Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Materi 4 Lapis Datalink Jaringan Komputer I. Terminologi Fisik Jaringan Node Link Terminal Jaringan.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Materi 4 Lapis Datalink Jaringan Komputer I. Terminologi Fisik Jaringan Node Link Terminal Jaringan."— Transcript presentasi:

1 Materi 4 Lapis Datalink Jaringan Komputer I

2 Terminologi Fisik Jaringan Node Link Terminal Jaringan

3 Link Jalur yang menghubungkan antar 2 elemen jaringan (node-node atau terminal-node) Kumpulan link (+ node-node) = jaringan Fungsi link sangat vital, maka OSI menetapkan protokol lapis 2 (datalink) Datalink = mengatur agar komunikasi di link tersebut berjalan benar dan lancar Tidak ada keharusan jenis link dalam jaringan sama = boleh memilih teknologi link (fisik maupun protokol) untuk setiap link Terdapat 2 macam link : link fisik dan link logik (contoh: virtual path yang terdiri atas virtual channel)

4 Tugas Datalink Pembukaan hubungan dan penutupan hubungan Melakukan kendali atas kesalahan yang mungkin terjadi : tool  pariti, crc, dll Melakukan pengendalian banyaknya data yang dikirim  untuk menghindari kemacetan (kongesti) : tool  sliding windows dll Dan lainnya (optional : tambahan untuk protokol datalink tertentu)

5 Proses Hubungan Di Link Ada 2 jenis proses hubungan di link : Memerlukan connection setup Hubungan langsung Connection setup Ada banyak path yang bisa dipilih Untuk hubungan yang sangat handal Tersedia berbagai pilihan kecepatan komunikasi Hubungan langsung Tanpa pilihan jalur dan kecepatan komunikasi Point-to-point connection

6 Metoda Deteksi Kesalahan Agar bisa melakukan kendali kesalahan, syarat mutlak yang harus ada adalah adanya mekanisme deteksi kesalahan Beberapa metoda yang umum digunakan: Pariti  paling sederhana CRC  lebih sulit, meminta kemampuan komputasi Checksum  operasi word

7 7 Proses Deteksi Kesalahan Bit E dan E’ dibandingkan di penerima, jika tidak sama maka dilakukan retransmisi.

8 8 Deteksi Kesalahan Definisi nilai probabilitas dalam transmisi frame: P b = BER  probabilitas suatu bit salah P 1  probabilitas sebuah frame tiba tanpa kesalahan P 2  probabilitas frame tiba dengan 1 atau lebih bit salah tak terdeteksi P 3  probabilitas sebuah frame tiba dengan 1 atau lebih bit salah yang terdeteksi F=jumlah bit per frame Jika tidak ada fasilitas pendeteksi kesalahan, maka P 1 = (1 - P b ) F P 2 = 1 - P 1 P 3 = 0 Kode pendeteksi kesalahan adalah bit-bit tambahan yang diikutkan pada suatu frame, dihitung sebagai fungsi dari bit-bit dalam frame tersebut

9 Pariti Penambahan 1 bit sebagai bit deteksi kesalahan Terdapat 2 jenis pariti : genap dan ganjil Pariti genap = jumlah bit 1 dalam kode adalah genap Pariti genap = d1 xor d2 xor ….. Dn Pariti ganjil = jumlah bit 1 dalam kode adalah ganjil Pariti ganjil = (d1 xor d2 xor ….. Dn) xor 1 Sistem sederhana dan mudah dibuat hardwarenya (di PC digunakan IC 74LS280) Tidak mampu mendeteksi kesalahan bit genap  peluang benar deteksi kesalahan hanya 25% (peluang salah mutlak 50% + peluang salah deteksi 25%)

10 Cyclic Redudancy Check: Sisi Penggirim Merupakan hasil operasi pembagian biner dengan suatu pembagi tertentu (generator polinomial) Pembagi : D n D n-1 …D 1 Deretan bit : b 1 b 2 b 3 …. b m Operasi : (b 1 b 2 b 3… b m ) n-1 / D n …D 1  sisa (R n-1… R 1 ) Dikirim b 1 b 2 b 3… b m R n-1… R 1

