Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Presentasi sedang didownload. Silahkan tunggu

Dugaan pelanggaran Undang- Undang Nomor.5 Tahun 1999 Kepemilikan Silang Kelompok Usaha Temasek dan Praktek Monopoli Telkomsel.

Presentasi serupa


Presentasi berjudul: "Dugaan pelanggaran Undang- Undang Nomor.5 Tahun 1999 Kepemilikan Silang Kelompok Usaha Temasek dan Praktek Monopoli Telkomsel."— Transcript presentasi:

1 Dugaan pelanggaran Undang- Undang Nomor.5 Tahun 1999 Kepemilikan Silang Kelompok Usaha Temasek dan Praktek Monopoli Telkomsel

2 Struktur Pasar Telekomunikasi di Indonesia Penyelenggara telekomunikasi seluler pertama kali di Indonesia adalah PT.Satelindo Palapa Indonesia (Satelindo) yang mulai beroperasi pada bulan November Satelindo merupakan suatu perusahan Joint Venture antara : 1.Bimagraha Telekomindo (Bimagraha) : 45% 2.Detemobil Deustche telecom Mobil : 25% 3.Telkom : 22,5% 4.Indosat: 7,5% Disusul kemudian dengan PT.Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) pada tahun 1995, dengan struktur kepemilikan saham sebagai berikut : 1.Telkom : 42,5% 2.Indosat: 35% 3.PT.Telecom BV of Netherland: 17,28% 4.PT.Setdo Megacell Asia: 5% Pada Oktober 1996 muncul PT.Excelcomindo Pratama Muncul pula Indosat Multi Media Mobile (IM3) yang juga didirikan oleh Indosat pada bulan Mei 2001 dan mulai beroperasi pada Agustus 2001

3 Pada awal kemunculannya, bisnis telekomunikasi seluler telah mengarah pada kepemilikan bersama Telkom dan Indosat. Pada Telkomsel Telkom 42,5% Indosat 7,5% Pada Satelindo Telkom 22,5% Indosat 35%

4 Pada tahun 1999 diterbitkan UU No. 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi untuk mendorong industri telekomunikasi berkembang dengan prinsip persaingan usaha yang sehat Kemudian ada pula kepmen 72/1999 tentang Cetak Biru Kebijakan Pemerintah tentang Telekomunikasi Indonesia Sebagai tindak lanjut pada April 2001 Indosat dan Telkom merubah Struktur kepemilikan di Telkomsel dan Satelindo

5 Sehingga, Indosat menguasai 100% saham Satelindo, sehingga sampai akhir 2002 Indosat mengendalikan 2 operator seluler PT.SatelindoPT.IM3 Indosat mengakuisisi Bimagraha 45% dan 25% saham indosat yang sebelumnya dikuasai Detemobil pada Juni 2002 Telkom mendapat tambahan saham di Telkomsel 35% sehingga menjadi 77,5% Indosat mendapat tambahan saham di Satelindo 25% sehingga menjadi 30%

6 Mulai tahun 2002 mulai bermunculan operator-operator telekomunikasi lain.Baik FWA maupun seluler.

7 Jumlah dan Pangsa Pelanggan Fixed Wireless Access Jumlah PelangganPangsa Pelanggan Telepon Mobilitas Terbatas (FWA) 1,673,0814,683,3636,014,031 Pelanggan PT Telkom (Flexi) 1,429,3684,061,8004,175, %86.73%69.44% Pelanggan Prabayar3,240,5003,381, %56.23% Pelanggan Pasca bayar821,300794, %13.21% Pelanggan PT Indosat52,752249,434358, %5.33%5.97% Pelanggan Prabayar40,854229,726338, %4.91%5.63% Pelanggan Pasca bayar11,89819,70820, %0.42%0.34% Pelanggan PT Bakrie Telecom (ESIA) 190,961372,1291,479, %7.95%24.60% Pelanggan Prabayar176,453351,8261,414, %7.51%23.53% Pelanggan Pasca bayar14,50820,30364, %0.43%1.07%

8 Jumlah Pelanggan Telepon Seluler OperatorJumlah Pelangan Tahun Pangsa Pelanggan Operator Tahun Telkomsel15,101,00024,269,00035,597, % 2. Indosat9,754,60714,512,45316,704, % 3. XL3,791,0006,978,5199,527, % 4. M-8500,0001,200,0001,825, % 5. Sampoerna--134, % 6.NTS--12, % TOTAL29,148,61146,961,97763,803, %

