukaan basofil.

64 Kegagalan / penolakan pada transplantasi organ Pengertian Transplantasi adalah pemindahan suatu jaringan atau organ manusia tertentu dari suatu tempat ke tempat lain pada tubuhnya sendiri atau tubuh orang lain dengan persyaratan dan kondisi tertentu Penyebab terjadinya penolakan tersebut: – Perbedaan golongan darah – Sistem imunitas tubuh Akibat jika tubuh menolak organ transplan tersebut: – Demam – Terjadi penggumpalan darah akibat perbedaan golongan darah. – kerusakan pada organ transplan karena sistem kekebalan tubuh yang menganggap organ transplan tersebut sebagai benda asing. – Peningkatan berat badan akibat penimbunan cairan.

65 Sequele / gejala sisa Sequele pada luka di kepala Sequele di leher dan dada Squele pda ekstremitas Squele luka bakar Squele karena keracunan

66 SEQUELE Sequela (latin) : gejala sisa Adalah suatu kondisi patologis akibat penyakit, cedera atau trauma lainnya Biasanya seseorang mendapat sekuele adalah kondisi kronis akibat komplikasi dari kondisi akut Contoh : – Sekuele dari diabetes adalah penyakit ginjal kronis – Trauma pada vertebra cervicalis meninggalkan gejala sisa nyeri leher – Efek dari kasus perkosaan meninyebabkan pasien mengalami stress post traumatik – Gejala sisa dari cedera otak akibat trauma adalah sakit kepala, pusing, cemas, apatis, depresi, perubahan kepribadian, psikosis

67 Akibat gangguan neurologi menimbulkan gejala sisa berupa aphaksia, ataksia, hemi/ quadriplegia dan sejumlah perubahan lain Pada taruma fisik dan kimia dapat menimbulkan gangguan patologi pada neuron Gejala sisa : – gangguan gerak dan fungsi, – Kelemahan otot, – gangguan sensorik, – gangguan keseimbangan,sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari hari

68 STROKE penyebab kematian nomor tiga pada usia lanjut setelah penyakit jantung dan kanker, dan penyebab disabilitas paling banyak pada kelompok usia di atas 45 tahun Permasalahan fisik yang timbul bermacam macam tergantung dari pembuluh darah mana yang terkena gangguan

69 ENSEFALITIS Gejala sisa maupun komplikasi dapat melibatkan susunan saraf pusat dapat mengenai kecerdasan, motoris, psikiatris, epileptik, penglihatan dan pendengaran, sistem kardiovaskuler, intraokuler, paru, hati dan sistem lain dapat terlibat secara menetap (Nelson, 1992). Gejala sisa berupa defisit neurologik, hidrosefalus maupun gangguan mental sering terjadi (Harsono, 1996). Komplikasi pada bayi biasanya berupa hidrosefalus, epilepsi, retardasi mental karena kerusakan SSP berat (Kempe, 1982).

70 EFEK TERAPEUTIK adalah hasil penanganan medis yang sesuai dengan apa yang diinginkan, sesuai dengan tujuan pemberian penanganan, baik yang telah diperkirakan maupun yang tidak diperkirakan.penanganan medis Lawan dari efek terapeutik adalah efek merugikan/non terapeutik, yaitu efek lain dari obat yang tidak sesuai dengan efek terapi yang diinginkan.

71 SELAMAT BELAJAR Semoga Sukses


Download ppt "PROGRAM STUDI DIII REKAM MEDIS & INFORMASI KESEHATAN FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN Mata kuliah Klasifikasi, Kodifikasi Penyakit dan Masalah Terkait KKPMT."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google