11 Cyclic Redudancy Check: Sisi Penerima Oleh penerima dilakukan operasi yang sama b 1 b 2 b 3… b m R n-1… R 1 / D n …D 1  sisa (r n-1… r 1 ) Data benar jika r n-1… r 1 = 0 Data salah jika r n-1… r 1 ≠ 0 Pembagi standar internasional CRC-16  CRC-ITU  CRC-32  Jika diperlukan pembagi boleh tidak menggunakan standar ini asal memenuhi: Diawali dan diakhiri dengan bit 1 ( 1xxxxxx1) Jumlah minimum bit “1” : 3 bit Agar bisa mendeteksi jumlah bit kesalahan ganjil :harus habis dibagi oleh (11 = X + 1 )

12 Contoh Perhitungan CRC Pengirim Penerima

13 Latihan 1. Diketahui suatu pesan dengan pola pembagi Tentukan FCS menggunakan menggunakan CRC-aritmatika modulo-2 Jika pada receiver diterima sebuah pesan Tentukan apakah dideteksi adanya kesalahan? Buktikan dengan menggunakan CRC-polinomial!

14 Penggunaan : Pada Paket LAN (MAC) Destination MAC Address Source MAC Address Protocol Data (46 – 1500 B) CRC-32

15 Checksum CRC memerlukan perhitungan xor sebanyak jumlah bit data  memerlukan kemampuan komputasi yang cukup besar Diciptakan metoda checksum (untuk mengurangi perhitungan) pada beberapa jenis transmisi tidak perlu kecanggihan CRC atau sudah melakukan CRC di lapis lain Cara perhitungan checksum: Data dibagi menjadi kelompok-kelompok 16 bit (word) Word pertama di xor dengan word kedua Hasil di xor dengan word ketiga, keempat, …sampai word terakhir (jika bit-bit terakhir tidak cukup untuk menjadi word, ditambahkan padding bit ‘0’ sampai membentuk word) Hasil akhir (16 bit) = checksum

16 Contoh perhitungan DATA Padding Checksum

17 Pengguna Checksum: IP Priority (0-7)lowhigh  “1” VersionHeader length (dword)PrecedenceDTRunused Total length Identification DMFragment offset Time to live (seconds)Protocol Header checksum Source IP address Destination IP address Option (0 word atau lebih) Data  64 kB

18 Pengguna Checksum: TCP Source port Destination port Sequence number Acknowledge number Header length ReservedURG ACKPSHRSTSEQFIN Windows Checksum Urgent pointer Options Padding User data

19 Backward Error Control Kemampuan deteksi kesalahan digunakan untuk melakukan perbaikan kesalahan (error control) dengan cara meminta pengiriman ulang jika paket yang diterima salah Paket 1 X Paket 1 Kirim Ulang Paket 1 Paket 2 √

20 Backward Error Control: ARQ ARQ = Automatic ReQuest ARQ akan mengulang / tidak mengulang pengiriman data sesuai dengan feedback dari penerima Feedback dari penerima ACK = acknowledge  data diterima benar NAK = not acknowledge  data diterima salah

21 ARQ : Idle RQ 1 √ ACK 2 NAK X 2 t

22 Kasus 1: jika paket tidak sampai 1 Error Detection ACK ∆t Pengirim menunggu feedback sampai ∆t +δt, jika tidak ada respon maka pengirim harus mengirimkan kembali paket tersebut. Waktu tersebut disebut dengan waktu timeout 1 δtδt

23 Kasus 2: feedback tidak sampai 1 √ ACK ∆t Diperlakukan sama dengan kondisi kasus 1 (time-out)

24 Kapankah pengirim mengirim ulang paket ??? Jika mendapat feedback NAK Jika timeout Jika mendapat feedback yang tidak dimengerti Kesimpulan : pengirim mengirim ulang paket  Jika tidak mendapat ACK