9 TelkomselIndosatXL TahunPenda- patan usaha Pangsa Pasar Penda- patan usaha Pangsa Pasar Pendapat- an Usaha Pangsa Pasar Total Nilai Penjualan Di Pasar Market 20014, %1, %2, %8, , %3, %2, %12, , %5, %2, %18, , %7, %2, %24, , %8, %2, %32, , %9, %4, %42, Rata- rata14, %5, %2, %23, Berdasarkan perhitungan pangsa pelanggan diketahui bahwa Telkomsel, Indosat, dan XL menguasai 97% pelanggan pasar bersangkutan

10 Jumlah pelanggan dan pangsa pasar telepon seluler memiliki jumlah yang lebih besar daripada fixed wireless access. Telkomsel menjadi pemimpin pasar telepon seluler.

11 Kepemilikan Temasek atas Telkomsel Akhir tahun 2001 Akuisisi 22,3% saham KPN (melalui Singapore Telecommunications Ltd dan Singapore Telecom Mobile Pte Ltd) Juli 2002 Telkom menjual 12,7% saham Telkomsel pada SingTel SEHING GA Temasek:35% Telkom: 65%

12 Kepemilikan Temasek atas Indosat Desember 2002 Akuisisi 41,9% saham Indosat melalui STT Telecomunication Ltd (yang kemudian dimiliki oleh Indonesia Communications Ltd.) Saat privatisasi BUMN

13 Kepemilikan Temasek atas Indosat Dampak Kebijakan pemerintah terkait kebijakan privatisasi BUMN

14 Skema Kepemilikan 100% 54,15% 100% 45,85% 100 % 51,19% 100% 55% 100% 100% 75% 35% 65% 100% 100% 40,05% 41,9% 14,5% Temasek Holdings (Private) Limited Asia Mobile Company Pte. Ltd. Asia Mobile Holdings Pte. Ltd. Indonesia Communications Pte. Ltd Indonesia Communications Limited STT Communications Ltd Pemerintah Qatar Qatar Telecom (Qtel) Q.S.C Qtel Investment Holdings BSC Publik Pemerintah Indonesia PT Indosat Tbk Singapore Technologies Telemedia Pte. Ltd publik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Singapore Telecom Mobile Pte. Ltd. Pemerintah Indonesia PT Telekomunikasi Selular Singapore Telecommunicati on sLtd

15 Keterangan 1.SingTel adalah pemilik 100% saham SingTel Mobile 2.SingTel Mobile adalah pemilik 35% saham Telkomsel 3.STT adalah pemilik 100% saham STT Communication 4.STT Communication adalah pemilik 100% saham Asia Mobile Holdings Company 5.Asia Mobile Holdings Company adalah pemilik 75% saham Asia Mobile Holdings 6.Asia Mobile Holdings adalah pemilik 100% saham Indonesia Communication Limited dan 100%saham Indonesia Commnication Pte. Ltd 7.Indonesia Communication Limited memiliki 39,96% saham PT. Indosat, Tbk 8.Indonesia Communication Pte. Ltd memiliki 0,86% saham PT. Indosat, Tbk.

16 Kecilnya pangsa pasar serta wilayah cakupan operasi yang dimiliki operatoroperator di luar oleh Telkomsel, Indosat, dan XL tidak akan memiliki pengaruh yang material dalam analisis kondisi persaingan dalam pasar bersangkutan. TahunPangsa Pasar Telkomsel dan Indosat Secara Bersama-Sama Gabungan Pendapatan Usaha (dalam milyar Pendapatan Usaha XL (dalam milyar) Pangsa Pasar XL %6,6882, % %10,8452, % %16,2642, % Periode Cross- Ownership: %22,1072, % %29,7782, % %38,3734, % Rata-rata %

17 Cross-ownership selain memiliki dampak langsung terhadap perubahan struktur kepemilikan suatu perusahaan juga akan memberikan dampak perubahan struktur industri dimana perusahaan itu berada. Untuk mengukur apakah cross-ownership yang sedang diteliti memberikan dampak buruk terhadap persaingan, otoritas kompetisi lazimnya memperhatikan perubahan tingkat konsentrasi industri sebelum dan sesudah cross-ownership terjadi. Apabila tingkat struktur industri setelah cross-ownership semakin terkonsentrasi maka hal tersebut memberikan indikasi bahwa cross-ownership yang dilakukan berdampak buruk terhadap persaingan