25 ARQ : Idle RQ “DIE HARD” ARQ Paket akan diterima terjaga urutannya Efisiensi saluran paling rendah Cocok digunakan untuk saluran transmisi yang sangat jelek kualitasnya (banyak error)

26 ARQ : Selective Repeat Hanya mengirim ulang untuk paket yang salah Paket diterima tidak berurutan Efisiensi saluran tinggi (dibandingkan idle RQ) 1 √XX√√XX√ 2 NAK2 3 4 NAK3 ACK4 ACK

27 ARQ : Go Back N 1 √ X Don’t care √ 2 NAK2 3 4 ? ? ACK1 Mengirim ulang mulai dari paket yang salah Paket akan diterima terjaga urutannya Efisiensi saluran lebih rendah dari Selective Repeat 1 2 ACK2

28 Kasus Lain Go Back N 1 √ X Don’t care √ 2 ACK2 3 4 ACK1 1 4 ACK3 NAK4 2 3

29 Forward Error Control Backward EC menyebabkan delay pengiriman paket yang cukup besar tergantung dari berapa kali paket tersebut harus dikirim Untuk sistem transmisi jarak jauh dimana delay propagasi sangat besar (kelas detik, menit atau jam) BEC tidak bisa menjadi pilihan Juga untuk aplikasi multimedia, dimana ketepatan waktu kedatangan lebih utama dibandingkan dengan ‘kebenaran’ data, BER menyebabkan delay yang lewat batas toleransi waktu Dipergunakan Forward Error Correction (FEC) untuk memecahkan masalah ini FEC berprinsip dasar: penerima mampu membetulkan sendiri kesalahan data yang sudah diterima, karena selain menerima data juga menerima bit-bit redundansi yang diperlukan

30 Jenis-Jenis FEC Metoda FEC yang umum dikenal : Block Parity Hamming Code Turbo Code, RS Code, BCH Code Block Parity Sederhana, menggunakan perhitungan pariti dasar Menggunakan pariti baris dan kolom sebagai sarana koreksi kesalahan Hanya mampu mengkoreksi kesalahan 1 bit, mampu mendeteksi kesalahan lebih dari 1 bit Efisiensi tergantung dari ukuran baris dan kolom yang digunakan, semakin banyak baris dan kolom akan semakin banyak bit pariti

31 Contoh Block Parity √ X  11011√ √ √ √√X√√√

32 Hamming Code: Sisi Pengirim Menggunakan metoda matematik modulo 2 Disisipkan bit-bit pariti di posisi bit 2 n : bit ke 1,2,4,8,16,32 dst Bit pariti dihitung dengan cara: P1 = d1 xor d2 xor d4 xor d5 xor d7 xor d9 dst P2 = d1 xor d3 xor d4 xor d6 xor d7 xor d10 dst P3 = d2 xor d3 xor d4 xor d8 xor d9 xor d10 dst P4 = d5 xor d6 xor d7 xor d8 xor d9 xor d10 dst P5 = d12 xor d13 xor d14 xor d15 dst Banyaknya bit pariti yang dibutuhkan tergantung jumlah bit datanya Sehingga deretan bit  P 1 P 2 d 1 P 3 d 2 d 3 d 4 P 4 d 5 d 6 d 7 d 8 d 9 dst untuk ditransmisikan

33 Hamming Code: Sisi Penerima Setelah diterima dilakukan perhitungan H1 = P1 xor d1 xor d2 xor d4 xor d5 xor d7 xor d9 dst H2 = P2 xor d1 xor d3 xor d4 xor d6 xor d7 xor d10 dst H3 = P3 xor d2 xor d3 xor d4 xor d8 xor d9 xor d10 dst H4 = P4 xor d5 xor d6 xor d7 xor d8 xor d9 xor d10 dst H5 = P5 xor d12 xor d13 xor d14 xor d15 dst Jika disusun menjadi H5 H4 H3 H2 H1 dan terbaca : = 0  tidak ada kesalahan = 5  bit 5 (d2) salah = 9  bit 9 (d5) salah

34 Metoda FEC Lain Semua metoda FEC pada dasarnya menggunakan metoda matematik modulo 2 Metoda ini terus dikembangkan dengan tujuan: Mendapatkan kemampuan koreksi bit yang semakin banyak Dengan mengurangi jumlah bit pariti yang dibutuhkan Mampu melanjutkan komunikasi walaupun sempat terputus. Metoda yang umum digunakan: BCH Code Reed Solomon Code Convolutional Code Trellis Code Turbo Code

35 Kendali Aliran (Flow control) Fungsi lain yang diperlukan dalam mentransmisikan data di suatu link adalah kendali aliran Dibutuhkan terutama jika aliran data dari yang cepat ke yang lambat, dimana aliran data harus diatur agar penerima tidak overflow Mengatur aliran dengan cara: Start – stop Besarnya aliran ServerBuffer Aliran data masuk Aliran data keluar Model Kendali Aliran

36 Dua Jenis Kendali Aliran Start-stop Aliran data diatur sesuai dengan permintaan pihak penerima, jika penerima merasa buffer penerimaannya penuh, maka ia akan mengirim sinyal stop ke pengirim, dan jika buffer penerimaannya kosong, ia akan mengirim sinyal start. Teknik ini sederhana, relatif mudah di implementasikan Teknik start-stop umum: RTS,CTS X-on,X-off Mengatur aliran Aliran data diatur berdasarkan besar bandwitdh saluran saat itu, teknik ini bekerja berdasarkan feedback dari penerima yang ‘mengukur’ laju data yang mampu dia terima. Relatif lebih rumit dari teknik start-stop Contoh : (sliding) window

37 Pengguna Kendali Aliran Pengguna utama adalah protokol lapis datalink (RS-232, RS-.., HDLC,…) Untuk teknik kendali aliran yang lebih canggih diterapkan di lapis atas seperti TCP (lapis transport)

38 Kendali Aliran di RS-232 Terdapat dua jenis kendali aliran yang bisa diterapkan di sistem komunikasi RS-232, yaitu teknik hardware dan teknik software RTS – CTS (hardware), digunakan saluran tambahan untuk mengkomunikasikan informasi kendali aliran, dirancang untuk berkomunikasi dengan modem yang lebih lambat dari interface RS-232. Koneksi fisik TX  RX  TX GND RTS  CTS  RTS Pertukaran sinyal RTS Jika dijawab CTS maka TX jika tidak tunggu

39 Kendali Aliran di RS-232 Software (X-on, X-off), digunakan karakter-karakter tertentu untuk bertukar informasi kendali aliran Lebih sedikit membutuhkan koneksi fisik (2 kabel untuk satu arah komunikasi, 3 kabel untuk dua arah) Algoritma kerja disisi pengirim Tunggu X-ON Kirim TX Jika mendapat X-OFF, berhenti kirim Algoritma kerja disisi penerima Periksa buffer penerimaan Jika kosong kirim X-ON, jika penuh kirim X-OFF Koneksi fisik TX  RX  TX GND----GND

40 Sliding window Teknik kendali aliran start-stop mempunyai kelemahan trafik yang terjadi menjadi diskrit (bisa juga bursty), menyebabkan naiknya peluang kongesti di jaringan, tidak cocok untuk komunikasi jarak jauh (melalui banyak link). Dikembangkan teknik pengendalian aliran yang lebih adaptif sesuai dengan kondisi jalur transmisi yang dilewati, sehingga data dapat ditransmisikan dengan jumlah yang ‘cukup’ tidak berlebih dan tidak kurang. Teknik ini meningkatkan efisiensi bandwidth yang pada ujungnya akan mengurangi terjadinya kongesti jaringan. Salah satu teknik yang sejak awal dibuatnya protokol internet adalah teknik sliding windows