18 Peningkatan tingkat konsentrasi suatu industri dapat menjadi indikasi peningkatan market power pelaku usaha dalam industri tersebut. Peningkatan market power memberikan keleluasaan bagi pelaku usaha untuk menetapkan harga (price maker). Tingginya market power dominant player relatif terhadap para pesaingnya, memudahkan dominant player menentukan output dan harga tanpa terpengaruh keputusan pesaing. Keputusan dominant player untuk menetapkan tarif tinggi sebagai bentuk penggunaan market power secara optimum akan menjadi pelindung dan insentif bagi pesaing- pesaingnya untuk turut menikmati tarif tinggi. Fenomena tersebut adalah bentuk dari munculnya price leadership. Price leadership dalam suatu industri menyebabkan pilihan konsumen untuk menikmati harga yang lebih murah menjadi terhambat. Indikasi terjadinya price leadership adalah adanya pola perubahan tarif antar operator yang relatif seragam, tingginya harga produk, serta tingginya margin keuntungan antar pelaku usaha.

19 Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa secara bersama-sama Telkomsel dan Indosat menguasai pangsa pasar sebesar 88.09% pada tahun pertama crossownership terjadi, dan pada tahun 2006 menjadi 89.64%. Nilai pangsa pasar pada periode (periode cross-ownership) selalu diatas pangsa pasar jumlah pangsa pasar Indosat dan Telkomsel pada periode Secara rata-rata pangsa pasar Indosat-Telkomsel pada periode cross-ownership adalah 89.61%. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan nilai pangsa pasar tertinggi keduanya pada periode sebelum terjadinya cross ownersip yaitu pada tahun 2002 dengan nilai pangsa pasar sebesar 83.58% Dengan demikian, secara nyata telah terjadi peningkatan pangsa pasar bersama antara Telkomsel dan Indosat pada periode cross-ownership oleh Temasek dibandingkan sebelum terjadinya cross ownership

20 Pasal 27 huruf a UU No 5 Tahun 1999 “Pelaku usaha dilarang memiliki saham mayoritas pada beberapa perusahaan sejenis yang melakukan kegiatan usaha dalam bidang yang sama pada pasar bersangkutan yang sama, atau mendirikan beberapa perusahaan yang memiliki kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan yang sama, apabila kepemilikan tersebut mengakibatkan: (a) satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.”

21 Pengertian tentang “Saham Mayoritas” di dalam Pasal 27 Uu No. 5/1999 sebenarnya sangat sederhana sesuai dengan penafsiran gramatikal, yaitu lebih menyangkut pada “kuantitas” dan/atau “jumlah tertentu” saham yang dimiliki oleh seorang pemegang saham. Berdasarkan komposisi pemegang saham dimana Singtel memiliki 35% saham di Telkomsel dan Telkom memiliki saham sebesar 65% secara jelas dipahami bahwa Telkom merupakan pemegang saham mayoritas di dalam Telkomsel. Masing-masing pemegang saham memiliki hak suara yang sah sebesar saham yang dimilikinya (one shares one vote). tidak dapat diartikan bahwa saham mayoritas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 UU No. 5/1999 diartikan sebagai kendali yang dimiliki oleh satu pelaku usaha terhadap pelaku usaha lain. Pengendalian terhadap perusahaan secara sederhana ditentukan dari besarnya saham yang dimiliki oleh pemegang saham mayoritas. Di dalam konteks Telkomsel, Singtel Mobile tidak dapat membuat kebijakan strategis dengan mengabaikan Telkom selaku pemegang saham 65%.

22 Kriteria perusahaan disebut sebagai satu entitas ekonomi : 1.Apakah induk perusahaan memiliki representasi majanemen pada anak perusahaan 2.Apakah induk perusahaan memiliki kemampuan untuk mempengaruhi arah kebijakan anak perusahaan 3.Apakah induk perusahaan memiliki akses informasi yang bersifat rahasia atau sensitif mengenai anak perusahaan Jika ketiga kriteria tidak terpenuhi, maka kepemilikan saham yang kurang dari 50% tersebut dapat dipandang semata-mata sebagai investor pasif. Hal mana pada umumnya dapat ditemui dalam pemilikan saham melalui pasar modal. Jika ketiga kriteria tersebut terpenuhi, maka induk perusahaan secara nyata memiliki kendali terhadap anak perusahaan dan tujuan kepemilikan saham tersebut adalah sebagai investor aktif. Oleh karena itu perusahaan pemilik saham dengan anak perusahaan yang dimilikinya dipandang sebagai satu entitas ekonomi. Pendekatan seperti ini juga terlihat jelas dalam bidang akutansi, dimana sesuai dengan Pedoman Standar Akutansi Keuangan (PSAK) dan Generally Accepted Accounting Principle (GAAP), sebuah perusahaan (anak perusahaan) yang sahamnya lebih dari 50% dimiliki oleh perusahaan lain (induk perusahaan), laporan keuangan dari anak perusahaan tersebut akan dikonsolidasikan terhadap laporan keuangan dari induk perusahaan, karena dari sisi ekonomi, kedua perusahaan tersebut pada hakikatnya adalah satu entitas.