41 Sliding window Window = angka jumlah pengiriman paket saat ini Window = 3  satu kali kirim maksimum 3 paket Cara kerja: Penerima akan menetapkan jumlah window terimanya berdasarkan tingkat keberhasilan penerimaan paket, kebijakan yang ditetapkan oleh lapis aplikasi, dll Pengirim kemudian akan mengirim paket sesuai dengan jumlah window yang ditetapkan penerima Pada TCP besarnya windows di’ikutkan’ ke paket arah pengirim dari pihak penerima  tidak perlu paket khusus, meningkatkan efesiensi transmisi

42 Besarnya window Untuk setiap algoritma ARQ yang telah dipelajari, ukuran window yang sesuai adalah: ARQ Window Kirim Window Terima Idle RQ11 Selective Repeat NN Go Back NN1

43 Implementasi Windows di TCP Source port Destination port Sequence number Acknowledge number Header length ReservedURGACKPSHRST SEQFIN Windows Checksum CRC-16 Urgent pointer Options Padding

44 Implementasi Windows di TCP Disediakan 16 bit untuk windows (dari 0 sd 64k). Untuk TCP awal, windows dimulai dari 1, kemudian naik dua kalinya untuk setiap tahap pengiriman sampai maksimum yang ditetapkan penerima, jika terjadi kegagalan penerimaan sebelum mencapai maksimal tersebut, windows akan si set kembali menjadi 1. Disebut mekanisme Slow-Start TCP yang tentu saja untuk kondisi jaringan saat ini dianggap terlampau berhati-hati, sehingga dikembangkan berbagai mekanisme TCP lain untuk memperbaikinya: TCP-Reno, TCP-Vegas, dll

45 W = 2W > =4 Pengaruh Ukuran Windows Terhadap Proses Pengiriman Paket

46 Perhitungan Waktu Transmisi Paket Suatu transmisi data di link memerlukan waktu. Penggunaan ARQ menyebabkan waktu transmisi adalah sama dengan waktu dari mulai paket dikirim sampai dengan waktu diterimanya ACK oleh pengirim Komponen waktu transmisi bisa dihitung dengan penyerhanaan sebagai berikut:

47 Perhitungan Waktu Transmisi Paket Paket Err Det ACK t 0 t1 t2 t3 t4 t5 0-t1 = waktu propagasi t1-t2 = waktu paket (waktu pengeluaran bit 1 sampai terakhir) t2-t3 = waktu deteksi t3-t4 = waktu paket ack t4-t5 = waktu propagasi

48 Perhitungan Waktu Transmisi Paket Waktu propagasi = waktu yang diperlukan untuk 1 bit menempuh jarak pengirim-penerima  t pro = jarak/kecepatan Waktu paket = waktu yang diperlukan untuk mengeluarkan semua bit pada paket tersebut  t pac = panjang paket (bit)/bitrate

49 Perhitungan Waktu Transmisi Paket Waktu deteksi = waktu yang dibutuhkan oleh penerima untuk menentukan paket yang diterima benar atau salah  t det = f(metoda,kecepatan komputer) undefined (semakin hari semakin cepat) (kelas ns) Waktu paket ack  t ack = panjang paket ack/bitrate t total = 2 t pro + t pac + t det + t ack

50 Contoh kasus: Interface E : 10 Mbps, Paket 1512B, 100m, Ack 16B t total ??? tpro E-07s ms us ns tpak s1.2096ms1209.6us ns tack s0.0128ms12.8us12800ns tdet s ms0.01us10ns ttotal = s ms us ns TxTx Rx a = 2.75e-4 U =

51 Contoh kasus lain: Satelit : Geosat : 36000km E1 : 2Mbps Paket : 1000b, Ack : 40b T total ??? tpro0.12s tpak0.0005s tdet20ns tack s ttotal s a = 240 U =

52 Rumus Hasil Penyederhanaan Didapatkan dari kedua contoh kasus, waktu total transmisi paket didominasi oleh waktu paket atau waktu propagasi tergantung dari jarak transmisi, sedangkan waktu deteksi sangat bergantung pada kecepatan perhitungan penerima yang cenderung semakin kesini semakin cepat, waktu ack relatif dapat diabaikan karena panjang paket ack jauh lebih kecil dari panjang paket data. Sehingga : t total ≈ 2 t propagasi + t paket

53 Variabel a Untuk memudahkan penulisan rumus dan memperlihatkan suatu variabel penentu hasil perhitungan utilitas link, maka dibuatlah variabel a Dengan: a = t pro /t pak

54 Kasus a = 1 a = 1, menyatakan gejala fisik saluran akan penuh oleh paket, dalam arti bit pertama mulai diterima saat bit terakhir dikirim Terjadi jika waktu untuk mengasilkan paket sama persis dengan waktu propagasi t tpro = tpak TxRx

55 Kasus a > 1 a > 1, menyatakan gejala fisik saluran akan sebagian kosong, dalam arti paket telah selesai dihasilkan saat bit pertama diterima Terjadi jika waktu untuk mengasilkan paket lebih kecil dari waktu propagasi t tpro > tpak TxRx

56 Kasus a < 1 a <1, menyatakan gejala fisik saluran akan penuh oleh paket lebih lama dari waktu propagasinya Terjadi jika waktu untuk mengasilkan paket lebih lama dari waktu propagasi t tpro < tpak TxRx

57 Utilitas Link Penggunaan ARQ menyebabkan tidak mungkinnya saluran fisik tergunakan 100% (utilitas link = 1) untuk mengirim paket data, terdapat waktu yang terbuang (tidak dipakau mengirim data) untuk pengiriman ARQ dan karena variabel a pada link tersebut Definisi: utilitas link = waktu efektif (yang betul-betul digunakan) paket dari waktu total pengiriman paket Atau : rasio perbandingan waktu paket dengan waktu total pengiriman paket U = t pak / t total U = t pak / N(2t pro + M*t pak ) N: banyaknya pengulangan M: banyaknya paket 1 x kirim IdleRQ(tanpa error)  U = 1 / (2a+1)  U maks = 1, jika a <<

58 Pengiriman Ulang Paket Kapankah pengiriman paket harus diulang? Jika tidak sampai (1) Jika ada error bit (2) Kasus (1) susah dianalisis, kasus ke (2) lebih mudah  ada ilmu statistik utk analisis Pengiriman ulang utamanya disebabkan oleh parameter Bit Error Rate (BER) pada saluran tersebut. BER adalah besaran statistik yang menyatakan peluang error bit di suatu saluran transmisi, disebabkan oleh banyak faktor, baik faktor alam maupun faktor perangkat yang berpengaruh pada kondisi saluran

59 Parameter BER BER = 1e-3 berarti terjadi rata-rata 1 bit error untuk setiap 1000 bit 1 bit atau >1bit error akan menyebabkan paket tersebut dinyatakan error Yang menyebabkan paket error bisa 1,2,3,atau lebih Pe(paket) = Pe(1) + Pe(2) + Pe(3) + … Pe(n) = 1 – Pe(0)

60 Binomial Perhitungan peluang error paket Pe(k) menggunakan binomial nknk p k (1-p) n-k P(k) = nknk = n! / k!(n-k)! dengan

61 Contoh Perhitungan BER Berapakah peluang error paket 1000 bit jika diketahui BER = ?? Bisa dihitung sebagai Pe(paket) = 1 – Pe(0) = 1 – 1.1.(1-BER) 1000 = 1 – = (Setiap 100 paket rata-rata 1 paket error) Setara : Pe(paket) = BER * panjang paket  syarat abs(pangkat BER) >> panjang paket

62 Contoh Lain Perhitungan BER Berapakah peluang error paket 1000 bit jika diketahui : BER = dan error yang terjadi untuk setiap paket maksimum 3 bit?? Bisa dihitung sebagai Pe(paket) = Pe(1) + Pe(2) + Pe(3) = 9.9e e e-7 = 9.95e-3