23 Perspektif minimalis dan maksimalis pelanggaran Pasal 27 huruf a UU No 5 Tahun Minimalis a.Adanya pelaku usaha yang mengendalikan atau mendirikan beberapa perusahaan dalam suatu pasar bersangkutan. b.Pengendalian atau pendirian tersebut menghasilkan penguasaan pasar bagi pelaku usaha tersebut lebih dari 50%. Jadi, perilaku (conduct) yang dilarang adalah memiliki pengendalian atau mendirikan beberapa perusahaan, dan akibat yang dilarang adalah penguasaan pasar lebih dari 50%.Atau,terbukti ada pelaku usaha yang memiliki saham mayoritas di dua atau lebih perusahaan yang bersaing, dan kepemilikan tersebut menghasilkan penguasaan pasar lebih dari 50%. Pendekatan yang digunakan adalah per se. 2.Maksimalis a.Minimalis +adanya praktek usaha (conduct) yang menimbulkan dampak negatif terhadap persaingan. Dalam perspektif ini praktek usaha (conduct) yang dilarang adalah penyalahgunaan penguasaan dipasar yang menimbulkan dampak negatif terhadap persaingan

24 Larangan dalam Pasal 27 UU No 5 Tahun 1999 hanya berlaku bagi pelaku usaha Pemerintah Republik Indonesia memiliki pengendalian terhadap Telkomsel melalui PT. Telkom, Tbk. dan pengendalian terhadap PT. Indosat, Tbk. karena Pemerintah Republik Indonesia adalah pemilik saham seri A PT. Indosat Tbk. Namun demikian, menimbang bahwa larangan Pasal 27 UU No 5 Tahun 1999 hanya berlaku bagi pelaku usaha, dengan demikian kepemilikan silang yang dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia berbeda dengan kepemilikan silang yang dilakukan oleh Kelompok Usaha Temasek. Kepemilikan silang yang dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia bukanlah kepemilikan silang yang dilarang oleh Pasal 27 UU No 5 Tahun Dalam Model Law on Competition yang disusun oleh United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) tahun 2007, dalam Bab II Bagian II (tentang Ruang Lingkup Penerapan) Bagian C disebutkan bahwa: “...does not apply to sovereign acts of the State itself, or to those of local governments, or to acts of enterprises or natural persons which are compelled or supervised by the State or by local governments or branches of goverment acting within their delegated power”

25 Pasal 17 UU No 5 Tahun 1999 (1) “Pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan atas produksi dan/atau pemasaran barang dan/atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat” (2) “Pelaku usaha patut diduga atau dianggap melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila: (a) barang dan atau jasa yang bersangkutan belum ada subsitusinya; atau (b) mengakibatkan pelaku usaha lain tidak dapat masuk ke dalam persaingan usaha barang dan atau jasa yang sama; atau (c) suatu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu

26 Pelanggaran terhadap Pasal 17 ayat (1) UU No 5 Tahun 1999 Untuk dapat dikatakan melanggar pasal 17 maka perlu dipenuhinya standar atau beberapa unsur penting: 1.Pelaku usaha; 2.Menguasai pasar; 3.Pelaku usaha tersebut menerapkan sebuah kebijakan (praktek) usaha (conduct); 4.kebijakan (praktek) usaha tersebut menimbulkan atau dapat menimbulkan dampak negatif terhadap persaingan.