63 Hubungan Pe(paket) Dengan ARQ Pe(paket) menentukan berapa kali pengiriman ulang !! Pe(paket) = 1/2  N (rata-rata banyaknya pengiriman suatu paket agar diterima dengan benar) = 2 Pe(paket) = 1/3  N = 3/2 Pe(paket) = 1/4  N = 4/3 N = 1 / (1 – Pe)

64 Pengaruh Ke Parameter U Dikarenakan ada pengiriman ulang sebanyak N kali, maka rumus perhitungan parameter U mengalami revisi menjadi: U = 1 / (N(1+2a)) atau U= (1-Pe) / (1+2a)

65 Contoh Perhitungan U Satelit :  Geosat : 36000km  E1 : 2Mbps  Paket : 1000b, Ack : 40b  BER = 10e-5 tpro0.12s tpak0.0005s tdet20ns tack s ttotal s a = 240 U(tanpa error) = U = (1-Pe) / (1+2a) = (1-10e-5*1000)/(1+480) = 0,99/481 =

66 SR: Analisis Perhitungan: Tanpa Error Satelit : Geosat : 36000km E1 : 2Mbps Paket : 1000b, Ack : 40b U ?? t5 sd t6 = tpak t total’ = t total + t pak t pak’ = 2 * t pak U = t pak’ / t total’ = 2 t pak / (2 t pro + 2 t pak) = 2 /(2+2a) Tetapi dalam perhitungan umum rumus tersebut diubah menjadi: U = 2 / (1+2a)  U = K / (1+2a) ; K = jumlah paket Dipaksakan karena tpro >> tpak; bukti : a = 240 Didapat peningkatan U = dibandingkan 1 paket U = Paket ACK 0 t1 t2 t3 t4 t5 Paket t6 ACK

67 Selective Repeat Tanpa Error Dengan analisis yang sama, didapatkan untuk mekanisme ARQ selective repeat utilitas jaringan menjadi:

68 Selective Repeat dengan Error Dengan analisis yang sama, didapatkan untuk mekanisme ARQ selective repeat utilitas jaringan menjadi:

69 Go Back N Sedangkan untuk Go Back N analisisnya jauh lebih rumit dikarenakan adanya pengiriman ulang paket dalam jumlah besar. Didapatkan utilitas link memenuhi rumus: Catatan : Pe = 1 – (1-BER)^(n-k)

70 Soal Latihan Paket-paket 1000bit dikirim melalui datalink 100km dengan lajudata 20Mbps. Jika kecepatan propagasi link 2*10 8 m/detik dan BER 4* Hitung utilisasi link, jika: Idle RQ Selective Repeat dengan K=10 Go Back N dengan K=10

71 Solusi T pro = L/V = 100 km /(2*10 5 kmps) = 500 us Tpaket = P/Bitrate = 1000 bit / 20 Mbps = 50 us a = tpro/tpaket = 500 us / 50 us = 10 Pe = 1 – Pe(0) ≈ (1000*4*10 -5 ) ≈ 0,04 IdleRQ : U = 1 / N(1+2a) = (1 – Pe)/(1+2a) = 0,96 / 21 = 0,0457 SR : U = K (1 – Pe)/(1+2a) = 9,6 / 21 = 0,4571 GBN : U = K (1 – Pe)/ (1+2a)+(1+2a)Pe(K-1) = 10 (0,96)/(21+21(0,04(10-1))) = 9,6 / (21 + 7,56) = 0,3382

72 Kesimpulan ARQ Yang paling efisien (Utilitas link lebih tinggi) = Selective Repeat Yang paling tidak efisien = Idle RQ Utilitas link = f(metoda,BER,panjang paket, jumlah paket sekali pengiriman)

73 HDLC High-level Data Link Control Protokol datalink standar ISO untuk hubungan P2P dan M2P Hampir semua protokol datalink merupakan ‘turunan’ dari protokol ini Mendukung komunikasi full-dupleks dan dapat dengan mudah dikembangkan untuk hubungan multipoint dan jaringan komputer Istilah lain (custom) : IBM-SDLC,ANSI-ADCCP

74

75 Proses Komunikasi HDLC

76 `

77 Format Frame HDLC

78 LAN Local Area Network Area jaringan sekitar 100 m atau lingkup ruangan Satu kabel/media transmisi Satu kanal/frekuensi/panjang gelombang Bagaimana mengatur akses media?