27 1. “Setiap orang yang berusaha di Indonesia” menunjukkan bahwa UU No. 5 Tahun 1999 dapat diterapkan kepada “setiap orang” tanpa melihat apakah orang yang dimaksud adalah pihak dalam negeri ataupun pihak dari luar negeri, selama orang tersebut “berusaha di Indonesia” 2. Pasar geografis dalam perkara ini adalah nasional, dengan dasar adanya kompetisi yang mempengaruhi harga di seluruh wilayah Indonesia. Mendefinisikan pasar geografis dapat didasarkan pada tekanan kompetisi dan harga pada satu lokasi yang dipengaruhi oleh kompetisi dan harga di lokasi lain. Adanya pengaruh tersebut menjadikan kedua wilayah menjadi satu pasar geografis yang tidak dipisahkan. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari pola perubahan harga di kedua wilayah. Carlton, Perloff dalam buku Modern Industrial Organization edisi 3 halaman 40; “The geographic limit of the market is determined by answering the question of whether an increase in price in one location substantially affects the price in another. If So, Then both locations are in same market”

28 KM 72 Tahun 1999 yang menjadi dasar dilaksanakannya swap antara Telkom dan Indosat terhadap kepemilikan saham mereka pada Telkomsel dan Satelindo, ditetapkan atau dikeluarkan dalam rangka menyelaraskan dengan UU No. 5 Tahun 1999, sebagaimana disebutkan dalam Lampiran I (dari KM 72 Tahun 1999) tentang Restrukturisasi BUMN Penyelenggara Telekomunikasi, bagian A tentang Tujuan angka 1 ke 3 adalah sebagai berikut: ” Reformasi pertelekomunikasian Indonesia yang menyeluruh dapat dilaksanakan menurut UU tentang telekomunikasi yang baru, dan sejalan dengan UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat ” Selanjutnya hal tersebut dilaksanakan dengan kebijakan sebagaimana tertuang dalam bagian B angka ke-2 Lampiran yang sama, yang berbunyi: ”sesuai dengan kebijakan untuk mereposisi dan merestrukturisasi PT Telkom dan PT Indosat sebagai dua penyelenggara telekomunikasi tetap yang lengkap (full fixed provider), dan kompetitif, maka perlu ada restrukturisasi internal di PT Telkom dan PT Indosat untuk: a. Meniadakan kepemilikan bersama (joint ownership) oleh PT Telkom dan PT Indosat dalam suatu perusahaan afiliasi bidang telekomunikasi. b.... c....”

29 Dengan demikian, kesimpulan yang seharusnya dikeluarkan oleh KPPU berkaitan dengan ”Cross-ownership” adalah: TIDAK TERBUKTI ADA CROSS-OWNERSHIP antara Telkom dan Indosat, akan tetapi TERDAPAT CROSS-OWNERSHIP TELKOMSEL DAN INDOSAT OLEH KELOMPOK USAHA TEMASEK (meskipun tidak dapat dipungkiri hal ini adalah dampak kebijakan pemerintah dalam kebijkan privatisasi BUMN. Kesimpulan dimaksud membuktikan bahwa sebenarnya pengertian Cross-ownership (dalam istilah pasal 27 UU No. 5 Tahun 1999 disebut sebagai ”memiliki saham mayoritas pada beberapa perusahaan sejenis yang melakukan kegiatan usahadalam bidang yang sama pada pasar bersangkutan yang sama” haruslah dalam bentuk kepemilikan langsung atas saham oleh pelaku usaha (ic. pada beberapa perusahaan sejenis yang melakukan kegiatan usaha dalam bidang yang sama pada pasar bersangkutan yang sama). Struktur Cross-ownership Telkom dan Indosat di Industri Telekomunikasi seluler telah dihapus oleh pemerintah sebagai tindak lanjut dari KM 72 Tahun 1999 dalam bentuk swap kepemilikan antara Telkom dan Indosat terhadap Telkomsel dan Satelindo.

30 Sehingga dengan demikian, dapat dikatakan kepemilikan silang Temasek pada Telkomsel dan Indosat tidak terlepas dari kesalahan pemerintah dalam menentukan kebijakan privatisasi BUMN. Lolosnya pihak Temasek dalam tender divestasi Indosat setidaknya dapat dijadikan suatu potensi kepemilikan silang pada Telkomsel dan Indosat. Ketidakhati-hatian pemerintah menyatakan anak perusahaan Temasek (STT) sebagai pemenang tender 41,9% saham Indosat.(setelah Temasek menguasai 35% saham Telkomsel melalui anak perusahaannya yang lain yaitu SingTel Mobile) Timbul dampak kepemilikan silang oleh kelompok usaha Temasek yang membawa konsekuensi tarif eksesif bagi konsumen dan persaingan usaha yang tidak sehat bagi pelaku usaha.

31 Terima Kasih


Download ppt "Dugaan pelanggaran Undang- Undang Nomor.5 Tahun 1999 Kepemilikan Silang Kelompok Usaha Temasek dan Praktek Monopoli Telkomsel."

Presentasi serupa


Iklan oleh Google