79 Mengatur akses Pilihan 1: TDM Berapa lebar slot? Berapa slot yang harus disediakan? Sifat trafik data bursty  waktu giliran? Pilihan 2: FDM Tidak bisa, alat terlampau sederhana Pilihan 3: PDM Tidak bisa, alat terlampau sederhana Pilihan 4: CDM Saat itu teknologi komputasi untuk CDMA belum ada

80 Jawaban Digunakan TDM(?) yang dimodifikasi Sistem akses seperti TDM tetapi tidak tergantung lebar slot dan banyak slot Mekanisme : dibiarkan rebutan, yang lebih dahulu  menguasai media Biar semua kebagian : Diatur panjang paket maksimum 1500 byte (setara dengan 12000b /10Mbps = 1,2 ms) Ada waktu random dari ‘melihat’ media kosong sampai keputusan mengirim paket Disebut mekanisme CSMA (Carrier Sense Multiple Access)

81 CSMA Pihak yang akan mengirim paket wajib mensense (mendeteksi) apakah di saluran (media) ada sinyal (sedang ada paket)  Carrier Sense Jika kosong, harus menunggu selama waktu random yang ditentukan baru boleh mengirim paket

82 CSMA modifikasi Masalah :CSMA masih menyisakan kemungkinan tabrakan (ada 2 atau lebih yang menggunakan waktu random yang sama) Solusi : 1. Biarkan tabrakan, tapi di tindak lanjuti (Collision Detection) 2. Jangan biarkan tabrakan (Collision Avoidance)

83 Solusi 1 : CSMA/CD CD = Collision Detection Pihak pengirim paket wajib memonitor paket, jika terjadi tabrakan  pengirim wajib mengirim sinyal perusak agar semua pihak dijaringan tahu terjadi tabrakan Pengirim melakukan kembali CSMA

84 Algoritma CSMA/CD

85 Solusi 2 : CSMA/CA CA = Collision Avoidance

86 Algoritma CSMA - CA

87 Masalah Kedua : Pengalamatan Solusi : manusia  nama, mesin  alamat Alamat yang bagaimana? Idealnya : alamat harus beda Sebeda apa? Paling tidak berbeda pada satu kelompok Jurus yang dipilih untuk LAN : benar-benar beda (unik)  MAC address Bagaimana caranya biar unik? Dibuat dua bagian alamat : Bagian pertama (XX-XX-XX) ditentukan oleh suatu badan Bagian kedua (YY-YY-YY) ditentukan oleh pabrik pembuatnya 48 bit = XX-XX-XX-YY-YY-YY

88

89 Syarat bisa berkomunikasi di LAN Tahu MAC Address tujuan Kirim paket pertanyaan broadcast (10.14.xx.255) Siapa yang beralamat xx.yy Balasan xx.yy = xx-xx-xx-yy-yy-yy Protokol ARP (address resolution protocol)

90 MAC (medium access control) Digunakan pada LAN dan turunannya (IEEE 802.xx) Contoh untuk IEEE (ethernet) Destination MAC Address (6 bytes) Source MAC Address (6 bytes) Option/Protocol (2 bytes) Data (up to 1500 bytes) CRC-32 (4 bytes)

91 Standar Protokol LAN IEEE802


Download ppt "Materi 4 Lapis Datalink Jaringan Komputer I. Terminologi Fisik Jaringan Node Link Terminal Jaringan."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google